Sunday, January 3, 2016

T3_Rieka Ockti Dahliana_Pariwisata Sejarah dan Budaya Indonesia


Yuk Wisata ke Taman berbau Megalitikum


Pendahuluan
Minahasa secara etimologi berasal dari kata Mina-Esa (Minaesa) atau Maesa yang berarti jadi satu atau menyatukan, maksudnya harapan untuk menyatukan berbagai kelompok sub-etnik Minahasa  yang terdiri dari Tontemboan , Tombulu, Tonsea, Tolour )tonado, Tonsawang, Panosakan, Pasan, dan Bantik..
Nama "Minahasa" sendiri baru digunakan belakangan. "Minahasa" umumnya diartikan "telah menjadi satu". Palar mencatat, berdasarkan beberapa dokumen sejarah disebut bahwa pertama kali yang menggunakan kata "minahasa" itu adalah J.D. Schierstein, Residen Manado, dalam laporannya kepada Gubernur Maluku pada 8 Oktober 1789. "Minahasa" dalam laporan itu diartikan sebagai Landraad atau "Dewan Negeri" (Dewan Negara) atau juga "Dewan Daerah".
Nama Minaesa pertama kali muncul pada perkumpulan para "Tonaas" di Watu Pinawetengan (Batu Pinabetengan). Nama Minahasa yang dipopulerkan oleh orang Belanda pertama kali muncul dalam laporan Residen J.D. Schierstein, tanggal 8 Oktober 1789, yaitu tentang perdamaian yang telah dilakukan oleh kelompok sub-etnik Bantik dan Tombulu (Tateli), peristiwa tersebut dikenang sebagai "Perang Tateli".
Adapun suku Minahasa terdiri dari berbagai anak suku atau Pakasaan yang artinya kesatuan: Tonsea (meliputi Kabupaten Minahasa Utara, Kota Bitung, dan wilayah Tonsea Lama di Tondano), anak suku Toulour (meliputi Tondano, Kakas, Remboken, Eris, Lembean Timur dan Kombi), anak suku Tontemboan (meliputi Kabupaten Minahasa Selatan, dan sebagian Kabupaten Minahasa), anak suku Tombulu (meliputi Kota Tomohon, sebagian Kabupaten Minahasa, dan Kota Manado), anak suku Tonsawang (meliputi Tombatu dan Touluaan), anak suku Ponosakan (meliputi Belang), dan Pasan (meliputi Ratahan).
Satu-satunya anak suku yang mempunyai wilayah yang tersebar adalah anak suku Bantik yang mendiami negeri Maras, Molas, Bailang, Talawaan Bantik, Bengkol, Buha, Singkil, Malalayang (Minanga), Kalasey, Tanamon dan Somoit (tersebar di perkampungan pantai utara dan barat Sulawesi Utara). Masing-masing anak suku mempunyai bahasa, kosa kata dan dialek yang berbeda-beda namun satu dengan yang lain dapat memahami arti kosa kata tertentu misalnya kata kawanua yang artinya sama asal kampung.

Pembahasan

Waruga Sawangan mungkin asing di telinga kita, destinasi wisata budaya ini terletak di daerah minahasa. Di Sulawesi Utara, tepatnya di Desa Sawangan, Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa, ada sebuah pekuburan yang dinamakan Taman Waruga. Mungkin kalian belum begitu tahu tentang Apa itu Waruga Sawarna, saya akan membahas tentang Waruga sawarna. Waruga adalah kuburan orang minahasa kuno yang berupa batu yang berongga segi empat dan mempunyai tinggi sekitar 1 meter, di pemakaman ini jasad diletakkan dalam posisi duduk dengan cangkup batuyang menutupi jasad tersebut. Warga minahasa biasanya menggunakan batu kubur untuk satu keluarga, jadi dalam satu kuburan bisa berisikan 12 jasad, yang bisa dilihat dari jumlah garis yang ditorehkan pada cangkup Waruga.

Hasil gambar untuk waruga sawangan

Pada mulanya Suku Minahasa jika mengubur orang meninggal sebelum ditanam terlebih dulu dibungkus dengan daun woka (sejenis janur). Lambat laun, terjadi perubahan dalam kebiasaan menggunakan daun woka. Kebiasaan dibungkus daun ini berubah dengan mengganti wadah rongga pohon kayu atau nibung kemudian orang meninggal dimasukkan ke dalam rongga pohon lalu ditanam dalam tanah.

