Showing posts with label Pesona Indonesia.. Show all posts
Showing posts with label Pesona Indonesia.. Show all posts

Sunday, January 3, 2016

Tugas 2 - Solusi UNJ Untuk Pariwisata Indonesia



Hallo semuanya…
Apa kabarnya hari ini?
Semoga selalu sehat dan bersemangat untuk membaca tulisan saya kali ini..
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatu.. Perkenalkan nama saya Hirfan Ramadhan dan saya merupakan mahasiswa Pariwisata Universitas Negeri Jakarta. Pada kesempatan kali ini saya akan membahas masalah pariwisata yang dihadapi oleh provinsi Banten. Sebelum itu saya akan memberikan pengertian sedikit mengenai pariwisata menurut Wikipedia, Pariwisata atau turisme adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk rekreasi atau liburan dan juga persiapan yang dilakukan untuk aktivitas ini. Seorang wisatawan atau turis adalah seseorang yang melakukan perjalanan paling tidak sejauh 80 km (50 mil) dari rumahnya dengan tujuan rekreasi, merupakan definisi oleh Organisasi Pariwisata Dunia. Definisi yang lebih lengkap,turisme adalah industri jasa. Mereka menangani jasa mulai dari transportasi, jasa keramahan, tempat tinggal, makanan, minuman dan jasa bersangkutan lainnya seperti bank, asuransi, keamanan dll. Dan juga menawarkan tempat istrihat, budaya, pelarian, petualangan,pengalaman baru dan berbeda lainnya. Banyak negara bergantung banyak dari industri pariwisata ini sebagai sumber pajak dan pendapatan untuk perusahaan yang menjual jasa kepada wisatawan. Oleh karena itu pengembangan industri pariwisata ini adalah salah satu strategi yang dipakai oleh Organisasi Non-Pemerintah untuk mempromosikan wilayah tertentu sebagai daerah wisata untuk meningkatkan perdagangan melalui penjualan barang dan jasa kepada orang non-lokal. Namun menurut Undang Undang No. 10/2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud dengan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
Banten, Jawara yang Sedang Tertidur
 Mengapa harus Banten? Hal ini menarik karena seperti yang orang lain sudah banyak ketahui bahwa Banten merupakan salah satu daerah yang sangat terkenal pada masa lalu dan Banten juga merupakan wilayah dari pemerintahan VOC kala itu. Dari segi pariwisata, Banten menyimpan banyak sekali potensi adri berbagai jenis seperti laut,pantai,taman nasional, bahkan juga desa adat atau desa wisata yang ikut meramaikan potensi wisata yang dimilikki oleh Banten. Namun meskipun demikian, kondisi Banten malah semakin terpuruk dan cenderung mengalamai ketertinggalan dengan daerah-daerah lainnya terutama dalam hal kepariwisataan.
Masjid Agung Banten


Pelaksana Tugas Gubernur Banten, Rano Karno menjelaskan bahwa ada dua masalah utama dalam pengembangan sektor pariwisata di Banten. Masalah tersebut terdiri dari masalah infrastruktur dan kurangnya promosi wisata. "Jadi Banten ini sebenarnya lebih cocok dijadikan adventure tourism karena jalanannya yang kurang bagus dan memaksa pengunjung untuk off road," canda Rano Karno dalam jumpa pers di Gedung Sapta Pesona, Kantor Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Selasa (19/8/2014). Rano menyayangkan bahwa selama 14 tahun ini sektor pariwisata di Banten belum berkembang. Ia menjelaskan bahwa Banten, khsusnya kawasan Banten Lama sebenarnya memiliki wisata kebudayaan yang potensional. Hal tersebut terlihat dari kebudayaan debus dan Masjid Agung di sana. Pendapat Rano Karno seakan menjadi bukti yang cukup bahwa perkembangan pariwisata di Banten sangat memprihatinkan padahal jika dikaji lebih dalam sebenarnya Banten dapat menjadi destinasi wisata favorit bagi setiap wisatawan.
"Jadi strategi kami adalah ingin melakukan beberapa perbaikan infrastruktur seperti perbaikan jalan, dan memperbanyak promosi ke luar daerah Banten," ucap Rano. Rano pun menyebutkan bahwa salah satu factor yang sangat mempengaruhi kondisi ini adalah infrastruktur yang sangat buruk dimana kondisi atau akses untuk menuju kesana sangat sulit karena kondisi jalan yang tidak merata dan sangat rawan terjadi kecelakaan. Bahkan kemacetan pun juga kerap menghiasi provinsi Banten dan itu menjadi salah satu faktor kembali atas penurunan wisatawan yang berkunjung ke Banten. Sebagus apapun tempat wisatanya jika aksesnya kurang baik mungkin para wisatawan yang akan dating bisa saja mengurungkan niatnya untuk berkunjung dan berwisata kesana. "Sebenarnya kalau di hari-hari besar seperti Lebaran dan Tahun Baru jumlah pengunjungnya luar biasa membeludak, namun jika weekdays jumlah pengunjungnya relatif sedikit," tambah Rano.
Dalam rapat Reboan PHRI Kabupaten Serang yang dilansir pada laman (http://kabar-banten.com/news/detail/3445 ) sering mengungkapkan masalah-masalah yang menjadi kendala perkembangan pariwisata di Anyer. Misalnya perlu segera membangun tempat pembuangan sampah akhir di Anyer atau Cinangka. Kemudian perlunya melakukan penertiban terhadap pedagang kaki lima yang tumbuh subur di sepanjang jalan raya dan pantai. Penerangan jalan umum juga perlu diprioritaskan agar wisatawan nyaman berpergian pada malam hari. Memang pengalaman yang saya dapatkan jika saya berlibur ke Banten terutama daerah Anyer disamping jalan yang sangat rusak kondisi penerangan jalan juga tidak merata dan kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan bagi orang yang ingin keluar pada malam hari. Hal itu sangat berbeda dengan Bali dan Yogyakarta yang menghidupkan kotanya pada pagi dan juga malam hari hingga situasi di daerah tersebut selalu ramai dan tak pernah sepi sehingga dapat meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan pada malam hari karena situasi yang ramai.
Masalah lainnya yang timbul dari pariwisata Banten ini adalah pengelolaan dari objek wisata yang kurang maksimal mungkin karena kesadaran masyarakat akan pariwisata sangat kurang. Provinsi Banten yang berada di ujung barat Pulau Jawa memiliki banyak tempat wisata yang wajib dikunjungi, di antaranya pantai Sawarna, Pantai Tanjung Lesung, Pulau Empat, hingga Taman Nasional Ujung Kulon. Dan kesemua objek wisata yang disebutkan merupakan objek yang sangat menarik untuk dikunjungi dan tak kalah dengan objek wisata lainnya di daerah lain. Sangat disayangkan jika potensi yang begitu besarnya didiamkan begitu saja.
Peta Wisata provinsi Banten

