Showing posts with label M.Nur Sidiq. Show all posts
Showing posts with label M.Nur Sidiq. Show all posts

Saturday, January 2, 2016

Tugas 4_M.Nur Sidiq_Wisata Budaya Jawa - Bali

Tugas 4 M.Nur Sidiq Wisata Budaya Jawa – Bali

Wisata Budaya Kendal

Assalamualaikum, wr. Wb

            Kendal merupakan salah satu Kabupaten yang berbatasan dengan Kota Semarang. Mungkin bagi sebagian orang sudah mengenal Kendal, karena bagi sebagian orang yang sering pergi pulang kampung menggunakan mode transportasi kendaraan pribadi menuju Yogyakarta akan melewati Kendal. Saya tidak ingin membahas lebih dalam tentang pulang kampung, saya akan membahas tentang wisata budaya yang berada di Kendal. Kendal juga disebut sebagai Kota Santri karena terdapat ribuan Ponpes (pondok pesantren) terutama di Kecamatan Kaliwungu dan juga dikenal dengan Kota Seni dan Budaya.
Sejarah
Nama Kendal diambil dari nama sebuah pohon yakni Pohon Kendal. Pohon itu pada mulanya tidak ada yang tahu namanya tapi ketika Pakuwojo bersembunyi di pohon itu di dalam pohon itu terang benderang akhirnya pohon itu dinamakan pohon Qondhali yang berarti penerang dan akhirnya daerah tempat pohon itu dinamakan Qondhali karena orang Jawa tidak fasih berbahasa Arab maka jadi Kendal. Pohon yang berdaun rimbun itu sudah dikenal sejak masa Kerajaan Demak pada tahun 1500 - 1546 M yaitu pada masa Pemerintahan Sultan Trenggono. Pada awal pemerintahannya tahun 1521, Sultan Trenggono pernah memerintah Sunan Katong untuk memesan Pusaka kepada Pakuwojo.
Peristiwa yang menimbulkan pertentangan dan mengakibatkan kematian itu tercatat dalam Prasasti. Bahkan hingga sekarang makam kedua tokoh dalam sejarah Kendal yang berada di Desa Protomulyo Kecamatan Kaliwungu itu masih dikeramatkan masyarakat secara luas. Menurut kisah, Sunan Katong pernah terpana memandang keindahan dan kerindangan pohon Kendal yang tumbuh di lingkungan sekitar. Sambil menikmati pemandangan pohon Kendal yang nampak "sari" itu, Dia menyebut bahwa di daerah tersebut kelak bakal disebut "Kendalsari". Pohon besar yang oleh warga masyarakat disebut-sebut berada di pinggir Jalan Pemuda Kendal itu juga dikenal dengan nama Kendal Growong karena batangnya berlubang atau growong.

Dari kisah tersebut diketahui bahwa nama Kendal dipakai untuk menyebutkan suatu wilayah atau daerah setelah Sunan Katong menyebutnya. Kisah penyebutan nama itu didukung oleh berita-berita perjalanan Orang-orang Portugis yang oleh Tom Peres dikatakan bahwa pada abad ke 15 di Pantai Utara Jawa terdapat Pelabuhan terkenal yaituSemarang, Tegal dan Kendal. Bahkan oleh Dr. H.J. Graaf dikatakan bahwa pada abad 15 dan 16 sejarah Pesisir Tanah Jawa itu memiliki yang arti sangat penting.
Sejarah Berdirinya Kabupaten Kendal
Adalah seorang pemuda bernama Joko Bahu seorang abdi dalem kerajaan Mataram. Joko Bahu dikenal sebagai seorang yang mencintai sesama dan pekerja keras hingga Joko Bahu pun berhasil memajukan daerahnya. Atas keberhasilan itulah akhirnya Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo mengangkatnya menjadi Bupati Kendal bergelar Tumenggung Bahurekso. Selain itu Tumenggung Bahurekso juga diangkat sebagai Panglima Perang Mataram pada tanggal 26 Agustus 1628 untuk memimpin puluhan ribu prajurit menyerbu VOC di Batavia. Pada pertempuran tanggal 21 Oktober 1628 di Batavia Tumenggung Bahurekso beserta ke dua putranya gugur sebagai Kusuma Bangsa. Dari perjalanan Sang Tumenggung Bahurekso memimpin penyerangan VOC di Batavia pada tanggal 26 Agustus 1628 itulah kemudian dijadikan patokan sejarah lahirnya Kabupaten Kendal.
Perkembangan lebih lanjut dengan momentum gugurnya Tumenggung Bahurekso sebagi penentuan Hari jadi dinilai beberapa kalangan kurang tepat. Karena momentum tersebut merupakan sejarah kelam bagi seorang tokoh yang bernama Bahurekso. Sehingga bila tanggal tersebut diambil sebagai momentum hari jadi dikhawatirkan akan membawa efek psikologis. Munculnya istilah "gagal dan gugur" dalam mitologi Jawa dikawatirkan akan membentuk bias-bias kejiwaan yang berpengaruh pada perilaku pola rasa, cipta dan karsa warga Kabupaten Kendal, sehingga dirasa kurang tepat jika dijadikan sebagai pertanda awal mula munculnya Kabupaten Kendal.
Dari Hasil Seminar yang diadakan tanggal 15 Agustus 2006, dengan mengundang para pakar dan pelaku sejarah, seperti Prof. Dr. Djuliati Suroyo (guru besar Fakultas sastra Undip Semarang), Dr. Wasino, M.Hum (dosen Pasca Sarjana Unnes) H. Moenadi (Tokoh Masyarakat Kendal dengan moderator Dr. Singgih Tri Sulistiyono. serta setelah diadakan penelitian dan pengkajian secara komprehensip menyepakati dan menyimpulkan bahwa momentum pengangkatan Bahurekso sebagai Bupati Kendal, dijadikan titik tolak diterapkannya hari jadi.
Pengangkatan bertepatan pada 12 Rabiul Awal 1014 H atau 28 Juli 1605. Tanggal tersebut persis hari Kamis Legi malam jumat pahing tahun 1527Saka. Penentuan Hari Jadi ini selanjutnya ditetapkan melalui Peraturan Daerah (PERDA) Kabupaten Kendal Nomor 20 Tahun 2006, tentang Penetapan Hari Jadi Kabupaten Kendal (Lembaran Daerah no 20 Tahun 2006 Seri E nomor 15). Sejarah Kendal juga terdapat di perpustakaan Leiden University ,Leiden, Belanda
Gua Kiskendo
Goa Kiskendo terletak di desa Trayu, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal provinsi Jawa Tengah, Indonesia.
Gua ini terletak 15 kilometer ke arah selatan dari Kota Kendal lewat kota Kaliwungu. Hawanya sejuk karena berada di daerah perbukitan. Begitu memasuki kawasan Gua Kiskendo, pengunjung bakal melihat pintu gerbang gua yang demikian lebar dan besar. Pada hari Sabtu dan Minggu biasanya ramai dikunjungi oleh muda-mudi. Gua ini terbentuk selama berabad-abad akibat tetesan air yang turun ke bawah. Di sini ditemukan pula stagnit dan stalagtit. Kalau kita melangkah jauh ke dalam, pada bagian ujung gua bakal dijumpai sungai yang mengalir, menembus perut bumi.
Terdapat larangan mandi di sungai, namun pada saat air tidak pasang banyak juga warga sekitar yang mandi di sini. Airnya terasa sejuk dan menyegarkan. Setelah menyusuri jalan setapak yang berbatu, pengunjung mulai memasuki mulut goa yang cukup curam. Goa-goa kecil seperti Goa Lawang, Goa Pertapaan, Goa Tulangan, Goa Kempul dan Goa Kampret. Mengalirnya anak sungai yang membentuk cekungan di dalam goa menambah sejuk dan indah suasananya. Cekungan anak sungai ini dikenal dengan sebutan Kedung Jagan.
Curug Panglebur Gongso
Curug Panglebur Gongso atau juga disebut oleh warga sekitar sebagai Curug Gonso, berada di kaki bukit Gunung Ungaran.  Curug ini memiliki ketinggian sekitar 7 m saja dan di bawahnya terdapat kolam yang dapat digunakan untuk mandi atau berenang. Tak jauh dari curug ini terdapat Air Terjun 7 Bidadari berada.
Dalam cerita pewayangan Prabu Kombokarno adalah adik dari Prabu Rahwono,dalam hidupnya hanya makan dan tidur melulu .Akan tetapi pada waktu perang dengan pasukan kera yang dipimpin oleh kera putih yang bernama Hanoman, karena pasukan Rahwana kalah dan terdesak,disamping senopatinya sudah habis terbunuh ,maka prabu Kumbo Karno dibangunkan paksa oleh Prabu Rahwono sambil di undat undat untuk maju perang menghadapi pasukan kera dari Prabu Ranayana,yang dipimpin oleh  kera putih Hanoman.
Karena brabu Kumbo Karno merasa tersinggung,maka disanggupinya tugas tersebut dengan terlebih dahulu memuntahkan semua makanan yang telahdiberikan kakaknya tersebut,kemudian dengan berpakaian serba putih berangkatlah ke medan perang.Karena musuh terlalu banyak akhirnya Prabu Kombo Karno terbunuh dalam peperangan .Didalam gowa Paglebur gongso inilah arwah Prabu Kumbokarna bersemayam,ada beberapa orang yang berkunjung kedalam goa dengan berbagai tujuan,ada yang Cuma ingin melihat keindahan  alam didalamnya hanya sekedar menuruti keingintahuannya.tapi banyak pula yang mempunyai beberapa tujuan , seperti mencari berkah dan lainnya.
Apabila ingin coba coba dengan membawa sebotol minuman keras sejenis arak, dan dibuka , maka bau merangsang arak tersebut akan memancing arwah Prabu kumbokarno mengeluarkan suara menggelegar ,suara raksasa yang bangun dari tidurnya.Sebenarnya banyak tempat tempat wisata yang masih perawan dan berkembang pula didalamnya cerita cerita  legenda atau mitos , yang apabila dikemas secara apik serta fasilitas transportasi dan pendukung lainnya  dibangun oleh pemerintah daerah setempat , maka akan dapat menggerakkan roda perekonomian derah disekitarnya , akhirnya masyarakat akan menikmati hasil dan sejahtera.
Selain itu terdapat juga sebuah goa, yang terletak di kanan bawah curug, yang menurut mitos masyarakat setempat tembus sampai kemasjid demak.  Goa ini pada suatu kesempatan pernah dieksplorasi oleh beberapa mahasiswa yang hingga kedalaman 100 m tapi masih belum kelihatan ujungnya.

