Monday, January 4, 2016

Tugas-3 Pariwisata Sejarah dan Budaya Indonesia


Pariwisata Budaya di Sumenep



KATA PENGANTAR

  Dengan memanjatkan puji dan rasa syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala, Penulis dapat meyelesaikan tulisan ini yang berjudul “Pariwisata Budaya di Sumenep” dengan lancar walaupun saya tau tulisan ini jauh dari sempurna.

  Didalam tulisan ini dijabarkan dalam beberapa subjudul ,terdiri dari . Pengantar  berisi rasa syukur penulis telah menyelesaikan tulisan ini , Pembahasan  berisi  mulai dari Sejarah kota Sumenep , Accessbility, Accomodation, Attraction hingga kebudayaan sumenep  , dan Penutup.

  Pembuatan tulisan berjudul “Pariwisata Budaya di Sumenep” mengacu kepada tugas  Pemanduan I Wisata Budaya yang dibimbing oleh Bapak Shobirien .

  Akhirnya, kepada semua pihak terkait langsung maupun tidak langsung, disampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas partisipasi di dalam proses dan tahapan penyusunan tulisan “Pariwisata Budaya di Sumenep” ini.

Tangerang Selatan . 3 Januari 2016


Muhammad Firza Alafiyata

PEMBAHASAN

Sejarah dan Julukan

  Sejarah Sumenep bermula dari zaman Singhasari hingga sekarang, Indonesia. Sumenep (bahasa Madura: Songènèb) adalah sebuah kabupaten di provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.093,45 km² dan populasi 1.041.915 jiwa.Ibu kotanya ialah Kota Sumenep.

  Nama Songènèb sendiri dalam arti etimologinya merupakan Bahasa Kawi / Jawa Kuno yang jika diterjemaahkan mempunyai makna sebagai berikut : Kata “Sung” mempunyai arti sebuah relung/cekungan/lembah, dan kata “ènèb” yang berarti endapan yang tenang, maka jika diartikan lebih dalam lagi Songènèb / Songennep (dalam bahasa Madura) mempunyai arti "lembah/cekungan yang tenang". Penyebutan Kata Songènèb sendiri sebenarnya sudah popular semenjak Kerajaan Singhasari sudah berkuasa atas Jawa, Madura dan Sekitarnya, seperti yang telah disebutkan dalam kitab Pararaton tentang penyebutan daerah "Sumenep" pada saat sang Prabu Kertanegara mendinohaken (menyingkirkan) Arya Wiraraja (penasehat kerajaan dalam bidang politik dan pemerintahan) ke Wilayah Sumenep, Madura Timur tahun 1926 M '“Hanata Wongira, babatangira buyuting Nangka, Aran Banyak Wide, Sinungan Pasenggahan Arya Wiraraja, Arupa tan kandel denira, dinohaksen, kinun adipati ring Sungeneb, anger ing Madura wetan”.' Yang artinya : “Adalah seorang hambanya, keturunan orang ketua di Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Arya Wiraraja, rupa-rupanya tidak dipercaya, dijauhkan disuruh menjadi adipati di Sumenep. Bertempat tinggal di Madura timur.”

  Sumenep memiliki semboyan "Sumekar", akronim dari "Sumenep Karaton", karena semenjak dahulu wilayah ini terdapat puluhan Keraton/Istana sebagai pusat pemerintahan sang Adipati. Untuk kepentingan pemasaran pariwisata, Sumenep mempunyai branding wisata "Sumenep The Heart Purity", julukan tersebut didasarkan pada tingkah pola masyarakatnya yang selalu menjunjung tinggi tata krama serta keramahan kepada setiap tamunya maupun kondisi geografis alamnya yang selalu memberikan keramahan dan kenyamanan bagi setiap wisatawan. Kota Sumenep juga dikenal dengan sebutan Bumi Sumekar, selain itu beberapa pulau di Sumenep juga ada julukannya tersendiri, semisal Kepulauan Kapajang untuk gabungan dari nama Pulau Kangean, Paleat, dan Sepanjang, karena dipulau-pulau inilah taman-taman laut berupa terumbu karang dan kehidupan laut lainnya berkembang layaknya taman nasional Bunaken. Selain itu Pulau Kangean juga lebih dikenal dengan sebutan Pulau Cukir, karena di wilayah inilah fauna khas Sumenep berupa Ayam bekisar banyak dikembangkan.Sekarang hewan unggas ini menjadi maskot Sumenep dan juga Provinsi Jawa Timur.

