Sunday, January 3, 2016

T3_Muhamad Adi Nugraha_Destinasi



Romantisme Wisata di Kota Purwakarta Pada Malam Hari

( Manchester Van Java )


Paguyuban Mojang-Jajaka Purwakarta

Pengantar
      Purwakarta merupakan salah satu nama daerah yang terdapat di provinsi Jawa Barat, nama Purwakarta sendiri bisa dikatakan belum terkenal dibandingkan dengan nama-nama daerah lain yang juga berada di provinsi Jawa Barat seperti misalnya Bandung dan Bogor yang sudah menjadi salah satu ikon dari Provinsi ini. Menurut sumber yang dikutip oleh https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Purwakarta, nama Purwakarta berasal dari suku kata "purwa" yang artinya permulaan dan "karta" yang berarti ramai atau hidup. Pemberian nama Purwakarta dilakukan setelah kepindahan ibukota Kabupaten Purwakarta dari Wanayasa ke Sindang Kasih. Peristiwa kepindahan ibukota kabupaten ini setiap tahunnya diperingati pada tanggal 20 Juli dengan melakukan napak tilas dari Wanayasa ke Sindang Kasih. Walaupun demikian Purwakarta memiliki keunggulan-keunggulan pariwisata yang dapat diperhitungkan, potensi dari sumber daya alam yang terdapat di daerah Purwakarta tentunya tidak kalah dengan sumber daya alam di daerah lain yang ada di Jawa Barat, hanya saja dalam hal ini dalam hal kegiatan pariwisata daerah Purwakarta sendiri baru gencar memulai mempromosikan keunggulan-keunggulan daerah tersebut, tentunya sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Jawa Barat seperti misalnya Bandung yang sudah memiliki nilai dan keunggulan akan pariwisatanya di Jawa Barat, bahkan jika akhir pekan Bandung menjadi tempat yang wajib untuk dikunjungi terutama oleh masyarakat Jakarta.

Sumber: www.skycrapercity.com "Gerbang Selamat Datang" dari arah Bandung

     Hal tersebut yang kemudian menjadi salah satu pertimbangan untuk bupati Purwakarta yaitu Dedi Mulyadi untuk kemudian meningkatkan sektor pariwisata daerah Purwakarta yang berbasis pada kebudayaan lokalnya. Sebagian besar masyarakat Purwakarta merupakan suku sunda maka tidak heran nilai-nilai yang saat ini mulai diangkat lagi adalah nilai-nilai kebudayaan sunda yang sangat identik dengan Jawa Barat itu sendiri. Purwakarta merupakan kota kecil yang dihapit oleh Jakarta dan Bandung dengan letaknya yang sangat strategis.

Sumber: www.explorejabar.com "Gunung Parang"

     Untuk itu saya sebagai salah satu putera daerah ingin sekali bisa sekaligus mempromosikan kota kelahiran saya sendiri kepada kalian semua yang menyempatkan waktu untuk membaca tulisan blog ini. Ada beberapa visi sederhana yang ingin saya wujudkan untuk Purwakarta. Semoga melalui tulisan sederhana ini saya bisa memulai mewujudkan visi-visi, impian dan bahkan imajinasi-imajinasi liar saya tentang Purwakarta. Yang pasti kota Purwakarta merupakan aset paling berharga yang saya miliki apabila mengacu pada seberapa besar hal-hal yang saya bisa dapatkan dan wujudkan menyangkut dengan kegiatan Kepariwisataan di Indonesia.

Sumber: www.bisnis.tempo.com "Bendungan Cirata"

Pembahasan

Sejarah

Sebelum penjajahan Belanda
    Keberadaan Purwakarta tidak terlepas dari sejarah perjuangan melawan pasukan VOC. Sekitar awal abad ke-17 Sultan Mataram mengirimkan pasukan tentara yang dipimpin oleh Bupati Surabaya ke Jawa Barat. Salah satu tujuannya adalah untuk menundukkan Sultan Banten. Tetapi dalam perjalanannya bentrok dengan pasukan VOC sehingga terpaksa mengundurkan diri.

