Showing posts with label Tugas 3. Show all posts
Showing posts with label Tugas 3. Show all posts

Monday, January 4, 2016

T3_BAYU HARIYANTO YUDISTIRA_KOTA SURAKARTA

KEANEKARAGAMAN WISATA BUDAYA DI SURAKARTA

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
Hallo dunia dan semua para pembaca, Selamat Tahun Baru 2016 semoga di tahun yang baru ini menjadi berkah untuk kalian semua,amin.

Sebelumnya perkenalkan nama saya Bayu Hariyanto Yudistira, saya lahir dijakarta tepatnya Ibukota bagi Negara Indonesia ini, pada tanggal 27 April 1996 tepatnya saya sekarang berumur 19 tahun menuju 20 ditahun yang baru ini 2016.
Untuk sekarang ini saya berstatus mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta Fakultas Ilmu Sosial dengan Program Studi D3 Usaha Jasa Pariwisata, saat ini saya menjalani perkuliahan di Semester 3 menuju Semester 4

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas keanekaragaman wisata budaya di Surakarta, sebelumnya saya akan menceritakan asal usul kota Surakarta ini atau bisa disebut Solo.





Kota Surakarta juga disebut Solo atau Sala, adalah wilayah otonom dengan status kota di bawah Provinsi Jawa Tengah, Indonesia, dengan penduduk 503.421 jiwa (2010) dan kepadatan 13.636/km2. Kota dengan luas 44 km2, ini berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah selatan. Sisi timur kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam salah satu lagu keroncong, Bengawan Solo. Bersama dengan Yogyakarta, Surakarta merupakan pewaris Kesultanan Mataram yang dipecah melalui Perjanjian Giyanti, pada tahun 1755.



KOTA SURAKARTA
Setelah Karesidenan Surakarta dihapuskan pada tanggal 4 Juli 1950, Surakarta menjadi kota di bawah administrasi Provinsi Jawa Tengah. Semenjak berlakunya UU Pemerintahan Daerah yang memberikan banyak hak otonomi bagi pemerintahan daerah, Surakarta menjadi daerah berstatus kota otonom.


KERATON SURAKARTA (WISATA BUDAYA)
Keraton Surakarta, Wisata Budaya Seru di Kota Solo – Belum dikatakan sah apabila dolan ke Solo tanpa berkunjung ke Keraton Kasunanan Surakarta. Begitulah kata orang-orang yang berpariwisata ke Kota Solo ini. memang anggapan tersebut sangat benar sekali, karena Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat merupakan tempat wisata favorit kota Solo yang sangat sayang apabila kita lewatkan saat bermain atau dolan ke kota seribu wisata tersebut.
Berwisata ke Keraton Surakarta atau Solo, seakan kita menjadi saksi sebuah kejayaan yang pernah diraih oleh Kerajaam Mataram. Dimana saat itu, kerajaan tersebut dibagi menjadi 2 bagian di dalam sebuah perjanjian yang bernama Perjanjian Giyanti. Perjanjian inilah yang membuat terciptanya 2 buah keraton yakni Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta ini.
Keraton Surakarta atau sering disebut juga dengan Keraton Solo, merupakan kawasan objek wisata Kota Solo yang tidak boleh Anda lewatkan ketika berkunjung ke kota satu ini. didirikan pada tahun 1744 oleh Sunan Paku Buwono II, Keraton Surakarta Hadiningrat berubah menjadi destinasi wisata budaya terbesar di kota Solo, sekaligus kawasan satu ini menjadi bukti sejarah cikal bakal kota Solo.
Secara fisik Keraton Surakarta memiliki banyak sekali kesamaan dengan Keraton Yogyakarta. terutama kesamaan dalam hal tata ruang dan bangunannya. Kesamaan tersebut terjadi dikarenakan memang kedua keraton ini dibangun oleh dua arsitek yang sama, mereka berdua adalah Pangeran Mangkubumi dan Sultan Hamengkubuwana I. Kesamaan kedua bangunan ini terlihat sangat jelas pada tata letak alun-alun utara dan selatan kedua keraton tersebut.
Jaman keemasan yang dialami oleh Keraton Surakarta berlangsung pada pemerintahan Sunan Paku Buwana X di tahun 1893 – 1939. Ketika masa kejayaan itu, Keraton Surakarta melakukan restorsi secara besar-besaran dengan melakukan perubahan arsitek bangunan-bangunannya yakni dengan mengombinasikan antara gaya arsitek Jawa dengan gaya arsitek Eropa. Sehingga tercipta bangunan bernuansa putih dan juga biru.
Keraton Surakarta ini terletak tepat di jantung Kota Solo dan juga berdekatan dengan berbagai landmark yang ada di kota tersebut. seperti Balaikota, Pasar Klewer, dan Pasar Gede. Untuk bisa menjangkau lokasi keraton tersebut, Anda tidak perlu khawatir. Karena disana tersedia banyak sekali alat-alat transportasi yang bisa Anda gunakan. Mulai dari andong, becak, oje, dan masih banyak lagi.
Di Keraton Surakarta ini Anda bisa melihat dan mempelajari berbagai macam peninggalan bersejarah Kerajaan Mataram yang pernah ada di Kota Solo. Namun sebelum Anda memasuki museum dan melihat-lihat barang bersejarah tersebut, Anda akan diperkenankan terlebih dahulu untuk memakai celana panjang dan sepatu.
Jika Anda tidak mengenakan celana panjang, maka disana sudah tersedia semacam kain yang akan dibelitkan dari pinggang Anda hingga ke kaki. Sedangkan apabila Anda tidak membawa sepatu hanya memakai sendal, Anda harus melepas sandal tersebut alias cokoran. hal ini dilakukan agar kita sebagai pengunjung dapat menghormati budaya yang ada di Kota Solo.



Selain menikmati berbagai macam peninggalan di museum Keraton Surakarta, Anda juga bisa menikmati berbagai macam bangunan megah yang ada di area tersebut. seperti Panggung Sanggabuwana, Sasana Handrawina, Sasana Sewaka, Ndalem Ageng Prabasuyasa, dan masih banyak lagi. mungkin ketika mengelilingi area keraton ini Anda akan melihat sebuah hamparan pasir berwarna putih, sebagai tambahan informasi bagi Anda pasir tersebut adalah pasir yang berasal dari Pantai Selatan.
Masih berada di komplkes Keraton Surakarta, Anda juga bisa berbelanja berbagai macam kerajinan, busana, pakaian, dan barang-barang lainnya di Pasar Klewer. Pasar ini merupakan pasar tekstil terbesar yang ada di Kota Solo, di Indonesia pasar ini terbesar nomor dua setelah Pasar Tanah Abang di Jakarta. Setelah puas mempelajari budaya Solo dan berbelanja di Pasar Klewer, Anda bisa sholat Dzuhur di Masjid Agung Surakarta. Mengingat masjid tersebut lokasinya juga tidak jauh dari kompleks Keraton Surakarta.
Bagi Anda yang tertarik berkunjung ke Keraton Surakarta Hadiningrat, Anda bisa berkunjung kesana pada pukul 09.00-14.00 di hari Senin-Jumat. Sedangkan untuk Sabtu dan Minggu Anda bisa berkunjung mulai pukul 09.00-15.00. sedangkan untuk biaya masuknya, Anda akan dikenakan tiket dengan biaya kurang dari Rp 10 ribu per orangnya.
Demikian rekomendasi tempat wisata seru di kota Solo yang dapat kami sampaikan. Selamat berlibur di Kota Solo. Semoga liburan Anda bersama dengan orang tercinta semakin seru dan menyenangkan.




MUSEUM PURBAKALA SANGIRAN (WISATA SEJARAH)

Museum Purbakala Sangiran, Wisata Sejarah di Kota Solo – Berkunjung Ke Kota Solo sudah pasti telah membuat  daftar tempat yang akan dikunjungi di Kota Solo. Kota Solo merupakan Kota Seribu wisata, dari mulai wisata budaya, wisata air, wisata belanja, wisata alam, sampai dengan wisata sejarah.
Salah satunya wisata sejarah di Kota Solo yaitu Museum Purbakala Sangiran. Tempat wisata ini merupakan pilihan liburan yang memberikan edukasi yang menyenangkan kepada anak-anak. Berwisata sekaligus belajar tentang ilmu peradaban manusia.
Museum Purbakala Sangiran dibangun pada tahun 1980 dengan luas area 1000 meter 2. Pada Tahun 1930-1975 banyak ditemukan fosil manusia purba di Sangiran, sehingga banyak wisatawan yang berkunjung ke Sangiran, oleh sebab itu tercetuslah ide untuk membangun sebuah Museum Purbakala Sangiran. Museum ini merupakan situs fosil manusia purba paling lengkap di Jawa, bahkan di Asia. Museum ini menjadi tempat penelitian kehidupan pra sejarah serta tempat untuk mempelajari ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi.
Ketika anda berkunjung ke museum sangiran disana sebuah tempat harta karun untuk mengetahui peradaban manusia. Di Museum Purbakala Sangiran ditemukan pertama kali Fosil Pithecantropus Erextus (Rahang Bawah manusia purba jawa). Dan ditemukan jejak kaki yang berumur 2 juta tahun lamanya yang masih dapat kita lihat di Museum Sangiran . Betapa menakjubkannya Museum Purbakala Sangiran sebuah tempat untuk menelusuri jejak manusia jaman dahulu kala.


