Showing posts with label shintia. Show all posts
Showing posts with label shintia. Show all posts

Sunday, January 3, 2016

Kota-Kota di Jawa

Wisata Objek Magelang

Kabupaten Magelang adalah sebuah Kabupaten di provinsi Jawa Tengah. Ibu kota Kabupaten ini adalah Kota Mungkid. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Semarang di utara,Kabupaten Semarang dan Kabupaten Boyolali di timur, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Purworejo di selatan,Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Temanggung di barat, serta Kota Magelang yang berada di tengah-tengahnya.

Candi Borobudur, sebuah mahakarya peninggalan Dinasti Syailendra yang kini menjadi kebanggaan Indonesia dan dunia, berada di wilayah Kabupaten Magelang.
 Candi Borobudur


            Candi Buddha terbesar di dunia yang berdiri megah ibarat puzzle raksasa. Tersusun dari 2 juta balok batu vulkanik, dipahat sedemikian rupa sehingga saling mengunci satu dengan yang lain. Candi Borobudur mirip bangunan piramida Cheops di Gizeh Mesir, bedanya, Borobudur memiliki pola kepunden berundak.
            Candi Borobodur adalah monumen Buddha terbesar di dunia. Dibangun pada masa Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra pada tahun 824. Candi Borobudur dibangun 300 tahun sebelum Angkor Wat di Kamboja dan 400 tahun sebelum katedral-katedral agung di Eropa.


Candi Gunung Wukir

              
            Candi Hindu yang berada di Dusun Canggal, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi ini berada di atas Bukit Wukir, yang oleh masyarakat sekitar disebut Gunung Wukir, di lereng barat Gunung Merapi. Lokasi ini berada di sebelah timur laut Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang. Candi Gunung Wukir dapat dicapai dengan angkutan umum ke arah Kecamatan Ngluwar hingga Desa Kadiluwih Dusun Canggal, yang disambung dengan berjalan kaki ke atas bukit lebih kurang 300 meter dpl.
            Candi ini merupakan candi tertua yang dapat dihubungkan dengan angka tahun. Berdasarkan prasasti Canggal yang ditemukan pada tahun 1879 di reruntuhan, candi ini didirikan pada saat pemerintahan raja Sanjaya dari zaman Kerajaan Mataram Kuno, yaitu pada tahun 732 M (654 tahun Saka). Prasasti ini memiliki banyak informasi berkait dengan Kerajaan Medang atau Mataram Hindu. Berdasarkan prasasti ini, Candi Gunung Wukir mungkin memiliki nama asli Shiwalingga atau Kunjarakunja.
            Kompleks tempat reruntuhan candi ini berada mempunyai ukuran 50 m × 50 m. Bangunan candi sendiri terbuat dari jenis batuandesit setidaknya terdiri atas satu candi induk dan tiga candi perwara. Selain prasasti, di kompleks candi ini juga ditemukan yoni, lingga (lambang dewa Siwa), dan arca lembu betina atau Nandi.

Candi Mendut

            Candi Mendut didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah yang bertarikh 824Masehi, disebutkan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama wenuwana yang artinya adalah hutan bambu. Oleh seorang ahli arkeologi Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini dihubungkan dengan Candi Mendut.
            Bahan bangunan candi sebenarnya adalah batu bata yang ditutupi dengan batu alam. Bangunan ini terletak pada sebuah basement yang tinggi, sehingga tampak lebih anggun dan kokoh. Tangga naik dan pintu masuk menghadap ke barat-daya. Di atas basement terdapat lorong yang mengelilingi tubuh candi. Atapnya bertingkat tiga dan dihiasi dengan stupa-stupa kecil. Jumlah stupa-stupa kecil yang terpasang sekarang adalah 48 buah. Tinggi bangunan adalah 26,4 meter.
Hiasan yang terdapat pada candi Mendut berupa hiasan yang berselang-seling. Dihiasi dengan ukiran makhluk-makhluk kahyangan berupa dewata gandarwa dan apsara atau bidadari, dua ekor kera dan seekor garuda. Pada kedua tepi tangga terdapat relief-relief cerita Pancatantra dan jataka.
Dinding candi dihiasi relief Boddhisatwa di antaranya Awalokiteśwara, Maitreya, Wajrapāṇi dan Manjuśri. Pada dinding tubuh candi terdapat relief kalpataru, dua bidadari, Harītī (seorang yaksiyang bertobat dan lalu mengikuti Buddha) dan Āţawaka. Buddha dalam posisidharmacakramudra.
Di dalam induk candi terdapat arca Buddha besar berjumlah tiga: yaitu Dhyani Buddha Wairocanadengan sikap tangan (mudra) dharmacakramudra. Di depan arca Buddha terdapat relief berbentuk roda dan diapit sepasang rusa, lambang Buddha. Di sebelah kiri terdapat arca Awalokiteśwara (Padmapāņi) dan sebelah kanan arca Wajrapāņi.
Persis di sebelah candi Mendut terdapat vihara Buddha Mendut. Vihara ini dahulunya adalah sebuah biara Katholik yang kemudian tanahnya dibagi-bagi kepada rakyat pada tahun 1950-an. Lalu tanah-tanah rakyat ini dibeli oleh sebuah yayasan Buddha dan di atasnya dibangun vihara. Dalam vihara ini terdapat asrama, tempat ibadah, taman, dan beberapa patung Buddha. Beberapa di antaranya adalah sumbangan dari Jepang.


