Showing posts with label Indri Elustiyasari. Show all posts
Showing posts with label Indri Elustiyasari. Show all posts

Monday, January 4, 2016

Tugas 5_Indri Elustiyasari_Observasi Baduy

Tema: Observasi Baduy

"Pengalaman Tinggal di Kampung Marengok"


Usaha Jasa Pariwisata 2014
Universitas Negeri Jakarta

Duh kalian jangan bosen yaaa sama tulisan saya, beneran ini postingan yang terakhir HAHAHA... Takutnya pada lupa perkenalan lagi deh Ich heisse Indri Elustiyasari Nama panggilan? Boleh panggil Indri atau Cimot dipanggil Cantik juga boleh kok, boleh bangeeet haha!! Anak ke-2 dari tiga bersaudara kakak gue sekarang lagi hijrah ke pulau terujung di Indonesia, yap dia sekarang lagi di Papua karna pekerjaan dan akan menetap disana selama dua tahun kedepan. Ade gue masih kelas 3 SMP sekarang, gue jauh dari Orangtua baru setahun belakangan ini karna sebelumnya tinggal di Bogor dan pas Ayah pensiun memutuskan untuk pulang kampung yaitu pindah ke Tasikmalaya. Jadi sekarang bener-bener jadi anak perantauan di jakarta.
Ketika dalam perjalanan menuju |Baduy Dalam
Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang pengalaman saya tinggal di Baduy dalam, tepatnya di kampung Marengok. Yup kesempatan ini saya dapatkan ketika sedang melakukan observasi untuk kegiatan kampus. Hari itu pada tanggal 22 Desember 2015 kami (mahasiswa/mahasiswi jurusan Pariwisata UNJ angkatan 2014) berangkat bersama menuju Stasiun Rangkas. Kami menaiki kereta kelas Ekonomi AC yang berangkat dari Stasiun Tn Abang pada pukul 08.00 WIB. Perjalanan menggunakan kereta ini kami tempuh selama dua jam. Setibanya di Stasiun Rangkas kami sudah ditunggu oleh seorang penduduk asli Baduy yaitu Kang Arji. Kang Arji ini adalah salah satu orang kepercayaan dari jurusan kami. Kenapa demikian? Karena Kang Arji sudah sejak lama mengurus perjalan mahasiswa/mahasiswi Pariwisata selama melakukan tour di Desa Baduy ini. Kemudian dari Stasiun Rangkas kami melanjutkan perjalanan ke Ds.Ciboleger dengan menggunakan elf yang telah dikoordinasikan oleh Kang Arji, perjalanan menuju Ds Ciboleger ini memakan waktu selama 1,5 sampai 2 jam. Di perjalanan kami seperti menaiki wahana karna jalannya yang berbukit dan berbelok. Sang supir yang ngebut mengemudikan elf ini semakin menambah keseruan perjalanan ini. Setibanya sampai di Ds Ciboleger ini kami langsung makan siang dengan memakan bekal yang sudah dipersiapkan, ada juga yang membeli lauk di rest area ini. Setelah beristirahat sholat dan makan siang, sekitar jam 14.00 WIB kami memulai perjalanan menuju Ds Baduy Luar. Perjalanan ini kami lakukan dengan berjalan kaki.

Pintu Masuk Suku Baduy Luar Kp.Kanekes
Ini pengalaman pertama saya berkunjung ke Ds Baduy, setelah jalan selama 15 menit sampailah kami di rumah Jaro Kp Kanekes, Ds Baduy Luar. Disini kami memulai diskusi kami yang pertama. Kami melakukan sesi tanya jawab dengan Jaro, dan disinilah juga kami meminta perijinan untuk menempuh perjalanan dan menginap di Kp Marengok tidak lupa juga meminta ijin untuk berkunjung ke Ds Baduy Dalam tepatnya ke Kp Cibeo. Kurang lebih 30 menit kami melakukan diskusi, kamu berpamitan kepada jaro dan kembali meneruskan perjalan kami ke Kp Marengok. Perjalanan ke Kp Marengok ini kami tempuh selama satu jam dengan berjalan kaki. Selama perjalanan ini saya tetap membawa carier saya sendiri, walau ada beberapa porter yang mengikuti dan sempat beberapa kali menawarnakan jasa porter. Namun saya tetap membawa carier saya sendiri, bukannya sok atau apa tapi saya hannya ingin merasakan sensasinya. Untuk apa saya jauh-jauh kesana kalau hanya untung bermanja-manja. Dan tujuan kami ke sana pun untuk merasakan bagaimana kehidupan disana. Setibanya di Kp Marengok, langsung saja kami menempati homestay yang telah disediakan. Kami menginap selama dua hari di Baduy Luar. Total ada enam homestay yang kami pakai. Setelah beres merapihkan perlengkapan, lalu  kami mengumpulkan semua bahan makanan yang telah kami bawa, bahan makanan ini dikumpulkan dalam satu tempat yaitu dirumah Kang Arji. Lalu tibalah free time! Semuanya diberikan waktu beristirahat dan bersih-bersih sampai ba’da magrib. Kami benar-benar dituntut untuk beradaptasi disini, tidak boleh manja. Kamar mandi hanya terdapat dua ruang, dan tidak berada di dalam rumah. Lalu bagaimana memanfaatkannya kan banyak orang? Haha yang lain memanfaatkan sungai yg letaknya tidak jauh dari homestay untuk mandi, dll.
Pengalaman seperti ini bukan yang pertama kali bagi saya, karna saya sering bermain ke sungai kalau sedang berlibur kerumah nenek saya di Tasikmalaya. Ya namanya anak kuliahan/perkotaan ada beberapa juga dari kami yg merasa tidak nyaman dengan kehidupan di Baduy ini. Namun mau tidak mau harus ikut beradaptasi juga bukan? Dan entah sejak kapan saya sadar bahwa rombongan kami bertambah personil, kita kedatangan Kang Aja. Yang merupakan suku asli Baduy Dalam, dan saya baru mengetahui bahwa dialah yang akan menuntun kami untuk perjalan ke Baduy Dalam pada esok hari. Ketika yang lain sedang bergegas mandi atau hanya sekedar berbaring di homestay masing-masing, saya Nesya dan Nita membantu istri Kang Arji untuk memasak makanan yang akan kita makan. Menu makanan kita yang pertama adalah orek tempe dan dadar telur. Kami membantu sampai langit gelap, dan berhenti ketika disuruh bersih-bersih oleh istrinya Kang Arji. Setelah saya bersih-bersih, saya kembali kerumah Kang Arji untuk mempersiapkan makan perhomestay. Jadi selama disana kita sistem makannya untuk lauk dimasak di satu rumah yaitu di rumah Kang Arji, sedangkan untuk nasi dimasak di homestay masing-masing. Setelah beres makan ketika saya berada di rumah Kang Arji, Kang Aja pamit untuk pulang kerumahnya di Kp Cibeo (Baduy Dalam) dan mengatakan bahwa ia akan kembali keesokan paginya untuk menemani perjalanan kami. Kami bergegas untuk melakukan diskusi yang kedua. Diskusi dilakukan di homestay 3 yakni homestay saya sendiri. Karena homestay 3 letaknya berada di tengah dan dikelilingi oleh homestay yang lain.
Inilah sosok yang menyiapkan makanan untuk kami
(Istri Kang Arji)