Diorama Manusia Purba di Sangiran
Hal yang menarik ketika anda berkunjung ke sangiran adalah ketika anda masuk ke Museum Sangiran anda akan disambut berbagai diorama manusia purba dimulai kegiatan bertani, mencari makan, serta bercengkrama dengan keluarga. Fosil yang ada di Museum sebagian hanya replika, untuk fosil yang asli berada di Museum Geologi Bandung serta di Yogyakarta digunakan untuk penelitian. Sehingga pengunjung diperbolehkan menyentuh replika fosil yang ada di museum. Terdapat pula fasilitas Gardu Pandang sangiran yang digunakan untuk melihat keindahan alam wilayah Sangiran Sragen, terdapat pula Bendungan Bapang berjarak 1 km sebelah barat Museum Sangiran, merupakan tempat untuk ditemukannya fosil manusia purba.
Ketika di dalam museum anda akan dibawa ke kehidupan masa lampau dengan design ruangan berbentuk joglo, yang terdiri dari beberapa ruangan : aula, laboratorium, perpustakaan, ruang audio visual( tempat pemutaran film tentang kehidupan manusia prasejarah), gudang penyimpanan, mushola, toilet, area parkir

.

Fosil Hewan Purba di Museum PurbakalaSangiran
Tertata dengan rapi fosil manusia purba, hewan purba, dengan koleksi fosil kurang lebih 13.806. Antara lain Fosil Hewan Purba : Gajah, Kerbau, Badak, Harimau, Babi, Badak, Sapi, Banteng, Rusa dan Domba. Fosil Binatang laut dan air tawar : Buaya, ikan dan kepiting, gigi ikan hiu, kudanil, Moluska, Terdapat juga berbagai Fosil batuan, & Artefak Batu antara lain serpih dan bilah, serut dan durgi, kapak persegi, bola batu, kapat perimbas- penetak. Begitu lengkapnya koleksi  Museum Sangiran sehingga ditetapkan UNESCO sebagai World Heritage.
Setelah puas berkeliling museum tentunya anda ingin mencari oleh-oleh khas sangiran. Di dekat museum terdapat banyak penjual Souvenir, pernak pernik (khususnya menjual handicraft ‘batu indah bertuah’ yang bahan bakunya didapat dari Kali Cemoro).
Museum ini dapat dijadikan pilihan alternatif liburan wisata untuk keluarga ketika berkunjung ke Kota Solo. Lokasi Museum Sangiran yang berada di kecamatan kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Indonesia. Luasnya mencapai 56 km2, meliputi 3 kecamatan antara lain kecamatan kalijambe, plupuh, dan kecamatan gemolong. Untuk menuju ke Museum Purbakala Sangiran dapat ditempuh kurang lebih 1 jam dari Kota Solo menuju, kecamatan Kalijambe, jika ditempuh dari kota semarang jaraknya relatif lebih dekat bisa melewati Karanggede, Gemolong, Kalijambe, lalu ke Sangiran untuk melalui rute kedua jalan tersebut hanya bisa menggunakan kendaaraan pribadi, belum ada transportasi umum yang dapat menuju ke lokasi tersebut.

Museum Purbakala Sangiran buka setiap hari selasa sampai dengan minggu pada jam 08.00 pagi s/d 16.00 sore, jadi untuk hari senin museum libur. Tiket masuk per 4 April 2015 dikenakan biaya Rp. 5000/orang untuk wisatawan domestik sedangkan untuk wisatawan mancanegara dikenakan biaya Rp. 11.500.

           
MUSEUM BATIK DANAR HADI (WISATA SEJARAH)

Museum Batik Danar Hadi, Wisata Sejarah Batik di Solo – Batik merupakan warisan budaya asal Indonesia yang sangat penting sekali untuk selalu dilestarikan. Bahkan UNESCO telah mengukuhkan batik sebagai sebuah warisan dunia.
Salah satu pusat batik terkenal dan terbesar di Indonesia adalah Batik Danar Hadi Solo. Batik di tempat ini ada banyak sekali variannya. Bahkan koleksi batik di Danar Hadi itu mencapai 10.000 lebih jenis batik.
Selain memproduksi berbagai jenis batik dan melakukan inovasi produk-produk batik tersebut, Danar Hadi Solo juga melestarikan batik-batik yang ada di Indonesia dengan membuat semacam museum. Museum tersebut bernama Museum Batik Kuno Danar Hadi.
Nah seperti apakah museum batik terkenal dan terbaik di Indonesia dan bahkan dunia itu? maka dari itu, jika Anda penasaran terus simak dan ikuti sajian informasi pada kesempatan kali ini.
Museum Batik Danar Hadi, Wisata Sejarah Batik di Solo
Museum Batik Kuno Danar Hadi Solo merupakan kawasan pelestarian budaya lumbung batik dari berbagai daerah di Indonesia. museum ini pertama kalinya dibuka pada tahun 2002 oleh Ibu Megawati Soekarno Putri yang saat itu menjabat sebagai seorang Wapres RI.
Baragam corak, motif, dan warna batik semuanya tersedia disini. Bahkan koleksi yang ada di museum batik kebanggan orang Solo ini mencapai 10000 lebih. Koleksi tersebut tidak hanya berasal dari Indonesia saja. akan tetapi beberapa diantaranya juga berasal dari batik luar negeri.
Dengan koleksi yang sangat banyak tersebut, museum kebanggaan orang Solo ini mendapatkan penghargaan MURI sebagai museum dengan koleksi batik terlengkap di Indonesia dan bahkan dunia. tidak hanya penghargaan itu saja, museum ini juga mendapatkan penghargaan lain yaitu penghargaan IAI atau Ikatan Arsitek Indonesia pada tahun 1999, penghargaan dari Pemerintah Kota Surakarta pada tahun 2000 dan penghargaan dari portal website Tripadvisor.



Salah satu koleksi batik asal luar negeri adalah Batik Belanda. Batik Belanda ini dibawa masuk ke Indonesia oleh orang-orang penjajah jaman dahulu. corak batik Belanda ini juga memiliki ciri khas tersendiri yakni bernuansa lebih ke Barat atau Eropa. Sehingga hal ini membuat koleksi batik yang ada di museum ini semakin beraneka ragam.
Selain batik Belanda, ada juga koleksi batik menarik lainnya yakni Barik Djawa Hokokai. Batik ini berbeda dari batik Belanda yang lebih bercorak Eropa. Untuk batik Djawa Hokokai ini lebih condong ke corak orang-orang Jepang. Hal ini dapat terjadi karena memang batik Djawa Hokokai ini diperkenalkan di Indonesia saat jaman penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Jepang.
Ketika berkunjung ke Museum Batik Danar Hadi Solo tersebut, Anda bisa mengetahui secara langsung koleksi batik-batik dari berbagai daerah dan juga mengetahui cara membuat batik tersebut. sehingga Anda bisa berwisata sekaligus mendapatkan ilmu dalam pembuatan batik. Bahkan Anda juga bisa membawa pulang hasil kerajinan batik yang berasal dari PT Danar Hadi Solo sebagai oleh-oleh.
Aksesibilitas Ke Museum Danar Hadi Solo
Untuk bisa sampai di museum tersebut sebenarnya sangat mudah sekali, ada banyak sarana transportasi yang bisa kita gunakan. Dari pusat kota Solo, Anda bisa memilih alat transportasi antara lain Bis Damri A, Bis Damri B, Atmo, Sumber Rahayu, Surya Kencana A, ataupun Solo Batik Trans. Angkutan-angkutan umum tersebut beroperasi mulai dari pukul 05.30 hingga 16.00 dengan tarif Rp. 2.500.
Namun jika Anda tidak mau repot-repot dan berdesakan dengan penumpang lain, maka Anda bisa memilih menggunakan sarana transportasi taksi. Ada banyak sekali taksi yang bisa Anda tumpangi. Anda tinggal mengatakan ke “Museum Batik Kuno Danar Hadi Solo” saja sopir taksi tersebut akan tancap gas menuju ke lokasi. Karena letak tempat wisata satu ini berada di Pusat Kota Solo, sehingga ada banyak sekali papan penunjuk jalan yang bisa Anda jadikan pedoman.