Baru sekitar abad IX Suku Minahasa mulai menggunakan waruga. Orang yang telah meninggal diletakkan pada posisi menghadap ke utara dan didudukkan dengan tumit kaki menempel pada pantat dan kepala mencium lutut. Tujuan dihadapkan ke bagian Utara yang menandakan bahwa nenek moyang Suku Minahasa berasal dari bagian Utara. Sekitar tahun 1860 mulai ada larangan dari Pemerintah Belanda menguburkan orang meninggal dalam waruga.
Menurut informasi Waruga Sawangan ini semula tersebar di kebun maupun rumah-rumah penduduk desa, namun kemudian dikumpulkan pada satu lokasi di tempat yang  sekarang ini. Walaupun pada tahun 1977/1978 kompleks waruga ini mengalami pemugaran oleh Kantor Suaka Sejarah dan Purbakala Ujung Pandang bersama dengan Bidang Muskala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara. Setelah pemugaran itu maka waruga di Situs Sawangan ini menjadi teratur rapi dan memiliki jalan setapak di dalam kompleks waruga serta diberi pagar keliling dari kawat berduri.
Luas lahan yang berisi konsentrasi waruga berukuran 60 x 137 meter, dengan luas zona penyangga 10 x 137 meter. Jadi luas situs secara keseluruhan adalah 274 x 70 meter termasuk lahan kosong di belakang kompleks waruga dan jalan masuk ke kompleks waruga. Di luar zona inti dan zona penyangga ada lahan seluas 40 x 40 meter yang berisi rumah adat minahasa sebagai museum, aula, tempat parkir, 4 wc dan taman. Situs ini berada di belakang perumahan  dan lahan penduduk.
Menurut catatan, di seluruh daerah Minahasa bagian utara, termasuk Kodya Manado, hanya terdapat sekitar 2.000 buah waruga yang tersebar di beberapa tempat seperti: Sawangan 142 buah, Airmadidi Bawah 155 buah, Kema 14 buah, Kaima 9 buah, Tanggari 14 buah, Woloan 19 buah, Tondano 40 buah dan lain sebagainya.  Pada awal abad ke-20, tradisi mengubur mayat dalam waruga ini berhenti karena muncul wabah penyakit (kolera dan tifus) yang diduga bersumber dari mayat yang membusuk dalam waruga. Di daerah Sawangan, atas instruksi Hukum Tua (kepala desa), waruga-waruga yang tersebar diseluruh desa dikumpulkan dan diletakkan di pinggir desa. Hal ini dilakukan agar warga desa tidak terjangkit wabah penyakit yang disebabkan oleh mayat yang membusuk tadi.  Waruga-waruga yang ada di daerah Minahasa ini mulai banyak menarik perhatian orang luar, terutama para peneliti, sejak C.T.
Sebelum memasuki kompleks waruga terlebih dahulu harus dilalui kompleks pekuburan umum. Pekuburan umum ini sebenarnya juga merupakan pekuburan yang cukup tua, dibuktikan dengan adanya kubur-kubur yang berasal dari tahun seribu delapan ratusan. Namun oleh masyarakat desa ini pekuburan tersebut masih digunakan sampai sekarang. Yang menarik pekuburan ini tidak hanya menjadi kuburan umat Kristiani, tetapi juga menjadi kuburan umat lain selain Kristiani.
Pada waktu pemugaran di dalam waruga banyak ditemukan  benda-benda sebagai isinya, yaitu berupa piring-piring keramik, manik, tulang-tulang manusia dan benda-benda logam serta gelang-gelang perunggu. Luas lahan yang berisi konsentrasi waruga berukuran 60 x 137 meter, dengan luas zona penyangga 10 x 137 meter. Jadi luas situs secara keseluruhan adalah 274 x 70 meter termasuk lahan kosong di belakang kompleks waruga dan jalan masuk ke kompleks waruga.
Di luar zona inti dan zona penyangga ada lahan seluas 40 x 40 meter yang berisi rumah adat minahasa sebagai museum, aula, tempat parkir, 4 wc dan taman. Situs ini berada di belakang perumahan  dan lahan pendudukBertling menulis artikel De Minahasche Waruga en Hockernestattung yang dimuat dalam majalah Nederlansche Indis Oud en Niew (NION), No. XVI, tahun 1931. 
Saat kita memasuki wilayah Waruga Sawangan kita akan memasuki lorong yang di sisi kanan kirinya terdapat relief yang menjelaskan tentang bagaimana Waruga ini dibuat sampai dengan cara memasukkan jasad ke dalam Waruga. 

