Showing posts with label KelasB-MuhamadAdiNugraha. Show all posts
Showing posts with label KelasB-MuhamadAdiNugraha. Show all posts

Monday, January 4, 2016

T5_Muhamad Adi Nugraha_Observasi Suku Baduy



Dua Sistem Pemerintahan: Kepu’unan dan Kepala Desa di Kehidupan Masyarakat Baduy



Tugu Selamat Datang di Desa Ciboleger, lokasi sebelum masuk menuju desa Baduy Luar (jalan kaki sekitar 5-6 KM)

     Pada tanggal 22-24 Desember 2015 saya beserta rombongan mahasiswa D3 Usaha Jasa Pariwisata angkatan 2014 melakukan perjalanan ke Ciboleger, Baduy untuk melakukan observasi secara langsung mengenai kehidupan suku Baduy. Baduy sendiri terbagi menjadi dua wilayah, yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Secara geografis lokasi masyarakat Baduy terletak pada 6°27'27" -6°30' Lintang Utara (LU) dan 108°3'9" - 106°4'55" Bujur Timur (BT).  Masyarakat Baduy berada pada wilayah bagian barat Pulau Jawa, pada daerah yang merupakan bagian dari pegunungan Kendeng (600 mdpl). Secara administratif  masyarakat Baduy tinggal di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Desa Kanekes terdiri dari 59 kampung yang terdiri dari 3 kampung Baduy  Dalam, 55 kampung Baduy Luar dan 1 kampung luar Baduy, untuk luas tanahnya sendiri sekitar 5.100 hektar. Jumlah kampung Baduy Dalam tidak akan  mengalami perubahan hingga kapanpun, selalu berjumlah tiga (Cibeo, Cikertawana, Cikeusik). Sementara jumlah kampung Baduy Luar dapat berubah sesuai  dengan pemekaran wilayah. Satu kampung yang disebut Jaro Dainah sebagai luar Baduy adalah Cicakal Girang. Cicakal girang tidak dikategorikan sebagai Baduy Luar karena kebanyakan warga Cicakal Girang yang memeluk agama islam sedangkan untuk Baduy Dalam dan Baduy Luar sendiri masih memeluk agama sunda wiwitan.

Foto bersama Mang Arja, masyarakat Baduy Dalam (lokasi foto di dekat leuit/ tempat penyimpanan lumbung padi masyarakat Baduy atau masyarakat sunda tradisional pada umumnya yang berada di Baduy Luar), perjalanan menuju Baduy Dalam sekitar 14 KM

     Baduy Dalam memiliki berbagai ciri dan aturan yang berbeda dengan Baduy Luar. Namun secara prinsipal perbedaan mereka terletak pada ketat longgarnya aturan adat yang harus mereka jalani. Masyarakat Baduy Dalam memiliki aturan adat yang lebih ketat dibandingkan dengan Baduy Luar. Namun demikian, dalam konsep hukum adat Baduy keduanya memiliki peranannya masing-masing. Masyarakat Baduy Dalam berkewajiban untuk bertapa, bertapa dalam hal ini bukan mengacu pada kegiatan semedi tetapi lebih kepada menjaga dan melestarikan adat istiadat dan kebudayaan Suku Baduy yang sampai saat ini terus dipertahankan dengan baik sementara untuk Baduy Luar sendiri sebagai pendamping/ panamping Baduy Dalam atau bisa dikatakan juga sebagai sekat yang memisahkan antara kehidupan luar Baduy dengan kehidupan Baduy Dalam sehingga fungsi Baduy Luar sebagai panamping ikut berperan juga untuk membantu menjaga berdiri tegaknya adat istiadat Baduy Dalam. Karena perbedaan prinsipal tersebut maka Baduy Dalam memiliki aturan yang lebih ketat dalam menjalankan hukum adat dan melestarikan adat Baduy, sementara Baduy Luar memiliki aturan yang lebih longgar namun memiliki konsekuensi untuk turut membantu Baduy Dalam dalam hal melestarikan adat.

Ini saya sedang berada di salah satu jembatan yang dibuat oleh masyarakat Baduy Luar, letak perbedaan antara jembatan yang dibuat oleh Baduy Luar dan Baduy Dalam adalah dalam penggunaan talinya (untuk Baduy Luar sudah menggunakan tali tambang buatan sementara Baduy Dalam sendiri masih menggunakan tali buatan tradisional)