MUSEUM RADYA PUSTAKA
Museum Radya Pustaka, Wisata Seru Mengenal Kota Solo – Kota Surakarta atau Solo, merupakan sebuah kota kecil yang berada di wilayah lingkup Jawa Tengah. Meskipun kota ini tergolong kecil, tetapi kota Solo memiliki sejarah yang sangat besar sekali.
Untuk mengenal sejarah yang ada di kota Solo, ada banyak sekali objek wisata yang bisa kita kunjungi. Salah satu tempat wisata yang bisa digunakan untuk mengenal lebih dalam mengenai kota Solo adalah Museum Radya Pustaka.
Museum Radya Pustaka, Wisata Seru Mengenal Kota Solo
Museum Radya Pustaka terletak di dekat Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari Solo, dan merupakan museum tertua yang ada di Solo bahkan Indonesia. museum ini didirikan oleh KRA Sosrodiningrat IV pada masa pemerintahan Paku Buwono IX. Pembangunan museum ini tepat berada di dalam salah satu ruang Kepatihan pada tanggal 28 Oktober 1890, kemudian pada 1 Januari 1913 Museum Radya Pustaka tersebut dipindah ke lokasi yang sekarang yakni di Jalan Slamet Riyadhi. Sebelum digunakan sebagai gedung museum, gedung tersebut merupakan milik seorang warga berkebangsaan Belanda, dia bernama Johannes Busselaar. Gedung tersebut kemudian dibeli oleh Sri Susuhunan Paku Buwono dan dijadikan sebagai lokasi museum yang baru hingga sekarang ini.
Museum ini berbeda dari museum lain yang ada di Solo, Museum Radya Pustaka tidak berada di bawah naungan Dinas Pubakala dan Pemerintah Kota setempat. akan tetapi museum tersebut dikelola dan dikembangkan oleh sebuah yayasan berama Yayasan Paheman Radya Pustaka Surakarta. Yayasan ini dibentuk pada tahun 1951, hingga saat ini Yayasan Paheman tersebut masih menjadi pengelola utama dari Museum Radya Pustaka ini. selain yayasan tersebut, ada juga seorang tokoh yang telah menyumbangkan kontribusi besar terhadap berkembangnya Museum Radya Pustaka ini, beliau adalah Go Tik Swan atau lebih sering dikenal sebagai KRT. Hardjonagoro. Bahkan menariknya lagi, Go Tik Swan juga merupakan seorang budayawan sekaligus pencipat motif batik Nusantara.
Museum ini memiliki banyak sekali koleksi-koleksi benda-benda bersejarah dan berharga. Meskipun Museum Radya Pustaka pernah tercoreng mengalami kasus pencurian benda bersejarah dan sangat bernilai. Namun pengelola disana sekarang sudah berusaha memberikan pengamanan yang lebih ekstra mengenai barang-barang tersebut. barang koleksi yang ada di Museum Radya Pustaka ini antara lain seperti wayang kulit, berbagai macam arca, pusaka adat, dan buku-buku kuno masa lampau. buku-buku kuno tersebut antara lain seperti buku karangan Paku Buwono IV yang berjudul Wulang Reh, buku tersebut bercerita mengenai pemerintahan yang ada di kota Solo.



Memasuki kawasan Museum Radya Pustaka, pada halaman depannya kita akan disambut dengan sebuah patung dada R Ng. Rangga Warsita. Beliau adalah seorang pujangga Keraton Surakarta yang paling termasyur dan hidup pada abad ke-19. Kemudian pada tahun 1953, patung tersebut diresmikan oleh Ir. Soekarno. Tepat di belakang dan depan patung tersebut terdapat sebuah prasasti bertuliskan aksara Jawa. lalu di serambi museum, kita bisa menemukan beberapa meriam peninggalan VOC pada abad ke-17 dan ke-18.
Sementara itu, disana juga terdapat beberapa meriam kecil bekas peninggalan Keraton Surakarta. Tidak hanya itu saja, di Museum Radya Pustaka ini kita juga bisa menemukan banyak sekali arca-arca peninggalan Hindu-Budha. Antara lain seperti arca Roro Jonggrang yang memiliki artian ‘perawan tinggi’, tapi sebenarnya arca tersebut adalah arca Dewi Durga. Selain arca tersebut masih ada arca Boddhisatwa dan Siwa yang bisa kita pelajari nilai sejarahnya. Arca-arca koleksi Museum Radya Pustaka ini kebanyakan berasal dari penumuan-penemuan di sekitar wilayah Solo.





MENYUSURI KAMPUNG BATIK LAWEYAN SOLO

Menyusuri Kampung Batik Laweyan Solo yang Mempesona – Kota Solo tidak hanya terkenal memiliki banyak wisata malamnya saja. tetapi Kota Solo masih menyimpan banyak sekali destinasi jenis wisata yang bisa kita nikmati. Mulai dari wisata budaya, wisata religi, hingga wiata kerajinan.
Salah satu wisata kerajinan yang ada di kota Solo dan patut Anda kunjungi adalah Kampung Batik Laweyan Solo. Kampung ini sangat terkenal di Indonesia, dan bahkan pada jaman dahulu Kampung Batik Laweyan Solo ini sudah terkenal hingga sampai ke mancanegara. Kampung ini terkenal karena kualitas batik yang ditawarkan.
Menyusuri Kampung Batik Laweyan Solo yang Mempesona
Kampung Batik Laweyan Solo dikenal sebagai kampungnya para juragan batik. Baik juragan batik yang berasal dari Solo ataupun sekitarnya. Kampung ini mulai terkenal sejak tahun 1970. Dari informasi yang kami dapatkan saat berkunjung ke Kampung Batik Laweyan, pengambilan nama kampung tersebut berasal dari lawe yang berarti bahan baku pembuatan kain mori. Sehingga disinilah tempat pembuatan kain benang lawe terbesar di Indonesia.
Setelah kami menelusuri lebih dalam mengenai sejarah berdirinya Kampung Batik Laweyan Solo Solo ini, kami mendapatkan bukti sejarah bahwa kampung ini dahulunya merupakan bagian dari Kerajaan Pajang, yang menjadi pelopor berdirinya kampung satu ini adalah Kyai Ageng Henis pada abad ke- 16. Hal ini dibuktikan dengan terdapatnya sebuah makam bertuliskan Kyai Ageng Henis. Makam tersebut juga sekarang dijadikan sebagai objek wisata religi di kota Solo.


Memasuki kawasan perkampungan batik Laweyan Solo ini, kita akan disambut dengan berbagai macam papan yang telah tertempel. Papan memberitahu kepada kita betapa banyaknya situs sejarah yang terdapat disana. Berbeda dengan jaman dahulu, kini wajah Kampung Batik Laweyan sudah mendapatkan banyak sekali perubahan-perubahan. Kampung yang juga dikenal sebagai bukti masa keemasan Serikat Dagang Islam yang dipelopori oleh KH Samanhudi sekitar tahun 1911 ini, popularitaskan semakin hari semakin meningkat seiring dengan diperkenalkannya hasil kerajinan batik dari kota Solo ke mata internasional.
Singgah di Kampung Laweyan Solo, kita bisa menikmati berbagai macam desain-desain bangunan megah abad jaman dahulu. bangunan-bangunan tersebut hampir mirip dengan bangunan yang terdapat di Keraton Surakarta Hadiningrat, dimana bangunan ini menggunakan gaya-gaya Eropa bercampur dengan artsitek Jawa. hal ini juga membuktikan bahwa jaman dahulu Kampung Batik Laweyan pernah mencapai taraf perekonomian yang maju atau tinggi. bahkan kami juga mendapatkan informasi, kampung ini dahulu sebenarnya merupakan eksportir pertama.
Menyusuri lorong-lorong yang ada di Kampung Batik Laweyan Solo, kita akan menemukan banyak rumah pengrajin batik. Kita juga bisa merasakan aroma malam (lilin) yang sangat khas dengan kain batik. Aroma tersebut terpadu dengan sangat ciamik dengan kesan masa lalu yang ditonjolkan akibat desain-desain bangunan kuno. Dijamin Anda saat berada disini serasa memasuki masa jaman dahulu.
Selain menikmati bangunan-bangunan kuno masa lalu yang sangat menawan. Di Kampung Batik Laweyan Solo ini, kita juga bisa menikmati berbagai macam kerajinan batik, kerajinan batik tersebut tersedia dalam beragam motif. Bahkan jumlah variasi motif dari pengrajin batik satu dengan yang lainnya itu tidak bisa terhitung berapa banyaknya. Tidak hanya itu saja, Anda juga bisa berlatih menjadi seorang pengrajin batik sendiri. karena di kampung ini disediakan wahana melukis batik dengan tangan kita sendiri.
Setelah puas menikmati keindahan bangunan dan kerajinan batik di Kampung Batik Laweyan Solo, Anda bisa pulang dengan membawa oleh-oleh khas berupa kerajinan batik dari kampung tersebut. untuk mendapatkan buah tangan tersebut, disana sudah ada banyak sekali penjual oleh-oleh yang siap untuk Anda bawa pulang.

FESTIVAL DAN PERAYAAN
Setiap tahun pada tanggal-tanggal tertentu Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran mengadakan berbagai macam perayaan yang menarik. Perayaan tersebut pelaksanaannya berdasarkan pada penanggalan Jawa. Perayaan-perayaan tersebut antara lain:

KITAB PUSAKA MALAM 1 PURA
Acara ini diselenggarakan oleh Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran pada malam hari menjelang tanggal 1 Sura. Acara ini ditujukan untuk merayakan Tahun Baru Jawa1 Sura. Rute yang ditempuh oleh kirab yang diselenggarakan oleh Keraton Surakarta kurang lebih sejauh 3 km yaitu Keraton Surakarta - Alun-Alun Utara - Gladag - Jl. Mayor Kusmanto - Jl. Kapten Mulyadi - Jl. Veteran - Jl. Yos Sudarso - Jl. Slamet Riyadi - Gladag kemudian kembali ke Keraton Surakarta lagi. Pusaka-pusaka yang memiliki daya magis tersebut dibawa oleh para abdi dalem yang berbusana Jawi Jangkep. Peserta kirab yang berada di barisan paling depan adalah sekelompok kerbau albino (kebo bule) bernama keturunan kerbau pusaka Kyai Slamet, sedangkan barisan para pembawa pusaka berada di belakangnya.


