Monday, January 4, 2016

T3_BAYU HARIYANTO YUDISTIRA_KOTA SURAKARTA

KEANEKARAGAMAN WISATA BUDAYA DI SURAKARTA

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
Hallo dunia dan semua para pembaca, Selamat Tahun Baru 2016 semoga di tahun yang baru ini menjadi berkah untuk kalian semua,amin.

Sebelumnya perkenalkan nama saya Bayu Hariyanto Yudistira, saya lahir dijakarta tepatnya Ibukota bagi Negara Indonesia ini, pada tanggal 27 April 1996 tepatnya saya sekarang berumur 19 tahun menuju 20 ditahun yang baru ini 2016.
Untuk sekarang ini saya berstatus mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta Fakultas Ilmu Sosial dengan Program Studi D3 Usaha Jasa Pariwisata, saat ini saya menjalani perkuliahan di Semester 3 menuju Semester 4

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas keanekaragaman wisata budaya di Surakarta, sebelumnya saya akan menceritakan asal usul kota Surakarta ini atau bisa disebut Solo.





Kota Surakarta juga disebut Solo atau Sala, adalah wilayah otonom dengan status kota di bawah Provinsi Jawa Tengah, Indonesia, dengan penduduk 503.421 jiwa (2010) dan kepadatan 13.636/km2. Kota dengan luas 44 km2, ini berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah selatan. Sisi timur kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam salah satu lagu keroncong, Bengawan Solo. Bersama dengan Yogyakarta, Surakarta merupakan pewaris Kesultanan Mataram yang dipecah melalui Perjanjian Giyanti, pada tahun 1755.



KOTA SURAKARTA
Setelah Karesidenan Surakarta dihapuskan pada tanggal 4 Juli 1950, Surakarta menjadi kota di bawah administrasi Provinsi Jawa Tengah. Semenjak berlakunya UU Pemerintahan Daerah yang memberikan banyak hak otonomi bagi pemerintahan daerah, Surakarta menjadi daerah berstatus kota otonom.


KERATON SURAKARTA (WISATA BUDAYA)
Keraton Surakarta, Wisata Budaya Seru di Kota Solo – Belum dikatakan sah apabila dolan ke Solo tanpa berkunjung ke Keraton Kasunanan Surakarta. Begitulah kata orang-orang yang berpariwisata ke Kota Solo ini. memang anggapan tersebut sangat benar sekali, karena Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat merupakan tempat wisata favorit kota Solo yang sangat sayang apabila kita lewatkan saat bermain atau dolan ke kota seribu wisata tersebut.
Berwisata ke Keraton Surakarta atau Solo, seakan kita menjadi saksi sebuah kejayaan yang pernah diraih oleh Kerajaam Mataram. Dimana saat itu, kerajaan tersebut dibagi menjadi 2 bagian di dalam sebuah perjanjian yang bernama Perjanjian Giyanti. Perjanjian inilah yang membuat terciptanya 2 buah keraton yakni Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta ini.
Keraton Surakarta atau sering disebut juga dengan Keraton Solo, merupakan kawasan objek wisata Kota Solo yang tidak boleh Anda lewatkan ketika berkunjung ke kota satu ini. didirikan pada tahun 1744 oleh Sunan Paku Buwono II, Keraton Surakarta Hadiningrat berubah menjadi destinasi wisata budaya terbesar di kota Solo, sekaligus kawasan satu ini menjadi bukti sejarah cikal bakal kota Solo.
Secara fisik Keraton Surakarta memiliki banyak sekali kesamaan dengan Keraton Yogyakarta. terutama kesamaan dalam hal tata ruang dan bangunannya. Kesamaan tersebut terjadi dikarenakan memang kedua keraton ini dibangun oleh dua arsitek yang sama, mereka berdua adalah Pangeran Mangkubumi dan Sultan Hamengkubuwana I. Kesamaan kedua bangunan ini terlihat sangat jelas pada tata letak alun-alun utara dan selatan kedua keraton tersebut.
Jaman keemasan yang dialami oleh Keraton Surakarta berlangsung pada pemerintahan Sunan Paku Buwana X di tahun 1893 – 1939. Ketika masa kejayaan itu, Keraton Surakarta melakukan restorsi secara besar-besaran dengan melakukan perubahan arsitek bangunan-bangunannya yakni dengan mengombinasikan antara gaya arsitek Jawa dengan gaya arsitek Eropa. Sehingga tercipta bangunan bernuansa putih dan juga biru.
Keraton Surakarta ini terletak tepat di jantung Kota Solo dan juga berdekatan dengan berbagai landmark yang ada di kota tersebut. seperti Balaikota, Pasar Klewer, dan Pasar Gede. Untuk bisa menjangkau lokasi keraton tersebut, Anda tidak perlu khawatir. Karena disana tersedia banyak sekali alat-alat transportasi yang bisa Anda gunakan. Mulai dari andong, becak, oje, dan masih banyak lagi.
Di Keraton Surakarta ini Anda bisa melihat dan mempelajari berbagai macam peninggalan bersejarah Kerajaan Mataram yang pernah ada di Kota Solo. Namun sebelum Anda memasuki museum dan melihat-lihat barang bersejarah tersebut, Anda akan diperkenankan terlebih dahulu untuk memakai celana panjang dan sepatu.
Jika Anda tidak mengenakan celana panjang, maka disana sudah tersedia semacam kain yang akan dibelitkan dari pinggang Anda hingga ke kaki. Sedangkan apabila Anda tidak membawa sepatu hanya memakai sendal, Anda harus melepas sandal tersebut alias cokoran. hal ini dilakukan agar kita sebagai pengunjung dapat menghormati budaya yang ada di Kota Solo.