Iklim di Sumenep

Jika kita berwisata hendak kita harus mengetahui  iklim dan cuaca di kota yang akan kita kunjungi dan inilah informasi iklim dan cuacanya :

  Kabupaten Sumenep termasuk dalam kategori daerah tropis. Seperti daerah lain di Indonesia, musim hujan di Sumenep dimulai bulan Oktober hingga Maret, dan musim kemarau bulan April hingga September. Rata-rata curah hujan di Sumenep adalah 1.479 mm. Berdasarkan data tahun 2011 Temperatur Suhu udara di Sumenep tertinggi terjadi di bulan September - Nopember (31,7 °C). Suhu udara relatif konsisten sepanjang tahun, dengan suhu rata-rata 30 derajat Celsius.Jumlah curah hujan terbanyak terjadi di bulan Desember.Rata-rata penyinaran matahari terlama di bulan Agustus dan terendah di bulan Februari.Sedangkan Kecepatan angin di bulan Juli merupakan yang tertinggi dan terendah di bulan Maret.

Bahasa yang digunakan di Sumenep

  Bahasa yang digunakan di Kabupaten Sumenep adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, dan bahasa Madura sebagai bahasa sehari-hari. Selain itu beberapa daerah di Pulau Sapeken dan beberapa pulau kecil di sekitarnya, bahasa yang digunakan adalah bahasa bajo, bahasa Mandar, bahasa Makasar dan beberapa bahasa daerah yang berasal dari Sulawesi.Untuk Pulau Kangean bahasa yang digunakan adalah bahasa Madura dialek Kangean.

  Karna di Sumenep memakai bahasa dan identik dengan Madura .Bahasa Madura mempunyai system pelafalan yang unik.Begitu uniknya sehingga orang luar Madura yang berusaha mempelajarinyapun mengalami kesulitan, khususnya dari segi pelafalannya. Bahasa Madura sebagaimana bahasa-bahasa di kawasan Jawa dan Bali juga mengenal Tingkatan-tingkatan, namun agak berbeda karena hanya terbagi atas tingkat yakni :


  • Ja’ – iya (sama dengan ngoko) 
  •  Engghi-Enthen (sama dengan Madya)
  •  Engghi-Bunthen (sama dengan Krama)


  Bahasa Madura juga mempunyai dialek-dialek yang tersebar di seluruh wilayah Madura.Di Pulau Madura sendiri pada galibnya terdapat beberapa dialek seperti dialek Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep dan Kangean.Dialeg yang dijadikan acuan standar Bahasa Madura adalah dialek Sumenep, karena Sumenep di masa lalu merupakan pusat kerajaan dan kebudayaan Madura.

Agama di Sumenep

  Agama yang dianut oleh penduduk Kabupaten Sumenep beragam. Menurut data dari Badan Pusat Statistik dalam Sensus Penduduk tahun 2010, penganut Islam berjumlah 1.033.854 jiwa (98,11%), Kristen berjumlah 685 jiwa (0,33%), Katolik berjumlah 478 jiwa (0,27%), Buddha berjumlah 118 jiwa (0,03%), Hindu berjumlah 8 jiwa (0,01%), Kong Hu Cu berjumlah 5 jiwa (0,002%)

  Masyarakat Madura masih mempercayai dengan kekuatan magis, dengan melakukan berbagai macam ritual dan ritual tersebut memberikan peranan yang penting dalam pelaksanaan kehidupan masyarakat Madura. Slah satu bentuk kepercayaan terhadap hal yang berbau magis tersebut adalah terhadab bendah pusaka yang berupa keris atau jenis tosan aji dan ada kalanya melakukan ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse (sama dengan larung sesaji).

Perekonimian di Sumenep

  Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sumenep dalam 3 tahun terakhir yang menunjukkan trend positif. Pada tahun 2009 sebesar 4,44 persen, dan pada tahun 2010 sebesar 5,64 persen, dan pada tahun 2011 mencapai 6,24 persen. Dijelaskan, meningkatnya pendapatan per-kapita penduduk Sumenep dalam 3 tahun terakhir. Yakni, pada tahun 2009 sebesar Rp. 9.147.496.000,00, dan pada tahun 2010 mencapai Rp. 10.225.473.000,00, dengan tingkat dan pada tahun 2011 mencapai Rp. 11.419.368.000,00. macam-macamnya  didominasi oleh pertanian dan peternakan

Accessbility  di Sumenep

  Karena letak geografis Kabupaten Sumenep yang terletak di ujung timur Madura dan letaknya yang begitu strategis (dekat dengan pulau Bali) maka untuk menuju wilayah Kebupaten Sumenep disediakan beberapa fasilitas untuk menunjang lancarnya moda transportasi, antara lain :
  • Terminal Bus Arya Wiraraja - merupakan terminal bus tipe A terbesar di Sumenep melayani seluruh penumpang dari luar daerah Sumenep.
  • Pelabuhan Kalianget - Merupakan sarana transportasi laut yang melayani penumpang dari daratan Sumenep ke wilayah Kepulauan maupun sebaliknya, selain itu juga pelabuhan kalianget melayani jalur transportasi laut Kalianget - Jangkar, Situbondo.
  • Bandar Udara Trunojoyo Sumenep - Merupakan Bandara yang berdiri pada tahun 1970an, yang saat ini dalam tahap pengembangan, dan direncanakan pula bahwa pada tahun 2012 mendatang Bandara ini akan beroprasi untuk penerbangan komersil
Accomodation di Sumenep