Sekaten

Suasana kirab gunungan saat Grebeg Mulud diKeraton Surakarta.
Sekaten diadakan setiap bulan Mulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tanggal 12 Mulud diselenggarakan Grebeg Mulud. Kemudian diadakan pesta rakyat selama dua minggu. Selama dua minggu ini pesta rakyat diadakan di Alun-Alun Utara. Pesta rakyat menyajikan pasar malam, arena permainan anak dan pertunjukan-pertunjukan seni dan akrobat. Pada hari terakhir sekaten, diadakan kembali acara grebeg di Alun-Alun Utara. Upacara sekaten diadakan pertama kali pada masa pemerintahan Kesultanan Demak.

GREBEG SUDIRO
Grebeg Sudiro diadakan untuk memperingati Tahun Baru Imlek dengan perpaduan budaya Tionghoa-Jawa. Festival yang dimulai sejak 2007 ini biasa dipusatkan di daerah Pasar Gedhe dan Balong (di Kelurahan Sudiroprajan) dan Balai Kota Surakarta.


GREBEG MULUD
Diadakan setiap tanggal 12 Mulud untuk memperingati hari Maulud Nabi Muhammad SAW. Grebeg Mulud merupakan bagian dari perayaan Sekaten. Dalam upacara ini para abdi dalem dengan berbusana Jawi Jangkep Sowan Keraton mengarak gunungan (pareden) dari Keraton Surakarta ke Masjid Agung Surakarta. Gunungan terbuat dari berbagai macam sayuran dan penganan tradisional. Setelah didoakan oleh ngulamadalem (ulama keraton), satu buah gunungan kemudian akan diperebutkan oleh masyarakat pengunjung dan satu buah lagi dibawa kembali ke keraton untuk dibagikan kepada para abdi dalem.


TINGGALANDALEM JUMENENGAN

Tarian Sakral Bedhaya Ketawang.
Diadakan setiap tanggal 2 Ruwah untuk memperingati hari ulang tahun penobatan Sri Susuhunan Surakarta. Dalam acara ini sang raja duduk di atas dampar (singgasana) di Pendapa Agung Sasana Sewaka dengan dihadap oleh para abdi dalem dan bangsawan sambil menyaksikan tari sakral, Tari Bedhaya Ketawang, yang ditarikan oleh sembilan remaja putri yang belum menikah. Para penari terdiri dari para wayahdalem, sentanadalem, dan kerabat raja lainnya atau dapat juga penari umum yang memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan.
GREBEG PASA
Grebeg ini diadakan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal. Acara ini berlangsung setelah melakukan Salat Ied. Prosesi acaranya sama dengan Grebeg Mulud yaitu para abdi dalem mengarak gunungan dari Keraton Surakarta ke Masjid Agung Surakarta untuk didoakan oleh ulama keraton kemudian dibagikan kepada masyarakat pengunjung.



SWALAYAN
Syawalan mulai diadakan satu hari setelah Hari Raya Idul Fitri dan berlangsung di Taman Satwataru Jurug di tepi Bengawan Solo. Pada puncak acara yaitu "Larung Gethek Jaka Tingkir" diadakan pembagian ketupat pada masyarakat pengunjung. Pada acara syawalan juga diadakan berbagai macam pertunjukan kesenian tradisional.

GREBEG BREBES
Berlangsung pada hari Idul Adha (tanggal 10 Besar). Upacara sama dengan prosesi gunungan pada Grebeg Pasa dan Grebeg Mulud.


SOLO BATIK CARNIVAL

Karnaval Batik Solo atau Solo Batik Carnival adalah sebuah festival tahunan yang diadakan oleh pemerintah Kota Surakarta dengan menggunakan batik sebagai bahan utama pembuatan kostum. Para peserta karnaval akan membuat kostum karnaval dengan tema-tema yang di tentukan. Para peserta akan mengenakan kostumnya sendiri dan berjalan di atas catwalk yang berada di Jalan Slamet Riyadi. Karnaval ini diadakan setiap tahun pada bulan Juni sejak tahun 2008.

SOLO BATIK FASHION
Demikian pula Solo Batik Fashion adalah sebuah peragaan busana batik tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah di tempat-tempat terbuka supaya dapat dinikmati oleh segenap warga Surakarta. Peragaan batik ini diadakan setiap tahun pada bulan Juli sejak tahun 2009.
Budaya

Wayang orang yang ditampilkan di Gedung Wayang Orang Sriwedari.
Surakarta dikenal sebagai salah satu inti kebudayaan Jawa karena secara tradisional merupakan salah satu pusat politik dan pengembangan tradisi Jawa. Kemakmuran wilayah ini sejak abad ke-19 mendorong berkembangnya berbagai literatur berbahasa Jawa, tarian, seni boga, busana, arsitektur, dan bermacam-macam ekspresi budaya lainnya. Orang mengetahui adanya "persaingan" kultural antara Surakarta dan Yogyakarta, sehingga melahirkan apa yang dikenal sebagai "Gaya Surakarta" dan "Gaya Yogyakarta" di bidang busana, gerak tarian, seni tatah kulit (wayang), pengolahan batik, gamelan, dan sebagainya.


BAHASA SURAKARTA

R. Ng. Ranggawarsita adalah pujangga besar sastra dan budaya Jawa yang lahir dan hidup di Surakarta. Ia dianggap sebagai pujangga besar terakhir tanah Jawa.
Bahasa yang digunakan di Surakarta adalah Bahasa Jawa Dialek Mataraman dengan varian Surakarta. Dialek Mataraman juga dituturkan di daerah Yogyakarta, Semarang, Madiun, hingga sebagian besar Kediri. Meskipun demikian, varian lokal Surakarta ini dikenal sebagai "varian halus" karena penggunaan kata-kata krama yang meluas dalam percakapan sehari-hari, lebih luas daripada yang digunakan di tempat lain. Bahasa Jawa varian Surakarta digunakan sebagai standar Bahasa Jawa nasional (dan internasional, seperti di Suriname). Beberapa kata juga mengalami spesifikasi, seperti pengucapan kata "inggih" ("ya" bentuk krama) yang penuh (/iÅ‹gɪh/), berbeda dari beberapa varian lain yang melafalkannya "injih" (/iÅ‹dʒɪh/), seperti di Yogyakarta dan Magelang. Dalam banyak hal, varian Surakarta lebih mendekati varian Madiun-Kediri, daripada varian wilayah Jawa Tengahan lainnya.
Walaupun dalam kesehariannya masyarakat Surakarta menggunakan bahasa nasional Bahasa Indonesia, namun sejak kepemimpinan wali kota Joko Widodo maka Bahasa Jawa mulai digalakkan kembali penggunaannya di tempat-tempat umum, termasuk pada plang nama-nama jalan dan nama-nama instansi pemerintahan dan bisnis swasta.
Surakarta juga berperan dalam pembentukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional Indonesia. Pada tahun 1938, dalam rangka memperingati sepuluh tahun Sumpah Pemuda, diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia I di Surakarta. Kongres ini dihadiri oleh bahasawan dan budayawan terkemuka pada  saat itu, seperti Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat, Prof. Dr. Poerbatjaraka, dan Ki Hajar Dewantara. Dalam kongres tersebut dihasilkan beberapa keputusan yang sangat besar artinya bagi pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia. Keputusan tersebut, antara lain:

PERNIKAHAN ADAT
Pernikahan adat Surakarta juga memiliki ciri-ciri yang khusus, mulai dari lamaran, persiapan pernikahan, hingga upacara siraman dan midodaren.

TARIAN
Tiga orang penari sedang menari diPura Mangkunegaran.
Surakarta memiliki beberapa tarian daerah seperti Bedhaya (Ketawang, Dorodasih, Sukoharjo, dll.) dan Srimpi (Gandakusuma dan Sangupati). Tarian ini masih dilestarikan di lingkungan Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran sebagai pusat pengembangan dan pelestarian kebudayaan Jawa. Tarian seperti Bedhaya Ketawang misalnya, secara resmi hanya ditarikan sekali dalam setahun untuk menghormati Sri Susuhunan Surakarta sebagai pemimpin Kota Surakarta.