    Setelah itu dikirimkan kembali ekspedisi kedua dari Pasukan Mataram di bawah pimpinan Dipati Ukur serta mengalami nasib yang sama pula. Untuk menghambat perluasan wilayah kekuasaan kompeni (VOC), Sultan Mataram mengutus Penembahan Galuh (Ciamis) bernama R.A.A. Wirasuta yang bergelar Adipati Panatayuda atau Adipati Kertabumi III untuk menduduki Rangkas Sumedang (Sebelah Timur Citarum). Selain itu juga mendirikan benteng pertahanan di Tanjungpura, Adiarsa, Parakansapi dan Kuta Tandingan. Setelah mendirikan benteng tersebut Adipati Kertabumi III kemudian kembali ke Galuh dan wafat. Nama Rangkas Sumedang itu sendiri berubah menjadi Karawang karena kondisi daerahnya berawa-rawa (Sunda : "Karawaan").
    Sultan Agung Mataram kemudian mengangkat putera Adipati Kertabumi III, yakni Adipati Kertabumi IV menjadi Dalem (bupati) di Karawang pada tahun 1656. Adipati Kertabumi IV ini juga dikenal sebagai Raden Adipati Singaperbangsa atau Eyang Manggung, dengan ibu kota di Udug-udug.

    Pada masa pemerintahan R. Anom Wirasuta putera Panembahan Singaperbangsa yang bergelar R.A.A. Panatayuda I antara Tahun 1679 dan 1721 ibu kota Karawang dari Udug-udug pindah ke Karawang, dengan daerah kekuasaan meliputi wilayah antara Cihoe (Cibarusah) dan Cipunagara. Pemerintahan Kabupaten Karawang berakhir sekitar tahun 1811-1816 sebagai akibat dari peralihan penguasaan Hindia-Belanda dari Pemerintahan Belanda kepada Pemerintahan Inggris.

Masa penjajahan Belanda
     Masjid Agung Purwakarta pada tahun 1920-1935 (dibangung atas perintah Raden Tumenggaung Aria Sastradipura I, bupati ke-12, menjabat tahun 1854-1863). Antara tahun 1819-1826 Pemerintahan Belanda melepaskan diri dari Pemerintahan Inggris yang ditandai dengan upaya pengembalian kewenangan dari para Bupati kepada Gubernur Jendral Van Der Capellen. Dengan demikian Kabupaten Karawang dihidupkan kembali sekitar tahun 1820, meliputi wilayah tanah yang terletak di sebelah Timur sungai Citarum/Cibeet dan sebelah Barat sungai Cipunagara.Dalam hal ini kecuali Onder Distrik Gandasoli, sekarang Kecamatan Plered pada waktu itu termasuk Kabupaten Bandung. Sebagai Bupati I Kabupaten Karawang yang dihidupkan kembali diangkat R.A.A. Surianata dari Bogor dengan gelar Dalem Santri yang kemudian memilih ibukota kabupaten di Wanayasa.

Pendopo Kabupaten Purwakarta Tahun 2009
    Pada masa pemerintahan Bupati R.A. Suriawinata atau Dalem Sholawat, pada tahun 1830 ibu kota dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih yang diresmikan berdasarkan besluit (surat keputusan) pemerintah kolonial tanggal 20 Juli 1831 nomor 2.
    Pembangunan dimulai antara lain dengan pengurugan rawa-rawa untuk pembuatan Situ Buleud, Pembuatan Gedung Karesidenan, Pendopo, Mesjid Agung, Tangsi Tentara di Ceplak, termasuk membuat Solokan Gede, Sawah Lega dan Situ Kamojing. Pembangunan terus berlanjut sampai pemerintahan bupati berikutnya.

Sumber: www.salamanbiroe.com "Pendopo Purwakarta"

Masa kemerdekaan
    Kabupaten Karawang dengan ibukota Purwakarta berjalan sampai dengan tahun 1949. Pada tanggal 29 Januari 1949 dengan Surat Keputusan Wali Negeri Pasundan Nomor 12, Kabupaten Karawang dipecah dua yakni Karawang Bagian Timur menjadi Kabupaten Purwakarta dengan ibu kota di Subang dan Karawang Bagian Barat menjadi Kabupaten Karawang. Berdasarkan Undang-undang nomor 14 tahun 1950, tentang pembentukan daerah kabupaten dalam lingkungan Provinsi Jawa Barat, selanjutnya diatur penetapan Kabupaten Purwakarta, dengan ibu kota Purwakarta, yang meliputi Kewedanaan Subang, Sagalaherang, Pamanukan, Ciasem dan Purwakarta.