  Sebagai daerah destinasi utama wisata Pulau Madura, di Sumenep, hotel-hotel mulai dibangun.menurut data PHRI Jawa Timur Hotel di Sumenep berjumlah 13 unit. Secara keseluruhan lokasinya berpusat di Kota Sumenep dan Kalianget. Penulis disini memperkecil  penjelasan beberapa hotel :
·         Hotel Garuda Sumenep

Fasilitas : Kulkas, Air Panas, Spring Bed, KAC, TV plus Breakfast/Sarapan
Luas Kamar : 6 x 5 m (Km/Wc didalam)
Harga/Price : Rp. 225.000,-

Jl. Trunojoyo No. 280 Gedungan Sumenep Madura
Telp. (0328) 665543
Fax. (0328) 672700
Web :http://hotelgarudasmp.blogspot.com

·         Hotel Suramadu
TARIF KAMAR

VIP I                 : RP. 275.000,-
Fasilitas : AC, TV Flat, Welcome Drink,  Meja Kerja, Meja Rias, Water Heater, Breakfast

VIP II                : Rp. 230.000,-
Fasilitas : AC, TV, Welcome Drink, Meja Rias, Water Heater, Breakfast

Superior             : Rp. 200.000,-
Fasilitas : AC, TV, Water Heater, Breakfast


Standart             : Rp. 130.000,-
Fasilitas : AC, TV, Breakfast

Jl. Trunojoyo 121 Kolor, Sumenep
Telp : (0328) 671048 – 671062
HP : 087850562888 / 082139355888
Email : hotelsuramadu@ymail.com
Web :http://hotelsuramadu.blogspot.com/

Layanan Publik Bank dan ATM

  Industri perbakan di Kabupaten Sumenep sebagian besar beroprasi di Jalan Trunojoyo Sumenep, di jalan utama inilah bank-bank nasional dan daerah membuka kantornya.Beberapa  Bank yang ada di wilayah ini antara lain :   BNI, BCA,BRI,Bank btpn, Bank Mandiri,  Bank Syariah Mandiri

Attraction di Sumenep

Wisata Sejarah , Budaya dan Arsitektur

  •    Museum Keraton Sumenep
Gambar 1.1 (https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh5RcHoJinC0f1PrNXr_qqMHYUVk95wOGEfis6C2ZYQUd_ieSX_7aZoU7pXa8Yl8srgawojrimsUHk2PttINXXP8ytu0n9C9hja5gxxcsOv7xbw8AJZdsK047jZpNCEhR3q3IqDrg7NEH7U/s1600/krton+sumenep.jpg)
  Merupakan museum yang dikelola oleh pemerintah daerah Sumenep yang di dalamnya menyimpan berbagai koleksi benda-benda cagar budaya peninggalan keluarga Karaton Sumenep dan beberapa peninggalan masa kerajaan hindu budha seperti arca Wisnu dan Lingga yang ditemukan di Kecamatan Dungkek. Didalam museum terdapat juga beberapa koleksi pusaka peninggalan Bangsawan Sumenep seperti guci keramik dari Cina dan Kareta My Lord pemberian Kerajaan Inggris kepada Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I atas jasanya yang telah banyak membantu Thomas Stamford Raffles salah seorang Gubenur Inggris dalam penelitian yang dilakukannya di Indonesia.

  •   Keraton Sumenep
Gambar 1.2 (https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Labhang_Mesem.jpg)
  Merupakan peninggalan pusaka Sumenep yang dibangun oleh Raja atau Adipati Sumenep XXXI, Panembahan Sumolo Asirudin Pakunataningrat dan diperluas oleh keturunannya yaitu Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I. Karaton Sumenep sendiri letaknya tepat berada di depan Museum Karaton Sumenep.

  • Masjid Agung Sumenep
Gambar 1.3 (https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Mesjid_Agung_Sumenep.jpg)
  Masjid Agung Sumenep adalah masjid yang berada di Sumenep Madura. Berdiri menghadap alun alun kota Sumenep Masjid Agung Sumenep yang dulunya disebut masjid Jami, menjadi salah satu penanda kota Sumenep.

  Masjid jamik Panembahan Somala atau lebih dikenal dengan sebutan Masjid Jamik Sumenep merupakan salah satu bangunan 10 masjid tertua dan mempunyai arsitektur yang khas di Nusantara.Masjid Jamik Sumenep saat ini telah menjadi salah satu landmark di Pulau Madura. Dibangun Pada pemerintahan Panembahan Somala, Penguasa Negeri Sungenep XXXI, dibangun setelah pembangunan Kompleks Keraton Sumenep, dengan arsitek yang sama yakni Lauw Piango.

