Showing posts with label VinitoGanola. Show all posts
Showing posts with label VinitoGanola. Show all posts

Sunday, January 3, 2016

T3_Vinito Ganola_Palembang

Pariwisata Budaya Di Palembang

Pengantar

                Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera untuk kita semua. Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah swt atas rahmat dan berkahnya yang selalu bersama kita. Saya berterima kasih kepada kalian semua yang menyempatkan diri untuk membaca tulisan atau artikel yang mudah-mudahan bermanfaat dan menambah sedikit wawasan mengenai daerah yang akan saya bahas kali ini. Saya berterima kasih pula kepada bapak Shobirin yang telah membuka mata saya mengenai betapa indahnya dan hebatnya sejarah dan budaya yang ada di Nusantara ini.
                Adapun tujuan saya membuat tulisan dan artikel ini untuk memenuhi ketetntuan tugas dalam mata kuliah Wisata Budaya. Untuk itu saya berusaha semaksimal mungkin membuat tulisan yang baik dan sesuai fakta agar tidak menimbulkan masalah dan bisa menjadi referensi untuk kalian semua dalam melakukan perjalanan wisata. Sebelumnya daerah yang akan saya angkat dalam tulisan ini adalah kampung halaman dari Ibu saya yaitu Palembang.
                Saya berharap tulisan ini benar-benar bisa bermanfaat dan bisa menjadi bahan pertimbangan anda semua untuk mengunjungi Kota Palembang karena banyak tempat wisata budaya dan segala macam keunikan yang bisa ditemukan jika anda mengeksplor daerah tersebut dengan sebenar-benarnya. Untuk itu saya berterima kasih kepada kalian semua yang menyempatkan waktu untuk mambaca Artikel  ini.

Jakarta,  03 Januari 2016


Penyusun.




Pembahasan

1.) Deskripsi Destinasi


Jembatan Ampera via Google
                Kota Palembang adalah ibu kota provinsi Sumatera Selatan. Palembang adalah kota terbesar kedua di Sumatera setelah Medan. Kota Palembang memiliki luas wilayah 358,55 km² yang dihuni 1,7 juta orang dengan kepadatan penduduk 4.800 per km². Diprediksikan pada tahun 2030 mendatang Kota ini akan dihuni 2,5 Juta orang. Sejarah Palembang yang pernah menjadi ibu kota kerajaan bahari Buddha terbesar di Asia Tenggara pada saat itu, Kerajaan Sriwijaya, yang mendominasi Nusantara dan Semenanjung Malaya pada abad ke-9 juga membuat kota ini dikenal dengan julukan "Bumi Sriwijaya". Berdasarkan prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Bukit Siguntang sebelah barat Kota Palembang yang menyatakan pembentukan sebuah wanua yang ditafsirkan sebagai kota pada tanggal 17 Juni 688 Masehi menjadikan kota Palembang sebagai kota tertua di Indonesia. Di dunia Barat, kota Palembang juga dijuluki Venice of the East (Venesia dari Timur).
                Kota Palembang merupakan kota tertua di Indonesia berumur setidaknya 1382 tahun jika berdasarkan prasasti Sriwijaya yang dikenal sebagai prasasti Kedudukan Bukit. Menurut Prasasti yang berangka tahun 16 Juni 682. Pada saat itu oleh penguasa Sriwijaya didirikan Wanua di daerah yang sekarang dikenal sebagai kota Palembang. Menurut topografinya, kota ini dikelilingi oleh air, bahkan terendam oleh air. Air tersebut bersumber baik dari sungai maupun rawa, juga air hujan. Bahkan saat ini kota Palembang masih terdapat 52,24 % tanah yang yang tergenang oleh air (data Statistik 1990). Berkemungkinan karena kondisi inilah maka nenek moyang orang-orang kota ini menamakan kota ini sebagai Pa-lembang dalam bahasa melayu Pa atau Pe sebagai kata tunjuk suatu tempat atau keadaan, sedangkan lembang atau lembeng artinya tanah yang rendah, lembah akar yang membengkak karena lama terendam air (menurut kamus melayu), sedangkan menurut bahasa melayu-Palembang, lembang atau lembeng artinya genangan air. Jadi Palembang adalah suatu tempat yang digenangi oleh air. Kondisi alam ini bagi nenek moyang orang-orang Palembang menjadi modal mereka untuk memanfaatkannya. Air menjadi sarana transportasi yang sangat vital, ekonomis, efisien dan punya daya jangkau dan punya kecepatan yang tinggi. Selain kondisi alam, juga letak strategis kota ini yang berada dalam satu jaringan yang mampu mengendalikan lalu lintas antara tiga kesatuan wilayah:
·         Tanah tinggi Sumatera bagian Barat, yaitu : Pegunungan Bukit Barisan.
·         Daerah kaki bukit atau piedmont dan pertemuan anak-anak sungai sewaktu memasuki dataran rendah.
·         Daerah pesisir timur laut.
Ketiga kesatuan wilayah ini merupakan faktor setempat yang sangat mementukan dalam pembentukan pola kebudayaan yang bersifat peradaban. Faktor setempat yang berupa jaringan dan komoditi dengan frekuensi tinggi sudah terbentuk lebih dulu dan berhasil mendorong manusia setempat menciptakan pertumbuhan pola kebudayaan tinggi di Sumatera Selatan. Faktor setempat inilah yang membuat Palembang menjadi ibukota Sriwijaya, yang merupakan kekuatan politik dan ekonomi di zaman klasik pada wilayah Asia Tenggara. Kejayaan Sriwijaya diambil oleh Kesultanan Palembang Darusallam pada zaman madya sebagai kesultanan yang disegani dikawasan Nusantara.
                Ada tulisan menarik dari kronik Cina Chu-Fan-Chi yang ditulis oleh Chau Ju-Kua pada abad ke 14, menceritakan tentang Sriwijaya sebagai berikut :Negara ini terletak di Laut selatan, menguasai lalu lintas perdagangan asing di Selat. Pada zaman dahulu pelabuhannya menggunakan rantai besi untuk menahan bajak-bajak laut yang bermaksud jahat. Jika ada perahu-perahu asing datang, rantai itu diturunkan. Setelah keadaan aman kembali, rantai itu disingkirkan. Perahu-perahu yang lewat tanpa singgah dipelabuhan dikepung oleh perahu-perahu milik kerajaan dan diserang. Semua awak-awak perahu tersebut berani mati. Itulah sebabnya maka negara itu menjadi pusat pelayaran.
                Jadi bisa kita simpulkan bahwa banyak sekali asal usul sejarah bagaimana nama kota Palembang itu ada. Kota Palembang juga merupakan kota kedua terbesar setelah kota Medan. Di era sekarang Kota Palembang telah menjadi kota yang maju tetapi unsur sejarah masa lampaunya masih bisa terasa jika kita mengunjungi beberapa tempat wisata disana. Suku Melayu merupakan suku yang paling banyak mendiami daerah Palembang. Selain itu suku keturunan yang banyak mendiami kawasan-kawasan yang ada di daerah kota Palembang adalah suku keturunan Tionghoa, India dan Arab. Ini terbukti dari beberapa kawasan yang didominasi oleh suku keturunan tersebut seperti di daerah Kampung Kapitan yang di dominasi oleh suku keturunan Tionghoa dan di Kampung Al Munawwar yang di dominasi oleh suku keturunan Arab.
                 Wisata Budaya:
1. Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya
                Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya atau sebelumnya lebih dikenal dengan nama Situs Karanganyar adalah taman purbakala bekas kawasan permukiman dan taman yang dikaitkan dengan kerajaan Sriwijaya yang terletak tepi utara Sungai Musi di kota Palembang, Sumatera Selatan. Di kawasan ini ditemukan jaringan kanal, parit dan kolam yang disusun rapi dan teratur yang memastikan bahwa kawasan ini adalah buatan manusia, sehingga dipercaya bahwa pusat kerajaan Sriwijaya di Palembang terletak di situs ini. Di kawasan ini ditemukan banyak peninggalan purbakala yang menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat permukiman dan pusat aktivitas manusia.