 Kemudian “Kita bagi 8 kota kabupaten yang tersebar. Kalau berbicara kota Tangerang dan Tangsel, lebih penjualan jasa, banyak setu, banyak juga wisatawan modern yang diciptakan pengembang,” kata Soni F.L Tri Satya, Ketua Fraksi PDI-P di DPRD Banten, Rabu (14/01/2015). Dirinya pun menjelaskan bahwa wisata di Banten beraneka ragam, ada wisata alam, wisata buatan, wisata religi, hingga wisata budaya yang semua nya tersebar di delapan kota dan kabupaten yang ada di tanah jawara. Tetapi hal tersebut belum dikelola secara maksimal oleh masing-masing kota dan kabupaten, bahkan Pemerintah Provinsi pun belum maksimal mengelola potensi pendapatan daerah dari sektor wisata. Hal tersebut pun semakin dipersulit karena tempat wisata di Banten lebih banyak dimiliki oleh perorangan atau institusi swasta, sehingga pemasukan untuk kas daerah sangat kurang. Program prioritas Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Banten, Rano Karno, di tahun 2015 pada pembangunan infrastruktur, kesenian, dan budaya. “Memang harus ada regulasi antara pemerintah kabupaten kota yang mengatur kerjasama. Harus ada site plane yang bekerjasama dengan pengembang pariwisata. Dimana domainnya ada di kabupaten kota, provinsi hanya membuat regulasi nya,” tegasnya. (http://banten.co/ini-dia-masalah-wisata-di-tanah-jawara/ )
Berdasarkan permasalahn-permasalahan yang sudah dikemukakan oleh beberapa ahli diatas saya mencoba untuk memberikan solusi daripada permasalahan-permasalahan tersebut:
1.)    Meningkatkan minat masyarakat Banten untuk memanfaatkan kesempatan yang ada dengan berkreasi menghasilkan suatu karya yang unik yang bias menarik para wisatawan yang datang.
Pariwisata sebenarnya merupakan industri yang terus berkembang di dunia. Memang sudah sejak lama pariwisata menjadi bagian dari kebutuhan hidup manusia di bumi.
Berbicara masalah pariwisata, jangan sisi negatifnya saja yang dilihat. Tetapi dampak positifnya yang bisa dinikmat masyarakat luas. Sektor pariwisata mencakup segala macam kegiatan yang mempunyai dampak terhadap social ekonomi, budaya, politik dn lingkungan hidup. Pariwisata bagaikan lokomotif yang mampu menarik potensi jangka panjang ekonomi. potensi itu dimulai dari bisnis travel biro, transportasi, perhotelan, restoran sampai kepada pedagang kaki lima serta pedagang asongan. Sektor industri yang menunjang pariwisata bisa dilihat dari kegiatan industri kecil dan kerajinan, seperti Batik Banten, Keramik Bumijaya dan fosil kayu. Sedangkan dari sektor pertanian dan perikanan banyak produk sayuran, telur, daging dan ikan yang dibutuhkan hotel dan restoran setiap hari. Belum termasuk buah-buahan yang banyak dimiliki daerah ini, seperti sawo, rambutan, mangga, durian, cempedak dan semangka. Dengan hal seperti itu insyaallah bias menjadi jembatan untuk menarik minat wisatawan lebih banyak lagi.
2.)    Meningkatkat infrastruktur di setiap daerah terutama pada daerah-daerah tempat objek wisata favorit berada.
Seperti yang telah dibahas diatas permasalahan yang cukup penting tentang alasan lemahnya pariwisata di Banten yang berlangsung selama 14 tahun (menurut Rano) terakhir ini adalah masalah dari infrastruktur. Permasalahan infrastruktur yang utama adalah aksesibilitas atau kondisa dari jalan yang menghubungkan untuk sampai di objek wisata. Jelas, karena jika wisatawan yang ingin berpergian kesana kemudian mendapati bahwa kondisi jalan kurang baik dan sangat mengkhawatirkan bias saja wisatawan tersebut menjadi sangat kesal dan kesan pertama yang didapatkan pun tidak sesuai dengan apa yang diharapkan malahan sebaliknya. Bahkan bias saja itu merupakan kunjungan terakhirnya ke Banten. Memang banyak sekali yang membuata jalanan di Banten ini rusak karena memang banyak sekali mobil berat dengan muatan yang beratus-ratus kilogram kerap berjalan disekitar jalan ini yang membuat jalanan pun akan selalu rusak dan rusak kembali. Jadi ini merupakan PR besar bagi pemerintah untuk memperbaiki jalanan yang rusak menjadi rata dan layak untuk dijadikan akses menuju obhjek-objek wisata di Banten. Mungkin saja pemerintah bias membagi jalan untuk kendaraan berat dan ringan sesuai dengan porsinya dan ketahanan permukaan jalan yang dibuat. Karena bagaimanapun aksesibilitas masuk ke dalam unsur dari maju atau tidaknya suatu objek wisata yang ada.
3.)    Menjaga kelestarian objek wisata
Ini sangat mengerikan ketika suatu objek yang selalu menjadi destinasi favorit kemudian deketahui bahawa objek wisata favorit tersebut ternyata kedapatan kotor dan jorok akan sangat mungkin jika wisatawan meninggalkannya dan saya harus akui bahwa negara Indonesia tingkat kesadaran didalam kebersihan masih sangat kurang jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapore namun apa salahnya jika mindset seperti itu dibuang jauh-jauh bahkan tak akan pernah kembali lagi agar kebiasaan buruk tersebut tidak kembali lagi dan muncul ke permukaan. Mungkin ini solusi yang sering dan selalu diingatkan kepada siapapun. Ya karena kembali lagi bahwa menurut pemikiran saya dan mungkin juga menurut orang banyak kebersihan adalah kunci utama dari suksesnya suatu objek wisata. Kita tidak pernah akan merasa nyaman jika objek wisata yang dikunjungi terlihat kotor dan jorok. Semua orang suka dengan kebersihan sehingga sebisa mungkin dari warga Banten agar selalu menjaga lingkungannya agar tetap asri dan terjaga keasliannya karena sangat disayangkan dengan potensi wisata yang dimiliki oleh Banten harus tercemar dengan tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab mengotori asset berharga yang telah diberikan oleh Tuhan YME. Semoga masyarakat akan terbiasa dengan menjaga kebersihan di daerah Banten khususnya daerah yang dekat dengan objek-objek wisata berpotensi. Mungkin peraturan yang dibuat mengenai kebersihan harus tegas dan membuat efek jera contoh saja dengan memberlakukan denda yang sangat mahal dengan harga ratusan ribu rupiah. KEmudian selalu dipasang papan-papan bermanfaat mengenai larangan membuang sampah sembarangan di berbagai area-area penting selain itu juga sediakanlah tempat sampah yang banyak agar masyarakat juga tidak kesulitan jika ingin membuang sampah dan tidak menjadi alasan mereka membuang sampah sembarangan.
4.)    Menguatkan sistem promosi pariwisata
Promosi merupakan salah satu hal yang tidak bisa dijauhkan dari alasan majunya suatu objek wisata. Promosi sangat dibutuuhkan bagi siapapun karena promosi tidak hanya terdapat di industri jasa saja namun juga industry barang atau produk. Seperti yang sering kita lihat di media-media baik media online maupun elektronik seperti internet dan televise sudah banyak sekali iklan – iklan mengenai pariwisata dan daerah-daerah lainnya di Indonesia bahkan negara luar sekalipun. Sejauh yang saya lihat bahwa iklan mengenai paroiwisata Banten sangat sulit ditemui dan mungkin itu yang menjadi salah satu faktor sulit berkembangnya pariwisata di Banten. Saya sangat mengharapkan agar Banten dapat terkenal melalui promosi yang memperlihatkan keindahan-keindahan serta keunikan yang terdapat di Banten itu sendiri agar nantinya Banten bias bersaing lebih jauh lagi dengan daerah-daerah lainnya seperti Bali,Yogyakarta,Banyuwangi, dan Malang. Apalagi teknologi saat ini sudah berkembang sangat pesat, internet mudah untuk diakses oleh siapapun mulai dari anak hingga dewasa dan seharusnya ini bias dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki wewenang atas pariwisata di Banten ini untuk mempromosikan pariwisata Banten ke mata dunia agar dikenali. Saya berharap semua itu akan terwujud amin.
5.)    Diberlakukannya sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan
Pariwisata  berkelanjutan merupakan prinsip-prinsip pembangunan pariwisata. Pariwisata berkelanjutan ini sangat penting karena pariwisata akan berkembang dan mengalami perubahan kea rah yang lebih baik jika diterapkan dengan serius. Pembangunan  pariwisata tersebut harus didasarkan pada kriteria keberlanjutan yang artinya bahwa pembangunan dapat didukung secara ekologi dalam jangka panjang sekaligus layak secara ekonomi, adil secara etika dan sosial terhadap masyarakat. Artinya, pembangunan ekonomi pariwisata berkelanjutan adalah upaya terpadu dan terorganisasi untuk mengembangkan kualitas hidup dengan cara mengantar penyediaan, pengembangan, pemanfaatan dan pemberdayaan secara berkelanjutan secara ekonomi. Pembangunan ekonomi pariwisata tersebut hanya dapat terlaksana dengan sistem penyelenggaraan kepemerintahan yang baik (good goverment) yang melibatkan partisipasi aktif dan seimbang  antara pemerintah, swasta dan masyarakat. Dengan demikian, pembangunan berkelanjutan tidak saja terkait dengan isu-isu lingkungan, isu demokrasi, hak asasi manusia dan isu lain yang lebih luas. Tak dapat dipungkiri, hingga saat ini konsep pembangunan berkelanjutan tersebut dianggap resep pembangunan ekonomi pariwisata paling tepat. Saat ini penerapan system pariwisata berkelanjutan ini sedang trend an terbukti memberikan dampak yang sangat positif terhadap daerah yang mengembangkannya sehingga dengan potensi yang dimiliki oleh provinsi Banten bias menerapkan pariwisata berkelanjutan dengan sangat baik agar pariwisata pun berkembang sesuai dengan yang diharapkan.

