Showing posts with label Tugas 5. Show all posts
Showing posts with label Tugas 5. Show all posts

Sunday, January 3, 2016

T4_VinitoGanola_Kota di Jawa

Kota Pasuruan

                Hai Traveller, saya Vinito Ganola kembali lagi untuk menceritakan tentang sebuah kota di Jawa Timur yaitu Kota Pasuruan,sebelum itu saya berterima kasih kepada kalian semua yang sudah menyempatkan sedikit waktu membaca tulisan atau artikel ini.
                Kota Pasuruan adalah sebuah kota yang terletak di provinsi jawa Timur Kota ini terletak 60 km sebelah tenggara Surabaya, ibu kota provinsi Jawa Timur dan 355 km sebelah barat laut Denpasar, Bali. Seluruh wilayah Kota Pasuruan berbatasan dengan Kabupaten Pasuruan. Kota Pasuruan berada di jalur utama pantai utara yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Bali yang menjadikannya sebagai kota dengan prospek ekonomi yang besar di kawasan Indonesia bagian timur.
Peta Wisata via Google

                Pasuruan di masa lalu dikenal dengan nama ‘Paravan’ Orang Tionghoa menyebut Pasuruan sebagai Yanwang atau Basuluan. Ada juga yang menyandingkan nama Pasuruan dengan kata ‘Pasar dan ‘Oeang’. Ini tidak lepas dari ramainya perdagangan di Pasuruan dengan adanya Pelabuhan Tanjung Tembikar, sehingga mampu menarik banyak kaum pedagang untuk datang ke Pasuruan. Berkat pelabuhan ini pulalah di masa lalu Kota Pasuruan menjadi salah satu pusat terjadinya transaksi dagang antar pulau di kawasan timur nusantara.
            Perkembangan kesejarahan Kota Pasuruan tidak bisa dilepaskan dari keseluruhan sejarah Pasuruan. Seperti naik tahtanya Untung Suropati sebagai salah seorang raja Pasuruan. Ataupun Adipati Dharmoyudo yang secara turun temurun pernah menjadi penguasa Pasuruan. Namun secara legalitas formal, kepastian mulai adanya Pemerintah Kota setelah dibentuknya Residensi Pasuruan pada 1 Januari 1901 oleh Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian ditindaklanjuti pembentukan Kota Praja (Gementee) Pasuruan seperti termaktub dalam  Staatblat 1918 No. 320 dengan nama Stads Gementee van Pasoeroean pada tanggal 20 Juni 1918.
                Destinasi wisata yang terdapat di Kota pasuruan ada beberapa macam,seperti:
1.Candi jawi
Candi Jawi via google

                Candi Jawi adalah candi yang dibangun zaman Kertanegara, Raja terakhir Singasari, sekitar abad ke-13. Letaknya di desa Candi Wates, Tretes, Pandaan, Prigen, hanya 40 menit dari Surabaya. Arsitektur Candi Jawi perpaduan Hindu dan Budha. Bagian puncaknya berupa stupa. Candi Jawi dibangun dari batu andesit. Tinggi Bangunan Candi 24,50 meter, panjang 14,20 meter dan lebar 9,50 meter. Candi Jawi merupakan tempat pedharmaan atau penyimpanan abu dari Raja Kertanegara. Seluruh kompleks Candi Jawi terhampar di atas lahan seluas 40 x 60 meter persegi serta dikelilingi pagar bata setinggi dua meter. Bangunan candi dilindungi parit yang banyak dihiasi oleh bunga teratai. Bentuk candi berkaki Siwa dan berpundak Buddha dengan ketinggian sekitar 24,5 meter dengan panjang 14,2 m serta lebar 9,5 m.