     Pada prinsipnya larangan-larangan pada masyarakat Baduy dilandaskan pada filosofi dasar Baduy, lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung (panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung). Konsep dasar ajaran di Baduy tersebut adalah keseimbangan alam. Konsep dari pemerintahan di Suku Baduy sendiri dibedakan menjadi 2 bagian yaitu pemerintahan yang tunduk pada aturan hukum nasional dan pemerintahan yang tunduk secara hukum adat istiadat. Untuk Suku Baduy sendiri dipimpin oleh seorang ketua adat yang disebut sebagai Pu’un, Pu’un sendiri adalah seseorang yang mengatur pemerintahan di Suku Baduy khususnya Baduy Dalam secara adat istiadatnya. Sementara untuk pemerintahan yang mengarah pada aturan nasional sendiri biasanya diwakili oleh seorang Jaro atau biasa disebut sebagai Jaro Pamarentah atau nama lainnya adalah seorang Jaro Tangtu. Jaro Tangtu sendiri sebagai seseorang yang ditunjuk sebagai wakil disetiap wilayah-wilayah Baduy khususnya Baduy Luar. Untuk sistemnya sendiri Suku Baduy dalam hal penyelesaian masalah selalu berdasarkan asas kekeluargaan, sebisa mungkin apabila terjadi suatu pelanggaran-pelanggaran adat yang dilakukan oleh masyarakatnya maka jalan penyelesaiannya sendiri diusahakan sesuai dengan pertimbangan baik dan buruknya oleh kedua-belah pihak yang berseteru, ketika dalam hal kedua belah pihak sudah mendapatkan kesepakatan untuk berdamai maka konflik atau permasalahan tersebut selesai dan disini fungsi seorang Pu’un adalah mengatur sedemikian rupa dengan menunjuk seorang Jaro Tangtu agar proses musyawarah tersebut berjalan dengan baik dan sesuai dengan penyelesaian secara adat istiadat Baduy. Apabila dalam hal penyelesaian masalah tidak terjadi kata sepakat maka fungsi dari seorang Jaro Tangtu adalah sebagai mediasi atau penengah antar kedua-belah pihak agar dalam hal ini konflik atau permasalahan bisa mendapatkan titik temu kesepakatan dan penyelesaian.

Kondisi jalannya bikin nafas jadi ngos-ngosan cuy! (titik awal perjalanan menuju Kampung Baduy Dalam)

     Seorang Pu’un adalah presiden di dalam pemerintahan Suku Baduy baik Baduy Dalam dan Baduy Luar secara keseluruhan, letak pemerintahan Kapuunan sendiri berada di Baduy Dalam sementara untuk Baduy Luar diwakilkan oleh seorang Jaro, ibaratnya seorang Jaro ini sebagai menteri dalam sebuah pemerintahan negara tetapi di dalam pemerintahan Kampung Baduy, tugas dan fungsinya tidak jauh berbeda dengan seorang kepala desa. Untuk seorang Kepala Desa sendiri khususnya di Baduy Luar berfungsi sebagai peng-handle masyarakat luar Baduy yang berkunjung atau bertamu untuk tujuan wisata atau observasi misalnya pada saat pertama kali tiba di Baduy. Di rumah kepala desa kita bisa mendapatkan informasi-informasi umum yang dibutuhkan seputar Suku Baduy dan fungsi seorang kepala desa yang memberitahukan kepada para pengunjung untuk membacakan peraturan-peraturan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan ketika berada di Baduy Luar dan Baduy Dalam (dalam hal ini peraturan pengunjung sendirilah yang membacanya karena masyarakat Suku Baduy sendiri rata-rata buta huruf). Setelah peraturan dibaca para pengunjung juga wajib mengisi daftar hadir/ absen kunjungan yang telah disediakan.

Sungai adalah tempat kami semua mandi dan berenang begitu-pun juga dengan masyarakat Baduy (karena tujuannya adalah untuk observasi, jadi kami semua mendalami peran sebagai masyarakat Baduy)


     Oke balik lagi kepada informasi seputar Pu’un atau Kepu’unan, untuk gelar seorang Pu’un sendiri diturunkan secara turun-temurun tetapi tidak menutup kemungkinan juga yang meneruskan nantinya adalah kerabat-kerabat terdekatnya apabila dalam hal ini seorang Pu’un tidak memiliki keturunan seorang laki-laki. Untuk masa jabatan sebagai petinggi adat sendiri tidak ditentukan seberapa lama dia menjabat melainkan seberapa lama dia mampu dan sanggup untuk menjadi seorang petinggi adat, apabila sanggup bahkan kemungkinan seumur hidup seorang Pu’un bisa terus menjabat.

Sumpah ini ceritanya bukan bidadari-bidadari yang lagi mandi yaa


     Dalam observasi kali ini banyak hal dan pengalaman yang bisa saya dapatkan sebelum menjelang UAS dan libur kuliah, yang pasti kami semua satu angkatan mendapatkan ilmu yang luar biasa bermanfaat tentang kehidupan Suku Baduy. Masyarakat Suku Baduy mengajarkan kami semua tentang pentingnya menjaga alam, melestarikan alam dan sebisa mungkin bisa menyatu dengan alam. Bagi masyarakat Suku Baduy alam adalah sumber penghidupan, maka kita tidak bisa seenaknya berbuat hal yang semena-mena terhadap alam, masyarakat Suku Baduy begitu sangat menjunjung tinggi nilai-nilai adat istiadatnya apabila menyangkut tentang alam, bahkan ada beberapa hutan yang disebut sebagai hutan larangan karena tujuannya adalah supaya hutan tersebut selalu terjaga kelestariannya, sungguh ajaran dan nilai-nilai berharga yang bisa kami pelajari  dari masyarakat Suku Baduy. Kita semua sebagai masyarakat yang hidup jauh lebih modern dengan pemikiran yang mungkin bisa dikatakan jauh lebih maju seharusnya malu apabila masih berbuat hal-hal yang semena-mena terhadap alam seperti buang sampah sembarangan sampai dengan kasus pembakaran hutan yang menjadi isu sekaligus permasalahan nasional saat ini, semoga melalui pengalaman yang saya dapatkan ini bisa menjadi pembelajaran yang berharga dalam kehidupan saya kedepannya dan dengan maksud untuk membagi pengalaman observasi yang saya dapatkan maka saya tuliskan pengalaman ini yang mudah-mudahan nantinya bisa menjadi pembelajaran sekaligus informasi yang berguna buat teman-teman yang membacanya. Yuk, tolong share juga pengalaman kalian semua yang pernah berkunjung ke Kampung Baduy di kolom komentar dibawah dan bagi pengalaman yang udah kalian dapetin atau mungkin bisa sekedar untuk bertanya dan berbagi informasi. Terimakasih .....