TPKS via Google
                Secara administratif, situs Karanganyar terletak di Jalan Syakhyakirti, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Gandus, Palembang. Situs ini merupakan situs yang memiliki kekayaan dan nilai sejarah yang tinggi. Taman purbakala kerajaan Sriwijaya berdiri diatas dataran aluvial pada meander Sungai Musi, berhadapan dengan pertemuan sungai Musi dengan sungai Ogan dan Kramasan. Belahan utara Sungai Musi sudah sejak lama diketahui sebagi lokasi sejumlah situs arkeologi yang berasal dari abad ke-7 hingga ke-15 masehi, di antaranya adalah situs Kambang Unglen, Padang Kapas, Ladang Sirap, dan Bukit Seguntang yang terletak dekat dengan situs Karanganyar. Daerah ini memiliki ketinggian kurang dari 2 meter dari permukaan sungai Musi. Berada sekitar 4 kilometer di sebelah barat daya pusat kota Palembang, tepatnya di sebelah selatan Bukit Seguntang. Taman Purbakala ini dapat dicapai dari pusat kota Palembang dengan kendaraan umum dengan jurusan Tangga Buntung-Gandus.
                Di lokasi ini yang dipercaya sebagai sisa taman kerajaan masa Sriwijaya ini dijumpai berbagai macam artefak yang menunjukkan aktivitas keseharian masyarakatnya, seperti manik-manik, struktur batu bata, damar, tali ijuk, keramik, dan sisa perahu. Temuan-temuan tersebut diperoleh saat pembangunan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya maupun melalui kegiatan penyelamatan temuan di sekitar kawasan ini. Rekonstruksi atas fragmen keramik yang banyak ditemukan memperlihatkan adanya penggunaan, tempayan, guci, buli-buli, mangkuk, dan piring. Sedangkan berdasarkan rekonstruksi dari sisa gerabah menunjukkan pemanfaatan berbagai bentuk tungku atau anglo, kendi, periuk, tempayan, pasu, dan bahkan genteng. Kumpulan temuan-temuan ini menunjukkan betapa padatnya aktivitas keseharian masyarakat yang hidup di kawasan ini pada masa lalu.
Situs ini utamanya menampilkan struktur bangunan air berupa kolam, pulau buatan, dan parit yang keberadaannya menjadi bukti kehadiran manusia yang menetap dalam jangka waktu yang cukup lama. Diperkirakan penduduk yang dulu menghuni kawasan Karanganyar menggali kanal atau parit seperti parit Suak Bujang, baik untuk saluran drainase tata air penangkal banjir maupun sebagai sarana transportasi untuk menghubungkan daerah-daerah pedalaman di sekitar situs dengan sungai Musi.
Pada tahun 1985 dilakukan penggalian arkeologi dan berlanjut pada tahun 1989. Dari penggalian ini ditemukan banyak temuan pecahan tembikar, keramik, manik-manik, dan dan struktur bata. Berdasarkan hasil analisis keramik-keramik China yang ditemukan di kawasan ini berasal dari dinasti Tang (abad VII-X M), Sung (abad X-XII M), Yuan (abad XIII-XIV M), dan dinasti Qing (abad XVII-XIX M) yang umumnya terdiri dari tempayan, buli-buli, pasu, mangkuk, dan piring. Sedangkan penggalian yang dilakukan di Pulau Cempaka berhasil menampakkan kembali sisa bangunan berupa struktur bata pada kedalaman 30 cm dengan orientasi timur-barat. Berdasarkan interpretasi dan temuan dari foto udara tahun 1984 menunjukkan bahwa situs Karanganyar menampilkan bentuk bangunan air, yaitu jaringan kanal, parit, kolam serta pulau buatan yang disusun rapi. Dapat dipastikan situs ini adalah buatan manusia. Bangunan air ini terdiri atas kolam dan dua pulau berbentuk bujur sangkar dan empat persegi panjang, serta parit dengan luas areal meliputi 20 hektare. Serangkaian kanal, pulau buatan, dan bagian-bagian lainnya menampilkan situs Karanganyar sebagai karya arsitektur lansekap yang berkaitan dengan bangunan air.
2. Rumah Limas H. Bayumi
                Rumah Bari Palembang (Rumah Adat Limas) merupakan Rumah panggung kayu. Bari dalam bahasa Palembang berarti lama atau kuno. Dari segi arsitektur, rumah-rumah kayu itu disebut rumah limas karena bentuk atapnya yang berupa limasan. Sumatera Selatan adalah salah satu daerah yang memiliki ciri khas rumah limas sebagai rumah tinggal. Alam Sumatera Selatan yang lekat dengan perairan tawar, baik itu rawa maupun sungai, membuat masyarakatnya membangun rumah panggung. Di tepian Sungai Musi masih ada rumah limas yang pintu masuknya menghadap ke sungai.
Rumah panggung secara fungsional memenuhi syarat mengatasi kondisi rawa dan sungai seperti di Palembang, yang sempat dijuluki Venesia dari Timur karena ratusan anak sungai yang mengelilingi wilayah daratannya. Batanghari sembilan adalah sebutan untuk Sungai-sungai yang bermuara ke Sungai Musi. Sungai Ogan, Sungai Komering, Sungai Lematang, Sungai Enim, Sungai Hitam, Sungai Rambang, Sungai Lubay.Namun, seiring berjalannya waktu, lingkungan perairan sungai dan rawa justru semakin menyempit. Rumah- rumah limas yang tadinya berdiri bebas di tengah rawa atau di atas sungai akhirnya dikepung perkampungan.