BATIK
Batik adalah kain dengan corak atau motif tertentu yang dihasilkan dari bahan malam khusus (wax) yang dituliskan atau di cap pada kain tersebut, meskipun kini sudah banyak kain batik yang dibuat dengan proses cetak. Surakarta memiliki banyak corak batik khas, seperti Sidomukti dan Sidoluruh.[51] Beberapa usaha batik terkenal adalah Batik Keris, Batik Danarhadi, dan Batik Semar. Sementara untuk kalangan menengah dapat mengunjungi pusat perdagangan batik di kota ini berada di Pasar Klewer, Pusat Grosir Solo (PGS), Beteng Trade Center (BTC), atau Ria Batik. Selain itu di kecamatan Laweyan juga terdapat Kampung Batik Laweyan, yaitu kawasan sentra industri batik yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Pajang tahun 1546.[52] Kampun batik lainnya yang terkenal untuk para turis adalah Kampung Batik Kauman. Produk-produk batik Kampung Kauman dibuat menggunakan bahan sutra alam dan sutra tenun, katun jenis premisima dan prima, rayon. Keunikan yang ditawarkan kepada para wisatawan adalah kemudahan transaksi sambil melihat-lihat rumah produksi tempat berlangsungnya kegiatan membatik. Artinya, pengunjung memiliki kesempatan luas untuk mengetahui secara langsung proses pembuatan batik bahkan untuk mencoba sendiri mempraktekkan kegiatan membatik.
Batik Surakarta memiliki ciri pengolahan yang khas: warna kecoklatan (sogan) yang mengisi ruang bebas warna, berbeda dari gaya Yogyakarta yang ruang bebas warnanya lebih cerah. Pemilihan warna cenderung gelap, mengikuti kecenderungan batik pedalaman. Jenis bahan batik bermacam-macam, mulai dari sutra hingga katun, dan cara pengerjaannya pun beraneka macam, mulai dari batik tulis hingga batik cap. Setiap tahunnya Surakarta juga mengadakan Karnaval Batik Solodan mulai tahun 2010 pemerintah kota Surakarta mengoperasikan bus yang bercorak batik bernama Batik Solo Trans.

SURAKARTA DALAM BUDAYA POPULER
Sungai Bengawan Solo menjadi inspirasi dari lagu yang diciptakan oleh Gesang pada tahun 1940-an. Lagu ini menjadi populer di negara-negara di Asia. Selain itu, sungai ini pun telah menjadi judul tiga film, yaitu dua film berjudul "Bengawan Solo" tahun 1949 dan 1971, serta satu film berjudul Di Tepi Bengawan Solo (1951). Film-film lain yang mengambil tema Surakarta antara lain adalah: Putri Solo (1953) dan Bermalam di Solo (1962).


DAFTAR PUSTAKA :

BAYU HARIYANTO YUDISTIRA
D3 USAHA JASA PARIWISATA (A) 2014
4423143955
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
Bayuhar27@gmail.com





Sunday, January 3, 2016

T3_Muhamad Adi Nugraha_Destinasi



Romantisme Wisata di Kota Purwakarta Pada Malam Hari

( Manchester Van Java )


Paguyuban Mojang-Jajaka Purwakarta

Pengantar
      Purwakarta merupakan salah satu nama daerah yang terdapat di provinsi Jawa Barat, nama Purwakarta sendiri bisa dikatakan belum terkenal dibandingkan dengan nama-nama daerah lain yang juga berada di provinsi Jawa Barat seperti misalnya Bandung dan Bogor yang sudah menjadi salah satu ikon dari Provinsi ini. Menurut sumber yang dikutip oleh https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Purwakarta, nama Purwakarta berasal dari suku kata "purwa" yang artinya permulaan dan "karta" yang berarti ramai atau hidup. Pemberian nama Purwakarta dilakukan setelah kepindahan ibukota Kabupaten Purwakarta dari Wanayasa ke Sindang Kasih. Peristiwa kepindahan ibukota kabupaten ini setiap tahunnya diperingati pada tanggal 20 Juli dengan melakukan napak tilas dari Wanayasa ke Sindang Kasih. Walaupun demikian Purwakarta memiliki keunggulan-keunggulan pariwisata yang dapat diperhitungkan, potensi dari sumber daya alam yang terdapat di daerah Purwakarta tentunya tidak kalah dengan sumber daya alam di daerah lain yang ada di Jawa Barat, hanya saja dalam hal ini dalam hal kegiatan pariwisata daerah Purwakarta sendiri baru gencar memulai mempromosikan keunggulan-keunggulan daerah tersebut, tentunya sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Jawa Barat seperti misalnya Bandung yang sudah memiliki nilai dan keunggulan akan pariwisatanya di Jawa Barat, bahkan jika akhir pekan Bandung menjadi tempat yang wajib untuk dikunjungi terutama oleh masyarakat Jakarta.

Sumber: www.skycrapercity.com "Gerbang Selamat Datang" dari arah Bandung

     Hal tersebut yang kemudian menjadi salah satu pertimbangan untuk bupati Purwakarta yaitu Dedi Mulyadi untuk kemudian meningkatkan sektor pariwisata daerah Purwakarta yang berbasis pada kebudayaan lokalnya. Sebagian besar masyarakat Purwakarta merupakan suku sunda maka tidak heran nilai-nilai yang saat ini mulai diangkat lagi adalah nilai-nilai kebudayaan sunda yang sangat identik dengan Jawa Barat itu sendiri. Purwakarta merupakan kota kecil yang dihapit oleh Jakarta dan Bandung dengan letaknya yang sangat strategis.

Sumber: www.explorejabar.com "Gunung Parang"

     Untuk itu saya sebagai salah satu putera daerah ingin sekali bisa sekaligus mempromosikan kota kelahiran saya sendiri kepada kalian semua yang menyempatkan waktu untuk membaca tulisan blog ini. Ada beberapa visi sederhana yang ingin saya wujudkan untuk Purwakarta. Semoga melalui tulisan sederhana ini saya bisa memulai mewujudkan visi-visi, impian dan bahkan imajinasi-imajinasi liar saya tentang Purwakarta. Yang pasti kota Purwakarta merupakan aset paling berharga yang saya miliki apabila mengacu pada seberapa besar hal-hal yang saya bisa dapatkan dan wujudkan menyangkut dengan kegiatan Kepariwisataan di Indonesia.

Sumber: www.bisnis.tempo.com "Bendungan Cirata"

Pembahasan

Sejarah

Sebelum penjajahan Belanda
    Keberadaan Purwakarta tidak terlepas dari sejarah perjuangan melawan pasukan VOC. Sekitar awal abad ke-17 Sultan Mataram mengirimkan pasukan tentara yang dipimpin oleh Bupati Surabaya ke Jawa Barat. Salah satu tujuannya adalah untuk menundukkan Sultan Banten. Tetapi dalam perjalanannya bentrok dengan pasukan VOC sehingga terpaksa mengundurkan diri.

    Setelah itu dikirimkan kembali ekspedisi kedua dari Pasukan Mataram di bawah pimpinan Dipati Ukur serta mengalami nasib yang sama pula. Untuk menghambat perluasan wilayah kekuasaan kompeni (VOC), Sultan Mataram mengutus Penembahan Galuh (Ciamis) bernama R.A.A. Wirasuta yang bergelar Adipati Panatayuda atau Adipati Kertabumi III untuk menduduki Rangkas Sumedang (Sebelah Timur Citarum). Selain itu juga mendirikan benteng pertahanan di Tanjungpura, Adiarsa, Parakansapi dan Kuta Tandingan. Setelah mendirikan benteng tersebut Adipati Kertabumi III kemudian kembali ke Galuh dan wafat. Nama Rangkas Sumedang itu sendiri berubah menjadi Karawang karena kondisi daerahnya berawa-rawa (Sunda : "Karawaan").
    Sultan Agung Mataram kemudian mengangkat putera Adipati Kertabumi III, yakni Adipati Kertabumi IV menjadi Dalem (bupati) di Karawang pada tahun 1656. Adipati Kertabumi IV ini juga dikenal sebagai Raden Adipati Singaperbangsa atau Eyang Manggung, dengan ibu kota di Udug-udug.

    Pada masa pemerintahan R. Anom Wirasuta putera Panembahan Singaperbangsa yang bergelar R.A.A. Panatayuda I antara Tahun 1679 dan 1721 ibu kota Karawang dari Udug-udug pindah ke Karawang, dengan daerah kekuasaan meliputi wilayah antara Cihoe (Cibarusah) dan Cipunagara. Pemerintahan Kabupaten Karawang berakhir sekitar tahun 1811-1816 sebagai akibat dari peralihan penguasaan Hindia-Belanda dari Pemerintahan Belanda kepada Pemerintahan Inggris.

Masa penjajahan Belanda
     Masjid Agung Purwakarta pada tahun 1920-1935 (dibangung atas perintah Raden Tumenggaung Aria Sastradipura I, bupati ke-12, menjabat tahun 1854-1863). Antara tahun 1819-1826 Pemerintahan Belanda melepaskan diri dari Pemerintahan Inggris yang ditandai dengan upaya pengembalian kewenangan dari para Bupati kepada Gubernur Jendral Van Der Capellen. Dengan demikian Kabupaten Karawang dihidupkan kembali sekitar tahun 1820, meliputi wilayah tanah yang terletak di sebelah Timur sungai Citarum/Cibeet dan sebelah Barat sungai Cipunagara.Dalam hal ini kecuali Onder Distrik Gandasoli, sekarang Kecamatan Plered pada waktu itu termasuk Kabupaten Bandung. Sebagai Bupati I Kabupaten Karawang yang dihidupkan kembali diangkat R.A.A. Surianata dari Bogor dengan gelar Dalem Santri yang kemudian memilih ibukota kabupaten di Wanayasa.