Muhamad Adi Nugraha
D3 Usaha Jasa Pariwisata 2014_Kelas B
 4423143966

m_adi.nugerah@yahoo.co.id


Sumber referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Urang_Kanekes


T4_Muhamad Adi Nugraha_Kota Jawa

Purwakarta sebagai Tempat “Surganya Wisata Kuliner”

     Purwakarta adalah salah satu daerah yang terdapat di provinsi Jawa Barat, secara geografis letaknya sangat strategis karena dihapit oleh Jakarta dan Bandung. Selain itu, adanya akses jalan tol yang menghubungkan antara Jakarta dan Bandung menjadikan akses untuk menuju kota Purwakarta mudah. Banyak hal-hal yang sangat menarik dari kota Purwakarta terutama dalam hal wisata kulinernya, siapa yang tak kenal sate maranggi? Salah satu makanan khas yang ada di Purwakarta ini selalu menjadi incaran bagi para wisatawan khususnya wisatawan domestik yang datang berkunjung ke Purwakarta. Mungkin sebagian dari kalian ada yang sudah mengunjungi kota Purwakarta dan mencicipi kelezatan sate maranggi dan biasanya para wisatawan domestik yang datang dari Jakarta atau daerah-daerah lain selalu menyempatkan diri untuk mencicipi sate maranggi di rumah makan sate bungursari yang berada di Jl. Raya Cibungur ruas jalan alternatif penghubung Jakarta-Bandung, merupakan tempat makan kuliner sate maranggi yang sampai saat ini selalu ramai dikunjungi bukan hanya oleh masyarakat luar daerah tetapi juga oleh masyarakat Purwakarta sendiri.

Sumber: www.google.com "Sate Maranggi"

     Bagi para pecinta kuliner dimana-pun kalian berada yang saat ini sedang menyempatkan diri untuk membaca tulisan ini, maka tulisan ini adalah tulisan yang tepat untuk anda semua mengetahui tentang kuliner-kuliner yang ada di kota Purwakarta. Just for your information, right? Sebelumnya perkenalkan nama saya Muhamad Adi Nugraha, saat ini saya sedang mengenyam pendidikan di bangku kuliah, mengambil program studi D3 Usaha Jasa Pariwisata – Universitas Negeri Jakarta untuk angkatan 2014. Saat ini saya sudah semester 3 dan adanya tulisan ini dikarenakan juga menyangkut dengan kegiatan perkuliahan salah satu mata kuliah. Oya, saya sendiri asli putra daerah dari Purwakarta loh dan saya begitu sangat bangga akan kota Purwakarta dengan segala potensinya. Saya percaya bahwa setiap daerah selalu mempunyai potensi tersendiri untuk dibanggakan tidak terkecuali tentunya dengan kota Purwakarta. Adanya tugas kuliah untuk membuat suatu tulisan di blog ini menjadi kesempatan yang bagus untuk saya bisa membagi sedikit informasi kepada teman-teman semua sekaligus secara tidak langsung saya bisa berkontribusi dalam mempromosikan kota kelahiran saya Purwakarta. Baiklah lanjut lagi mengenai pembahasan yang ingin saya sampaikan sebelumnya, bahwa Purwakarta salah satunya melalui kuliner khasnya yaitu Sate Maranggi memiliki tujuan bukan hanya sekedar untuk promosi saja melainkan dibalik itu agar orang-orang dari luar daerah tahu bahwa Sate Maranggi adalah bagian dari kebudayaan kuliner khas Purwakarta, secara karakter sendiri rasa dari Sate Maranggi sangat jauh berbeda dengan sate jenis lain diluar sana, tanpa bermaksud untuk membanding-bandingkan atau bahkan melebih-lebihkan tetapi tentu soal rasa akan sangat berbeda dengan sate yang sekedar disajikan dengan bumbu kacang. Intinya setiap hal selalu punya karakter dan ciri khasnya tersendiri begitu halnya dengan Sate Maranggi sebagai ciri khas sekaligus sebuah ikon kebanggan kota Purwakarta dalam hal kulinernya.