Selain menikmati berbagai macam peninggalan di museum Keraton Surakarta, Anda juga bisa menikmati berbagai macam bangunan megah yang ada di area tersebut. seperti Panggung Sanggabuwana, Sasana Handrawina, Sasana Sewaka, Ndalem Ageng Prabasuyasa, dan masih banyak lagi. mungkin ketika mengelilingi area keraton ini Anda akan melihat sebuah hamparan pasir berwarna putih, sebagai tambahan informasi bagi Anda pasir tersebut adalah pasir yang berasal dari Pantai Selatan.
Masih berada di komplkes Keraton Surakarta, Anda juga bisa berbelanja berbagai macam kerajinan, busana, pakaian, dan barang-barang lainnya di Pasar Klewer. Pasar ini merupakan pasar tekstil terbesar yang ada di Kota Solo, di Indonesia pasar ini terbesar nomor dua setelah Pasar Tanah Abang di Jakarta. Setelah puas mempelajari budaya Solo dan berbelanja di Pasar Klewer, Anda bisa sholat Dzuhur di Masjid Agung Surakarta. Mengingat masjid tersebut lokasinya juga tidak jauh dari kompleks Keraton Surakarta.
Bagi Anda yang tertarik berkunjung ke Keraton Surakarta Hadiningrat, Anda bisa berkunjung kesana pada pukul 09.00-14.00 di hari Senin-Jumat. Sedangkan untuk Sabtu dan Minggu Anda bisa berkunjung mulai pukul 09.00-15.00. sedangkan untuk biaya masuknya, Anda akan dikenakan tiket dengan biaya kurang dari Rp 10 ribu per orangnya.
Demikian rekomendasi tempat wisata seru di kota Solo yang dapat kami sampaikan. Selamat berlibur di Kota Solo. Semoga liburan Anda bersama dengan orang tercinta semakin seru dan menyenangkan.




MUSEUM PURBAKALA SANGIRAN (WISATA SEJARAH)

Museum Purbakala Sangiran, Wisata Sejarah di Kota Solo – Berkunjung Ke Kota Solo sudah pasti telah membuat  daftar tempat yang akan dikunjungi di Kota Solo. Kota Solo merupakan Kota Seribu wisata, dari mulai wisata budayawisata airwisata belanjawisata alam, sampai dengan wisata sejarah.
Salah satunya wisata sejarah di Kota Solo yaitu Museum Purbakala Sangiran. Tempat wisata ini merupakan pilihan liburan yang memberikan edukasi yang menyenangkan kepada anak-anak. Berwisata sekaligus belajar tentang ilmu peradaban manusia.
Museum Purbakala Sangiran dibangun pada tahun 1980 dengan luas area 1000 meter 2. Pada Tahun 1930-1975 banyak ditemukan fosil manusia purba di Sangiran, sehingga banyak wisatawan yang berkunjung ke Sangiran, oleh sebab itu tercetuslah ide untuk membangun sebuah Museum Purbakala Sangiran. Museum ini merupakan situs fosil manusia purba paling lengkap di Jawa, bahkan di Asia. Museum ini menjadi tempat penelitian kehidupan pra sejarah serta tempat untuk mempelajari ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi.
Ketika anda berkunjung ke museum sangiran disana sebuah tempat harta karun untuk mengetahui peradaban manusia. Di Museum Purbakala Sangiran ditemukan pertama kali Fosil Pithecantropus Erextus (Rahang Bawah manusia purba jawa). Dan ditemukan jejak kaki yang berumur 2 juta tahun lamanya yang masih dapat kita lihat di Museum Sangiran . Betapa menakjubkannya Museum Purbakala Sangiran sebuah tempat untuk menelusuri jejak manusia jaman dahulu kala.


Diorama Manusia Purba di Sangiran
Hal yang menarik ketika anda berkunjung ke sangiran adalah ketika anda masuk ke Museum Sangiran anda akan disambut berbagai diorama manusia purba dimulai kegiatan bertani, mencari makan, serta bercengkrama dengan keluarga. Fosil yang ada di Museum sebagian hanya replika, untuk fosil yang asli berada di Museum Geologi Bandung serta di Yogyakarta digunakan untuk penelitian. Sehingga pengunjung diperbolehkan menyentuh replika fosil yang ada di museum. Terdapat pula fasilitas Gardu Pandang sangiran yang digunakan untuk melihat keindahan alam wilayah Sangiran Sragen, terdapat pula Bendungan Bapang berjarak 1 km sebelah barat Museum Sangiran, merupakan tempat untuk ditemukannya fosil manusia purba.
Ketika di dalam museum anda akan dibawa ke kehidupan masa lampau dengan design ruangan berbentuk joglo, yang terdiri dari beberapa ruangan : aula, laboratorium, perpustakaan, ruang audio visual( tempat pemutaran film tentang kehidupan manusia prasejarah), gudang penyimpanan, mushola, toilet, area parkir

.