2.Candi Gunung Gangsir
Candi Gunung Gangsir

                adalah sebuah candi yang terletak di Dukuh Kebon Candi, Desa Gunung Gangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Nama candi ini masih merupakan mitos penduduk sekitar, yaitu bahwa nama 'gunung' diambil dari keberadaan bangunan candi ini pada masa lampau yang dilingkupi oleh gunung. Sedangkan kata gangsir (Jawa: nggangsir) berarti menggali lubang di bawah permukaan tanah. Menurut keterangan penduduk, nama ini muncul ketika pada suatu saat ada seseorang yang berusaha 'menggangsir' gunung ini untuk mencuri benda-benda berharga di dalam bangunan candi ini. Maka dikenallah bangunan candi ini dengan nama Candi Gunung Gangsir.
3.Gunung Bromo
Bromo via Google

                adalah sebuah gunung berapi aktif di Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang. Gunung Bromo terkenal sebagai obyek wisata utama di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif. Gunung Bromo termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.
4.Air Terjun Kakek Bodo
Air terjun Kakek Bodo via Google
                Air terjun Kakek Bodo dengan tinggi 50 meter ini adalah air terjun yang paling mudah dijangkau baik dari segi lokasi maupun dari segi akses langsung ke air terjunnya, karena terletak di Tretes, Kecamatan Prigen.  Air terjun Kakek Bodo ini dikelilingi oleh bebatuan yang di topang oleh banyak akar pepohonan, nuansa semi hutan yang rindang dan sejuk sangat terasa saat menjelajah wilayah air terjun ini. Terdapat pula makam Kakek Bodo, asal dari nama air terjun ini bermula. Makam Kakek Bodo terletak di sebelah timur jalan setapak yang akan mengantar pengunjung ke puncak air terjun, yang hanya berjarak 100 meter. Pengunjung yang datang ke air terjun Kakek Bodo akan bisa menikmati waktu yang ada dengan bermain di sekitar air terjun, atau mandi di bawah kucuran air terjun, atau hanya sekedar duduk dan menikmati suasana yang teduh dengan orang tercinta.
5.Pertirtaan Belahan
Pertirtaan Belahan via Google

                Petirtaan Belahan, lebih dikenal dengan candi Belahan adalah sebuah pemandian bersejarah dari abad ke 11, di masa kerajaan Airlangga. Petirtaan Belahan terletak di sisi timur gunung Penanggungan, tepatnya di Dusun Belahan Jowo, Wonosunyo, Kecamatan Gempol. Menurut sejarah, selain sebagai tempat pertapaan Prabu Airlangga, petirtaan ini juga di fungsikan sebagai pemandian selir-selir Prabu Airlangga. Oleh karena itu, sebagai bentuk pengabdian dibangunlah 2 patung permaisuri Prabu Airlanga, yaitu Dewei Laksmi dan Dewi Sri. Pada dua patung tersebut, mengalir aliran air dari bentuk Payudara patung, dan karenanya petirtaan ini terkadang di sebut sebagai Sumber Tetek (Tetek : Payudara, Jawa)
                Nah Unik-unik dan menarik sekali pasti objek-objek wisata yang ada di kota Pasuruan ini. Pasti sangat menyesal apabila tidak dikunjungi dan tidak merasakan pengalaman yang berbeda dari biasanya. Potensi wisata yang dimiliki daerah Pasuruan sangat besar, banyak yang belum mengetahui keindahan dan pesona Nusantara yang ada di daerah Pasuruan. Saya berharap bagi kalian semua yang telah membaca artikel ini bisa menjadikan kota Pasuruan sebagai tujuan destinasi liburan utama kalian. Terima kasih yang telah menyempatkan waktu untuk membaca artikel ini dan semoga bermanfaat bagi kalian semua, sekali lagi terima kasih dan mohon maaf apabila ada kesalahan dalam artikel ini.