Pendopo Kabupaten Purwakarta Tahun 2009
    Pada masa pemerintahan Bupati R.A. Suriawinata atau Dalem Sholawat, pada tahun 1830 ibu kota dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih yang diresmikan berdasarkan besluit (surat keputusan) pemerintah kolonial tanggal 20 Juli 1831 nomor 2.
    Pembangunan dimulai antara lain dengan pengurugan rawa-rawa untuk pembuatan Situ Buleud, Pembuatan Gedung Karesidenan, Pendopo, Mesjid Agung, Tangsi Tentara di Ceplak, termasuk membuat Solokan Gede, Sawah Lega dan Situ Kamojing. Pembangunan terus berlanjut sampai pemerintahan bupati berikutnya.

Sumber: www.salamanbiroe.com "Pendopo Purwakarta"

Masa kemerdekaan
    Kabupaten Karawang dengan ibukota Purwakarta berjalan sampai dengan tahun 1949. Pada tanggal 29 Januari 1949 dengan Surat Keputusan Wali Negeri Pasundan Nomor 12, Kabupaten Karawang dipecah dua yakni Karawang Bagian Timur menjadi Kabupaten Purwakarta dengan ibu kota di Subang dan Karawang Bagian Barat menjadi Kabupaten Karawang. Berdasarkan Undang-undang nomor 14 tahun 1950, tentang pembentukan daerah kabupaten dalam lingkungan Provinsi Jawa Barat, selanjutnya diatur penetapan Kabupaten Purwakarta, dengan ibu kota Purwakarta, yang meliputi Kewedanaan Subang, Sagalaherang, Pamanukan, Ciasem dan Purwakarta.

Sosial Budaya
     Seperti pada umumnya masyarakat yang berdomisili di bagian tengah Jawa Barat, pola kehidupan masyarakat Kabupaten Purwakarta didominasi oleh kultur budaya Sunda. Sejalan dengan perkembangan zaman yang ditandai oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, masyarakat Purwakarta banyak dipengaruhi oleh budaya asing. Namun demikian, budaya masyarakat pada dasarnya tetap bernuansa budaya Sunda dan nilai-nilai agama, terutama agama Islam. Mayoritas penduduk Kabupaten Purwakarta adalah pemeluk Agama Islam (muslim) dan sisanya adalah non-muslim. Dengan kata lain, penduduk Purwakarta adalah masyarakat beragama.

Transportasi
     Trayek bus umum yang melintasi Kabupaten Purwakarta antara lain tujuan Jakarta, Bandung, Bogor, Bekasi, Karawang, Cilegon, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Cirebon dan kota-kota di Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur. Di samping itu terdapat pula moda angkutan kereta api yang melayani tujuan Jakarta, Bandung, Semarang, Karawang, dan Bekasi.

     Bagi masyarakat yang bermukim di sekeliling Waduk Jatiluhur, moda transportasi yang biasa digunakan adalah kapal berukuran kecil (dibawah 7 GT). Dan untuk akses menuju Purwakarta khususnya dari Jakarta, kita bisa menggunakan bus atau kereta api. Kalau untuk bus dari terminal rambutan biasanya menggunakan bus “warga baru” tujuan Subang, sedikit catatan bahwa untuk menuju Purwakarta dari terminal rambutan ini hanya sekedar lewat karena memang tujuan akhir dari bus tersebut adalah Subang tetapi untuk kalian yang mau ke Purwakarta, kalian bisa turun di sadang (karena rute ke Subang melewati Purwakarta tepatnya daerah Sadang). Nah, untuk biayanya sendiri sekitar Rp. 20.000,00 ,-. Sementara jika menggunakan kereta dari Jakarta dalam satu hari hanya sekitar 1 atau 2 kali jalan. Untuk akses kereta api yang digunakan kalian berangkat dari stasiun Jakarta Kota, untuk biayanya sendiri terakhir kali saya menggunakan kereta yaitu Rp. 3.000,00,-

     Wilayah Purwakarta dilintasi oleh ruas Jalan tol Jakarta-Cikampek dan ruas Jalan Tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang). Gerbang Tol yang berada di wilayah Kabupaten Purwakarta adalah di Cikopo (Cikampek), Sadang dan Jatiluhur. Namun di Kabupaten Purwakarta tidak terdapat satupun terminal bus yang memiliki fasilitas yang memadai.

Destinasi Wisata

Wisata alam
  • Waduk Jatiluhur, dengan luas 8.300 ha terletak ±9 km dari kota Purwakarta menawarkan sarana rekreasi dan olahraga air yang lengkap dan menarik seperti : dayung, selancar angin, ski air, power boating, perahu layar, dan kapal pesiar. Fasilitas yang tersedia adalah hotel dan bungalow, bar dan restoran, lapangan tenis, kolam renang dengan water slide, gedung pertemuan dan playground. Bagi wisatawan remaja, tersedia pondok remaja serta lahan yang cukup luas untuk kegiatan outbond dan perkemahan yang letaknya diperbukitan diteduhi pepohonan. Di perairan Waduk Jatiluhur ini juga terdapat budi daya ikan keramba jaring apung yang menjadi daya tarik tersendiri. Di waktu siang atau malam kita dapat memancing sambil menikmati ikan bakar. Khusus untuk educational tourism, yang ingin mengetahui seluk beluk waduk ini, Perum Jasa Tirta II menyediakan tenaga ahli. 
    Sumber: www.tripadvisor.com "Danau Jatiluhur"

  • Waduk Cirata, dengan luas 62 km2 berada pada ketinggian 223 m DPL dikelilingi oleh perbukitan. Jika melakukan perjalanan dari kota Purwakarta melalui Plered, akan tiba di Cirata dalam waktu ±40 menit dengan jarak sejauh 15 km. Dalam perjalanan akan melewati pusat perdagangan peuyeum Bendul dan Sentra Industri Keramik Plered disamping menikmati keindahan alam di sepanjang jalan Plered-Cirata.
Sumber: bandung.panduanwisata.id "Situ Wanayasa"
  • Situ Wanayasa adalah danau alam yang berada pada ketinggian 600 m DPL dengan luas 7 ha, terletak ±23 km dari kota Purwakarta dengan udara yang sejuk berlatar belakang Gunung Burangrang.
  •  
  • Sumber Air Panas Ciracas. Terletak ±8 km dari Situ Wanayasa berlokasi di kaki bukit dikelilingi oleh pepohonan dan hamparan sawah dengan udara yang sejuk. Terdapat sekitar 12 titik sumber mata air panas.
  • Air terjun Curug Cipurut dapat ditempuh dengan berjalan kaki sepanjang ± 3 km ke arah Selatan kota Wanayasa, merupakan tempat yang nyaman untuk rekreasi baik hiking maupun camping ground. Berada pada ketinggian 750 m DPL.
Sumber: Line Official "Urang Purwakarta" Sungai Cidomas, Wanayasa
  • Sungai Cidomas “Blue River” di Purwakarta. Sungai cidomas terletak di desa Garokgek, Kecamatan Kiara Pedes, Purwakarta. Sekitar 4 KM dari Situ Wanayasa dengan mengambil jalan ke arah subang. Nampak birunya warna air Cidomas sebagai akibat pantulan dari sinar matahari dan dari jernihnya air dan kedalaman sungai tersebut. Selain itu terdapat juga aliran air terjun kecil dan tebing batu yang luar biasa membentuk relief hasil pahatan alam yang luar biasa indah
  • Badega Gunung Parang adalah obyek wisata alam yang menyediakan sarana untuk rock climbing. Terletak 28 km dari kota Purwakarta berada pada ketinggian 983 m DPL. Tebing bagian barat Gunung Parang, Purwakarta
  • Gua Jepang berlokasi ±28 Km dari kota Purwakarta, memiliki ketinggian sekitar 700 m DPL, dikelilingi perkebunan teh, pohon pinus, cengkeh, manggis dan termasuk dalam kawasan puncak Gunung Burangrang. Gua Jepang merupakan gua buatan yang dibangun oleh Jepang (Romusha) sekira tahun 1943 untuk digunakan sebagai tempat persembunyian.
  • Desa Wisata Bojong terletak di Desa Pasanggrahan Kecamatan Bojong ±35 km dari Kota Purwakarta, berada pada ketinggian ±650 m DPL dikelilingi pepohonan, bukit, hamparan sawah, pemandangan alam Gunung Burangrang dan areal perkebunan rakyat.
  • Wisata Via Ferrata Wisata panjat tebing dengan menaiki tangga besi yang dilengkapi alat pengaman khusus bernama lanyard double system, dengan adanya teknik mendaki seperti Via Ferrata ini memungkinkan semua orang dapat memanjat Tebing parang tanpa mempunyai kemampuan khusus, Berada di Tebing Parang, Desa Pasanggrahan, Dusun Cirangkong.
Sumber: www.pondoksalam.co.id
  • Situ Buleud, adalah danau seluas 4 ha berbentuk bulat yang terletak di tengah kota Purwakarta. Situ buleud merupakan landmark Purwakarta. Konon Situ Buleud tempo dulu merupakan tempat "pangguyangan" (mandi/berendam) badak, kemudian pada masa pemerintahan kolonial Belanda dijadikan sebagai tempat peristirahatan. Nantinya Situ Buleud akan dibangun museum bawah tanah dan taman air mancur siliwangi seperti di singapura.
  • Desa Wisata Sajuta Batu, terletak di Desa Pasanggrahan Kecamatan Tegalwaru, salah satu tujuan wisata alam di Purwakarta, dengan suasana khas pedesaan Purwakarta. terdapat berbagai jenis objek wisata tersedia, antaralain, wisata rekreasi dengan jelajah desa dan kampung dengan suguhan panorama alam yang masih asli, wisata mancing, wisata ziarah dan trekking, panjat tebing di Gunung Parang (Gunung batu andesit terbesar di Indonesia) dan menelusuri cerita rakyat Jonggrang Kalapitung di Gunung Bongkok, menelusuri Goa Bolong Gunung Parang serta terdapat sarana bumi perkemahan dan area off road di area Gunung Salasih.