Saya rasa sekali lagi bahwa provinsi Banten merupakan provinsi yang sangat penting dan sangat kaya dimana didalamnya menyimpan banyak potensi yang jika dikembangkan dengan baik dan teratur akan menghasilkan sesuatu yang tak ternilai harganya. Melihat dari permasalahan-permasalahan yang sangat mengkhawatirkan yang telah saya jelaskan diatas yang diantaranya adalah aksesibilitas yang buruk / kondisi jalan rusak menuju tempat wisata, kurangnya kepengurusan yang baik dari pihak-pihak terkait mengenai objek-objek wisata yang ada, mungkin juga sumber daya manusia yang masih cenderung lemah,kurangnya kesadaran masyarakat setempat akan potensi pariwisata yang dimiliki daerahnya, infrastrruktur yang kurang baik pula yang menjadi alasan utama wisatawan cenderung malas untuk berkunjung, dan permasalahan lainnya yang ikut campur menjadi bagian dari faktor kurang meningkatnya sektor pariwisata di provinsi Banten ini. Sungguh sangat ironis dan menyedihkan jika kita lihat dari potensi yang sangat banyak yang eksis didalam provinsi banten ini karena sesungguhnya potensi wisata di Banten ini merupakan paket lengkap dimana provinsi ini memiliki Taman Nasional Ujung Kulon yang menyimpan spesies Badak bercula satu yang hamper punah di Indonesia kemudian keindahan pantai Sawarna, pantai Tanjung lesung, dan banyak pantai lagi ikut memberikan kontribusi bahwa sesungguhnya wilayah Banten itu kaya akan tempat wisata. Apalagi keberadaan suku Baduy dengan segala keunikan dan kekhasan nya yang dijadikan wisata adat dan budaya yang mungkin saja hanya sedikit dimiliki oleh orang wilayah-wilayah lain di Indonesia. Berangkat dari semua potensi yang ada dan sudah disebutkan sebenarnya provinsi Banten ini bagai singa yang sedang tertidur yang suatu saat akan bangkit menampilkan segala kekayaan dan potensi yang luar biasa untuk siapapun yang melihatnya dan bukan mimpi jika suatu saat Banten bisa menjadi salah satu daerah andalan bagi pariwisata di Indonesia karena impian bukanlah sekedar impian namun impian melainkan sesuatu yang patut untuk direalisasikan agar mencapai kepuasan. Semoga beberapa solusi yang saya buat diatas bisa dijadikan bahan guna perkembangan pariwisata Banten kea rah yang lebih baik dan baik lagi.

