Showing posts with label suku baduy. Show all posts
Showing posts with label suku baduy. Show all posts

Monday, January 4, 2016

T5_Muhamad Adi Nugraha_Observasi Suku Baduy



Dua Sistem Pemerintahan: Kepu’unan dan Kepala Desa di Kehidupan Masyarakat Baduy



Tugu Selamat Datang di Desa Ciboleger, lokasi sebelum masuk menuju desa Baduy Luar (jalan kaki sekitar 5-6 KM)

     Pada tanggal 22-24 Desember 2015 saya beserta rombongan mahasiswa D3 Usaha Jasa Pariwisata angkatan 2014 melakukan perjalanan ke Ciboleger, Baduy untuk melakukan observasi secara langsung mengenai kehidupan suku Baduy. Baduy sendiri terbagi menjadi dua wilayah, yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Secara geografis lokasi masyarakat Baduy terletak pada 6°27'27" -6°30' Lintang Utara (LU) dan 108°3'9" - 106°4'55" Bujur Timur (BT).  Masyarakat Baduy berada pada wilayah bagian barat Pulau Jawa, pada daerah yang merupakan bagian dari pegunungan Kendeng (600 mdpl). Secara administratif  masyarakat Baduy tinggal di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Desa Kanekes terdiri dari 59 kampung yang terdiri dari 3 kampung Baduy  Dalam, 55 kampung Baduy Luar dan 1 kampung luar Baduy, untuk luas tanahnya sendiri sekitar 5.100 hektar. Jumlah kampung Baduy Dalam tidak akan  mengalami perubahan hingga kapanpun, selalu berjumlah tiga (Cibeo, Cikertawana, Cikeusik). Sementara jumlah kampung Baduy Luar dapat berubah sesuai  dengan pemekaran wilayah. Satu kampung yang disebut Jaro Dainah sebagai luar Baduy adalah Cicakal Girang. Cicakal girang tidak dikategorikan sebagai Baduy Luar karena kebanyakan warga Cicakal Girang yang memeluk agama islam sedangkan untuk Baduy Dalam dan Baduy Luar sendiri masih memeluk agama sunda wiwitan.

Foto bersama Mang Arja, masyarakat Baduy Dalam (lokasi foto di dekat leuit/ tempat penyimpanan lumbung padi masyarakat Baduy atau masyarakat sunda tradisional pada umumnya yang berada di Baduy Luar), perjalanan menuju Baduy Dalam sekitar 14 KM

     Baduy Dalam memiliki berbagai ciri dan aturan yang berbeda dengan Baduy Luar. Namun secara prinsipal perbedaan mereka terletak pada ketat longgarnya aturan adat yang harus mereka jalani. Masyarakat Baduy Dalam memiliki aturan adat yang lebih ketat dibandingkan dengan Baduy Luar. Namun demikian, dalam konsep hukum adat Baduy keduanya memiliki peranannya masing-masing. Masyarakat Baduy Dalam berkewajiban untuk bertapa, bertapa dalam hal ini bukan mengacu pada kegiatan semedi tetapi lebih kepada menjaga dan melestarikan adat istiadat dan kebudayaan Suku Baduy yang sampai saat ini terus dipertahankan dengan baik sementara untuk Baduy Luar sendiri sebagai pendamping/ panamping Baduy Dalam atau bisa dikatakan juga sebagai sekat yang memisahkan antara kehidupan luar Baduy dengan kehidupan Baduy Dalam sehingga fungsi Baduy Luar sebagai panamping ikut berperan juga untuk membantu menjaga berdiri tegaknya adat istiadat Baduy Dalam. Karena perbedaan prinsipal tersebut maka Baduy Dalam memiliki aturan yang lebih ketat dalam menjalankan hukum adat dan melestarikan adat Baduy, sementara Baduy Luar memiliki aturan yang lebih longgar namun memiliki konsekuensi untuk turut membantu Baduy Dalam dalam hal melestarikan adat.