Rumah Limas H.Bayumi via Google
Ada dua jenis rumah limas di Sumatera Selatan, yaitu rumah limas yang dibangun dengan ketinggian lantai yang berbeda dan yang sejajar. Rumah limas yang lantainya sejajar ini kerap disebut rumah ulu. Bangunan rumah limas biasanya memanjang ke belakang. Ada bangunan yang ukuran lebarnya 20 meter dengan panjang mencapai 100 meter. Rumah limas yang besar melambangkan status sosial pemilik rumah. Biasanya pemiliknya adalah keturunan keluarga Kesultanan Palembang, pejabat pemerintahan Hindia Belanda, atau saudagar kaya. Bangunan rumah limas memakai bahan kayu unglen atau merbau yang tahan air. Dindingnya terbuat dari papan-papan kayu yang disusun tegak. Untuk naik ke rumah limas dibuatlah dua undak-undakan kayu dari sebelah kiri dan kanan. Bagian teras rumah biasanya dikelilingi pagar kayu berjeruji yang disebut tenggalung. Makna filosofis di balik pagar kayu itu adalah untuk menahan supaya anak perempuan tidak keluar dari rumah.
                Rumah Limas H. Bayumi terletak di Jln. Mayor Ruslan, Palembang. Saat ini, rumah limas ini dimiliki oleh anak dari Bayumi Wahab yang tinggal di Jakarta, sehingga tak ada yang menempatinya. Jadi, jika anda ingin berkunjung anda bisa lapor ke satpam yang berjaga di tempat ini. Sayangnya anda tidak bisa masuk ke rumah ini jika anda hanya sendiri atau tidak dengan rombongan, sehingga hanya bisa melihat di bagian luar saja. Anda harus masuk dengan rombongan, hal ini diterapkan oleh pemiliknya, jika ingin masuk anda harus membayar Rp.100.000,00 untuk 1 rombongan yang berisikan 10 orang maksimalnya. Luas rumah ini dulu sekitar 100x20 meter, tetapi sekarang hanya tersisa hanya 25x8 meter. Salah satu tempat yang cocok untuk melihat rumah adat khas Palembang.
                Kesenian Khas Palembang:
1. kesenian Dul Muluk
                Kesenian Dul Muluk adalah salah satu kesenian teater daerah yang berasal dari warisan budaya Sumatera Selatan. Dulu kesenian ini sempat dianggap punah namun ternyata itu salah, masih banyak yang melestarikan walau peminatnya sedikit. Awal sejarahnya adalah Sejarah Singkat Awal mula kesenian ini muncul di masyarakat adalah dari seorang pedagang keturunan Arab yang bernama Syech Ahmad Bakar atau lebih popular di panggil Wan Bakar yang datang ke Palembang sekitar abad ke-20. Teater tradisional ini menceritakan tentang kisah Abdul Muluk Jauhari yang merupakan anak dari seorang sultan. Awalnya Wan Bakar sering menggelar teater sederhana di dekat rumahnya di Tangga Takat 16 Ulu Palembang. sejak saat itu banyak peminatnya dan mulailah ia diundang untuk mementaskan kesenian Dul Muluk ini di beberapa acara seperti pernikahan, khitanan, syukuran dan beberapa acara lain di Palembang. Lama kelamaan, makin banyak yang menyukai teater ini, sehingga bentuk dari kesenian ini makin berkembang dari tahun ke tahun. Mulai dari musik pengiring yang lebih banyak, pemeran yang tidak hanya di perankan oleh Wan Bakar saja, persiapan mulai dari pakaian, make-up dan lain sebagainya, sehingga sudah benar-benar tampak seperti teater.
                Pada tahun 1911, barulah kesenian Dul Muluk ini menggunakan dialog dan diperankan oleh beberapa orang. Sedangkan dulu hanya di perankan oleh Wan Bakar saja. Untuk pertama kalinya dengan dialog, Wan Bakar di bantu oleh beberapa muridnya yang di antaranya adalah Pasirah Nurhasan dan Kamaludin. Pementasan Dul Muluk, pertama kali di gelar pada tahun 1910, dan masih merupakan pementasan dengan bentuk yang masih asli hingga pada tahun 1930. Sedangkan pada tahun selanjutnya sudah sedikit tercampur oleh beberapa seniman dan bangsawan dari Jawa. Dul Muluk, mengalami masa kejayaan pada tahun 1960-1970 an, dimana pada masa itu, Dul Muluk sangat diminati dan terlihat dari munculnya puluhan grup Dul Muluk yang sering tampil di beberapa acara hajatan.

Dul Muluk via Google
                Jika kita bandingkan dengan kesenian di daerah lain yang mirip-mirip adalah Ketoprak dan ludruk yang berasal dari tanah Jawa. Waktu pementasan juga cukup lama sekitar 7 jam aslinya. Acara teater ini biasanya diiringi oleh alat musik rebana. Seakarang banyak ditambah dengan keyboard dan biola. Pengembangan Kesenian Warisan budaya seperti ini sangat disayangkan jika hanya harus berhenti pada suatu generasi tertentu, maka dari itu bagi anda yang ingin mengenal lebih dekat  kesenian teater tradisional ini bisa mendatangi beberapa sanggar Dul Muluk seperti :
- Sanggar Alon Jaya yang berlokasi di Jalan Ponorogo, di kecamatan Sukajaya Palembang
- Sanggar Srigunawan yang berlokasi di Jalan Bagus Kuning, Plaju
- Sanggar Bintang Sriwijaya yang berlokasi Jalan Musi II, Keramasan
- Sanggar Tunas Muda yang berlokasi di Jalan Sunan, Kertapati Masih banyak beberapa sanggar lain yang ada di Palembang dan sekitarannya.
2. Tari Gending Sriwijaya
                Gending Sriwijaya merupakan tari spesifik masyarakat Sumatera Selatan untuk menyambut tamu istimewa yang bekunjung ke daerah ini, seperti kepala negara, kepala-kepala pemerintahan negara sahabat, duta-duta besar atau yang setara itu. Tari tradisional ini berasal dari masa kerajaan Sriwijaya. Tarian yang khas ini mencerminkan sikap tuan rumah yang ramah, gembira dan bahagia, tulus dan terbuka terhadap tamu yang istimewa itu. Tarian digelarkan 9 penari muda dan cantik-cantik yang berbusana Adat Aesan Gede, Selendang Mantri, paksangkong, Dodot dan Tanggai.
Mereka merupakan penari inti yang dikawal dua penari lainnya membawa payung dan tombak. Sedang di belakang sekali adalah penyanyi Gending Sriwijaya. Namun saat ini peran penyanyi dan musik pengiring ini sudah lebih banyak digantikan tape recorder atau lainnya. Dalam bentuk aslinya musik pengiring ini terdiri dari gamelan dan gong. Sedang peran pengawal terkadang ditiadakan, terutama apabila tarian itu dipertunjukkan dalam gedung atau panggung tertutup. Penari paling depan membawa tepak sebagai Sekapur Sirih untuk dipersembahkan kepada tamu istimewa yang datang, diiringi dua penari yang membawa pridon terbuat dari kuningan. Persembahan Sekapur Sirih ini menurut aslinya dilakukan oleh putri Sultan atau bangsawan.