relief Taman Purbakala Waruga SawanganRelief pertama yang akan kita lihat adalah bagaimana warga membuat waruga, relief waruga tersebut menggambarkan seorang warga yang sedang membut waruga, waruga itu sendiri dibuat dari dua batu besar yang utuh dengan cara menatah, dimana bagian bawah dari waruga berbentuuh persegi empat dengan fungsi ruang untuk menyimpan mayat dibagian tengahnya dan pada bagian atas berbentuk lancip seperti atap rumah kebanyakan.
Relief Taman Purbakala Waruga Sawangan
Dan relief ke dua yang akan kita jumpai adalah bagaimana warga minahasa kuno membawa dari tempat pembuatan sampai ketempat dimana waruga itu akan dipergunakan, dahulu warga minahasa/ nenek moyang membawa dengan cara dipikul seperti yang ada pada gambar relief, waruga tersebut berukuran 1 meter dan dibawa dengan cara di gendong atau di pikul.

Relief Taman Purbakala Waruga Sawangan
Relief ketiga yang akan kita jumpai pada lorong adalah relief yang menggambarkan kompleks Waruga Sawangan tempo dahulu, yang memperlihatkan dimana jasad jasad para nenek moyang/ warga minahasa di kubur/disimpan.

Di relief keempat kita akan di perlihatkan bagaimana cara sebelum jasad warga minahasa kuno di kuburkan, sebelum jasad dimasukkan ke dalam waruga terlebih dahulu benda benda milik si jasad tersebut seperti parang, gelang, manik-manik, piring, sendok mangkuk uang benggor , parang dan sebagainya.

Hasil gambar untuk waruga sawanganLalu relief kelima adalah relief yang menggambarkan bagaimana jasad tersebut dimasukkan ke dalam Waruga dengan cara diletakkan pada keadaan/ posisi duduk dengan tumit kaki menempel di bokong dan bagian kepala merunduk atau mencium lutut. Maksud warga menguburkan si jasad ini dengan posisi duduk dan bagian wajah mencium lutut ini mengembalikan seperti saat berada di dalam kandungan. Dan wajah jasad dihadapkan ke bagian utara dimana konon menurut kepercayaan warga minahasa kuno surge berada atau tempat nenek moyang mereka berasal.
Relief selanjutnya yang dapat kita lihat di gambar atas ialah menunjukkan jasad posisi jasad dalam batu waruga. Kata waruga konon berasal dari kata wale yang berarti rumah dan maruga yang erarti badang yang menjadi hancur.
Mural Taman Purbakala Waruga SawanganRelief  ke tujuh  yang bisa kita lihat pada gambar disamping adalah bagaimana dahulu digambarkan seorang ibu yang sedang mengandung, posisi laki-laki dan perempuan sama di dalam kandungan akan tetapi menurut orang minahasa kuno yang membedakan terletak pada jari jemari laki-laki dan perempuan, dimana posisi tangan jasad perempuan dibuat mengepal sedangkan posisi tangan laki laki dibuat mengunci. Perempuan (kanan), laki-laki (kiri).

Mural Taman Purbakala Waruga Sawangan
Relief ke delapan atau relief terakhir adalah gambaran atap dari waruga yang berbentuk lancip segitiga, ukiran waruga memiliki arti tertentu, misalnya saja yang tertera pada gambar adalah seorang pria menunjukkan bahwa si jasad yang ada di dalam waruga adalah seorang pemimpin. Ukiran merupakan gambaran status sosial si jasad tersebut siapa dia dan dari mana dia berasal. Dan jumlah garis yang berada di atas ukiran orang menunjukkan jumlah mayat yang berada di dalam waruga, konon kabarnya satu waruga bisa diisi oleh 12 jasad yang berasal dari satu keluarga.

