Showing posts with label Usaha Jasa Pariwisata Kelas A. Show all posts
Showing posts with label Usaha Jasa Pariwisata Kelas A. Show all posts

Saturday, January 2, 2016

TUGAS 3 PARIWISATA SEJARAH DAN BUDAYA INDONESIA

Assalamualaikum wr.wb

       Bismillahhirrahmannirrahim, perkenalkan nama saya Adnan Rosary, usia saya 18 tahun dan saya lahir di Jakarta, khususnya jakarta utara pada tanggal 11 April 1997. Saya asli Jakarta, dan kampung saya di Jakarta, karena saya tinggal dengan nenek dari bapak saya yang sudah lama tinggal di Jakarta. Kalau nenek dari ibu saya tinggal di Bogor, kalau menurut saya itu bukan kampung,karena masih di daerah jabodetabek atau masih dekat untuk dijangkau atau dikunjungi.
           
            Saya adalah seorang mahasiswa di perguruan tinggi Negeri yang ada di Jakarta, yaitu di Universitas Negeri Jakarta, yang ada di Jakarta Timur. Saya mengambil Program study Usaha Jasa Pariwisata,sekarang semester tiga, dan sebentar lagi akan memasuki semester empat. Gelar saya di UNJ adalah Diploma 3 (D3) dengan standar kelulusan tiga tahun, dan semoga saya bisa lulus tepat waktu. Amin. Selama saya di pariwisata,sudah banyak tempat yang sudah saya kunjungi,seperti ke Bandung ( Musium Geologi ), ke Pangandaran Jawa Barat dan terakhir pada menjelang akhir tahun saya dan teman-teman mengunjungi Banten (Suku Baduy). Dan kali ini saya akan menjelaskan tentang Pariwisata budaya atau wisata Budaya yang ada di Aceh.
Lokasi Aceh Tenggara 

   Tidak hanya daerah-daerah pusat di Indonesia seperti Jawa dan Bali yang mempunyai wisata budaya, tetapi Sumatera juga mempunyai wisata budaya, sama seperti yang ada di Aceh. Aceh adalah sebuah  provinsi di Indonesia. Aceh terletak di ujung utara pulau Sumatera dan merupakan provinsi paling barat di Indonesia. Ibu kotanya adalah Banda Aceh. Jumlah penduduk provinsi ini sekitar 4.500.000 jiwa. Letaknya dekat dengan Kepulauan Andaman dan Nikobar  di India dan terpisahkan oleh Laut Andaman. Aceh berbatasan dengan Teluk Benggala di sebelah utara, Samudra Hindia di sebelah barat, Selat Malaka di sebelah timur, dan Sumatera Utara di sebelah tenggara dan selatan. Aceh pertama dikenal dengan nama Aceh Darussalam (1511–1959), kemudian Daerah Istimewa Aceh (1959–2001), Nanggroë Aceh Darussalam (2001–2009), dan terakhirAceh (2009–sekarang). Sebelumnya, nama Aceh biasa ditulis Acheh, Atjeh, dan Achin.