Sumber: www.indonesiawow.com "Soto Sadang"

    Sate Maranggi sendiri terbuat dari daging kambing dan daging sapi, tinggal tentukan dan pilih sesuai selera masing-masing. Dan hal yang membedakan antara sate maranggi dan kebanyakan sate pada umumnya adalah adanya proses perendaman daging pada racikan bumbu seperti bawang putih, merica, ketumbar, gula merah dan setelah itu dibungkus oleh daun pepaya sebelum akhirnya dibakar, itulah yang kemudian membuat tekstur daging terasa lebih empuk dan tidak keras pada saat digigit. Itu hanya sedikit yang saya ketahui tentang sate maranggi karena jujur secara rincinya saya kurang mengetahui bahan-bahan apa saja yang ditambahkan pada saat pembuatannya. Setelah sate maranggi melalui proses perendaman sampai akhirnya kemudian dibakar maka cara penyajian dan makan biasanya sate maranggi menggunakan nasi ketan (seperti sate pada umumnya) atau lontong ditambah juga dengan bumbu kecap yang sudah dicampur dengan cabe, tomat dan bawang. Saya sendiri yang nulis jadi ikut-ikutan laper #NgidamSateMaranggi.

Sumber: www.radar-karawang.com "Wisata Kuliner"

     Selain Sate Maranggi ada juga makanan khas lain yang menjadi keunggulan dari kuliner kota Purwakarta yaitu Soto Sadang. Yaa, Sadang merupakan salah satu daerah yang berada di kota Purwakarta, dulunya di Sadang terdapat terminal bus tapi saat ini sudah dibangun menjadi mall yaitu STS (Sadang Terminal Square). Soto Sadang memang tidak terlalu terkenal seperti Sate Maranggi tapi kalau berbicara soal rasa Soto Sadang punya keunikan tersendiri bagi lidah para pecinta kuliner, wajib juga coba kalau berkunjung ke Purwakarta. Ada juga Ayam Bakakak, apa itu ayam bakakak? Bakakak dari yang saya ketahui diambil dari istilah sunda atau diambil dari pembendaharaan kata sunda. Ayam bakakak sendiri biasanya identik dimakan ketika ada acara-acara besar seperti sunatan dan hajatan oleh masyarakat kota Purwakarta. Secara rasa ayam bakakak juga memiliki keunggulan tersendiri tapi hampir memiliki karakter yang sama yg dimiliki oleh sate maranggi yaitu rasa bumbunya yang meresap, proses pembuatannya pun sama-sama dibakar. Untuk ayam bakakak sendiri biasanya dijual per ekor ayam kisaran harga Rp. 50.000,00,-

Sumber: www.jalan2.com "Ayam Bakakak"

     Untuk kalian semua yang mungkin dalam waktu dekat ini bakal berkunjung ke Purwakarta ngga ada salahnya untuk mencoba mencicipi makanan khas kuliner yang sudah saya sebutkan diatas. Oya, disarankan pada saat weekend untuk berkunjung ke Purwakarta karena biasanya sabtu malam kota Purwakarta selalu menyelenggarakan Wisata Kuliner disekitaran Gedung Kembar yang lokasinya tidak jauh dari Situ Buleud (berada di pusat kota Purwakarta). Wisata Kulinernya sendiri berlangsung dari sore hari hingga malam hari sekitar pukul 10.00 WIB. Saya sendiri sangat menyarankan untuk kalian semua coba menelusuri keindahan kota Purwakarta di malam hari karena terdapat banyak lampu-lampu lampion yang menambah keindahan tersendiri kota Purwakarta, jangan lupa juga sertakan anggota keluarga, pacar atau gebetan yang diculik buat diajak jalan ke Purwakarta biar nantinya acara jalan-jalannya semakin tambah seru atau mungkin bisa juga mencoba untuk solo traveller dengan niatan nantinya bisa mendapatkan gebetan sekaligus jodoh di Purwakarta (mojang-mojang Purwakarta ngga kalah cantik loh dengan mojang Bandung). Untuk masalah akomodasi teman-teman tidak perlu khawatir karena banyak sekali di sekitar pusat kota tempat-tempat penginapan dengan budget murah, jadi kalau untuk masalah akomodasi tidak perlu khawatir.

Sumber: www.yuripratiwi.blog.upi.edu

     Sebenarnya masih banyak lagi kuliner-kuliner khas Purwakarta yang memiliki cita rasa luar biasa. Selain itu tersedia juga makanan khas yang bisa dijadikan oleh-oleh seperti peuyeum bendul, simping, browyeum (brownies peuyeum) dan manisan pala. Selebihnya kalian sendiri yang harus coba untuk meng-Explore apa saja makanan enak lain yang ada di Purwakarta, yang pasti saya berani jamin bagi kalian para pecinta kuliner akan bisa mendapatkan sensasi cita rasa baru dalam mencicipi makanan, pengalaman kuliner kalian akan sangat berkesan karena kota Purwakarta adalah surga bagi para pecinta kuliner. Sekian informasi seputar kuliner dari kota Purwakarta bagi kalian yang memang pernah berkunjung dan merasakan kuliner khas Purwakarta coba tolong share dong pengalamannya, comment yaa dan bagi kalian yang memang belum pernah sama sekali ke Purwakarta untuk mencicipi kuliner khas Purwakarta, ayoook buruan segera rencanakan perjalanan kalian, yang pasti saya bisa coba untuk membantu memberikan informasi sama kalian semua sesuai dengan apa yang saya tahu. Terimakasih

Salam hangat,
 
Untuk pecinta kuliner di Indonesia ....