Fosil Hewan Purba di Museum PurbakalaSangiran
Tertata dengan rapi fosil manusia purba, hewan purba, dengan koleksi fosil kurang lebih 13.806. Antara lain Fosil Hewan Purba : Gajah, Kerbau, Badak, Harimau, Babi, Badak, Sapi, Banteng, Rusa dan Domba. Fosil Binatang laut dan air tawar : Buaya, ikan dan kepiting, gigi ikan hiu, kudanil, Moluska, Terdapat juga berbagai Fosil batuan, & Artefak Batu antara lain serpih dan bilah, serut dan durgi, kapak persegi, bola batu, kapat perimbas- penetak. Begitu lengkapnya koleksi  Museum Sangiran sehingga ditetapkan UNESCO sebagai World Heritage.
Setelah puas berkeliling museum tentunya anda ingin mencari oleh-oleh khas sangiran. Di dekat museum terdapat banyak penjual Souvenir, pernak pernik (khususnya menjual handicraft ‘batu indah bertuah’ yang bahan bakunya didapat dari Kali Cemoro).
Museum ini dapat dijadikan pilihan alternatif liburan wisata untuk keluarga ketika berkunjung ke Kota Solo. Lokasi Museum Sangiran yang berada di kecamatan kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Indonesia. Luasnya mencapai 56 km2, meliputi 3 kecamatan antara lain kecamatan kalijambe, plupuh, dan kecamatan gemolong. Untuk menuju ke Museum Purbakala Sangiran dapat ditempuh kurang lebih 1 jam dari Kota Solo menuju, kecamatan Kalijambe, jika ditempuh dari kota semarang jaraknya relatif lebih dekat bisa melewati Karanggede, Gemolong, Kalijambe, lalu ke Sangiran untuk melalui rute kedua jalan tersebut hanya bisa menggunakan kendaaraan pribadi, belum ada transportasi umum yang dapat menuju ke lokasi tersebut.

Museum Purbakala Sangiran buka setiap hari selasa sampai dengan minggu pada jam 08.00 pagi s/d 16.00 sore, jadi untuk hari senin museum libur. Tiket masuk per 4 April 2015 dikenakan biaya Rp. 5000/orang untuk wisatawan domestik sedangkan untuk wisatawan mancanegara dikenakan biaya Rp. 11.500.

           
MUSEUM BATIK DANAR HADI (WISATA SEJARAH)

Museum Batik Danar Hadi, Wisata Sejarah Batik di Solo – Batik merupakan warisan budaya asal Indonesia yang sangat penting sekali untuk selalu dilestarikan. Bahkan UNESCO telah mengukuhkan batik sebagai sebuah warisan dunia.
Salah satu pusat batik terkenal dan terbesar di Indonesia adalah Batik Danar Hadi Solo. Batik di tempat ini ada banyak sekali variannya. Bahkan koleksi batik di Danar Hadi itu mencapai 10.000 lebih jenis batik.
Selain memproduksi berbagai jenis batik dan melakukan inovasi produk-produk batik tersebut, Danar Hadi Solo juga melestarikan batik-batik yang ada di Indonesia dengan membuat semacam museum. Museum tersebut bernama Museum Batik Kuno Danar Hadi.
Nah seperti apakah museum batik terkenal dan terbaik di Indonesia dan bahkan dunia itu? maka dari itu, jika Anda penasaran terus simak dan ikuti sajian informasi pada kesempatan kali ini.
Museum Batik Danar Hadi, Wisata Sejarah Batik di Solo
Museum Batik Kuno Danar Hadi Solo merupakan kawasan pelestarian budaya lumbung batik dari berbagai daerah di Indonesia. museum ini pertama kalinya dibuka pada tahun 2002 oleh Ibu Megawati Soekarno Putri yang saat itu menjabat sebagai seorang Wapres RI.
Baragam corak, motif, dan warna batik semuanya tersedia disini. Bahkan koleksi yang ada di museum batik kebanggan orang Solo ini mencapai 10000 lebih. Koleksi tersebut tidak hanya berasal dari Indonesia saja. akan tetapi beberapa diantaranya juga berasal dari batik luar negeri.
Dengan koleksi yang sangat banyak tersebut, museum kebanggaan orang Solo ini mendapatkan penghargaan MURI sebagai museum dengan koleksi batik terlengkap di Indonesia dan bahkan dunia. tidak hanya penghargaan itu saja, museum ini juga mendapatkan penghargaan lain yaitu penghargaan IAI atau Ikatan Arsitek Indonesia pada tahun 1999, penghargaan dari Pemerintah Kota Surakarta pada tahun 2000 dan penghargaan dari portal website Tripadvisor.