            Aceh memiliki 13 suku bangsa asli. Yang terbesar adalah Suku Aceh yang mendiami wilayah pesisir mulai dari Langsa di pesisir timur utara sampai dengan Trumon di pesisir barat selatan. Suku lain nya adalah Suku Gayo, Suku Gayo Lut, Suku gayo luwes, Suku gayo Serbe Jadi yang mendiami wilayah pegunungan di tengah Aceh. Selain itu juga dijumpai suku-suku lainnya seperti, Aneuk Jamee di Aceh Selatan, Singkil  dan  Pakpak  di Subulussalam ,  Singkil  dan   Alas di Aceh Tenggara, Kluet di Aceh Selatan dan Tamiang di Aceh Tamiang, dan diPulau Simeulue terdapat Suku Sigulai.
Aceh merupakan kawasan yang sangat kaya dengan seni budaya galibnya wilayah Indonesia lainnya. Aceh mempunyai aneka seni budaya yang khas seperti tari-tarian, dan budaya lainnya seperti:
·         Meuseukee Eungkot (sebuah tradisi di wilayah Aceh Barat)
·         Peusijuek (atau Tepung tawar dalam tradisi Melayu)
         Peusijuek adalah sebuah prosesi adat dalam budaya masyarakat Aceh yang masih dipraktekan hingga saat ini. Tradisi peusijuek ini dilakukan pada hampir semua kegiatan adat dalam kehidupan masyarakat di Aceh. Misalnya ketika memulai sebuah usaha, menyelesaikan persengketaan, terlepas atau selesai dari musibah, menempati rumah baru, merayakan kelulusan, memberangkatkan dan menyambut kedatangan haji, kembalinya keluarga dari perantauan dan masih banyak lagi.
Pada kalangan masyarakat pedesaan di Aceh peusijuek merupakan prosesi adat yang cukup biasa dilakukan bahkan untuk hal-hal yang kecil sekalipun misalnya ketika membeli kendaraan baru atau ketika hendak menabur benih padi di sawah. Sementara bagi masyarakat perkotaan yang lebih modern tradisi peusijuek ini hanya dilakukan dalam kegiatan-kegiatan adat saja misalnya dalam prosesi adat perkawinan.
Ritual peusijuek ini mirip dengan tradisi tepung tawar dalam budaya Melayu. Di Aceh yang melakukan acara peusijuek adalah tokoh agama maupun adat yang dituakan ditengah masyarakat. Bagi kaum lelaki yang melakukan peusijuek adalah tokoh pemimpin agama Teungku (Ustadz) sedangkan bagi wanitanya adalah Ummi atau seorang wanita yang dituakan ditengah masyarakat. Diutamakan yang melakukan peusijuek ini adalah mereka yang memahami dan menguasai hukum agama sebab prosesi peusijuek ini diisi dengan acara mendoakan keselamatan dan kesejahteraan bersama sesuai dengan agama Islam yang dianut secara umum oleh masyarakat Aceh.
      Aceh dianggap sebagai tempat dimulainya penyebaran Islam di Indonesia dan memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Pada awal abad ke-17, Kesultanan Aceh adalah negara terkaya, terkuat, dan termakmur di kawasan Selat Malaka. Sejarah Aceh diwarnai oleh kebebasan politik dan penolakan keras terhadap kendali orang asing, termasuk bekas penjajah Belandadan pemerintah Indonesia. Jika dibandingkan dengan dengan provinsi lainnya, Aceh adalah wilayah yang sangat konservatif (menjunjung tinggi nilai agama). Persentase penduduk Muslimnya adalah yang tertinggi di Indonesia dan mereka hidup sesuai syariah Islam. Berbeda dengan kebanyakan provinsi lain di Indonesia, Aceh memiliki otonomi yang diatur tersendiri karena alasansejarah.
            Aceh memiliki sumber daya alam yang melimpah, termasuk minyak bumi dan gas alam. Sejumlah analis memperkirakan cadangan gas alam Aceh adalah yang terbesar di dunia. Aceh juga terkenal dengan hutannya yang terletak di sepanjang jajaran Bukit Barisan dari Kutacane di Aceh Tenggara sampai Ulu Masen di Aceh Jaya. Sebuah taman nasional bernama Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) didirikan di Aceh Tenggara.
            Aceh adalah daratan yang paling dekat dengan episentrum gempa bumi Samudra Hindia 2004. Setelah gempa, gelombang tsunamimenerjang sebagian besar pesisir barat provinsi ini. Sekitar 170.000 orang tewas atau hilang akibat bencana tersebut. Bencana ini juga mendorong terciptanya perjanjian damai antara pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Wisata Budaya yang ada di Aceh :
1.         Di Kotamadya Banda Aceh

a.  Museum Tsunami Aceh (bahasa Inggris: Aceh TsunamiMuseum) adalah sebuah museum di Banda Aceh yang dirancang sebagai monumen simbolis untuk bencana gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004 sekaligus pusat pendidikan dan tempat perlindungan darurat andai tsunami terjadi lagi. Museum Tsunami Aceh dirancang oleh arsitek asal Indonesia, Ridwan Kamil. Museum ini merupakan sebuah struktur empat lantai dengan luas 2.500 m² yang dinding lengkungnya ditutupi relief geometris. Di dalamnya, pengunjung masuk melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi — untuk menciptakan kembali suasana dan kepanikan saat tsunami. Dinding museum dihiasi gambar orang-orang menari Saman, sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius suku Aceh.Dari atas, atapnya membentuk gelombang laut. Lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami.Bangunan ini memperingati para korban, yang namanya dicantumkan di dinding salah satu ruang terdalam museum, dan warga masyarakat yang selamat dari bencana ini.
Selain perannya sebagai tugu peringatan bagi korban tewas, museum ini juga berguna sebagai tempat perlindungan dari bencana semacam ini pada masa depan, termasuk "bukit pengungsian" bagi pengunjung jika tsunami terjadi lagi.

