Showing posts with label Pariwisata Sejarah dan Budaya Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Pariwisata Sejarah dan Budaya Indonesia. Show all posts

Monday, January 4, 2016

T3_BAYU HARIYANTO YUDISTIRA_KOTA SURAKARTA

KEANEKARAGAMAN WISATA BUDAYA DI SURAKARTA

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
Hallo dunia dan semua para pembaca, Selamat Tahun Baru 2016 semoga di tahun yang baru ini menjadi berkah untuk kalian semua,amin.

Sebelumnya perkenalkan nama saya Bayu Hariyanto Yudistira, saya lahir dijakarta tepatnya Ibukota bagi Negara Indonesia ini, pada tanggal 27 April 1996 tepatnya saya sekarang berumur 19 tahun menuju 20 ditahun yang baru ini 2016.
Untuk sekarang ini saya berstatus mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta Fakultas Ilmu Sosial dengan Program Studi D3 Usaha Jasa Pariwisata, saat ini saya menjalani perkuliahan di Semester 3 menuju Semester 4

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas keanekaragaman wisata budaya di Surakarta, sebelumnya saya akan menceritakan asal usul kota Surakarta ini atau bisa disebut Solo.





Kota Surakarta juga disebut Solo atau Sala, adalah wilayah otonom dengan status kota di bawah Provinsi Jawa Tengah, Indonesia, dengan penduduk 503.421 jiwa (2010) dan kepadatan 13.636/km2. Kota dengan luas 44 km2, ini berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali di sebelah utara, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah timur dan barat, dan Kabupaten Sukoharjo di sebelah selatan. Sisi timur kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam salah satu lagu keroncong, Bengawan Solo. Bersama dengan Yogyakarta, Surakarta merupakan pewaris Kesultanan Mataram yang dipecah melalui Perjanjian Giyanti, pada tahun 1755.



KOTA SURAKARTA
Setelah Karesidenan Surakarta dihapuskan pada tanggal 4 Juli 1950, Surakarta menjadi kota di bawah administrasi Provinsi Jawa Tengah. Semenjak berlakunya UU Pemerintahan Daerah yang memberikan banyak hak otonomi bagi pemerintahan daerah, Surakarta menjadi daerah berstatus kota otonom.


KERATON SURAKARTA (WISATA BUDAYA)
Keraton Surakarta, Wisata Budaya Seru di Kota Solo – Belum dikatakan sah apabila dolan ke Solo tanpa berkunjung ke Keraton Kasunanan Surakarta. Begitulah kata orang-orang yang berpariwisata ke Kota Solo ini. memang anggapan tersebut sangat benar sekali, karena Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat merupakan tempat wisata favorit kota Solo yang sangat sayang apabila kita lewatkan saat bermain atau dolan ke kota seribu wisata tersebut.
Berwisata ke Keraton Surakarta atau Solo, seakan kita menjadi saksi sebuah kejayaan yang pernah diraih oleh Kerajaam Mataram. Dimana saat itu, kerajaan tersebut dibagi menjadi 2 bagian di dalam sebuah perjanjian yang bernama Perjanjian Giyanti. Perjanjian inilah yang membuat terciptanya 2 buah keraton yakni Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta ini.
Keraton Surakarta atau sering disebut juga dengan Keraton Solo, merupakan kawasan objek wisata Kota Solo yang tidak boleh Anda lewatkan ketika berkunjung ke kota satu ini. didirikan pada tahun 1744 oleh Sunan Paku Buwono II, Keraton Surakarta Hadiningrat berubah menjadi destinasi wisata budaya terbesar di kota Solo, sekaligus kawasan satu ini menjadi bukti sejarah cikal bakal kota Solo.
Secara fisik Keraton Surakarta memiliki banyak sekali kesamaan dengan Keraton Yogyakarta. terutama kesamaan dalam hal tata ruang dan bangunannya. Kesamaan tersebut terjadi dikarenakan memang kedua keraton ini dibangun oleh dua arsitek yang sama, mereka berdua adalah Pangeran Mangkubumi dan Sultan Hamengkubuwana I. Kesamaan kedua bangunan ini terlihat sangat jelas pada tata letak alun-alun utara dan selatan kedua keraton tersebut.
Jaman keemasan yang dialami oleh Keraton Surakarta berlangsung pada pemerintahan Sunan Paku Buwana X di tahun 1893 – 1939. Ketika masa kejayaan itu, Keraton Surakarta melakukan restorsi secara besar-besaran dengan melakukan perubahan arsitek bangunan-bangunannya yakni dengan mengombinasikan antara gaya arsitek Jawa dengan gaya arsitek Eropa. Sehingga tercipta bangunan bernuansa putih dan juga biru.
Keraton Surakarta ini terletak tepat di jantung Kota Solo dan juga berdekatan dengan berbagai landmark yang ada di kota tersebut. seperti Balaikota, Pasar Klewer, dan Pasar Gede. Untuk bisa menjangkau lokasi keraton tersebut, Anda tidak perlu khawatir. Karena disana tersedia banyak sekali alat-alat transportasi yang bisa Anda gunakan. Mulai dari andong, becak, oje, dan masih banyak lagi.
Di Keraton Surakarta ini Anda bisa melihat dan mempelajari berbagai macam peninggalan bersejarah Kerajaan Mataram yang pernah ada di Kota Solo. Namun sebelum Anda memasuki museum dan melihat-lihat barang bersejarah tersebut, Anda akan diperkenankan terlebih dahulu untuk memakai celana panjang dan sepatu.
Jika Anda tidak mengenakan celana panjang, maka disana sudah tersedia semacam kain yang akan dibelitkan dari pinggang Anda hingga ke kaki. Sedangkan apabila Anda tidak membawa sepatu hanya memakai sendal, Anda harus melepas sandal tersebut alias cokoran. hal ini dilakukan agar kita sebagai pengunjung dapat menghormati budaya yang ada di Kota Solo.



Selain menikmati berbagai macam peninggalan di museum Keraton Surakarta, Anda juga bisa menikmati berbagai macam bangunan megah yang ada di area tersebut. seperti Panggung Sanggabuwana, Sasana Handrawina, Sasana Sewaka, Ndalem Ageng Prabasuyasa, dan masih banyak lagi. mungkin ketika mengelilingi area keraton ini Anda akan melihat sebuah hamparan pasir berwarna putih, sebagai tambahan informasi bagi Anda pasir tersebut adalah pasir yang berasal dari Pantai Selatan.
Masih berada di komplkes Keraton Surakarta, Anda juga bisa berbelanja berbagai macam kerajinan, busana, pakaian, dan barang-barang lainnya di Pasar Klewer. Pasar ini merupakan pasar tekstil terbesar yang ada di Kota Solo, di Indonesia pasar ini terbesar nomor dua setelah Pasar Tanah Abang di Jakarta. Setelah puas mempelajari budaya Solo dan berbelanja di Pasar Klewer, Anda bisa sholat Dzuhur di Masjid Agung Surakarta. Mengingat masjid tersebut lokasinya juga tidak jauh dari kompleks Keraton Surakarta.
Bagi Anda yang tertarik berkunjung ke Keraton Surakarta Hadiningrat, Anda bisa berkunjung kesana pada pukul 09.00-14.00 di hari Senin-Jumat. Sedangkan untuk Sabtu dan Minggu Anda bisa berkunjung mulai pukul 09.00-15.00. sedangkan untuk biaya masuknya, Anda akan dikenakan tiket dengan biaya kurang dari Rp 10 ribu per orangnya.
Demikian rekomendasi tempat wisata seru di kota Solo yang dapat kami sampaikan. Selamat berlibur di Kota Solo. Semoga liburan Anda bersama dengan orang tercinta semakin seru dan menyenangkan.




MUSEUM PURBAKALA SANGIRAN (WISATA SEJARAH)

Museum Purbakala Sangiran, Wisata Sejarah di Kota Solo – Berkunjung Ke Kota Solo sudah pasti telah membuat  daftar tempat yang akan dikunjungi di Kota Solo. Kota Solo merupakan Kota Seribu wisata, dari mulai wisata budayawisata airwisata belanjawisata alam, sampai dengan wisata sejarah.
Salah satunya wisata sejarah di Kota Solo yaitu Museum Purbakala Sangiran. Tempat wisata ini merupakan pilihan liburan yang memberikan edukasi yang menyenangkan kepada anak-anak. Berwisata sekaligus belajar tentang ilmu peradaban manusia.
Museum Purbakala Sangiran dibangun pada tahun 1980 dengan luas area 1000 meter 2. Pada Tahun 1930-1975 banyak ditemukan fosil manusia purba di Sangiran, sehingga banyak wisatawan yang berkunjung ke Sangiran, oleh sebab itu tercetuslah ide untuk membangun sebuah Museum Purbakala Sangiran. Museum ini merupakan situs fosil manusia purba paling lengkap di Jawa, bahkan di Asia. Museum ini menjadi tempat penelitian kehidupan pra sejarah serta tempat untuk mempelajari ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi.
Ketika anda berkunjung ke museum sangiran disana sebuah tempat harta karun untuk mengetahui peradaban manusia. Di Museum Purbakala Sangiran ditemukan pertama kali Fosil Pithecantropus Erextus (Rahang Bawah manusia purba jawa). Dan ditemukan jejak kaki yang berumur 2 juta tahun lamanya yang masih dapat kita lihat di Museum Sangiran . Betapa menakjubkannya Museum Purbakala Sangiran sebuah tempat untuk menelusuri jejak manusia jaman dahulu kala.