Sosial Budaya
     Seperti pada umumnya masyarakat yang berdomisili di bagian tengah Jawa Barat, pola kehidupan masyarakat Kabupaten Purwakarta didominasi oleh kultur budaya Sunda. Sejalan dengan perkembangan zaman yang ditandai oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, masyarakat Purwakarta banyak dipengaruhi oleh budaya asing. Namun demikian, budaya masyarakat pada dasarnya tetap bernuansa budaya Sunda dan nilai-nilai agama, terutama agama Islam. Mayoritas penduduk Kabupaten Purwakarta adalah pemeluk Agama Islam (muslim) dan sisanya adalah non-muslim. Dengan kata lain, penduduk Purwakarta adalah masyarakat beragama.

Transportasi
     Trayek bus umum yang melintasi Kabupaten Purwakarta antara lain tujuan Jakarta, Bandung, Bogor, Bekasi, Karawang, Cilegon, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Cirebon dan kota-kota di Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur. Di samping itu terdapat pula moda angkutan kereta api yang melayani tujuan Jakarta, Bandung, Semarang, Karawang, dan Bekasi.

     Bagi masyarakat yang bermukim di sekeliling Waduk Jatiluhur, moda transportasi yang biasa digunakan adalah kapal berukuran kecil (dibawah 7 GT). Dan untuk akses menuju Purwakarta khususnya dari Jakarta, kita bisa menggunakan bus atau kereta api. Kalau untuk bus dari terminal rambutan biasanya menggunakan bus “warga baru” tujuan Subang, sedikit catatan bahwa untuk menuju Purwakarta dari terminal rambutan ini hanya sekedar lewat karena memang tujuan akhir dari bus tersebut adalah Subang tetapi untuk kalian yang mau ke Purwakarta, kalian bisa turun di sadang (karena rute ke Subang melewati Purwakarta tepatnya daerah Sadang). Nah, untuk biayanya sendiri sekitar Rp. 20.000,00 ,-. Sementara jika menggunakan kereta dari Jakarta dalam satu hari hanya sekitar 1 atau 2 kali jalan. Untuk akses kereta api yang digunakan kalian berangkat dari stasiun Jakarta Kota, untuk biayanya sendiri terakhir kali saya menggunakan kereta yaitu Rp. 3.000,00,-

     Wilayah Purwakarta dilintasi oleh ruas Jalan tol Jakarta-Cikampek dan ruas Jalan Tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang). Gerbang Tol yang berada di wilayah Kabupaten Purwakarta adalah di Cikopo (Cikampek), Sadang dan Jatiluhur. Namun di Kabupaten Purwakarta tidak terdapat satupun terminal bus yang memiliki fasilitas yang memadai.

Destinasi Wisata

Wisata alam
  • Waduk Jatiluhur, dengan luas 8.300 ha terletak ±9 km dari kota Purwakarta menawarkan sarana rekreasi dan olahraga air yang lengkap dan menarik seperti : dayung, selancar angin, ski air, power boating, perahu layar, dan kapal pesiar. Fasilitas yang tersedia adalah hotel dan bungalow, bar dan restoran, lapangan tenis, kolam renang dengan water slide, gedung pertemuan dan playground. Bagi wisatawan remaja, tersedia pondok remaja serta lahan yang cukup luas untuk kegiatan outbond dan perkemahan yang letaknya diperbukitan diteduhi pepohonan. Di perairan Waduk Jatiluhur ini juga terdapat budi daya ikan keramba jaring apung yang menjadi daya tarik tersendiri. Di waktu siang atau malam kita dapat memancing sambil menikmati ikan bakar. Khusus untuk educational tourism, yang ingin mengetahui seluk beluk waduk ini, Perum Jasa Tirta II menyediakan tenaga ahli. 
    Sumber: www.tripadvisor.com "Danau Jatiluhur"