Hasil gambar untuk waruga sawanganGambar disamping menggambarkan atap dari waruga ada beberapa patung dari jasad tersebut itu menggambarkan ada beberapa jasad di dalam waruga tersebut. Ada juga waruga yang berbentuk kecil seperti yang Nampak pada gambar waruga tersebut digunakan sebagai kubur batu anak-anak.
Ada yang mengatakan bahwa hiasan hiasan yang berada di atap waruga tersebut adalah gambaran situasai saat orang tersebut yang ada di dalam waruga mati. Misalnya ada yang meninggal pada saat sedang melahirkan digambarkanlah patung tersebut menyerupai orang yang sedang melahirkan. Namun ada juga yang beranggapan bahwa hiasan hiasan tersebut merupakan profesi saat orang itu masih hidup. Misalnya, ada hiasan orang yg sedang bermusyawarah maka dahulu orang tersebut berprofesi sebagai seorang Dotu Tangkudu (hakim), namun jika patung tersebut ada gambar binatang maka di pastikan jasad yang ada di dalam waruga tersebut adalah seorang pemburu.
Jumlah orang yang dikubur dalam waruga ditandai dengan ukiran berupa garis di samping penutup Waruga. Sementara cungkup atau penutup yang polos kemungkinan merupakan Waruga yang tua dimana saat itu belum ada kebiasaan mengukir atau memahat penutup Waruga.

Hasil gambar untuk waruga sawanganSelain tempat pemakaman Kompleks Taman Waruga Sawangan terbagi menjadi aman Waruga dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu: tempat pemakaman, museum, dan bangunan tambahan. Di dalam museum itu terdapat beberapa lemari kaca yang menyimpan berbagai macam cincin, gelang, kalung, keramik Cina dari Dinasti Ming dan Ching, tulang belulang manusia dan lain sebagainya. Barang-barang tersebut adalah isi dari waruga yang telah dibongkar dan dipindahkan ke dalam museum. Sebagai catatan, mayat yang akan diletakkan di dalam waruga biasanya disertai dengan barang-barang perhiasan miliknya.
Pada bagian depan kompleks kubur Waruga terdapat sebuah museum yang bentuknya berupa rumah panggung khas Minahasa. Di dalam museum itu terdapat beberapa lemari kaca yang menyimpan berbagai macam cincin, gelang, kalung, keramik Cina dari Dinasti Ming dan Ching, tulang belulang manusia dan lain sebagainya. Barang-barang tersebut adalah isi dari waruga yang telah dibongkar dan dipindahkan ke dalam museum. Sebagai catatan, mayat yang akan ditaruh di dalam waruga biasanya disertai dengan berang-barang perhiasan miliknya.
            Selain itu, di beberapa dinding bagian dalam museum ini juga terpampang peta kompleks waruga, foto-foto pemugaran kompleks, dan kliping foto orang-orang terkenal yang pernah datang ke kompleks waruga ini, yaitu: Ratu Beatrix dari Belanda yang pernah datang tahun 1995, Ratu Juliana pada tahun 1971, dan Pangeran Bernard.
Di sebelah museum, ada sebuah bangunan pendukung yang berbentuk rumah “modern”. Bangunan ini pada bagian depannya tidak berdinding dan di dalamnya terdapat sebuah kereta yang tampak seperti kereta pengangkut jenazah.
Pada lahan penduduk terdapat berbagai tanaman pohon dengan jenis tanaman yang berupa pohon mangga, durian, manggis, langsat, cengkih dan lain-lain. Penduduk desa ini cukup padat, karena hampir semua lahan di sekitar kompleks waruga ini masih ada yang kosong yang dapat dipakai untuk zona penyangga dan pengembangan. Ditinjau dari jumlah yang cukup banyak dan bentuk-bentuk maupun hiasan waruga yang indah, diperkirakan jumlah penduduk di lokasi ini pada masa yang lalu juga memang cukup banyak dan juga memiliki ekonomi yang cukup baik.
Kemungkinan Desa Sawangan pada masa lalu merupakan desa yang cukup besar dan ramai, dengan masyarakat yang berpenghasilan cukup tinggi. Kehidupan masyarakat cukup makmur dengan lingkungan alam yang mendukung.
Waruga-waruga pada situs ini terbuat dari bahan batuan tufa, sehingga cukup kuat dan tahan lama. Bahan untuk membuat waruga sudah tersedia atau disediakan oleh alam, yang banyak terdapat di daerah Minahasa Utara. Waruga di dalam situs itu berjumlah 144. Sedangkan, versi yang lain menyebutkan bahwa “waruga” berasal dari dua kata, yaitu “waru” yang berarti “rumah” dan “ruga” yang berarti “badan”.
Jadi, waruga dapat diartikan sebagai “rumah tempat badan yang akan kembali ke surga”. Konon, makam yang terbuat dari batu yang dipahat dan dibentuk seperti rumah khas orang Minahasa ini adalah salah satu warisan tradisi zaman megalitikum yang terus dipertahankan hingga kira-kira pertengahan abad ke-19.  Hal ini dapat dibuktikan dari pahatan angka tahun pada beberapa waruga seperti: 1769, 1839, 1850 dan lain sebagainya. 