  Arsitektur bangunan masjid sendiri, secara garis besar banyak dipengaruhi unsur kebudayaan Tiongkok, Eropa, Jawa, dan Madura, salah satunya pada pintu gerbang pintu masuk utama masjid yang corak arsitekturnya bernuansa kebudayaan Tiongkok. Untuk Bangunan utama masjid secara keseluruhan terpengaruh budaya Jawa pada bagian atapnya dan budaya Madura pada pewarnaan pintu utama dan jendela masjid, sedangkan interior masjid lebih cenderung bernuansa kebudayaan Tiongkok pada bagian mihrab.

  Masjid ini juga dilengkapi minaret yang desain arsitekturnya terpengaruh kebudayaan Portugis, minaretnya mempunyai tinggi 50 meter terdapat di sebelah barat masjid, dibangun pada pemerintahan Kanjeng Pangeran Aria
Pratingkusuma.Di kanan dan kiri pagar utama yang masif juga terdapat bangunan berbentuk kubah. Pada Masa pemerintahan Kanjeng Tumenggung Aria Prabuwinata pagar utama yang cenderung masif dan tertutup, di mana semula dimaksudkan untuk menjaga ketenangan jema'ah dalam menjalankan ibadah diubah total berganti pagar besi.

  Untuk Halaman Masjidnya sendiri terdapat pohon sawo (Bahasa Madura: Sabu) dan juga pohon tanjung. Dimana kedua pohon tersebut konon merupakan penghias utama halaman masjid karena dipercaya mempunyai makna filosofi sebagai berikut:

  • Sabu adalah penyatuan kata sa dan bu, sa mempunyai maksud shalat dan bu mempunyai  maksud ja' bu-ambu
  • Tanjung adalah penyatuan kata ta dan jung, ta mempunyai maksud tandha, dan jung mempunyai maksud ajhunjhung
  • dan Masjid sendiri bermakna pusat kegiatan dalam mensyiarakan agama Allah.

Jadi apabila dijabarkan kesemuanya mengadung maksud dan harapan sebagai berikut :

Shalat ja' bu-ambu, tandha ajhunjhung tenggi kegiatan agama Allah artinya : Shalat lima waktu janganlah ditinggalkan, sebagai tanda menjunjung tinggi agama Allah.

  Interior Ukiran jawa dalam pengaruh berbagai budaya menghiasai 10 jendela dan 9 pintu besarnya.Bila diperhatikan ukiran di pintu utama masjid ini dipengaruhi budaya China, dengan penggunaan warna warna cerah. Disamping pintu depan mesjid sumenep terdapat jam duduk ukuran besar bermerk Jonghans, di atas pintu tersebut terdapat prasasti beraksara arab dan jawa.

  Di dalam mesjid terdapat 13 pilar yang begitu besar yang mengartikan rukun solat.Bagian luar terdapat 20 pilar.Dan 2 tempat khotbah yang begitu indah dan di atas tempat Khotbah tersebut terdapat sebuah pedang yang berasal dari Irak.Awalnya pedang tersebut terdapat 2 buah namun salah satunya hilang dan tidak pernah kembali.

Filosofi Pintu Gerbang Utama Masjid

  Masjid jamik dan sekelilingnya memakai pagar tembok dengan pintu gerbang berbentuk gapura.Pintu Masjid Jamik berebentuk gapura asal kata dari bahasa arab "ghafura" yang artinya tempat pengampunan". Gapura ini syarat akan ornamen yang mempunyai banyak filosofi sebagai salah satu harapan dari sang Panembahan kepada rakyatnya ketika menjalankan ibadah.

  Di atas gapura akan kita temui ornamen berbentuk dua lubang tanpa penutup, keduanya diibaratkan dua mata manusia yang sedang melihat. Lalu di atasnya juga terdapat ornamen segilima memanjang ketaatas, diibaratkan sebagai manusia yang sedang duduk dengan rapi menghadap arah kiblat dan dipisahkan oleh sebuah pintu masuk keluar masjid, yang mengisyaratkan bahwa apabila masuk atau keluar masjid harus memakai tatakrama dan harus meliha jangan sampai memisahkan kedua orang jema'ah yang sedang duduk bersama dan ketika imam masjid keluar menuju mimbar janganlah berjalan melangkahi leher seseorang.

  Dikanan kiri gapura juga terdapat dua pintu berbentuk lengkung, keduanya mengibaratkan sebagai kedua telinga manusia.dimaksudkan agar para jema'ah masjid ketika dikumandangkannya adzan, bacaan alquran, ataupun disampaikannya khotbah haraplah bersikap bijak untuk tidak berbicara dan mendengarkannya dengan seksama. Disekeliling gapura juga terdapat ornamen rantai, hal ini dimaksudkan agar kaum muslim haruslah menjaga ikatan ukuwah islamiyah agar tidak bercerai berai.