Salah satu koleksi batik asal luar negeri adalah Batik Belanda. Batik Belanda ini dibawa masuk ke Indonesia oleh orang-orang penjajah jaman dahulu. corak batik Belanda ini juga memiliki ciri khas tersendiri yakni bernuansa lebih ke Barat atau Eropa. Sehingga hal ini membuat koleksi batik yang ada di museum ini semakin beraneka ragam.
Selain batik Belanda, ada juga koleksi batik menarik lainnya yakni Barik Djawa Hokokai. Batik ini berbeda dari batik Belanda yang lebih bercorak Eropa. Untuk batik Djawa Hokokai ini lebih condong ke corak orang-orang Jepang. Hal ini dapat terjadi karena memang batik Djawa Hokokai ini diperkenalkan di Indonesia saat jaman penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Jepang.
Ketika berkunjung ke Museum Batik Danar Hadi Solo tersebut, Anda bisa mengetahui secara langsung koleksi batik-batik dari berbagai daerah dan juga mengetahui cara membuat batik tersebut. sehingga Anda bisa berwisata sekaligus mendapatkan ilmu dalam pembuatan batik. Bahkan Anda juga bisa membawa pulang hasil kerajinan batik yang berasal dari PT Danar Hadi Solo sebagai oleh-oleh.
Aksesibilitas Ke Museum Danar Hadi Solo
Untuk bisa sampai di museum tersebut sebenarnya sangat mudah sekali, ada banyak sarana transportasi yang bisa kita gunakan. Dari pusat kota Solo, Anda bisa memilih alat transportasi antara lain Bis Damri A, Bis Damri B, Atmo, Sumber Rahayu, Surya Kencana A, ataupun Solo Batik Trans. Angkutan-angkutan umum tersebut beroperasi mulai dari pukul 05.30 hingga 16.00 dengan tarif Rp. 2.500.
Namun jika Anda tidak mau repot-repot dan berdesakan dengan penumpang lain, maka Anda bisa memilih menggunakan sarana transportasi taksi. Ada banyak sekali taksi yang bisa Anda tumpangi. Anda tinggal mengatakan ke “Museum Batik Kuno Danar Hadi Solo” saja sopir taksi tersebut akan tancap gas menuju ke lokasi. Karena letak tempat wisata satu ini berada di Pusat Kota Solo, sehingga ada banyak sekali papan penunjuk jalan yang bisa Anda jadikan pedoman.


MUSEUM RADYA PUSTAKA
Museum Radya Pustaka, Wisata Seru Mengenal Kota Solo – Kota Surakarta atau Solo, merupakan sebuah kota kecil yang berada di wilayah lingkup Jawa Tengah. Meskipun kota ini tergolong kecil, tetapi kota Solo memiliki sejarah yang sangat besar sekali.
Untuk mengenal sejarah yang ada di kota Solo, ada banyak sekali objek wisata yang bisa kita kunjungi. Salah satu tempat wisata yang bisa digunakan untuk mengenal lebih dalam mengenai kota Solo adalah Museum Radya Pustaka.
Museum Radya Pustaka, Wisata Seru Mengenal Kota Solo
Museum Radya Pustaka terletak di dekat Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari Solo, dan merupakan museum tertua yang ada di Solo bahkan Indonesia. museum ini didirikan oleh KRA Sosrodiningrat IV pada masa pemerintahan Paku Buwono IX. Pembangunan museum ini tepat berada di dalam salah satu ruang Kepatihan pada tanggal 28 Oktober 1890, kemudian pada 1 Januari 1913 Museum Radya Pustaka tersebut dipindah ke lokasi yang sekarang yakni di Jalan Slamet Riyadhi. Sebelum digunakan sebagai gedung museum, gedung tersebut merupakan milik seorang warga berkebangsaan Belanda, dia bernama Johannes Busselaar. Gedung tersebut kemudian dibeli oleh Sri Susuhunan Paku Buwono dan dijadikan sebagai lokasi museum yang baru hingga sekarang ini.
Museum ini berbeda dari museum lain yang ada di Solo, Museum Radya Pustaka tidak berada di bawah naungan Dinas Pubakala dan Pemerintah Kota setempat. akan tetapi museum tersebut dikelola dan dikembangkan oleh sebuah yayasan berama Yayasan Paheman Radya Pustaka Surakarta. Yayasan ini dibentuk pada tahun 1951, hingga saat ini Yayasan Paheman tersebut masih menjadi pengelola utama dari Museum Radya Pustaka ini. selain yayasan tersebut, ada juga seorang tokoh yang telah menyumbangkan kontribusi besar terhadap berkembangnya Museum Radya Pustaka ini, beliau adalah Go Tik Swan atau lebih sering dikenal sebagai KRT. Hardjonagoro. Bahkan menariknya lagi, Go Tik Swan juga merupakan seorang budayawan sekaligus pencipat motif batik Nusantara.
Museum ini memiliki banyak sekali koleksi-koleksi benda-benda bersejarah dan berharga. Meskipun Museum Radya Pustaka pernah tercoreng mengalami kasus pencurian benda bersejarah dan sangat bernilai. Namun pengelola disana sekarang sudah berusaha memberikan pengamanan yang lebih ekstra mengenai barang-barang tersebut. barang koleksi yang ada di Museum Radya Pustaka ini antara lain seperti wayang kulit, berbagai macam arca, pusaka adat, dan buku-buku kuno masa lampau. buku-buku kuno tersebut antara lain seperti buku karangan Paku Buwono IV yang berjudul Wulang Reh, buku tersebut bercerita mengenai pemerintahan yang ada di kota Solo.