Diorama Manusia Purba di Sangiran
Hal yang menarik ketika anda berkunjung ke sangiran adalah ketika anda masuk ke Museum Sangiran anda akan disambut berbagai diorama manusia purba dimulai kegiatan bertani, mencari makan, serta bercengkrama dengan keluarga. Fosil yang ada di Museum sebagian hanya replika, untuk fosil yang asli berada di Museum Geologi Bandung serta di Yogyakarta digunakan untuk penelitian. Sehingga pengunjung diperbolehkan menyentuh replika fosil yang ada di museum. Terdapat pula fasilitas Gardu Pandang sangiran yang digunakan untuk melihat keindahan alam wilayah Sangiran Sragen, terdapat pula Bendungan Bapang berjarak 1 km sebelah barat Museum Sangiran, merupakan tempat untuk ditemukannya fosil manusia purba.
Ketika di dalam museum anda akan dibawa ke kehidupan masa lampau dengan design ruangan berbentuk joglo, yang terdiri dari beberapa ruangan : aula, laboratorium, perpustakaan, ruang audio visual( tempat pemutaran film tentang kehidupan manusia prasejarah), gudang penyimpanan, mushola, toilet, area parkir

.

Fosil Hewan Purba di Museum PurbakalaSangiran
Tertata dengan rapi fosil manusia purba, hewan purba, dengan koleksi fosil kurang lebih 13.806. Antara lain Fosil Hewan Purba : Gajah, Kerbau, Badak, Harimau, Babi, Badak, Sapi, Banteng, Rusa dan Domba. Fosil Binatang laut dan air tawar : Buaya, ikan dan kepiting, gigi ikan hiu, kudanil, Moluska, Terdapat juga berbagai Fosil batuan, & Artefak Batu antara lain serpih dan bilah, serut dan durgi, kapak persegi, bola batu, kapat perimbas- penetak. Begitu lengkapnya koleksi  Museum Sangiran sehingga ditetapkan UNESCO sebagai World Heritage.
Setelah puas berkeliling museum tentunya anda ingin mencari oleh-oleh khas sangiran. Di dekat museum terdapat banyak penjual Souvenir, pernak pernik (khususnya menjual handicraft ‘batu indah bertuah’ yang bahan bakunya didapat dari Kali Cemoro).
Museum ini dapat dijadikan pilihan alternatif liburan wisata untuk keluarga ketika berkunjung ke Kota Solo. Lokasi Museum Sangiran yang berada di kecamatan kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Indonesia. Luasnya mencapai 56 km2, meliputi 3 kecamatan antara lain kecamatan kalijambe, plupuh, dan kecamatan gemolong. Untuk menuju ke Museum Purbakala Sangiran dapat ditempuh kurang lebih 1 jam dari Kota Solo menuju, kecamatan Kalijambe, jika ditempuh dari kota semarang jaraknya relatif lebih dekat bisa melewati Karanggede, Gemolong, Kalijambe, lalu ke Sangiran untuk melalui rute kedua jalan tersebut hanya bisa menggunakan kendaaraan pribadi, belum ada transportasi umum yang dapat menuju ke lokasi tersebut.

Museum Purbakala Sangiran buka setiap hari selasa sampai dengan minggu pada jam 08.00 pagi s/d 16.00 sore, jadi untuk hari senin museum libur. Tiket masuk per 4 April 2015 dikenakan biaya Rp. 5000/orang untuk wisatawan domestik sedangkan untuk wisatawan mancanegara dikenakan biaya Rp. 11.500.

           
MUSEUM BATIK DANAR HADI (WISATA SEJARAH)

Museum Batik Danar Hadi, Wisata Sejarah Batik di Solo – Batik merupakan warisan budaya asal Indonesia yang sangat penting sekali untuk selalu dilestarikan. Bahkan UNESCO telah mengukuhkan batik sebagai sebuah warisan dunia.
Salah satu pusat batik terkenal dan terbesar di Indonesia adalah Batik Danar Hadi Solo. Batik di tempat ini ada banyak sekali variannya. Bahkan koleksi batik di Danar Hadi itu mencapai 10.000 lebih jenis batik.
Selain memproduksi berbagai jenis batik dan melakukan inovasi produk-produk batik tersebut, Danar Hadi Solo juga melestarikan batik-batik yang ada di Indonesia dengan membuat semacam museum. Museum tersebut bernama Museum Batik Kuno Danar Hadi.
Nah seperti apakah museum batik terkenal dan terbaik di Indonesia dan bahkan dunia itu? maka dari itu, jika Anda penasaran terus simak dan ikuti sajian informasi pada kesempatan kali ini.
Museum Batik Danar Hadi, Wisata Sejarah Batik di Solo
Museum Batik Kuno Danar Hadi Solo merupakan kawasan pelestarian budaya lumbung batik dari berbagai daerah di Indonesia. museum ini pertama kalinya dibuka pada tahun 2002 oleh Ibu Megawati Soekarno Putri yang saat itu menjabat sebagai seorang Wapres RI.
Baragam corak, motif, dan warna batik semuanya tersedia disini. Bahkan koleksi yang ada di museum batik kebanggan orang Solo ini mencapai 10000 lebih. Koleksi tersebut tidak hanya berasal dari Indonesia saja. akan tetapi beberapa diantaranya juga berasal dari batik luar negeri.
Dengan koleksi yang sangat banyak tersebut, museum kebanggaan orang Solo ini mendapatkan penghargaan MURI sebagai museum dengan koleksi batik terlengkap di Indonesia dan bahkan dunia. tidak hanya penghargaan itu saja, museum ini juga mendapatkan penghargaan lain yaitu penghargaan IAI atau Ikatan Arsitek Indonesia pada tahun 1999, penghargaan dari Pemerintah Kota Surakarta pada tahun 2000 dan penghargaan dari portal website Tripadvisor.



Salah satu koleksi batik asal luar negeri adalah Batik Belanda. Batik Belanda ini dibawa masuk ke Indonesia oleh orang-orang penjajah jaman dahulu. corak batik Belanda ini juga memiliki ciri khas tersendiri yakni bernuansa lebih ke Barat atau Eropa. Sehingga hal ini membuat koleksi batik yang ada di museum ini semakin beraneka ragam.
Selain batik Belanda, ada juga koleksi batik menarik lainnya yakni Barik Djawa Hokokai. Batik ini berbeda dari batik Belanda yang lebih bercorak Eropa. Untuk batik Djawa Hokokai ini lebih condong ke corak orang-orang Jepang. Hal ini dapat terjadi karena memang batik Djawa Hokokai ini diperkenalkan di Indonesia saat jaman penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Jepang.
Ketika berkunjung ke Museum Batik Danar Hadi Solo tersebut, Anda bisa mengetahui secara langsung koleksi batik-batik dari berbagai daerah dan juga mengetahui cara membuat batik tersebut. sehingga Anda bisa berwisata sekaligus mendapatkan ilmu dalam pembuatan batik. Bahkan Anda juga bisa membawa pulang hasil kerajinan batik yang berasal dari PT Danar Hadi Solo sebagai oleh-oleh.
Aksesibilitas Ke Museum Danar Hadi Solo
Untuk bisa sampai di museum tersebut sebenarnya sangat mudah sekali, ada banyak sarana transportasi yang bisa kita gunakan. Dari pusat kota Solo, Anda bisa memilih alat transportasi antara lain Bis Damri A, Bis Damri B, Atmo, Sumber Rahayu, Surya Kencana A, ataupun Solo Batik Trans. Angkutan-angkutan umum tersebut beroperasi mulai dari pukul 05.30 hingga 16.00 dengan tarif Rp. 2.500.
Namun jika Anda tidak mau repot-repot dan berdesakan dengan penumpang lain, maka Anda bisa memilih menggunakan sarana transportasi taksi. Ada banyak sekali taksi yang bisa Anda tumpangi. Anda tinggal mengatakan ke “Museum Batik Kuno Danar Hadi Solo” saja sopir taksi tersebut akan tancap gas menuju ke lokasi. Karena letak tempat wisata satu ini berada di Pusat Kota Solo, sehingga ada banyak sekali papan penunjuk jalan yang bisa Anda jadikan pedoman.


MUSEUM RADYA PUSTAKA
Museum Radya Pustaka, Wisata Seru Mengenal Kota Solo – Kota Surakarta atau Solo, merupakan sebuah kota kecil yang berada di wilayah lingkup Jawa Tengah. Meskipun kota ini tergolong kecil, tetapi kota Solo memiliki sejarah yang sangat besar sekali.
Untuk mengenal sejarah yang ada di kota Solo, ada banyak sekali objek wisata yang bisa kita kunjungi. Salah satu tempat wisata yang bisa digunakan untuk mengenal lebih dalam mengenai kota Solo adalah Museum Radya Pustaka.
Museum Radya Pustaka, Wisata Seru Mengenal Kota Solo
Museum Radya Pustaka terletak di dekat Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari Solo, dan merupakan museum tertua yang ada di Solo bahkan Indonesia. museum ini didirikan oleh KRA Sosrodiningrat IV pada masa pemerintahan Paku Buwono IX. Pembangunan museum ini tepat berada di dalam salah satu ruang Kepatihan pada tanggal 28 Oktober 1890, kemudian pada 1 Januari 1913 Museum Radya Pustaka tersebut dipindah ke lokasi yang sekarang yakni di Jalan Slamet Riyadhi. Sebelum digunakan sebagai gedung museum, gedung tersebut merupakan milik seorang warga berkebangsaan Belanda, dia bernama Johannes Busselaar. Gedung tersebut kemudian dibeli oleh Sri Susuhunan Paku Buwono dan dijadikan sebagai lokasi museum yang baru hingga sekarang ini.
Museum ini berbeda dari museum lain yang ada di Solo, Museum Radya Pustaka tidak berada di bawah naungan Dinas Pubakala dan Pemerintah Kota setempat. akan tetapi museum tersebut dikelola dan dikembangkan oleh sebuah yayasan berama Yayasan Paheman Radya Pustaka Surakarta. Yayasan ini dibentuk pada tahun 1951, hingga saat ini Yayasan Paheman tersebut masih menjadi pengelola utama dari Museum Radya Pustaka ini. selain yayasan tersebut, ada juga seorang tokoh yang telah menyumbangkan kontribusi besar terhadap berkembangnya Museum Radya Pustaka ini, beliau adalah Go Tik Swan atau lebih sering dikenal sebagai KRT. Hardjonagoro. Bahkan menariknya lagi, Go Tik Swan juga merupakan seorang budayawan sekaligus pencipat motif batik Nusantara.
Museum ini memiliki banyak sekali koleksi-koleksi benda-benda bersejarah dan berharga. Meskipun Museum Radya Pustaka pernah tercoreng mengalami kasus pencurian benda bersejarah dan sangat bernilai. Namun pengelola disana sekarang sudah berusaha memberikan pengamanan yang lebih ekstra mengenai barang-barang tersebut. barang koleksi yang ada di Museum Radya Pustaka ini antara lain seperti wayang kulit, berbagai macam arca, pusaka adat, dan buku-buku kuno masa lampau. buku-buku kuno tersebut antara lain seperti buku karangan Paku Buwono IV yang berjudul Wulang Reh, buku tersebut bercerita mengenai pemerintahan yang ada di kota Solo.