Tari Gending Sriwijaya via Google
Ini adalah lirik lagu dari Gending Sriwijaya:
Di kala ku merindukan keluhuran dulu kala
Kutembangkan nyanyi dari lagu Gending Sriwijaya
Dalam seni kunikmati lagi zaman bahagia
Kuciptakan kembali dari kandungan Maha Kala
Sriwijaya dengan Asrama Agung Sang Maha Guru
Tutur sabda Dharma pala Khirti Dharma Khirti
Berkumandang dari puncaknya Si guntang Maha Meru
Menaburkan tuntunan suci Gautama Buddha sakti
                Upacara Adat:
1. Pernikahan
                A. Perkawinan
                Melihat adat perkawinan Palembang, jelas terlihat bahwa busana dan ritual adatnya mewariskan keagungan serta kejayaan raja-raja dinasti Sriwijaya yang mengalami keemasan berpengaruh di Semananjung Melayu berabad silam. Pada zaman kesultanan Palembang berdiri sekitar  abad 16 lama berselang setelah runtuhnya dinasti Sriwijaya, dan pasca Kesultanan pada dasarnya perkawinan ditentukan oleh keluarga besar dengan pertimbangan bobot, bibit dan bebet.
                Berikut saya uraikan secara singkat :
a.       Madik Berasal dari kata bahasa Jawa Kawi yang berarti  mendekat atau pendekatan.
b.      Menyengguk atau sengguk berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya memasang “pagar” agar gadis yang dituju tidak diganggu oleh sengguk (sebangsa musang, sebagai kiasan tidak diganggu perjaka lain).
c.       Ngebet, Bila proses sengguk telah mencapai sasaran, maka kembali keluarga dari pihak pria berkunjung dengan membawa tenong sebanyak 3 buah, masing-masing berisi terigu, gula pasir dan telur itik. Pertemuan ini sebagai tanda bahwa kedua belah pihak keluarga telah “nemuke kato” serta sepakat bahwa gadis telah ‘diikat’ oleh pihak pria.
d.      Berasan dari bahasa Melayu artinya bermusyawarah, yaitu bermusyawarah untuk menyatukan dua keluarga menjadi satu keluarga besar. Pertemuan antara dua pihak keluarga ini dimaksudkan untuk menentukan apa yang diminta oleh pihak si gadis dan apa yang akan diberikan oleh pihak pria.
e.      Mutuske Kato adalah acara yang bertujuan untuk kedua pihak keluarga membuat keputusan dalam hal yang berkaitan dengan:”hari ngantarke belanjo” hari pernikahan, saat Munggah, Nyemputi dan Nganter Penganten, Ngalie Turon, Becacap atau Mandi Simburan dan Beratib.
f.        Nganterke belanjo adalah melakukan antaran minimal sebulan atau setengah bulan bahkan beberapa hari sebelum acara Munggah.
g.       Upacara Akad Nikah adalah menyatukan sepasang kekasih menjadi suami istri untuk memasuki kehidupan berumahtangga. Upacara ini dilakukan dirumah calon pengantin pria, seandainya dilakukan dirumah calon pengantin wanita, maka dikatakan ‘kawin numpang’. Akan tetapi sesuai dengan perkembangan masa, kini upacara akad nikah berlangsung dikediaman mempelai wanita. Sesuai tradisi bila akad nikah sebelum acara Muggah, maka utusan pihak wanita terlebih dahulu ngantarke keris ke kediaman pihak pria.     
2. Upacara Bekarang iwak
        Bekarang Iwak sendiri sebenarnya hampir tak berbeda dengan sedekah-sedekah adat lain yang biasa dilaksanakan oleh warga yang ada di kota-kota lain. Yang membedakan di sini hanyalah bahwa setelah diadakan beberapa ritual upacara adat dan makan bersama, kemudian disusul dengan acara menangkap ikan secara bersama-sama di sungai Lacak kelurahan Pulokerto seperti nama tradisi tersebut yaitu Bekarang = menangkap, dan Iwak = ikan.  
2.) Akses Destinasi
        Dari Jakarta anda bisa menggunakan berbagai macam jenis transportasi untuk menuju kota Palembang. Seperti pesawat, bus, mobil bahkan motor. Saya akan memberi sedikit info mengenai akses menuju destinasi yang saya jabarkan tadi, untuk lebih lengkapnya sebagai berikut :
a.  Untuk menuju taman purbakala kerajaan Sriwijaya bisa menggunakan angkot dengan jurusan Tangga Buntung yang dikenali dengan warna coklat. Bisa naik dari bawah Jembatan Ampera, tepatnya di samping BKB. Sangat mudah menemukan angkot-angkot ini. Setelah berjalan cukup jauh menyusuri daerah tangga buntung, anda bisa berhenti di pasar tangga buntung. Nah, disini anda bisa mencari angkot jurusan gandus dengan warna merah muda. Angkot ini akan mengantar anda langsung menuju ke wilayah TPKS, bahkan masuk ke gerbangnya karena TPKS sendiri terletak di kedua sisi jalanan. Untuk tiap angkot, anda cukup membayar Rp. 2500 saja. Sedangkan jika anda ingin membawa kendaraan sendiri, anda bisa melewati jalur lain selain jalur angkot tadi. Yaitu melalui Bukit Besar, menuju Jalan Parameswara. Di simpang 3 Parameswara, belok ke kiri dan ikuti jalan lurus sampai anda menemukan jembatan besar, yakni jembatan Musi II. Tapi anda tidak naik ke jembatan tersebut, melainkan mengambil jalan yang berbelok ke kiri. Ikuti saja jalan utama sampai anda akan menemukan gerbang masuk TPKS
b. Untuk menuju rumah Limas H.Bayumi bisa menggunakan  jika dari pusat kota anda bisa menggunakan angkutan umum berupa angkot. Anda bisa menggunakan angkot jurusan Ampera-Lemabang dari depan masjid agung dengan membayar ongkos Rp. 2500. Lalu turun di IBA. Setelah anda turun, anda sudah bisa melihat rumah limas ini, sedikit berjalan dan anda akan tiba di tujuan.


3.) Akomodasi
1. Hotel Aston Palembang
                Aston Palembang Hotel & Conference Center merupakan hotel bisnis dan konferensi bintang 4 dengan gaya yang berkomitmen terhadap standar internasional tertinggi, pelayanan yang luas dan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan para pelaku bisnis dan penyelenggaraan konferensi. Hotel terletak ditengah pusat kota.
2. The Arista Hotel International
                Hotel bintang 5 satu ini berlokasi di Jl. Kapt. A. Rivai, Sumatera Selatan, Ilir Barat, Palembang. Berjarak kurang lebih sekitar 10km dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Hotel ini sudah sangat populer di kalangan wisatwan maupun pebisnis yang singgah di Palembang. The Arista Hotel Palembang menawarkan 4 tipe kamar yang berbeda. Kamar paling murah yaitu Kamar Deluxe, ditawarkan mulai dari harga 900 ribuan. Dengan kamar seharga 900 ribuan ini anda sudah mendapatkan fasilitas kamar AC, ruangan bebas rokok, bar mini, TV satelit/ kabel, kulkas, kamar mandi shower, pengering rambut, pembuat kopi/ teh, fasilitas menyetrika, dan akses wifi gratis di setiap kamar. Semua kamar telah disedikan makan pagi dan wifi gratis. Untuk fasilitas mewah yang ditawarkan hotel bintang 5 di Palembang satu ini ada kolam renang anak, kolam renang luar ruangan, sauna, pijat, spa, lapangan golf, pusat kebugaran, dan taman bermain anak.
4.) Restorasi
                Pempek, makanan khas Palembang yang telah terkenal di seluruh Indonesia. Dengan menggunakan bahan dasar utama daging ikan dan sagu, masyarakat Palembang telah berhasil mengembangkan bahan dasar tersebut menjadi beragam jenis pempek dengan memvariasikan isian maupun bahan tambahan lain seperti telur ayam, kulit ikan, maupun tahu pada bahan dasar tersebut. Ragam jenis pempek yang terdapat di Palembang antara lain pempek kapal selam, pempek lenjer, pempek keriting, pempek adaan, pempek kulit, pempek tahu, pempek pistel, pempek udang, pempek lenggang, pempek panggang, pempek belah dan pempek otak - otak. Sebagai pelengkap menyantap pempek, masyarakat Palembang biasa menambahkan saus kental berwarna kehitaman yang terbuat dari rebusan gula merah, cabe dan udang kering yang oleh masyarakat setempat disebut saus cuka (cuko).
                Selain itu ada Tekwan, makanan khas Palembang dengan tampilan mirip sup ikan berbahan dasar daging ikan dan sagu yang dibentuk kecil - kecil mirip bakso ikan yang kemudian ditambahkan kaldu udang sebagai kuah, serta soun dan jamur kuping sebagai pelengkap. Untuk minuman bisa mencoba es kacang merah khas Palembang yang berbeda dari daerah lainnya.
5.) Souvenir

Songket via Google
                Untuk mencari souvenir anda bisa mengunjungi daerah Pasar 16 ilir baru karena disana terdapat kain Songket dan batik yang sangat terkenal.
Penutup
            Kesimpulan yang bisa diambil adalah Palembang merupakan daerah yang sangat menarik untuk dikunjungi dan dieksplorasi lebih dalam lagi karena menyimpan berbagai tempat wisata budaya, sejarah dan juga alam yang sangat indah dan informatif. Upacara adat yang ada juga sangat menarik untuk dilihat secara langsung dan tentu saja kuliner serta souvenir tidak boleh terlewatkan untuk dibawa pulang.
                Demikian yang dapat saya sampaikan, bila ada kesalahan atau kekhilafan mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung pembuatan artikel atau tulisan ini, sekali lagi saya ucapkan terima kasih dan semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semua.