Koleksi

Pameran di museum ini meliputi simulasi elektronik gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004, serta foto korban dan kisah yang disampaikan korban selamat
b. Gunongan

Salah satu bangunan peninggalan budaya yang bernilai sejarah dan masih dapat kita saksikan dalam keadaan utuh adalah Gunongan lengkap dengan taman sarinya. Gunongan ini terletak di pusat kota Banda Aceh, tepatnya berada di Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Baiturahman, Kota Banda Aceh. Lokasi ini dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan bermotor atau labi-labi melalui jalan Teuku Umar. Taman Sari Gunongan merupakan salah satu peninggalan kejayaan Kerajaan Aceh, setelah kraton (dalam) tidak terselamatkan karena Belanda menyerbu Aceh.
Gunongan dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang memerintah tahun 1607-1636. Pada masa itu, pada tahun 1613 dan tahun 1615 melalui penyerangan dengan kekuatan ekspedisi Aceh 20.000 tentara laut dan darat, Sultan Iskandar Muda berhasil menaklukkan Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang di Semenanjung Utara Melayu. Sebagaimana tradisi pada zaman dahulu, kerajaan yang kalah perang harus menyerahkan glondong pengareng-areng (pampasan perang), upeti dan pajak tahunan. Di samping itu juga harus menyerahkan putri kerajaan untuk diboyong sebagai tanda takluk. Putri boyongan itu biasanya diperistri oleh raja dengan tujuan untuk mempererat tali persaudaraan dari kerajaan yang ditaklukkannya, sehingga kerajaan pemenang menjadi semakin besar dan semakin kuat kedudukannya. Penaklukan Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang di Semenanjung Melayu berpengaruh besar terhadap diri Iskandar Muda. Putri boyongan dari Pahang yang sangat cantik parasnya dan halus budi bahasanya membuat Sultan Iskandar Muda jatuh cinta dan menjadikannya sebagai permaisuri. Demi cintanya yang sangat besar, Sultan Iskandar Muda bersedia memenuhi permintaan permaisurinya untuk membangun sebuah taman sari yang sangat indah, lengkap dengan Gunongan sebagai tempat untuk menghibur diri agar kerinduan sang permaisuri pada suasana pegunungan di tempat asalnya terpenuhi. Selain sebagai tempat bercengkrama, Gunongan juga digunakan sebagai tempat berganti pakaian permaisuri setelah mandi di sungai yang mengalir di tengah-tengah istana Brakel (1975) melukiskan dalam Bustan, gunongan ini dikenal sebagai gegunungan dari kata Melayu gunung dengan menambahkan akhiran ‘an’ yang melahirkan arti “bangunan seperti gunung” atau “simbol gunung”. Jadi gunongan adalah simbol gunung yang merupakan bagian dari taman-taman istana Kesultanan Aceh.
C. Museum Rumoh Aceh

didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, yang pemakaiannya diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H.N.A. Swart pada tanggal 31 Juli 1915. Pada waktu itu bangunannya berupa sebuah bangunan Rumah Tradisional Aceh (Rumoh Aceh). Bangunan tersebut berasal dari Paviliun Aceh yang ditempatkan di arena Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) di Semarang pada tanggal 13 Agustus - 15 November 1914.
Rumoh Aceh merupakan rumah panggung yang miliki tinggi beragam sesuai dengan arsitektur si pembuatnya, namun pada kebiasaannya memiliki ketinggian sekitar 2,5 - 3 meter dari atas tanah. Terdiri dari tiga atau lima ruangan di dalamnya, untuk ruang utama sering disebut dengan rambat.
Merombak rumoh Aceh terbilang tidak begitu susah, misalnya saja ingin menambah ruangan dari tiga menjadi lima, maka tinggal menambahkan atau menghilangkan tiang bagian yang ada pada sisi kiri atau kanan rumah. Karena bagian ini yang sering disebut dengan seuramoe likot (serambi belakang) dan seuramoe reunyeun (serambi bertangga), yakni bagian tempat masuk ke rumoh Aceh yang selalu menghadap ke timur.
Rumoh Aceh yang bertipe tiga ruang memiliki 16 tiang, sedangkan untuk tipe lima ruang memiliki 24 tiang. Bahkan salah satu rumoh Aceh (peninggalan tahun 1800-an) yang berada di persimpangan jalan Peukan Pidie, Kabupaten Sigli, milik dari keluarga Raja-raja Pidie, Almarhum Pakeh Mahmud (Selebestudder Pidie Van Laweung) memiliki 80 tiang, sehingga sering disebut dengan rumoh Aceh besar. Ukuran tiang-tiang yang menjadi penyangga utama rumoh Aceh sendiri berukuran 20 - 35 cm.
Saat pembuatan film sejarah Pahlawan Nasional Tjut Nyak Dien dalam Perang Aceh - Belanda, sang sutradara Eros Djarot, memilih rumoh Aceh besar tersebut untuk mengisi beberapa scene dari filmnya tersebut.
      Sejalan dengan program pemerintah tentang pengembangan kebudayaan, khususnya pengembangan permuseuman, sejak tahun 1974 Museum Aceh telah mendapat biaya Pelita melalui Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Daerah Istimewa Aceh. Melalui Proyek Pelita telah berhasil direhabilitasi bangunan lama dan sekaligus dengan pengadaan bangunan-bangunan baru. Bangunan baru yang telah didirikan itu gedung pameran tetap, gedung pertemuan, gedung pameran temporer dan perpustakaan, laboratorium dan rumah dinas.
Selain untuk pembangunan sarana/gedung museum, dengan biaya Pelita telah pula diusahakan pengadaan koleksi, untuk menambah koleksi yang ada. Koleksi yang telah dapat dikumpulkan, secara berangsur-angsur diadakan penelitian dan hasilnya diterbitkan guna dipublikasikan secara luas.
Sejalan dengan program Pelita dimaksud, Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh dan Badan Pembina Rumpun Iskandar Muda (BAPERIS) Pusat telah mengeluarkan Surat Keputusan bersama pada tanggal 2 september 1975 nomor 538/1976 dan SKEP/IX/1976 yang isinya tentang persetujuan penyerahan Museum kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayan untuk dijadikan sebagai Museum Negeri Provinsi.
                  Dan saya akan mengambil contoh Pariwisata budaya yang ada di suku Alas Aceh
     Suku Alas merupakan salah satu suku yang bermukim di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh (yang juga lazim disebut Tanah Alas). Kata "alas" dalam bahasa Alas berarti "tikar". Hal ini ada kaitannya dengan keadaan daerah itu yang membentang datar seperti tikar di sela-sela Bukit Barisan. Daerah Tanah Alas dilalui banyak sungai, salah satu di antaranya adalah Lawe Alas (Sungai Alas).
Dalam pergaulan sehari-hari Suku Alas mempunyai Bahasa sendiri yakni Bahasa Alas (Cekhok Alas) Bahasa ini merupakan rumpun bahasa dari Austronesia suku Kluet dikabupaten Aceh Selatan juga menggunakan Bahasa yang hampir sama dengan bahasa suku Alas. Bahasa ini memiliki banyak kesamaan kosa kata dengan bahasa Karo yang dituturkan masyarakat Karo di Provinsi Sumatera Utara. Pada tahun 2000, jumlah penutur bahasa ini mencapai 195.000 jiwa. Diperkirakan bahasa ini merupakan turunan dari bahasa Batak, namun Masyarakat Alas sendiri menolak label "Batak" karena alasan perbedaan Agama yang dianut. Sementara itu, tidak diketahui pasti apakah bahasa ini merupakan bahasa tunggal atau bukan.
Sebagian besar suku Alas tinggal di pedesaan dan hidup dari pertanian dan peternakan. Tanah Alas merupakan lumbung padiuntuk daerah Aceh. Tapi selain itu mereka juga berkebun karet, kopi,dan kemiri, serta mencari berbagai hasil hutan, seperti kayu, rotan, damar dan kemenyan. Sedangkan binatang yang mereka ternakkan adalah kuda, kambing, kerbau, dan sapi.
Kampung atau desa orang Alas disebut kute. Suatu kute biasanya didiami oleh satu atau beberapa klan, yang disebut merge. Anggota satu merge berasal dari satu nenek moyang yang sama. Pola hidup kekeluargaan mereka adalah kebersamaan dan persatuan. Mereka menarik garis keturunan patrilineal, artinya garis keturunan laki-laki. Mereka juga menganut adat eksogami merge, artinya jodoh harus dicari di merge lain.
Suku Alas 100% adalah penganut agama Islam. Namun masih ada juga yang mempercayai praktik perdukunan misalnya dalam kegiatan pertanian. Mereka melakukan upacara-upacara dengan latar belakang kepercayaan tertentu agar pertanian mereka mendatangkan hasil baik atau terhindar dari hama.
 Menurut penelitian yang dilakukan oleh Muliadi Imami (2013) dalam desertasinya yang berjudul Perilaku altruisme di Aceh Tenggara, ia menemukan beberpa ciri khas budaya menolong masyarakat Alas. Suku Alas melakukan tolong menolong dalam hal:

Bidang Sosial Ekonomi

Bagi salah seorang dari suku Alas yang baru membentuk rumah tangga, secara adat akan dibantu orang tua dari pihak lelaki dan orang tua di pihak perempuan. Orang tuanya akan memberikan bantuan secara percuma sesuai dengan kemampuannya. Budaya memberi bantuan untuk pengantin dalam suku Alas dikenal dengan berbagai istilah iaitu : (1) Jawè, artinya pisah rumah. Pengantin yang dianggap telah cukup masa tinggal di rumah ibubapanya (orang tua pengantin lelaki) harus membentuk rumahtangga yang baik dengan tinggal di rumah lain. Sebagai modal awal, ibubapanya akan membeikan modal usaha dan beberapa peralatan yang diperlukan. Pemberian modal ini biasanya disimbolkan dengan pemberian beras satu bambu, air satu teko, ayam satu pasang, peralatan makan seadanya. Ini menunjukkan bahwa orang tuanya mendidiknya untuk mandiri. Adapun beras dan air sebagai simbol makanan pokok. Ayam sepasang sebagai modal usaha dalam peternakan, dan piring, gelas serta peralatan dapur seadanya untuk memasak makanan. Pemberian ini dimaksudkan sebagai modal awal dalam memulai kehidupan yang baru dan selanjutnya harus berusaha mandiri “berdiri di atas kakinya sendiri”.(2) Pesula’i, bermaksud memberikan ‘hadiah’ sebagai cikal bakal dalam memulai kehidupan yang baru. Pesula’i adalah pemberian dari orang tua pengantin perempuan kepada anaknya dengan maksud membantunya dalam menempuh hidup baru. Budaya ini menandakan bahwa ini adalah pemberian yang terakhir dari mereka untuk anaknya, karena selannjutnya ia akan menjadi tanggungjawab suaminya. Barang-barang yang biasanya diberikan adalah perhiasan dari emas dan alat-alat rumah tangga yang diperlukan.

Bidang Pertanian

Pada bidang pertanian ada beberapa istilah tolong menolong yang dilakukan. (1) Budaya Peleng Akhi, Budaya ini mempunyai arti ‘bergiliran’. Maksudnya, bekerja sama dalam melakukan pekerjaan di bidang pertanian dengan cara bergiliran. Orang yang telah dibantu pekerjaannya oleh orang lain diwajibkan untuk menggantinya dengan bekerja di lahan pertanian orang tersebut di lain waktu (2) Nempuhi, Artinya membantu orang lain dalam hal bertani tanpa mengharapkan ganjaran dari pekerjaan itu. Budaya ini biasanya dilakukan kepada orang yang dihormati separti guru atau pemimpin kampung, serta orang yang mempunyai kelemahan secara fisik. Perilaku ini dimaksudkan agar guru atau pemimpin dapat melakukan tugasnya dengan baik dalam mendidik atau memimpin masyarakat.Khusus untuk membantu guru biasa disebut dengan istilah nempuhi gukhu. Pada kegiatan nempuhi ini biasanya mereka membawa makanan sendiri sebagai tanda keikhlasan dalam membantu. Sebaliknya, bila yang dibantu itu guru atau pemimpin, mereka mempunyai kesadaran untuk menyediakan makanan dan minuman kepada para pekerja tersebut sebagai bentuk penghargaan dan terimakasih.

Acara Adat Istiadat

Tradisi Pemamanan Suku Alas
Upacara adat istiadat yang ada dalam masyarakat suku Alas adalah ‘Turun Mandi’, ‘Sunat Khitan’, ‘Perkawinan’, dan ‘Kematian’. Pada setiap kegiatan ini dikenal beberapa budaya tolong menolong yang dilakukan oleh masyarakat sesuai dengan posisinya dalam struktur kekerabatan. Ada tiga struktur kekerabatan dalam suku Alas yaitu Wali, Sukut/Senine, dan Pebekhunen/Malu. Adapun bentuk tolong-menolong yang dilakukan adalah (1) Pemamanen, iaitu panggilan yang diberikan kepada rombongan yang datang dari pihak Wali yaitu ayah dan saudara lelaki dari perempuan (Malu) yang mempunyai hajatan. Pada setiap acara adat Alas, pemamanen mempunyai peran penting karena mereka adalah tamu yang dimuliakan. Dalam setiap kegiatan mereka akan membawa bantuan kepada tuan rumah dan biasanya bantuan ini dalam bentuk materi atau sejumlah uang. Semakin tinggi nilai bantuan maka semakin tinggi pula prestige yang mereka dapatkan. Begitupula tuan rumah merasa lebih dihormati dan dimuliakan. Slogan yang menjadi failosofi budaya ini adalah Besar wali karena malu, besar malu karena wali. (2) Tempuh, artinya bantuan yang diberikan oleh saudara dekat atau diistilahkan dengan kelompok sukut artinya orang yang punya kerja (saudara kandung atau masih mempunyai pertalian darah dan marga). Bantuan ini terkadang ditentukan dalam musyawarah keluarga, namun terkadang juga tidak ditentukan, sehingga pemberian didasarkan oleh kesadaran masing-masing yang disesuaikan dengan kemampuannya, serta bergantung pula pada jauh dekatnya pertalian kekerabatan yang dimiliki. (3) Nempuhi Wali artinya membantu wali, bantuan ini diberikan oleh Malu yaitu anak perempuan atau saudara perempuan yang sudah kawin dan pebekhunen yaitu suaminya kepada pihak wali yang mempunyai hajatan/acara adat. Dalam setiap kegiatan bantuan yang mereka berikan adalah dalam bentuk tenaga, misalnya bertanggung jawab di dapur dalam menyiapkan hidangan dan membereskannya. Sebenarnya Nempuhi Wali ini merupakan kewajiban yang ditetapkan dalam budaya suku Alas tidak hanya pada kegiatan yang menyangkut adat-istiadat, tetapi juga pada kegiatan lainnya dalam kehidupan sehari-hari seperti membantu di sawah dan lain-lain.