Muhamad Adi Nugraha
D3 Usaha Jasa Pariwisata_Kelas B
4423143966

m_adi.nugerah@yahoo.co.id


sumber referensi:
- http://hargamenu.com/sate-maranggi-purwakarta-bukan-sate-biasa/
- http://purwakartakab.go.id/web2/

T2_Muhamad Adi Nugraha_Solusi UNJ untuk Pariwisata Indonesia

Mahasiswa Pariwisata Sebagai Role Model Bagi Kemajuan Sumber Daya Manusia di Bidang Kepariwisataan Indonesia

     Masalah pariwisata di Indonesia sekarang ini sangat memprihatinkan dimana dengan mengikuti berkembangnya teknologi yang semakin pesat dapat menyebabkan faktor menurunnya kepedulian dalam pengembangan objek wisata. Penyebab faktor tersebut adalah dengan tidak terlaksananya 7 (tujuh) Sapta Pesona yaitu: aman, tertib, bersih, indah, sejuk, ramah-tamah, dan kenangan. Dalam membudidayakan sifat ketujuh sapta pesona tersebut kadang kala membuat para pengunjung wisata (tourism) kurang nyaman, dalam hal ini disebabkan karena kekuranghati-hatian. Permasalahan semacam inilah yang mengakibatkan berkurang/ menurunnya pengunjung wisata di Indonesia. (sumber: http://www.academia.edu)
     Menurut sumber tersebut mengatakan bahwa menurunnya para pengunjung wisata di Indonesia dikarenakan kurangnya mobilitas dan kualitas fasilitas yang lengkap. Ditambah lagi dengan kurangnya akses komunikasi yang baik. Dalam hal ini, dibutuhkan orang-orang yang sangat profesional dalam bidangnya masing-masing, mulai dari perjalanan asal pengunjung, bidang transportasi yang cukup memadai dan memiliki ketepatan waktu sesuai yang telah diatur, dan penginapan yang cukup bagus dengan fasilitas yang sangat lengkap sehingga pengunjung-pun merasa nyaman.
     Tujuh Sapta Pesona dalam bidang Pariwisata merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan karena hal tersebut bisa menjadi dampak penunjang yang sangat baik dan mengarah pada pertumbuhan positif bagi sektor pariwisata itu sendiri. Sebagai seorang mahasiswa di bidang Pariwisata tentunya hal-hal yang menyangkut dengan nilai-nilai yang sudah terkandung di dalam sapta pesona harus diterapkan dalam kesehariannya seperti bersikap ramah, senyum, salam dan sapa. Karena bagaimanapun nantinya kita sebagai mahasiswa di bidang pariwisata akan secara langsung turun ke masyarakat untuk menjalankan dengan baik secara nyata nilai-nilai yang terkandung di dalam sapta pesona dalam membangun Kepariwisataan Indonesia yang sudah menjadi nilai sentral dalam tema kampanye Pariwisata Indonesia. Namun, dalam hal implementasinya masih banyak kekurangan-kekurangan yang perlu diperbaiki agar kepariwisataan Indonesia benar-benar memiliki keunggulan bersaing dengan negara-negara lain diluar sana.
     Sejauh ini upaya pemerintah dalam membangun sektor pariwisata masih belum dikatakan maksimal padahal secara sumber daya alam yang Indonesia miliki harusnya bisa menjadikan negara ini memiliki peranan dan andil yang sangat besar bagi kegiatan pariwisata dunia. Dengan sumber daya alam yang Indonesia miliki belum bisa diimbangi dengan sumber daya manusianya yang mumpuni. Selain itu, tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya kegiatan pariwisata belum sesuai dengan yang diharapkan, hanya sebagian kecil masyarakat di beberapa daerah tertentu yang memang sudah terlebih dahulu ikut andil dalam kegiatan pariwisata di Indonesia seperti misalnya Bali. Masyarakat Bali saat ini sebagain besar menggantungkan hidupnya terhadap sektor pariwisata, banyaknya turis asing yang datang setiap tahunnya ke Bali menjadikan kegiatan wisata sebagai peluang untuk meraup keuntungan dengan menjual berbagai macam souvenir dan kerajinan, rutin mengadakan acara-acara adat yang dipertontonkan secara komersil, mulai tumbuhnya pembangunan akomodasi seperti hotel, restoran dan lain sebagainya sehingga dengan demikian hampir seluruh masyarakat Bali bisa merasakan bahwa sektor Pariwisata itu penting. Tentu pandangan tersebut berbeda dengan masyarakat di daerah lain yang kurang memiliki daya tarik atau belum dimanfaatkan dengan baik sektor pariwisatanya. Dalam hal ini saya akan memberikan contoh misalnya daerah Purwakarta. Purwakarta merupakan nama daerah di provinsi Jawa Barat yang memiliki letak geografis yang terbilang sangat strategis karena dihapit antara Jakarta dan Bandung. Dalam hal ini seharusnya Purwakarta menjadi daerah yang memiliki peranan penting bagi kegiatan pariwisata di Jawa Barat karena sebelum masyarakat atau warga Jakarta berkunjung ke Bandung atau setelah berkunjung dari Bandung dan akan kembali lagi ke Jakarta, Purwakarta bisa menjadi daerah transit untuk membeli oleh-oleh jajanan khas Purwakarta khususnya dan Jawa Barat pada umumnya seperti misalnya Peuyeum. Dilihat dari keadaan yang ada tentu seharusnya Purwakarta menjadi daerah yang bisa diperhitungkan.