Candi Pawon

            Letak Candi Pawon ini berada di antara Candi Mendut dan Candi Borobudur, tepat berjarak 1750 meter dari Candi Borobudur ke arah timur dan 1150 m dari Candi Mendut ke arah barat.
Di dalam bilik candi ini sudah tidak ditemukan lagi arca sehingga sulit untuk mengidentifikasikannya lebih jauh. Suatu hal yang menarik dari Candi Pawon ini adalah ragam hiasnya. Dinding-dinding luar candi dihias dengan relief pohon hayati (kalpataru) yang diapit pundi-pundi dan kinara-kinari (mahluk setengah manusia setengah burung/berkepala manusia berbadan burung).


Candi Ngawen


            candi Buddha yang berada kira-kira 5 km sebelum candi Mendut dari arah Yogyakarta, yaitu di desa Ngawen, kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Menurut perkiraan, candi ini dibangun oleh wangsa Sailendra pada abad ke-8 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Menurut Soekmono keberadaan candi Ngawen ini kemungkinan besar adalah bangunan suci yang tersebut dalam prasasti Karang Tengah pada tahun 824 M, yaituVenuvana (Sanskerta: 'Hutan Bambu').
Candi ini terdiri dari 5 buah candi kecil, dua di antaranya mempunyai bentuk yang berbeda dengan dihiasi oleh patung singa pada keempat sudutnya. Sebuah patung Buddha dengan posisi duduk Ratnasambawa yang sudah tidak ada kepalanya nampak berada pada salah satu candi lainnya. Beberapa relief pada sisi candi masih nampak cukup jelas, di antaranya adalah ukiran Kinnara, Kinnari, dan kala-makara.

Candi Asu


            candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di Desa Candi Pos, Kelurahan Sengi, kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Nama candi tersebut merupakan nama baru yang diberikan oleh masyarakat sekitarnya. Disebut Candi Asu karena dahulu di dekat candi tersebut terdapat banyak anjing.
Candi ini terletak di lereng Gunung Merapi di dekat pertemuan Sungai Pabelan dan Sungai Telingsing, kira-kira 10 km di sebelah timur laut dari Candi Ngawen. Di dekatnya juga terdapat 2 buah candi Hindu lainnya, yaitu Candi Pendem dan Candi Lumbung.
Candi Asu menghadap ke barat. Candi ini berdenah bujur sangkar dengan panjang sisi 7,94 meter. Tinggi kaki candi 2,5 meter, tinggi tubuh candi 3,35 meter. Tinggi bagian atap candi tidak diketahui karena telah runtuh dan sebagian besar batu hilang. Dengan ukuran tersebut, candi ini termasuk candi kecil. Di dekat Candi Asu telah diketemukan dua buah prasasti batu berbentuk tugu (lingga), yaitu prasasti Sri Manggala I (874 M) dan Sri Manggala II (874 M).
 

Candi  Retno

      Candi ini merupakan sebuah bangunan dengan peninggalan masa Indonesia klasik yang memiliki latar belakang agama hindu yang memiliki latar belakang Agama Hindu. Luas bangunan Candi ini seluas 36m2 dengan luas 300m2.