Marga

Menurut buku Sanksi dan Denda Tindak Pidana Adat Alas, Dr Thalib Akbar MSC (2004) adapun marga–marga etnis Alas yaitu : Selian, Bangko, Deski, Keling, Kepale Dese, Keruas, dan Pagan. kemudian hadir lagi marga Acih, Beruh, Gale, Kekaro, Mahe, Menalu, Mencawan, Munthe, Pase, Pelis, Pinim, Ramin, Ramud, Sambo, Sekedang, Sugihen, Sepayung, Sebayang dan marga Tarigan.

Seni Tari


Adapun kesenian dari etnis suku Alas (Musyawarah Adat Alas dan Gayo, 2003) :
1.     Tari Mesekat    
2.     Pelabat
3.     Landok Alun
4.     Tangis Dilo
5.     Canang Situ
6.     Canang Buluh
7.     Genggong
8.     Oloi-olio
9.     Keketuk layakh

Kerajinan

Adapun kerajinan tradisional dari etnis alas seperti :
1. Nemet (mengayam daun rumbia)
2. Mbayu amak (tikar pandan)
3. Bordir pakaian adat
4. Pande besi (pisau bekhemu)

Makanan Tradisonal

Adapun makanan tradisional dari suku alas adalah :
1. Manuk labakh
2. Ikan labakh
3. Puket Megaukh
4. Lepat bekhas
5. Gelame
6. Puket Megaluh
7. Buah Khum-khum
8. Ikan pacik kule
9. Telukh Mandi
10. Puket mekuah
11. Tumpi
12. Godekhr
13. Puket sekuning
14. Cimpe
15. Getuk
Kesimpulan :
Jadi Aceh merupakan provinsi dari Sumatera Utara yang memiliki banyak sekali tempat-tempat wisata budaya yang dapat kita kunjungi. Tokoh penyebar agama islam di aceh, sangat dkenal oleh masyarakat oleh karena itu dibuatlah banyak musium,tugu bahkan makam yang banyak untuk kita datangi guna untuk mengetahui sosok yang telah berjuang di masa lampau untuk satu tujuan bahkan mengorbkan dirinya sendiri. Dan aceh mempunyai banyak sekali suku, salah satunya suku alas. Suku alas mempunyai bahasa yang unik, mereka mempunyai bahasa yang mereka buat sendiri. Masyarakat suku kute mengayomi sistem tolong menolong, terutama dalam hal ekonomi dan pertanian. Suku Alas mempunyai 9 tarian, 4 kerajinan tradisional dan 15 macam makanan tradisional yang masih ada sampai sekarang.
 Daftar Pustaka :
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Alas

Adnan Rosary
NIM : 4423145624
Usaha Jasa Pariwisata A 2014
gmail : adnanrosary@gmail.com








TUGAS 5 OBSERVASI BADUY

Assalammulaikum wr.wb
Pertama, marilah kita panjatkan Puji dan syukur atas kehadirat-Nya karena atas rahmat dan karunia-Nya saya dapat menulis pengalaman yang sangat menarik dan berkesan ini. Dan tentunya saya berterima kasih juga kepada Pak shobirien selaku dosen wisata budaya serta para dosen yang ikut hadir dan tak lupa juga kang arji sosok lelaki dari baduy luar dan kang  arja sosok lelaki dari baduy dalam yang telah membawa,menemani dan membimbing saya dan rekan-rekan saya melakukan kegiatan observasi guna untuk memperoleh banyak informasi yang bisa kita gunakan untuk menganalisis sumber yang kita baca dan dapat di internet dengan observasi langsung.
Oke sebelum saya membagikan pengalaman pada suatu trip, saya akan mengenalkan diri terlebih dahulu siapa saya. Saya Adnan Rosary, lahir pada tanggal 11 April 1997. Ya di angkatan saya ini, saya merupakan kelahiran yang paling termuda disini, karena kelahiran tahun 97 dan umur saya saat ini ( menulis blog ini) berusia 18 tahun. Saya tinggal di Jakarta utara, khususnya di Tanjung Priuk. Yah kota yang terkenal dengan pelabuhan tanjung piuk.  Latar belakang saya, saya adalah seorang mahasiswa semester tiga di perguruan tinggi negeri Jakarta, yaitu di UNJ (Universitas Negeri Jakarta) yang berada di jalan rawamangun muka, Jakarta Timur. Saya mengambil program study Usaha Jasa Pariwisata, salah satu alesannya yaitu karena saya menyukai travelling dan ingin mengetahui semua komponen yang dibutuhkan di bidang Pariwisata karena nanti bidang pariwisata yang akan menjadi mayoritas di dunia , bisa sebagai rekreasi liburan, bisa sebagai memperoleh sumber informasi dari  suatu objek wisata dan yang pasti bisa sebagai sumber mata pencaharian.
            