Wisata budaya
  • Gedung Negara, dibangun tahun 1854 pada masa kolonial Belanda dengan gaya arsitektur Eropa. Kini Gedung Negara menjadi Kantor Bupati Purwakarta.
Sumber: www.disparbud.jabarprov.go.id "Gedung Keresidenan Purwakarta"
  • Gedung Karesidenan, seusia dengan Gedung Negara dibangun pada zaman pemerintahan kolonial Belanda. Kini menjadi Kantor Badan Koordinasi Wilayah IV terletak di Jalan KK. Singawinata.
  • Mesjid Agung, terletak di samping Gedung Negara dibangun pada tahun 1826 pada masa kolonial Belanda. Mesjid ini mulai dipugar pada tahun 1993 dengan tetap mempertahankan bentuk asli dan nilai sejarahnya, kemudian diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat pada tahun 1995.
Sumber: www.kerajinan.id "Sentra Industri Keramik, Plered"
  • Sentra Industri Keramik Plered, terletak di Desa Anjun ±13 km dari kota Purwakarta. Industri ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 1904 menghasilkan keramik berkualitas diekspor ke manca negara antara lain Jepang, Belanda, Thailand, dan Singapura. Jenis keramik yang dihasilkan antara lain gerabah, terakota dan porselen.
  • Industri Kain Songket, diproduksi oleh PT. Sinar sejak tahun 1956 untuk di ekspor ke Brunei dan konsumsi dalam negeri.
  • Kesenian Buncis dan Domyak merupakan kesenian khas Purwakarta disamping wayang golek, celempungan, tari-tarian, degung, ketuk tilu, jaipongan, tungbrung, reog, calung dan kesenian-kesenian daerah lainnya.

Wisata Ziarah
  • Makam RA. Suriawinata. Seorang pendiri kota Purwakarta yang meninggal tahun 1827, dia merupakan Bupati Karawang ke-9 dimakamkan di tengah Situ Wanayasa.
  • Makam Baing Yusuf adalah makam Syech Baing Yusuf yang meninggal pada tahun 1856 terletak di belakang Mesjid Agung Purwakarta. Beliau adalah merupakan seorang ulama besar pada zamannya bermukim di Kaum (Paimbaran Mesjid Agung) Purwakarta dan mendirikan pondok pesantren.
  • Makam Syekh Tubagus Ahmad Bakri (Mama Sempur) Makam keramat Sempur adalah Makam Mama Sempur, Beliau adalah seorang tokoh agama Islam yang disegani dan terkemuka, sehingga sekarang banyak pengunjung berziarah ke makam tersebut. Letaknya di Sempur-Plered, 14 km dari kota Purwakarta.
Wisata Buatan
  • Taman Sri Baduga Air mancur Taman Sri Baduga yang menjadi Ikon Baru Purwakarta ini digadang-gadang sama persis dengan Air Mancur Wing Of Time  yang berda di Singapura. Tak hanya itu Air mancur Taman Sri Baduga yang di klaim sebagai Air Mancur terbesar di Indonesia ini pada dibagian utara hingga selatan juga disambungkan oleh sejumlah air mancur. Sementara tepat ditengah danau, terdapat 4 patung harimau dan 1 patung Sri Baduga Maharaja .
Makanan
Sumber: www.indowarta.com "Sate Maranggi"
  • Sate Maranggi. Yang membedakan dengan sate lainnya adalah bumbu kecapnya yang diolah hingga memiliki cita rasa unik-asam, manis, pedas. Disamping sate maranggi, banyak juga terdapat rumah-rumah makan khas Sunda yang menyajikan ikan bakar, pepes, ayam goreng, ayam bakar (bakakak), lengkap dengan sambal dadakan.
  • Soto Sadang. Soto ini dinamakan Soto Sadang, karena memang lokasi awalnya terletak di Sadang, Purwakarta. Tepatnya di persimpangan jalan raya menuju Jakarta dengan rel kereta api. Tapi semenjak dibangunnya jalan layang, rumah makan ini pindah ke arah kota Purwakarta, yaitu di Jalan Veteran
  • Bakakak (Ayam Bakar), untuk cita rasanya sendiri berbeda dengan ayam bakar yang ada pada umumnya terutama untuk ayam bakar/ bakakak encin cibatu (nama salah satu rumah makan sederhana).
Oleh-oleh
  • Simping. Makanan ini bentuknya berupa lembaran pipih, bundar tipis, biasanya berwarna putih, dan rasanya gurih. Terbuat dari tepung beras yang diberi beberapa bumbu
  • Peuyeum bendul
  • Gula aren Cikeris
  • Manisan pala
  • Teh hijau
  • Colenak
  • Opak
  • Browyeum (Brownies Peuyeum). Oleh-oleh ini adalah hasil inovasi dari peuyeum bendul yang di padukan dengan brownies, sehingga menghasilkan citarasa yang khas,dan dapat diperoleh di Perum Bukit Panorama Indah, belakang Polres.
     Dari penjelasan yang sudah saya paparkan diatas berdasarkan informasi dari beberapa situs terkait, maka saya ingin lebih spesifik dalam menyampaikan salah satu informasi yang ada diatas. Kota Purwakarta kini sedang sangat gencarnya berbenah diri terutama dalam hal membangun brand atau ciri khas daerahnya, maklum selama saya hidup dan besar di Purwakarta, saya merasa bahwa Purwakarta tidak memiliki identitas yang kuat walaupun sebenarnya identitas itu sudah melekat dalam diri kota Purwakarta, hanya saja dalam hal ini perencanaan dan pengelolaannya belum terarah dan memiliki konsep yang kuat. Tapi saat ini saya sedikit berbangga bahwa Purwakarta sudah mulai berusaha untuk menciptakan suatu konsep daerahnya kepada masyarakat diluar daerahnya, bahkan setiap tahunnya kota Purwakarta sering mengadakan festival-festival yang melibatkan negara-negara luar khususnya negara-negara tetangga yang ada di kawasan ASEAN. Hal tersebut bertujuan untuk mempromosikan Purwakarta bukan hanya di dalam negeri saja melainkan juga luar negeri, tentunya masih dalam konteks mempromosikan kebudayaan yang ingin dijual sehingga hal tersebut yang kemudian menjadi brand storming tersendiri bagi kota Purwakarta.

Sumber: www.gpswisataindonesia.blogspot.com

     Untuk berwisata ke kota Purwakarta, kalian bisa sedikit menikmati keindahan Purwakarta di malam hari terutama jika hari-hari weekend, kenapa? Karena pada hari-hari weekend tersebut kota Purwakarta selalu mengadakan acara-acara besar yang menyangkut dengan pesta rakyat atau acara-acara yang memang dikhususkan untuk masyarakat banyak. Seperti misalnya WisKul (Wisata Kuliner). Bahkan setiap awal/ akhir bulan selalu ada acara-acara yang berkaitan erat dengan kebudayaan yaitu kebudayaan khas sunda. Buat teman-teman yang sebelumnya pernah berwisata ke Jogjakarta dan Bandung, pasti kalian semua bisa juga merasakan suasana yang kalian dapatkan di Jogjakarta dan Bandung ketika berkunjung ke Purwakarta, apalagi ketika malam hari.

     Suasana tongkrongan pinggir jalan, lampu-lampu kota yang dibuat khusus sesuai dengan konsep yang sedang dibangun oleh Bupati Purwakarta tentunya bisa menjadi pengalaman sekaligus ciri sendiri dari Jogjakarta dan Bandung. Bahkan ada beberapa tempat yang bisa kalian kunjungi ketika malam hari di beberapa pinggiran Purwakarta dengan suasana tenang dan damai, jauh dari hiruk-pikuk kemacetan seperti di kota-kota besar walaupun saya juga tidak menjamin bahwa kota Purwakarta juga tidak mengalami kemacetan, tapi secara instensitas volume kendaraannya tentu sangat jauh berbeda dengan kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung misalnya.