Sumber :


Shintia Novita Devi
4423143957
UJP B 2014
Universitas Negeri Jakarta

Tugas 5 - OBSERVASI BADUY

Simbiosis antara Baduy luar dan Bauy dalam

Sesuai subjudul yang saya ambil saya akan membahas tentang simbiosis suku baduy simbiosis sendiri adalah bahasa yang berasal dari yunani, sym yang berarti dengan dan biosis yang berarti kehidupan. Simbiosis merupakan interaksi antara dua organisme yang hidup berdampingan dan kali ini saya akan mengambil suku baduy luar dan suku baduy dalam.
Suku baduy merupakan Suatu kelompok yang masyarakat adat yang terletak di Kabupaten Lebak, Banten. Dengan jumlah populasi 12.000 dengan kepala keluarga sebanyak 3.405 dengan keseluruhan baduy memiliki 64 kampung terdiri dari baduy luar dan baduy dalam dengan total kampung dari baduy luar yaitu 61, baduy luar maupun baduy dalam itu sebenarnya sama dari hal kepercayaan nya hingga upacara adat nya, yang membedakan adalah kalau baduy dalam itu memakai kain  putih dan  memkai damping. Masyarakat baduy mayoritas itu bertani dan berladang. Pokoknya dalam desa baduy yang paling di utamakan itu padi lalu pisang dan mata pencaharian lain nya seperti pembuat gula aren, menenun dan lain-lain.
            Dalam Kehidupan sehari-harinya orang-orang baduy dalam itu sedikit berbeda dari baduy luar dimana orang baduy dalam itu sangat tertutup dengan tekhnologi bila berada di desa yang terdapat di baduy dalam tapi tidak berarti orang baduy dalam benar-benar menutup diri dari tekhnologi contohnya saja kang arya salah satu orang baduy dalam yang memiliki hp yang beliau cash di ciboleger, namun tetap saja beliau tidak pernah memainkan hp nya di dalam desa dan tidak memperbolehkan nya siapa pun memainkan hp,kamera dan lainnya jangan kan tekhnologi seperti itu di baduy dalam juga tidak memperbolehkan siapapun memakai alat-alat mandi seperti sabun,shampoo ataupun pasta gigi bila mereka mandi mereka menggunakan batang pohon honje untuk pengganti sabun, lalu serabut kelapa untuk pengganti sikat gigi dan batu kali untuk membantu mencuci baju. jadi tidak di herankan sehingga sungai yang berada di baduy dalam sangat jernih dan segar.
            Berbeda dengan baduy luar yang memperbolehkan pemakaian tekhnologi seperti handphone dan lain nya dan juga memperbolehkan menggunakan alat-alat mandi namun sungai yang berada di baduy luar sangat berbeda di baduy luar airnya sedikit keruh tidak sejernih dan sesegar di baduy dalam dan juga masyarakat baduy terutama baduy dalam sangat kuat-kuat tidak perduli perempuan ataupun anak kecil sebagai contoh kemarin pada saat saya berkunjung ke baduy saya melihat anak kecil seumuran 8 tahun bisa mengangkat duren sebanyak 6-8 duren dengan jarak tempuh 13-14 km dengan kurun waktu hanya 2 jam dan mereka pulang pergi yang kalau dihitung 28km.
            Untuk system adatnya dari baduy luar hingga baduy dalam mereka orang-orang baduy dipimpin oleh puun, nah puun ini ada 3 yang dikarenakan desa di baduy dalam ada 3 juga yaitu : desa cikesik,cibeo dan cikertawana. Yang bisa menjadi seorang puun hanyalah orang baduy dalam karena orang baduy dalam adalah penduuduk baduy yang masih memegang teguh pikukuh dan menjalankan nya dengan baik dan lagi seorang puun itu dipercaya bisa mengobati, menentukan  masuk waktu kawalu (puasa orang baduy selama 3 bulan)  dan juga dapat menentukan kapan waktu  tanam padi atau waktu panen.
            Masyarakat suku baduy dalam sangat berbeda dengan suku baduy luar bila pada saat siang hari dimana bila di baduy dalam pada saat siang hari di desa itu sangat sepi karena tidak perempuan atau laki-laki mereka pergi ke lading dari pagi hingga sore sedangkan bila di baduy luar mereka yang wanita ada yang menenun dan laki-lakinya ada yang berkebun, membuat aren dan lain nya namun kampung baduy luar tidak sepi seperti kampung baduy dalam.
            Masyarakat Baduy dalam adalah masyarakat yang nomaden yang suka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain namun walau begitu mereka tidak pernah melanggar adat yang tidak memperbolehkan mereka menaiki kendaraan. Jadi mereka bila pergi ke kota di undang gubernur atau acara resmi lainnya mereka berjalan kaki dan oleh karena itu orang baduy dalam sangat pintar dalam menghitung perkiraan waktu sampai dengan jarak tempuh dan mereka sangat cepat bila berjalan.
            Masyarakat baduy dalam ataupun baduy luar pernikahan nya masih menggunakan system perjodohan dan biasanya tidak ada penolakan dari setiap pasangan yang di jodohkan. Masyarakat baduy dalam yang tinggal di baduy luar memiliki beberapa alasan ada yang di hokum karena melanggar adat jadi di asingkan, ingin tinggal diluar atau merka menikahi masyarakat baduy luar. Dalam masyarakat baduy bila pasangan ingin menikah pihak cowok dari pasangan itu harus sudah mapan, dikatakanh mapan ialah sudah memiliki rumah sendiri dan sebidang lahan.
            Orang baduy dalam rambutnya panjang dan dimasukan kedalam  damping alasan mereka berambut panjang karena merak tidak sembarang dalam memotong rambut ada upacaranya sendiri. Dan damping untuk baduy dalam berwarna putih agak lebih tebal dari bahan damping baduy luar dan damping dari masyarakat baduy luar bermotif dan berwarna biru dan hitam.
            Sesuai pengalaman saya selama disana bersama kang arya orang baduy itu sangat sopan dan santun serta sangat takut mengambil sesuatu yang bukan haknya seperti pada saat jalan ke baduy dalam kami menemukan banyak pohon rambutan, kecapi,duren dan lain nya namun orang baduy tidak ada yang berani memetiknya sampai anak kecilnya pun tidak ada yang berani, sekalinya memakan buah itu kalau tidak izin dulu sama pemiliknya kalau tidak mengambil yang ada di bawah pohon dan sekitarnya yang pentih sudah jatuh dan tidak berada di atas pohon.