Lokasi Wisata Budaya Suku Baduy

Saya akan membagikan perjalanan saat saya dan teman-teman saya pergi ke Banten,khususnya ke SUKU BADUY. Suku Baduy bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL). Suku Baduy mempunyai luas lahan tanah sekitar 5.100.000 hektar dan mempunyai 54 desa dan populasi penduduknya setiap tahun meningkat.
            Untuk menuju Baduy, kita bisa kesana menggunakan kereta dari stasiun Manggarai dan tanah abang. Kalau dari stasiun manggarai, kita bisa membeli tiket Commuter Line kearah tanah abang, lalu di stasiun tanah abang kita transit dan membeli tiket kereta ekonomi menuju ke Rangkasbitung. Dan dari stasiun tanah abang kita bisa langsung memesan tiket dengan tujuan stasiun rangkasbitung dengan estimasi waktu 2 jam. Kemudian setelah kita tiba di stasiun rangkasbitung.kita lanjut naek kendaraan seperti angkot namun sedikit lebih luas dalamnya yang disebut dengan ELF menuju ke baduy luar yang bernama Ciboleger dengan waktu hampir 2 jam perjalanan.
            Setibanya saya dan teman-teman saya di ciboleger, kami langsung makan siang dan istirahat di warung sederhana seperti warung kopi yang ada disamping patung desa ciboleger.
Di warung ini juga menjual accesoris khas dari desa baduy,namun dengan harga yang sedikit lebih mahal daripada yang dijual di dalam desanya. Usai beristirahat, kami melanjutkan perjalanan untuk masuk ke dalam kawasan baduy luar untuk datang ke salah satu rumah yang ada di baduy luar untuk penyambutan kedatangan kami dengan kegiatan tanya jawab dan pengantar dari salah satu kepala adat atau jarot Saijah yang kebetulan sedang ada di Kadu Ketug.
            Selesai penyambutan dari jarot, kami melanjutkan perjalanan menuju desa kedua yang ada di baduy luar. Sebelum melanjutkan perjalanan, ada dua orang yang menemani perjalanan kami untuk menuju ke baduy dalam dan baduy luar, yang satu berasal dari baduy luar menggunakan pakaian warna hitam bernama kang arji dan satu lagi berasal dari baduy luar menggunakan pakaian warna putih bernama kang arja. Yang membedakan baduy dalam dan baduy luar salah satunya adalah dengan warna pakaian yang digunakannya. Dan juga ada porter yang akan menawarkan jasa untuk membawakan barang yang kami bawa seperti tas ransel atau tas carrier maupun tas slempang dengan upah yang terjangkau dan bisa juga kita tawar.
            Dari desa ciboleger menuju desa kedua di baduy luar itu kita harus berjalanan kaki, tidak menggunakan kendaraan beroda dua apalagi empat karena akses jalan yang beralas tanah, bebatuan dan licin sehingga sangat tidak memungkinkan untuk dilewati kendaraan beroda tiga maupun empat  Dan jarak menuju kesana kurang lebih sekitar 1 jam dengan berjalan kaki. Setelah berjalan,akhirnya kami sampai di desa kedua suku baduy luar pada pukul 16.00 atau jam 4 sore dengan keadaan lelah dan cape karena belum biasa berjalan jauh dan belum tebiasa melewati jalan yang bisa dibilang menguras tenaga. Akan tetapi semua terbayar lunas saat kita menemukan tempat untuk mandi sekaligus berenang yang sangat segar,seru dan menyenangkan, yaitu di Sungai Ciunjung dan saya akan membagikan pengalaman mandi yang seru dan berkesan di Sungai Ciujung.
            Ya pastinya setelah berjalan kaki cukup lelah, mengharuskan saya dan teman-teman saya untuk mandi agar badan berasa segar kembali. Pada hari pertama, saya mencari kamar mandi untuk mandi, akan tetapi saya hanya melihat satu kamar mandi diluar rumah, tapi kamar mandinya berbeda dengan yang ada di Kota, karena suku Baduy merupakan salah satu desa yang bisa dibilang destinasi wisata budaya yang artinya masih menjunjung tinggi budaya setempat yang telah lama turun-menurun. Dan di kamar mandi juga ada seseorang yang sedang mandi. Saya sempat menunggu beberapa menit, namun ada warga yang bilang ‘mandi di sungai saja,airnya deras dan segar’ alhasil saya kembali ke homestay saya untuk mengajak teman-teman saya yang lelaki untuk mandi bersama di sungai. Kita harus jalan sedikit turun dari homestay untuk mandi. Dan benar saja,ketika saya menaruh air disungai dengan perlahan, memang airnya sangat dingin dan angin cukup kencang sehingga membuat suasana air di sungai Ciujung sedikit lebih dingin. Akhirnya kami semua mandi dan berenang di Sungai. Dan yang berkesan bagi saya dan teman-teman saya, pertama, saya dan teman saya sedang asik berenang, ada teman saya dia sedang bermain dan merasakan nikmatnya deras air yang cukup kencang, akan tetapi tiba-tiba dia kehilangan keseimbangan untuk menjaga badannya agar tidak jatuh, dan dia pun hanyut terbawa air sungai, saya langsung naik ke atas untuk menolong dia agar tidak hanyut lebih dalam lagi. Dan setelah kejadian itu kami lebih berhati-hati lagi agar tidak mengalami hal yang sedemikan rupa. Setelah berenang, kami langsung mandi dan bilas di sungai. Ketika kami sedang bilas, ada lagi satu teman saya yang sedang bilas juga, tapi dia bilasnya di dekat batu-batu dan disitulah air sangat deras karena mengalirnya kebawah. Tiba-tiba, kami tidak melihat teman kami yang sedang bilas di dekat arus yan deras, ternyata dia juga ikut hanyut kebawah. Pada posisi itu saya dan teman-teman tidak bisa menolongnya karena posisinya yang jauh. Dan bersyukurnya badan dia terbawa ke samping sungai yang banyak bebatuan sehingga dia bisa pegangan dan naik ke atas.
Persiapan sebelum mandi di sungai Ciujung
Sosok Kang Arja
Pemandangan arus air di sungai yang cukup deras
Semua berenang dengan sangat senang
           