*Terima kasih kepada para pembaca dan saya sangat berharap akan komentar kalian mengenai postingan saya ini*




NAMA     : Hirfan Ramadhan
KELAS    : Usaha Jasa Pariwisata 2014 (B)
NIM         : 4423145623
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

TUGAS 2 SOLUSI UNJ UNTUK PARIWISATA INDONESIA

Pariwisata Indonesia: masalah dan solusi

                Pariwisata di Indonesia merupakan sektor ekonomi penting di Indonesia. Pada tahun 2009, pariwisata menempati urutan ketiga dalam hal penerimaan devisa setelah komoditi minyak dan gas bumi serta minyak kelapa sawit. Berdasarkan data tahun 2014, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia sebesar 9,4 juta lebih atau tumbuh sebesar 7.05% dibandingkan tahun sebelumnya.
                Kekayaan alam dan budaya merupakan komponen penting dalam pariwisata di Indonesia. Alam Indonesia memiliki kombinasi iklim tropis, 17.508 pulau yang 6.000 di antaranya tidak dihuni, serta garis pantai terpanjang ketiga di dunia setelah Kanada dan Uni Eropa. Indonesia juga merupakan negara kepulauan terbesar dan berpenduduk terbanyak di dunia. Pantai-pantai di Bali, tempat menyelam di Bunaken, Gunung Rinjani di Lombok, dan berbagai taman nasional di Sumatera merupakan contoh tujuan wisata alam di Indonesia. Tempat-tempat wisata itu didukung dengan warisan budaya yang kaya yang mencerminkan sejarah dan keberagaman etnis Indonesia yang dinamis dengan 719 bahasa daerah yang dituturkan di seluruh kepulauan tersebut. Candi Prambanan dan Borobudur, Toraja, Yogyakarta, Minangkabau, dan Bali merupakan contoh tujuan wisata budaya di Indonesia. Hingga 2010, terdapat 7 lokasi di Indonesia yang telah ditetapkan oleh UNESCO yang masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia. Sementara itu, empat wakil lain juga ditetapkan UNESCO dalam Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia yaitu wayang, keris, batik dan angklung.
                Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, sebelas provinsi yang paling sering dikunjungi oleh para turis adalah Bali sekitar lebih dari 3,7 juta disusul, DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera Utara, Lampung, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Banten dan Sumatera Barat. Sekitar 59% turis berkunjung ke Indonesia untuk tujuan liburan, sementara 38% untuk tujuan bisnis. Singapura dan Malaysia adalah dua negara dengan catatan jumlah wisatawan terbanyak yang datang ke Indonesia dari wilayah ASEAN.[10] Sementara dari kawasan Asia (tidak termasuk ASEAN) wisatawan RRC berada di urutan pertama disusul Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan India.[10] Jumlah pendatang terbanyak dari kawasan Eropa berasal dari negara Britania Raya disusul oleh Belanda, Jerman dan Perancis.
                Berbagai organisasi internasional antara lain PBB, Bank Dunia dan World Tourism Organization (WTO), telah mengakui bahwa pariwisata merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia terutama menyangkut kegiatan social dan ekonomi. Diawali dari kegiatan yang semula hanya dinikmati oleh segelintir orang-orang yang relatif kaya pada awal abad ke-20, kini telah menjadi bagian dari hak azazi manusia, sebagaimana dinyatakan oleh John Naisbitt dalam bukunya Global Paradox yakni bahwa “w here once travel was considered a privilege of the moneyed elite, now it is considered a basic human right. Hal ini terjadi tidak hanya di negara maju tetapi mulai dirasakan pula di negara berkembang termasuk pula Indonesia.
                Dalam hubungan ini, berbagai negara termasuk Indonesia pun turut menikmati dampak dari peningkatan pariwisata dunia terutama pada periode 1990 – 1996. Badai krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak akhir tahun 1997, merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi masyarakat pariwisata Indonesia untuk melakukan re-positioning sekaligus re-vitalization kegiatan pariwisata Indonesia. Disamping itu berdasarkan Undang-undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Perencanaan Nasional pariwisata mendapatkan penugasan baru untuk turut mempercepat pemulihan ekonomi nasional dan memulihkan citra Indonesia di dunia internasional. Penugasan ini makin rumit terutama setelah dihadapkan pada tantangan baru akibat terjadinya tragedi 11 September 2001 di Amerika Serikat.
                Menghadapi tantangan dan peluang ini, telah dilakukan pula perubahan peran Pemerintah dibidang kebudayaan dan pariwisata yang pada masa lalu berperan sebagai pelaksana pembangunan, saat ini lebih difokuskan hanya kepada tugas-tugas pemerintahan terutama sebagai fasilitator agar kegiatan pariwisata yang dilakukan oleh swasta dapat berkembang lebih pesat. Peran fasilitator disini dapat diartikan sebagai menciptakan iklim yang nyaman agar para pelaku kegiatan kebudayaan dan pariwisata dapat berkembang secara efisien dan efektif. Selain itu sub sektor pariwisata pun diharapkan dapat menggerakan ekonomi rakyat, karena dianggap sektor yang paling siap dari segi fasilitas, sarana dan prasarana dibandingkan dengan sektor usaha lainnya. Harapan ini dikembangkan dalam suatu strategi pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan pariwisata yang berbasis kerakyatan atau community-based tourism development .