Perubahan warga Minahasa

Karena waruga  di Kolongan Tomohon itu ber-angka tahun sekitar memasuki tahun 1900 nampak jelas bahwa cara-cara tradisional membuat waruga telah berubah dari generasi sebelumnya . waruga lama tidak mengukirkan nama, tanggal,bulan dan tahun si yang meninggal, tapi hanya ukiran motif hias seperti gambar manusia, tanaman,binatang, dan simbol-simbol lainnya. Hingga apabila pihak keluarga dari generasi lalu melupakan waruga itu, maka generasi sekarang tidak lagi mengetahui dotu siapa pemilik atau yang di makamkan kedalam waruga tersebut, hingga banyak sekali waruga Minahasa tidak di ketahui lagi milik keluarga siapa , apalagi waruga yang berasal dari ratusan tahun lampau.

waruga di kolongan Tomohon dekat rumah sakit "Gunung Maria" tidak lagi diberi ukiran hiasan motif manusia, binatang atau tumbuhan, tetapi mengukirkan keterangan orang yang dimakamkan kedalam waruga tersebut antara lain , Th.T.MANGUNDAP meninggal 5-7-1899, ELI AROR meninggal 8-5-1899, KATARINA ANES meninggal oktober 1895, M.A.MANGUNDAP meninggal 22-7-1900, N.PALAR ( Rusak tidak terbaca),J.SAKUL meninggal 24-4-1900, A.RAPAR.meninggal th.1901, A.POLII mati 24-5-1905 , E.WALUJAN mati 21-6-1906, KSALAKI mati. 11-2-1907 , E.AROR. mati 28-4-1907, dan waruga terbesar dengan batu segi tiga penutup berukuran panjang 1.25 Cm adalah kubur batu dari DANIJEL WALALANGI umur 73 tahun mati 24-11-1908. 
Kalau kita lihat nama-nama pemilik waruga itu sudah punya nama kristen dan barangkali proses kristenisasi yang menyebabkan orang Minahasa meninggalkan kebiasaan memakamkan jenazah kedalam waruga .Kita lihat masuknya agama kristen di Minahasa sudah dari abad 16 ketika bangsa barat Portugis dan Spanyol membawa agama Katolik ke Minahasa. Tapi agama kristen Protestan masuk Minahasa melalui misi Zending Belanda baru mulai tahun 1831 mengirimkan pendeta-pendeta bangsa Jerman seperti J.F.Riwedel beroperasi di Tondano, J.G.Schwarz beroperasi di Langouwan dan Tonsea, N.Ph.Wilken di Tomohon. Kuranga Tomohon mulai ada sekolah tahun 1852 dan kemudian thn.1866 di dirikan sekolah penulong injil ( guru agama merangkap guru sekolah).
Dan tahun 1868 setelah 37 tahun proses protestanisasi maka misi Katolik kemudian mulai bergiat lagi, ditahun itu juga terbitlah koran " Cahaya Siang" yang di cetak di Tanah wangko. Menunjukkan bahwa orang Minahasa mulai tahun 1868 sudah memasuki masyarakat moderen sudah menulis di koran dan sudah membaca koran berarti sebahagian besar orang Minahasa tidak lagi buta huruf.
Waruga waruga  itu menunjukkan bahwa orang Minahasa di Tomohon thn.1895-1908 walaupun sudah mengenyam pendidikan dan dapat membaca menulis, sudah memakai nama Kristen berarti sudah beberapa generasi masuk kristen, tapi masih di makamkan kedalam batu waruga . Dari keadaan batu kubur waruga mereka yang berantakan , batu segi empatnya dilobangi untuk diambil benda "bekal kubur", dan batu penutup segi tiga terguling jatuh. Menunjukkan bahwa pada pemakaman di Batu Waruga thn.1895-1908 itu, masih melakukan upacara adat lama dengan memasukkan "bekal kubur" barang-barang berharga seperti piring porselein antik, perhiasan emas, kalung,gelang,anting,medalion, yang dalam bahasa Minahasa (Tombulu) ; " Ringkitan" - " Kokulu" ( gelang emas ), " Pinepel"- " Tinataokok" - " Kamagi " ( kalung-kalung emas), " ginontalon" ( medalion emas).