  • Kota Tua Kalianget
Gambar 1.4 ( https://sumeneptravel.files.wordpress.com/2012/12/kota-tua-kalianget.jpg)
                                                                                                                                                                                                                          
  Di Sumenep juga erdapat kota tua bukan hanya di Jakarta saja , tepatnya di Kota Tua Kalianget merupakan salah satu kota modern pertama di Pulau Madura, Kota ini di bangun Pada masa VOC dan diteruskan oleh pemerintahan Hindia Belanda.

  Kalianget di kembangkan menjadi kota dikarenakan letaknya yang sangat strategis dan merupakan bandar pelabuhan tersibuk di selat Madura. Pelabuhan tertua di Sumenep adalah pelabuhan Kertasada, lataknya sekitar 10 km dari pusat kota Sumenep. Ketika Sumenep jatuh ke tangan VOC pada tahun 1705, VOC mulai membangun sebuah benteng yang terletak di Kalianget barat, namun dikarenakan posisinya yang kurang strategis dan berbatasan langsung dengan laut selat Madura, Benteng tersebut urung dibangun, maka oleh masyarakat sekitar daerah tersebut dikenal dengan nama "Loji Kantang" .

  Kongsi dagang tersebut tak kehilangan akal, akhirnya pihak VOC pun membangun Benteng di daerah Kalimo'ok dikarenakan lokasinya yang cenderung tinggi dari lingkungan sekitar. Benteng tersebut dibangun pada tahun 1785.Seiring dengan dibangunnya daerah pertahanan tersebut, pemukiman-pemukiman orang Eropa mulai menyebar di daerah Marengan dan Pabean, hal tersebut bisa kita lihat pada model arsitektural bangunannya yang cenderung terpengaruh kebudayaan indisch.Kebudayaan Indisch di Indonesia berkembang pada abad 17-18.

  Setelah kongsi dagang VOC dibubarkan, maka Pemerintah Hindia Belanda mengambil alih kekuasaan dari kongsi dagang tersebut dalam berbagai hal termasuk juga dalam pengelolaan lahan Pegaraman yang ada di Sumenep.Untuk memperkuat posisi ekonomi dan politik pemerintah Hindia-Belanda di Sumenep, maka pada tahun 1899, pihak pemerintah membangun Pabrik Garam Briket Modern, pertama di Indonesia.Disinilah berbagai fasilitas pendukung industri tersebut dibangun, tak hanya bangunan pabrik, fasilitas Listrik yang terpusat di Gedung Sentral, Lapangan Tenis, Kolam renang, Bioskop, Taman Kota, hingga pemukiman bagi pegawai dan karyawan mulai tersebar di kawasan ini.hal ini sebagai bukti bahwa pemerintah Hindia - Belanda kala itu dengan kuatnya memonopoli hasil garam yang ada di Madura.
  • Rumah Adat Tradisional  Madura Tanean Lanjhang
Gambar 1.5 (http://video.stats.kompas.com/data/2013video/media/video/2014/04/04/p18klo727498f12lh1bj611ahaqh1_exo_eps_6_seg_2/image/preview_780x445_p18klo727498f12lh1bj611ahaqh1_exo_eps_6_seg_2.jpg)

  Tanean Lanjhang adalah permukiman tradisional Madura adalah suatu kumpulan rumah yang terdiri atas keluargakeluarga yang mengikatnya.Letaknya sangat berdekatan dengan lahan garapan, mata air atau sungai.Antara permukiman dengan lahan garapan hanya dibatasi tanaman hidup atau peninggian tanah yang disebut galengan atau tabun, sehingga masing-masing kelompok menjadi terpisah oleh lahan garapannya. Satu kelompok rumah terdiri atas 2 sampai 10 rumah, atau dihuni sepuluh keluarga yaitu keluarga batih yang terdiri dari orang tua, anak, cucu, cicit dan seterusnya. Jadi hubungan keluarga kandung merupakan ciri khas dari kelompok ini.

  Susunan rumah disusun berdasarkan hirarki dalam keluarga.Barat-timur adalah arah yang menunjukan urutan tua muda.Sistem yang demikian mengakibatkan ikatan kekeluargaan menjadi sangat erat.Sedangkan hubungan antar kelompok sangat renggang karena letak permukiman yang menyebar dan terpisah.Ketergantungan keluarga tertentu pada lahan masing masing.Di ujung paling barat terletak langgar.Bagian utara merupakan kelompok rumah yang tersusun sesuai hirarki keluarga.Susunan barat-timur terletak rumah orang tua, anak-anak, cucucucu, dan cicit-cicit dari keturunan perempuan.Kelompok keluarga yang demikian yang disebut koren atau rumpun bambu.Istilah ini sangat cocok karena satu koren berarti satu keluarga inti.