                 Bagi saya, daya saing Indonesia sebagai destinasi pariwisata (tourism destination) sangatlah rendah. Sehingga, untuk bisa bersaing mendatangkan wisatawan mancanegara (wisman, international tourist), kita harus menjual murah semua destinasi pariwisata yang kita miliki seperti Bali, Lombok, Batam, Jogja dan potensi pariwisata nasional lainnya. Dulu, penilaian daya saing pariwisata Indonesia sudah pada ambang SOS alias emergency (gawat darurat) pernah digulirkan oleh Rhenald Kasali di sebuah harian nasional pada akhir tahun 2004. Argumen tersebut didasarkan data ranking dan skor yang dihimpun World Travel & Tourism Council dan World Bank.
                Bagaimana tidak. Pariwisata Indonesia dan destinasi unggulan lainnya seperti Bali, Jogja dan Lombok selama lebih dari empat dasa warsa belakangan ini belum pernah sama sekali direncanakan, dikelola, dipasarkan dan dikontrol secara konseptual, terstruktur, sistematis, profesional dan proporsional. Akibatnya, dalam mengembangkan pariwisata, kita hanya mengandalkan keberuntungan dengan model pengelolaan yang seadanya. Bali dan Indonesia BELUM pernah mencapai angka kunjungan dan perolehan devisa yang sepadan dengan potensi yang dimilikinya. Jika ada pihak yang berargumen bahwa masyarakat kita sudah merasa jenuh dengan kehadiran pariwisata, maka hal ini sama halnya dengan istilah “layu sebelum berkembang”.
                Banyak pihak menilai bahwa strategi pembangunan pariwisata kita selama ini hanya mengejar pertumbuhan kedatangan wisatawan tanpa diimbangi upaya peningkatan kualitas (mass tourism). Menurut saya, dengan melihat kenyataan yang ada, sesungguhnya kita BELUM PERNAH menerapkan strategi semacam itu. Mungkin saja kita memiliki strategi pengelolaan pariwisata, tetapi strategi tersebut tidak pernah disusun secara terstruktur dan sistematis berdasarkan database dan research atau audit yang akurat. Dan pada kenyataannya, kita tidak pernah menerapkan model strategi apapun dengan benar.
                Kok bisa? Mari kita buktikan. Kalau toh benar kita menerapkan strategi pertumbuhan kunjungan wisatawan berarti kita berhasil meraup kunjungan wisatawan Internasional hingga lebih dari 15 juta per tahun sebagaimana pesaing kita Malaysia dan thailand yang menerapkan strategi serupa, dapat menerima kunjungan turis Internasional masing-masing 16 dan 17 juta per tahun. Kenyataannya, rekor Indonesia sampai saat ini hanya berkutat pada angka 7.5 juta dan Bali cuma 2 juta per tahun. Di tahun 2012 ini, pemerintah, lewat Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif hanya menargetkan 8 juta wisatawan. Sungguh, suatu angka yang masih jauh dibawah ideal.
                Bukti lain bahwa pemerintah kita tidak memiliki perencanaan pariwisata nasional yang baik adalah fakta tentang RAJA AMPAT. Baik pemerintah daerah maupun pusat kecolongan dan tidak tahu menahu bahwa kita punya potensi pariwisata yang luar biasa di wilayah Papua tersebut. Setelah tv Australia dan Perancis gencar memberitakan dan membuat suatu program tayangan adventure ke Raja Ampat, barulah kita ngeh dan tergopoh-gopoh membuat perencanaan lalu membuang-buang anggaran negara untuk alasan promosi yang belum tentu efektif. Saya yakin, kalau model pengelolaan pariwisata kita tetap seperti ini, maka selamanya, dimanapun potensi pariwisata kita temukan, maka potensi itu akan cepat rusak karena pembangunan yang tidak terkendali dan eksploitasi justru demi pariwisata yang tidak terencana itu sendiri.
                Mari kita berbicara di tingkat Bali. Dengan kondisi alam, budaya, produk wisata dan infrastruktur yang dimiliki Pulau Dewata seperti saat ini, maka selayaknya Bali, jika memang benar menerapkan strategi pertumbuhan kunjungan, haruslah memperoleh minimal 5 juta wisman (wisatawan mancanegara) per tahun. Faktanya? Rekor Bali baru sampai 2 juta wisman per tahun. Apa yang terjadi saat ini ialah; Paceklik Turis Mancanegara. Bila ada orang berargumen kita perlu membatasi jumlah kunjungan wisatawan ke Bali, maka hal demikian adalah argumen yang emosional, cenderung sangat tidak rasional, dan merupakan kekeliruan besar. Hal ini pastilah membawa dampak signifikan terhadap sendi-sendi perekonomian Bali secara luas. Dalam kondisi seperti ini, maka hanya dengan meningkatkan kedatangan wisatwan Internasional mencapai 20 juta per tahun, maka masyarakat kita baru dapat menikmati manfaat ekonomi pariwisata yang senyatanya. Investasi pariwisata akan makin meningkat seiring dengan tingginya permintaan dibukanya industri serta fasilitas pokok dan penunjang pariwisata. Jumlah peluang kerja di bidang pariwisata akan makin meningkat, jasa transportasi akan bergerak lebih signifikan, hotel-hotel tidak akan gulung tikar (karena occupancy bisa mencapai setidaknya rata-rata 75% sepanjnag tahun), PAD (pendapatan asli daerah) meningkat, bahkan petani bawang merah di kaki gunung Batur, Kintamani, Bali sekalipun akan menerima manfaatnya.
                