Memasuki kawasan Museum Radya Pustaka, pada halaman depannya kita akan disambut dengan sebuah patung dada R Ng. Rangga Warsita. Beliau adalah seorang pujangga Keraton Surakarta yang paling termasyur dan hidup pada abad ke-19. Kemudian pada tahun 1953, patung tersebut diresmikan oleh Ir. Soekarno. Tepat di belakang dan depan patung tersebut terdapat sebuah prasasti bertuliskan aksara Jawa. lalu di serambi museum, kita bisa menemukan beberapa meriam peninggalan VOC pada abad ke-17 dan ke-18.
Sementara itu, disana juga terdapat beberapa meriam kecil bekas peninggalan Keraton Surakarta. Tidak hanya itu saja, di Museum Radya Pustaka ini kita juga bisa menemukan banyak sekali arca-arca peninggalan Hindu-Budha. Antara lain seperti arca Roro Jonggrang yang memiliki artian ‘perawan tinggi’, tapi sebenarnya arca tersebut adalah arca Dewi Durga. Selain arca tersebut masih ada arca Boddhisatwa dan Siwa yang bisa kita pelajari nilai sejarahnya. Arca-arca koleksi Museum Radya Pustaka ini kebanyakan berasal dari penumuan-penemuan di sekitar wilayah Solo.





MENYUSURI KAMPUNG BATIK LAWEYAN SOLO

Menyusuri Kampung Batik Laweyan Solo yang Mempesona – Kota Solo tidak hanya terkenal memiliki banyak wisata malamnya saja. tetapi Kota Solo masih menyimpan banyak sekali destinasi jenis wisata yang bisa kita nikmati. Mulai dari wisata budaya, wisata religi, hingga wiata kerajinan.
Salah satu wisata kerajinan yang ada di kota Solo dan patut Anda kunjungi adalah Kampung Batik Laweyan Solo. Kampung ini sangat terkenal di Indonesia, dan bahkan pada jaman dahulu Kampung Batik Laweyan Solo ini sudah terkenal hingga sampai ke mancanegara. Kampung ini terkenal karena kualitas batik yang ditawarkan.
Menyusuri Kampung Batik Laweyan Solo yang Mempesona
Kampung Batik Laweyan Solo dikenal sebagai kampungnya para juragan batik. Baik juragan batik yang berasal dari Solo ataupun sekitarnya. Kampung ini mulai terkenal sejak tahun 1970. Dari informasi yang kami dapatkan saat berkunjung ke Kampung Batik Laweyan, pengambilan nama kampung tersebut berasal dari lawe yang berarti bahan baku pembuatan kain mori. Sehingga disinilah tempat pembuatan kain benang lawe terbesar di Indonesia.
Setelah kami menelusuri lebih dalam mengenai sejarah berdirinya Kampung Batik Laweyan Solo Solo ini, kami mendapatkan bukti sejarah bahwa kampung ini dahulunya merupakan bagian dari Kerajaan Pajang, yang menjadi pelopor berdirinya kampung satu ini adalah Kyai Ageng Henis pada abad ke- 16. Hal ini dibuktikan dengan terdapatnya sebuah makam bertuliskan Kyai Ageng Henis. Makam tersebut juga sekarang dijadikan sebagai objek wisata religi di kota Solo.