  • Waduk Cirata, dengan luas 62 km2 berada pada ketinggian 223 m DPL dikelilingi oleh perbukitan. Jika melakukan perjalanan dari kota Purwakarta melalui Plered, akan tiba di Cirata dalam waktu ±40 menit dengan jarak sejauh 15 km. Dalam perjalanan akan melewati pusat perdagangan peuyeum Bendul dan Sentra Industri Keramik Plered disamping menikmati keindahan alam di sepanjang jalan Plered-Cirata.
Sumber: bandung.panduanwisata.id "Situ Wanayasa"
  • Situ Wanayasa adalah danau alam yang berada pada ketinggian 600 m DPL dengan luas 7 ha, terletak ±23 km dari kota Purwakarta dengan udara yang sejuk berlatar belakang Gunung Burangrang.
  •  
  • Sumber Air Panas Ciracas. Terletak ±8 km dari Situ Wanayasa berlokasi di kaki bukit dikelilingi oleh pepohonan dan hamparan sawah dengan udara yang sejuk. Terdapat sekitar 12 titik sumber mata air panas.
  • Air terjun Curug Cipurut dapat ditempuh dengan berjalan kaki sepanjang ± 3 km ke arah Selatan kota Wanayasa, merupakan tempat yang nyaman untuk rekreasi baik hiking maupun camping ground. Berada pada ketinggian 750 m DPL.
Sumber: Line Official "Urang Purwakarta" Sungai Cidomas, Wanayasa
  • Sungai Cidomas “Blue River” di Purwakarta. Sungai cidomas terletak di desa Garokgek, Kecamatan Kiara Pedes, Purwakarta. Sekitar 4 KM dari Situ Wanayasa dengan mengambil jalan ke arah subang. Nampak birunya warna air Cidomas sebagai akibat pantulan dari sinar matahari dan dari jernihnya air dan kedalaman sungai tersebut. Selain itu terdapat juga aliran air terjun kecil dan tebing batu yang luar biasa membentuk relief hasil pahatan alam yang luar biasa indah
  • Badega Gunung Parang adalah obyek wisata alam yang menyediakan sarana untuk rock climbing. Terletak 28 km dari kota Purwakarta berada pada ketinggian 983 m DPL. Tebing bagian barat Gunung Parang, Purwakarta
  • Gua Jepang berlokasi ±28 Km dari kota Purwakarta, memiliki ketinggian sekitar 700 m DPL, dikelilingi perkebunan teh, pohon pinus, cengkeh, manggis dan termasuk dalam kawasan puncak Gunung Burangrang. Gua Jepang merupakan gua buatan yang dibangun oleh Jepang (Romusha) sekira tahun 1943 untuk digunakan sebagai tempat persembunyian.
  • Desa Wisata Bojong terletak di Desa Pasanggrahan Kecamatan Bojong ±35 km dari Kota Purwakarta, berada pada ketinggian ±650 m DPL dikelilingi pepohonan, bukit, hamparan sawah, pemandangan alam Gunung Burangrang dan areal perkebunan rakyat.
  • Wisata Via Ferrata Wisata panjat tebing dengan menaiki tangga besi yang dilengkapi alat pengaman khusus bernama lanyard double system, dengan adanya teknik mendaki seperti Via Ferrata ini memungkinkan semua orang dapat memanjat Tebing parang tanpa mempunyai kemampuan khusus, Berada di Tebing Parang, Desa Pasanggrahan, Dusun Cirangkong.
Sumber: www.pondoksalam.co.id
  • Situ Buleud, adalah danau seluas 4 ha berbentuk bulat yang terletak di tengah kota Purwakarta. Situ buleud merupakan landmark Purwakarta. Konon Situ Buleud tempo dulu merupakan tempat "pangguyangan" (mandi/berendam) badak, kemudian pada masa pemerintahan kolonial Belanda dijadikan sebagai tempat peristirahatan. Nantinya Situ Buleud akan dibangun museum bawah tanah dan taman air mancur siliwangi seperti di singapura.
  • Desa Wisata Sajuta Batu, terletak di Desa Pasanggrahan Kecamatan Tegalwaru, salah satu tujuan wisata alam di Purwakarta, dengan suasana khas pedesaan Purwakarta. terdapat berbagai jenis objek wisata tersedia, antaralain, wisata rekreasi dengan jelajah desa dan kampung dengan suguhan panorama alam yang masih asli, wisata mancing, wisata ziarah dan trekking, panjat tebing di Gunung Parang (Gunung batu andesit terbesar di Indonesia) dan menelusuri cerita rakyat Jonggrang Kalapitung di Gunung Bongkok, menelusuri Goa Bolong Gunung Parang serta terdapat sarana bumi perkemahan dan area off road di area Gunung Salasih.