Melihat 5 persoalan yang di hadapi oleh industri pariwisata Indonesia, adalah sebagai berikut:
1. Hambatan Rendahnya promosi berbagai destinasi wisata dan pengelolaan yang tidak optimal diluar Bali.
2. Masih berlaku nya trend mass tourism.
3. Sampai saat ini sebagian besar perbankan di Indonesia belum memahami potensi industri kreatif karena konsep perbankan yang mengikuti permintaan pasar.
4.  Industri kreatif belum sepenuhnya terlindungi secara hukum.
5. Pemberitaan media yang berlebihan soal negeri barbar dan suka pada kekerasan.

Maka setiap hambatan perlu dicarikan solusinya, antara lain:
1. Perlu aturan yang mewajibkan setiap Pemda mengelola, mengembangkan destinasi wisata dan ekonomi kreatif di daerah masing-masing, misalnya minimal kelancaran akses menuju tempat wisata serta pengelolaan kebersihan yang diawasi.  Promosi destinasi dan pengawasan bisa melalui Blog dan atau Sosial media (twitter/facebook). Sangat perlu ada Lomba promosi wisata tiap daerah agar ada persaingan, dan penghargaan tingkat nasional.
2. Ubah trend dari mass tourism menjadi responsible tourism. Trend wisatawan cukup senang berkunjung beramai-ramai ke suatu tempat hanya untuk sekedar berfoto, menjadi berkulit gelap akibat mandi matahari,  harus diubah. Libatkan turis dengan melihat (dan mempelajari) museum, galeri seni, membatik, kerajinan tangan dsb, mereka kemudian mengubah tujuannya untuk mencoba memahami budaya setempat, kemudian menjadi suatu kebanggaan bagi para wisatawan itu sendiri. Workshop dan kolaborasi seni menjadi bagian penting dari proses ini sehingga komunitas pun akan tetap hidup walaupun wisatawan meninggalkan tujuan wisatanya.
3. Perbankan perlu mendampingi dan memberikan edukasi terus-menerus kepada para pelaku usaha agar konsep ekonomi kreatif dipahami dengan lebih baik berikut aspek hukumnya. Sehingga mereka mampu membaca pasar, dan perbankan tidak ragu-ragu lagi memberikan pembiayaan kepada pelaku industri kreatif di Indonesia.
4. Perlu disadari bahwa industri kreatif sarat akan eksploitasi ide dan kekayaan intelektual. Oleh karena itu, perlindungan hak atas kekayaan intelektual akan menjadi persoalan penting ketika industri tersebut kian besar dan meluas. Pemerintah perlu mengantisipasi hal-hal yang mungkin timbul dari sengketa hak atas kekayaan intelektual. Perbankan perlu mengingatkan para pelaku usaha juga perlu sejak awal agar mengantisipasi kemungkinan sengketa terkait dengan hal tersebut. Jangan sampai tersandung oleh hal-hal serius yang semula dianggap sepele sehingga mengganggu kelancaran usaha.
5. Peran media perlu menumbuhkan keramahtamaan bangsa ini.  Pariwisata hanya berkembang di negeri yang indah dan damai. Harus ada ketegasan sanksi terhadap berita kekerasan secara terus-menerus.
                Masyarakat kreatif dalam dunia pariwisata harus berbasis budaya lokal. Strategi apapun membutuhkan dukungan pembangunan infrastruktur yang memadai. Sehingga muncul keyakinan bahwa pengembangan wisata dan sektor kembali menjadi penyumbang devisa terbesar ketiga bagi negeri ini. Berdasarkan pengamatan saya, serta studi pengelolaan pariwisata dengan berbagai Tourism Board di negara lain, saya menyimpulkan problem pariwisata Indonesia (dan destinasi unggulan lainnya seperti Bali, Lombok, Jogja, dsb.) pada umumnya terfokus pda tiga hal mendasar, yakni; stakeholders consolidatioin, product development dan destination marketing & maketing communications.  Problem pertama, inkonsolidasi stakeholders merupakan akibat dari apa yang disebut oleh pakar hukum pariwisata asal Bali Ida Bagus Wyasa Putra sebagai kesalahan pendefinisian pariwisata. Pendefinisian dan pengertian pariwisata menurutnya kurang jelas, jika bukan keliru sama sekali. Pariwisata tidak secara tegas didefinisikan sebagai suatu bentuk PERDAGANGAN JASA (trade in services) yang melibatkan hampir segenap sektor industri dan pembangunan. Bagi sebagian kalangan, pariwisata masih dimengerti hanya sebatas kegiatan bisnis akomodasi dan perjalanan semata, dan bagi sebagian kalangan lainnya didefinisikan hanya sebatas kegiatan budaya (agent of cultural process/change). Pemahaman seperti ini tentulah sangat PARSIAL dan BERBAHAYA.