Ini saya sedang berada di salah satu jembatan yang dibuat oleh masyarakat Baduy Luar, letak perbedaan antara jembatan yang dibuat oleh Baduy Luar dan Baduy Dalam adalah dalam penggunaan talinya (untuk Baduy Luar sudah menggunakan tali tambang buatan sementara Baduy Dalam sendiri masih menggunakan tali buatan tradisional)

     Pada prinsipnya larangan-larangan pada masyarakat Baduy dilandaskan pada filosofi dasar Baduy, lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung (panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung). Konsep dasar ajaran di Baduy tersebut adalah keseimbangan alam. Konsep dari pemerintahan di Suku Baduy sendiri dibedakan menjadi 2 bagian yaitu pemerintahan yang tunduk pada aturan hukum nasional dan pemerintahan yang tunduk secara hukum adat istiadat. Untuk Suku Baduy sendiri dipimpin oleh seorang ketua adat yang disebut sebagai Pu’un, Pu’un sendiri adalah seseorang yang mengatur pemerintahan di Suku Baduy khususnya Baduy Dalam secara adat istiadatnya. Sementara untuk pemerintahan yang mengarah pada aturan nasional sendiri biasanya diwakili oleh seorang Jaro atau biasa disebut sebagai Jaro Pamarentah atau nama lainnya adalah seorang Jaro Tangtu. Jaro Tangtu sendiri sebagai seseorang yang ditunjuk sebagai wakil disetiap wilayah-wilayah Baduy khususnya Baduy Luar. Untuk sistemnya sendiri Suku Baduy dalam hal penyelesaian masalah selalu berdasarkan asas kekeluargaan, sebisa mungkin apabila terjadi suatu pelanggaran-pelanggaran adat yang dilakukan oleh masyarakatnya maka jalan penyelesaiannya sendiri diusahakan sesuai dengan pertimbangan baik dan buruknya oleh kedua-belah pihak yang berseteru, ketika dalam hal kedua belah pihak sudah mendapatkan kesepakatan untuk berdamai maka konflik atau permasalahan tersebut selesai dan disini fungsi seorang Pu’un adalah mengatur sedemikian rupa dengan menunjuk seorang Jaro Tangtu agar proses musyawarah tersebut berjalan dengan baik dan sesuai dengan penyelesaian secara adat istiadat Baduy. Apabila dalam hal penyelesaian masalah tidak terjadi kata sepakat maka fungsi dari seorang Jaro Tangtu adalah sebagai mediasi atau penengah antar kedua-belah pihak agar dalam hal ini konflik atau permasalahan bisa mendapatkan titik temu kesepakatan dan penyelesaian.

Kondisi jalannya bikin nafas jadi ngos-ngosan cuy! (titik awal perjalanan menuju Kampung Baduy Dalam)

     Seorang Pu’un adalah presiden di dalam pemerintahan Suku Baduy baik Baduy Dalam dan Baduy Luar secara keseluruhan, letak pemerintahan Kapuunan sendiri berada di Baduy Dalam sementara untuk Baduy Luar diwakilkan oleh seorang Jaro, ibaratnya seorang Jaro ini sebagai menteri dalam sebuah pemerintahan negara tetapi di dalam pemerintahan Kampung Baduy, tugas dan fungsinya tidak jauh berbeda dengan seorang kepala desa. Untuk seorang Kepala Desa sendiri khususnya di Baduy Luar berfungsi sebagai peng-handle masyarakat luar Baduy yang berkunjung atau bertamu untuk tujuan wisata atau observasi misalnya pada saat pertama kali tiba di Baduy. Di rumah kepala desa kita bisa mendapatkan informasi-informasi umum yang dibutuhkan seputar Suku Baduy dan fungsi seorang kepala desa yang memberitahukan kepada para pengunjung untuk membacakan peraturan-peraturan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika berada di Baduy Luar dan Baduy Dalam (dalam hal ini peraturan pengunjung sendirilah yang membacanya karena masyarakat Suku Baduy sendiri rata-rata buta huruf). Setelah peraturan dibaca para pengunjung juga wajib mengisi daftar hadir/ absen kunjungan yang telah disediakan.