Wisata budaya
  • Gedung Negara, dibangun tahun 1854 pada masa kolonial Belanda dengan gaya arsitektur Eropa. Kini Gedung Negara menjadi Kantor Bupati Purwakarta.
Sumber: www.disparbud.jabarprov.go.id "Gedung Keresidenan Purwakarta"
  • Gedung Karesidenan, seusia dengan Gedung Negara dibangun pada zaman pemerintahan kolonial Belanda. Kini menjadi Kantor Badan Koordinasi Wilayah IV terletak di Jalan KK. Singawinata.
  • Mesjid Agung, terletak di samping Gedung Negara dibangun pada tahun 1826 pada masa kolonial Belanda. Mesjid ini mulai dipugar pada tahun 1993 dengan tetap mempertahankan bentuk asli dan nilai sejarahnya, kemudian diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat pada tahun 1995.
Sumber: www.kerajinan.id "Sentra Industri Keramik, Plered"
  • Sentra Industri Keramik Plered, terletak di Desa Anjun ±13 km dari kota Purwakarta. Industri ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 1904 menghasilkan keramik berkualitas diekspor ke manca negara antara lain Jepang, Belanda, Thailand, dan Singapura. Jenis keramik yang dihasilkan antara lain gerabah, terakota dan porselen.
  • Industri Kain Songket, diproduksi oleh PT. Sinar sejak tahun 1956 untuk di ekspor ke Brunei dan konsumsi dalam negeri.
  • Kesenian Buncis dan Domyak merupakan kesenian khas Purwakarta disamping wayang golek, celempungan, tari-tarian, degung, ketuk tilu, jaipongan, tungbrung, reog, calung dan kesenian-kesenian daerah lainnya.

Wisata Ziarah
  • Makam RA. Suriawinata. Seorang pendiri kota Purwakarta yang meninggal tahun 1827, dia merupakan Bupati Karawang ke-9 dimakamkan di tengah Situ Wanayasa.
  • Makam Baing Yusuf adalah makam Syech Baing Yusuf yang meninggal pada tahun 1856 terletak di belakang Mesjid Agung Purwakarta. Beliau adalah merupakan seorang ulama besar pada zamannya bermukim di Kaum (Paimbaran Mesjid Agung) Purwakarta dan mendirikan pondok pesantren.
  • Makam Syekh Tubagus Ahmad Bakri (Mama Sempur) Makam keramat Sempur adalah Makam Mama Sempur, Beliau adalah seorang tokoh agama Islam yang disegani dan terkemuka, sehingga sekarang banyak pengunjung berziarah ke makam tersebut. Letaknya di Sempur-Plered, 14 km dari kota Purwakarta.
Wisata Buatan
  • Taman Sri Baduga Air mancur Taman Sri Baduga yang menjadi Ikon Baru Purwakarta ini digadang-gadang sama persis dengan Air Mancur Wing Of Time  yang berda di Singapura. Tak hanya itu Air mancur Taman Sri Baduga yang di klaim sebagai Air Mancur terbesar di Indonesia ini pada dibagian utara hingga selatan juga disambungkan oleh sejumlah air mancur. Sementara tepat ditengah danau, terdapat 4 patung harimau dan 1 patung Sri Baduga Maharaja .
Makanan
Sumber: www.indowarta.com "Sate Maranggi"
  • Sate Maranggi. Yang membedakan dengan sate lainnya adalah bumbu kecapnya yang diolah hingga memiliki cita rasa unik-asam, manis, pedas. Disamping sate maranggi, banyak juga terdapat rumah-rumah makan khas Sunda yang menyajikan ikan bakar, pepes, ayam goreng, ayam bakar (bakakak), lengkap dengan sambal dadakan.
  • Soto Sadang. Soto ini dinamakan Soto Sadang, karena memang lokasi awalnya terletak di Sadang, Purwakarta. Tepatnya di persimpangan jalan raya menuju Jakarta dengan rel kereta api. Tapi semenjak dibangunnya jalan layang, rumah makan ini pindah ke arah kota Purwakarta, yaitu di Jalan Veteran
  • Bakakak (Ayam Bakar), untuk cita rasanya sendiri berbeda dengan ayam bakar yang ada pada umumnya terutama untuk ayam bakar/ bakakak encin cibatu (nama salah satu rumah makan sederhana).
Oleh-oleh
  • Simping. Makanan ini bentuknya berupa lembaran pipih, bundar tipis, biasanya berwarna putih, dan rasanya gurih. Terbuat dari tepung beras yang diberi beberapa bumbu
  • Peuyeum bendul
  • Gula aren Cikeris
  • Manisan pala
  • Teh hijau
  • Colenak
  • Opak
  • Browyeum (Brownies Peuyeum). Oleh-oleh ini adalah hasil inovasi dari peuyeum bendul yang di padukan dengan brownies, sehingga menghasilkan citarasa yang khas,dan dapat diperoleh di Perum Bukit Panorama Indah, belakang Polres.
     Dari penjelasan yang sudah saya paparkan diatas berdasarkan informasi dari beberapa situs terkait, maka saya ingin lebih spesifik dalam menyampaikan salah satu informasi yang ada diatas. Kota Purwakarta kini sedang sangat gencarnya berbenah diri terutama dalam hal membangun brand atau ciri khas daerahnya, maklum selama saya hidup dan besar di Purwakarta, saya merasa bahwa Purwakarta tidak memiliki identitas yang kuat walaupun sebenarnya identitas itu sudah melekat dalam diri kota Purwakarta, hanya saja dalam hal ini perencanaan dan pengelolaannya belum terarah dan memiliki konsep yang kuat. Tapi saat ini saya sedikit berbangga bahwa Purwakarta sudah mulai berusaha untuk menciptakan suatu konsep daerahnya kepada masyarakat diluar daerahnya, bahkan setiap tahunnya kota Purwakarta sering mengadakan festival-festival yang melibatkan negara-negara luar khususnya negara-negara tetangga yang ada di kawasan ASEAN. Hal tersebut bertujuan untuk mempromosikan Purwakarta bukan hanya di dalam negeri saja melainkan juga luar negeri, tentunya masih dalam konteks mempromosikan kebudayaan yang ingin dijual sehingga hal tersebut yang kemudian menjadi brand storming tersendiri bagi kota Purwakarta.