          Masyarakat baduy luar dan baduy dalam sangat menjaga adat istiadat walau baduy luar tidak menutup diri dari tekhnologi dan modernisasi seperti yang dilakukan baduy dalam. Dan suku baduy mayoritas menggunakan bahasa sunda namun mereka tidak menutup kemungkinan dan ada yang beberapa masyarakat  menggunakan bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia. Masyarakat baduy akan menjual hasil panen atau krajinan yang mereka buat untuk dijual namun mereka sama sekali tidak memperjual belikan padi atau beras.

Shintia Novita Devi
4423143957
UJP B 2014
Universitas Negeri Jakarta

Monday, October 5, 2015

Tugas-1 Suka Duka Menjadi Pemandu Wisata

Pengalaman saat menjadi Pemandu

*Pengalaman Memandu ke Bandung

Nama saya Shintia saya mahasiswi di Universitas Negeri Jakarta program studi Pariwisata, sejujurnya saya sangat sulit untuk menjelaskan sesuatu di depan umum apalagi untuk memandu namun mau tidak mau saya harus karena ini tugas dari dosen saya untuk pengambilan nilai, dan kebetulan saya dapet tugas memandu di dalam bis bukan di tempat objek wisata. Bisa di bilang ini pertama kali saya memandu dari seminggu sebelum hari H saya memandu saya sudah kepikiran dengan apa yang harus saya lakukan nanti dan mencari-cari materi yang harus saya hafalkan dan hari H pun tiba dari pagi-pagi sekali saya sudah sampai di Kampus dengan materi yang saya tulis di kertas yang sudah saya haflakan semaleman dan masih saya baca-baca terus selagi menunggu bis datang. Dan akhirnya perjalanan pun di mulai dari Kampus saya yaitu Universitas Negeri Jakarta yang berada di Rawamangun muka menuju Bandung tepatnya ke Gedung Konferensi  Asia Afrika bisa dibilang saya sangat merasa gugup dan saya tidak yakin saya akan bisa berbicara di depan banyak orang untuk menjelaskan perjalanan yang saya dan wisatawan saya lewati dengan rasa gugup selagi menunggu giliran saya memandu saya masih memebaca-baca materi saya yang saya tulis dikertas, setelah teman saya memandu tiba lah saat nya giliran saya, saat saya memegang mic lalu mengenalkan diri saya entah mengapa materi yang saya sudah pelajari hilang dari pikiran saya dan saya bingung apa yang harus saya katakana untuk memandu wisatawan ini namun perlahan-perlahan saya menarik napas dan sedikit demi sedikit saya mencoba mengingat-ingat materi itu namun hanya sedikit yang teringat saya merasa bingung saat itu apa lagi yang harus saya katakana namun akhirnya saya menyerah dan tak melanjutkan pemanduan nya dan saya duduk mungkin dosen saya kecewa dengan apa yang saya tampilakan dan begitupun dengan saya karena kekecewaan itu setelah saya kembali duduk saya menangis dan saya bertekat untuk berubah dan itu pengalaman pertama saya.

                                                           Gambar 1 : memandu di bis
           
           Di atas adalah foto saya saat memandu di Bis dengan masih menggenggam gulungan kertas yang tidak lain adalah catatan saya yang sebenernya tidak terpakai juga bila saya bawa-bawa namun setidaknya bisa menambah rasa percaya diri saya sedikit, karena sebenernya setiap orang punya rasa tidak percaya diri dan punya cara yang berbeda-beda untuk mengatasi rasa tidak percaya diri itu.

*Pengalaman di Planetarium

            Planetarium dan Observatorium Jakarta adalah salah satu objek wisata pendidikan yang terletak di JL.Cikini Raya no.73 Jakarta Pusat. Disana pengunjung bisa mempelajari seputar astronomi, di ruang pameran pengunjung dapat melihat replica planet-planet, bulan, bintang dan lain-lain dengan penjelasan yang sudah ada di dekat semua replica itu dan juga pemandu yang siap menjelaskan lebih jelasnya dan diatas juga ada ruang teater bintang pengunjung akan dapat merasakan seperti berada di laut perbintangan dan juga dapat melihat planet-planet seakan-akan nyata dan di pandu oleh seorang narator yang berada di belakang tempat duduk pengunjung yang akan menjelaskan secara terperinci tentang semua yang berada di ruangan teater itu. Planetarium juga memiliki tempat untuk peneropongan benda langit/ observasi yang di sebut sebagai observatorium, namun peneropongan hanya di lakukan di hari-hari tertentu seperti saat gerhana bulan atau sejenisnya tidak bisa setiap hari. Dan Planetarium buka dengan dua jalur setiap harinya ya itu untuk rombongan dan umum. kalau rombongan buka pada jam 09:30 , 11:00 , 13:30 dan umum pada jam 16:30 untuk hari senin hingga jum’at namun bila sabtu dan minggu dari jam 10:00 hingga 14:30

            Selama 3 bulan saya PKL di Planetarium dan Observatorium Jakarta di Taman Ismail Marzuki, sejujurnya saya tidak tahu menahu tentang Astronomi karena kebetulan saya juga mengambil program IPS bwaktu saya sma dan semenjak di Planetarium lah saya baru belajar sedikit demi sedikit kira-kira selama sebulan PKL disana saya belajar agar saya dapat memandu dengan baik, setelah 1 bulan saya mendapat kesempatan untuk memandu murid sekolah dasar untuk memperkenalkan tentang Planetarium dari sejarah Planetarium itu sendiri sampai apa saja yang tersedia di sana, saya memandu dimulai  dari pintu depan yaitu dari polusi cahaya sampai pintu keluar, saya menerangkan itu semua kepada murid TK, SD,smp dan Umum.Untuk pertama kali saya akan memandu saya sangat gerogi namun saya yakin bisa dan lagi saat awal memandu saya di teman oleh Kakah Vienna pemandu asli di sana serta kak Fahmi.