Sungai adalah tempat kami semua mandi dan berenang begitu-pun juga dengan masyarakat Baduy (karena tujuannya adalah untuk observasi, jadi kami semua mendalami peran sebagai masyarakat Baduy)


     Oke balik lagi kepada informasi seputar Pu’un atau Kepu’unan, untuk gelar seorang Pu’un sendiri diturunkan secara turun-temurun tetapi tidak menutup kemungkinan juga yang meneruskan nantinya adalah kerabat-kerabat terdekatnya apabila dalam hal ini seorang Pu’un tidak memiliki keturunan seorang laki-laki. Untuk masa jabatan sebagai petinggi adat sendiri tidak ditentukan seberapa lama dia menjabat melainkan seberapa lama dia mampu dan sanggup untuk menjadi seorang petinggi adat, apabila sanggup bahkan kemungkinan seumur hidup seorang Pu’un bisa terus menjabat.

Sumpah ini ceritanya bukan bidadari-bidadari yang lagi mandi yaa


     Dalam observasi kali ini banyak hal dan pengalaman yang bisa saya dapatkan sebelum menjelang UAS dan libur kuliah, yang pasti kami semua satu angkatan mendapatkan ilmu yang luar biasa bermanfaat tentang kehidupan Suku Baduy. Masyarakat Suku Baduy mengajarkan kami semua tentang pentingnya menjaga alam, melestarikan alam dan sebisa mungkin bisa menyatu dengan alam. Bagi masyarakat Suku Baduy alam adalah sumber penghidupan, maka kita tidak bisa seenaknya berbuat hal yang semena-mena terhadap alam, masyarakat Suku Baduy begitu sangat menjunjung tinggi nilai-nilai adat istiadatnya apabila menyangkut tentang alam, bahkan ada beberapa hutan yang disebut sebagai hutan larangan karena tujuannya adalah supaya hutan tersebut selalu terjaga kelestariannya, sungguh ajaran dan nilai-nilai berharga yang bisa kami pelajari  dari masyarakat Suku Baduy. Kita semua sebagai masyarakat yang hidup jauh lebih modern dengan pemikiran yang mungkin bisa dikatakan jauh lebih maju seharusnya malu apabila masih berbuat hal-hal yang semena-mena terhadap alam seperti buang sampah sembarangan sampai dengan kasus pembakaran hutan yang menjadi isu sekaligus permasalahan nasional saat ini, semoga melalui pengalaman yang saya dapatkan ini bisa menjadi pembelajaran yang berharga dalam kehidupan saya kedepannya dan dengan maksud untuk membagi pengalaman observasi yang saya dapatkan maka saya tuliskan pengalaman ini yang mudah-mudahan nantinya bisa menjadi pembelajaran sekaligus informasi yang berguna buat teman-teman yang membacanya. Yuk, tolong share juga pengalaman kalian semua yang pernah berkunjung ke Kampung Baduy di kolom komentar dibawah dan bagi pengalaman yang udah kalian dapetin atau mungkin bisa sekedar untuk bertanya dan berbagi informasi. Terimakasih .....