Vinito Ganola
Usaha Jasa Pariwisata 2014 A
4423143923
vinitoganola@rocketmail.com

Daftar pustaka:
http://www.pasuruankota.go.id/menu/78.html diakses pada 03 Januari 2015 pukul 17.00
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Pasuruan diakses pada 03 Januari 2015 pukul 17.24
http://www.eastjava.com/tourism/pasuruan/ina/kakek-bodo.html diakses pada 03 Januari 2015 pukul 18.25

TUGAS 5_BAYU HARIYANTO_OBSERVASI BADUY


"Pengalaman tinggal bersama orang Baduy di Marengo"

Assalamualaikum waromatullahi wabarokatu. Selamat siang dunia selamat siang Indonesia dan semua keluarga besar Usaha Jasa Pariwisata Universitas Negeri Jakarta. Sangat senang rasa nya pada kesempatan kali ini saya dapat sedikit memberikan pengalaman saya tentang hasil observasi yang berada di Baduy pada tanggal 22-24 desember 2015 bersama angakatan kami 2014 Usaha Jasa Pariwisata besertadosendosen yang  kami cintai. selain melakukan tugas pada mata kuliah wisata budaya ini kami bahkan saya sendiri mendapat sangat banyak pengalaman yang menurut saya itu tidak di kota kota besar seperti yang saya tinggali di Ibu Kota ini, baik Baduy luar ataupun Baduy dalam. Tapi pada kesempatan saya kali ini saya hanya memfokuskan pengalaman tinggal bersama orang baduy di suatu kampong Marengo yang lebih tepatnya masih berada di Baduy luar. Walaupun sedikit berbeda dengan peraturan yang ada di Baduy dalam, hal itu sama sekali tidak merubah kehidupan mereka dari mata pencaharian, cara mereka bermasyrakat, berkomunikasi atau cara berinteraksi, budaya mereka masih sangat kental dan melekat di masyrakat baduy itu sendiri. Sebuah masyarakat yang sangat mengapdi pada tuhan dan memegang erat ajaran leluhur mereka, itupun masih diperlakukan sampai saat ini,
            
Baiklah saya kira sudah cukup untuk pembukaansaya, sampai lupa untuk memperkenalkan diri saya sendiri, sebelum nya nama lengkap saya adalah Bayu HariyantoYudistira biasa teman teman saya ataupun keluarga memanggil saya “Bayu” ,  saya mahasiswa D3 Usaha Jasa Pariwisata 2014 di Universitas Negeri Jakarta, untuk saat ini saya sedang menjalani kuliah di semester 3, dimana semester tersebut yang menurut saya atau bahkan bukan hanya saya teman teman saya pun ikut merasakannya bahwa di semester 3 ini benar benar menguras tenaga dan otak. Tapi seiring berjalannya waktu dan ini pun sudah berada di akhir semester 3 dimana puncak tingkat kesetressan teman teman saya di uji. Tapi bagaimanapun itu harus tetap kita jalani karna itu semua demi masa depan saya pribadi dan teman teman saya. Baiklah saya kira sudah cukup perkenalan dan basa basinya saya akan memulai berbagi pengalaman dengan kalian semua bagi yang membacanya, terutama bagi semua insan pariwisata. Pengalaman tentang tinggal bersama masyarakat baduy luar tepatnya di “Desa Marengo”.
            Teman teman sekalian pasti sudah banyak yang mengenal kampung adat ini yang berada diwilayah Kabupaten Lebak, Banten dengan populasi merekasekitar 5.000 hingga 8.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk difoto, khususnya penduduk wilayah Baduy dalam. Urang Kanekes, Orang Kanekes atau orang Baduy/Badui adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda.
            Desa Marengo kampung adat yang berada di Baduy Luar. Baduy luar tentu saja kalian pun pasti sudah tau baduy luar dan baduy dalam memenag sebetulnya sama tapi ada beberapa yang membedakan masyrakat baduyluar dan baduy dalam. Baduy luar ini merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Baduy Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkanya warga Baduy Dalam ke Baduy Luar. Pada dasarnya, peraturan yang ada di baduy luar dan baduy dalam itu hampir sama, tetapi baduy luar lebih mengenal teknologi dibanding baduy dalam.


Penyebab:
  •  Mereka telah melanggar adat masyarakat Baduy Dalam.
  •  Berkeinginan untuk keluar dari Baduy Dalam
  • Menikah dengan anggota Baduy Luar


Proses Pembangunan Rumah penduduk Baduy Luar telah menggunakan alat-alat bantu, seperti gergaji, palu, paku, dll, yang sebelumnya dilarang oleh adat Baduy Dalam.
Menggunakan pakaian adat dengan warna hitam atau biru tua (untuk laki-laki), yang menandakan bahwa mereka tidak suci. Kadang menggunakan pakaian modern seperti kaos oblong dan celana jeans.