     Selain itu Purwakarta juga memiliki keunggulan-keunggulan seperti makanan khas kulinernya, destinasi wisata unggulan yang berbasis alam seperti curug, persawahan, waduk jatiluhur, maupun kerajinan keramik yang ada di wilayah plered. Hal tersebut seharusnya bisa menjadikan daerah Purwakarta sebagai daerah yang diperhitungkan sektor Pariwisatanya di Jawa Barat selain Bandung, Bogor, Garut, Tasikmalaya dan lain sebagainya. Lalu apa yang menjadikan daerah Purwakarta belum gencar dalam hal kegiatan pariwisatanya? Secara keseluruhan masyarakat Purwakarta menggantungkan hidupnya untuk bekerja di pabrik, boleh dibilang bahwa daerah Purwakarta memiliki kemiripan karakteristik dengan kota Manchester di Inggris dimana sektor industri pabrik dengan skala besar menjadi kegiatan perekonomian terbesarnya. Sehingga hal tersebut yang kemudian menjadikan sebagian besar masyarakat Purwakarta memilih untu bekerja di pabrik tanpa tahu bahwa ada sektor lain yang bisa membantu menunjang perekonomian daerahnya yaitu pariwisata. Untuk daerah Purwakarta sendiri terbagi menjadi 4 sektor wisata potensial yang apabila dimanfaatkan dengan perencanaan yang baik maka bukan tidak mungkin menjadi salah satu daerah yang diperhitungkan dalam kegiatan pariwisata di Jawa Barat, yaitu: (1) Wisata Alam, (2) Wisata Budaya dan Sejarah, (3) Wisata Ziarah, dan (4) Wisata Kuliner. Selain itu, dalam sumber yang dikutip oleh http://roedi-hartono.blogspot.co.id/2012/08/arah-pengembangan-pariwisata-purwakarta.html bahwa Masyarakat merupakan elemen dasar kepariwisataan saat ini, karena mereka juga merupakan bagian dari destinasi yang dikunjungi dan yang ingin dilihat dan dipelajari oleh wisatawan melalui kebiasaan, adat istiadat serta pengetahuan, dan masyarakat merupakan salah satu faktor yang menarik wisatawan untuk dikunjungi. Sebagai mahasiswa pariwisata kita dituntut untuk bisa berkontribusi dalam peningkatan kualitas sumber daya manusianya.
     Kegiatan pariwisata merupakan salah satu kegiatan yang sangat mementingkan aspek manusia di dalamnya, manusia bukan hanya sebagai objek semata melainkan merupakan subjek penggerak bagi terciptanya kegiatan pariwisata itu sendiri. Kegiatan pariwisata sangat erat kaitannya dengan peran manusia tanpa adanya manusia kegiatan pariwisata sangat tidak mungkin dan sangat mustahil bisa dilakukan.
     Indonesia sebagai bangsa yang besar dengan beranekaragam suku dan budayanya tentu saja tidak bisa terlepas begitu saja dari kegiatan pariwisata bahkan mungkin Indonesia akan menjadikan sektor pariwisata sebagai penggerak utama perekonomian bangsanya suatu saat nanti disaat hasil bumi yang menjadi penghasil utama negara saat ini telah habis. Maka dari itu sektor pariwisata adalah aset berharga bagi bangsa Indonesia untuk bersaing secara global dengan bangsa lain di dunia terutama dalam aspek ekonomi karena tentunya pariwisata akan menjadi penghasil devisa bagi Indonesia bahkan bagi negara-negara di dunia yang menganggap penting sektor pariwisata.
     Lalu apakah yang mungkin harus dipersiapkan untuk membangun sektor pariwisata ? selain tentunya melakukan pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata di daerah-daerah destinasi wisata ada satu hal penting yang perlu diperhatikan bahkan nilai yang satu ini memiliki peranan vital bagi berlangsungnya kegiatan pariwisata, apa itu ? yaitu manusia dan etika, mengapa manusia dan etika ? karena manusia dan etika adalah satu kesatuan yang tidak mungkin dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, Manusia dan Etika bisa tergambar dalam suatu pelayanan yang ada di dalam kegiatan pariwisata misalnya perhotelan, tour guide dan lain sebagainya. Jika pelayanan yang diberikan tidak memuaskan apalagi terjadi kecurangan-kecurangan di dalamnya maka ada faktor yang salah di dalam diri manusianya termasuk di dalamnya juga bagaimana etika dan moralnya, kita tahu bahwa bisnis pariwisata tidak bisa terlepas dari faktor manusia sebagai penggeraknya jadi apabila manusianya memiliki sikap dan perilaku yang tidak sesuai dengan etika dan moral maka cerminan pelayanan yang akan diberikan tidak maksimal dan cenderung akan merugikan pihak yang terkait di dalam kegiatan pariwisata itu sendiri. Seperti contoh misalnya, terdapat kecurangan pelayanan pada suatu hotel yang entah itu mengurangi kualitas pelayanan kamar yang diberikan atau ada hal-hal tertentu yang dikurangi sehingga tidak memenuhi standar pelayanan kamar maka efek yang ditimbulkan tentunya akan merugikan bagi pihak yang memesan kamar tersebut, hal inilah yang kadang menjadi kendala. Pendidikan moral menjadi hal yang perlu diperhatikan karena hal tersebut sangat erat kaitannya menyangkut dengan suatu pelayanan yang diberikan nantinya.