M.Nur Sidiq
Usaha Jasa Pariwisata "A" 2014
4423143979

sidiqmuhamamd3008@gmail.com

Daftar Pustaka

Tugas 5_M.Nur Sidiq_Observasi Suku Baduy

Tugas 5 Observasi Suku Baduy

Ciri Khas Baduy Yang Selalu Melekat

Assalamualaikum, wr. Wb.

            Sebelum saya memulai, saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama lengkap saya M. Nur Sidiq, saya biasa dipanggil sidiq. Saya lahir di Jakarta, 30 Agustus 1996 saya merupakan anak pertama dari kedua bersaudara. Saya dan adik saya terlampaui jauh sekali umurnya, karena adik saya baru berumur 2tahun. Adik saya bernama Muhammad Alrazi Azwan, entah kenapa nama kami berdua berbau arab. Sedangkan kami berdua tidak mempunyai keturunan arab atau timur tengah.

            Sebelumnya saya akan bercerita tentang pengalaman saya mengunjungi Suku Baduy. Mungkin bagi sebagian orang sudah mengetahui Suku Baduy, tetapi belum pernah melihatnya secara langsung. Dan bagi sebagian orang pula sudah melihatnya secara langsung, Suku Baduy berada di Wilayah Lebak, Banten. Untuk menuju ke Suku Baduy, apabila kita menggunakan transportasi kereta api kita turun di Stasiun Rangkas Bitung, bila kita rombongan dan sudah mengkonfirmasi terlebih dahulu ke orang Baduy maka kita akan disediakan elf. Transportasi menuju terminal terdekat dengan Suku Baduy, perjalanan dari Stasiun Rangkas Bitung menuju Terminal Ciboleger ± 2jam setelah sampai di Terminal Ciboleger kita masih harus melanjutkan perjalanan menuju Kepala Adat untuk melapor terlebih dahulu. Setelah itu kita harus melanjutkan lagi perjalanan menuju Baduy Luar ± 1jam dengan rute perjalanan menanjak.
            Kesenian atau ciri khas tidak terlepeas dari daerah itu sendiri, seperti halnya Yogyakarta memiliki ciri khas itu dengan motif batiknya. Sama seperti Baduy, daerah ini mempunyai ciri khasnya tersendiri yaitu dengan hasil kain tenunnya. Bahkan bukan hanya itu saja, di desa ini kita bisa melihat langsung alat tenun yang digunakan oleh masyarakat Baduy dan juga melihat secara langsung bagaimana caranya menenun. Meskipun tidak begitu dikenal seperti kain songket Palembang atau batik Pesisiran. Tenun Baduy ini memiliki kekhasan tersendiri baik dari segi bahan maupun ragam hias yang mendasari pembuatannya. Tenun Baduy juga dipercaya mengandung fungsi dan makna-makna simbolis yang berhubungan dengan tradisi dan kepercayaan orang Baduy. Bagi mereka, tenun selain berfungsi untuk memenuhi kebutuhan sandang, juga memiliki fungsi sebagai identitas, khusunya terhadap nilai-nilai adat yang juga melambangkan eksistensi mereka. Perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar dapat dilihat dari warna dan tenunan yang mereka buat serta kenakan.
Baduy merupakan sebutan yang melakat pada orang-orang yang tinggal di sekitar kaki Pegunungan Kendeng di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten dengan ciri-ciri yang khas dan ‘unik’ dibanding dengan orang-orang yang ada di sekitar mereka, demikian juga dengan orang-orang daerah Banten lainnya. Keunikan mereka terlihat jelas dalam cara berpakaian, keseragaman bentuk rumah, penggunaan bahasa, kepercayaan dan adat istiadat. Disamping itu, mereka juga sering menyebut diri sebagai urang (orang) Kanekes, urang Raweyan, urang Tangtu, urangGirang, urang Panamping, beberapa lagi menyebutnya dengan nama asal kampung mereka tinggal(urang Cibeo, urang Gajeboh, urang Kaduketang.
Keunggulan cita rasa dari pembuatan kain yang dimiliki orang Baduy berkembang dalam berbagai wujud, sifat, bentuk, kegunaan, ragam hias, serta menjadi jati diri dan ciri khas masyarakat adat tersebut. Bahan kain untuk memenuhi kebutuhan sandang telah dibuat sendiri dari potensi alam yang ada dan dibuat dengan menggunakan alat tenun yang mereka buat sendiri. Betapapun sederhananya bentuk, bahan, pola hias, dan teknik pembuatannya, tenun Baduy merupakan benda budaya yang bukan hanya didasari oleh fungsi saja tetapi juga merupakan perwujudan dari nilai-nilai tradisi, adat istiadat, sejarah, dan kekayaan alam yang merupakan cerminan dari budaya mereka.
Tenun Baduy Sebagai Identitas