Muhamad Adi Nugraha
D3 Usaha Jasa Pariwisata 2014_Kelas B
 4423143966

m_adi.nugerah@yahoo.co.id


Sumber referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Urang_Kanekes


Sunday, January 3, 2016

Tugas 4B - Musim Durian di Baduy



Halo semuanya…
Apa kabarnya hari ini?
Semoga sehat selalu dan dalam kondisi yang diberkati. Amin…
Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu kepada par readers. Nama saya Hirfan Ramadhan saya merupakan mahasiswa D3 Pariwisata UNJ angkatan 2014. Saat ini usia saya 18 tahun.
            Pada kesempatan yang sangat banyak ini, saya akan menceritakan tentang musim Durian di Baduy Banten. Saat musim durian, Baduy adalah salah satu daerah tujuan wisata kuliner Durian di Provinsi Banten yang sangat menggoda untuk dikunjungi. Dengan harga yang sangat murah dan rasa yang sangat lezat dan menggigit, durian baduy sangat menggoda untuk dicicipi. Walaupun terletak dipedalaman Banten, masyarakat Baduy sangat terbuka bagi dunia luar, walaupun tidak semua peradaban luar dapat mereka terima.
            Disini saya akan menceritakan pengalaman menarik dan mengesankan saat saya bersama teman satu angkatan mengunjungi Baduy pada tanggal 22-24 Desember 2015 lalu. Sebelum berangkat, kami semua mengadakan briefing mengenai perjalanan ke Baduy dan salah satunya yaitu membahas meeting point saat hari H dan akhirnya kami semua memutuskan untuk berkumpul di stasiun Tanah Abang pukul 6 pagi mekipun kereta akan jalan pukul 8 pagi. Semua itu dilakukan agar tidak ada yang terlambat dan kami semua masih memiliki plenty time untuk melakukan hal lain selama di stasiun seperti sarapan pagi,membagikan tiket kereta dan bahkan sekedar berfoto untuk mengarsipkannya sebagai dokumentasi. Meskipun demikian, salah satu teman saya masih ada yang dating terlambat namun Ia sangat beruntung karena Ia datang saat kereta bergegas untuk berangkat dan hal itu sempat membuat kita semua panik karena dikhawatirkan jika Ia tidak mengikuti perjalanan ini akan mendapat kendala pada mata kuliah pemanduan 2 ini dan bahkan tidak lulus. Kereta yang kita naikkan adalah kereta Kalimaya jurusan Rangkas Bitung. Perjalanan yang ditempuh dari stasiun Tanah Abang menuju stasiun Rangkas Bitung selama kurang lebih 2 jam lamanya. Sepanjang perjalanan banyak sekali aktifitas yang kamu lakukan seperti mendengarkan muik,makan cemilan,berfoto, dan bercanda dengan teman lainnya. Sekitar pukul 10 pagi akhirnya kami tiba di stasiun Rangkas Bitung dan ternyata saat kami tiba, Kang Arji sudah menyambut kedatangan kami semua. Kang Arji adalah salah satu warga Baduy luar yang sedia menjadi penunjuk arah untuk mencapai ke Baduy. Usianya sekitar 50 tahun meskipun demikian Ia masih bersemangat dan bertenaga. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Ciboleger menggunakan mobil elf yang muatannya mencapai kurang dari 20 orang. Kami semua memutuskan untuk menggunakan 4 mobil elf karena jumlah kami yang mencapai kurang lebih 60 orang. Perjalanan menuju Ciboleger tidak seperti yang diharapkan karena kontur jalan yang tidak merata,debu berterbangan dimana-mana namun semua itu seolah kami lupakan dengan rasa penasaran aya dengan Durian Baduy yang konon sedang panen itu. Akhirnya setelah 2 jam lamanya kami pun tiba di desa Ciboleger dan disana telah terpampang tugu yang menggambarkan ciri khas dari masyarakat Baduy mengenakan kostum atau baju keseharian masyarakat lengkap dengan topi petani dimana mencerminkan masyarakat Baduy gemar berkebun.
Patung menyerupai suku baduy di Ciboleger