     Pelayanan adalah nilai lebih dari kegiatan pariwisata karena kegiatan pariwisata sendiri identik dengan penjualan jasa, artinya apabila jasa yang diberikan tidak sesuai dengan nilai-nilai standar pelayanan itu sendiri maka sektor pariwisata di Indonesia khususnya akan mendapatkan citra buruk baik oleh wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.
     Kegiatan Pariwisata adalah kegiatan yang memiliki prospek jangka panjang yang sangat menjanjikan khususnya bagi negara Indonesia bahkan mungkin di beberapa negara yang kini mulai mengandalkan sektor pariwisata sebagai penghasil devisa negaranya. Hal itu sesuai berdasarkan laporan World Tourism Organization (WTO), pada 1970 jumlah wisatawan dunia tercatat sebanyak 172 juta, sepuluh tahun kemudian yakni tahun 1980 meningkat menjadi 285 juta orang, sementara di tahun 1990 telah mencapai 443 juta orang. WTO juga menyebutkan telah terjadi lonjakan wisatawan yang sangat tinggi pada milenium baru, tercatat 699 juta penduduk dunia yang melakukan perjalanan ke berbagai belahan dunia pada tahun 2000, data tersebut terus melonjak hingga pada tahun 2010 tercatat sebanyak 1.018 juta orang dengan pengeluaran sebesar US$ 1,5 triliun. Begitupun pada penerimaan devisa, WTO menyampaikan bahwa pada tahun 1970 baru tercatat US$ 18 miliar, pada 1980 melonjak hampir 6 kali lipat menjadi US$ 102 miliar, sementara pada 2000 telah mencapai US$ 476 miliar, dan pada tahun 2004 menjadi US$ 623 miliar.
     Peningkatan jumlah devisa tersebut tentunya memiliki arti penting bagi kegiatan pariwisata terhadap peningkatan perekonomian dunia. Kegiatan pariwisata juga tidak akan pernah mati kecuali karena peperangan, itupun hanya mati untuk sementara waktu setelah peperangan itu berakhir maka kegiatan pariwisata akan berjalan kembali seperti biasa. Menurut Drs. AJ. Muljadi, MM dalam bukunya Kepariwisataan dan Perjalanan (2009: 21), Pada kawasan Asia Pasifik sendiri terdapat empat subkawasan pariwisata, yaitu Asia Timur Jauh, Asia Tenggara, Oseania, dan Asia Selatan. Pada 2004 keseluruhan kawasan ini rata-rata mengalami pertumbuhan diatas 12% dengan kawasan Asia Tenggara yang mengalami pertumbuhan tertinggi, yaitu lebih dari 30% diikuti Asia Timur Jauh (29,6%), Asia Selatan (16,7%), dan Oseania (12,5%). Selain itu, menurut sumber yang sama, Indonesia sendiri tercatat mengalami peningkatan kunjungan wisatawan khususnya wisatawan mancanegara dengan catatan pendapatan devisa pada 1990 mencapai US$ 2,105 miliar dan tetap meningkat menjadi US$ 5,228 miliar pada tahun 1995. Pada tahun 2000 angka penerimaan devisa dari jumlah kunjungan wisatawan mancanegara telah mengalami peningkatan yang cukup berarti di tengah gejolak krisis menjadi US$ 5,749 miliar, sedangkan penerimaan devisa tahun 2001 sebesar US$ 5,396 miliar dan tahun 2002 sebesar US$ 4,306 miliar, serta tahun 2007 sebesar US$ 5,346 miliar. Sedangkan perolehan devisa pada 2008 sebesar US$ 7,378 miliar hingga tahun 2010 mencapai pendapatan sebesar US$ 7,604 miliar. Maka dari itu perlu adanya perhatian khusus bagi para penggiat di sektor pariwisata khususnya bagi mahasiswa di bidang pariwisata untuk merubah perilaku dan menjadikan pembelajaran etika dan moral sebagai bagian dasar untuk memulainya sehingga pada akhirnya sektor pariwisata di Indonesia bisa bangkit secara maksimal dalam pelayanannya bahkan mampu bersaing nantinya dengan negara-negara lain dalam bidang pariwisata sehingga peningkatan kunjungan wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik di Indonesia bisa terus terjadi, tentunya dengan diimbangi pelayanan yang maksimal dari sumber daya manusianya.