  Terbentuknya permukiman tradisional Madura diawali dengan sebuah rumah induk yang disebut dengan tonghuh.Tonghuh adalah rumah cikal bakal atau leluhur suatu keluarga.Tonghuh dilengkapi dengan langgar, kandang, dan dapur. Apabila sebuah keluarga memiliki anak yang berumah tangga, khususnya anak perempuan, maka orang tua akan atau bahkan ada keharusan untuk membuatkan rumah bagi anak perempuan. Penempatan rumah untuk anak perempuan berada pada posisi di sebelah timurnya. Kelompok pemukiman yang demikian disebut pamengkang, demikian juga bila generasi berikutnya telah menempati maka akan terbentuk koren dan sampai tanean lanjang. Susunan demikian terus menerus berkembang dari masa ke masa.

  Apabila susunan ini terlalu panjang maka susunan berubah menjadi berhadapan.Urutan susunan rumah tetap dimulai dari ujung barat kemudian berakhir di ujung timur.Pertimbangan ini dikaitkan dengan terbatasnya lahan garapan, sehingga sebisa mungkin tidak mengurangi lahan garapan yang ada.Jadi, untuk melacak satu alur keturunan dapat dilacak melalui susunan penghuni rumahnya.Generasi terpanjang dapat dilihat sampai dengan 5 generasi yaitu di tanean lanjang.Posisi tonghuh selalu ada di ujung barat sesudah langgar.Langgar selalu berada di ujung barat sebagai akhiran masa bangunan yang ada.Susunan rumah tersebut selalu berorientasi utara-selatan.halaman di tengah inilah yang disebut tanean lanjhang.

  • Benteng VOC Kalimo'ok 
    Gambar 1.6 (http://s1115.photobucket.com/user/baek2/media/Madura/DSCF5487_zpsb4c28fff.jpg.html)
  Benteng VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) Kalimo'ok adalah salah satu bangunan cagar budaya yang dilindungi oleh BP3 Trowulan Jawa Timur.Benteng ini merupakan satu-satunya bangunan benteng yang ada di Pulau Madura. Posisi benteng ini berada jauh dari Pelabuhan Kalianget dan juga pusat kota, kira-kira 4 Km dari pelabuhan Kalianget dan 7 Km dari keraton Sumenep, Atau 1 Km dari Bandar Udara Trunojoyo

  Sejarah pembangunannya Sebagai daerah transit dengan bandar terbesar di Pulau Madura, Perairan Kalianget selalu ramai dilalui kapal-kapal dagang besar yang akan berlabuh ke perairan Indonesia Timur, membuat pihak kongsi dagang untuk Hindia Belanda "VOC" kala itu, membangun sistem pengamanan untuk wilayah Sumenep guna menghindari serangan-serangan dari luar.

  Tercatat dalam sejarahnya VOC pernah membangun dua buah benteng di Sumenep, benteng yang pertama dibangun di desa Kalianget barat kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep namun, pembangunan benteng tersebut kurang sempurna dan lokasinya juga berada pada tempat yang kurang strategis, sehingga dalam kenyataannya benteng ini hanya digunakan sebagai gudang perdagangan kala itu. oleh karena itu bekas benteng tersebut oleh masyarakat sekitar dikenal dengan sebutan "Loji Kanthang" atau "Jikanthang".

  Kemudian pada tahun 1785, VOC membangun lagi sebuah benteng di Dusun Bara’ Lorong Desa Kalimo’ok Kecamatan Kalianget, kira-kira 500 m sebelah utara Kali Marengan.Ketika tahun 1811 Inggris datang ke Indonesia untuk merebutnya dari tangan Belanda, sehingga Gouverneur Generaal J. W. Jansen kalah perang lalu mundur ke Semarang untuk melawan Ingris disana. Pangeran Notonegoro cepat membantu dengan membawa 1000 orang prajurit barisan keraton, sesampainya di Semarang tidak jadi berperang karena Belanda menyatakan takluk pada Ingris dibawah pimpinan Thomas Stamford Bingley Raffles. Oleh Thomas Stamford Bingley Raffles, Pangeran Natanegara disuruh kembali ke Sumenep dengan diiring oleh seorang Kapiten dan 100 orang serdadu Inggris.

  Ketika Pangeran Natanegara berada di Semarang, tentara Ingris masuk ke Sumenep melalui perairan Kalianget, dan disambut perang oleh Patih kerajaan. Ki Mangundireja. Ternyata Ki Mangundireja tewas ditembak tentara Ingris di Loji/benteng tersebut bersama tiga orang menteri kerajaan beserta 70 orang Prajurit.Kemudian oleh orang Sumenep dibuat ‘parèbhâsan’ / peribahasa : “jimbrit baceng kamarong kellana marongghi – Ingris ḍateng Kè Mangon matè è lojhi” artinya Ingris datang Ki Mangun Mati di Loji.