Penutup

Waruga dahulu digunakan sebagai sarana pemakaman keluarga yang ditaruh di pekarangan atau di kolong rumah. Namun, tidak semua orang Minahasa Utara memiliki waruga. Hanya orang-orang yang mempunyai status sosial yang cukup tinggi saja yang memilikinya.  Itu pun jumlahnya tidak terlalu banyak.
Di Situs Sawangan juga ada juru perliharanya yang bertugas menjaga kebersihan dan keamanan waruga. Namun, karena banyaknya jumlah waruga di situs ini maka seorang juru pelihara tampaknya tidak memadai untuk menjaga kebersihan dan keamanan situs dan benda cagar budaya itu. Apabila tidak diperlihara dengan baik, dikhawatirkan waruga-waruga itu terancam akan mengalami kerusakan oleh tangan-tangan jahil dan pengaruh alam yang lebih parah lagi.
Oleh sebab itu, waruga-waruga itu harus terus dilestarikan dengan direhab secara berkala, dipelihara atau dibersihkan secara rutin, agar tetap menjadi daya tarik bagi masyarakat wisatawan maupun pemerintah dan pihak-pihak yang berkaitan. Selain itu, apabila benda ini dilestarikan sesuai dengan kaidah-kaidah arkeologi, niscaya akan menjadikan objek benda cagar budaya ini menjad atraksi wisata yang cukup menarik.
Kondisi waruga saat ini sudah tertata dan dalam keadaan terkumpul atau terkonsentrasi di dalam suatu kompleks. Yang perlu dilakukan terhadap kompleks waruga ini adalah agar bentuk pagar dan jalan-jalan setapak di dalam kompleks, supaya dibuat lebih alamiah dan sesuai dengan suasana megalitik yaitu dengan dilapisi batu-batu alam.
Selain di sawangan, Taman Waruga bisa di temukan di Air madidi di Bawah dan Rap-rap. Taman waruga, desa sawangan. Siapapun yang ingin menikmati wisata yang berbau meglitikum yuk kunjungi Sulawesi Utara, luangkan waktu untuk mengunjungi kompleks Taman Waruga, sawangangan para leluhur yang berasal dari minahasa.
Gimana? Sudah tertarik untuk mengunjungi Taman Waruga yang ada di Sulawesi utara? Gak lengkap rasanya kalau sudah mengunjungi Taman Waruga tanpa wisata kuliner…… saya akan member tahu berbagai makanan khas dari Sulawesi utara. Nah di bawah ini adalah daftar makanan khas Sulawesi utara.

1.      Tinutuan (Bubur Manado). Tinutuan atau dikenal juga dengan sebutan Bubur Manado merupakan makanan khas Sulawesi Utara yang paling terkenal. Di hampir semua tempat anda bisa menemukan kuliner yang satu ini. Bahkan di pusat-pusat keramaian terdapat lokasi yang dikhususkan untuk menjual tinutuan. Pasalnya, tinutuan telah menjadi bagian dari tradisi masak-memasak di daerah nyiur melambai. Apa bila anda sedang mengunjungi berbagai tempat wisata di Manado dan ingin menikmati lezatnya bubur Manado, maka anda dapat berkunjung ke jalan Wakeke yang merupakan pusat penjualan tinutuan.

2.      Klapatart. Kue yang juga sering ditulis Klappertaart ini merupakan makanan khas Sulawesi Utara. Klapatart yang dipengaruhi bahasa Belanda ini merupakan modifikasi dan perpaduan cita rasa barat dan bahan tradisional di Bumi Nyiur Melambai yakni kelapa.  Kuel klapatart ini menjadi suguhan wajib di setiap perayaan-perayaan besar di Sulut. Saat ini Klapatart juga menjadi ole-ole khas dari Manado bahkan tidak jarang wisatawan domestik dan mancanegara menjadikan kue ini sebagai hadiah.