            Setibanya di Ciboleger, panitia menyuruh untuk makan iang terebih dahulu di rumah makan dan warung-warung kecil di sekitar Ciboleger untuk megisi perut sebagai perediaan untuk trekking ke Marengo yang merupakan salah satu desa di Baduy luar. Akhirnya sekitar pukul 2 siang kami mulai melakukan trekking bersama-sama dipandu oleh Kang Arji sebagai penunjuk arah. Ditengah perjalanan,kami melakukan diskusi oleh salah satu Jaro di Baduy yang ditugaskan oleh pemangku adat untuk menerima tamu yang datang dan untuk membahas mengenai aturan-aturan yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama berkunjung dan dicampur oleh pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman mengenai Baduy itu sendiri. Diskusi dilakukan Selama setengah jam sebelum akhirny melanjutkan perjalanan kembali. Perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki selam kurang lebih satu jam dengan kondisi jalan yang tidak teratur karena terkadang menanjak dan menurun. Semua itu membuat kami sangat lelah dam tak jarang beberapa dari teman menggunakan jasa porter untuk meringnkan beban selama trekking menuju Baduy luar. Sepanjang perjalanan banyak masyarakat dari Baduy dalam khususnya memikul Durian dengan jumlah yang tidak sedikit dan hal itu terlihat beberapa menit sekali menunjukkan tanda bahwa musim Durian sedang tiba.
Salah satu masyarakat baduy dalam yang sedang memikul Durian panen

Singkat cerita kami pun tiba di desa Marengo Baduy luar. Panitia langsung membagikan homestay kepada para peserta agar dapat berisitirahat setelah melakukan perjalanan panjang. Seperti yang udah saya jelaskan bahwa musim Durian memang telah tiba. Baru saja tiba banyak warga berlomba untuk menjualkan Durian nya kepada kami dengan harga  yang bermacam-macam dan akhirny kami semua memutuskan untuk patungan dam membeli Durian-Durin tersebut. Durian di Baduy luar harganya relatif tergantung ukuran besar atau kecilnya Durian yaitu berkisar Rp 15.000 untuk satu durian kecil dan Rp 20.000 – Rp 30.000 untuk satu Durian yang besar. Harganya tentative karena kalian bisa menawarnya.
            Tanah Baduy sangat luas dan luasnya mencapai kurang lebih 5000 hektar, dengan 30 persen dimanfaatkan sebagai rumah tinggal dan sekitar 70 persen sebagai lahan perkebunan dan salah satunya adalah Durian. Baduy dalam dan Baduy luar dialiri oleh sungai Ciujung Baduy kemudian wilayah suku baduy ini memiilki 56 kampung dan terbagi menjadi 2 bagian besar, yaitu Baduy dalam yang terdiri dari 3 kampung diantaranya Kampung Cibeo,Cikeusik, dan Cikertawarna sedangkan Baduy luar yang terdiri dari 53 kampung. Betapa beruntungnya kami semua karena kami datang pada saat musim Durian tiba. Keesokan harinya kami mulai trekking ke kampong Cibeo dan kali ini kang Arja ikut mendampingi untuk menuju baduy dalam.
Trekking dari desa Marengo menuju Cibeo (salah satu desa Baduy dalam)

Kang Arja adalah seorang baduy dalam yang sangat taat pada tradisi dan aturan adat yang dibuat di Baduy dalam meskipun usianya sudah tak muda lagi Iamasih kuat untuk melakukan trekking selama 6 jam lamanya bahkan lebih dari Baduy dalam-Ciboleger-Baduy dalam dengan kondisi jalanan yang sangat tak teratur bayangkan saja Ia melakukannya tanpa alas kaki sedikitpun. Selama perjalanan saya bertanya-tanya banyak soal apapun di Baduy dan salah satunya Durian. Ia mengatakan musim Durian ini berlangsung selama 5-6 bulan sekali dan merupakan salah satu untuk meningkatkan ekonomi masyarakat karena setiap kali musim Durian datang mereka sangat senang itu artinya rezeki akan segera datang sehingga masyarakat bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka dengan cukup.
Bersama kang Arja (sesosok Baduy dalam yang mengantarkan saya masuk ke Cibeo)