Vinito Ganola
Usaha Jasa Pariwisata 2014 A
4423143923

vinitoganola@rocketmail.com






Daftar Pustaka:
http://palembang-tourism.com/ diakses 03 Januari 2015


Saturday, January 2, 2016

T5_VinitoGanola_Hasil observasi suku Baduy

Hasil Observasi Baduy

Perjalanan dari Marengo ke Cibeo

                Hallo semua, apa kabarnya? Semoga selalu sehat dan baik-baik saja. Senang rasanya untuk saya dapat berbagi pengalaman tentang bagaimana perjalanan dari Marengo atau tempat kami menginap menuju ke Cibeo,kawasan Baduy dalam. Perjalanan ini menurut saya cukup menyenangkan dan melelahkan karena perjalanan yang cukup jauh tetapi nanti kita akan disuguhkan pemandangan atau view yang menghapuskan rasa lelah dari perjalanan tersebut.
                Sebelum saya bercerita lebih jauh tentang perjalanan tersebut izinkan  saya memperkenalkan diri saya terlebih dahulu. Perkenalkan nama saya Vinito Ganola,mahasiswa usaha jasa pariwisata atau yang biasa disingkat dengan UJP angkatan 2014 kelas A. Saya lahir di Jakarta 19 tahun yang lalu. Travelling bagi saya adalah hal yang menyenangkan dan memiliki tantangan tersendiri bagi saya karena disetiap perjalanan mempunyai tingkatan kesulitan dan kesenangan yang berbeda. Selalu ada cerita ketika kita selesai melakukan sebuah perjalanan.
                Sedikit ingin mereview perjalanan ke Baduy kemarin, persiapan memang harus benar-benar disiapkan sebelum melakukan perjalanan ini karena medan atau trek yang akan dilewati cukup sulit dan pastinya melelahkan karena bukan hanya seperti jalan setapak saja tetapi jalanan berlumpur, berlubang, bebatuan siap menyambut kita dan kita harus naik turun beberapa bukit karena desa Cibeo cukup jauh dari desa Marengo. Perjalanan kami kemarin memakan waktu kurang lebih 4 jam.
                Kami berangkat menuju ke daearah Baduy dalam pada hari kedua dari trip kami. Saya sendiri bangun tidur pada pukul 05.30 lalu saya bersiap-siap melakukan perjalanan ke desa Cibeo. Pukul 06.00 kami serombongan sarapan di homestay masing-masing. Rasa kekeluargaan sangat terasa ketika saya dan teman-teman sarapan bersama si pemilik homestay dan keluarganya. Kami hanya makan secukupnya karena nanti terlalu kenyang dan bisa menghambat perjalanan kami. Setelah sarapan kami masih ada waktu sebentar untuk santai dan mempersiapkan segala keperluan di perjalanan. Akhirnya pada jam 07.00 kami mulai perjalanan setelah dibagi orang-orang ke tiap kelompok yang telah ditentukan agar tidak terlalu ramai saat diperjalanan. Saat diperjalanan kami sambil melatih dan mendapat penilaian tentang bagaimana cara kami memandu dan menyampaikan segala macam informasi kepada wisatawan, kebetulan say masuk di kelompok 2 bersama salah satu dosen yaitu Pak Dede. Kami serombongan memutuskan untuk berjalan pelan tetapi tidak banyak beristirahat agar sampai tepat waktu sesuai dengan yang ada di itinerary.
foto perjalanan kami sumberdari teman saya.
                 Disepanjang perjalanan kami melihat pemandangan yang berbeda-beda, mulai dari aliran sungai, perbukitan, hutan bahkan pegunungan. Jalanan yang kita lewati juga bukan jalanan yang sudah dibangun oleh manusia dengan baik, jalanannya masih bebatuan dan tanah bahkan kalau sedang hujan menjadi lumpur. Tetapi hambatan itu tidak akan menyurutkan semangat saya dan teman-teman untuk melanjutkan perjalanan menuju Baduy Lama khususnya desa Cibeo. Desa Marengo adalah salah satu desa yang ada di Baduy Luar. Tidak begitu jauh dari Ciboleger, daerah perbatasan Baduy Luar dengan daerah lainnya. Di desa Marengo kita bisa menemui orang-orang Baduy Luar yang masih lekat budaya dan adatnya didalam kehidupan sehari-hari. Contohnya para pria atau kepala keluarga harus bekerja ke ladang dan mencari bahan makanan untuk keluarganya masing-masing. Saya sendiri melihat hal yang unik yaiyu kepala keluarga di homestay yang saya tumpangi dating dari lading membawa duren dan gula aren buatan sendiri. Rumah-rumah di desa Marengo juga masih asli dan seperti ketentuan yang berlaku tetapi sudah boleh menggunakan paku, tidak seperti di Baduy Lama yang tidak diperbolehkan.
                Dari desa Marengo kami berjalan menyusuri jalan setapak bersama-sama sampai menemui salah satu hal unik, yaitu jembatan yang terbuat dari bambu kuning. Mengapa saya bilang unik? Karena jembatan ini dibangun diatas aliran sungai yang deras dan cukup dalam. Jembatan ini juga tidak menggunakan paku, hanya dililitkan dengan tali serabut. Ini termasuk bukti bahwa teknologi yang digunakan oleh orang suku Baduy sudah cukup maju karena bisa menciptakan jembatan yang kokoh tanpa teknik modern. Tetapi kita juga harus mengerti juga kalau jembatan ini tidak bisa digunakan sembarangan karena tetap ada batas beban yang bisa ditanggungnya. Kira-kira hanya sekitar 4 sampai 5 orang sekali lewatnya dan tidak boleh lebih karena dapat membahayakan keselamatan dan bisa merusak jembatan itu sendiri.
perjalanan yang menyenangkan sumber dari teman saya.
                Setelah melewati jembatan bambu kami tetap terus berjalan dan melewati beberapa perkampungan. Selama perjalanan kami melihat aktivitas-aktivitas orang asli Baduy Luar,seperti para pria yang lewat membawa hasil ladang dan juga bersiap ke ladang, para wanita sedang membersihkan rumah atau sedang menenun kain khas dari Baduy. Para anak-anak pun ada yang sedang bermain, menenun bahkan ada yang membawa hasil ladang pula. Di Baduy bukan hal yang tabu bila anak-anak sudah mulai ikut berladang atau menenun. Bagi saya pribadi hal yang unik selama perjalanan adalah bisa melihat aktivitas social dari masing-masing individu karena pasti di setiap daerah berbeda-beda walaupun ada sedikit atau banyaknya kesamaan.
                Yang cukup menantang dalam perjalanan ke Baduy dalam ini adalah naik turun bukit yang cukup menguras stamina. Kurang lebih 3 kali turun dan naik ke dataran yang tinggi dan rendah karena jalur yang dilalui masih sangat asli tidak seperti buatan manusia. Tetapi jika kita sampai diatas salah satu dataran yang lebih tinggi maka kita bisa melihat pemandangan yang luar biasa indahnya dan terasa udara yang cukup sejuk walau sinar mentari begitu terangnya. Kita juga melewati jalan yang dikiri dan kanannya terdapat lereng-lereng yang cukup menyeramkan tetapi uniknya ditanami oleh tumbuhan padi oleh warga sekitar. Setelah berjalan kurang lebih 2 jam lebih kita sampai di jembatan terakhir penyambung Baduy Luar dan Dalam. Disini segala macam benda elektronik harus dimatikan sesuai dengan peraturan adat yang berlaku. Sehabis melewati jembatan kita harus menanjak tanjakan yang curam karena tinggi dan cukup licin lalu berjalan lagi sekitar 30 menit dan kita disuguhi pemandangan yang bagus dan mulai terdengar suara dari bamboo yang dibolongi untuk mengetahui arah dan kecepatan angin. Ketika sudah mau memasuki daerah desa Cibeo kita akan melihat leuwit atau lumbung padi milik warga di desa Cibeo. Beras yang disimpan ada yang berumur sekita 50 tahun lebih dan masih layak untuk dimakan. Di perbatasan luar kampung Cibeo dan dalam kita harus menyebrangi sungai yang airnya layak untuk diminum. Akhirnya setelah melewati sungai sampailah kita di desa Cibeo. Disana kami disambut oleh warga asli dan disuguhi Duren khas Baduy. Kita berinisiatif untuk makan siang dan tidak lupa membersihkan sampahnya karena kebersihan harus selalu dijaga dimanapun kita berada. Salah satu tetua di kampung Cibeo mengajak kami berdiskusi mengenai hal-hal apa saja yang ada disana dan sekaligus bersilaturahmi.
                Sekian sedikit cerita dan informasi mengenai perjalanan kami ke desa Cibeo. Semoga kalian bisa mendapat informasi dan bisa merasakan pengalaman yang sama seperti yang kami rasakan. Semoga suatu saat saya bisa datang lagi dan berkunjung ke  tempat-tempat di Baduy yang belum saya kunjungi, sekali lagi mohon maaf apabila ada kesalahan dan sekali lagi terima kasih.