Sama Nesya ketika sedang membantu masak
Pembicara pada malam ini bersama salah satu orang kepercayaan dari Kp Kanekes, perbincangan pun mengankat topik kehidupan sehari-hari masyarakat Baduy. Perbicangan kami diterangi oleh terangnya sinar rembulan pada malam itu, maklum Ds Baduy tidak memiliki fasilitas listrik. Mereka hanya menggunakan listrik aki, dan itupun hanya seadanya tidak menyeluruh satu kampung. Kami melakukan diskusi sampai jam 9 malam. Setelah diksusi kami kembali ke homestay masing-masing, dan kami melalukan rapat kecil antar panitia untuk masalah teknis perjalanan kami ke Suku Baduy Dalam yang akan kami laksanakan keesokannya. Setelah itu saya tidak kembali ke homestay melainkan stay di “Prodi Darurat”. Haha lucu ya namanya! Sebutan prodi darurat ini terlontar dari celetukan salah satu dosen kami yap Pak Fuad. Beliau menyebut rumah Kang Arji sebagai prodi darurat karna disanalah homestay para dosen, dan selalu ada beberapa mahasiswa/mahasiswi yang duduk-duduk sambil bercengkrama dengan para dosen. Sama dengan ketika kami sedang berada di prodi kami sesungguhnya yang berada di UNJ.
Kami melakukan pembagian kelompok untuk melaksanakan guiding, ya inilah alasan utama kami datang ke Baduy. Selain untuk berdiskusi/observasi kami sebagai mahasiswa/mahasiswi pariwisata dituntut untuk melakukan kegiatan guiding selama perjalanan dari Baduy Luar samapi tiba di Baduy Dalam. Setelah selesai membagi kelompok, malam itu saya berbincang-bincang sampai larut malam, banyak sekali yang saya perbincangkan dengan para dosen yang membina kami selama di Baduy. Mulai dari masalah perkuliahan sampai masalah percintaan. Salah satu keunikan dari jurusan Pariwisata ini, kami  bisa akrab dengan para dosen yang mengajar kami. Saking akrabnya ada beberapa anak yang cuek saja ketika sedang bercanda atau ngobrol. Suasana seperti ini jarang didapatkan di jurusan lain kalau menurut saya. Malam itu saya Nesya, Nita, dan Adi tidur di prodi darurat dengan mengunakan sleeping bag. Kami tidur di pelataran rumah Kang Arji, hal ini sungguh menyenangkan. Karna kamu akan merasa kalau kamu sedang tidur di alam, dengan terangnya sinar rembulan dan kerlipan bintang-bintang pada malam itu.
Keesokan harinya kami bangun pukul 04.30 WIB dan bergegas ke masing-masing homestay untuk membangunkan teman yang lainnya. Pagi itu saya kembali membantu isrti Kang Arji untuk menyiapkan makanan. Kami sarapan dengan kornet goreng, dan sambil menyiapkan makanan untuk perbekalan kami menuju Baduy Dalam. Hari kedua kami dibaduy kami habiskan dengan perjalanan bolak-balik Baduy Luar dan Baduy Dalam. Selama perjalan ini kami disuguhkan dengan pemandangan yang menyejukan mata. Perjalan ini kami tempuh selama kurang lebih 7-8 jam bolak-balik  dengan jalan kaki. Selama di Baduy Dalam kami melakukan diskusi dengan Jaro Baduy Dalam.
Di jembatan penghubung Baduy Luar dan Baduy Dalam

Ketika perjalanan pulang ke Baduy Luar saya mengajarkan kepada teman-teman untuk memakan buah jagoan neon haha. Kenapa jagoan neon karna ketika sudah memakan buah ini lidah akan berwarna hitam keunguan, buah ini rasanya manis. Teman-teman saya heran kenapa saya tau kalau buah itu bisa dimakan. Ya namanaya tinggal di komplek yang notabennya anak laki-laki termasuk kakak saya sendiri, dulu ketika saya kecil saya biasa main ke perkampungan dekat komplek hanya sekedar untuk main di kali atau mengejar layangan. Kang Aja sosok sederhana yang menemani perjalanan kami bolak-balik baduy luar baduy dalam. Beliau sangat semangat dalam perjalanan ini saat saya bangun ketika paginya beliau sudah sampai di baduy luar, total perjalanan Kang Aja ialah tiga kali pulang pergi baduy luar baduy dalam. Saya saja yang melakukan 2 kali perjalanan bolak-balik kaki sudah mati rasa dan gemetar saking lamanya perjalanan dengan trek yang berbukit. Rasanya sudah mau menyerah saja saat perjalan pulang ke baduy luar, maklum hampir tidak pernah olahraga jadi badan kaku semua.
Tim Guiding 3 yang dibimbing oleh Pak Fuad
Perjalanan Menuju Baduy Dalam (1)
Perjalanan Menuju Baduy Dalam (2)

Perjalanan Menuju Baduy Dalam (3)

Perjalanan Menuju Baduy Dalam (4)

Perjalanan Menuju Baduy Dalam (5)

Motivasi yang membuat saya jalan semangat ketika pulang adalah setibanya di kp Marengok ingin berenang di sungai haha... dan benar saja setibanya di homestay saya Nesya dan Shintia bergegas untuk mandi di sungai. Kemudian sabilah, Rika, Diana, Berliana, Izdni, Anisa, dan Lisa menyusul kami. Keseruan pun tercipta disini! Kami main di sungai seperti anak kecil yang tidak mengingat umur ehehe. Setelah selesai mandi kami bergegas untuk kembali membantu istri Kang Arja memasak. Oiya saya lupa menceritakan selama perjalan pulang, saya banyak mnegobrol dengan Kang Aja. Karna saya yang memahami dan mampu berbahasa sunda jadi saya lancar saja mnegobrol dengan Kang Aja. Banyak hal yang kami perbincangkan mulai dari kehidupan sehari-hari Kang Aja sampai ceritanya ia patah hati oleh seorang gadis dari Bogor. Setelah makan malam pun saya dan yang lainnya kembali berkumpul di prodi darurat. Perbincangan kami kali ini tambah menginspiratif karna bergabungnya Kang Aja dan Kang Arji.
Kang Arji
Malam terakhir kami di Baduy kami isi dengan pembicaraan kelah kesuh kita sebagai panitia. Walaupun kami membawa teman-teman senidiri ada saja orang yang tidak menghargai niat dan usaha kami. Ya memang benar sifat asli/keegoisan seseorang akan keluar ketika sedang merasa lelah. Kami banyak mendapatkan masukan dari para dosen, dan saya sendiri pun berjanji bahwa pada trip yang selanjutnya akan menjadikannya lebih baik dari trip ke Baduy ini. Tentu saja saya sendiri tidak lupa berterimakasih atas antusias dari teman-teman yang lainnya. Karna lelah seharian berjalan kaki, kami pun tidur lebih cepat, sekitar jam 10.00 WIB kami sudah bergegas menggelar sleeping bag. Malam itu saya Nita dan Nesya kembali tidur di pelataran prodi darurat, kali ini ditemani oleh Garin dan Sidiq. Besoknya kami bergegas merapihkan barang bawaan karna bersiap untuk pulang. Tak terasa sudah 3D2N kami berada di Baduy. Sedih rasanya meninggalkan kp Marengok ini, apalagi mengingat tingkah laku Kang Arji dan Kang Aja yang terkadang membuat lucu.
Pembagian Sarapan


Setelah sarapan dan melakukan evaluasi kegiatan perjalan dari Baduy Luar ke Baduy Dalam kemarin, saya pamit ke istri Kang Arji untuk pulang. Maklum saya orangnya memang cengeng dan hampir nangis pada saat berpamitan. Mungkin terlihat lebay, namun itulah yang saya rasakan pada saat itu.
Perjalanan pulang menuju Ciboleger
Kang Arji dan Kang Aja kembali menemani perjalan kami menuju Ds Ciboleger tempat kami pertama kali turun dari elf. Setibanya di Ciboleger saya pamit kepada kang Aja, karna beliau tidak bisa menemani sampai stasiun seperti kang Arji. Kesedihan pun terulang kembali apalagi Kang Aja menyebutkan untuk balik lagi ke Baduy kepada saya.