Memasuki kawasan Museum Radya Pustaka, pada halaman depannya kita akan disambut dengan sebuah patung dada R Ng. Rangga Warsita. Beliau adalah seorang pujangga Keraton Surakarta yang paling termasyur dan hidup pada abad ke-19. Kemudian pada tahun 1953, patung tersebut diresmikan oleh Ir. Soekarno. Tepat di belakang dan depan patung tersebut terdapat sebuah prasasti bertuliskan aksara Jawa. lalu di serambi museum, kita bisa menemukan beberapa meriam peninggalan VOC pada abad ke-17 dan ke-18.
Sementara itu, disana juga terdapat beberapa meriam kecil bekas peninggalan Keraton Surakarta. Tidak hanya itu saja, di Museum Radya Pustaka ini kita juga bisa menemukan banyak sekali arca-arca peninggalan Hindu-Budha. Antara lain seperti arca Roro Jonggrang yang memiliki artian ‘perawan tinggi’, tapi sebenarnya arca tersebut adalah arca Dewi Durga. Selain arca tersebut masih ada arca Boddhisatwa dan Siwa yang bisa kita pelajari nilai sejarahnya. Arca-arca koleksi Museum Radya Pustaka ini kebanyakan berasal dari penumuan-penemuan di sekitar wilayah Solo.





MENYUSURI KAMPUNG BATIK LAWEYAN SOLO

Menyusuri Kampung Batik Laweyan Solo yang Mempesona – Kota Solo tidak hanya terkenal memiliki banyak wisata malamnya saja. tetapi Kota Solo masih menyimpan banyak sekali destinasi jenis wisata yang bisa kita nikmati. Mulai dari wisata budaya, wisata religi, hingga wiata kerajinan.
Salah satu wisata kerajinan yang ada di kota Solo dan patut Anda kunjungi adalah Kampung Batik Laweyan Solo. Kampung ini sangat terkenal di Indonesia, dan bahkan pada jaman dahulu Kampung Batik Laweyan Solo ini sudah terkenal hingga sampai ke mancanegara. Kampung ini terkenal karena kualitas batik yang ditawarkan.
Menyusuri Kampung Batik Laweyan Solo yang Mempesona
Kampung Batik Laweyan Solo dikenal sebagai kampungnya para juragan batik. Baik juragan batik yang berasal dari Solo ataupun sekitarnya. Kampung ini mulai terkenal sejak tahun 1970. Dari informasi yang kami dapatkan saat berkunjung ke Kampung Batik Laweyan, pengambilan nama kampung tersebut berasal dari lawe yang berarti bahan baku pembuatan kain mori. Sehingga disinilah tempat pembuatan kain benang lawe terbesar di Indonesia.
Setelah kami menelusuri lebih dalam mengenai sejarah berdirinya Kampung Batik Laweyan Solo Solo ini, kami mendapatkan bukti sejarah bahwa kampung ini dahulunya merupakan bagian dari Kerajaan Pajang, yang menjadi pelopor berdirinya kampung satu ini adalah Kyai Ageng Henis pada abad ke- 16. Hal ini dibuktikan dengan terdapatnya sebuah makam bertuliskan Kyai Ageng Henis. Makam tersebut juga sekarang dijadikan sebagai objek wisata religi di kota Solo.


Memasuki kawasan perkampungan batik Laweyan Solo ini, kita akan disambut dengan berbagai macam papan yang telah tertempel. Papan memberitahu kepada kita betapa banyaknya situs sejarah yang terdapat disana. Berbeda dengan jaman dahulu, kini wajah Kampung Batik Laweyan sudah mendapatkan banyak sekali perubahan-perubahan. Kampung yang juga dikenal sebagai bukti masa keemasan Serikat Dagang Islam yang dipelopori oleh KH Samanhudi sekitar tahun 1911 ini, popularitaskan semakin hari semakin meningkat seiring dengan diperkenalkannya hasil kerajinan batik dari kota Solo ke mata internasional.
Singgah di Kampung Laweyan Solo, kita bisa menikmati berbagai macam desain-desain bangunan megah abad jaman dahulu. bangunan-bangunan tersebut hampir mirip dengan bangunan yang terdapat di Keraton Surakarta Hadiningrat, dimana bangunan ini menggunakan gaya-gaya Eropa bercampur dengan artsitek Jawa. hal ini juga membuktikan bahwa jaman dahulu Kampung Batik Laweyan pernah mencapai taraf perekonomian yang maju atau tinggi. bahkan kami juga mendapatkan informasi, kampung ini dahulu sebenarnya merupakan eksportir pertama.
Menyusuri lorong-lorong yang ada di Kampung Batik Laweyan Solo, kita akan menemukan banyak rumah pengrajin batik. Kita juga bisa merasakan aroma malam (lilin) yang sangat khas dengan kain batik. Aroma tersebut terpadu dengan sangat ciamik dengan kesan masa lalu yang ditonjolkan akibat desain-desain bangunan kuno. Dijamin Anda saat berada disini serasa memasuki masa jaman dahulu.
Selain menikmati bangunan-bangunan kuno masa lalu yang sangat menawan. Di Kampung Batik Laweyan Solo ini, kita juga bisa menikmati berbagai macam kerajinan batik, kerajinan batik tersebut tersedia dalam beragam motif. Bahkan jumlah variasi motif dari pengrajin batik satu dengan yang lainnya itu tidak bisa terhitung berapa banyaknya. Tidak hanya itu saja, Anda juga bisa berlatih menjadi seorang pengrajin batik sendiri. karena di kampung ini disediakan wahana melukis batik dengan tangan kita sendiri.
Setelah puas menikmati keindahan bangunan dan kerajinan batik di Kampung Batik Laweyan Solo, Anda bisa pulang dengan membawa oleh-oleh khas berupa kerajinan batik dari kampung tersebut. untuk mendapatkan buah tangan tersebut, disana sudah ada banyak sekali penjual oleh-oleh yang siap untuk Anda bawa pulang.

FESTIVAL DAN PERAYAAN
Setiap tahun pada tanggal-tanggal tertentu Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran mengadakan berbagai macam perayaan yang menarik. Perayaan tersebut pelaksanaannya berdasarkan pada penanggalan Jawa. Perayaan-perayaan tersebut antara lain:

KITAB PUSAKA MALAM 1 PURA
Acara ini diselenggarakan oleh Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran pada malam hari menjelang tanggal 1 Sura. Acara ini ditujukan untuk merayakan Tahun Baru Jawa1 Sura. Rute yang ditempuh oleh kirab yang diselenggarakan oleh Keraton Surakarta kurang lebih sejauh 3 km yaitu Keraton Surakarta - Alun-Alun Utara - Gladag - Jl. Mayor Kusmanto - Jl. Kapten Mulyadi - Jl. Veteran - Jl. Yos Sudarso - Jl. Slamet Riyadi - Gladag kemudian kembali ke Keraton Surakarta lagi. Pusaka-pusaka yang memiliki daya magis tersebut dibawa oleh para abdi dalem yang berbusana Jawi Jangkep. Peserta kirab yang berada di barisan paling depan adalah sekelompok kerbau albino (kebo bule) bernama keturunan kerbau pusaka Kyai Slamet, sedangkan barisan para pembawa pusaka berada di belakangnya.


Sekaten

Suasana kirab gunungan saat Grebeg Mulud diKeraton Surakarta.
Sekaten diadakan setiap bulan Mulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada tanggal 12 Mulud diselenggarakan Grebeg Mulud. Kemudian diadakan pesta rakyat selama dua minggu. Selama dua minggu ini pesta rakyat diadakan di Alun-Alun Utara. Pesta rakyat menyajikan pasar malam, arena permainan anak dan pertunjukan-pertunjukan seni dan akrobat. Pada hari terakhir sekaten, diadakan kembali acara grebeg di Alun-Alun Utara. Upacara sekaten diadakan pertama kali pada masa pemerintahan Kesultanan Demak.

GREBEG SUDIRO
Grebeg Sudiro diadakan untuk memperingati Tahun Baru Imlek dengan perpaduan budaya Tionghoa-Jawa. Festival yang dimulai sejak 2007 ini biasa dipusatkan di daerah Pasar Gedhe dan Balong (di Kelurahan Sudiroprajan) dan Balai Kota Surakarta.


GREBEG MULUD
Diadakan setiap tanggal 12 Mulud untuk memperingati hari Maulud Nabi Muhammad SAW. Grebeg Mulud merupakan bagian dari perayaan Sekaten. Dalam upacara ini para abdi dalem dengan berbusana Jawi Jangkep Sowan Keraton mengarak gunungan (pareden) dari Keraton Surakarta ke Masjid Agung Surakarta. Gunungan terbuat dari berbagai macam sayuran dan penganan tradisional. Setelah didoakan oleh ngulamadalem (ulama keraton), satu buah gunungan kemudian akan diperebutkan oleh masyarakat pengunjung dan satu buah lagi dibawa kembali ke keraton untuk dibagikan kepada para abdi dalem.