        Kemudian pada hari kedua kami menuju ke baduy dalam dengan waktu sekitar 6 jam pulang pergi dengan keadaan jalan yang 2x lebih cape daripada perjalanan pada hari pertama dan tiba di homestay sore lagi. Kemudian kami menuju sungai untuk berenang dan mandi lagi.Dan pada hari kedua, ketika kami sedang berenang, tiba-tiba di depan kami terlihat ada kotoran manusia yang sedang mengambang dan mengalir di sungai, dan kami semua tertawa dan merasa agak sedikit jijik. Jadi disungai ini kita juga bisa untuk buang air kecil dan buang air besar. Setelah kotoran itu hilang, kami lanjut berenang. Dan lagi-lagi kejadian lucupun terjadi di teman saya, ketika dia sedang ingin bilas,tanpa sadar ada seekor kodok yang berukulan kecil yang hinggap atau nempel di punggungnya, dia pun langsung shock dan meminta tolong kami untuk melepaskan kodoknya dari punggungnya, dan akhirnya kodok itupun pergi. Kami melanjutkan untuk mandi dan bilas.Sama seperti hari yang pertama, ada dua orang yang sedang bermain di dekat arus yang mengalir kencang, dan satu orang hanyut, dan yang satu mencoba menariknya, tetapi keduanya sama-sama terbawa arus karena arus airnya yang sangat kencang. Tapi mereka baik-baik saja. Kamipun bilas dan segera naik ke atas karena hari sudah semakin sore dan dingin.

            Dan pada hari ketiga, saya tidak mandi di sungai, lantaran pasti airnya dingin diwaktu pagi dan kulit masih kering. Saya hanya cuci muka dan sikat gigi di kamar mandi warga. Dan pada pagi juga kami pamit kepada ibu yang punya rumah dari homestay yang kami tempati dan berterima kasih karena kami hendak ingin pulang lagi ke Jakarta.
            Cukup sekian cerita pengalaman mandi saya bersama teman-teman di suku baduy luar. Semoga kalian sedikit terhibur dan jangan pernah takut untuk mencoba ke baduy,karena perjalanan ini bisa menjadi kisah yang seru dan berkesan untuk diceritakan kepada orang lain. Jangan hanya mendengar kata orang suku Baduy seperti apa, tapi rasakan lah hidup bersama dengan orang baduy. Kurang lebihnya mohon maaf. 
Wassalammualaikum wr.wb

Adnan Rosary
NIM : 4423145624
Usaha Jasa Pariwisata A 2014
gmail : adnanrosary@gmail.com