Bersama Kang Aja
Yaa saya pun berjanji akan datang lagi tentunya dengan membawa wisatawan saya sendiri nanti. Cukup sekian pengalaman yang bisa saya share, tinggal di Baduy selama dua hari banyak memberikan pelajaran hidup bagi saya. Dari bagaimana menghargai satu sama lain, kerja keras, dan tidak pernah putus asa. Semoga saya bisa kembali ke Baduy untuk bertemu Kang Arji dan Kang Aja dan bisa belajar lebih banyak lagi tentang kehidupan dan kebudayaan disana.  Selesai sudah perjalan saya di semester tiga ini sampai jumpa di semester empat tentunya dengan tulisan-tulisan saya yang lainnya dalam trip yang berbeda. Aufwiedersehen!
Bersama M Rizki dan Garin



Note: semua foto dokumentasi merupakan data pribadi yang diambil oleh Dosen saya dan kamera Hp



Indri Elustiyasari
4423145625
Usaha Jasa Pariwisata
Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Jakarta

Sunday, January 3, 2016

Tugas 4_Indri Elustiyasari_Kota-Kota di Jawa

Tema: Kota-Kota di Jawa

"Objek Wisata Kota Tasikmalaya"

Haaaay! Please jangan bosen baca postingan dari saya ehehe. Dan pada kesempatan kali ini saya akan membahas objek pariwisata yang ada di kota kelahiran Orangtua saya. Yap Kota Tasikmalaya! Hmm banyak juga yang belum mengetahui Kota Tasik ini, padahal tempatnya cukup mudah dijangkau. Sebelum membahas objek pariwisata di kota Tasik ini, saya akan memberi sedikit informasi mengenai sejarah dan letak Kota Tasikmalaya.
 
Sumber: wikipedia.org
Lambang Kota Tasikmalaya
Sumber: cumakatakata.wordpress.com

Sejarah
Sejarah berdirinya Kota Tasikmalaya sebagai daerah otonomi tidak terlepas dari sejarah berdirinya Kabupaten tasikmalaya sebagai daerah kabupaten induknya. Sebelumnya, kota ini merupakan ibukota dari kabupaten Tasikmalaya, kemudian meningkat statusnya menjadi kota administratif tahun 1976, pada waktu A. Bunyamin menjabat sebagai Bupati Tasikmalaya, dan kemudian menjadi pemerintahan kota yang mandiri pada masa Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya dipimpin oleh bupatinya saat itu H. Suljana W.H.
Sang Mutiara dari Priangan Timur itulah julukan bagi kota Tasikmalaya. Kota Tasikmalaya adalah salah satu kota di Provinsi Jawa Barat. Kota ini terletak pada 108° 08′ 38″ – 108° 24′ 02″ BT dan 7° 10′ – 7° 26′ 32″ LS di bagian Tenggara wilayah Propinsi Jawa Barat. Kota ini dahulu adalah sebuah kabupaten, namun seiring dengan perkembangan, maka terbentuklah 2 buah bentuk pemerintahan yaitu Pemerintahan Kabupaten dan Pemerintahan Kota Tasikmalaya.
Tonggak sejarah lahirnya kota Tasikmalaya, mulai di gulirkan ketika Kabupaten Tasikmalaya di pimpin oleh A. Bunyamin, Bupati Tasikmalaya periode tahun 1976 – 1981. Pada saat itu melalui peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1976 diresmikanlah Kota Administratif Tasikmalaya oleh Menteri Dalam Negeri yang pada waktu itu dijabat oleh H. Amir Machmud. Walikota Administratif pertama adalah Drs. H. Oman Roosman, yang dilantik oleh Gubernur Jawa barat, H. Aang Kunaefi

Pada awal pembentukannya, wilayah kota Administratif Tasikmalaya meliputi 3 Kecamatan yaitu Cipedes, Cihideung dan Tawang dengan jumlah desa sebanyak 13 desa. Kemudian pada tahun 2001, dirintislah pembentukan Pemerintah Kota Tasikmalaya oleh Bupati Tasikmalaya, Kol. Inf. H. SuIjana Wirata Hadisubrata (1996 – 2001), dengan membentuk sebuah Tim Sukses Pembentukan Pemerintah Kota Tasikmalaya yang diketuai oleh H. Yeng Ds. Partawinata SH. Melalui proses panjang akhirnya dibawah pimpinan Bupati Drs. Tatang Farhanul Hakim, pada tanggal 17 Oktober 2001 melalui Undang-undang Nomor 10 Tahun 2001, Pembentukan pemerintahan Kota Tasikmalaya sebagai pemerintahan daerah otonom ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden RI di Jakarta bersama-sama dengan kota Lhoksumawe, Langsa, Padangsidempuan, Prabumulih, Lubuk Linggau, Pager Alam, Tanjung Pinang, Cimahi, Batu, Sikawang dan Bau-bau. Selanjutnya pada tanggal 18 Oktober 2001 pelantikan Drs. H. Wahyu Suradiharja sebagai Pejabat Walikota Tasikmalaya oleh Gubernur Jawa Barat dilaksanakan di Gedung Sate Bandung.
Melalui Surat Keputusan No. 133 Tahun 2001, tanggal 13 Desember 2001 Komisi Pemilihan Umum membentuk Panitia Pengisian Keanggotaan Dewan Perwakilan Rakyat Kota Tasikmalaya (PPK-DPRD), selanjutnya pengangkatan anggota DPRD Kota Tasikmalaya disahkan melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat, No. 171/Kep.380/Dekon/2002, tanggal 26 April 2002, dan pada tanggal 30 April 2002 keanggotaan DPRD Kota Tasikmalaya pertama diresmikan. Kemudian pada tanggal 14 November 2002, Drs. H. Bubun Bunyamin dilantik sebagai Walikota Tasikmalaya, sebagai hasil dari tahapan proses pemilihan yang dilaksanakan oleh legislatif.
Sesuai Undang-Undang No. 10 Tahun 2001 bahwa wilayah Kota Tasikmalaya terdiri dari 8 Kecamatan dengan jumlah Kelurahan sebanyak 15 dan Desa sebanyak 54, tetapi dalam perjalanannya melalui Perda No. 30 Tahun 2003 tentang perubahan status Desa menjadi Kelurahan, desa-desa dilingkungan Pemerintah Kota Tasikmalaya berubah statusnya menjadi Kelurahan, oleh karena itu maka jumlah kelurahan menjadi sebanyak 69 kelurahan, sedangkan untuk kecamatan bertambah menjadi 10 kecamatan, yang antara lain:
·         Bungursari
·         Cibeureum
·         Cihideung
·         Cipedes
·         Indihiang
·         Jamanis
·         Kawalu
·         Mangkubumi
·         Purbaratu
·         Tamansari
·         Tawang

Nah sekarang udah tau kan Kota Tasikmalay itu ada dimana? Okey sekarang mari kita bahas objek-objek wisatanya.
Sumber: rizkiabdillah.files.wordpress.com

1.Kolam Renang dan Tempat Rekreasi
a)    Taman Rekreasi Mangkubumi Indah
Menyediakan berbagai macam wahana hiburan yang menarik seperti kolam renang, panggung hiburan, hotel restoran, kantin, area bermain anak-anak, sepeda air, gazebo/saung botram, track ATP, flying fox, adventure area, serta water boom. Tempat ini juga dilengkapi dengan  mushola, gedung pertemuan dan area parkir yang cukup luas. Pemandangan alam di tempat wisata ini juga sangat indah dan mampu membuat pengunjung benar-benar rileks. Harga tiket masuknyapun tidak mahal, tiket hari biasa Rp. 10.000 dan dihari besar harga tiket Rp. 15.000 . Taman Rekreasi Mangkubumi Indah yang berada di Jl. A.H. Nasution / Jl. Mangkubumi, Tasikmalaya.
 
Mangkubumi
Sumber: tabloidpentaspena.wordpress.com
b)    Taman Rekreasi Mutiara Sukamulya (Aboh)
Taman rekreasi ini terletak di Jalan Sukamulya (kurang lebih 400meter dari balaikota Tasikmalaya), atau lebih dikenal oleh masyarakat Tasikmalaya sebagai Kolam Renang Aboh. Beberapa Fasilitas yang ditawarkan oleh kolam renang aboh ini adalah kolam renang untuk anak-anak, dewasa dan balita, sepeda air, gazeeboo, kantin dan musholla. Harga tiketnya pun sangat murah sekali sekitar 5000an.
 
Aboh Waterpark
Sumber: www.skyscrapercity.com

c)    TeeJay Waterpark
Bertempat di Asia Plaza yang beralamat di Jalan H.Z. Mustofa, lokasi yang strategis dan mudah ditemukan. Luasnya sekitar 2.8 Ha dan dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas seperti kolam ombak. kolam arus, tube slider (perosotan), ember tumpah, gazeebo, dan tentunya foodcourt. Beberapa fasilitas pendukung pun sudah disiapkan oleh pihak pengelola seperti tempat parkir yang luas, locker room, shower room, dan pintu darurat. Harga tiketnya hampir sama dengan tiket bioskop yaitu Rp 20.000,- per orang saat weekday dan Rp 30.000,- saat weekend. Bisa dibilang ini wahana air termahal yang pernah saya datangi, karena saya beli tiketnya hari Minggu.
 