            22 Desember 2015, dimana itu kita semua satu angkatan 2014 melakukan observasi memenuhi tugas pemanduan wisata budaya , untuk keberangkatan mungkin tidak begitu penting untuk saya jelaskan, karena itu perjalanannya tidak termasuk jauh dari kediaman kita atau tempat awal keberangkatanya itu dari kampus kita sendiri Universitas Negeri Jakarta. Singkat cerita setibanya kita ditempat pemberentian awal yaitu “ciboleger” disitulah tempat perbatasan utnuk memasuki Baduy Luar… dari tempat Ciboleger itu kita semua melakukan berjalan kaki menuju daerah Baduy Luar atau lebih tepat nya kita ketempat Homestay kita untuk menginap selama observasi berlangsung. Homestay yang kita tepati di Desa Marengo Baduy luar dari perjalanan ciboleger menuju Desa Marengo itu cukup jauh menurut perkiraan saya pada saat berjalan kaki itu sekitar 1jam berjalan kaki tanpa berhenti, itu untuk ukuran kita yang bukan orang Baduyya, mungkin kalau orang Baduy dalam asli itu hanya kisaran 15 menitan.
            Masih dihari yang sama ketika kami semua sampai di homestay di desa Marengo, disana kami diberi homestay rumah warga untuk menginap selama observasi tugas kami berlangsung dan kami semua sangat disambut hangat pada warga desa Marengo tersebut dari tutur Bahasa sunda yang saya sendiri tidak begitu menguasai bahasa mereka tapi sedikit sedikit saya dapat memahami dari apa yang mereka katakan tutur kata yang sopan dan dengan fasilitas yang diberikan itu sangat membuat kami betah bahkan nyaman. Bukan hanya itu kami pun di beri aturan aturan dari apa yang tidak boleh dilakukan dan apa saja yang sepantasnya kita lakukan disana hal itu sangat penting bukan hanya untuk pembelajaran untuk kami melain kan menjadi pandangan hidup bahwa kita sebagai umat muslim harus bersyukur dalam hal apapun.
Warga disana pun sangat memegang teguh ajaran leluhur mereka, dan dari hal itu kami baru mengerti tentang ajaran ajaran dan peraturan  di desa tersebut itu sangat berbeda dengan tempat tinggal kami yang berada di Ibukota.
Disana kita semua dibagi kelompok dan menempati 5 homestay untuk mahasiswa angkatan kami dan 1 homestay itu adalah rumah kang arji untuk para dosen. Setelah semua pembagian selesai kita diberi waktu untuk ishoma setelah itu pada malam harinya tepatnya ba’da isya kami semua melakukan evaluasi, evaluasi ini sangat penting bagi kami karna di evaluasi ini kita semua diajarkan dan diberi informasi langsung dari tetua desa Marengo itu sendiri. Dari evaluasi tersebut kami sangat mendapatkan banyak wawasan tentang ajaran-ajaran dan kehidupan sehari hari orang Baduy Luar. Kehidupan yang sangat disiplin dan sederhana itu dapat kami rasa selama kami tinggal di desa Marengo itu sendiri.
           
Kemudian setelah selesai evaluasi padamalam itu bersama dosen, rekan rekan kami semua dan narasumber langsung itu oleh tetua di desa Marengo. Lalu kami semua bersiap siap untuk istirahat ditempat homestay kami masing masing. Dan dihomstay kami yang ditinggali oleh keluarga dari desa Marengo itu sendiri sangat menyambut kita dengan baik dan ramah, mereka selalu memberikan dari segala apa yang kita butuhkan mulai dari makan tempat tidur yang layak, itu semua disediakan oleh mereka tanpa ada rasa keluh, dan mungkin kami selama tinggal disana banyak merepotkan dan itu semua tidak dipermasalahkan oleh mereka.
            Setelah lamanya kami tinggal dirumah/homestay mereka dalam waktu 3 hari selama observasi tugas kami selesai, kami semua banyak sekali mendapat kan pengalaman hidup yang tidak bisa kami dapatkan dikota. Sekali lagi kami semua keluarga Usaha Jasa Pariwisata dan Dosen-dosen sekalian mengucapkan banyak banyak terimakasih untuk tempat tinggal dan ajaran ajaran yang begitu mengesankan bagi kita semua.
Mungkin itu saja yang saya bisa cerita kan tentang pengalaman kami selama tinggal di Baduy Luar di Desa Marengo.

