Memasuki kawasan perkampungan batik Laweyan Solo ini, kita akan disambut dengan berbagai macam papan yang telah tertempel. Papan memberitahu kepada kita betapa banyaknya situs sejarah yang terdapat disana. Berbeda dengan jaman dahulu, kini wajah Kampung Batik Laweyan sudah mendapatkan banyak sekali perubahan-perubahan. Kampung yang juga dikenal sebagai bukti masa keemasan Serikat Dagang Islam yang dipelopori oleh KH Samanhudi sekitar tahun 1911 ini, popularitaskan semakin hari semakin meningkat seiring dengan diperkenalkannya hasil kerajinan batik dari kota Solo ke mata internasional.
Singgah di Kampung Laweyan Solo, kita bisa menikmati berbagai macam desain-desain bangunan megah abad jaman dahulu. bangunan-bangunan tersebut hampir mirip dengan bangunan yang terdapat di Keraton Surakarta Hadiningrat, dimana bangunan ini menggunakan gaya-gaya Eropa bercampur dengan artsitek Jawa. hal ini juga membuktikan bahwa jaman dahulu Kampung Batik Laweyan pernah mencapai taraf perekonomian yang maju atau tinggi. bahkan kami juga mendapatkan informasi, kampung ini dahulu sebenarnya merupakan eksportir pertama.
Menyusuri lorong-lorong yang ada di Kampung Batik Laweyan Solo, kita akan menemukan banyak rumah pengrajin batik. Kita juga bisa merasakan aroma malam (lilin) yang sangat khas dengan kain batik. Aroma tersebut terpadu dengan sangat ciamik dengan kesan masa lalu yang ditonjolkan akibat desain-desain bangunan kuno. Dijamin Anda saat berada disini serasa memasuki masa jaman dahulu.
Selain menikmati bangunan-bangunan kuno masa lalu yang sangat menawan. Di Kampung Batik Laweyan Solo ini, kita juga bisa menikmati berbagai macam kerajinan batik, kerajinan batik tersebut tersedia dalam beragam motif. Bahkan jumlah variasi motif dari pengrajin batik satu dengan yang lainnya itu tidak bisa terhitung berapa banyaknya. Tidak hanya itu saja, Anda juga bisa berlatih menjadi seorang pengrajin batik sendiri. karena di kampung ini disediakan wahana melukis batik dengan tangan kita sendiri.
Setelah puas menikmati keindahan bangunan dan kerajinan batik di Kampung Batik Laweyan Solo, Anda bisa pulang dengan membawa oleh-oleh khas berupa kerajinan batik dari kampung tersebut. untuk mendapatkan buah tangan tersebut, disana sudah ada banyak sekali penjual oleh-oleh yang siap untuk Anda bawa pulang.

FESTIVAL DAN PERAYAAN
Setiap tahun pada tanggal-tanggal tertentu Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran mengadakan berbagai macam perayaan yang menarik. Perayaan tersebut pelaksanaannya berdasarkan pada penanggalan Jawa. Perayaan-perayaan tersebut antara lain:

KITAB PUSAKA MALAM 1 PURA
Acara ini diselenggarakan oleh Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran pada malam hari menjelang tanggal 1 Sura. Acara ini ditujukan untuk merayakan Tahun Baru Jawa1 Sura. Rute yang ditempuh oleh kirab yang diselenggarakan oleh Keraton Surakarta kurang lebih sejauh 3 km yaitu Keraton Surakarta - Alun-Alun Utara - Gladag - Jl. Mayor Kusmanto - Jl. Kapten Mulyadi - Jl. Veteran - Jl. Yos Sudarso - Jl. Slamet Riyadi - Gladag kemudian kembali ke Keraton Surakarta lagi. Pusaka-pusaka yang memiliki daya magis tersebut dibawa oleh para abdi dalem yang berbusana Jawi Jangkep. Peserta kirab yang berada di barisan paling depan adalah sekelompok kerbau albino (kebo bule) bernama keturunan kerbau pusaka Kyai Slamet, sedangkan barisan para pembawa pusaka berada di belakangnya.


Sekaten

Suasana kirab gunungan saat Grebeg Mulud diKeraton Surakarta.
Sekaten diadakan setiap bulan Mulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tanggal 12 Mulud diselenggarakan Grebeg Mulud. Kemudian diadakan pesta rakyat selama dua minggu. Selama dua minggu ini pesta rakyat diadakan di Alun-Alun Utara. Pesta rakyat menyajikan pasar malam, arena permainan anak dan pertunjukan-pertunjukan seni dan akrobat. Pada hari terakhir sekaten, diadakan kembali acara grebeg di Alun-Alun Utara. Upacara sekaten diadakan pertama kali pada masa pemerintahan Kesultanan Demak.

GREBEG SUDIRO
Grebeg Sudiro diadakan untuk memperingati Tahun Baru Imlek dengan perpaduan budaya Tionghoa-Jawa. Festival yang dimulai sejak 2007 ini biasa dipusatkan di daerah Pasar Gedhe dan Balong (di Kelurahan Sudiroprajan) dan Balai Kota Surakarta.


GREBEG MULUD
Diadakan setiap tanggal 12 Mulud untuk memperingati hari Maulud Nabi Muhammad SAW. Grebeg Mulud merupakan bagian dari perayaan Sekaten. Dalam upacara ini para abdi dalem dengan berbusana Jawi Jangkep Sowan Keraton mengarak gunungan (pareden) dari Keraton Surakarta ke Masjid Agung Surakarta. Gunungan terbuat dari berbagai macam sayuran dan penganan tradisional. Setelah didoakan oleh ngulamadalem (ulama keraton), satu buah gunungan kemudian akan diperebutkan oleh masyarakat pengunjung dan satu buah lagi dibawa kembali ke keraton untuk dibagikan kepada para abdi dalem.