Sumber: www.gpswisataindonesia.blogspot.com

     Untuk berwisata ke kota Purwakarta, kalian bisa sedikit menikmati keindahan Purwakarta di malam hari terutama jika hari-hari weekend, kenapa? Karena pada hari-hari weekend tersebut kota Purwakarta selalu mengadakan acara-acara besar yang menyangkut dengan pesta rakyat atau acara-acara yang memang dikhususkan untuk masyarakat banyak. Seperti misalnya WisKul (Wisata Kuliner). Bahkan setiap awal/ akhir bulan selalu ada acara-acara yang berkaitan erat dengan kebudayaan yaitu kebudayaan khas sunda. Buat teman-teman yang sebelumnya pernah berwisata ke Jogjakarta dan Bandung, pasti kalian semua bisa juga merasakan suasana yang kalian dapatkan di Jogjakarta dan Bandung ketika berkunjung ke Purwakarta, apalagi ketika malam hari.

     Suasana tongkrongan pinggir jalan, lampu-lampu kota yang dibuat khusus sesuai dengan konsep yang sedang dibangun oleh Bupati Purwakarta tentunya bisa menjadi pengalaman sekaligus ciri sendiri dari Jogjakarta dan Bandung. Bahkan ada beberapa tempat yang bisa kalian kunjungi ketika malam hari di beberapa pinggiran Purwakarta dengan suasana tenang dan damai, jauh dari hiruk-pikuk kemacetan seperti di kota-kota besar walaupun saya juga tidak menjamin bahwa kota Purwakarta juga tidak mengalami kemacetan, tapi secara instensitas volume kendaraannya tentu sangat jauh berbeda dengan kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung misalnya.

Sumber: www.lakupon.com "Pemandangan Gunung Parang"

     Kenapa tema penulisan tentang Purwakarta ini adalah “Manchester Van Java” ? Awalnya memang saya begitu mengagumi hal-hal dan keindahan yang ada di Manchester walaupun secara pribadi saya sendiri belum pernah kesana tapi ada beberapa hal yang sama yang kemudian saya agak sedikit memplesetkan seperti halnya kota Bandung yang sudah erat sekali dengan julukan Paris Van Java. Kota Purwakarta sendiri merupakan salah satu kota industri skala besar yang ada di Jawa Barat selain Karawang dan Cikarang, bahkan seperti yangg sudah saya sebutkan pada pengantar bahwa sebagian besar masyarakat Purwakarta menggantungkan dirinya untuk bekerja di pabrik-pabrik asing baik itu industri otomotif, textile, manufaktur dan lain sebagainya. Selain itu, sebagian besar masyarakatnya cinta akan sepakbola, begitupun juga dengan kota Manchester yang walaupun terbilang kecil tetapi kecintaan masyarakatnya terhadap sepakbola begitu sangat besar hanya saja yang membedakan adalah industri sepakbola di kota Manchester sudah sangat maju dan besar semetara untuk kota Purwakarta sendiri belum bisa terkonsep dengan baik, tetapi secara karakter dari masyarakatnya hampir sama yaitu kecintaannya akan sepakbola dan sebagian besar masyarakat yang menggantungkan hidupnya untuk bekerja di pabrik. Namun ada beberapa yang saya rasa Purwakarta jauh lebih diunggulkan dibandingkan dengan kota Manchester di Inggris yaitu tentang sumber daya alam yang luar biasa indah, sementara kota Manchester sendiri memiliki keterbatasan sumber daya alam yang saya rasa tidak sebanyak yang dimiliki Purwakarta dari mulai persawahan, pegunungan, bukit-bukit indah, danau, sungai yang masih memiliki kejernihan airnya, daerah dataran tinggi wanayasa (bisa dibilang puncaknya Purwakarta). Untuk bisa melihat bagaimana keindahan kota Purwakarta kalian bisa langsung cek di instagram #ExplorePurwakarta (keilatan bener-bener promosinya).