Wisata TeeJay
Sumber: matapriangan.blogspot.com

2.    Situ Gede
Situ Gede merupakan sebuah Danau Alam.dengan luas 47 hektar yang berada di Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia. Atau jika anda pernah ke tasikmalaya dan lewat Bundara Bypas Kota, lokasinya gak jauh dari sana, sekitar 500 meter. Situ Gede ini merupakan salah satu ikon pariwisata kota tasikmalaya, sama halnya dengan Situ Panjalu di Ciamis, beberapa pasilitaspun terus menerus di tingkatkan, penataan Danau dan pembangunan beberapa sarana dan Fasilitas membuktikan eksistansi pemerintah kota tasik dalam meningkatkan sektor pariwisata. pada umumnya Kawasan Situ Gede di padati pengunjung pada hari sabtu dan minggu, karna banyak pengunjung yang memanfaatkan lokasi ini sebagai Sarana Olah Raga (karna disini fasilitas seperti Jogging Trek sudah memadai), rekreasi, memancing, berperahu, menjaring ikan, bahkan sering pula sebagian intansi pemerintahan maupun perusahaan swasta mengadakan rapat atau pertemuan di lokasi ini. Suasana alam yang asri dibalut kejernihan air danau akan selalu memanjakan anda saat berkunjung ke Situ Gede.
Situ Gede Tasikmalaya
Sumber: id.geoview.info


3.    Taman Alun-Alun Tasikmalaya
Alun-alun Tasik saat ini banyak digunakan untuk jogging, nongkrong atau berfoto-foto. Harapan saya di alun-alun ini dipajang info tentang sejarah berdirinya, foto-foto alun tasik jaman dahulu, dan sejarah lainnya agar masyarakat sadar dan memahami akan perjuangan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Dengan begitu diharapkan masyarakat akan tergugah dan berusaha merawat dan melestarikan ikon Tasik ini. Saat ini alun-alun kota Tasik tengah dalam renovasi agar terlihat lebih indah dan nyaman untuk dikunjungi masyarakat. Ada area jogging track, tempat duduk, area bermain anak, lampu taman dan lainnya. Di bulan Ramadan, alun-alun Tasik banyak digunakan masyarakat untuk area ngabuburit. Masyarakat yang mengunjungi alun-alun kota Tasik harus berpartisipasi menjaga kebersihan area alun-alun supaya tempat bersejarah ini tetap terlihat bersih. Semoga kita selaku masyarakat tidak lupa akan sejarah bangsa dan menghargai sejarah tersebut dengan menjaga dan merawat bangunan-bangunan bersejarah tersebut.
Alun-Alun Tasikmalaya
Sumber: geograph88.blogspot.com


4.    Masjid Agung Manonjaya
merupakan salah satu masjid tertua di Kabupaten Tasikmalaya. Masjid Agung Manonjaya dibangun pada tahun 1837 M. Masjid ini menjadi kebanggaan warga Tasikmalaya, Jawa Barat, ini terletak di Desa Manonjaya, Kecamatan Manonjaya, Tasikmalaya. Selain karena usianya yang panjang, masjid ini juga memiliki ciri khas tersendiri dari segi arsitekturnya. Pemerintah sudah menetapkan Masjid Manonjaya yang memiliki luas 1.250 meter persegi ini menjadi kawasan cagar budaya. Ketetapan pemerintah itu dikeluarkan oleh Badan Arkeologi RI yang merujuk UU Kepurbakalaan pada 1 September 1975 bersama dengan Masjid Agung Sumedang.
Masjid Agung
Sumber: id.wikipedia.org


5.    Kawasan Payung dan Batik Tasik
Untuk mencari tempat para pengrajin payung geulis Tasikmalaya tidak sulit dan sangat mudah kita cari, Mungkin jaraknya tidak lerlalu jauh, tidak seperti tempat para pengrajin kerajinan bambu Tasikmalaya yang berada di pedesaan jauh dari pusat kota, Pengrajin payung geulis Tasikmalaya berada sekitar 1 km dari pusat Kota Tasikmalaya bertempat di daerah Panyingkiran, tepatnya di jalan Panyingkiran RT 01 RW 01 Indihiang kota Tasimalaya
Sentra kerajinan batik Tasikmalaya terdapat di Lampung Ciroyom, kelurahan Nagarasari Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya. Menuju ke kampung batik sagatlah mudah. Selain dekat dari pusat kota juga arah penunjuk mudah ditemukan begitupun bila bertanya kepada tukang becak atau sopir angkot, mereka pasti sudah pada tahu. Di lokasi tersedia gerai-gerai Batik Tasik mulai harga termurah puluhan ribu rupiah hingga jutaan rupiah perpotong.

Batik Tasikmalaya
Sumber: rizkiabdillah.blogspot.com

Payung Geulis
Sumber: ikmkotatasik.blogspot.com


6.    Situs Lingga Yoni
Lingga yoni adalah benda peninggalan budaya masa klasik Hindu-Budha yang merupakan lambang kesuburan dari Dewa Siva dan Durga. Lingga yoni juga bisa diartikan sebagai lambang alat kelamin dari Laki-laki dan Wanita. Situs lingga yoni ini peninggalan agama Hindu-Budha. Situs Lingga Yoni ditemukan di Kota Tasikmalaya. Lokasi nya berada di Gunung Kabuyutan, Kampung Sindanglengo, Sukamaju Kidul, Kecamatan Indihiang. Atau berada di belakang Terminal Bis Indihiang dan berada didalam kawasan Pabrik Aspal. Untuk bisa mengunjungi situs lingga yoni ini kita harus laporan dulu ke bagian security Pabrik aspal, lalu kita masuk ke area pabrik aspal nya dan kita terus jalan menuju ke perbukitan. Akan terlihat tangga yang dibuat dari semen, nah itu merupakan akses menuju lingga yoni, tinggal kita naiki tangga tersebut.
Situs Lingga yoni
Sumber: m2indonesia.com


7.    Situ Cibereum
Situ Cibereum terletak di Kelurahan Tamanjaya, Kecamatan Tamansari Tasikmalaya. Situ ini memiliki luas sekitar 21 Ha. Jarak yang ditempuh untuk mencapai Situ ini dari kota Tasik sekitar 20 menit. Situ ini sebenarnya menyimpan potensi yang bagus untuk dijadikan objek wisata andalan Kota Tasik seperti Situ Gede, akan tetapi sampai saat ini pengelolaannya belum berjalan optimal. Nama Situ Cibereum sendiri menurut masyarakat sekitar dikarenakan pada masa lalu, air di Situ ini berubah warna menjadi kemerahan sehingga namanya menjadi Situ Cibereum (Air merah). Jika anda mengunjungi Situ Cibeureum anda dapat melakukan berbagai aktivitas seperti mancing, foto, atau berjalan-jalan mengelilingi situ.
Situ Cibereum
Sumber: kaskus.co.id


Daftar Pustaka



Indri Elustiyasari
4423145625
Usaha Jasa Pariwisata
Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Jakarta
indrielustiyasari@gmail.com

Tugas 3_Indri Elustiyasari_Pariwisata Sejarah dan Budaya Indonesia

Tema: Pariwisata Sejarah dan Budaya Indonesia

“Mengenal Suku Gayo Lebih Dalam”

Hello I’m back! Jangan bosan sama tulisan-tulisan saya yaaa hihi...
Oke dalam pembahasan kali ini saya akan membahas sedikit kehidupan tentang Suku Gayo, yang hidup di Provinsi Aceh bagian tengah.