Bila saya memandu murid TK dan SD saya selalu membawa permen di saku rok saya untuk memberikan nya kepada murid-murid yang saya anggap nurut dan mudah di atur serta murid-murid yang sulit di atur agar mau mendengarkan saya. Bisa dibilang menjelaskan kepada murid TK dan SD mudah karena materi yang disampaikan belum terlalu banyak seperti anak smp dan umum namun kesulitan nya adalah murid-murid TK dan SD  terlalu aktiv dan kita sebagai pemandu harus ekstra sabar dan pintar-pintar menghadapi mereka, selain aktiv mereka juga sangat imajinatif sampai-sampai saat saya menjelaskan tentang batu meteor yang pernah jatuh di rumah bapak sukinah ada salah satu anak yang membantahnya dan bilang kalau itu adalah batu akik bukan batu meteor dan dia ingin meminta batu itu di bawa pulang dan kelucuan itu lah yang bisa menjadi hiburan untuk saya dalam memandu dan ada lain nya lagi adalah ketika ada seorang anak laki-laki yang ingin membeli miniature roket yang ada disana dan berkata “ kak aku mau beli ini berapa harganya? Aku bawa duit banyak”  begitu polos dan lucu membuat saya ketawa sendiri, berhubung saya sangat suka anak kecil jadi saya sangat gembira bila memandu mereka.

                                            Gambar 2 : kopi, saya,susu dan jahe
                Salah satu pengunjung dari SD Swasta di daerah Jakarta Selatan yang menurut saya sangat friendly walau mereka sedikit ngeselin karena menjadikan saya bahan ejekan mereka terutama oleh kopi, nama asli mereka sebenarnya bukan itu namun mereka memperkenalkan diri dengan nama itu karena teman-teman mereka memanngil mereka dengan sebutan itu. Saya dan mereka banyak membuat topic pembicaraan dari seputar sekolah mereka, kakak dari si susu sampai-sampai ejekan-ejekan yang ditujukan untuk saya oleh mereka, namun tidak sedikit pun saya marah kepada mereka dan saya malah senang karena bisa menghibur mereka.

