Showing posts with label pengaruhwisatawan. Show all posts
Showing posts with label pengaruhwisatawan. Show all posts

Monday, January 4, 2016

TUGAS 5_RISMAWATI AISYAH_HASIL OBSER BADUY

PENGARUH WISATAWAN TERHADAP KEHIDUPAN BADUY

Hay! Apa kabar semuanya? Et...sebelumnya assalamualaikum wr. wb. Ketemu lagi nih bersama saya Rismawati Aisyah atau yang biasa dipanggil Risma yang bakal memposting sesuatu. Saya seorang mahasiswi prodi Usaha Jasa Pariwisata UNJ yang masih sibuk mengerjakan uas dan tugas semester tiga demi kesuksesan kedepannya. Pada bulan Desember 2015 tepatnya tanggal 22 sampai 24, saya dan teman- teman seangkatan saya memiliki kesempatan untuk berkunjung atau bisa dibilang study tour atau melakukan observasi untuk memenuhi tugas yang ada. Saya bersama teman-teman dari Usaha Jasa Pariwisata pergi ke suatu kota yaitu kota Banten, lebih tepatnya menuju Desa dari Suku Baduy atau biasa juga disebut dengan Desa Kanekes dengan di damping oleh tiga dosen. Dan pada kesempatan kali ini, saya akan membahas sedikit tentang Pengaruh Wisatawan Terhadap Kehidupan Baduy.



Sebelum adanya wisatawan asing yang mengetahui keberadaan badui kehidupan mereka normal tanpa ada gangguan perubahan sosial yang terjadi. Karena mereka hanya hidup dengan mengandalkan aturan dari tetuanya. Kehidupan terasing masyarakat badui menyebabkan mereka tidak mengetahui perkembangan-perkembangan yang telah terjadi. Hal ini menyebabkan pola-pola pemikiran dan kehidupan masyarakat badui menjadi statis.
Masyarakat dan Kebudyaan memiliki keadaan yang selalu mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi pada masyarakat baik modern maupun primitive disebut dengan perubahan sosial, dimana perubahan itu sendiri masih berkaitan dengan akibat dari interaksi sosial masyarakat tersebut. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan sosial yaitu  Perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat primitive termasuk dalam evolusi, karena merupakan bentuk perubahan sosial yang berlangsung lambat, dikarenakan adanya masyarakat yang berwatak keras dan sulit  menerima kebudayaan baru serta meninggalkan adat daerahnya. Sehingga, menyebabkan kebudayaan lain sukar masuk dan menyebabkan perubahan sosial. Dan evolusi ini sesuai dengan perubahan sosial masyarakat primitif masyarakat Baduy.
Perubahan tersebut sangat terlihat di masyarakat baduy pada era moden ini, era modern ini bisa dibilang sebagai globalisasi. Tidak heran pula jika pengaruh modernisasi kini sudah dapat mengubah kebudayaan di Indonesia sedikit demi sedikit. Sebuah kebudayaan memiliki sistem yang menyeluruh. Antara satu elemen dengan elemen yang lain saling berhubungan dengan erat. Karena itu, jika ada perubahan di salah satu elemen budaya, maka elemen-elemen budaya yang lain pun akan berubah.
Di Indonesia terdapat suku-suku yang sengaja mengisolasi diri terhadap teknologi.Salah satunya adalah suku Badui. Masyarakat Badui begitu taat dengan adat mereka untuk menolak kehidupan modern. Namun dengan pesatnya perkembangan modernisasi, bukan tidak mungkin modernisasi tersebut mulai menyentuh masyarakat Badui.
Sekecil apapun perubahan yang terjadi, baik perubahan lingkungan alam/fisik maupun perubahan sosial menuntut adanya adaptasi dari masyarakat Badui terhadap lingkungannya yang baru. Perubahan itu menuntut adanya perubahan kehidupan sosial-budaya pada masyarakat Badui tersebut.
Modernisasi memiliki pengaruh terhadap kehidupan masyarakat suku Baduy, baik Baduy-Dalam maupun Baduy-Luar. Adanya faktor-faktor pendorong perubahan atau  modernisasi membuat masyarakat suku Baduy secara perlahan berubah dan diperbolehkan untuk tidak mengikuti peraturan adat istiadat yang ada. Perubahan ini terlihat jelas pada masyarakat suku Baduy-Luar. Mereka secara perlahan mulai keluar dari adat suku Baduy yang tidak memperbolehkan untuk berinteraksi dengan dunia luar. Penggunaan telepon seluler, kasur, gelas, piring dan barang-barang lainnya membuktikan bahwa mereka mulai berubah dan mengalami pergeseran terhadap adat istiadat suku Baduy. Seperti yang pernah saya alami ketika saya menginap di Baduy Luar selama 2 malam, kami mengamati beberapa hal adat istiadatnya sudah mulai memudar, misalnya pada saat mereka menyiapkan minum mereka sudah menggunakan termos dan gelas kaca kemudian memakai sampo serta sabun berbeda dengan masyarakat yang ada di Baduy Dalam  mereka tidak diperkenankan untuk memakai sabun-sabunan, selain itu baju yang mereka kenakan di Baduy Luar mulai mengikuti perkembangan jaman sekarang seperti di daerah-daerah lainnya seperti menggunakan celana dan kaos. Pergaulan dengan dunia luar membuat masyarakat Baduy bersentuhan dengan teknologi modern yang selama ratusan tahun dilarang oleh adat. Seperti masyarakat lain, mereka saat ini menonton televisi, menggunakan jam tangan, dan bahkan memiliki radio.  Sehingga mau tidak mau mereka berfikir untuk bisa mengikuti tren saat ini dan menunjukkan bahwa mereka juga merasa kurang puas dengan tekhnologi  yang mereka punya selama ini. Mereka ingin memiliki pengetahuan yang lebih dengan menonton tv atau mendengarkan radio.perubahan yang lainnya adalah bahasa yang mereka gunakan, Orang Baduy sehari-hari berbahasa Sunda kasar. Bahasa yang dipakai mereka tidak mengenal tingkatan bahasa atau pemakaian bahasa berdasarkan status sosial. Rasa hormat pada orang lain tidak diperlihatkan lewat kata-kata khusus, tetapi lewat tingkah laku mereka. Adat mengharuskan mereka berbahasa Sunda untuk mempertahankan kemurnian budaya masyarakat. Namun, tak sulit menemukan orang Baduy yang bisa berbahasa Indonesia, terutama di Baduy Luar. Mereka yang fasih berbahasa Indonesia biasanya orang-orang yang sering bepergian ke kota. Bukan hanya yang berpergian ke kota saja tetapi juga terpengaruh oleh wisatawan yang datang di setiap harinya, apalagi jikawisatawan tersebut menginap dirumah mereka, secara tidak langsung mereka menyimak dan mulai terbiasa dengan bahasa para wisatawannya yang mungkin kebanyakan dari kota. Di sisi lain, suku Baduy-Dalam masih tetap patuh mengikuti peraturan adat yang telah dibuat.

Daftar Pustaka