Indonesia Ethnic Groups Map
Sumber: id.wikipedia.org


Pendahuluan
Suku bangsa di Indonesia berjumlah lebih dari 100 suku bangsa. Wilayah Indonesia yang luas mempengaruhi tingginya keanekaragaman bangsa Indonesia. Keragaman suku bangsa akan menentukan keragaman budaya bangsa Indonesia. Meskipun budaya bangsa kita sangat beraneka ragam, tetapi tetap satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan semboyan bangsa Indonesia “Bhineka Tunggal Ika”, walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu. Bhineka Tunggal Ika mengandung makna meskipun berbeda suku, budaya, agama, dan bahasa daerah, tetapi tetap satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia. Kalimat Bhineka Tunggal Ika diambil dari kitab Sutasoma yang ditulis oleh Empu Tantular seorang pujangga dari Kerajaan Majapahit. Kalimat selengkapnya berbunyi “Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa”.
Ciri suku bangsa Indonesia adalah memiliki kesamaan kebudayaan, bahasa, adat istiadat, dan kesamaan nenek moyang. Ciri-ciri mendasar yang membedakan suku bangsa satu dengan lainnya, antara lain bahasa daerah, adat istiadat, sistem kekerabatan, kesenian daerah, dan tempat asal. Keberagaman bangsa Indonesia, terutama terbentuk oleh jumlah suku bangsa yang mendiami wilayah Indonesia sangat banyak dan tersebar di mana-mana. Setiap suku bangsa mempunyai ciri atau karakter tersendiri, baik dalam aspek sosial maupun budaya. Menurut penelitian Badan Pusat Statistik yang dilaksanakan tahun 2010, di Indonesia terdapat 1.128 suku bangsa. Antar suku bangsa di Indonesia memiliki berbagai perbedaan dan itulah yang membentuk keanekaragaman di Indonesia. Kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia sangat beragam. Kehidupan sosial itu dibentuk oleh kehidupan sosial budaya di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Suatu daerah dengan daerah lainnya memiliki berbagai perbedaan dalam kehidupan sosial budaya. Kehidupan sosial budaya di suatu daerah dipengaruhi berbagai faktor. Faktor lingkungan mempengaruhi kehidupan sosial budaya masyarakat di daerah tersebut.
Masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan akan lebih banyak menggantungkan kehidupannya dari pertanian. Oleh karena itu, akan berkembang kehidupan sosial budaya masyarakat petani. Sementara itu, daerah pantai akan memengaruhi masyarakatnya untuk memiliki mata pencarian sebagai nelayan dan berkembanglah kehidupan sosial masyarakat nelayan. Keragaman bangsa Indonesia tampak pula dalam seni sebagai hasil kebudayaan daerah di Indonesia, misalnya dalam bentuk tarian dan nyanyian. Hampir semua daerah atau suku bangsa mempunyai tarian dan nyanyian yang berbeda. Begitu juga dalam hasil karya, setiap daerah mempunyai hasil karya yang berbeda dan menjadi ciri khas daerahnya masing-masing.

Suku Gayo
Sumber: id.wikipedia.org


Pembahasan
Suku Gayo atau "urang gayo" adalah sebuah suku bangsa yang mendiami dataran tinggi Gayo di Provinsi Aceh bagian tengah, Populasinya berjumlah kurang lebih 600.000 jiwa. Orang Gayo secara mayoritas terdapat di kabupaten Aceh Tengah dan Bener Mariah (sekitar 30 - 45%) dan Gayo Loues (sekitar 50 - 70%) dan sebagian wilayah Aceh tenggara dan 3 Kecamatan di Aceh Timur yaitu Serbejadi, Peunaron, dan Simpang Jernih. Suku Gayo beragama Islam dan mereka dikenal taat dalam agamanya dan mereka menggunakan Bahasa Gayo dalam percakapan sehari-hari mereka.
Pada abad ke-11, Kerajaan Linge didirikan oleh orang-orang Gayo pada era pemerintahan Sultan Makhdum Johan Berdaulat Mahmud Syah dar Kesultanan perlak. Informasi ini diketahui dari keterangan Raja Uyem dan anaknya Raja Ranta yaitu Raja Cik Bebesen dan dari Zainuddin yaitu dari raja-raja Kejurun Bukit yang kedua-duanya pernah berkuasa sebagai raja di era kolonial Belanda. Raja Linge I, disebutkan mempunyai 4 orang anak. Yang tertua seorang wanita bernama Empu Beru atau Datu Beru, yang lain Sebayak Lingga (Ali Syah), Meurah Johan (Johan Syah) dan Meurah Lingga (Malamsyah). Sebayak Lingga kemudian merantau ke tanah Karo dan membuka negeri di sana dia dikenal dengan Raja Lingga Sibayak. Meurah Johan mengembara ke Aceh Besar dan mendirikan kerajaannya yang bernama Lam Krak atau Lam Oeii atau yang dikenal dengan Lamuri atau Kesultanan Lamuri. Ini berarti Kesultanan Lamuri di atas didirikan oleh Meurah Johan sedangkan Meurah Lingga tinggal di Linge, Gayo, yang selanjutnya menjadi raja Linge turun termurun. Meurah Silu bermigrasi ke daerah Pasai dan menjadi pegawai Kesultanan Gaya di Pasai. Meurah Mege sendiri dikuburkan di Wih ni Rayang di Lereng Keramil Paluh di daerah Linge, Aceh Tengah. Sampai sekarang masih terpelihara dan dihormati oleh penduduk. Penyebab migrasi tidak diketahui. Akan tetapi menurut riwayat dikisahkan bahwa Raja Linge lebih menyayangi bungsunya Meurah Mege. Sehingga membuat anak-anaknya yang lain lebih memilih untuk mengembara.

Sumber: http://gayonusantara.blogspot.co.id/


Dinasti Lingga
1.   Adi Genali Raja Linge I di gayo
a.  Raja Sebayak Lingga di Tanah Karo. Menjadi Raja Karo
b.  Raja Meurah Johan (pendiri Kesultanan Lamuri)
c.  Meurah Silu anak dari Meurah Sinabung (pendiri Kesultanan Samudera Pasai), dan
2.   Raja Linge II alias Marah Lingga di Gayo
3.   Raja Lingga III-XII di Gayo
4.   Raja Lingga XIII menjadi Amir al-Harb Kesultanan Aceh. Pada tahun 1533 terbentuklah Kerajaan Johor baru di Malaysia yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Mansyur Syah. Raja Lingga XIII diangkat menjadi kabinet di kerajaan baru tersebut. Keturunannya mendirikan Kesultanan Lingga di kepulauan Riau, pulau Lingga, yang kedaulatannya mencakup Riau (Indonesia), Temasek (Singapura) dan sedikit wilayah Malaysia.
Raja-raja di Sebayak Lingga Karo tidak terdokumentasi. Pada era Belanda kembali diangkat raja-rajanya tapi hanya dua era
1.   Raja Sendi Sibayak Lingga (pilihan Belanda)
2.   Raja Kalilong Sibayak Lingga

A.   Bahasa
Bahasa Gayo adalah bahasa yang dipakai sebagai bahasa sehari-hari oleh masyarakat Suku Gayo di Kabupaten Aceh Tengah. Bahasa Gayo ini mempunyai keterkaitan dengan bahasa Suku Batak Karo  di Sumatera Utara. Bahasa Gayo digunakan dan terkonsentrasi diKabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, sebagian wilayah Aceh Tenggara, dan Kecamatan Serba Jadi di Kabupaten Aceh Timur. Ketiga daerah ini merupakan wilayah inti Suku Gayo. Bahasa ini termasuk kelompok bahasa yang disebut "Northwest Sumatra-Barrier Islands" dari rumpun bahasa Austronesia. Pengaruh dari luar yaitu bahasa di luar Bahasa Gayo turut mempengaruhi variasi dialek tersebut. Bahasa Gayo yang ada di Lokop, sedikit berbeda dengan bahasa Gayo yang ada di Gayo Kalul, Gayo Lut, Linge dan Gayo Lues. Hal tersebut disebabkan karena pengaruh bahasa Aceh yang lebih dominan di Aceh Timur. Begitu juga halnya dengan Gayo Kalul, di Aceh Tamiang, sedikit banyak terdapat pengaruh Melayu karena lebih dekat ke Sumatera Utara. Kemudian, Gayo Lues lebih dipengaruhi oleh bahasa Alas dan bahasa Karo karena interaksi yang lebih banyak dengan kedua suku tersebut lebih-lebih komunitas Gayo yang ada di kabupaten Aceh Tenggara. Dialek pada suku Gayo, menurut M.J. Melalatoa, dialek Gayo Lut terdiri dari sub- dialek Gayo Lut dan Deret; sedangkan Bukit dan Cik merupakan sub-subdialek. Demikian pula dengan dialek Gayo Lues terdiri dari sub-dialek Gayo Lues dan Serbejadi. Sub-dialek Serbejadi sendiri meliputi sub-sub dialek Serbejadi dan Lukup (1981:53). Sementara Baihaqi Ak., dkk menyebut jumlah dialek bahasa Gayo sesuai dengan persebaran suku Gayo tadi (Gayo Lut, Deret, Gayo Lues, Lokop/Serbejadi dan Kalul). Namun demikian, dialek Gayo Lues, Gayo Lut, Gayo Lukup/Serbejadi dan Gayo Deret dapat dikatakan sama atau amat berdekatan. Di Gayo Lut sendiri terdapat dua dialek yang disana dinamakan dialek Bukit dan Cik (1981:1). Dalam bahasa Gayo, (memanggil seseorang) dengan panggilan yang berbeda, untuk menunjukan tata krama, sopan santun dan rasa hormat. Pemakaian ko dan kam, yang keduanya berarti kamu (anda) Panggilan ko biasa digunakan dari orang tua dan/atau lebih tua kepada yang lebih muda. Kata kam sendiri lebih sopan dibandingkan dengan ko. Bahasa Gayo Lut dinilai lebih sopan dan halus dibandingkan dengan bahasa Gayo lainnya.