     Kesimpulannya adalah Sektor Pariwisata Indonesia memiliki potensi yang sangat luar biasa besar apabila dalam pengelolaannya sesuai dan tepat sasaran, terutama dalam hal sumber daya manusianya, maka disinilah peran kita sebagai mahasiswa berperan penting untuk masa depan Kepariwisataan Indonesia khususnya untuk mahasiswa program studi D3 Usaha Jasa Pariwisata yang dimana setelah lulus nantinya kami sebagai mahasiswa pariwisata yang lebih mendalami ilmu dibidang jasa harus bisa mempraktekan secara langsung setelah terjun ke masyarakat dan terjun secara langsung dalam kegiatan Kepariwisataan Indonesia. Disinilah fungsi, tujuan serta kontribusi yang diberikan oleh program studi D3 Usaha Jasa Pariwisata dalam membangun Kepariwisataan Indonesia. Peran mahasiswa sebagai role model bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia yang lebih profesional dan terlatih sesuai dengan standar yang berlaku. Mahasiswa bukan hanya sebagai seseorang yang hanya menuntut ilmu saja melainkan diharapkan mampu memberikan perubahan secara nyata nantinya ketika sudah terjun langsung di dalam masyarakat, sesuai dengan tujuan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pembelajaran, penelitian dan pengabdian diri terhadap masyarakat. Dari mahasiswa kita mampu bersama-sama membangun sektor ini kearah yang lebih baik. Fungsi mahasiswa adalah untuk berkontribusi secara nyata kepada masyarakat dan secara tidak langsung membantu pemerintah dalam membangun sektor pariwisata bersama-sama, seorang mahasiswa dituntut untuk memberikan perubahan secara nyata nantinya, membantu membimbing dan membina masyarakat awam kepada kebaikan dalam hal ini ikut berkontribusi untuk negara sesuai dengan bidang yang ia pelajari selama kuliah.
     Seorang mahasiswa memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang biasa yang tidak kuliah atau dalam artian tidak bisa mengenyam pendidikan dengan baik, maka disini nantinya peran seorang mahasiswa sebagai agents of change. Mahasiswa lulusan pariwisata dituntut untuk memiliki konsep yang bisa diterapkan secara nyata pada kegiatan pariwisata nantinya. Dalam hal ini contonya misalnya saya sendiri sebagai seorang mahasiswa asal daerah Purwakarta beranggapan bahwa daerah Purwakarta merupakan aset paling berharga saya untuk masa depan, kenapa? Karena peluang untuk mengembangkan sektor pariwisata di daerah masih jauh lebih besar dibandingkan dengan di kota-kota besar, terutama daerah Purwakarta. Saya lahir dan dibesarkan di Purwakarta, saya sudah tahu betul dan memahami seperti apa daerah tempat saya tinggal, banyak potensi-potensi yang bisa dikembangkan untuk tujuan destinasi wisata, mungkin sekitar 5-10 tahun yang lalu daerah Purwakarta merupakan daerah yang sepi dan jauh dari kemacetan bahkan pengembangan terhadap sektor pariwisata hanya berjalan dengan sendirinya tanpa adanya pengelolaan yang baik, tapi sekarang seiring dengan masuknya arus globalisasi yang sangat cepat menjadikan daerah Purwakarta dituntut untuk bisa ambil bagian dalam dunia modern saat ini terutama dalam sektor Pariwisata itu sendiri. Semakin modern dunia maka semakin mengalami peningkatan ekonomi ke arah yang lebih baik, maka dampaknya saat ini manusia mampu dengan mudah untuk bepergian ke tempat-tempat dan daerah-daerah lain diluar tempat dia tinggal, tujuannya hanya untuk rekreasi dan jalan-jalan, mengenal keunikan dan budaya di daerah lain, mempelajari hal-hal baru di luar daerahnya, hal-hal tersebut kemudian saat ini sudah mulai menjadi trend di kalangan masyarakat. Baik muda maupun tua semua membutuhkan kegiatan jalan-jalan dan rekreasi keluar dari daerah atau tempat dia tinggal untuk tujuan menikmati suasana baru dan hal-hal baru. Maka, dengan adanya konsep sebagai seorang mahasiswa terutama saya sendiri, harus mampu mengimplementasikan ilmu yang sudah didapatkan selama kuliah untuk kemajuan lingkungan di sekitar kita menjadi orang yang bisa berkontribusi secara nyata. Mungkin disitulah peran lembaga pendidikan dalam hal ini Universitas Negeri Jakarta membantu Indonesia untuk menyiapkan generasi-generasi penerus bangsa yang profesional dan kompeten dibidangnya. Lembaga pendidikan merupakan ujung tombak untuk mempersiapkan generasi mudanya karena kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh seberapa maju peran dari generasi penerusnya. Konsep-konsep baru yang dimiliki oleh generasi muda penerus bangsa sangat berguna dan berharga tidak terkecuali untuk generasi penerus di sektor pariwisata. Kita yang saat ini sedang sama-sama masih mengenyam pendidikan di bangku kuliah bukan tidak mungkin 5-10 tahun kedepan akan menjadi bagian dari penggerak kemajuan bangsa ini terutama dalam sektor pariwisata khususnya.

Muhamad Adi Nugraha
D3 Usaha Jasa Pariwisata 2014_Kelas B
4423143966

m_adi.nugerah@yahoo.co.id


Sumber Referensi:
Muljadi, AJ & Andri Warman, H. 2009. Kepariwisataan dan Perjalanan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Bartono, Novianto & Jubilee Enterprise. 2005. Today's Business Ethics, Langkah-langkah Strategis Menerapkan Etika dalam Bisnis dan Pariwisata. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
http://roedi-hartono.blogspot.co.id/2012/08/arah-pengembangan-pariwisata-purwakarta.html
http://www.academia.edu