Singkat cerita setelah melakukan perjalanan 3 jam akhirnya kami tiba di desa Cibeo yang merupakan salah satu desa terdekat Baduy dalam. Bayangkan saja yang terdekat saja ditempuh dengan waktu 3 jam dan lelahnya bukan kepalang. Itulah yang membuat saya dan teman saya semua salut kepada mereka. Mereka berjalan kaki selama berjam-jam namun masih tetap kuat dan tak ada rasa mengeluh sedikitpun bahkan dengan memikul durian sekalipun dengan jumlah yang tidak sedikit. Dan bahkan yang membuat takjub lagi adalah mereka yang memikul Durian bukanlah dari kalangan lelaki aja namun juga perempuan mulai dari ibu-ibu dan remaja puteri dan bahkan anak-anak pun ikut memikul Durian tersebut. Ketika ditanya mengapa anak kecil dilibatkan untuk memikul Durian mereka menjawab yaitu untuk membantu kedua orang tuanya dan mereka juga senang jika bisa membantu orangtuanya. Saat di Cibeo kami langsung berisitirahat di salah satu rumah warga sambil berbincang-bincang dengan mereka. Tak disangka saat berbincang-bincang kami disuguhkan oleh Durian dan betapa senangnya hati ini karena setidaknya kelelahan kami terbayar oleh Durian yang diberikan warga Cibeo.
Bersantai didepan rumah adat suku baduy

Saat saya makan, rasanya sangat enak dan berbeda dengan Durian-Durian yang pernah saya makan selama hidup saya. Rasanya manis dan teksturnya tebal dan tentu diiringi oleh bau khas dari Durian yang sangat menggoda. Peminat dari buah ini sangat beragam mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Yang membuat saya takjub adalah Durian Baduy bisa membuat teman saya tidak pada Durian menjadi suka karena penasaran ingin mencicipi rasanya dan ketika saya tanya rasanya seperti apa Ia menjawab “Rasanya enak namun saya tidak tahan dengan baunya”. Ya memang alasan utama orang tidak suka Durian adalah karena bau yang sangat menyengat yang sebagian orang belum tentu menyukainya namun ketika Ia bilang seakan bertanda bahwa rasa dari Durian Baduy ini memang enak karena orang yang tidak suka pun mengatakan demikian itu juga berarti bahwa kualitas dari Durian Baduy memang tidak ada tandingannya. Mengapa Durian di Baduy sangat berbeda dengan Durian lainnya? Itu karena buah ini dipanen saat matang dipohonnya sehingga kualitasnya sangat baik. Karena Durian yang pernah ada jumpai kebanyakan dipanen saat Durian belum matang dari pohonnya alia didiamkan selama jangka waktu tertentu hingga matang sehingga rasanya pun kurang enak dan cenderung asam. Ukuran Durian yang di panen sangat beragam dari yang terkecil hingga yang paling besar. Dan mereka menentukan harga lewat ukuran dari Durian yang mereka panen.
Anak lelaki baduy dalam yang memikul Durian menuju Ciboleger

Selama musim panen biasanya banyak para tengkulak mendatangi pemilik kebun durian untuk dibeli secara borongan buah yang ada di pohon dengan harga perkiraan pasaran. Mereka para tengkulak untuk dipasok ke Rangkasbitung, Tangerang dan Jakarta. Dengan datingnya banyak tengkulak membuat masyarakat sangat senang karena hasil panen mereka tidak sia-sia dan terbayar dengan uang yang dibayarkan. Nantinya uang yang mereka dapatkan bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari mereka bersama dengan keluarganya.


*Terima kasih kepada para pembaca dan saya sangat berharap akan komentar kalian mengenai postingan saya ini*




NAMA     : Hirfan Ramadhan
KELAS    : Usaha Jasa Pariwisata 2014 (B)
NIM         : 4423145623
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Saturday, January 2, 2016