B.   Marga
Walaupun sebagian besar masyarakat suku Gayo tidak mencantumkan nama marganya, tetapi sebagian kecil masih ada yang menabalkan atau mencantumkan nama marga-marganya, terutama yang bermukim di wilayah Bebesen.Sebenarnya marga itu hanya untuk mengetahui asal/Garis keturunan Individu itu sendiri, makanya di suku gayo marga tidak terlalu di pentingkan Berikut daftar marga-marga pada suku Gayo:
§   Ariga
§   Cibero
§   Linge
§   Melala
§   Munte
§   Tebe
§   Alga

C.   Kehidupan Sosial
Masyarakat Gayo hidup dalam komuniti kecil yang disebut kampong. Setiap kampong dikepalai oleh seorang gecik. Kumpulan beberapa kampung disebut kemukiman, yang dipimpin oleh mukim. Sistem pemerintahan tradisional berupa unsur kepemimpinan yang disebut sarak opat, terdiri dari reje (raja), petue (petua), imem (imam), dan rayat (rakyat). Pada masa sekarang beberapa buah kemukiman merupakan bagian dari kecamatan, dengan unsur-unsur kepemimpinan terdiri atas: gecik, wakil gecik, imem, dan cerdik pandai yang mewakili rakyat. Sebuah kampong biasanya dihuni oleh beberapa kelompok belah (klan). Anggota-anggota suatu belah merasa berasal dari satu nenek moyang, masih saling mengenal, dan mengembangkan hubungan tetap dalam berbagai upacara adat. Garis keturunan ditarik berdasarkan prinsip patrilineal. Sistem perkawinan yang berlaku berdasarkan tradisi adalah eksogami belah, dengan adat menetap sesudah nikah yang patrilokal (juelen) atau matrilokal (angkap). Kelompok kekerabatan terkecil disebut sara ine (keluarga inti). Kesatuan beberapa keluarga inti disebut sara dapur. Pada masa lalu beberapa sara dapur tinggal bersama dalam sebuah rumah panjang, sehingga disebut sara umah. Beberapa buah rumah panjang bergabung ke dalam satubelah (klan). Pada masa sekarang banyak keluarga inti yang mendiami rumah sendiri. Pada masa lalu orang Gayo terutama mengembangkan mata pencaharian bertani di sawah dan beternak, dengan adat istiadat mata pencaharian yang rumit. Selain itu ada penduduk yang berkebun, menangkap ikan, dan meramu hasil hutan. Mereka juga mengembangkan kerajinan membuat keramik, menganyam, dan menenun. Kini mata pencaharian yang dominan adalah berkebun, terutama tanaman Kopi Gayo. Kerajinan membuat keramik dan anyaman pernah terancam punah, namun dengan dijadikannya daerah ini sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Aceh, kerajinan keramik mulai dikembangkan lagi. Kerajinan lain yang juga banyak mendapat perhatian adalah kerajinan membuat sulaman kerawang dengan motif yang khas.

Sumber: http://gayonusantara.blogspot.co.id/


D.   Seni Budaya
Suatu unsur budaya yang tidak pernah lesu di kalangan masyarakat Gayo adalah kesenian, yang hampir tidak pernah mengalami kemandekan bahkan cenderung berkembang. Bentuk kesenian Gayo yang terkenal, antara lain tari Saman dan seni bertutur yang disebut Didong. Selain untuk hiburan dan rekreasi, bentuk-bentuk kesenian ini mempunyai fungsi ritual, pendidikan, penerangan, sekaligus sebagai sarana untuk mempertahankan keseimbangan dan struktur sosial masyarakat. Di samping itu ada pula bentuk kesenian seperti tari Bines, tari Guel, tari Munalu, Sebuku /Pepongoten (seni meratap dalam bentuk prosa), guru didong, dan melengkan (seni berpidato berdasarkan adat). Dalam seluruh segi kehidupan, orang Gayo memiliki dan membudayakan sejumlah nilai budaya sebagai acuan tingkah laku untuk mencapai ketertiban, disiplin, kesetiakawanan, gotong royong, dan rajin (mutentu). Pengalaman nilai budaya ini dipacu oleh suatu nilai yang disebut bersikemelen, yaitu persaingan yang mewujudkan suatu nilai dasar mengenai harga diri (mukemel). Nilai-nilai ini diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti dalam bidang ekonomi, kesenian, kekerabatan, dan pendidikan. Sumber dari nilai-nilai tersebut adalah agama Islam serta adat setempat yang dianut oleh seluruh masyarakat Gayo.

E.   Seni dan Tarian
§  Didong, adalah sebuah kesenian rakyat Gayo yang memadukan unsur tari, vokal, dan sastra. Didong dimulai sejak zaman Reje Linge XIII. Kesenian ini diperkenalkan pertama kali oleh Abdul Kadir To`et. Kesenian didong lebih digemari oleh masyarakatTakengon dan Bener Meriah.

Tari Saman
Sumber: news.viva.co.id
§  Tari Saman, sebuah tarian suku Gayo (Gayo Lues) yang biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat. Syair dalam tarian Saman mempergunakan bahasa Arab dan bahasa Gayo. Selain itu biasanya tarian ini juga ditampilkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam beberapa literatur menyebutkan tari Saman di Aceh didirikan dan dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang berasal dari Gayo di Aceh Tenggara.Tari Saman ditetapkan UNESCO sebagai Daftar Representatif Budaya Tak benda Warisan Manusia dalam Sidang ke-6 Komite Antar-Pemerintah untuk Pelindungan Warisan BudayaTak benda UNESCO di Bali, 24 November 2011.

Tari Bines
Sumber: sejutapesonadariborneo.blogspot.com
§  Tari Bines, merupakan tarian tradisional yang berasal dari kabupaten Gayo Lues. Tarian ini muncul dan berkembang di Aceh Tengah namun kemudian dibawa ke Aceh Timur. Menurut sejarah tarian ini diperkenalkan oleh seorang ulama bernama Syech Saman dalam rangka berdakwah. Tari ini ditarikan oleh para wanita dengan cara duduk berjajar sambil menyanyikan syair yang berisikan dakwah atau informasi pembangunan. Para penari melakukan gerakan dengan perlahan kemudian berangsur-angsur menjadi cepat dan akhirnya berhenti seketika secara serentak. Tari ini juga merupakan bagian dari Tari Saman saat penampilannya. Hal yang menarik dari tari Bines adalah beberapa saat mereka diberi uang oleh pemuda dari desa undangan dengan menaruhnya diatas kepala perempuan yang menari.