TINGGALANDALEM JUMENENGAN

Tarian Sakral Bedhaya Ketawang.
Diadakan setiap tanggal 2 Ruwah untuk memperingati hari ulang tahun penobatan Sri Susuhunan Surakarta. Dalam acara ini sang raja duduk di atas dampar (singgasana) di Pendapa Agung Sasana Sewaka dengan dihadap oleh para abdi dalem dan bangsawan sambil menyaksikan tari sakral, Tari Bedhaya Ketawang, yang ditarikan oleh sembilan remaja putri yang belum menikah. Para penari terdiri dari para wayahdalemsentanadalem, dan kerabat raja lainnya atau dapat juga penari umum yang memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan.
GREBEG PASA
Grebeg ini diadakan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal. Acara ini berlangsung setelah melakukan Salat Ied. Prosesi acaranya sama dengan Grebeg Mulud yaitu para abdi dalem mengarak gunungan dari Keraton Surakarta ke Masjid Agung Surakarta untuk didoakan oleh ulama keraton kemudian dibagikan kepada masyarakat pengunjung.



SWALAYAN
Syawalan mulai diadakan satu hari setelah Hari Raya Idul Fitri dan berlangsung di Taman Satwataru Jurug di tepi Bengawan Solo. Pada puncak acara yaitu "Larung Gethek Jaka Tingkir" diadakan pembagian ketupat pada masyarakat pengunjung. Pada acara syawalan juga diadakan berbagai macam pertunjukan kesenian tradisional.

GREBEG BREBES
Berlangsung pada hari Idul Adha (tanggal 10 Besar). Upacara sama dengan prosesi gunungan pada Grebeg Pasa dan Grebeg Mulud.


SOLO BATIK CARNIVAL

Karnaval Batik Solo atau Solo Batik Carnival adalah sebuah festival tahunan yang diadakan oleh pemerintah Kota Surakarta dengan menggunakan batik sebagai bahan utama pembuatan kostum. Para peserta karnaval akan membuat kostum karnaval dengan tema-tema yang di tentukan. Para peserta akan mengenakan kostumnya sendiri dan berjalan di atas catwalk yang berada di Jalan Slamet Riyadi. Karnaval ini diadakan setiap tahun pada bulan Juni sejak tahun 2008.

SOLO BATIK FASHION
Demikian pula Solo Batik Fashion adalah sebuah peragaan busana batik tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah di tempat-tempat terbuka supaya dapat dinikmati oleh segenap warga Surakarta. Peragaan batik ini diadakan setiap tahun pada bulan Juli sejak tahun 2009.
Budaya

Wayang orang yang ditampilkan di Gedung Wayang Orang Sriwedari.
Surakarta dikenal sebagai salah satu inti kebudayaan Jawa karena secara tradisional merupakan salah satu pusat politik dan pengembangan tradisi Jawa. Kemakmuran wilayah ini sejak abad ke-19 mendorong berkembangnya berbagai literatur berbahasa Jawa, tarian, seni boga, busana, arsitektur, dan bermacam-macam ekspresi budaya lainnya. Orang mengetahui adanya "persaingan" kultural antara Surakarta dan Yogyakarta, sehingga melahirkan apa yang dikenal sebagai "Gaya Surakarta" dan "Gaya Yogyakarta" di bidang busana, gerak tarian, seni tatah kulit (wayang), pengolahan batik, gamelan, dan sebagainya.


BAHASA SURAKARTA

R. Ng. Ranggawarsita adalah pujangga besar sastra dan budaya Jawa yang lahir dan hidup di Surakarta. Ia dianggap sebagai pujangga besar terakhir tanah Jawa.
Bahasa yang digunakan di Surakarta adalah Bahasa Jawa Dialek Mataraman dengan varian Surakarta. Dialek Mataraman juga dituturkan di daerah YogyakartaSemarangMadiun, hingga sebagian besar Kediri. Meskipun demikian, varian lokal Surakarta ini dikenal sebagai "varian halus" karena penggunaan kata-kata krama yang meluas dalam percakapan sehari-hari, lebih luas daripada yang digunakan di tempat lain. Bahasa Jawa varian Surakarta digunakan sebagai standar Bahasa Jawa nasional (dan internasional, seperti di Suriname). Beberapa kata juga mengalami spesifikasi, seperti pengucapan kata "inggih" ("ya" bentuk krama) yang penuh (/iÅ‹gɪh/), berbeda dari beberapa varian lain yang melafalkannya "injih" (/iÅ‹dʒɪh/), seperti di Yogyakarta dan Magelang. Dalam banyak hal, varian Surakarta lebih mendekati varian Madiun-Kediri, daripada varian wilayah Jawa Tengahan lainnya.
Walaupun dalam kesehariannya masyarakat Surakarta menggunakan bahasa nasional Bahasa Indonesia, namun sejak kepemimpinan wali kota Joko Widodo maka Bahasa Jawa mulai digalakkan kembali penggunaannya di tempat-tempat umum, termasuk pada plang nama-nama jalan dan nama-nama instansi pemerintahan dan bisnis swasta.
Surakarta juga berperan dalam pembentukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional Indonesia. Pada tahun 1938, dalam rangka memperingati sepuluh tahun Sumpah Pemuda, diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia I di Surakarta. Kongres ini dihadiri oleh bahasawan dan budayawan terkemuka pada  saat itu, seperti Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat, Prof. Dr. Poerbatjaraka, dan Ki Hajar Dewantara. Dalam kongres tersebut dihasilkan beberapa keputusan yang sangat besar artinya bagi pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia. Keputusan tersebut, antara lain:

PERNIKAHAN ADAT
Pernikahan adat Surakarta juga memiliki ciri-ciri yang khusus, mulai dari lamaran, persiapan pernikahan, hingga upacara siraman dan midodaren.