Bayu HAriyanto Yudistira
4423143955
Usaha Jasa Pariwisata (A) 2014
Universitas Negeri Jakarta

Wasallamualaikum Warohmatullahi Wabarikatuh,
Hatur nuhun sanget Kampung Adat Baduy & Desa Marengo.


DaftarPustaka



           


Saturday, January 2, 2016

T5_SelviaRizalni_Observasi Suku Baduy

LADANG: URAT NADI KEHIDUPAN SUKU BADUY


            Suku Baduy atau Urang Kanekes adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Memiliki populasi sekitar 5.000 hingga 8.000 orang saat ini. Mereka sehari-harinya memakai bahasa dialek Baduy dari Sunda. Sebagian besar agama mereka adalah Sunda Wiwitan. Nama Baduy itu sendiri berasal dari Gunung Baduy yang berada di tempat mereka tinggal. Secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT, memiliki topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata 45%. Mereka berpemukiman tepat di kaki pegunungan Kendeng. Dari Rangkasbitung menuju suku Baduy sekitar 40km. Di suku Baduy Dalam terdapat 3 kampung yaitu Cikeusik, Cikertawarna, dan Cibeo, masing jarak antar kampung sekitar 24 km.
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Urang_Kanekes
Suku Baduy terbagi menjadi dua yaitu suku Baduy Luar suku Baduy Dalam. Dari Ciboleger (tempat mula awal untuk menuju suku Baduy Luar) ke suku Baduy Luar sekitar 1 setengah jam dan dari suku Baduy Luar ke suku Baduy Dalam sekitar 3 setengah jam, perjalanan melewati bukit, turunan, jembatan yang terbuat dari bambu, dan melewati sungai. Suku Baduy sendiri sangat menjaga adat istiadat mereka mulai dari mereka berkehidupan tanpa listrik dirumah mereka, kegiatan mencuci, mandi, memasak, mereka memanfaatkan aliran sungai yang dekat dengan pemukiman mereka dan air di aliran sungai tersebut sangat jernih dan masih segar. Mereka memiliki rumah yang masing-masing berbentuk sama, menurut orang suku Baduy sendiri kenapa rumah mereka berbentuk sama itu berarti mereka tidak membanding-bandingkan kaya atau miskin, bagi mereka tetap hidup rukun dan saling menjaga tali persaudaraan serta gotong royong, untuk rumah suku Baduy Luar memiliki lebih dari 1 pintu dan untuk suku Baduy Dalam hanya memiliki satu pintu saja yakni pintu utama, rumah mereka berbentuk seperti rumah panggung dan dibawah rumah difungsikan untuk membuang kotoran rumah mereka karena jika Anda berada di dalam rumah suku Baduy dibawah lantainya seperti ada lubang-lubang kecil untuk membuang kotoran dalam rumah yang langsung ke bawah rumah jadi mereka tidak menggunakan sapu untuk membersihkan rumah mereka. Di suku Baduy Luar kita diperbolehkan menggunakan handphone atau alat elektronik lainnya tetapi di suku Baduy Dalam dilarang untuk menggunakan alat-alat elektronik tersebut. Di suku Baduy Luar masih diperbolehkan wisatawan mancanegara untuk datang ke kampung mereka tetapi di suku Baduy Dalam dilarang wisatawan mancanegara untuk datang ke kampung mereka dikarenakan terdapat peraturan tidak tertulis untuk wisatawan mancanegara yang ingin datang ke suku Baduy Dalam. Jika melanggar adat istiadat suku Baduy itu sendiri akan mendapat musibah. Mereka tidak diperkenankan menggunakan alas kaki, karena saat saya kesana yang saya lihat mereka dalam melakukan aktivitas sehari-hari tidak menggunakan alas kaki.