Tari Guel
Sumber: log.viva.co.id
§  Tari Guel, adalah salah satu khasanah Budaya Gayo di NAD. Guel berarti membunyikan. Khususnya di daerah dataran tinggi gayo, tarian ini memiliki kisah panjang dan unik. Para peneliti dan Koreografer tari mengatakan tarian ini bukan hanya sekedar tari. Dia merupakan gabungan dari seni sastra, seni musik dan seni tari itu sendiri. Dalam perkembangannya, tari Guel timbul tenggelam, namun Guel menjadi tari tradisi terutama dalam upacara adat tertentu. Guel sepenuhnya apresiasi terhadap wujud alam, lingkkungan kemudian dirangkai begitu rupa melalui gerak simbolis dan hentakan irama. Tari ini adalah media informatif. Kekompakan dalam padu padan antara seni satra, musik/suara, gerak memungkinkan untuk dikembangkan (kolaborasi) sesuai dengan semangat zaman, dan perubahan pola pikir masyarakat setempat. Guel tentu punya filosofi berdasarkan sejarah kelahirannya.

F.    Makanan Khas
§  Masam Jaeng, masakan yang tidak asing di telinga dan lidah orang gayo maupun pendatang yang telah merasakan betapa dahsyatnya cita rasa masakan ini. Masakan khas gayo ini adalah masakan yang merupakan gabungan beberapa sayuran seperti kentang, labu siam (buah jepang-gayo), kacang koro, jamur, dan lain-lain tergantung selera penikmat masakan ini. Ada sebagian penikmat masakan ini menjadikan ikan yang dimasam jeing seperti ikan jaher (mujahir/nila), ikan bawal, dan bandang. Bumbu yang digunakan inilah yang membuat masakan ini semakin terasa selain cabe merah, bawang merah, kunyit, garam dan terasi ada empan (tanaman hutan yang saat ini tengah dibudidayakan yang jika dimakan akan terasa kebas di lidah), gegarang (tanaman yang menjadi tanaman wajib setiap rumah orang gayo, tumbuhan yang hidup seperti rumput dan jika dicium punya bau tersendiri) dan terong padul (tomat cherry) tanpa lupa diberi percikan air jeruk sayur (bukan jeruk lemon atau nipis karena akan menghilangkan cita rasanya).
§  Gutel, makanan yang terbuat dari gabungan tepung beras, kelapa parut dan garam ini sering menjadi kiasan dalam tutur dan bahasa gayo yang dikarenakan makanan ini bertekstur kaku atau padat (del_gayo) seperti “gutel del lepat tuli”. Dulunya jika membuat gutel tepung beras yang akan dipakai di tumbuk (tutu-gayo) didalam lusung kemudian diayak dengan cara di tenting (pemisahan tepung yang halus dengan kasar menggunakan niyu/tampah).Pembuatan gutel ini tidak begitu sulit, tepung beras yang telah di campur dengan kelapa parut dan garam kemudian dikepal-kepal ( kemul-gayo) yang kemudian dua buah gutel yang sudah di kepal di satukan dengan di ikat menggunakan daun pandan dalam istilah gayo gutel seperti ini disebut gutel ” sara upuh kerung roa” atau sebagian masyarakat ada yang membungkus dengan menggunakan daun pisang, ni semua tergantung selera seperti apa.Gutel sangat enak jika dinikmati di pagi hari atau sore hari dengan dikawani secangkir kopi khas gayo.
§  Lepat, makanan yang satu ini ada yang terbuat dari tepung ketan (pulut), labu tanah (petukel_gayo) dan ada yang berbahan dari singkong (gadung-gayo). Yang sering dibuat oleh masyarakat gayo jika menjelang bulan ramadhan, lebaran idhul fitri dan idhul adha ialah lepat yang berbahan tepung ketan, karena kebiasaan masyarakat gayo jika menjelang bulan ramadhan atau pun lebaran setiap rumah saling bergantian dan tukar menukar lepat yang telah dibuatnya, dan ini merupakan kebiasaan yang telah lama ada.Lepat yang terbuat dari tepung ketan, tepung ketan yang akan di pakai terlebih dahulu diaduk menjadi satu dengan menggunakan air gula aren yang telah dimasak dan kebiasaan orang dulunya tepung ketan itu di aduk menggunakan manesen (air aren yang diambil dan langsung dimasak), sehingga nantinya hasil adukan tepung ketannya akan berwarna coklat. Lepat hampir sama dengan timpan aceh sama-sama dibungkus dengan mengunakan daun pisang yang membedakannya ukuran lepat lebih besar dari timpan aceh, daun pisang yang digunakan tidak harus daun mudanya serta inti atau dalaman lepat berisi kelapa yang diparut yang terlebih dahulu dimasak dengan menggunakan gula aren atau gula pasir biasa.
§  Cecah, makanan/masakan ini dijadikan pelengkap saat makan dengan sayur yang di rebus seperti pujuk jepang, daun ubi, dan lain-lain. Cecah bisa meningkatkan selera makan, di gayo ada cecah yang di makan dengan sayur rebus biasanya cecah trong agur (terong belanda), cecah trong padul (tomat cherry) dibuat tanpa proses dimasak.
§  Gegerip, makanan yang satu ini sudah jarang ada dan dibuat atau dijual oleh masyarakat gayo yang dikarenakan jarangnya peminat makanan ini mungkin dikarenakan tekstur makanan ini yang sangat keras dan alot (liet-gayo).Gegerip terbuat dari nasi yang dijemur dan dikeringkan yang kemudian dicampur dengan gula merah baru dionseng-onseng sebentar.
§  Brahrum, di aceh makanan ini dikenal dengan sebutan bohruhrum atau di pulau jawa makanan ini disebut onde-onde, tapi di gayo makanan ini dikenal dengan sebutan brahrum. Makanan yang terbuat dari tepung ketan ini di bentuk menjadi bulat yang kemudia tengahnya diisi potongan gula aren (gula tampang- gayo) dan kemudian direbus di air mendidih jika sudah terapung berarti makanan ini telah masak yang kemudian di lumuri dengan parutan kelapa.
§  Apam, makanan yang mungkin di seluruh pelosok indonesia mengenalnya dengan sebutan serabi, di gayo serabi dikenal dengan sebuatan apam dan biasanya dimakan dengan menggunakan santan yang telah dimasak dan dicampurka gula biar terasa manis.

Pakaian Adat Gayo
Sumber: lintasgayo.co
G.   Pakaian Adat Gayo
Busana Adat Gayo
Pada masa silam orang Gayo pernah mengenal bahasan busana dari kulit kayu nanit, hasil tenunan sendiri dari bahan kapas, dan bahan kain yang didatangkan dari luar daerah Gayo. Periode pemakaian nanit sudah jauh dari ingatan orang sekarang, yang konon dipakai pada masa-masa sulit pada zaman kolonial Belanda atau masa sebelumnya. Kegiatan bertenun pun sudah lama tak tampak dalam kehidupan mereka, kecuali pada masa pendudukan balatentara Jepang di mana kehidupan serba sulit. Busana yang diperkenalkan di sini dibatasi pada busana sub kelompok Gayo Lut yang berdiam di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Uraian tentang busana atau pakaian ini termasuk unsur perhiasan atau assesorisnya yang dikenakan dalam rangka upacara perkawinan, karena di luar upacara itu tidak tampak . adanya ciri busana khas Gayo, lebih-lebih pada zaman masa belakangan ini.
Unsur-unsur pakaian pengantin wanita adalah baju, kain sarung pawak, dan ikat pinggang ketawak. Unsur-unsur perhiasan adalah mahkota sunting, sanggul sempol gampang, cemara, lelayang yang menggantung di bawah sanggul, ilung-ilung, anting-anting subang gener clan subang ilang, yang semuanya itu ada di seputar kepala. Di bagian leher tergantung kalung tangang terbuat dari perak atau uang perak tangang ringit dan tangang birah-mani; clan belgong yang merupakan untaian manik-manik. Kedua lengan sampai ujung jari dihiasi dengan bermacam-macam gelang seperti ikel, gelang iok, gelang puntu, gelang berapit, gelang bulet, gelang beramur, topong, dan beberapa macam cincin sensim belah keramil, sensim genta, sensim patah paku, sensim belilit, sensim keselan, sensim ku I. Bagian pinggang selain ikat pinggang dari kain ketawak, masih ada tali pinggang berupa rantai genit rante; clan di bagian pergelangan kaki ada gelang kaki. Unsur busana lain yang sangat penting adalah upuh ulen-ulen selendang dengan ukuran relatif lebar.
Busana Gayo
Berbagai gaya sulaman pada baju lengan pendek gaya Gayo. Umumnya baju seperti ini dikenakan oleh anak-anak wanita atau pria. Ukiran Pada Pada Baju Adat Gayo dinamakan dengan Kerawang. Kerawang atau sering disebut "Kerawang Gayo" (Penuturan dalam Bahasa Gayo) Adalah Busana Adat Gayo yang Biasanya dipakai saat melangsungkan acara Resepsi Pernikahan, acara tarian adat dan budaya secara turun-temurun. Kerawang Itu Sendiri Merupakan hasil cipta karsa dari manusia yang menjadi nilai estetika dalam prilaku kehidupan yang kemudian menjadi budaya. Sedangkan budaya itu sendiri adalah hasil refleksi manusia dengan alam.
 