Kreativitas mereka dalam membuat kain tenun terbentuk melalui suatu perjalanan panjang. Selama kurun waktu yang lama, melalui pelbagai kegiatan tradisi dan budaya yang mendasarinya, masyarakat adat Baduy menciptakan pelbagai teknik pembuatan kain tenun dan ragam hiasnya. Apabila dilihat dari latar belakang kehidupan orang Baduy, seni tenun Baduy telah bersatu dengan kegiatan tradisi dan keseharian mereka. Menenun mempunyai nilai estetika, kegiatan menenun juga memiliki makna ketaatan untuk para wanita Baduy.
Seperti yang diungkapkan Kayam (1981:60), bahwa dalam batasan geografis khususnya di Asia Tenggara, kesenian telah tumbuh sebagai bagian dari kebudayaan masyarakatnya. Dengan demikian, kesenian mengandung sifat-sifat atau ciri-ciri yang khas. Pertama, memiliki jangkauan yang terbatas pada kebudayaan yang menunjangnya. Kedua, merupakan pencerminan dari satu budaya yang berkembang. Ketiga, merupakan bagian dari satu ‘kosmos’ kehidupan yang tidak terbagi-bagi dalam pengkotakan spesialisasi. Keempat, merupakan kreativitas individu, tetapi tercipta secara bersama dengan sifat kolektivitas masyarakat yang menunjangnya.
Keterampilan membuat seni tenun pada orang Baduy bisa dikatakan tidak terlepas dari latar belakang yang dipengaruhi pelbagai unsur sejarah. Diperkirakan keahlian membuat tenun telah dimiliki oleh masyarakat Nusantara yang hidup pada  abad ke-8 sampai abad ke-2 Sebelum Masehi. Kapas merupakan salah satu bahan utama dalam membuat kain tenun. Kapas itu mereka proses menjadi benang dengan pemintalan sederhana, kemudian ditenun dengan alat dari kayu yang mereka buat sendiri. Pengetahuan tentang kapas sebagai bahan benang diduga telah dimiliki oleh Orang Kanekes sejak lama. Pada masa Kerajaan Pajajaran, Masyarakat Baduy setiap tahun sudah biasa memberikan persembahan 10 pikul kapas kepada kerajaan dan tradisi pembuatan kain dari bahan kapas dinyatakan sudah ada sejak masa tersebut (Iskandar, 2005:236). Ada yang beranggapan bahwa busana orang Baduy saat ini merupakan busana yang digunakan oleh masyarakat Jawa Barat pada masa silam.
Kain tenun sebagai fungsi utamanya untuk dijadikan pakaian, merupakan satu dari kebutuhan hidup bagi orang Baduy di samping makanan dan rumah untuk tempat tinggal. Tenun Baduy tampak sederhana jika dibanding dengan tenunan dari daerah lain. Namun, reka hias dan kerajinan tangan tenun orang Baduy ini merupakan karya cipta yang tinggi. Selain karena merupakan gabungan dari ungkapan estetis dan alam, reka hias itu juga mewakili sikap hidup mereka yang menyimpan ribuan tabu dalam alam kosmosloginya. Di setiap kegiatan ritual, daur hidup keluarga, dan berhubungan dengan alam kepercayaan, sepotong kain tenun hampir selalu menjadi bagian yang mempunyai peran.
Keragaman dan keunikan kain tenun Baduy merupakan cerminan dari filosofi hidup mereka. Serta merupakan kreasi dari bentuk-bentuk simbolis yang tertuang dalam adat hingga keseharian mereka. Dalam kaitannya dengan nilai-nilai kepercayaan ini, oleh Kartiwa (2007:9) dikatakan bahwa unsur-unsur tersebut merupakan satu bentuk ekspresi pengakuan terhadap keberadaan, keagungan, dan kebesaran Tuhan, Sang Maha Pencipta kehidupan semua makhluk di dunia.
Kain tenun dalam Masyarakat adat Baduy, tidak hanya berfungsi sekedar penutup tubuh yang melindungi pemakainya dari kondisi cuaca atau iklim. Bukan pula sekedar benda fisik yang dapat digunakan untuk menggendong bayi, atau fungsi-fungsi fisik lainnya. Kain tenun juga memiliki arti lain daripada sekedar kebutuhan fungsional. Bentuk dan corak keindahan dalam selembar kain, tidak semata-mata bertalian dengan pemenuhan keindahan saja. Melainkan terkait secara menyeluruh dengan kebudayaan dan ciri khas pemangkunya.
Sementara itu dalam kaitan dengan seni tenun, warna putih yang digunakan pada bahan kain tenun Baduy tidak diwarnai atau tetap menggunakan warna asli kapas yang putih. Dalam kepercayaan orang Baduy warna putih bermakna terang, bersih, atau sebagai Hyang yang tidak memiliki wujud. Hal ini berkaitan dengan makna kesucian, terletak pada tingkat atas dari sistem nilai kepercayaan yang mereka anut. Sedangkan Warna hitam pada pakaian Baduy Luar, menurut penelaahan Jatisunda (2008), mengandung makna gelap atau malam. Gelap atau hitam dalam konteks budaya Baduy akan menjadi pelindung di balik yang putih atau terang.
Seni tenun baduy dalam lingkup kehidupan masyarakat adat Baduy menjadi kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupan mereka. Kain telah terjalin erat ke dalam lingkaran budaya hidup masyarakatnya. Sejak lahir, menjalani hidup di dunia hingga meninggal dunia ‘dibungkus’ dengan kain tenun.
Tenun sangat dekat dengan kehidupan, khususnya dalam lingkungan keluarga. Aktivitas menenun sepintas memang tampak sebagai kegiatan sambilan yang seolah-olah hanya merupakan aktivitas pengisi waktu luang bagi kaum perempuan Baduy. Namun, apabila ditelusuri secara mendetail dan mendalam, ternyata aktivitas menenun mengandung sejumlah nilai. Menenun mempunyai nilai kedisiplinan. Kepada setiap anak perempuan yang lahir di Baduy, sejak kecil, mereka sudah ditanamkan kedisiplinan yang tinggi dengan cara mempelajari aturan adat dan nilai-nilai Masyarakat Adat Baduy. Salah satunya berhubungan dengan aktivitas menenun.
Kegiatan menenun pada masyarakat Kanekes pun dipercaya merupakan wujud dari ketaatan yang dilakukan oleh perempuan Baduy terhadap aturan adat yang mereka junjung. Orang Baduy yang selalu merasakan kondisi ketercukupan, dan karenanya tidak lagi merasa perlu atau gelisah mencari sesuatu hal lain dari luar. Konsep bermukim dalam ketercukupan inilah yang terus-menerus dibina oleh tradisi Baduy dari generasi ke generasi, hingga saat ini. Kegiatan menenun merupakan penjabaran dari konsep tersebut. Kegiatan memenun terus mereka galakan sebagai bagian dari upaya untuk memenuhi kebutuhan akan pakaian yang dapat mereka upayakan secara mandiri.
Tidak dikembangkannya sistem pemikiran ataupun teknik yang lebih canggih, bukan karena rendahnya mutu sumber daya manusianya, tetapi lebih dapat dimengerti dari nilai kesahajaan dan kesederhanaan mereka. Sebagaimana yang tertuang dalam ungkapan bijak mereka: sare tambah teu tunduh, ngawadang tambah teu lapar, make tambah teu taranjang. Artinya, tidur sekedar pelepas kantuk, makan sekedar pelepas lapar, berpakaian untuk menuntupi badan.
Kekhususan Seni Tenun Baduy
Kekhasan tenun Baduy adalah bahannya yang agak kasar dan warnanya cenderung dominan. Bintik-bintik kapas dari proses pemintalan tradisional telah menghasilkan tekstur yang khas tenun Baduy dengan alat pemintal tradisional yaitu gedogan/raraga. Kain tenun yang awalnya dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan sandang, dibuat sederhana dengan menggunakan motif geometris.
Wanita Tangtu (Baduy Dalam) hanya menenun dua warna tenunan yaitu hitam/biru tua (nila) dan putih polos. Sedangkan jenis dan motif yang dihasilkan para perajin tenun Baduy dari masa ke masa relatif tidak mengalami perubahan begitu banyak. Wanita suku Baduy dalam pembu