                Kesalahan pemahaman ini meluas hingga ke semua level pemerintahan dan masyarakat. Bahwa siapa, menghasilkan apa dan seberapa banyak, hampir sangat jarang digunakan untuk memperhitungkan signifikansi pariwisata di negeri ini. Bahwa pariwisata menghasilkan devisa terbesar setelah sektor migas belum dapat dipahami oleh pejabat elit di pemerintahan pusat sekalipun. Inilah yang menyebabkan banyak pihak tidak bisa memahami the significance of tourism for economic and society welfare. Jika sudah begini, apa akibatnya? Tentu, yang muncul adalah perlakuan yang salah. Sebagai suatu bentuk perdagangan jasa dan fenomena lintas sektoral, pariwisata memiliki karakteristik tersendiri, lingkungan bisnis tersendiri, dan memerlukan perlakuan-perlakuan yang bersifat khusus pula, baik terhadap komunitas pendukungnya (tourism business community), komponen-komponen lingkungan bisnis-nya (tourism business environment), maupun sektor apa saja yang terkait dengannya. Masalah konsolidasi ialah problem kunci pariwisata negeri ini. Kita tidak akan pernah melangkah menyelesaikan problem kedua dan ketiga jika masalah konsolidasi lintas sektoral ini tidak pernah terselesaikan. Kita akan terus terpuruk dengan cara kerja yang tidak terintegrasi, tidak terstruktur, tidak satu visi dan berjalan sendiri-sendiri tanpa arah yang jelas.
                Stakeholders pariwisata yang terbagi menjadi tiga bagian, yakni private, public dan consumers/community sector sampai saat ini belum mampu bekerja untuk sebuah agenda pariwisata yang sama. Yang terjadi di Bali (dan juga di Indonesia) selama ini baru keterpaduan di private sector. Itupun sebatas industri inti pariwisata seperti akomodasi, usaha perjalanan wisata dan transportasi, obyek dan atraksi wisata. Belum pernah sekalipun terjadi integrasi kerja lintas sektor di lingkungan swasta, misalnya kerjasama antara pengusaha akomodasi dengan airlines, atau perusahaan transportasi/usaha perjalanan dengan telekomunikasi, perbankan, asuransi, terlebih dengan pengelola industri migas. Lebih parah lagi, kebijakan pemerintah justru seringkali cenderung merugikan sektor pariwisata sebagai akibat dari lemahnya konsolidasi visi bersama antara private-public. Misalnya regulasi visa (imigrasi) yang jelas-jelas tidak menguntungkan sektor pariwisata. Juga misalnya, terlalu ketatnya clearance bea cukai bagi warga asing yang ingin membuat film promosi pariwisata di suatu destinasi wisata dalam negeri. Lebih jauh lagi, pada kenyataannya kita mengetahui bahwa sistem pengelolaan sampah, listrik, air, transportasi, telekomunikasi dan infrastruktur publik lainnya kurang mendukung bagi pengembangan pariwiasta yang berkualitas.
                Setelah kita dapat menyelesaikan problem konsolidasi, maka tentunya dengan mudah kita akan dapat memperbaikai produk destinasi dan pemasarannya. Apa sih yang tidak bisa kita lakukan jika kita sudah bersatu? Solusi bagi problem kedua dan ketiga adalah rumusan masterplan yang holistik, sistematik dan integral, yang dijabarkan dalam sebuah tourism strategic plan berkelanjutan dengan rincian program kerja sesuai dengan potensi dan khasanah masing-masing destinasi. Implikasi dari rumusan strategic plan ini memberikan kejelasan apa dan bagaimana kita mengelola suatu destinasi pariwisata dan seberapa besar anggaran pengelolaannya. Kerjasama private-public sector yang terstruktur dengan baik adalah langkah awal menuju pengelolaan pariwisata yang professional & proportional sesuai dnegan prinsip good & clean governance yang telah lama kita dambakan. Nah, dengan langkah seperti ini kita akan menjadi ”lebih tahu diri” dan ”tahu apa yang perlu dilakukan” dalam mengelola pariwisata yang merupakan stimulator bagi perekonomian suatu bangsa.
                Solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah memperbanyak sumber daya manusia yang bagus dan berkualitas untuk membuat pariwisata di Indonesia ini berkembang pesat, menjaga kualitas dan kuantitas destinasi – destinasi yang ada di Indonesia, menjaga kelestarian alam, memperbanyak fasilitas, membuat rumusan masalah untuk mengatasi masalah yang ada dan berusaha untuk menjalankannya, lebih sering mempromosikan destinasi di Indonesia, seperti Bali ke luar negeri. Semoga bermanfaat dan menjadi acuan untuk memperbaiki masalah yang selama ini terjadi.



Afrizal Ditya Putera Pradyka
4423143931 - UJP B 2014
pradykaa@gmail.com



Daftar Pusaka:


TUGAS 5 - OBSERVASI BADUY



PROSES PEMBUATAN GULA MERAH DI BADUY

  Indonesia memiliki ragam budaya yang membuat Indonesia menjadi negeri yang kaya akan kebudayaannya. Beberapa daerah di Indonesia masih sangat kental dan masih menjunjung tinggi peraturan dari para nenek moyangnya, pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan tentang sebuah kampung adat yang berada di provinsi Banten, sebelumnya perkenalkan nama saya Nesya Fadhillah Adrianna, saya merupakan salah satu mahasiswi Universitas di Jakarta pada angkatan 2014 dengan jurusan Usaha Jasa Pariwisata. 