Tugas 5 - Observasi Suku Baduy

Perjalanan Menuju Ciboleger

Assalamualaikum wr.wb
Halo semua teman-teman pembaca, perkenalkan nama saya Susan Adelni Tangkilisan. Sekarang saya sedang kuliah semester 3 di Universitas Negeri Jakarta Program Studi Usaha Jasa Pariwisata. Apakah ada yang sudah pernah ke Desa Kanekes atau yang sering dikenal dengan Desa Baduy? Pasti teman-teman dari pembaca sebagian pernah berkunjung ke desa Kanekes atau yang sering dikenal dengan Desa Baduy. Di Desa Baduy ini masih kental sekali dengan adat istiadatnya. Di baduy ini pun terdapat 2 kelompok yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Dalam terdapat 3 desa, sedangkan Baduy Luar terdapat 7 desa. Di tempat inilah kita bisa merasakan bagaimana hidup tanpa listrik, dan tanpa peralatan elektronik karena disini sinyal tidak dapat terjangkau. Tetapi bagi teman-teman pembaca yang senang mengeksplor kebudayaan Indonesia tidak perlu pergi jauh-jauh datang saja ke desa ini yang bertempat di Kabupaten Lebak, Banten.  Dan untuk yang sudah pernah berkunjung ke desa ini pasti tahu mengenai Desa Ciboleger. Nah Desa Ciboleger ini merupakan perbatasan akhir dari Rangkasbitung untuk menuju ke Desa Baduy. Disinilah banyak para wisatawan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju Baduy.


Nah bagi teman-teman pembaca yang ingin tahu perjalanan dari Jakarta ke Ciboleger seperti apa, pada tulisan kali ini saya akan menceritakan mengenai perjalanan dari Jakarta menuju ke Ciboleger. Transportasi untuk menuju ke Ciboleger sangat mudah, perjalanannya pun cukup panjang dan lama tetapi selama di perjalanan kita akan dimanjakan dengan pemandangan-pemandangan yang indah. Sewaktu saya dan teman-teman dari usaha jasa pariwisata pergi ke Baduy kami berangkat dari Jakarta naik kereta Rangkas Jaya tujuan Tanah Abang – Rangkasbitung. Untuk harga tiket kereta tujuan Tanah Abang – Rangkasbitung teman-teman hanya perlu membayar sebesar 15 ribu untuk sekali perjalanan. Pick point kami berada di stasiun Tanah Abang. Dijadwal kereta yang akan kami naiki datang pukul 08.00 kami pun sudah menunggu kereta mulai dari jam 06.00. Setelah kereta datang kami langsung naik dan mulai mencari tempat duduk yang sesuai dengan tiket kereta yang kami terima. Lalu kami pun duduk dan menikmati perjalanan yang yang ditempuh selama 2 jam perjalanan untuk menuju ke stasiun Rangkasbitung. 

Gambar 1. Stasiun Rangkasbitung


           Sesampainya di stasiun Rangkasbitung, kami pun sudah di sambut baik oleh salah satu warga Desa Baduy Luar yaitu mang Arji. Mang Arji yang akan memandu kami dari stasiun Rangkasbitung hingga ke Desa Baduy. Keluar dari stasiun Rangkasbitung kami pun langsung naik elf yang sudah disewakan. Untuk rombongan yang sudah menyewa elf sebelumnya tidak perlu pergi ke terminal lagi, karena elfnya sudah langsung tersedia di dekat pintu keluar stasiun Rangkasbitung. Untuk menyewa elf teman-teman dapat mengeluarkan kocek sebesar 500rb per mobil untuk sekali perjalanan. Tetapi untuk yang pribadi dan tidak menyewa elf, teman-teman bisa pergi ke terminal Aweh terlebih dahulu. Nah untuk menuju ke terminal Aweh, dari stasiun Rangkasbitung teman-teman bisa naik angkot berwarna merah yang bernomor 07 tujuan terminal Aweh. Lalu dari terminal barulah naik elf yang menuju ke Ciboleger. Tetapi harus menunggu sampai elf tersebut penuh, dan untuk harganya teman-teman cukup membayar kurang lebih 25 ribu perorang. Untuk satu mobil elf sendiri dapat menampung kurang lebih 15 orang.  Perjalanan dari stasiun rangkas bitung hingga ke Ciboleger menempuh selama 3 jam perjalanan. Jalanan disini pun kurang bagus, tetapi sewaktu kami pergi kesana jalanannya sedang diperbaiki. Jadi hanya satu arah saja yang bisa digunakan. Kami pun harus menunggu lagi sekitar 30 menit untuk bergantian jalan. Tetapi tenang saja, selama menunggu perjalanan yang cukup panjang ini teman-teman akan disuguhi pemandangan yang indah dan asri. Setelah menunggu buka tutup jalan tersebut, elf kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke Ciboleger. 
Gambar 3. Salah satu elf yang kami gunakan