Vinito Ganola
Usaha Jasa Pariwisata 2014 Kelas A
4423143923

vinitoganola@rocketmail.com


Daftar pustaka :
“Urang Kanekes” . 1 Januari 2016. https://id.wikipedia.org/wiki/Urang_Kanekes

T2_Vinito Ganola_Solusi UNJ untuk Pariwisata Indonesia

T2_Vinito Ganola_Solusi UNJ untuk Pariwisata Indonesia

Solusi untuk mengembangkan rekreasi wisata

                Hai para traveler semua,semoga kalian semua tidak bosan membaca post yang saya buat ini ya, di postingan sebelumnya saya telah membahas tentang perjalanan dari desa Marengo ke desa Cibeo. Menurut saya perjalanan itu adalah perjalanan yang sangat berharga karena saya bisa bertemu dengan orang-orang dan lingkungan yang baru, sungguh sebuah pengalaman yang tidak bisa digantikan dengan apapun. Traveling memang salah satu cara untuk lebih paham mengenai segala macam di dunia ini.
                Sebelumnya kalian masih ingat dengan saya kan? Jika lupa izinkan saya untuk memperkenalkan diri saya lagi, nama saya Vinito Ganola salah satu mahasiswa di jurusan usaha jasa pariwisata Universitas Negeri Jakarta. Menurut saya Pariwisata adalah hal yang sangat menjanjikan, mengapa saya bicara seperti itu? Karena bukan menjanjikan bagi si penyedia jasa wisata saja tetapi juga menjanjikan bagi si customer karena dia bisa merasakan pengalaman baru terutama bisa menyegarkan pikiran kembali setelah jenuh atau terlalu fokus dengan pekerjaan yang biasa ia jalani sehari-hari. Berwisata sangat penting dilakukan walau hanya bisa sebentar atau 1 tahun sekali.
                Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk rekreasi atau liburan dan juga persiapan yang dilakukan untuk aktivitas ini. Seorang wisatawan atau turis adalah seseorang yang melakukan perjalanan paling tidak sejauh 80 km (50 mil) dari rumahnya dengan tujuan rekreasi. Itu menurut Organisasi Pariwisata Dunia, sedangkan menurut saya pribadi pariwisata adalah kegiatan yang dilakukan seseorang atau kumpulan orang untuk melakukan perjalan untuk men-refresh lagi pikiran atau mencari pengalaman baru yang belum tentu didapatkan jika tidak datang langsung dan mencobanya sendiri. Bertemu dengan lingkungan dan orang-orang khas daerah tersebut juga bisa menambah wawasan kita untuk bergaul dan pastinya menambah pengetahuan budaya seseorang.
                Di beberapa Negara termasuk Indonesia ini bergantung kepada pariwisata sebagai pemasukan utama untuk pembangunan kedepannya. Tetapi banyak pihak yang hanya mementingkan uang dibanding dengan memberikan pelayanan yang terbaik. Salah satunya mengorbankan kebersihan yang terkadang jauh dari semestinya. Bukan hanya kebersihan, tetapi banyak masalah yang terjadi di dunia pariwisata seperti sumber daya manusianya, sarana dan prasarana yang ada ditempat itu, pelayanan yang diberikan hingga komunikasi yang terjadi antara pegawai atau warga sekitar dengan customer.
                Saya akan membahas satu persatu masalah tersebut, dimulai dari kebersihan disuatu kawasan wisata. Kawasan wisata sudah semestinya bersih, tetapi karena tingkat kesadaran orang-orang mengenai kebersihan belum terlalu tinggi masih banyak tidak memperdulikan sampah yang ia buang sembarangan. Padahal sebenarnya mereka harus sadar karena membuang sampah sembarangan bisa merusak lingkungan sekitar dan merusak tempat wisata itu sendiri, itu sebenarnya bisa merugikan si wisatawan itu juga karena nanti suatu saat tempat wisata itu tidak bisa dikunjungi lagi dan bagi si pengelola atau warga sekitar itu merusak lingkungan dan sarana prasarana yang ada. Masalah kebersihan menurut saya harus benar-benar ditangani, menurut atasan saya ketika sedang PKL di Ancol masalah kebersihan terkadang menjadi masalah yang pelik bagi mereka karna luasnya daerah yang ada di Ancol sana maka harus secara cermat diamati dan ditangani bukan hanya sekedar dibicarakan tapi mereka juga mengerahkan petugas kebersihan yang cukup banyak untuk selalu membersihkan setiap sudut yang ada disana walau pasti masih ada beberapa tempat yang secara kebersihannya belum maksimal tetapi mereka sudah melakukan seoptimal mungkin.
                Di kawasan tempat wisata seperti Monumen Nasional (Monas) pun kalau sedang musim liburan bisa kita lihat sendiri bahwa kebersihan belum maksimal bukan hanya karena petugas kebersihan yang kurang tetapi karena masyarakat yang belum bisa memahami bahwa kebersihan itu sangat penting. Terkadang seseorang menyepelekan karena menurut mereka pasti nanti ada petugas yang membersihkan, padahal mereka tidak bisa mengandalkan begitu saja. Mereka memiliki peran juga dalam menjaga kebersihan dimanapun termasuk di tempat wisata apapun. Karena jika tempat wisata itu bersih maka akan lebih enak dan indah dipandang daripada jika tempat wisata itu kotor dan tidak enak dipandang.
                Dari segi sumber daya manusia (SDM) masih banyak tempat wisata yang tidak mempekerjakan atau mendatangkan seseorang yang tepat dan sesuai dengan job desk yang ditentukan oleh pihak pengelola, alhasil seperti yang bisa kita saksikan sendiri di tempat-tempat wisata yang ada banyak karyawan atau staff yang bekerja kurang maksimal dan tidak bisa menyesuaikan dengan apa yang ditentukan oleh si pengelola. Biasa yang terjadi dengan masalah sumber daya manusia adalah kesiapan dan kesalahan yang dilakukan seseorang dalam menjalankan tugas yang sesuai dengan job desknya, ini bisa menjadi sesuatu yang fatal apabila seorang karyawan melakukan kesalahan dalam tugasnya. Di dalam dunia pariwisata kesalahan sekecil apapun akan sangat fatal bila tidak ditangani dan diluruskan seperti semestinya, bisa anda bayangkan bila seorang karyawan melakukan kesalahan yang besar, dampak apa yang bisa terjadi dari kesalahan itu, menurut saya itu bisa membahayakan sekali bagi nama dan citra tempat wisata itu sendiri. Kurang fokus bisa juga menjadi salah satu faktor dari  kelalaian karyawan dalam melakukan tugas job desknya, kurang fokus bisa disebabkan oleh kurang jelasnya arahan dari atasan si karyawan tersebut juga. Tenaga ahli dalam satu bidang didalam dunia pariwisata sangat diperlukan karena jika tidak ada tenaga ahli maka hasil yang akan dibuat kurang maksimal dan tidak sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
               