atan kain tenun, biasanya berfokus pada dua jenis kain tenun, antara lain:
  1. Sarung/samping, sarung atau samping Baduy sangat sederhana, terutama pada tenunan kain samping aros dan sarung poleng hideung yang berwarna biru tua atau hitam yang dihiasi motif kotak-kotak tipis berwarna hitam atau hanya bermotif polos, samping pada umumnya berwarna dasar hitam dipadu dengan garis-garis kecil warna biru terang. Samping dapat dijahit dibuat menjadi sarung atau kulot (semacam rok pada wanita).

2.      Tenunan bodasan/boeh tenunan polos putih yang biasanya digunakan sebagai bahan untuk membuat baju, ikat kepala, atau selendang. Ikat kepala selalu dikenakan kaum laki-laki, baik anak-anak maupun orang yang lebih tua.


Alat dan Perlengkapan Menenun


a.       Caor/dodogong, sebilah papan yang diletakkan horizontal, sebagai sandaran punggung penenun. Selain itu berfungsi jug untuk menarik kain tenunan agar terbentang kencang.
b.      Taropong, sepotong bambu (tamiang), tempat memasukkan benang kanteh (pakan).
c.       Tali caor, tali yang mengikatkan bilah caor dengan kain yang ditenun di sebelah kiri dan kanan penenun.
d.      Suri/Sisir, alat berbentuk sisir, untuk membereskan benang pakan dan benang lusi.
e.       Hapit, bilahan papan untuk menggulung kain hasil tenun.
f.       Barera, sebilah kayu alat bertenun untuk merapatkan benang pakan agar kain tenun menjadi rapat
g.       Jingjingan, bagian dari gedogan, tempat menambatkan lusi.
h.      Limbuhan, sebilah kayu yang memanjang seperti mistar berbentuk bulat untuk merenggangkan kedudukan benang tenun
i.        Kekedal, patitihan, totojer, bilahan kayu tempat kaki penenun bertelekan
j.        Rorogan, sebilah kayu alat penahan berera, terletak sebelah kanan penenun.
k.      Totogan, bilahan papan/kayu sebagai alat penahan ketika proses bertenun.
l.        Cangcangan, bilahan papan/kayu, sebagai penguat alat bertenun
Selain raraga (seperangkat alat tenun) di atas, terdapat alat atau perlengkapan lainnya yang biasa digunakan dalam menenun tenun Baduy di antaranya: 
Ø  dadampar (bilahan papan yang digunakan untuk tempat duduk penenun), 
Ø  Galeger (bilahan papan/kayu, sebagai penguat alat bertenun), 
Ø  Kincir (alat untuk memintal benang kanteh), 
Ø  golebag (tempat untuk memindahkan benang hasil pintalan) 
Ø  pihane (alat untuk membereskan benang kanteh). 
Ø  Seungkeur (sebilah papan/bambu untuk menentukan ukuran lebar kain yang ditenun), 
Ø  tudingan/tutuding (sebilah kayu/bambu untuk alat mengait atau mengambil dan atau membetulkan sesuatu yang letaknya agak jauh dari penenun).
Selain dipakai untuk sehari – hari oleh masyarakat Baduy, kain tersebut biasanya mereka jual kepada tourist yang datang ke kampung tersebut dan kisaran harga untuk kainnya itu adalah 15 – 30 ribu rupiah. Jika kita tahu bagaimana cara menenunnya, harga itu tidak sebanding dengan lelah dan capek mereka karena mereka harus duduk selama berjam – jam. Tapi mereka tidak perduli akan hal itu, karena bagi mereka menenun itu merupakan hal yang dilakukan untuk mengusir kebosanan mereka. Selain itu mereka senang apabila kain hasil buatan mereka banyak yang tahu.
Sekian informasi mengenai alat tenun dan kain khas yang dimiliki masyarakat Baduy. Saya tahu masih terdapat kesalahan dalam penulisan maupun informasi  yang kurang, maka dari itu penulis memerlukan kritik dan saran yang membangun untuk dimasa yang akan datang.
Wassalamualaikum, wr. Wb