TINGGALANDALEM JUMENENGAN

Tarian Sakral Bedhaya Ketawang.
Diadakan setiap tanggal 2 Ruwah untuk memperingati hari ulang tahun penobatan Sri Susuhunan Surakarta. Dalam acara ini sang raja duduk di atas dampar (singgasana) di Pendapa Agung Sasana Sewaka dengan dihadap oleh para abdi dalem dan bangsawan sambil menyaksikan tari sakral, Tari Bedhaya Ketawang, yang ditarikan oleh sembilan remaja putri yang belum menikah. Para penari terdiri dari para wayahdalemsentanadalem, dan kerabat raja lainnya atau dapat juga penari umum yang memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan.
GREBEG PASA
Grebeg ini diadakan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal. Acara ini berlangsung setelah melakukan Salat Ied. Prosesi acaranya sama dengan Grebeg Mulud yaitu para abdi dalem mengarak gunungan dari Keraton Surakarta ke Masjid Agung Surakarta untuk didoakan oleh ulama keraton kemudian dibagikan kepada masyarakat pengunjung.



SWALAYAN
Syawalan mulai diadakan satu hari setelah Hari Raya Idul Fitri dan berlangsung di Taman Satwataru Jurug di tepi Bengawan Solo. Pada puncak acara yaitu "Larung Gethek Jaka Tingkir" diadakan pembagian ketupat pada masyarakat pengunjung. Pada acara syawalan juga diadakan berbagai macam pertunjukan kesenian tradisional.

GREBEG BREBES
Berlangsung pada hari Idul Adha (tanggal 10 Besar). Upacara sama dengan prosesi gunungan pada Grebeg Pasa dan Grebeg Mulud.


SOLO BATIK CARNIVAL

Karnaval Batik Solo atau Solo Batik Carnival adalah sebuah festival tahunan yang diadakan oleh pemerintah Kota Surakarta dengan menggunakan batik sebagai bahan utama pembuatan kostum. Para peserta karnaval akan membuat kostum karnaval dengan tema-tema yang di tentukan. Para peserta akan mengenakan kostumnya sendiri dan berjalan di atas catwalk yang berada di Jalan Slamet Riyadi. Karnaval ini diadakan setiap tahun pada bulan Juni sejak tahun 2008.

SOLO BATIK FASHION
Demikian pula Solo Batik Fashion adalah sebuah peragaan busana batik tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah di tempat-tempat terbuka supaya dapat dinikmati oleh segenap warga Surakarta. Peragaan batik ini diadakan setiap tahun pada bulan Juli sejak tahun 2009.
Budaya

Wayang orang yang ditampilkan di Gedung Wayang Orang Sriwedari.
Surakarta dikenal sebagai salah satu inti kebudayaan Jawa karena secara tradisional merupakan salah satu pusat politik dan pengembangan tradisi Jawa. Kemakmuran wilayah ini sejak abad ke-19 mendorong berkembangnya berbagai literatur berbahasa Jawa, tarian, seni boga, busana, arsitektur, dan bermacam-macam ekspresi budaya lainnya. Orang mengetahui adanya "persaingan" kultural antara Surakarta dan Yogyakarta, sehingga melahirkan apa yang dikenal sebagai "Gaya Surakarta" dan "Gaya Yogyakarta" di bidang busana, gerak tarian, seni tatah kulit (wayang), pengolahan batik, gamelan, dan sebagainya.


BAHASA SURAKARTA

R. Ng. Ranggawarsita adalah pujangga besar sastra dan budaya Jawa yang lahir dan hidup di Surakarta. Ia dianggap sebagai pujangga besar terakhir tanah Jawa.
Bahasa yang digunakan di Surakarta adalah Bahasa Jawa Dialek Mataraman dengan varian Surakarta. Dialek Mataraman juga dituturkan di daerah YogyakartaSemarangMadiun, hingga sebagian besar Kediri. Meskipun demikian, varian lokal Surakarta ini dikenal sebagai "varian halus" karena penggunaan kata-kata krama yang meluas dalam percakapan sehari-hari, lebih luas daripada yang digunakan di tempat lain. Bahasa Jawa varian Surakarta digunakan sebagai standar Bahasa Jawa nasional (dan internasional, seperti di Suriname). Beberapa kata juga mengalami spesifikasi, seperti pengucapan kata "inggih" ("ya" bentuk krama) yang penuh (/iÅ‹gɪh/), berbeda dari beberapa varian lain yang melafalkannya "injih" (/iÅ‹dʒɪh/), seperti di Yogyakarta dan Magelang. Dalam banyak hal, varian Surakarta lebih mendekati varian Madiun-Kediri, daripada varian wilayah Jawa Tengahan lainnya.
Walaupun dalam kesehariannya masyarakat Surakarta menggunakan bahasa nasional Bahasa Indonesia, namun sejak kepemimpinan wali kota Joko Widodo maka Bahasa Jawa mulai digalakkan kembali penggunaannya di tempat-tempat umum, termasuk pada plang nama-nama jalan dan nama-nama instansi pemerintahan dan bisnis swasta.
Surakarta juga berperan dalam pembentukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional Indonesia. Pada tahun 1938, dalam rangka memperingati sepuluh tahun Sumpah Pemuda, diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia I di Surakarta. Kongres ini dihadiri oleh bahasawan dan budayawan terkemuka pada  saat itu, seperti Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat, Prof. Dr. Poerbatjaraka, dan Ki Hajar Dewantara. Dalam kongres tersebut dihasilkan beberapa keputusan yang sangat besar artinya bagi pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia. Keputusan tersebut, antara lain:

PERNIKAHAN ADAT
Pernikahan adat Surakarta juga memiliki ciri-ciri yang khusus, mulai dari lamaran, persiapan pernikahan, hingga upacara siraman dan midodaren.

TARIAN
Tiga orang penari sedang menari diPura Mangkunegaran.
Surakarta memiliki beberapa tarian daerah seperti Bedhaya (Ketawang, Dorodasih, Sukoharjo, dll.) dan Srimpi (Gandakusuma dan Sangupati). Tarian ini masih dilestarikan di lingkungan Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran sebagai pusat pengembangan dan pelestarian kebudayaan Jawa. Tarian seperti Bedhaya Ketawang misalnya, secara resmi hanya ditarikan sekali dalam setahun untuk menghormati Sri Susuhunan Surakarta sebagai pemimpin Kota Surakarta.

BATIK
Batik adalah kain dengan corak atau motif tertentu yang dihasilkan dari bahan malam khusus (wax) yang dituliskan atau di cap pada kain tersebut, meskipun kini sudah banyak kain batik yang dibuat dengan proses cetak. Surakarta memiliki banyak corak batik khas, seperti Sidomukti dan Sidoluruh.[51] Beberapa usaha batik terkenal adalah Batik Keris, Batik Danarhadi, dan Batik Semar. Sementara untuk kalangan menengah dapat mengunjungi pusat perdagangan batik di kota ini berada di Pasar KlewerPusat Grosir Solo (PGS), Beteng Trade Center (BTC), atau Ria Batik. Selain itu di kecamatan Laweyan juga terdapat Kampung Batik Laweyan, yaitu kawasan sentra industri batik yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Pajang tahun 1546.[52] Kampun batik lainnya yang terkenal untuk para turis adalah Kampung Batik Kauman. Produk-produk batik Kampung Kauman dibuat menggunakan bahan sutra alam dan sutra tenun, katun jenis premisima dan prima, rayon. Keunikan yang ditawarkan kepada para wisatawan adalah kemudahan transaksi sambil melihat-lihat rumah produksi tempat berlangsungnya kegiatan membatik. Artinya, pengunjung memiliki kesempatan luas untuk mengetahui secara langsung proses pembuatan batik bahkan untuk mencoba sendiri mempraktekkan kegiatan membatik.
Batik Surakarta memiliki ciri pengolahan yang khas: warna kecoklatan (sogan) yang mengisi ruang bebas warna, berbeda dari gaya Yogyakarta yang ruang bebas warnanya lebih cerah. Pemilihan warna cenderung gelap, mengikuti kecenderungan batik pedalaman. Jenis bahan batik bermacam-macam, mulai dari sutra hingga katun, dan cara pengerjaannya pun beraneka macam, mulai dari batik tulis hingga batik cap. Setiap tahunnya Surakarta juga mengadakan Karnaval Batik Solodan mulai tahun 2010 pemerintah kota Surakarta mengoperasikan bus yang bercorak batik bernama Batik Solo Trans.

SURAKARTA DALAM BUDAYA POPULER
Sungai Bengawan Solo menjadi inspirasi dari lagu yang diciptakan oleh Gesang pada tahun 1940-an. Lagu ini menjadi populer di negara-negara di Asia. Selain itu, sungai ini pun telah menjadi judul tiga film, yaitu dua film berjudul "Bengawan Solo" tahun 1949 dan 1971, serta satu film berjudul Di Tepi Bengawan Solo (1951). Film-film lain yang mengambil tema Surakarta antara lain adalah: Putri Solo (1953) dan Bermalam di Solo (1962).


DAFTAR PUSTAKA :

BAYU HARIYANTO YUDISTIRA
D3 USAHA JASA PARIWISATA (A) 2014
4423143955
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
Bayuhar27@gmail.com





Sunday, January 3, 2016

TUGAS 3 - Pariwisata Sejarah dan Budaya Indonesia

Sejarah dan Budaya di Nanggroe Aceh Darusalam

                Selamat pagi dunia. Selamat pagi untuk semua insan pariwisata. Kita bertemu lagi pada kesempatan kali ini dengan tema pembahasan yang berbeda. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas suatu kota yang terletak di ujung pulau sumatera. Suatu kota yang sangat kuat ajaran islamnya yaitu Aceh. Kalau dahulu namanya adalah Nanggroe Aceh Darussalam, sekarang sudah berubah hanya menjadi Aceh saja. Hanya sekedar untuk informasi.

                Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Kenalkan nama saya Fajar Ramadhan. Seorang mahasiswa yang sedang menjalani kuliah di satu-satunya universitas di Jakarta yaitu Universitas Negeri Jakarta. Dengan program studi Usaha Jasa Pariwisata. Dengan tingkatan D3 .dan bercita-cita untuk menjadi Tour Guide di salah satu Travel agent  karena kebetulan hobi saya adalah meng-eksplore daerah-daerah yang menurut saya unik dan belum banyak ter-ekspos maka itulah alasan saya memilih jurusan Pariwisata.

NANGGROE ACEH DARUSSALAM

Aceh dianggap sebagai tempat dimulainya penyebaran Islam di Indonesia dan memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Pada awal abad ke-17, Kesultanan Aceh adalah negara terkaya, terkuat, dan termakmur di kawasan Selat Malaka. Sejarah Aceh diwarnai oleh kebebasan politik dan penolakan keras terhadap kendali orang asing, termasuk bekas penjajahBelanda dan pemerintah Indonesia. Jika dibandingkan dengan dengan provinsi lainnya, Aceh adalah wilayah yang sangatkonservatif (menjunjung tinggi nilai agama). Persentase penduduk Muslimnya adalah yang tertinggi di Indonesia dan mereka hidup sesuai syariah Islam. Berbeda dengan          kebanyakan provinsi lain di Indonesia, Aceh memiliki otonomi yang diatur tersendiri karena alasan sejarah.

Aceh memiliki sumber daya alam yang melimpah, termasuk minyak bumi dan gas alam. Sejumlah analis memperkirakan cadangan gas alam Aceh adalah yang terbesar di dunia. Aceh juga terkenal dengan hutannya yang terletak di sepanjang jajaran Bukit Barisan dari Kutacane di Aceh Tenggara sampai Ulu Masen di Aceh Jaya. Sebuah taman nasional bernama Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) didirikan di Aceh Tenggara.


Aceh adalah daratan yang paling dekat dengan episentrum gempa bumi Samudra Hindia 2004. Setelah gempa, gelombang tsunami menerjang sebagian besar pesisir barat provinsi ini. Sekitar 170.000 orang tewas atau hilang akibat bencana tersebut. Bencana ini juga mendorong terciptanya perjanjian damai antara pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).


Masuknya Islam di Aceh

                Masih terjadi silang pendapat terkait persoalan dari sejak kapan Islam pertama sekali disebarkan ke Aceh. Sebagian berpandangan sudah dimulai dari sejak masa kekhalifahan Utsman bin Affan sebagai khalifah ketiga setelah kerasulan Muhammad SAW.

Terkait Islam yang datang ke Aceh, Snouck Hurgronje dengan teori Gujaratnya menyebut Islam yang datang ke sana bukanlah Islam yang dibawa Muhammad, tetapi Islam yang sudah berkembang matang. Bukan Islam dari al Quran dan Hadits, melainkan Islam dengan kitab-kitab Fiqh dan dogmanya dari 3 abad kemudian.

Sebagian lagi, ada yang berpandangan bahwa Islam yang datang ke Aceh justru sudah dimulai dari sejak tahun pertama Hijriyah (618 M). Satu pandangan yang menurut penulis buku Tasawuf Aceh merupakan pandangan tidak masuk akal. Alasan yang dikemukakannya adalah pada masa tersebut; ada kevakuman antara wahyu pertama (610 M) dengan wahyu kedua kepada Muhammad selama 2,5 tahun. Ditambah dengan masa berdakwah secara sembunyi-sembunyi yang dilakukan Muhammad selama 3 tahun. Dengan demikian baru pada tahun ke-7 masa kenabiannya baru dimulai dakwah secara terang-terangan.

Tetapi sedikitnya persoalan demikian bisa ditelusuri dari keberadaan kerajaan pertama bercorak Islam di Aceh, Kerajaan Perlak yang didirikan pada 1 Muharram 225 Hijriyyah.

Hampir semua ahli sejarah menyatakan bahwa dearah Indonesia yang mula-mula di masuki Islam ialah daerah Aceh. Berdasarkan kesimpulan seminar tentang masuknya Islam ke Indonesia yang berlangsung di Medan pada tanggal 17 – 20 Maret 1963, yaitu:
·         Islam untuk pertama kalinya telah masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M, dan langsung dari Arab.
·         Daerah yang pertama kali didatangi oleh Islam adalah pesisir Sumatera, adapun kerajaan Islam yang pertama adalah di Pasai.
·         Dalam proses pengislaman selanjutnya, orang-orang Islam Indonesia ikut aktif mengambil peranan dan proses penyiaran Islam dilakukan secara damai.
·         Keterangan Islam di Aceh, ikut mencerdaskan rakyat dan membawa peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia.



Masuknya Islam ke Aceh ada yang mengatakan dari India, dari Persia, atau dari Arab. Dan jalur yang digunakan adalah:
·         Perdagangan, yang mempergunakan sarana pelayaran.
·         Dakwah, yang dilakukan oleh mubaligh yang berdatangan bersama para pedagang, para mubaligh itu bisa dikatakan sebagai sufi pengembara.
·         Perkawinan, yaitu perkawinan antara pedagang muslim, mubaligh dengan anak bangsawan Indonesia, yang menyebabkan terbentuknya inti sosial yaitu keluarga muslim dan masyarakat muslim.
·         Pendidikan. Pusat-pusat perekonomian itu berkembang menjadi pusat pendidikan dan penyebaran Islam.
·         Kesenian. Jalur yang banyak sekali dipakai untuk penyebaran Islam terutama di Jawa adalah seni.
Bentuk agama Islam itu sendiri mempercepat penyebaran Islam, apalagi sebelum masuk ke Indonesia telah tersebar terlebih dahulu ke daerah-daerah Persia dan India, dimana kedua daerah ini banyak memberi pengaruh kepada perkembangan kebudayaan Indonesia. Dalam perkembangan agama Islam di daerah Aceh, peranan mubaligh sangat besar, karena mubaligh tersebut tidak hanya berasal dari Arab, tetapi juga Persia, India, juga dari Negeri sendiri.
Analisis dan pemikiran tentang bagaimana sejarah masuknya Islam di Indonesia di pahami melalui sejumlah teori. Aji Setiawa melihat bahwa datangnya Islam ke nusantara melalui tiga teori, yaitu:
·         Teori gujarat, memandang bahwa asal muasal datangnya Islam di Indonesia adalah melalui jalur perdagangan Gujarat India pada abad 13-14.
·         Teori persia, lebih menitikberatkan pada realitas kesamaan kebudayaan antara masyarakat indonesia pada saat itu dengan budaya Persia.
·         Teori arab berpandangan bahwa pedagang Arab yang mendominasi perdagangan Barat-Timur sejak abad ke-7 atau 8 juga sekaligus melakukan penyebaran Islam di nusantara pada saat itu.
Dalam studinya yang tebal Kolonel G.E Gerini, meyakini bahwa islam sudah masuk ke Aceh dalam abad I Hijriah. Dalam hubungan ini juga Gerini memastikan tentang sudah beradanya orang-orang Arab dan Parsi di bagian pantai utara Sumatera, sejak awal Islam.
Dalam studinya yang kemudian diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Profesor Syed Naguid Al-Attas mengatakan bahwa “ catatan yang paling tua mengenai kemungkinan sudah bermukimnya orang Muslim di kepulauan Indonesia adalah bersumber laporan Tiongkok tentang pemukiman Arab di Sumatera Utara pada tahun 55 Hijriah atau 674 Masehi.



Profesor Pakistan, Sayid Qadarullah Fatimi, yang pernah menjadi gurubesar tamu di Singapura, dan membuat riset tentang masuknya Islam ke Nusantara menyimpulkan:
·         Bahwa telah terjadi kontak permulaan tahun 674 M
·         Islam masuk di kota-kota pantai sejak tahun 878 M
·         Islam memperoleh kekuasaan politik dan awal berkembangnya Islam secara besar-besaran, sejak tahun 1204 Masehi.

Perkembangan Islam di Aceh

Ada dua faktor penting yang menyebabkan masyarakat Islam mudah berkembang di Aceh, yaitu:
·         Letaknya sangat strategis dalam hubungannya dengan jalur Timur Tengah dan Tiongkok.
·         Pengaruh Hindu – Budha dari Kerajaan Sriwijaya di Palembang tidak begitu berakar kuat dikalangan rakyat Aceh, karena jarak antara Palembang dan Aceh cukup jauh.
Faktor-faktor yang menyebabkan Islam dapat cepat tersebar di seluruh Indonesia, antara lain:
·         Agama Islam tidak sempit dan berat melakukan aturan-aturannya, bahkan mudah ditiru oleh segala golongan umat manusia, bahkan untuk masuk agama Islam saja cukup dengan mengucap dua kalimah syahadat saja.
·         Sedikit tugas dan kewajiban Islam.
·         Penyiaran Islam itu dilakukan dengan cara berangsur-angsur sedikit demi sedikit.
·         Penyiaran Islam dilakukan dengan cara bijaksana.
·         Penyiaran Islam dilakukan dengan perkataan yang mudah dipahami umum, dapat dimengerti oleh golongan bawah dan golongan atas.
Konversi massal masyarakat Nusantara kepada Islam pada masa perdagangan terjadi karena beberapa sebab, yaitu:
·         Portilitas (siap pakai) sistem keimanan Islam.
·         Asosiasi Islam dengan kekayaan. Ketika penduduk pribumi Nusantara bertemu dan berinteraksi dengan orang muslim pendatang di pelabuhan, mereka adalah pedagang yang kaya raya. Karena kekayaan dan kekuatan ekonomi, mereka bisa memainkan peranan penting dalam bidang politik dan diplomatik.
·         Kejayaan militer. Orang muslim dipandang perkasa dan tangguh dalam peperangan.
·         Memperkenalkan tulisan. Agama Islam memperkenalkan tulisan ke berbagai wilayah Asia Tenggara yang sebagian besar belum mengenal tulisan.
·         Mengajarkan penghafalan Al-Qur’an. Hapalan menjadi sangat penting bagi penganut baru, khususnya untuk kepentingan ibadah, seperti sholat.