Sumber: www.explorejabar.com
     Selain itu, ada salah-satu destinasi wisata yang saat ini sedang hits di Purwakarta yaitu Wisata Via Ferrata, Wisata panjat tebing dengan menaiki tangga besi yang dilengkapi alat pengaman khusus bernama lanyard double system, dengan adanya teknik mendaki seperti Via Ferrata ini memungkinkan semua orang dapat memanjat Tebing parang tanpa mempunyai kemampuan khusu. Destinasi wisata ini berada di Tebing Parang, Desa Pasanggrahan, Dusun Cirangkong. Untuk akses kesana jika membawa kendaraan pribadi dari Jakarta, arahkan masuk ke jalan Tol Cipularang. Setelah menyusuri jalan tol, jangan sampai terlewat untuk keluar di pintu tol Ciganea/Jati Luhur. Setelah keluar, Anda akan bertemu pertigaan jalan, belokan kemudi mobil ke arah Plered, Purwakarta. Setelah berada di jalan menuju Plered, terdapat dua pilihan jalan untuk dapat tiba di Gunung Parang. Yang pertama adalah melewati Cilalawi, Pasar Warung Panjang dan yang kedua adalah Pasar Plered Pilihan jalur pertama terdapat di persimpangan pasar Warung Panjang melewati medan yang berkelok-kelok sejauh hampir 15-16 kilometer dengan medan yang menanjak dan berkelok-kelok di perbukitan.

     Sementara jalur kedua adalah melewati Pasar Plered dan kemudian melewati penambangan batu hingga tiba di Gunung Parang. Jalur kedua ini dapat ditemui sekitar lima kilometer setelah jalur persimpangan Pasar Warung Panjang. Jalur Cilalawi cenderung lebih jauh karena memakan waktu hampir dua jam setelah meninggalkan jalan utama. Sementara, jika melewati jalur Pasar Plered, waktu tempuh yang dibutuhkan hanya sekitar satu jam.

     Untuk keadaan jalur yang ditempuh jika melewati jalur Cilalawi, para wisatawan akan melewati perkampungan dengan jalan yang kecil dan banyak persimpangan. Berbeda dengan jalur Pasar Plered, arah yang ditempuh sudah cukup jelas. Setelah melewati Pasar Plered sekitar 4-5 kilometer, para wisatawan harus berbelok ke kanan dan mulai memasuki medan yang menanjak. Jalan yang dilalui rusak dan akan membuat waktu tempuh sedikit lebih lama. Ketika mengendarai mobil, disarankan untuk memperhatikan kiri dan kanan jalan serta mengatur laju kendaraan. Jalur yang dilewati juga berbatu dan berdebu sepanjang hampir 2-3 kilometer hingga tiba di Gunung Parang.

     Sementara jika ingin menggunakan transportasi umum, cobalah untuk naik bus tujuan Purwakarta yang melewati Tol Cipularang. Kemudian turunlah di Pintu Tol Ciganea/Jati Luhur dan disambung angkutan umum jurusan Purwakarta-Plered yang berwarna hijau. Minta kepada supir angkutan umum turun di Pasar Plered dan kembali sambung dengan angkutan menuju ke arah Kampung Cihuni, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru.