M.Nur Sidiq
Usaha Jasa Pariwisata "A" 2014
4423143979

sidiqmuhamamd3008@gmail.com


Daftar Pustaka

Tugas 3_M.Nur Sidiq_Kendal

Tugas 3 M. Nur Sidiq Kendal

Indahnya Kebudayaan Kota yang Terlewatkan

A.   Pengantar
Ø  Kata Pengantar
Assalamualaikum wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi rahmat dan hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tulisan ini dengan judul “Indahnya Kebudayaan Kota yang Terlewatkan”. Adapun tujuan penulisan tulisan ini yaitu guna memenuhi nilai tugas mata kuliah Pemanduan Wisata Budaya dan juga untuk mengetahui salah satu destinasi wisata yang berkembang saat ini. Penulis menyadari bahwa penyusunan tugas ini tidak berjalan dengan baik tanpa ada dukungan dari berbagai pihak. Maka dari itu, dalam kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasi sebesar – besarnya kepada dosen mata kuliah Pemanduan Wisata Budaya yaitu Bpk. Shobiriennur Rasyid, karena berkat ilmu beliau saya dapat menyusun tulisan ini. Penulis berharap agar tulisan ini bermanfaat bagi semua kalangan, penulis juga menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan tulisan ini dikarenakan keterbatasan penulis. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk dijadikan acuan dan bahan pertimbangan dimasa yang akan datang.
Wassalamualaikum, wr. Wb
Jakarta, 2 Januari 2016

Penulis
B.   Pembahasan
Sebelum saya menulis tulisan ini, saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama lengkap saya M. Nur Sidiq, saya biasa dipanggil sidiq. Saya tinggal di Depok tepatnya di Lingkungan Cipayung Rt 05/01 no 130, bagi yang ingin main silahkan datang. Saya akan memberitahu tentang salah satu objek wisata yang berada di Indonesia yang mungkin masih belum diketahui oleh masyarakat luas terutama Indonesia. Sebelum saya membahas lebih jauh, mari kita lihat profil daerah tersebut. Cekidot !!
Ø  Deskripsi Destinasi
Kabupaten Kendal
Kabupaten Kendal (bahasa Jawa: Hanacaraka: ꦑꦼꦤ꧀ꦝꦭ꧀, Latin: Kendhal) adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Kendal dan masuk dalam Wilayah Metropolitan Kedungsapur yang merupakan Wilayah Metropolitan terbesar keempat setelah Jabodetabek, Gerbangkertosusila, dan Bandung Raya. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kota Semarang dan Kabupaten Semarang di timur, Kabupaten Temanggung di selatan, sertaKabupaten Batang di barat. Kendal juga dikenal dengan Kota Santri karena terdapat ribuan Ponpes terutama di KecamatanKaliwungu dan juga dikenal dengan Kota Seni dan Budaya.

Sejarah
Nama Kendal diambil dari nama sebuah pohon yakni Pohon Kendal. Pohon itu pada mulanya tidak ada yang tahu namanya tapi ketika Pakuwojo bersembunyi di pohon itu di dalam pohon itu terang benderang akhirnya pohon itu dinamakan pohon Qondhali yang berarti penerang dan akhirnya daerah tempat pohon itu dinamakan Qondhali karena orang Jawa tidak fasih berbahasa Arab maka jadi Kendal. Pohon yang berdaun rimbun itu sudah dikenal sejak masa Kerajaan Demak pada tahun 1500 - 1546 M yaitu pada masa Pemerintahan Sultan Trenggono. Pada awal pemerintahannya tahun 1521, Sultan Trenggonopernah memerintah Sunan Katong untuk memesan Pusaka kepada Pakuwojo. Peristiwa yang menimbulkan pertentangan dan mengakibatkan kematian itu tercatat dalam Prasasti. Bahkan hingga sekarang makam kedua tokoh dalam sejarah Kendal yang berada di Desa Protomulyo Kecamatan Kaliwungu itu masih dikeramatkan masyarakat secara luas. Menurut kisah, Sunan Katong pernah terpana memandang keindahan dan kerindangan pohon Kendal yang tumbuh di lingkungan sekitar. Sambil menikmati pemandangan pohon Kendal yang nampak "sari" itu, Dia menyebut bahwa di daerah tersebut kelak bakal disebut "Kendalsari". Pohon besar yang oleh warga masyarakat disebut-sebut berada di pinggir Jalan Pemuda Kendal itu juga dikenal dengan nama Kendal Growong karena batangnya berlubang atau growong.

Dari kisah tersebut diketahui bahwa nama Kendal dipakai untuk menyebutkan suatu wilayah atau daerah setelah Sunan Katong menyebutnya. Kisah penyebutan nama itu didukung oleh berita-berita perjalanan Orang-orang Portugis yang oleh Tom Peres dikatakan bahwa pada abad ke 15 di Pantai Utara Jawa terdapat Pelabuhan terkenal yaituSemarang, Tegal dan Kendal. Bahkan oleh Dr. H.J. Graaf dikatakan bahwa pada abad 15 dan 16 sejarah Pesisir Tanah Jawa itu memiliki yang arti sangat penting.
Sejarah Berdirinya Kabupaten Kendal

          Adalah seorang pemuda bernama Joko Bahu seorang abdi dalem kerajaan Mataram. Joko Bahu dikenal sebagai seorang yang mencintai sesama dan pekerja keras hingga Joko Bahu pun berhasil memajukan daerahnya. Atas keberhasilan itulah akhirnya Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo mengangkatnya menjadi Bupati Kendal bergelar Tumenggung Bahurekso. Selain itu Tumenggung Bahurekso juga diangkat sebagai Panglima Perang Mataram pada tanggal 26 Agustus 1628 untuk memimpin puluhan ribu prajurit menyerbu VOC di Batavia. Pada pertempuran tanggal 21 Oktober 1628 di Batavia Tumenggung Bahurekso beserta ke dua putranya gugur sebagai Kusuma Bangsa. Dari perjalanan Sang Tumenggung Bahurekso memimpin penyerangan VOC di Batavia pada tanggal 26 Agustus 1628 itulah kemudian dijadikan patokan sejarah lahirnya Kabupaten Kendal.

          Perkembangan lebih lanjut dengan momentum gugurnya Tumenggung Bahurekso sebagi penentuan Hari jadi dinilai beberapa kalangan kurang tepat. Karena momentum tersebut merupakan sejarah kelam bagi seorang tokoh yang bernama Bahurekso. Sehingga bila tanggal tersebut diambil sebagai momentum hari jadi dikhawatirkan akan membawa efek psikologis. Munculnya istilah "gagal dan gugur" dalam mitologi Jawa dikawatirkan akan membentuk bias-bias kejiwaan yang berpengaruh pada perilaku pola rasa, cipta dan karsa warga Kabupaten Kendal, sehingga dirasa kurang tepat jika dijadikan sebagai pertanda awal mula munculnya Kabupaten Kendal.

          Dari Hasil Seminar yang diadakan tanggal 15 Agustus 2006, dengan mengundang para pakar dan pelaku sejarah, seperti Prof. Dr. Djuliati Suroyo (guru besar Fakultas sastra Undip Semarang), Dr. Wasino, M.Hum (dosen Pasca Sarjana Unnes) H. Moenadi (Tokoh Masyarakat Kendal dengan moderator Dr. Singgih Tri Sulistiyono. serta setelah diadakan penelitian dan pengkajian secara komprehensip menyepakati dan menyimpulkan bahwa momentum pengangkatan Bahurekso sebagai Bupati Kendal, dijadikan titik tolak diterapkannya hari jadi. Pengangkatan bertepatan pada 12 Rabiul Awal 1014 H atau 28 Juli 1605. Tanggal tersebut persis hari Kamis Legi malam jumat pahing tahun 1527Saka. Penentuan Hari Jadi ini selanjutnya ditetapkan melalui Peraturan Daerah (PERDA) Kabupaten Kendal Nomor 20 Tahun 2006, tentang Penetapan Hari Jadi Kabupaten Kendal (Lembaran Daerah no 20 Tahun 2006 Seri E nomor 15). Sejarah Kendal juga terdapat di perpustakaan Leiden University ,Leiden, Belanda.