                Sarana dan prasarana di suatu tempat wisata itu penting, tidak mungkin bagi suatu pengelola baik swasta maupun milik Negara mengelola suatu tempat wisata tanpa memperhatikan sarana dan prasarana yang ada ditempat wisata itu, contohnya seperti toilet, mushola bahkan masjid, ruang untuk ibu menyusui, restoran untuk wisatawan bahkan yang sedang naik daunnya adalah wifi corner atau internet gratis di kawasan tersebut serta jangan kita lupakan lahan parkir juga termasuk dalam sarana dan prasarana. Toilet sangat penting keberadaannya disekitar lingkungan wisata, hampir di seluruh tempat wisata menyediakan toilet tapi terkadang tidak sesuai dengan standar yang seharusnya. Mushola atau Masjid juga penting keberadaannya karena banyak orang tidak melupakan beribadah walau sedang berwisata. Di beberapa tempat wisata sudah mulai disediakan ruang menyusui karena pengelola mulai memahami kebutuhan bagi wisatawan yang sedang dalam menyusui anaknya yang masih bayi. Restoran atau setidaknya tempat jualan camilan dan lain-lainnya sangat penting keberadaanya, hal ini disebabkan ketika wisatawan sedang asyik menikmati waktu ditempat wisata lama kelamaan dia akan merasakan lapar dan haus, disinilah peran pengelola dibutuhkan untuk menyediakan tempat jualan atau restoran bagi wisatawannya namun juga tetap ada saja tempat yang tidak menyediakan restoran atau tempat jualan untuk kebutuhan wisatawan. Akhir-akhir ini tempat wisata sudah menyediakan fasilitas wifi atau internet gratis di beberapa titik bahkan diseluruh kawasannya karena ini salah satu nilai plus bagi pengelola bisa mengerti kebutuhan internet yang sudah menjamur dikalangan semua orang. Suatu lahan parkir di kawasan tempat wisata itu sangat penting, namun di beberapa destinasi wisata bisa kita jumpai lahan parkir yang tidak sesuai atau kurang layak dari semestinya.
                Pelayanan dalam dunia pariwisata itu yang paling utama, karena sebgai orang yang bekerja di dunia Pariwisata kita tidak boleh mengabaikan dan tidak melayani wisatawan yang. Namun saya pernah melihat beberapa kasus dimana pekerja ditempat wisata itu kurang optimal dan efektif dalam hal melayani. Jadi si wisatawan tersebut dibiarkan begitu saja dengan pelayanan yang seadanya. Ini bisa jadi masalah yang cukup pelik karena ini bisa mengancam nama dari tempat wisata itu sendiri, seperti kita ketahui iklan yang terbaik itu berdasarkan dari mulut ke mulut yang dalam artiannya dari orang ke orang. Ketika seorang wisatawan merasa dikecewakan oleh pelayanan di suatu tempat wisata itu maka dia akan memberi penilaian yang buruk dan menyebarkan penilaiannya itu ke orang lain. Orang lain yang diberi tahu oleh wisatawan yang dikecewakan itu akan berfikir dua kali untuk datang ke destinasi wisata tersebut karena memiliki pelayanan yang buruk. Maka dari itu pelayanan yang buruk dan tidak sesuai dengan standar yang telah ditentukan akan berbahaya bagi nama dan kredibilitas suatu destinasi wisata tersebut. Sering juga kita temui masalah komunikasi antara karyawan di destinasi wisata itu dengan customer. Masalah komunikasi yang biasa terjadi adalah karyawan di destinasi wisata tersebut tidak bisa memahami keluhan yang disampaikan oleh si wisatawan lalu karyawan itu tidak bisa menahan emosinya, padahal semestinya tidak boleh bagi seseorang yang bekerja di dunia pariwisata untuk mengedepankan emosinya. Emosi dan perasaan harus selalu ditahan agar tetap bisa bekerja secara profesional dan mendapat hasil yang memuaskan.
                Saya diatas telah membahasa tentang masalah yang terjadi dan sedikit penjelasannya, maka saya akan memberikan solusi yang berasal dari pemikiran saya. Mari kita bahas dari masalah yang pertama, yaitu masalah kebersihan di destinasi wisata, menurut saya mengenai kebersihan itu harus selalu dijaga, bukan hanya dari pengelola yang menjaga kebersihan tetapi dari wisatawan yang menikmati di destinasi wisata itu harus ikut menjaga. Pengelola di destinasi wisata tersebut dapat meningkatkan kebersihan dengan cara menambah tenaga kerja untuk uusan kebersihan, memperbanyak tempat sampah dilingkungan area destinasi wisata agar wisatawan tidak susah atau menjadi malas membuang sampah ditempatnya. Pembedaan sampah organik dan non organik juga baik untuk dijalankan karena nanti akan lebih mudah dikelolanya. Pengelola juga bisa menambahkan papan informasi yang berisikan ajakan untuk tidak membuang sampah sembarangan.
                Untuk masalah yang kedua yaitu masalah sumber daya manusia pihak pengelola destinasi wisata bisa mencari dan mempekerjakan orang yang tepat dengan job desk yang ditentukan, jangan sampai mempekerjakan orang yang tidak fit dan tepat dengan job desk yang diperlukan. Dengan mempekerjakan orang yang tepat maka kesalahan akan dapat diminimalisir bahkan tanpa cacat sekalipun. Jika tidak ada kesalahan maka nama dan citra dari destinasi wisata tersebut tidak akan tercoreng dan kemungkinan besar tempat wisata itu akan lebih maju dari sebelumnya. Apabila terjadi kesalahan maka bisa ditangani secara cepat dan tepat tanpa harus memakan waktu yang lama karena ada tenaga ahli yang bisa menanganinya.
                Masalah yang ketiga bisa ditangani dengan mengadakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Toilet itu harus ada dan tidak boleh dalam keadaan yang tidak bersih, harus sesuai dengan standar kebersihan yang tepat. Untuk mushola dan masjid juga harus tersedia untuk wisatawan menjalankan kegiatan beribadah sambil berwisata. Ruang menyusui disediakan pula dan restoran atau setidaknya tempat jualan makan juga harus ada untuk memenuhi kebutuhan konsumsi makanan dan minuman wisatawan, lebih baik apabila bisa mejajahkan makanan khas dari sekitar lingkungan wisata tersebut. Wifi juga bisa menjadi suatu kelebihan di tempat wisata, itu juga menjadi daya tarik karena di era modern seperti ini internet sangat diperlukan oleh semua orang dan semua kalangan. Lahan pakir di destinasi wisata juga harus disediakan sesuai dengan kapasitas yang bisa diperkirakan karena tidak mungkin kita hanya menyediakan lahan parkir yang seadanya dan tidak layak. Bisa kita lihat sendiri contohnya di Ancol, pihak pengelola telah menyediakan lahan parkir yang layak