TARIAN
Tiga orang penari sedang menari diPura Mangkunegaran.
Surakarta memiliki beberapa tarian daerah seperti Bedhaya (Ketawang, Dorodasih, Sukoharjo, dll.) dan Srimpi (Gandakusuma dan Sangupati). Tarian ini masih dilestarikan di lingkungan Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran sebagai pusat pengembangan dan pelestarian kebudayaan Jawa. Tarian seperti Bedhaya Ketawang misalnya, secara resmi hanya ditarikan sekali dalam setahun untuk menghormati Sri Susuhunan Surakarta sebagai pemimpin Kota Surakarta.

BATIK
Batik adalah kain dengan corak atau motif tertentu yang dihasilkan dari bahan malam khusus (wax) yang dituliskan atau di cap pada kain tersebut, meskipun kini sudah banyak kain batik yang dibuat dengan proses cetak. Surakarta memiliki banyak corak batik khas, seperti Sidomukti dan Sidoluruh.[51] Beberapa usaha batik terkenal adalah Batik Keris, Batik Danarhadi, dan Batik Semar. Sementara untuk kalangan menengah dapat mengunjungi pusat perdagangan batik di kota ini berada di Pasar KlewerPusat Grosir Solo (PGS), Beteng Trade Center (BTC), atau Ria Batik. Selain itu di kecamatan Laweyan juga terdapat Kampung Batik Laweyan, yaitu kawasan sentra industri batik yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Pajang tahun 1546.[52] Kampun batik lainnya yang terkenal untuk para turis adalah Kampung Batik Kauman. Produk-produk batik Kampung Kauman dibuat menggunakan bahan sutra alam dan sutra tenun, katun jenis premisima dan prima, rayon. Keunikan yang ditawarkan kepada para wisatawan adalah kemudahan transaksi sambil melihat-lihat rumah produksi tempat berlangsungnya kegiatan membatik. Artinya, pengunjung memiliki kesempatan luas untuk mengetahui secara langsung proses pembuatan batik bahkan untuk mencoba sendiri mempraktekkan kegiatan membatik.
Batik Surakarta memiliki ciri pengolahan yang khas: warna kecoklatan (sogan) yang mengisi ruang bebas warna, berbeda dari gaya Yogyakarta yang ruang bebas warnanya lebih cerah. Pemilihan warna cenderung gelap, mengikuti kecenderungan batik pedalaman. Jenis bahan batik bermacam-macam, mulai dari sutra hingga katun, dan cara pengerjaannya pun beraneka macam, mulai dari batik tulis hingga batik cap. Setiap tahunnya Surakarta juga mengadakan Karnaval Batik Solodan mulai tahun 2010 pemerintah kota Surakarta mengoperasikan bus yang bercorak batik bernama Batik Solo Trans.

SURAKARTA DALAM BUDAYA POPULER
Sungai Bengawan Solo menjadi inspirasi dari lagu yang diciptakan oleh Gesang pada tahun 1940-an. Lagu ini menjadi populer di negara-negara di Asia. Selain itu, sungai ini pun telah menjadi judul tiga film, yaitu dua film berjudul "Bengawan Solo" tahun 1949 dan 1971, serta satu film berjudul Di Tepi Bengawan Solo (1951). Film-film lain yang mengambil tema Surakarta antara lain adalah: Putri Solo (1953) dan Bermalam di Solo (1962).


DAFTAR PUSTAKA :

BAYU HARIYANTO YUDISTIRA
D3 USAHA JASA PARIWISATA (A) 2014
4423143955
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
Bayuhar27@gmail.com





6 comments:

  1. surakarta bikin batik juga ya? baru tau saya. thanks for infonya:)

    ReplyDelete
  2. Ternyata banyak juga ya budaya dan tempat wisata di kampungnya jokowi, teruslah menjadi penulis yg baik.

    ReplyDelete
  3. informasi baru yang saya dapat tentang surakarta, terimakasih informasinya

    ReplyDelete
  4. Sangat banyak budaya surakarta atau biasa yang di sebut solo ini yang baru saya ketahui, artikel yang sangat membantu menyebar luas kan budaya Indonesia sangat luar biasa.

    Nice thread agan bayu.

    ReplyDelete
  5. Baru tau ternyata di solo ada swalayan yang memamerkan kesenian tradisional, thanks infonya gan

    ReplyDelete
  6. Prediksi Togel HK Mbah Bonar 2 Oktober 2019 Ayo Pasang Angka Keberuntunganmu Disini Gabung sekarang dan Menangkan Ratusan Juta Rupiah !!!

    ReplyDelete