Pemerintahan Kabupaten Kendal sekarang dan zaman dulu

          Kaliwungu pernah berjaya sebagai pusat pemerintahan sejak awal berdirinya Kabupaten Kendal. Namun karena kondisi perpolitikan di pusat Mataram pada waktu itu dan adanya pertimbangan untuk perkembangan pemerintahan, menyebabkan pusat pemerintahan tersebut pindah ke Kota Kendal hingga sekarang. Sehingga akhirnya Kaliwungu hanya digunakan untuk tempat tinggal kerabat Ayah Bupati yang sering disebut sebagai Kasepuhan. Sedangkan pemerintahannya dijadikan sebagai daerah administrasi yaitu Distrik Kaliwungu.

Geografi
Kondisi geografis

             Kabupaten Kendal terletak pada 109°40' - 110°18' Bujur Timur dan 6°32' - 7°24' Lintang Selatan. Batas wilayah administrasi Kabupaten Kendal meliputi :
·         Utara : Laut Jawa
·         Timur : Kota Semarang
·         Selatan : Kabupaten Semarang dan Kabupaten Temanggung
·         Barat : Kabupaten Batang
             Jarak terjauh wilayah Kabupaten Kendal dari Barat ke Timur adalah sejauh 40 Km, sedangkan dari Utara ke Selatan adalah sejauh 36 Km.
Kabupaten Kendal dan terletak 25 km di sebelah barat Kota Semarang Kendal dilalui jalan Pantura (jalan negara) yang menghubungkan Jakarta-Semarang-Surabaya. Kendal mempunyai luas wilayah sebesar 1.002,23 Km2 untuk daratan dan luas wilayah sebesar 313,20 Km2 totalnya seluas 1315,43 Km2 yang terbagi menjadi 20 Kecamatan dengan 265 Desa serta 20 Kelurahan.
             Kabupaten Kendal mempunyai pantai sepanjang 41,0 Km2,terbentang di 25 Kelurahan/Desa yaitu desa Mororejo,Wonorejo (Kecamatan Kaliwungu), kemudian Desa Purwokerto,Turunrejo (Kecamatan Brangsong),kemudian Kelurahan Banyutowo,Karangsari,Bandengan,Balok,Kalibuntu (Kecamatan Kendal),kemudian Desa Wonosari,Kartika Jaya,Pidodo Wetan,Pidodo Kulon (Kecamatan Patebon),kemudian Desa Margorejo,Korowelang Anyar,Korowelang Kulon,Kalirandu Gede,Kali Ayu,Juwiring,Sidomulyo (Kecamatan Cepiring),selanjutnya Desa Kali Rejo,Tanjung Mojo, Jungsemi,Sendang Kulon (Kecamatan Kangkung),serta Desa Sendang Sikucing,Gempol Sewu (Kecamatan Rowosari).
Kondisi iklim dan curah hujan
             Mengingat wilayah Kabupaten Kendal yang terbagi menjadi 2 (dua) daerah dataran, maka kondisi tersebut memengaruhi kondisi iklim wilayah Kabupaten Kendal. Wilayah Kabupaten Kendal bagian utara yang didominasi oleh daerah dataran rendah dan berdekatan dengan Laut Jawa, maka kondisi iklim di daerah tersebut cenderung lebih panas dengan suhu rata-rata 27 °C. Sedangkan wilayah Kabupaten Kendal bagian selatan yang merupakan daerah pegunungan dan dataran tinggi, kondisi iklim di daerah tersebut cenderung lebih sejuk dengan suhu rata-rata 25 °C.
          Kabupaten Kendal terdiri atas 20 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 265 desa dan 20 kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Kendal. Di samping Kendal, kota-kota kecamatan lainnya yang cukup signifikan adalah Kaliwungu dan Weleri.
Kaliwungu (Basis Keagamaan)
          Kota ini tak pernah sepi dari kehidupan keislaman. Banyak pesantren dengan santri dari berbagai kota dari berbagai wilayah negeri. Kota ini selalu khas dengan berlalulalangnya orang-orang yang berpakaian muslim, dengan sarung dan penutup kepala (peci atau kerudung) dengan Al Quran dan atau kitab-kitab tertentu ditangan. Selain itu alunan ayat-ayat suci Al Quran senantiasa menggema sepanjang hari di hampir setiap sudut kotanya.
Weleri (Basis Perdagangan)
          Kota paling barat Kabupaten ini memang tak pernah sepi dari perdagangan. Kota ini menjadi transit dan tujuan dari para pedagang dari seluruh penjuru Kabupaten bahkan Wilayah Indonesia. Dengan fasilitas transportasi (adanya 2 terminal dan 1 Stasiun KA)dan fasilitas komunikasi yang lebih lengkap dari pada kecamatan lainnya, Weleri berkembang menjadi sebuah kota yang ramai dan mudah untuk diakses.
          Selain itu, secara sosial, dengan adanya para pedagang dari Klaten-Solo yang membentuk suatu perkampungan khusus (Kampung Solo),perkampungan tersebut terletak di dukuh Kedonsari Kelurahan Penyangkringan. Dari pengaruh perubahan sosial inilah menjadikan weleri sebagai kecamatan yang perkembangan perdagangan semakin pesat dengan ditandai banyaknya pasar tradisonal, sampai saat ini terdapat 3 pasar besar yang terletak dijantung Kecamatan Weleri.
Transportasi
          Kendal berada di jalur pantura yang sangat ramai. Angkutan umum antarkota pada umumnya dilayani oleh bus. Kendal juga dilintasi jalur kereta api, ada tiga stasiun (Weleri,Kalibodri dan Kaliwungu) dengan stasiun terbesarnya Weleri. Kebanyakan kereta api jarak jauh tidak singgah di stasiun ini .
Budaya dan Adat
          Kabupaten Kendal kaya dengan kegiatan budaya baik yang bersifat tradisional maupun agamis seperti Syawalan Kaliwungu (event ini sudah terkenal hampir diseluruh Pulau Jawa), Tari Rodhat, Sedekah Laut Tanggul Malang, Pesta Laut Tawang dan Pantai Bandengan.
             Disamping itu terdapat beberapa makam dari tokoh-tokoh adat maupaun penyebar Agama Islam diantaranya adalah Makam Pangeran Djuminah, Kyai Asyari, Sunan Katong, Paku Wojo yang terletak di Kecamatan Kaliwungu, Makam Pangeran Benowo di Kecamatan Pegandon dan Makam Kyai Seapu di Kecamatan Boja. Di cepiring juga ada pasar cepiring dan berbagai macam padagang di antara toko sepeda BMS yang dari dulu sudah ada di sana.
Pakaian Adat Kendal
             Putra: Blangkon model Mataram mondol trepes, jebeh nutup telinga. Busana bagian atas menggunakan beskap Sutowijayan (bagian depan nutup ke kanan dan jatuh lurus kebawah dengan 3 saku, bagian belakang landung dan belahan disamping kiri dan kanan). Bagian bawah menggunakan nyamping/kain pesisiran menggunakan sabuk, epek timang, memakai keris/duwung, dan menggunakan selop tertutup.
             Putri: Sanggul khas Kendal, rambut disasak dan dirapikan seperti halnya membuat sanggul jawa dan bagian samping kanan dan kiri dibentuk mepet telinga (tanpa sunggar). Kemudian untuk bentuk sanggulnya menggunakan sanggul Jawa Solo ukuran kecil dengan 3 tusuk konde model lingkar.
Tari Rodhat
             Tari Rodhat/Lengguk, merupakan tari pergaulan yang bersifat massal yang diiringi alat musik terbang (semacam rebab) dengan lagu lagu pujian kepada Allah SWT seperti Sholawatan dan Qosidahan.
Opak Abang
             Opak Abang, merupakan akronimis dari kata kethoprak dan terbang. Artinya pertunjukan drama tradisional (kethoprak) yang diiringi musik dengan dominasi terbang. Kesenian ini berbasis pada drama tradisional yang menampilkan cerita-cerita babat dan legenda maupun cerita rekaan yang berkubang pada persoalan pada persolan humanistic. Karakteristik yang paling menonjol pada kesenian ini disamping iringan musiknya yang menggunakan instrumen perkusi terbang, kustumnya yang khas yang berupa sarung dan peci. Hal ini memberikan tanda bahwa kesenian ini berbasis akrab dengan kondisi kemasyarakatan disekitarnya.
Simthud Dhuror
             Simthud Dhuror, merupakan salawatan untuk memuji junjungan Nabi Muhammad. Kalau di bulan Rabiul Awal (Maulud) diadakan Safari maulud, yaitu acara mauludan secara berkeliling/bergilir di penjuru kota/kabupaten.
Kuliner Khas Kendal
Makanan
·         Momoh
·         Rica Rica Menthog
·         Bebek Ijo
·         Soto Kendal
·         Pecel Kembang Turi
·         Bandeng Tanpa Duri (Tandu)
·         Mangut Lele
·         Brongkos
·         Telur Ikan Mimi
·         Panggang Ikan Klayar
·         Mangut Kepala Ikan Manyung
Minuman
·         Bir Jawa
·         Kopi Cacaban
Oleh oleh
·         Kerupuk Petis
·         Kerupuk Rambak
·         Kerupuk Tayammum (Goreng Wedi)
·         Spesial Gulali Khas Kendal
·         Olahan Jambu Getas Merah
·         Emping Bandeng
·         Abon Bandeng Cabut Duri
·         Stik Balado Pedas
·         Kerupuk Duri Bandeng
·         Krecek Ketan Bandeng Cabut Duri
·         Sumpil
·         Ondal Andil