Suku Baduy juga memiliki teras rumah yang difungsikan untuk bercengkrama dengan tetangga maupun dengan sanak keluarga. Mereka juga mengolah gula aren yang nantinya akan dijual ke kota. Untuk memasak mereka menggunakan tungku dan kayu bakar. Urang Kanekes, mereka memiliki ternak ayam dan sewaktu pengalaman pergi kesana saya melihat seorang salah satu dari suku Baduy membawa ayam yang sangat besar ditaruh didalam karung lalu dilubangi untuk kepala dan kedua kaki ayam tersebut, konon untuk persembahan yang nantinya dilakukan saat upacara maulid dilakukan.
Mata pencaharian suku Baduy itu sendiri yakni berladang padi huma adalah padi yang ditanam di ladang atau kebun atau juga disebut padi gogo, juga dikarenakan mereka yang tinggal di kaki pegunungan sehingga tidak ada lahan untuk menanam padi sawah. Saat saya berkunjung ke destinasi wisata suku Baduy, disekeliling jalan setapak menuju suku Baduy Dalam banyak terlihat padi huma dan menurut mereka untuk bahan pangan seperti beras mereka menaruhnya di lumbung padi atau Leuit dan bahan pangan beras ini mereka tidak jual ke masyarakat kota karena merupakan bahan makanan penting bagi mereka dan untuk penghasilan tambahan mereka menjual hasil buah-buahan yang mereka ambil di hutan seperti durian, asam keranji, dan madu hutan.
Hasil panen padi huma mereka taruh di lumbung padi dan dari yang saya amati banyak sekali
Lumbung padi yang berbaris rapi didekat perkampungan mereka.


Suku Baduy berladang padi huma.  Sumber: http://setkab.go.id/andalkan-padi-gogo-masyarakat-baduy-terbebas-krisis-pangan/



Mereka juga menjual souvenirs untuk para wisatawan seperti gantungan kunci yang dibuat dari bambu, tas, dll. Saat saya berkunjung ke destinasi wisata suku Baduy di setiap rumah terdapat durian yang sudah panen dan ditaruh di rumah mereka masing-masing yang nantinya akan mereka jual ke para wisatawan yang sedang berkunjung ke suku Baduy dan saat saya pergi kesana untuk 1 durian harganya Rp 20.000 saja, cukup murah dan Anda boleh mencobanya sebelum membayar jika tidak manis, durian tersebut tidak perlu Anda bayar. Mereka memanfaatkan hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
            Suku Baduy mereka berladang padi huma sebagai urat nadi kehidupan karena menghasilkan beras untuk makan mereka sehari-hari. Mereka berkehidupan sangat bergantung pada alam dan terhindar dari kehidupan dari luar suku Baduy dan mereka berkehidupan saling gotong royong, hidup rukun, dan menjaga silaturahmi. Saat saya mengamati tempat tinggal suku Baduy sendiri tidak jauh dari perkampungan pasti ada sumber mata air mereka yakni sungai yang mengalir bersih dan segar, Anda bersempatlah mandi atau sekedar cuci muka di aliran sungai yang bersih dan segar tersebut dijamin Anda akan merasa lebih tenang dan relaks, airnya pun dapat Anda minum karena masih jernih sekali, jika Anda ingin berendam di sungai Anda perlu berhati-hati karena sungai ini memiliki arus yang kuat dan cukup dalam airnya sekitar kurang lebih 5 meter, Anda cukup bermain dipinggir sungai saja.   


Berikut adalah dokumentasi saya obervasi tentang suku Baduy dengan teman-teman.

Selvia Rizalni
Usaha Jasa Pariwisata 2014 Kelas B
4423143978

Selvia.rizalni2296@gmail.com