·         Kepandaian dalam penyembuhan. Tradisi tentang konversi kepada Islam berhubungan dengan kepercayaan bahwa tokoh-tokoh Islam pandai menyembuhkan. Sebagai contoh, Raja Patani menjadi muslim setelah disembuhkan dari penyakitnya oleh seorang Syaikh dari Pasai.
·         Pengajaran tentang moral. Islam menawarkan keselamatan dari berbagai kekuatan jahat dan kebahagiaan di akhirat kelak.
Melalui faktor-faktor dan sebab-sebab tersebut, Islam cepat tersebar di seluruh Nusantara sehingga pada gilirannya nanti, menjadi agama utama dan mayoritas negeri ini.

PENERAPAN SYARIAT ISLAM DI ACEH SAAT INI

                Di Aceh saat ini, syariat islam sangatlah dijunjung tinggi dan di pegang teguh oleh masyarakatnya. Hampir semua hal didasarkan oleh syariat islam. Penerapan syariat islam era otonomi khusus untuk aceh akrab dengan kata-kata “ penerapan syariat islam secara kaffah di Aceh”. Bisa di artikan usaha untuk memberlakukan islam sebagai dasar hukum dalam tiap tindak-tanduk umat muslim secara sempurna.
Istilah kaffah digunakan karena Negara akan melibatkan diri dalam pelaksanaan syariat islam di Aceh. Membuat hukum positif yang sejalan dengan syariat, merumuskan kurikulum yang islami, dan masalah-maslah lain yang berkaitan dengan syariat.
Dasar hukum pelaksanaan syariat islam di Aceh adalah diundangkan UU no 44 tahun 1999 dan UU no 18 tahun 2001. Dalam undang-undang nomor 44 syariat islam didefinisikan sebagai semua aspek ajaran islam. Dalam undang-undang nomor 18 disebutkan bahwa mahkamah syar’iyah akan melaksanakan syariat islam yang di tuangkan ke dalam qanun terlebih dahulu. Qanun adalah peraturan yang dibuat oleh pemerintah daerah Aceh untuk melaksanakan syariat islam bagi pemeluknya di Aceh ( al yasa abu bakar, 2004:61).
Pelaksanaan syariat islam secara kaffah mempunyai beberapa tujuan , di antaranya yaitu:
·         Alas an agama: pelaksanaan syariat islam merupakan perintah agama untuk dapat menjadi muslim yang lebih baik,sempurna, lebih dekat dengan ALLAH.
·         Alas an psikologis: masyarakat akan merasa aman dan tenteram karena apa yang mereka jalani dalam pendidikan, dalam kehidupan sehari-hari sesuai dan sejalan dengan kesadaran dan kata hati mereka sendiri.
·         Alasan hukum: masyarakat akan hidup dalam tata aturan yang lebih sesuai dengasn kesadaran hukum, rasa keadilan dan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.
·         Alas an ekonomi dan kesejahteraan sosial: bahwa nilai tambah pada kegiatan ekonomi, serta kesetiakawanan sosial dalam bentuk tolong menolong, baik untuk kegiatan ekonomi atau kegiatan sosial akan lebih mudah terbentuk dan lebih solid.



Lembaga yang terkait penerapan syariat islam :
a.       Dinas syariat islam.
Dinas syariat islam provinsi diresmikan pada tanggal 25 feb 2002. Lembaga inilah yang mengatur jalannya pelaksanaan syariat islam. Tugas utamanya adalah menjadi perencana dan penanggung jawab pelaksanaan syariat islam di NAD.
b.      Majelis permusyawaratan ulama (MPU)
Lembaga ini merupakan suatu lembaga independen sebagai suatu wadah bagi ulama-ulama untuk berinteraksi, berdiskusi, melahirkan ide-ide baru di bidang syariat. Kaitannya dalam pelaksanaan syariat islam adalah lembaga ini bertugas memberikan masukan pertimbangan, bimbingan dan nasehat serta saran dalam menentukan kebijakan daerah dari aspek syariat islam, baik kepada pemerintahan daerah maupun kepada masyarakat.
c.       Wilayatul hisbah (WH)
Wilayatul hisbah merupakan lembaga yang berwenag member tahu dan mengingatkan anggota –anggota masyarakat tentang aturan-aturan yang ada yang harus di ikuti, cara menggunakan dan menaati hukum tersebut, serta perbuatan yang harus di hindari karena bertentangan dengan peraturan.
 Membahas tentang hukuman di Nanggroe Aceh Darussalam. Ada salah satu hukum yang masih dijalankan disana yaitu hukum cambuk. Namun ada sebuah permintaan dari pihak Asia Pasifik amnesty International kepada pemerintah Indonesia untuk menghentikan penerapan hukum cambuk di Naggroe Aceh Darussalam sebagaimana disampaikan oleh Direktur Asia Pasifik Amnesty International, Sam Zarifi. Sebelumnya, Mendagri mengatakan, sikap Amnesty International itu hanya sebuah pendapat saja. Gamawan juga meminta agar Amnesty International bisa memahami bahwa Aceh punya kekhususan, yang berbeda dengan daerah-daerah lain di tanah air.
Selain itu, Dewan Da’wah juga melihat ada agenda jangka panjang yang diinginkan oleh lembaga-lembaga international berkaitan dengan upaya penggagalan pelaksanaan syariat Islam di Aceh, sehingga ada beberapa hal yang perlu dikritisi dari desakan pihak Amnesty International;
Pertama, salah satu point dari Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia bahwa setiap manusia dijamin untuk bebas beragama dan melaksanakan keyakinan agamanya, yang ini juga dijamin oleh UUD 1945 tentang kebebasan beragama dan melaksanakan keyakinan agamanya, sehingga pelaksanaan Syariat Islam di Aceh (secara legal formal telah diamanahkan oleh Undang-Undang Negara Kesatuan Republik Indonesia), dalam baik dalam dimensi privat dan publik merupakan pengejawantahan dari kebebasan beragama. Oleh karena itu tuduhan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) dan meminta hukuman cambuk di Aceh dicabut oleh Direktur Asia Pasifik Amnesty International, Sam Zarifi, menjadi tidak beralasan.



Kedua, salah satu alasan yang dikemukakan oleh Sam Zarifi bahwa cambukan bisa mengakibatkan cedera jangka panjang atau permanen,”, seperti terlalu mengada-ngada dan yang bersangkutan tidak memperoeh informai yang utuh bagaimana mekanisme dan proses pelaksanaan hukum cambuk di Aceh. Kalau pun hukuman tersebut menimbulkan rasa sakit dan malu, itu merupakan bagian dari efek jera yang ingin dicapai dari suatu proses penerapan hukuman bagi pelaku kejahatan.
Ketiga, konsekwensi ketika sudah memilih Islam sebagai agama, maka suka tidak suka aturan hukum-hukum agama tersebut harus diberlakukan kepada yang bersangkutan. Dan ini sangat selaras dengan kebebasan beragama. Baru melanggar HAM kalau kepada pemeluk agama selain Islam dipaksakan untuk menggunakan hukum Islam., dan tidak aturan yang akan jalan kalau tidak diawali dengan ketegasan dan sanksi..
Keempat, kepada pihak pemerintah baik di Aceh maupun di Pusat agar dapat memberikan jawaban dan klarifikasi yang profesional dan proposional terhadap desakan Amnesty International. Karena usulan mereka sepertinya sudah terlalu jauh ‘mencampuri” urusan keyakinan agama seseorang dan kekuasaan sebuah bangsa.
                Walaupun ada desakan dari pihak International untuk menhentikan praktik hukuman cambuk di Nanggroe Aceh Darussalam, tetap saja hal itu dijalankan karena hal ini menyangkut ajaran agama yang masyarakat Aceh percaya. Berikut ketentuan dalam hukum cambung antara lain :
·         Terhukum dalam kondisi sehat.
·         Pencambuk adalah wilayatul hisbah yang di tunjuk jaksa penuntut umum.
·         Cambuk yang digunakan adalah rotan dengan diameter 0.75 s/d 1.00 cm.
·         Jarak pencambuk dengan terhukum kira-kira 70 cm.
·         Jarak pencambuk dengan orang yang menyaksikan paling dekat 10 meter.
·         Pencambukan di hentikan jika menyebabkan luka, di minta dokter atas pertimbangan medis, atau terhukum melarikan diri.
·         Pencambukan akan dilanjutkan setelah terhukum dinyatakan sehat atau setelah terhukum menyerahkan diri atau tertangkap.
Kritik terhadap penerapan syariat islam di Aceh
Penerapan syariat islam hamper jalan 10 tahun. Perlahan-lahan hukum positif yang dituangkan dalam KUHP digantikan dengan hukum Allah yang terangkum dalam Al-Qur’an dan Hadish dan di tuangkan dinas syariat islam ke dalam qanun. Pro dan kontra dari berbagai pihak terus saja mengalir. Mereka berusaha mengkritisi, mengevaluasi dan mengajukan ide baru untuk perbaikan system penerapan syariat islam ke depan.