Selain itu di Kendal terdapat beberapa kegiatan tahunan yang sering diadakan, kegiatan tersebut berkaitan dengan hari besar Islam. Karena daerah Kendal disebut juga sebagai Kota Santri, jadi mayoritas penduduk di daerah ini menganut agama Islam. Tidak jauh dari acara – acara hari besar Islam lainnya di tempat yang berbeda, disini juga terdapat beberapa acara hari besar Islam. Yang mungkin kita sering mendengar ataupun pernah mendengarnya di daerah di Pulau Jawa. Berikut adalah beberapa kegiatan yang rutin diadakan setiap tahunnya di daerah Kendal, kegiatan ini ada yang berkaitan dengan hari besar keagamaan dan ada pula yang tidak, adalah          :
·       Kendal Expo, di Kelurahan Kebondalem
·       Kendal Heritage Carnival, di sepanjang Jalan Soekarno Hatta
·       Syawalan, di Kaliwungu
·       Nyadran, di pesisir pantai Kendal
·       Syawalan, di Boja
Pada tulisan ini saya akan membahas lebih dalam mengenai nyadran.
Nyadran adalah serangkaian upacara yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, terutama Jawa Tengah. Nyadran berasal daribahasa Sanskerta, sraddha yang artinya keyakinan. Nyadran adalah tradisi pembersihan makam oleh masyarakat Jawa, umumnya di pedesaan. Dalam bahasa Jawa, Nyadran berasal dari kata sadran yang artiya ruwah syakban. Nyadran adalah suatu rangkaian budaya yang berupa pembersihan makam leluhur, tabur bunga, dan puncaknya berupa kenduri selamatan di makam leluhur.
Pelaksanaan Nyadran
Naydran merupakan salah satu tradisi dalam menyambur datangnya bulan Ramadhan. Kegiatan yang biasa dilakukan saat Nyadran atau Ruwahan adalah:
·       Menyelenggarakan kenduri, dengan pembacaan ayat Al-Quran, zikir, tahlil, dan doa, kemudian ditutup dengan makan bersama.
·       Melakukan besik, yaitu pembersihan makam leluhur dari kotoran dan rerumputan.
·       Melakukan upacara ziarah kubur, dengan berdoa kepada roh yang telah meninggal di area makam.
Nyadran biasanya dilaksanakan pada setiap hari ke-10 bulan Rajab atau saat datangnya bulan Sya'ban. Dalam ziarah kubur, biasanya peziarah membawa bunga, terutama bunga telasih. Bunga telasih digunakan sebagai lambang adanay hubungan yang akrab antara peziarah dengan arwah yang diziarahi. 
Para masyarakat yang mengikuti Nyadran biasnya berdoa untuk kakek-nenek, bapak-ibu, serta saudara-saudari mereka yang telah meninggal. Seusai berdoa, masyarakat menggelar kenduri atau makan bersama di sepanjang jalan yang telah digelari tikar dan daun pisang. Tiap keluarga yang mengikuti kenduri harus membawa makanan sendiri. Makanan yang dibawa harus berupa makanan tradisional, seperti ayam ingkung, sambal goreng ati, urap sayur dengan lauk rempah, prekedel, tempe dan tahu bacem, dan lain sebagainya.
Sejarah
Nyadran berasal dari tradisi Hindu-Budha. Sejak abad ke-15 para Walisongo menggabungkan tradisi tersebut dengan dakwahnya, agar agama Islam dapat dengan mudah diterima. Pada awalnya para wali berusaha meluruskan kepercayaan yang ada pada masyarakat Jawa saat itu tentang pemujaan roh yang dalam agam Islam dinilai musrik. Agar tidak berbenturan dengan tradisi Jawa saat itu, maka para wali tidak menghapuskan adat tersebut, melainkan menyelasraskan dan mengisinya dengan ajaran Islam, yaitu dengan pembacaan ayat Al-Quran, tahlil, dan doa. Nyadran dipahami sebagai bentuk hubungan antara leluhur dengan sesama manusia dan dengan Tuhan.
Kegiatan ini dilakukan untuk sebagai penghormatan kepada leluhur yang sudah mendahului kita, selain kita mamanjatkan doa untuk arwahnya disana. Kegiatan membersihkan tempat pemakaman leluhur kita supaya tempat terakhir yang dia tempati itu tempat bersih, tempat itu biasanya dibersihkan dari sampah – sampah yang berada di sekitar pemakaman tersebut.
Biasanya kegiatan ini dilakukan sebelum para sanak saudaranya memanjatkan doa, setelah kegiatan ini kemudian kita memanjatkan doa, membaca surat yasin, dan sebagainya. Setelah itu baru kita menyiramkan air dan juga kembang yang sudah disiapkan sebelumnya.
Ø  Aksesibilitas
Untuk mencapai kota Kendal itu tidak sulit, karena kota ini masih terjangkau oleh beberapa transportasi seperti darat dan udara. Disini saya akan menginformasikan transportasi menuju kota Kendal yang berada di Jawa Tengah.
·         Transportasi Udara
Apabila anda menginginkan alat transportasi yang mudah dan juga cepat kita bisa menggunakan sara transportasi udara menggunakan pesawat terbang. Waktu yang ditempuh sekitar 1jam 5menit dan mendarat di kota Semarang, karena Kendal merupakan salah satu kota yang terdapat di Semarang, Jawa Tengah. Setelah kita tiba di bandara Ahmad Yani, kita bisa melanjutkan untuk naik taksi menuju kota Kendal, karena waktu tempuh sekitar 1jam.
·         Kendaraan Pribadi
Alat transportasi ini bisa dibilang alat transportasi yang sering digunakan untuk berpergian jauh, karena jika anda membawa keluarga anda kendaraan ini sangat cocok. Karena anda tidak perlu repot – repot untuk menunggu, berpindah ke mode transportasi lainnya. Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk ke kota Kendal adalah sekitar 7jam 33menit, waktu tempuh ini sudah setengah dari waktu tempuh untuk mencapai kota Yogyakarta. Jika kita menggunakan kendaraan Pribadi, kita bisa leluasa untuk berkeliling kota kendal tanpa perlu memikirkan untuk bagaimana menuju lokasi tersebut.
·         Kereta Api
Berikutnya ada mode transportasi kereta api, mode transportasi ini juga bisa dibilang tidak ribet, karena kita hanya perlu ke stasiun lalu menunggu, setelah itu kita hanya duduk di dalam kereta dan apabila kita capek, kita dapat berjalan – jalan sepanjang gerbong. Mode transportasi ini merupakan transportasi favorit ke dua setelah kendaraan pribadi, karena bagi mereka yang membawa keluarga, terutama anak kecil. Mereka akan menggunakan mode transportasi ini, karena apabila si kecil merasa bosan bisa berjalan sepanjang gerbong. Harganya berkisar antara Rp 65.000 – Rp 240.000, setibanya disana kita akan tiba di stasiun Weleri. Apabila dari Jakarta, kita bisa memilih stasiun – stasiun ini untuk membeli tiket dan juga untuk keberangkatan yaitu, St Gambir, St Jatinegara, St Manggarai dan St Pasar Senen.