  Belum lama ini, pada tanggal 22-24 Desember 2015 kami para mahasiswa Usaha Jasa Pariwisata mendapatkan tugas observasi ke sebuah desa adat yang terletak di Banten dari mata kuliah Wisata Budaya. Sebelumnya kami mendapatkan tiga pilihan tempat yaitu, Cigugur, Ciptarasa dan Baduy. Kemudian,akhirnya pun angkatan kami memilih untuk mengunjungi Baduy. Kami datang ke Baduy menggunakan transportasi umum yaitu kereta yang menuju Stasiun Rangkasbitung. Kami melakukan perjalanan dimulai dai Stasiun Tanah Abang, kami menggunakan kereta Rangkas Jaya Ekspress dengan harga tiket sebesar Rp 15.000. Jarak yang kami tempuh selama perjalanan dari stasiun Tanah Abang sampai ke Stasiun Rangkasbitung memakan waktu kurang lebih selama 2 jam. Setelah dari Stasiun Rangkasbitung, kami melanjutkan perjalanan menggunakan mobil ELF dari terminal Aweh hingga ke pintu masuk baduy luar yaitu Ciboleger. Perjalanan dari Stasiun Rangkasbitung hingga Ciboleger, menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam. Tibanya di Ciboleger, kalian bisa mempersiapkan segala perbekalan yang kurang sebelum melakukan treckking. Setelah perlengkapan pun siap, kami harus berjalan kaki untuk menuju objek pertama yaitu Baduy Luar dengan waktu kurang lebih 2-3 jam tergantung kekuatan fisik masing-masing orang. Jalur yang kami lewati pun cukup menantang, namun meninggalkan kesan yang sangat dalam. Saya pun menyarankan bagi kalian yang ingin berkunjung ke Baduy jangan saat musim hujan tiba, karena trek nya sangat licin dan cukup berbahaya.

  Selama di Baduy, kami bermalam di baduy luar di desa Marengo. Di desa Marengo ini kehidupan mereka semua tanpa penerangan lampu karena belum ada listrik yang sampai kesana. Masyarakat mereka memang sengaja tidak mau menerima bantuan pemerintah dalam hal listrik, karena masyarakat mereka telah lama memegang adat mereka dari para nenek moyang terdahulunya. Ketika disana kami mencari data observasi mulai dari tentang bahasa, agama, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian, dll. Untuk melengkapi data observasi yang harus kami lengkapi, kami dipisah menjadi beberapa kelompok agar memudahkan kami mencari data yang spesifik dan jelas. Saat itu saya mendapatkan kelompok sistem mata pencaharian. Mata pencaharian masyarakat baduy mayoritas adalah petani, namun petani disini bukan hanya petani padi tetapi petani gula, petani buah-buahan ataupun petani sayuran. Selain menjadi petani, beberapa masyarakat Baduy juga bermata pencaharian sebagai wirausaha dengan cara menjual hasil kerajian tangan masyarakat baduy contohnya adalah kain tenun,gelang,baju, dan yang paling khas adalah madu hitam.
Gambar 1.1 Lodong

  Salah satu mata pencaharian masyarakat baduy yang akan saya bahas, adalah petani gula aren. Di daerah baduy, sangat mudah ditemukan pohon aren yang dapat diambil airnya sebagai gula aren. Dalam bahasa Baduy, gula aren berarti gula kawung. Dalam masyarakat mereka gula aren merupakan salah satu mata pencaharian pokok mereka juga. Untuk membuat gula kawung, mereka harus memanjat pohon aren untuk mengambil airnya. Air tersebut dalam bahasa Baduy bernama air nila. Biasanya air nila diambil sehari dua kali, yaitu pada pagi hari dan sore hari. Hasil dari air nila di tampung di dalam bambu yang disebut dengan lodong. Satu buah lodong biasanya menghabiskan waktu  kurang lebih sekitar 10 jam.


  Selanjutnya setelah itu air nila tersebut ditampung didalam kuali besar, direbus diatas api bara besar lalu dihaduk tanpa berhenti searah dengan jarum jam hingga kental. Jika sudah kental dan susah diaduk, tandanya air nila sudah siap untuk dicetak. Untuk mencetaknya, masyarakat baduy masih menggunakan alat tradisional yaitu menggunakan cetakan dari batok kelapa ataupun kayu yang berbentuk bulat (ada juga yang semacam alat bermain congklak). Lama mencetaknya kurang lebih 5-10 menit untuk menunggu sampai gulanya kering.
Gambar 1.2 Alat cetak gula merah
Dalam proses pembuatannya, gula kawung ini dilakukan tidak didalam rumah, melainkan di saung yang letaknya tidak jauh dari kebun atau di saung dekat halaman rumah mereka. Hal ini dilakukan karena untuk membuat gula kawung ini membutuhkan api yang besar. karena jika dilakukan didalam rumah, sangat bahaya karena takut terjadinya kebakaran dan asapnya pun bisa mengganggu tetangga. 

  Air nila Gula kawung dari Baduy ini banyak dicari orang, konon karena rasa manis dari gula kawung ini memiliki rasa yang khas. Gula kawung dijual di pengumpul (reseller) lalu dijual kembali ke konsumen atau bisa juga dijual dengan cara langsung ke konsumen. gula kawung dijual dengan harga 5000-6000 rupiah/hulu atau /bundaran. Masyarakat baduy luar ini lebih sering menjual ke konsumen mulai dari pintu masuk Ciboleger, karena konon menurut mereka kandungan manis serta air dalam gula aren mereka ini bermanfaat mencegah lapar bagi para konsumen yang memakannya serta menahan dahaga jika kita merasa kehausan.
Gambar 1.3 Wajan untuk mengolah air nila hingga menjadi mengental

  Mungkin hanya itu saja yang dapat saya ceritakan mengenai pengalaman saya selama berkunjung di Desa Adat Baduy, semoga informasi yang saya sampaikan dalam cerita ini dapat menjadi manfaat untuk para pembaca dan jika ada yang kurang dalam tulisan, saya mohon maaf.



Nesya Fadhillah Adrianna
4423143911 
UJP A 2014
Universitas Negeri Jakarta