Ada suatu pendapat dari Teuku Rieza Yuanda tentang penerapan syariat islam di Aceh, Menurutnya  penerapan syariat islam cenderung di praktekan dengan cara-cara kekerasan oleh masyarakat dan cenderung pihak pelaksana syariat islam sendiri tidak berdaya mencegah aksi kekerasan masyarakat tersebut. Hal yang sering muncul kepermukaan adalah kasus mesum, khalwat, judi, khamar yang direspon masyarakat melalui sweeping di kafe dan jalan dengan penekana pada busana wanita. apakah korupsi dan manipulasi keuangan Negara dibenarkan dalam islam? Sebagian besar masyarakat Aceh membenci pelanggar syariat islam padahal justru si pembenci sendiri terkadang jarang beribadah untuk melakukan kewajian sebagai seorang muslim.
Bahasa di Aceh
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam memiliki beberapa bahasa daerah :
1.Bahasa Aceh pemakainya 70 %
2.Bahasa Gayo
3.Bahasa Alas
4.Bahasa Tamiang
5.Bahasa Aneuk Jamee
6.Bahasa Kluet
7.Bahasa Singkil
8.Bahasa Haloban
9.Bahasa Simeulue


Bahasa Aceh
Diantara bahasa-bahasa daerah yang terdapat di provinsi NAD, bahasa Aceh merupakan bahasa daerah terbesar dan yang paling banyak penuturnya, yakni sekitar 70 % dari total penduduk provinsi NAD (Daud, 1997:10, Daud and Durie, 1999:1). Penutur bahasa Aceh tersebar di wilayah pantai Timur dan Barat provinsi NAD. Penutur asli bahasa Aceh adalah mereka yang mendiami Kabupaten Aceh Besar, Kota Madya Banda Aceh, Kabupaten Pidie, Kabupaten Aceh Jeumpa, Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Aceh Barat dan Kota Madya Sabang. Penutur bahasa Aceh juga terdapat di beberapa wilayah dalam Kabupaten Aceh Selatan, terutama di wilayah Kuala Batee, Blang Pidie, Manggeng, Sawang, Tangan-tangan, Meukek, Trumon dan Bakongan. Bahkan di Kabupaten Aceh Tengah, Aceh Tenggara dan Simeulue, kita dapati juga sebahagian kecil masyarakatnya yang berbahasa Aceh. Selain itu, di luar provinsi NAD, yaitu di daerah-daerah perantauan, masih ada juga kelompok-kelompok masyarakat Aceh yang tetap mempertahankan bahasa Aceh sebagai bahasa ibu mereka.


Bahasa Gayo
Bahasa ini diyakini sebagai suatu bahasa yang erat kaitannya dengan bahasa Melayu kuno, meskipun kini cukup banyak kosakata bahasa Gayo yang telah bercampur dengan bahasa Aceh. Bahasa Gayo merupakan bahasa ibu bagi masyarakat Aceh yang mendiami Kabupaten Aceh Tengah, sebahagian kecil wilayah Aceh Tenggara, dan wilayah Lokop di kabupaten Aceh Timur. Bagi kebanyakan orang di luar masyarakat Gayo, bahasa ini mengingatkan mereka akan alunan-alunan merdu dari syair-syair kesenian didong.


Bahasa Alas
Bahasa ini kedengarannya lebih mirip dengan bahasa yang digunakan oleh masyarakat etnis Karo di Sumatera Utara. Masyarakat yang mendiami Kabupaten Aceh Tenggara, di sepanjang wilayah kaki gunung Leuser, dan penduduk di sekitar hulu sungai Singkil di Kabupaten Singkil, merupakan masyarakat penutur asli dari bahasa Alas. Penduduk Kabupaten Aceh Tenggara yang menggunakan bahasa ini adalah mereka yang berdomisili di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Lawe Sigala-gala, Lawe Alas, Bambel, Babussalam, dan Bandar.


Bahasa Tamiang
Bahasa Tamiang (dalam bahasa Aceh disebut bahasa Teumieng) merupakan variant atau dialek bahasa Melayu yang digunakan oleh masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang (dulu wilayah Kabupaten Aceh Timur), kecuali di Kecamatan Manyak Payed ( yang merupakan wilayah bahasa Aceh) dan Kota Kuala Simpang (wilayah bahasa campuran, yakni bahasa Indonesia, bahasa Aceh dan bahasa Tamiang). Hingga kini cita rasa Melayu masih terasa sangat kental dalam bahasa Tamiang.


Bahasa Aneuk Jamee
Bahasa ini sering juga disebut (terutama oleh penutur bahasa Aceh) dengan bahasa Jamee atau bahasa Baiko. Di Kabupaten Aceh Selatan bahasa ini merupakan bahasa ibu bagi penduduk yang mendiami wilayah-wilayah Susoh, Labuhan Haji, Samadua, Tapaktuan, dan Kluet Selatan. Di luar wilayah Aceh Selatan, menurut Wildan (2002:2), bahasa ini juga digunakan oleh kelompok-kelompok kecil masyarakat di Kabupaten Singkil dan Aceh Barat, khususnya di Kecamatan Kaway 16 (Desa Peunaga Rayek, Rantau Panyang, Meureubo, Pasi Meugat, dan Ranto Kleng), serta di Kecamatan Johan Pahlawan (khususnya di desa Padang Seurahet). Bahasa Aneuk Jamee adalah bahasa yang lahir dari assimilasi bahasa sekelompok masyarakat Minang yang datang ke wilayah pantai barat Aceh dengan bahasa daerah masyarakat tempatan, yakni bahasa Aceh.


Bahasa Kluet
Bahasa Kluet merupakan bahasa ibu bagi masyarakat yang mendiami daerah Kecamatan Kluet Utara dan Kluet Selatan di kabupaten Aceh Selatan. Informasi tentang bahasa Kluet, terutama kajian-kajian yang bersifat akademik, masih sangat terbatas. Masyarakat Aceh secara luas, terkecuali penutur bahasa Kluet sendiri, tidak banyak mengetahui tentang seluk-beluk bahasa ini. Barangkali masyarakat penutur bahasa Kluet dapat mengambil semangat dari PKA-4 ini untuk mulai menuliskan sesuatu dalam bahasa daerah Kluet, sehingga suatu saat nanti masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan buku-buku dalam bahasa Kluet baik dalam bentuk buku pelajaran bahasa, cerita-cerita pendek, dan bahkan puisi.



Bahasa Singkil
Seperti halnya bahasa Kluet, informasi tentang bahasa Singkil, terutama sekali dalam bentuk penerbitan, masih sangat terbatas. Bahasa ini merupakan bahasa ibu bagi sebagian masyarakat di Kabupaten Singkil. Saya katakana sebagian, karena kita dapati ada sebagian lain masyarakat di Kabupaten Singkil yang menggunakan bahasa Aceh, bahasa Aneuk Jamee, ada yang menggunakan bahasa Minang, dan ada juga yang menggunakan bahasa Dairi (atau disebut juga bahasa Pakpak) khususnya di kalangan pedagang dan pelaku bisnis di wilayah Subulussalam. Selain itu masyarakat Singkil yang mendiami Kepulauan Banyak, mereka menggunakan bahasa Haloban. Jadi sekurang-kurangnya ada enam bahasa daerah yang digunakan sebagai bahasa komunisasi sehari-hari diantara sesama anggota masyarakat Singkil selain bahasa Indonesia. Dari sudut pandang ilmu linguistics, masyarakat Singkil adalah satu-satunya kelompok masyarkat di provinsi NAD yang paling pluralistik dalam hal penggunaan bahasa.


Bahasa Haloban
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahasa Haloban adalah salah satu bahasa daerah Aceh yang digunakan oleh masyarakat di Kabupaten Singkil, khususnya mereka yang mendiami Kepulauan Banyak, terutama sekali di Pulau Tuanku (Wildan, 2002:2). Bahasa ini kedengarannya sangat mirip dengan bahasa Devayan yang digunakan oleh masyarakat di pulau Simeulue. Jumlah penutur bahasa Haloban sangat sedikit dan jika uapaya-upaya untuk kemajuan, pengembangan serta pelestarian tidak segera dimulai, dikhawatirkan suatu saat nanti bahasa ini hanya tinggal dalam catatan-catatan kenangan para peneliti bahasa daerah.


Bahasa Simeulue
Bahasa Simeulue adalah salah satu bahasa daerah Acehyang merupakan bahasa ibu bagi masyarakat di pulau Simeulue dengan jumlah penuturnya sekitar 60.000 orang. Dalam penelitian Morfologi Nomina Bahasa Simeulue, Asyik & Daud, dkk (2000:1) menemukan bahwa kesamaan nama pulau dan bahasa ini telah menimbulkan salah pengertian bagi kebanyakan masyarakat Aceh di luar pulau Simeulue: mereka menganggap bahwa di pulau Simeulue hanya terdapat satu bahasa daerah, yakni bahasa Simeulue. Padahal di Kabupaten Simeulue kita jumpai tiga bahasa daerah, yaitu bahasa Simeulue, bahasa Sigulai (atau disebut juga bahasa Lamamek), dan bahasa Devayan. Ada perbedaan pendapat di kalangan para peneliti bahasa tentang jumlah bahasa di pulau Simeulue. Wildan (2000:2) misalnya, mengatakan bahwa di pulau Simeulue hanya ada satu bahasa, yaitu bahasa Simeulue. Akan tetapi bahasa ini memiliki dua dialek, yaitu dialek Devayan yang digunakan di wilayah Kecamatan Simeulue Timur, Simeulue Tengah dan di Kecamatan Tepah Selatan, serta dialek Sigulai yang digunakan oleh masyarakat di wilayah Kecataman Simeulue Barat dan Kecamatan Salang.