Sumber: www.lakupon.com "Pemandangan Gunung Parang"

     Kenapa tema penulisan tentang Purwakarta ini adalah “Manchester Van Java” ? Awalnya memang saya begitu mengagumi hal-hal dan keindahan yang ada di Manchester walaupun secara pribadi saya sendiri belum pernah kesana tapi ada beberapa hal yang sama yang kemudian saya agak sedikit memplesetkan seperti halnya kota Bandung yang sudah erat sekali dengan julukan Paris Van Java. Kota Purwakarta sendiri merupakan salah satu kota industri skala besar yang ada di Jawa Barat selain Karawang dan Cikarang, bahkan seperti yangg sudah saya sebutkan pada pengantar bahwa sebagian besar masyarakat Purwakarta menggantungkan dirinya untuk bekerja di pabrik-pabrik asing baik itu industri otomotif, textile, manufaktur dan lain sebagainya. Selain itu, sebagian besar masyarakatnya cinta akan sepakbola, begitupun juga dengan kota Manchester yang walaupun terbilang kecil tetapi kecintaan masyarakatnya terhadap sepakbola begitu sangat besar hanya saja yang membedakan adalah industri sepakbola di kota Manchester sudah sangat maju dan besar semetara untuk kota Purwakarta sendiri belum bisa terkonsep dengan baik, tetapi secara karakter dari masyarakatnya hampir sama yaitu kecintaannya akan sepakbola dan sebagian besar masyarakat yang menggantungkan hidupnya untuk bekerja di pabrik. Namun ada beberapa yang saya rasa Purwakarta jauh lebih diunggulkan dibandingkan dengan kota Manchester di Inggris yaitu tentang sumber daya alam yang luar biasa indah, sementara kota Manchester sendiri memiliki keterbatasan sumber daya alam yang saya rasa tidak sebanyak yang dimiliki Purwakarta dari mulai persawahan, pegunungan, bukit-bukit indah, danau, sungai yang masih memiliki kejernihan airnya, daerah dataran tinggi wanayasa (bisa dibilang puncaknya Purwakarta). Untuk bisa melihat bagaimana keindahan kota Purwakarta kalian bisa langsung cek di instagram #ExplorePurwakarta (keilatan bener-bener promosinya).

Sumber: www.explorejabar.com
     Selain itu, ada salah-satu destinasi wisata yang saat ini sedang hits di Purwakarta yaitu Wisata Via Ferrata, Wisata panjat tebing dengan menaiki tangga besi yang dilengkapi alat pengaman khusus bernama lanyard double system, dengan adanya teknik mendaki seperti Via Ferrata ini memungkinkan semua orang dapat memanjat Tebing parang tanpa mempunyai kemampuan khusu. Destinasi wisata ini berada di Tebing Parang, Desa Pasanggrahan, Dusun Cirangkong. Untuk akses kesana jika membawa kendaraan pribadi dari Jakarta, arahkan masuk ke jalan Tol Cipularang. Setelah menyusuri jalan tol, jangan sampai terlewat untuk keluar di pintu tol Ciganea/Jati Luhur. Setelah keluar, Anda akan bertemu pertigaan jalan, belokan kemudi mobil ke arah Plered, Purwakarta. Setelah berada di jalan menuju Plered, terdapat dua pilihan jalan untuk dapat tiba di Gunung Parang. Yang pertama adalah melewati Cilalawi, Pasar Warung Panjang dan yang kedua adalah Pasar Plered Pilihan jalur pertama terdapat di persimpangan pasar Warung Panjang melewati medan yang berkelok-kelok sejauh hampir 15-16 kilometer dengan medan yang menanjak dan berkelok-kelok di perbukitan.

     Sementara jalur kedua adalah melewati Pasar Plered dan kemudian melewati penambangan batu hingga tiba di Gunung Parang. Jalur kedua ini dapat ditemui sekitar lima kilometer setelah jalur persimpangan Pasar Warung Panjang. Jalur Cilalawi cenderung lebih jauh karena memakan waktu hampir dua jam setelah meninggalkan jalan utama. Sementara, jika melewati jalur Pasar Plered, waktu tempuh yang dibutuhkan hanya sekitar satu jam.

     Untuk keadaan jalur yang ditempuh jika melewati jalur Cilalawi, para wisatawan akan melewati perkampungan dengan jalan yang kecil dan banyak persimpangan. Berbeda dengan jalur Pasar Plered, arah yang ditempuh sudah cukup jelas. Setelah melewati Pasar Plered sekitar 4-5 kilometer, para wisatawan harus berbelok ke kanan dan mulai memasuki medan yang menanjak. Jalan yang dilalui rusak dan akan membuat waktu tempuh sedikit lebih lama. Ketika mengendarai mobil, disarankan untuk memperhatikan kiri dan kanan jalan serta mengatur laju kendaraan. Jalur yang dilewati juga berbatu dan berdebu sepanjang hampir 2-3 kilometer hingga tiba di Gunung Parang.

     Sementara jika ingin menggunakan transportasi umum, cobalah untuk naik bus tujuan Purwakarta yang melewati Tol Cipularang. Kemudian turunlah di Pintu Tol Ciganea/Jati Luhur dan disambung angkutan umum jurusan Purwakarta-Plered yang berwarna hijau. Minta kepada supir angkutan umum turun di Pasar Plered dan kembali sambung dengan angkutan menuju ke arah Kampung Cihuni, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru.

     Angkutan umum jurusan Ciganea-Plered tersedia 24 jam dengan harga tarif Rp 6.000 per orang. Hal yang perlu diperhatikan adalah angkutan menuju Gunung Parang. Jam keberangkatan terakhir dari Pasar Plered adalah pukul 17.00 WIB dengan tarif seharga Rp 12.000. Sementara jika ingin menggunakan Jalur Cilalawi, mintalah kepada supir untuk diturunkan di Pasar Warung Panjang.

     Setelah dari Pasar Warung Panjang, transportasi selanjutnya yang dapat digunakan untuk menuju Gunung Parang hanya ojek motor. Harga yang ditawarkan menuju Gunung Parang berkisar Rp 15.000 sampai Rp 30.000. Harga tersebut juga ditawarkan oleh para pengojek di Pasar Plered untuk dapat menuju Gunung Parang.

Akomodasi
     Untuk akomodasi yang bisa digunakan saat melakukan perjalanan menuju gunung parang adalah dengan menggunakan penginapa Badega, Badega merupakan salah satu tempat yang memang dibuat khusus untuk penginapan para pendaki dan para pengunjung yang akan sekedar untuk trekking ke gunung parang. Badega dibuat oleh warga sekitar yang merupakan sebuah program swadaya masyarakat. Selain itu,  apabila kalian ingin menikmati keindahan kota Purwakartanya sendiri terutama pada saat malam hari maka bagi para backpaker banyak sekali pilihan hotel-hotel murah dengan tarif sekitar Rp. 50.000,00,- keatas.


Penutup

Kesimpulan
     Intinya kota Purwakarta merupakan kota kecil yang memiliki keindahan alam yang sangat memukau apabila kita khususnya para backpaker mau meng-explore keindahan seluk-beluk Purwakarta yang memang masih sangat jauh dari sorotan media, bahkan informasi-informasi seputar kota Purwakarta masih sangat terbatas. Walaupun demikian saya percaya bahwa kota Purwakarta memiliki keindahan dan keunggulan kota yang tentunya tidak dimiliki oleh kota dan daerah-daerah lain khususnya di Jawa Barat. Sangat disarankan apabila ingin menikmati kota Purwakarta maka cobalah pada saat malam hari di waktu weekend atau di akhir bulan dan awal bulan maka dipastikan selalu ada acara-acara khusus yang diselenggarkan berkaitan dengan pagelaran seni kebudayaan sunda. Untuk pilihan wisata busaya sendiri juga tidak kalah, selain kalian bisa menikmati wisata kulinernya kalian juga pada waktu siang hari bisa berkeliling kota Purwakarta untuk mengunjungi museum dan gedung keresidenan atau mungkin kalian bisa hunting-hunting foto ke tempat-tempat urban seperti gedung tua kereta api, gerbong-gerbong tua yang ada di dekat stasiun, persawahan, bukit-bukit dan masih banyak lagi tentunya. Untuk akomodasi sendiri bagi para backpaker sangat diuntungkan karena hotel yang ada di Purwakarta belum sebesar hotel-hotel yang ada di kota-kota besar berbintang seperti Jakarta dan Bandung jadi kalau berbicara soal tarif terbilang cukup terjangkau karena banyak sekali hotel murah yang bisa menjadi pilihan untuk menginap.

Saran
     Kota Purwakarta perlu meningkatkan konsep yang kuat tentang brand kotanya agar para wisatawan bukan hanya wisatawan domestik saja melainkan juga wisatawan asing mau untuk berkunjung ke Purwakarta sehingga kegiatan Kepariwisataan di kota Purwakarta bisa semakin meningkat dan mampu diperhitungkan nantinya. Selain itu, dalam hal transportasi perlu dibuat spesifik karena sampai sejauh ini kota Purwakarta belum memiliki terminal bus dengan standar nasional bahkan apabila ingin berkunjung ke Purwakarta bus yang digunakan hanya sekedar lewat dan transit saja di Purwakarta. Contoh misalnya dari Depok ke Bandung sudah ada trayek khusus dari terminal Depok, mungki hal tersebut bisa menjadi contoh untuk memudahkan para wisatawan yang ingin berkunjung atau berwisata ke Purwakarta.


Muhamad Adi Nugraha
D3 Usaha Jasa Pariwisata 2014_Kelas B
4423143966

m_adi.nugerah@yahoo.co.id


Daftar Pustaka
https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Purwakarta
https://www.wisatania.com/tempat-wisata-di-purwakarta
http://travel.kompas.com/read/2015/11/01/150700927/Panduan.Transportasi.Menuju.Gunung.Parang