dan sesuai kapasitas di setiap objek-objek wisatanya karena mereka ingin memberikan yang terbaik bagi para customernya. Ini bisa ditiru dan dijadikan contoh oleh pengelola-pengelola tempat wisata didaerah-daerah lainnya. Sarana dan prasarana kerap kali menjadi kelemahan di destinasi wisata karena mereka belum meningkatkan dan membuat sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh wisatawan yang datang. Padahal wisatawan bukan hanya menikmati daya tarik yang diberikan oleh destinasi wisata tersebut, mereka juga ingin menikmati sarana dan prasarana yang ditawarkan. Hampir tidak mungkin wisatawan tidak menggunakan salah satu dari sekian sarana dan prasarana yang ada di destinasi wisata. Sebagai contohnya pasti wisatwan menggunakan toilet atau lahan parkir setidaknya. Menurut saya bisa juga destinasi wisata menjual produknya dengan cara lewat mengenalkan makanan dan minuman khas daerah tersebut. Selain mendapatkan profit mereka juga bisa mengenalkan daerah dari tempat wisata tersebut. Ini adalah salah satu cara menambah profit sekaligus mengenalkan kekayaan khas dari daerah masing-masing tempat wisata tersebut. Sebagai contoh yang mudah kita bisa melihat dan datang langsung kekawasan monas atau setu babakan, ditempat itu kita bisa melihat banyak penjajah makanan yang telah bekerja sama dengan pengelola untuk menjual makanan dan minuman khas dari daerah itu yang kita ketahui adalah daerah DKI Jakarta. Makanan dan minuman yang ditawarkan adalah seperti kerak telur,ketoprak dan bir pletok. Sepengetahuan saya mereka berjualan dengan harga yang tidak begitu mahal dan disajikan senikmat mungkin agar wisatawan tertarik mencobanya dan bisa merasakan kekayaan kuliner khas dari DKI Jakarta ini. Istilahnya sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.
                Untuk masalah yang terakhir menurut saya pelayanan harus selalu di utamakan karena modal utama dari bisnis di dunia kepariwisataan adalah melayani. Bukan hanya sekedar melayani yang biasa-biasa saja tetapi harus melayani dengan “luar biasa”. Maksud dari luar biasa itu adalah harus bekerja melayani lebih daripada yang biasanya agar wisatawan bisa merasakan pengalaman wisata yang benar-benar tidak bisa dilupakan. Modal utama melayani bukan hanya kemauan tetapi juga mampu melayani atau istilahnya capable, karena jika cuma mau hasilnya akan tidak baik jadi harus mampu dalam menghandle kemauan dari wisatawan tersebut. Seperti bisa memberikan pemanduan yang benar-benar memilki informasi yang tepat dan tidak asal-asalan, bisa juga menjawab dan memberikan solusi atas ketidak nyamanan dari wisatawan tersebut. Apabila kita bisa menghandle dengan tepat maka secara cuma-cuma wisatwan mengiklankan tempat wisata tersebut kepada rekan-rekannya karena pelayanan yang diberikan sangat memuaskan dan diatas rata-rata tempat wisata lainnya. Saya memiliki sedikit tips bagaimana mengatasi kekesalan wisatawan akibat kelalaian dari kita. Yang pertama kita harus menenangkan atau meredam amarah dari wisatawan itu karena tidak akan maksimal hasilnya apabila kita menjelaskan solusi kepada orang yang sedang emosi. Kedua kita dengarkan dengan baik permasalahan apa yang disampaikan wisatawan tersebut atas ketidakpuasaan dari pelayanan yang kita berikan, jangan sekali-sekali memotong pembicaraan mereka karena akan menimbulkan emosi kembali dari mereka. Ketiga beri jawaban yang sesuai atas keluh kesah mereka dan jangan berbelit-belit, harus dengan tepat dan cepat kita menanganinya. Dan yang terakhir kita bisa memberi compliment atas kesalahan yang telah kita buat dengan cara memberi voucher, souvenir dan lain-lain secara gratis agar mereka tidak mengungkit masalah itu lagi. Tapi hal ini bukan ditujukan untuk menyogok atau bribe bagi wisatawan itu, kita harus menganggap itu sebagai rasa penyesalan yang telah kita perbuat terhadap mereka, setelah itu kita harus mereview apa saja kesalahan yang telah kita perbuat dan harus kita camkan bahwa kesalahan seperti itu tidak boleh terulang lagi karena kita sudah mengerti cara menghindari masalah tersebut atau jika memang terulang lagi kesalahan yang sama sperti yang pernah dialami maka kita mengerti cara menanggulangi secara cepat dan tepat tanpa memakan waktu yang lama. Ingat bahwa waktu itu benar-benar berharga di dalam dunia pariwisata. Telat sangat harus dihindari dalam kegiatan wisata kecuali terjadi kejadian yang tidak bisa diperkirakan manusia seperti bencana alam dan lainnya. Ada pepatah yang mengatakan bahwa “Time is Money” dan menurut saya itu sangat tepat dan menjadi patokan utama dalam setiap melakukan segala macam kegiatan.
                Demikian beberapa uraian saya mengenai apa saja yang terjadi di dalam dunia kepariwisataan. Sebenenarnya masih banyak hal yang bisa terjadi tetapi tidak mungkin untuk saya bahas semua dalam tulisan saya kali ini, semoga di waktu lain saya dapat membuat artikel atau tulisan yang lebih bermanfaat dan bisa menjadi bahan bacaan yang menarik bagi kalian semua. Saya menyadari bahwa saya masih jauh dari kesempurnaan dalam mengemukakan pendapat dan solusi, untuk itu saya meminta maaf apabila tulisan saya tidak sesuai dengan pemikiran dan pengetahuan anda. Saya berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung saya untuk menulis artikel ini. Jika anda memiliki komentar dan cara berfikir yang lebih tepat jangan ragu-ragu untuk berkomentar dan berbicara sebebas-bebasnya karena kita hidup di era yang sudah bebas untuk berargumen dan mengemukakan pendapat sesuai pemikiran kita masing-masing. Saya berharap dikemudian hari di seluruh destinasi wisata budaya, pendidikan dan lain sebagainya dapat berkembang sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh wisatawan karena bukan hanya uang yang kita peroleh tetapi juga harus memberikan timbal balik antara lain pelayanan dan unsur-unsur pendukung yang sesuai dengan apa yang dibayarkan oleh wisatawan tersebut. Untuk itu terima kasih atas kesediaan kalian semua dalam meluangkan waktu membaca artikel ini dan sampai jumpa di tulisan saya yang lainnya.

Vinito Ganola
Usaha Jasa Pariwisata 2014 Kelas A
4423143923

vinitoganola@rocketmail.com

Daftar Pustaka
“Pariwisata” . 1 Januari 2016. https://id.wikipedia.org/wiki/Pariwisata