Budaya Nanggroe Aceh Darussalam

Pengelompokan budaya dalam empat pembagian budaya berdasarkan kaum (kawom) atau disebut pula sebagai suku (sukee) besar mengikuti penelusuran antara lain melalui bahasa purba yakni :
·         Kaum Lhee Reutoh (kaum/sukee tiga ratus) yang berasal dari budaya Mantee sebagai penduduk asli. Bila diartikan menjadi “Kaum Tiga Ratus sebagai biji drang, sebangsa kacang tanah yang tumbuh setelah musin memotong padi; segala jerami mati lalu tumbuh sendiri pohon drang dengan subur. Asal muasal sebutan Lhee Reutoh atau “Tiga Ratus”, menurut cerita suatu ketika terjadi sengketa hebat antara golongan rakyat asli sekitar tiga ratus orang, dengan golongan pendatang Hindu sekitar empat ratus. Persengketaan hampir saja disusul dengan bentrok senjata antara dua golongan tersebut yang dipicu oleh kasus perzinahan. Namun, ditengah kecamuk tersebut, hadirlah penengah untuk memberikan jalan keluar dari persengketaan yang berlangsung.
Mereka yang bersalah akhirnya menerima keputusan, sehingga kesalahan mereka dimaafkan dan kedua pihak kemudian mengikat silaturrahmi dengan akrab. Cerita ini memang tidak terjamin kebenarannya, karena ada pendapat yang menyatakan bahwa sebutan lhee reutoh dimaksudkan 300 keluarga atau 300 pria yang sanggup berperang, bahwa yang dimaksud disini adalah persekutuan (konfederasi) zaman dulu dan pasti terjadi dalam masa kesukaran atau perjuangan bersama.
·         Kaum Imeuem Peuet (kaum/sukee imam empat) yang berasal dari India selatan yang beragama Hindu. Dikenal sebagai kaum imeum peuet disebabkan karena mereka menempati empat mukim, yaitu Tanoh Abe, Lam Loot, Montasik dan Lam Nga. Setiap mukim yang didiami dikepalai oleh seorang imam masing-masing dan kesemuanya ada empat imam sehingga menjadi Imum Peueut.
Memang jika dilihat lebih telisik, Imum Peueut menunjukkan persekutuan berbeda dibandingkan tiga sukee (Lhee Reutoh, Ja Sandang dan Ja Batee). Perlu diketahui bahwa jabatan Imum sama sekali terpisah dari kawom. Imum ini bertugas sebagai pemimpin dalam hal ibadah dan tidak memperoleh pangkat apa pun di dalam masyarakat.
Selain itu juga ada Imum yang menjadi kepala daerah (mukim), jabatan yang dimaksud adalah penguasa yang membentuknya tentu ada hubungan dengan agama.
·         Kaum Tok Batee (kaum/sukee yang mencukupi batu) yang datang kemudian berasal dari berbagai etnis Eurasian, Asia Timur dan Arab. Menurut cerita ketika Sultan Al-Kahhar merencanakan pembangunann sebuah istana batu, maka dikeluarkan perintah supaya golongan pendatang dari luar daerah ini bergotong royong untuk mencari dan membawa batu-batu untuk pembangunan istana. Tiba-tiba pada suatu hari golongan ini saat mengumpulkan batu, Sultan memberikan seruan bahwa pencarian batu bisa dihentikan dan sudah cukup (tok batee). Sejak itulah golongan tersebut dinamakan kaum Tok Batee.



·         Kaum Ja Sandang (kaum/sukee penyandang) yaitu para imigran India yang umumnya telah memeluk agama Islam.  ja atau to yang berarti nenek moyang, kedua nama tersebut juga disebut Eumpee (dalam bahasa Melayu: empu). Sedangkan Cut berarti kecil, dipakai untuk awal nama pria atau wanita terkemuka. Sandang yang sebenarnya berarti membawa sesuatu di bawah lengan yang diikat pada tali yang melingkar bahu, nama ini masih melekat pada seorang pria saudara lelaki dan banta dari Teuku Nek yang sekarang disebut Teuku Sandang.
Selain ada cerita turun temurun di kawasang Mukim XXII, wilayah suku pribumi Manteue atau sering disebut sekarang daerah Lampanah yang menceritakan bahwa ketika Sulatan Al-Kahhar berangkat ke Pidie untuk suatu pengamanan, maka melewati Mukim XXII Lampanah dan mengalami kehausan, tiba-tiba saja dia bertemu dengan orang penyandang nira (ie jok). Orang tersebut menawarkan air niranya kepada Sultan dan menyambutnya dengan begitu rasa lega terutama setelah selesai memimunnya.
Sultan pun berterima kasih dan mengundang orang tersebut ke Dalam (sebutan Istana, -pen) di Banda Aceh untuk memberikan dia penghargaan sebagai tanda balas jasa atas kebaikan yang diberikannya kepada Sultan. Namun, orang tersebut pun bertanya, bagaimana bisa dia masuk ke Dalam dan dikenal oleh para pengawal istana. Sultan pun memberi petunjuk kepada orang tersebut dengan menyandang bambu (pajok) nira serta memberikan tanda sehelai daun kelapa di kepalanya. Akhir cerita setiap kali Ja Sandang pergi ke Istana, lambat laun diangkat oleh Sultan menjadi kadi dengan gelar Maliku’l Adil (Malikon Ade) karena dipercaya sebagai orang baik.
MUSIK          
Alat Musik Tradisional Aceh
Alat musik tradisional merupakan sejumlah alat yang digunakan untuk mengiringi suatu kegiatan adat di suatu wilayah tertentu. Alat musik tradisional Aceh berarti alat musik yang digunakan untuk acara-cara tertentu dalam tradisi masyarakat Aceh. Alat musik ini kemudian menjadi sebuah identitas dan kebanggaan ureueng Aceh.

Adapun alat musik tradisional Aceh tersebut di antaranya :

1.       Serune Kalee
Serune Kalee adalah instrumen tiup tradisional Aceh yaitu sejenis Clarinet terutama terdapat di daerah Pidie, Aceh Utara, Aceh Besar, dan Aceh Barat. Alat ini terbuat dari kayu, bagian pangkal kecil serta di bagian ujungnya besar menyerupai corong. Di bagian pangkal terdapat piringan penahan bibir peniup yang terbuat dari kuningan yang disebut perise. Serune ini mempunyai 7 buah lubang pengatur nada. Selain itu terdapat lapis kuningan serta 10 ikatan dari tembaga yang disebut klah (ring) serta berfungsi sebagai pengamanan dari kemungkinan retak/pecah badan serune tersebut. Alat ini biasanya digunakan bersama genderang clan rapai dalam upacara-upacara maupun dalam mengiringi tarian-tarian tradisional.


2.       Gendang (Geundrang)
Gendang terdapat hampir di seluruh daerah Aceh. Gendang berfungsi sebagai alat musik tradisional, yang bersama-sama dengan alat musik tiup seurune kalee mengiringi setiap tarian tradisional baik pada upacara adat maupun upacara lainnya. Alat ini terbuat dari kayu nangka, kulit kambing dan rotan. Pembuatan gendang yaitu dengan melubangi kayu nangka yang berbentuk silinder sedemikian rupa sehingga badan gendang menyerupai bambam. Pada permukaan lingkaran nya (kiri-kanan) dipasang kulit kambing, yang sebelumnya telah dibuat ring nya dari rotan dengan ukuran persis seperti ukuran lingkaran gendang nya. Sebagai alat penguat/pengencang permukaan kulit dipakai tali yang juga terbuat dari kulit. Tali ini menghubungkan antara kulit gendang yang kanan dengan kiri. Alat pemukul (stick) gendang juga dibuat dari kayu yang dibengkakkan pada ujungnya yaitu bagian yang dipukul ke kulit.
3.       Rapai
Rapai merupakan sejenis alat instrumen musik tradisional Aceh, sama halnya dengan gendang. Rapai dibuat dari kayu yang keras (biasanya dari batang nangka) yang setelah dibulatkan lalu diberi lobang di tengahnya. Kayu yang telah diberi lobang ini disebut baloh. Baloh ini lebih besar bagian atas dari pada bagian bawah. Bagian atas ditutup dengan kulit kambing sedangkan bawahnya dibiarkan terbuka. Penjepit kulit atau pengatur tegangan kulit dibuat dari rotan yang dibalut dengan kulit. (Penjepit ini dalam bahasa Aceh disebut sidak). Rapai digunakan sebagai alat musik pukul pada upacara-upacara terutama yang berhubungan dengan keagamaan, perkawinan, kelahiran dan permainan tradisional yaitu debus. Memainkan rapai dengan cara memukulnya dengan tangan dan biasanya dimainkan oleh kelompok (group). Pemimpin permainan rapai disebut syeh atau kalipah
Aceh adalah sebuah daerah yang kaya akan kebudayaan, kesenian dan kebiasaan berdasarkan syariat yang di pegang teguh oleh masyarakatnya seperti hukum cambuk yang masih dilaksanakan. Tak ada toleransi bagi pelanggar syariat islam di Aceh. Hukumnya sudah mutlak. Bila seseorang melanggar hukum yang berlaku disana, bersiaplah saja menerima hukumannya. Dikarenakan kentalnya syariat islam disana, sampai-sampai tahun baru pun masyarakat Aceh tidak merayakannya. Sungguh daerah yang harus kita contoh ketaatannya. Dari segi kebudayaan, masyarakat aceh sangat banyak memiliki bahasa daerah seperti yang sudah dijelaskan di atas sehingga hal itu semakin memperkaya kebudayaan daerah Aceh.
Saya kira cukup dari saya untuk pembahasan salah satu kota sangat istimewa ini. Kota yang memegang tegus ajaran yang diturunkan oleh Allah melalui Al-Qur’an. Walau kelihatannya praktek dari penegakan hukum ini sangat kejam dan tak mempertimbangkan hak asasi manusia, namun hal ini semata-mata dilakukan untuk menegakan hukum yang seharusnya memang di tegakkan. Semoga informasi yang saya jabarkan di atas akan berguna bagi pembaca sekalian. Semua kesalahan dalam pengetikan ini dilakukan secara tidak sengaja. Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung dalam pengerjaan tugas ini. Dengan ini saya ucapkan selamat tiggal kepada para pembaca,  selamat tinggal kepada tugas yang setia menemani tahun baru saya dan selamat tinggal dunia. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.


DAFTAR PUSTAKA
https://id.wikipedia.org/wiki/Aceh diakses pada 1 januari 2016 pukul 00.30
https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Aceh diakses pada 1 januari 2016 pukul 01.30
https://aulia87.wordpress.com/2009/07/20/mengenal-keturunan-di-aceh/ diakses pada 3 januari 2016 pukul 18.00           
http://rositadevi04.it.student.pens.ac.id/bahasa.html diakses pada 3 januari 2016 pukul 19.30




Fajar Ramadhan
4423143919
UJP B 2014
Universitas Negeri Jakarta