  Arsitektur bangunan Benteng Kalimo’ok berdiri di atas tanah seluas 15.000 m2, panjang 150 m, lebar 100 m dengan tinggi tembok kurang lebih 3 m dalam kondisi saat ini rusak dan tidak terawat. Benteng Sumenep mempunyai area persegi dengan empat bastion dengan lebar 5 meter.Pada setiap sudutnya selain itu di benteng ini juga diasramakan sekitar 25 – 30 tentara di bawah pimpinan seorang Letnan.Benteng Kalimo’ok Sumenep dibangun dari bata dengan dua pintu masuk, masing-masing ada di sisi utara dan sisi selatan.

  Selain itu juga sekitar 300 meter sebelah barat dari benteng ini juga ada sebuah pemakaman orang-orang Belanda / Kherkoop. Sayang, kondisinya sama tidak terawatnya dengan kondisi benteng saat ini.

Wisata Religi/Ziarah

  • Asta Karang Sabu merupakan kompleks pemakaman keluarga Raja / Adipati Sumenep yang memerintah pada abad 15 yaitu Pangeran Ario kanduruan, Pangeran Lor dan Pangeran Wetan. di daerah karang sabu inilah dia memimpin pemerintah Sumenep pada saat itu.
  • Kompleks pemakaman Asta Tinggi Sumenep merupakan kompleks pemakaman Raja-Raja Sumenep yang dibangun pada tahun 1644 M. terletak di daerah dataran Tinggi Kebon Agung Sumenep.
  • Asta Yusuf merupakan salah satu makam penyebar agama islam di Pulau Talango, makam tersebut ditemukan oleh Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat ketika betolak menuju Bali pada tahun 1212 hijriah (1791),
  • Asta Katandur merupakan salah satu makam penyebar agama islam di Sumenep, Pangeran Katandur yang juga salah satu tokoh yang ahli dalam bidang pertanian dan menurut berbagai sumber, Pangeran Katandur juga merupakan pencipta tradisi kerapan sapi,
  • Makam Pangeran Panembahan Joharsari yang merupakan salah satu Adipati Sumenep V yang pertama kali memeluk Agama islam di Bluto.

Wisata Alam

  •          Pantai Lombang
     
Gambar 1.7 (https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhz4pER1WF64XQrOPrGaUUsd9lcxaHPevNS0iU9WPKZzp8rwzBK5c3X35dg-SzTRL_OD-RICgY9PHQIuGa0joRQ5g0OvcMYP4o0Ad9m5zYgofl29DAHSnhiOWKH1tXWSNurAz66wruJtCEh/s1600/Lombang16.jpg)

      Salah satu pantai yang terletak di kabupaten Sumenep, Madura. Pantai ini tepatnya terletakdi sebelah timur Sumenep, kira-kira 25km dari Kota Sumenep tepatnya di Kecamatan Batang-Batang. Pantai Lombang merupakan salah satu wisata alam unggulan di Bumi Sumekar. Di pantai ini, selain deburan ombak yang cukup tenang dan pasir putih yang sangat halus, para pengunjung juga akan disuguhi dengan rimbunnya pohon cemara udang yang berjajar mengikuti garis bibir pantai.

  •          Pantai Slopeng 

Gambar 1.8
        (http://indonesiaexplorer.net/wp-content/uploads/2013/09/Pantai-Slopeng.jpg)
        Merupakan salah satu Pantai Utara di Sumenep selain Pantai Lombang, Pantai ini terletak di Kecamatan Dasuk, 21 km dari Pusat Kota Sumenep. Pantai ini memiliki ciri khas tersendiri yaitu hamparan Pasirnya yang cukup menggunung berhias pohon siwalan, pohon kelapa dan juga cemara udang, sehingga para wisatawan dapat menikmati keindahan laut pantai utara Madura ini dari bukit-bukit yang tergolong landai ini.

  Ciri khas pantai Pantai Slopeng memiliki hamparan pasir yang membentang sepanjang 6 km. Pasir-pasir putih tersebut menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk bersantai di tepian pantai.Uniknya, tidak hanya hamparan pasir putih, tetapi pasir putih di pantainya menggunung.Anda bisa bermain pasir sepuasnya di sini.

  Suasana tenang dan nyaman akan Anda dapatkan. Dengan lambaian pohon-pohon kelapa, nuansa pantai yang khas sangat terasa.Puas bersantai, saatnya bermain air.Air laut di Pantai Slopeng berwarna jernih dan bersih.

  Arus lautnya pun cukup tenang, jadi tak perlu takut diterpa arus yang kuat.Anda dapat menikmati lautan yang biru dengan pemandangan langit yang luas. Dengan tenangnya suasana, Anda akan betah berlama-lama menikmati pantainya.

  Pesona Pantai Slopeng akan bertambah saat senja tiba. Ada sunset yang berwarna keemasan menyinari hamparan pasir putihnya. Bayangan Anda akan terlihat jelas saat berdiri di pantainya dengan disinari cahaya sang senja yang tenggelam. Pemandangan ini harus diabadikan dalam kamera.