Gambar 2. Pemandangan dari dalam elf 
     








          Akhirnya kami pun sampai di Ciboleger. Sesampainya disini kami beristirahat di salah satu warung. Di Desa Ciboleger ini banyak sekali warung-warung penjual makanan. Terdapat juga toko oleh-oleh yang menjual beraneka ragam kerajinan khas dari Desa Baduy dan Desa Ciboleger. Disini juga terdapat tugu selamat datang yang di atasnya berdiri sebuah patung keluarga yang menggambarkan keluarga orang Baduy dengan mata pencahariannya yaitu sebagai petani. Untuk yang ingin membeli kebutuhan yang hendak dibawa ke Baduy, disini juga terdapat alfamart yang cukup lengkap menjual kebutuhan sehari-hari. Selain terdapat toko oleh-oleh yang menjual beraneka ragam kerajinan khas, terdapat juga toko-toko baju, musholah, dan yang unik adalah terdapat satu saung yang dimana di saung tersebut disediakan stop kontak untuk para wisatawan yang sedang membutuhkan listrik untuk mengecas hp, dan lain sebagainya. Selama disini kita bisa beristirahat yang cukup sebelum melalui perjalanan jauh selama kurang lebih 2 jam perjalanan yang ditempuh dengan jalan kaki untuk sampai ke Baduy Luar. 
Gambar 4. Tugu Selamat datang di Ciboleger

        Sewaktu kami datang, disini sedang musim durian jadi banyak sekali para penjual durian. Kami pun juga melihat banyak orang-orang Baduy yang membawa durian. Hebatnya orang-orang baduy yang membawa durian tersebut beberapa merupakan anak-anak kecil disana, dan satu anak membawa kurang lebih 6 buah durian. Untuk sampai ke Baduy Luar, di Ciboleger terdapat para warga yang menyediakan jasa angkut barang. Dimana satu tas yang dibawa dihargai sebesar 20ribu. Beberapa dari kami menyewa jasa angkut barang tersebut. Orang-orang disana memang sangat kuat, bahkan dapat mengangkut tas kurang lebih 6 tas ransel.

       Selama di baduy luar kami tinggal di kampung Marengo.  Tetapi tidak puas dengan Baduy Luar saja, keesokan harinya kami pun melanjutkan perjalanan ke Baduy Dalam. Perjalanan dari Baduy Luar menuju Baduy Dalam dapat ditempuh dengan jalan kaki selama 3 jam. Di Baduy tidak ada kendaraan karena warga sana masih memegang teguh adat istiadat mereka. Bahkan di Baduy Dalam pun masih tidak memakai sandal, berbeda dengan baduy luar yang sudah mulai modern. Pakaian yang digunakan orang-orang Baduy Dalam dan Baduy Luar pun berbeda. Kalau Baduy Dalam memakai pakaian kepala putih, sedangkan Baduy Luar memakai pakaian kepala berwarna biru dengan corak hitam. Pakaian adat tersebut harus dipakai dengan lengkap ketika sedang berlangsungnya upacara adat. Biasanya upacara adat diadakan di Baduy Dalam, jadi orang-orang Baduy Luar harus pergi ke Baduy Dalam.

Gambar 5. Homestay di Desa Marengo, Baduy Luar 
          Perjalanan 3 hari 2 malam yang cukup melelahkan tetapi penuh dengan tantangan, pelajaran dan menambah wawasan akan kebudayaan di Indonesia. Sekian pengalaman saya untuk perjalanan dari Jakarta menuju ke Ciboleger. Semoga bermanfaatJ

Sumber foto by Panitia Dokumentasi

Susan Adelni Tangkilisan
4423143945
Usaha Jasa Pariwisata A 2014
susanadelnit@gmail.com