Ø  Akomodasi
Banyak sekali akomodasi di kota Kendal mulai dari harga ratusan ribu hingga mencapai jutaan. Namun jangan khawatir dengan suasana dan keadaan hotel tersebut, karena semua hotel yang berada di kendal memiliki bangunan yang apik, serta nyaman.

Ø  Restorasi
Tidak lengkap apabila berkunjung ke suatu daerah bila tidak mencicipi makanan khas daerah tersebut, jangan khawatir untuk menemukan makanan khas kota Kendal. Karena di setiap warung makan atau restoran yang berada di kota Kendal menyajikan makanan khas kota tersebut. Jadi anda tidak perlu khawatir apabila anda penasaran untuk mencoba makanan khas Kendal.

Ø  Souvenir atau oleh – oleh
Tidak lengkap apabila kita pergi ke suatu tempat tidak membawa buah tangan dari tempat tersebut, sama seperti setiap daerah. Kota Kendal mempunyai sentra oleh – oleh yang terdapat di Kendal Permai, disana kita bisa mencicipi makanan khas daerah Kendal dan juga oleh – oleh khas Kendal. Yang dijual dengan harga tidak terlalu mahal.
c. Penutup
Ø  Kesimpulan
Kota Kendal, mungkin bagi sebagian orang yang sering pergi ke daerah Yogyakarta dengan menggunakan kendaraan pribadi mereka akan melewati kota ini. Mungkin juga sebagai tempat istirahat saja, tanpa kita sadari tempat seperti itu yang menyimpan salah satu objek wisata yang tidak ada di tempat lainnya. Banyak pula tempat tempat di Indonesia yang masih belum di explore sepenuhnya, karena tidak adanya akses menuju tempat itu ataupun hal lainnya.
Bahkan terdapat di beberapa daerah tertentu, apatur negara tidak perduli akan objek tersebut. Bahkan apabila objek tersebut di gali potensinya di bidang pariwisata, akan menambah pendapatan bagi daerah tersebut. Bahkan banyak sekali objek wisata yang sudah ada atau sudah dikenal, mereka tidak terurus akan keadaannya karena pemerintah seakan akan tidak perduli akan emas yang mereka miliki. Kenapa dibilang emas, karena hal ini sangat berharga sekali sama dengan emas. Kita harus menjaga dan juga melestarikannya, supaya objek wisata ini terjaga keindahannya, terjaga keasliannya.
Ø  Saran
Kita sebagai penerus pramuwisata, kita harus mampu menjaga dan juga melestarikan objek tersebut, selain itu juga kita harus mampu menggali potensi potensi pariwisata di daerah lainnya. Karena itu akan membuat Indonesia kaya, karena Indonesia memiliki segalanya hanya saja kita tidak tahu bagaimana cara mengembangkannya. Meskipun kita tahu bagaimana caranya, pemerintah lah yang kurang mendukung akan hal itu.

Jadi kita harus bekerja sama dengan pihak pemerintah dalam mengembangkan objek wisata. Selain itu kita juga harus mampu bekerja sama dengan customer atau wisatawan yang kita bawa agar mereka juga menjaga kelestarian objek wisata di daerah kita. Karena kalo bukan kita yang peduli akan objek wisata kita siapa lagi. Selain itu juga objek wisata yang terdapat di Indonesia sudah banyak cuman kurang dalam pengembangannya saja, apabila kita mengembangkan secara optimal makan kita akan mampu mengalahkan negara negara lain dalam bidang pariwisata. Hal itu karena Indonesia banyak sekali objek wisata yang belum berkembang dan butuh tangan – tangan kreatif untuk mengembangkannya, bukan tangan – tangan usil untuk merusaknya. Tinggalkanlah kenangan tapi jangan tinggalkan sampah, berikut adalah moto dalam berjalan – jalan. Kita tidak boleh meninggalkan sampah tetapi kita hanya boleh membawa kenangan dan meninggalkan jejak saja.

M. Nur Sidiq
Usaha Jasa Pariwisata "A" 2014
4423143979

sidiqmuhamamd3008@gmail.com



  Daftar Pustaka