Gambar 3 : saya bersama TK Madinnah

Gambar 4 : saya bersama Ibrahim salah satu murid TK. Madinnah

                TK. Madinnah adalah TK.Swasta yang ada di daerah Jakarta, Murid – murid dari TK itu sangat menggemaskan dari yang laki-laki hingga yang perempuan selayaknya anak kecil murid-murid dari TK itu sangat aktiv dari lari-larian kesana kesini hingga bertanya-tanya tentang semua hal yang membingungkan bagi mereka walau awal-awal mereka seperti malu-malu terhadap saya tapi setelah saya memperkenalkan diri dan ajak mereka berfoto dan bercanda akhirnya mereka berani dan jadi sangat aktiv bertanya-tanya. Gambar 3 adalah kebersamaan saya, murid TK Madinnah dan guru-gurunya. yang unik dari murid-murid ini adalah saat saya ingin foto dengan mereka dan mereka bukan say “cheese” tapi mereka mengatakan “Madinnahhhh” dengan keras. Gambar 4 adalah kebersamaan saya dengan salah satu murid TK.Madinnah bernama Ibrahim dia sangat lucu dan tampan namun pemalu oleh karena itu biar menambah ke akraban saya dengan dia saya mengajak dia foto selfie dengan dia.
            Pengalaman lainnya adalah saat saya memandu anak-anak SMP dari luar kota dengan jumlah yang sangat banyak sampai membuat ruang pameran full dan saat saya menjelaskan tidak ada yang mau mendengarkan dan juga saking banyak nya dan mereka dari luar kota aroma di ruang pameran jadi tak sedap, panas dan juga mereka sangat sulit di beritahu dan asik sendiri dengan berfoto-foto terkadang itulah yang membuat kesabaran saya hilang dan karena saya emosi akhirnya saya keluar dari ruangan dan saat keluar mungkin salah satu guru mengkritik kalau rombongan mereka tidak dipandu dan akhirnya saya di panggil kembali dan hanya mengikuti mereka tanpa menjelaskan apapun. Sebagai pemandu menerima pujian bahkan keritik adalah hal yang sangat biasa. saya pernah di kritik oleh seorang ibu-ibu yang berkata Planetarium sekarang tak menarik lagi seperti dulu dan saya hanya bisa tersenyum dan berterima kasih atas keritikan nya. mungkin dari pihak saya pribadi saya sedikit kurang suka dengan bahasa ibu tadi yang seolah-olah dia kecewa namun perkataan nya memang benar dan tak ada yang bisa disalahkan atas semua ini karena pengelola Planetarium pun sudah semaksimal mungkin memberikan yang terbaik hanya saja kendala di dana yang tidak memungkinkan untuk memperbaikinya menjadi sangat memuaskan dan kita sebagai pemandu tidak perlu menjelaskan itu panjang lebar cukup mendengarkan,tersenyum dan mengusahakan dan merubah semua itu menjadi lebih baik agar bisa memuaskan pengunjung.