  Fasilitas Untuk menunjang aktifitas kepariwisataan di lokasi ini, Pemkab Sumenep telah membangun beberapa fasilitas penunjang pantai, seperti Kantor, Kamar Bilas, Gazebo, Panggung Hiburan, Pesangrahan, Taman Bermain, dan juga terdapat pohon cemara yang sangat indah, dengan bukit pasirnya yang tinggi membuat panorama pantai slopeng begitu diminati oleh para pengunjung wisatawan.

  Untuk menuju Pantai yang satu ini para wisatawan bisa melewati beberapa akses jalan pantai Utara Kab.Sumenep.Akses tersebut bisa dilalui dari Pantai Lombang - Legung - Pantai Slopeng lewat jalan by pass yang sedang dibangun oleh pemerintah.atau bisa juga bisa melalui jalur Sumenep - Ambunten - Pantai Slopeng.
 
Gambar 1.8 (https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2dXd1c8HrIWiv_PNAzMN-78iyN88Ag4o0NzbUsno2IKzPxQ7KhdwbZQJj6jCHmrF3YmG2DYT40ADqMpEcAxAdwuXn10IviovJUJ6T5HgHLljhO-EyhIziSw5NIkO9NJfZ6xD4TASM3J8C/s1600/peta+wisata.jpg)


PENUTUP

Demikianlah yang dapat penulis sampaikan mengenai materi yang menjadi bahasan dalam tulisan ini, tentunya banyak kekurangan dan kelemahan kerena terbatasnya pengetahuan kurangnya rujukan atau referensi yang kami peroleh hubungannya dengan tulisan ini.Penulis banyak berharap kepada para pembaca yang budiman memberikan kritik saran yang membangun kepada kami demi sempurnanya tulisan ini.Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis para pembaca khusus pada penulis.Amin.

DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Sumenep Diakses pada tanggal 30 Desember 2015 pukul 20.00 WIB
http://wisatasumenep.com/hotel-penginapan/page/2/Diakses pada tanggal 30 Desember 2015 pukul 20.00 WIB
http://hotelsuramadu.blogspot.co.id/Diakses pada tanggal 30 Desember 2015 pukul 20.15 WIB
http://agvnk.blogspot.co.id/2012/07/daftar-hotel-dan-penginapan-di-sumenep.htmlDiakses pada tanggal 30 Desember 2015 pukul 20.15 WIB
https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Jamik_SumenepDiakses pada tanggal 30 Desember 2015 pukul 20.30 WIB
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Tua_KaliangetDiakses pada tanggal 30 Desember 2015 pukul 20.30 WIB
https://id.wikipedia.org/wiki/Tanean_LanjhangDiakses pada tanggal 30 Desember 2015 pukul 20.30 WIB
https://id.wikipedia.org/wiki/Benteng_VOC_Kalimo%27okDiakses pada tanggal 30 Desember 2015 pukul 20.30 WIB
https://id.wikipedia.org/wiki/Pantai_LombangDiakses pada tanggal 30 Desember 2015 pukul 20.35 WIB
https://id.wikipedia.org/wiki/Pantai_SlopengDiakses pada tanggal 30 Desember 2015 pukul 20.35 WIB

11 comments:

  1. Tulisan ini sangat bermanfaat, karena sebagai rakyat Indonesia kita harus bangga dengan ragam budaya serta adat yg kita miliki, oleh karena itu kita harus menjaga serta menghormati adat istiadat yang ada, dan perlu adanya publikasi yg positif agar masyarakat baik dalam negeri maupun luar negeri, bisa mengenali budaya yg dimiliki oleh negara Indonesia contohnya seperti tulisan ini.

    ReplyDelete
  2. Tq gan atas informasinya sangat membantu untuk saya

    ReplyDelete
  3. Berkah dah hidup ente kasih info yang ajibbb buat traveller

    ReplyDelete
  4. thanks nih jadi ada info sebelum traveling kesana.

    ReplyDelete
  5. makasih infonya,terus berkarya yah gan

    ReplyDelete
  6. Keep writing~ Yang satu ini keren gan ane udah pernah kesana ;D

    ReplyDelete
  7. Wooow..
    info nya bermanfaat bgt...jd tau deh

    ReplyDelete
  8. makasih infonya kak, saya jadi lebih tau daerah yang bisa dikunjungin buat libur

    ReplyDelete
  9. Indonesia khususnya pulau Jawa, selain terkenal dengan keramahannya, banyak juga tempat-tempat yang nyaman dan menyenangkan untuk dikunjungi. Baru tau ada kota Sumenep yang menarik di Jawa Timur dan ada pantai juga yang pastinya masih asri. Semoga bisa kesana kapan-kapan mengunjungi langsung daerahnya!

    ReplyDelete