Pakaian Pengantin Gayo
Sumber: galleryaceh.blogspot.com
Busana Pengantin Gayo
Busana adat perkawinan Gayo, mengetengahkan kekayaan teknik sulaman benang warna putih, merah, kuning dan hijau. Pakaian pria dikenal dengan sebutan baju Aman mayak, pakaian wanita disebut Ineun mayak. Pengantin pria mengenakan bulang pengkah, yang sekaligus berfungsi tempat menancapkan sunting. Unsur lain adalah baju putih, tangang, untaian gelang pada lengan, cincin, kain sarung, genit rante, celana, ponok yakni semacam keris yang diselipkan di pinggang. Sanggul sempol gampang dengan bentuk tertentu sempol gampang bulet dipakai pada saat akad nikah, dan ada bentuk lain sempol gampang kemang yang dipakai selama 10 hari setelah akad nikah. Sunting yang semacam mahkota itu merupakan susunan perca kertas minyak warna-warni sebagai simbol kebesaran atau keanggunan. Baju pria dan wanita clan celana pria biasanya berwarna hitam. Sedangkan kain sarung adalah semacam songket yang disebut upuh kerung bakasap. Unsur pakaian yang diberi hiasan adalah upuh ulen-ulen, baju wanita baju kerawang, clan ketawak.
Motif-motif hiasan yang selalu muncul pada ketiga unsur pakaian ini adalah: mun berangkat atau mun beriring (awan berarak), pucuk rebung (pucuk rebung), puter tali (pilin berganda), peger (pagar), matan lo (matahari), Wen (bulan). Motif mun berangkat merupakan simbol kesatuan atau kesepakatan; pucuk rebung bermakna ikatan yang teguh; puter tali bermakna kerukunan atau saling tenggang; peger bermakna ketahanan clan ketertiban; matan lo dan ulen adalah kekuatan yang menyinari alam semesta termasuk manusia itu sendiri. Motif-motif di atas dijahitkan dengan benang berwarna putih, merah, kuning, dan hijau pada latar warna hitam pada selendang upuh ulen-ulen. Kecuali motif matahari clan bulan, motif-motif lainnya dituangkan pula pada baju wanita dengan latar hitam. Motif pada stagen ketawak berlatar kain warna merah muda atau merah bata. Belakangan latar kain tempat menuangkan motif tadi menjadi sangat bervariasi, tergantung pada selera penjahitnya, misalnya biru, kuning, merah, coklat clan lain-lain. Unsur pakaian itu bukan lagi untuk suatu upacara adat seperti perkawinan, tetapi dipakai dalam upacara yang bersifat resmi lainnya. Perkembangan ini ada kecenderungan sebagai memperkuat identitas atau kebanggaan etnik. Pakaian semacam itu dipakai para pejabat dalam menerima tamu terhormat yang datang dari luar daerah, misalnya menteri. Tamu terhormat itu pun disambut penari yang menggunakan "baju adat" baju ketawang dengan berselimut upuh ulen-ulen tadi. Biasanya tamu terhormat atau tamu - agung itu diselimutkan pula dengan kain adat upuh ulen-ulen berkualitas terbaik. Pemberian ini sebagai simbol rasa hormat yang tinggi sekaligus sebagai ungkapan penerimaan yang ikhlas dari masyarakat.

Penutup
Suku Gayo merupakan “Suku tertua” di Provinsi Aceh. Suku ini mendiami wilayah dataran tinggi Gayo atau disebut juga Tanoh Gayo. Persebaran masyarakat Suku Gayo Mencakup kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Gayo Lues dan juga mendiami beberapa desa di Kabupaten Aceh Tenggara , Kabupaten Aceh Tamiang, Kecamatan Beutong Kabupaten Nagan Raya serta di Kecamatan Serba Jadi di Kabupaten Aceh Timur. Suku Gayo terdiri dari tiga kelompok yaitu Masyarakat Gayo laut yang mendiami daerah Aceh Tengah dan Bener Meriah, Gayo Lues yang mendiami daerah Gayo Lues dan Aceh Tenggara serta Gayo Blang yang mendiami sebagian kecamatan di Aceh Tamiang. Populasi masyarakat Gayo berjumlah kurang lebih 85.000 jiwa.
Suku Gayo suku tergolong ke dalam ras Proto Melayu yang berasal dari India. Kedatangan bangsa ini diperkirakan datang ke Indonesia sekitar 2000 tahun sebelum masehi. Ciri khas dari bangsa ini adalah berkulit hitam, tubuhnya kecil dan berambut keriting. Dalam perkembangannya ketika terjadi peperangan antara Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Peurlak pada tahun 1271 M serta serangan Kerajaan Majapahit atas Kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1350 M mengakibatkan banya orang mengungsi ke pedalaman yang telah dihuni oleh Suku Gayo. Para pengungsi itupun tidak mau kembali dan menjadi masyarakat Suku Gayo sampai akhirnya membentuk Kerajaan Linge atau Kerajaan Lingga. Semakin lama penduduk Linge semakin bertambah banyak kemudian mereka melakukan migrasi ke pemukiman baru. Sebagian besar dari mereka pindah ke dataran tinggi Gayo yang selanjutnya menjadi penduduk asli Gayo.
Kata Gayo berasal dari kata Pegayon yang berarti tempat mata air jernih dimana terdapat ikan suci (bersih) dan kepiting. Konon, dahulu serombongan pendatang suku Batak Karo ke datang ke Blangkejeren dengan melintasi sebuah desa bernama Porang. Di perjalanan mereka menjumpai sebuah perkampungan yang terdapat sebuah telaga yang dihuni seekor kepiting besar, kemudian mereka melihat binatang tersebut dan berteriak Gayo Gayo. Dari sinilah daerah tersebut dinamai dengan Gayo.
Masyarakat Suku Gayo notabene bermata pencaharian utama sebagai petani dengan hasil utamanya kopi. Selain itu, masyarakat Gayo mengembangkan kerajinan membuat keramik, menganyam, dan menenun serta kerajinan membuat sulaman kerawang Gayo dengan motif yang khas. Masyarakat tradisional Gayo menganut prinsip “keramat mupakat behu berdedele” yang bermakan kemuliaan karena mufakat, berani karena bersama dan “tirus lagu gelngan gelas, bulet lagu umut, rempak lagu re, susun lagu belo” yang bermakna bersatu teguh.
Suku Gayo juga memiliki seni tradisi yang sudah terkenal bahkan samapai ke mancanegara yaitu Tari Saman. Selain itu ada pula bentuk kesenian lain seperti tari Bines, tari Guel, tari Munalu, sebuku/pepongoten, guru didong, dan melengkan (seni berpidato berdasarkan adat). Masayarakat Gayo membudayakan perilaku yang memelihara ketertiban, disiplin, kesetiakawanan, gotong royong, dan rajin (mutentu). Hal ini didasari oleh suatu nilai yang disebut bersikemelen yang berarti persaingan dalam mewujudkan suatu nilai dasar mengenai harga diri (mukemel).

Daftar Pustaka

Indri Elustiyasari
4423145625
Usaha Jasa Pariwisata
Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Jakarta
indrielustiyasari@gmail.com