3.      Saut. Saut merupakan sayuran yang berasal dari batang pisang muda (batang paling dalam setelah pelepahnya dikeluarkan) dan diiris kecil-kecil kemudian dibumbui. Saut sering menjadi makanan khas setiap kali pesta pernikanan di gelar di Minahasa.

4.      Nasi jaha. Nasi jaha adalah merupakan salah satu makanan khas Sulawesi Utara yang berbahan dasar beras ketan dan santan, yang dibakar setelah sebelumnya diisi kedalam batang bambu berlapis daun pisang kemudian dibakar. Nasi jaha merupakan ole-ole wajib selain dodol setiap perayaan pengucapan syukur.

5.      Tinoransak. Tinoransak merupakan makanan tradisional dengan bahan utama berupa daging babi. Cara pembuatannya yaitu daging babi, darah babi dan sayuran pendukung kemudian dimasukkan kedalam bambu kemudian dibakar seperti proses pembuatan nasi jaha.

6.      Kawok (tikus). Kawok atau tikus merupakan makanan yang cukup di gemari masyarakat Sulawesi Utara. Namun tidak semua tikus dapat diolah menjadi masakan yang memanjakan lidah. Tikus yang diolah menjadi masakah adalah tikus yang ditangkap dari hutan apa terlebih yang mempunyai ekor berwarna putih. Sebelum dimasak, tikus terlebih dahulu dibersihkan dengan cara dibakar dan dikeluarkan sebagian isi perutnya kemudian barulah diolah. Oleh wisatawan lokal maupun mancanegara, makanan khas Sulawesi Utara ini dikategorikan sebagai salah satu kuliner ekstrim

7.      Paniki (kelelawar). Paniki merupakan salah satu makanan khas Sulawesi Utara. Sebelum diolah menjadi masakan, biasanya kelelawar terlebih dahulu dibakar untuk menghilangkan bulu-bulu halusnya, kemudian dimasak dengan bumbu santan. Menyantap paniki merupakan sebuah kenikmatan yang berbeda apa terlebih saat menyantap sayapnya.

8.      RW (daging ajing). RW seolah-olah telah menjadi makanan wajib setiap kali pesta pernikahan dibuat di Sulawesi Utara terlebih di tanah Minahasa. Jenis makanan ini bahan dasarnya adalah anjing yang dimasak dengan cara khas Manado yakni dimasak bersama – sama dengan rica. Hal ini dilakuakan agar supaya ciri khasnya yang pedas akan terasa dan lebih nikmat dan enak untuk disantap.

9.      Mujiar Bakar dan Woku telah menjadi salah satu ikon kuliner di Manado dan Sulawesi Utara umumnya. Tak lengkap rasanya, jika para wisatawan belum mencicipi olahan ikan mujair dengan resep bumbu khusus Manado. Selain Mujair Bakar dan Woku, sebenarnya mujair juga bisa disajikan dalam bentuk gorengan.

10.  Cakalang Fufu dan Woku telah menjadi makanan khas Sulawesi Utara sejak lama. Ikan Cakalang sejatinya, bisa disajikan dalam berbagai bentuk hidangan seperti gorengan, woku dan kuah. Namun di Sulawesi Utara, salah satu ciri khas menu andalan adalah Cakalang Fufu. Cakangan Fufu yang merupakan olahan yang dibumbui, diasap dan dijepit dengan kerangka bambu, ini bisa disajikan juga dalam bentuk woku dan gorengan. Kata fufu sendiri berasal dari bahasa Manado yang artinya asap.


DAFTAR PUSTAKA

http://www.thearoengbinangproject.com/taman-purbakala-waruga-sawangan-minahasa/
http://uun-halimah.blogspot.co.id/2008/08/taman-waruga-minahasa-sulawesi-utara.html
http://www.seputarsulut.com/waruga-sawangan-lokasi-wisata-sejarah-zaman-megalitik/
https://id.wikipedia.org/wiki/Minahasa
http://www.seputarsulut.com/makanan-khas-sulawesi-utara/


Rieka Ockti Dahliana 
Usaha Jasa Pariwisata B 2014
Riekaockti@yahoo.co.id











.

No comments:

Post a Comment