            Selain wisatawan domestik Planetarium juga sering kedatangan wisatwan asing yang merupakan murid pertukaran pelajar, tidak ada bedanya memandu mereka dengan memandu wisatawan domestic yang membedakan hanya lah bahasa. Kebetulan bahasa Inggris saya yang tidak terlalu fasih membuat saya tidak berani memandu mereka dan saya hanya bisa membantu sedikit apa yang mereka butuhkan seperti bebrapa waktu lalu saat saya masih PKL disana ada murid asing yang ingin ketoilet namun dia tidak bisa menggunakan toilet jongkok dia ingin toilet duduk dan satu-satu nya toilet duduk hanya ada di dalam kantor dan kantor hanya untuk pengelola bukan untuk umum tak terkecuali siapa pun, dengan sangat berat hati saya harus bisa menjelaskan itu semua kepada gurunya walau mungkin pihak mereka sedikit kecewa saya mengerti namun kebijakan tetaplah kebijakan. Berbicara tentang kebijakan atau peraturan banyak sekali pengunjung yang sulit untuk mematuhinya bahkan sudah sampai di tegor mereka masih saja tak acuh seperti membawa makanan atau minuman ke ruang pameran karena dapat mengotori ruang pameran belom lagi tangan-tangan iseng yang membuang sampahnya disekitar pameran bahkan kedalam pameran itu sendiri, sekali duakali saya akan mungkin saya akan berbicara baik-baik namun bila masih tak di sengar saya biasanya akan menyuruh nya keluar dengan cara halus dan pernah lagi saat pagi-pagi baru dateng sebelom pengunjung dateng saya melihat sekantong plastic sampah serta lalapan yang bercececeran di dekat salah satu pameran disitu saya sangan kesal bagaimana suatu fasilitas umum akan terlihat baik bila dari pengunjung nya saja tidak ikut menjaganya dan bila fasilitas umum terlihat buruk pengunjung lah yang mengkritiknya, terutama pengunjung domestik yang seperti itu. Selain soal sampah dan makanan pengunjung juga suka iseng mainkan replika yang membuat replika rusak “kalau saja setiap pengunjung iseng seperti itu apakah tidak rusak semua pameran yang ada disana?” pemandu dan pengelola kan hanya sedikit ayolah jadi pengunjung yang cerdas yang mempelajari dan mengambil ilmu yang ada di objek wisata tanpa merusak.

            Menjadi pemandu memang sangat sulit tidak ada yang bilang mudah selain kalian harus sangat menguasai materi yang akan kalian sampaikan kalian juga harus kreativ agar tidak membuat wisatawan merasa bosan serta membantu pengelola untuk menjaga apa yang ada di objek wisata tersebut. Tapi di balik kesulitan itu kalian akan tahu betapa gembira nya ketika kalian memandu dan dengar banyak orang seakan-akan kamu lah yang paling pintar di antara banyak orang disana belom lagi saat kalian bisa menghibur anak dari wisatawan untuk betah di objek wisata saat wisatawan kita sedang menikmati fasilitas yang ada di objek wisata tersebut lelah yang kalian rasakan pasti kan hilang dan berubah jadi kegembiraan dan belom lagi bila kalian mendapat pujian-pujian bukan dari wisatawan domestic saja bahakan dari wisatawan asing, begitu banyak orang yang akan kalian temua bila menjadi pemandu dengan berbagai suku, ras dan sifat yang berbeda-beda jadi usahakan lah kita bisa mengerti mereka dan bisa mengendalikan emosi.

Sekian tentang Pengalaman saya menjadi pemandu, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Mohon maaf bila banyak yang kurang dan Terimakasih

Shintia Novita DeviUsaha Jasa Pariwisata B 2014