     Angkutan umum jurusan Ciganea-Plered tersedia 24 jam dengan harga tarif Rp 6.000 per orang. Hal yang perlu diperhatikan adalah angkutan menuju Gunung Parang. Jam keberangkatan terakhir dari Pasar Plered adalah pukul 17.00 WIB dengan tarif seharga Rp 12.000. Sementara jika ingin menggunakan Jalur Cilalawi, mintalah kepada supir untuk diturunkan di Pasar Warung Panjang.

     Setelah dari Pasar Warung Panjang, transportasi selanjutnya yang dapat digunakan untuk menuju Gunung Parang hanya ojek motor. Harga yang ditawarkan menuju Gunung Parang berkisar Rp 15.000 sampai Rp 30.000. Harga tersebut juga ditawarkan oleh para pengojek di Pasar Plered untuk dapat menuju Gunung Parang.

Akomodasi
     Untuk akomodasi yang bisa digunakan saat melakukan perjalanan menuju gunung parang adalah dengan menggunakan penginapa Badega, Badega merupakan salah satu tempat yang memang dibuat khusus untuk penginapan para pendaki dan para pengunjung yang akan sekedar untuk trekking ke gunung parang. Badega dibuat oleh warga sekitar yang merupakan sebuah program swadaya masyarakat. Selain itu,  apabila kalian ingin menikmati keindahan kota Purwakartanya sendiri terutama pada saat malam hari maka bagi para backpaker banyak sekali pilihan hotel-hotel murah dengan tarif sekitar Rp. 50.000,00,- keatas.


Penutup

Kesimpulan
     Intinya kota Purwakarta merupakan kota kecil yang memiliki keindahan alam yang sangat memukau apabila kita khususnya para backpaker mau meng-explore keindahan seluk-beluk Purwakarta yang memang masih sangat jauh dari sorotan media, bahkan informasi-informasi seputar kota Purwakarta masih sangat terbatas. Walaupun demikian saya percaya bahwa kota Purwakarta memiliki keindahan dan keunggulan kota yang tentunya tidak dimiliki oleh kota dan daerah-daerah lain khususnya di Jawa Barat. Sangat disarankan apabila ingin menikmati kota Purwakarta maka cobalah pada saat malam hari di waktu weekend atau di akhir bulan dan awal bulan maka dipastikan selalu ada acara-acara khusus yang diselenggarkan berkaitan dengan pagelaran seni kebudayaan sunda. Untuk pilihan wisata busaya sendiri juga tidak kalah, selain kalian bisa menikmati wisata kulinernya kalian juga pada waktu siang hari bisa berkeliling kota Purwakarta untuk mengunjungi museum dan gedung keresidenan atau mungkin kalian bisa hunting-hunting foto ke tempat-tempat urban seperti gedung tua kereta api, gerbong-gerbong tua yang ada di dekat stasiun, persawahan, bukit-bukit dan masih banyak lagi tentunya. Untuk akomodasi sendiri bagi para backpaker sangat diuntungkan karena hotel yang ada di Purwakarta belum sebesar hotel-hotel yang ada di kota-kota besar berbintang seperti Jakarta dan Bandung jadi kalau berbicara soal tarif terbilang cukup terjangkau karena banyak sekali hotel murah yang bisa menjadi pilihan untuk menginap.

Saran
     Kota Purwakarta perlu meningkatkan konsep yang kuat tentang brand kotanya agar para wisatawan bukan hanya wisatawan domestik saja melainkan juga wisatawan asing mau untuk berkunjung ke Purwakarta sehingga kegiatan Kepariwisataan di kota Purwakarta bisa semakin meningkat dan mampu diperhitungkan nantinya. Selain itu, dalam hal transportasi perlu dibuat spesifik karena sampai sejauh ini kota Purwakarta belum memiliki terminal bus dengan standar nasional bahkan apabila ingin berkunjung ke Purwakarta bus yang digunakan hanya sekedar lewat dan transit saja di Purwakarta. Contoh misalnya dari Depok ke Bandung sudah ada trayek khusus dari terminal Depok, mungki hal tersebut bisa menjadi contoh untuk memudahkan para wisatawan yang ingin berkunjung atau berwisata ke Purwakarta.


Muhamad Adi Nugraha
D3 Usaha Jasa Pariwisata 2014_Kelas B
4423143966

m_adi.nugerah@yahoo.co.id


Daftar Pustaka
https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Purwakarta
https://www.wisatania.com/tempat-wisata-di-purwakarta
http://travel.kompas.com/read/2015/11/01/150700927/Panduan.Transportasi.Menuju.Gunung.Parang

No comments:

Post a Comment