PENGARUH WISATAWAN TERHADAP
KEHIDUPAN BADUY
Hay! Apa kabar semuanya?
Et...sebelumnya assalamualaikum wr. wb. Ketemu lagi nih bersama saya Rismawati
Aisyah atau yang biasa dipanggil Risma yang bakal memposting sesuatu. Saya
seorang mahasiswi prodi Usaha Jasa Pariwisata UNJ yang masih sibuk mengerjakan
uas dan tugas semester tiga demi kesuksesan kedepannya. Pada bulan Desember 2015 tepatnya tanggal 22 sampai
24, saya dan teman- teman seangkatan saya memiliki kesempatan untuk berkunjung
atau bisa dibilang study tour atau melakukan observasi untuk memenuhi tugas
yang ada. Saya bersama teman-teman dari Usaha Jasa Pariwisata pergi ke suatu
kota yaitu kota Banten, lebih tepatnya menuju Desa dari Suku Baduy atau biasa
juga disebut dengan Desa Kanekes dengan di damping oleh tiga dosen. Dan pada
kesempatan kali ini, saya akan membahas sedikit tentang Pengaruh Wisatawan
Terhadap Kehidupan Baduy.
Sebelum
adanya wisatawan asing yang mengetahui keberadaan badui kehidupan mereka normal
tanpa ada gangguan perubahan sosial yang terjadi. Karena mereka hanya hidup
dengan mengandalkan aturan dari tetuanya. Kehidupan terasing masyarakat badui
menyebabkan mereka tidak mengetahui perkembangan-perkembangan yang telah
terjadi. Hal ini menyebabkan pola-pola pemikiran dan kehidupan masyarakat badui
menjadi statis.
Masyarakat
dan Kebudyaan memiliki keadaan yang selalu mengalami perubahan. Perubahan yang
terjadi pada masyarakat baik modern maupun primitive disebut dengan perubahan
sosial, dimana perubahan itu sendiri masih berkaitan dengan akibat dari
interaksi sosial masyarakat tersebut. Banyak faktor yang mempengaruhi
terjadinya perubahan sosial yaitu Perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat
primitive termasuk dalam evolusi, karena merupakan bentuk perubahan sosial yang
berlangsung lambat, dikarenakan adanya masyarakat yang berwatak keras dan
sulit menerima kebudayaan baru serta
meninggalkan adat daerahnya. Sehingga, menyebabkan kebudayaan lain sukar masuk
dan menyebabkan perubahan sosial. Dan evolusi ini sesuai dengan perubahan sosial
masyarakat primitif masyarakat Baduy.
Perubahan
tersebut sangat terlihat di masyarakat baduy pada era moden ini, era modern ini
bisa dibilang sebagai globalisasi. Tidak heran pula jika pengaruh modernisasi
kini sudah dapat mengubah kebudayaan di Indonesia sedikit demi sedikit. Sebuah
kebudayaan memiliki sistem yang menyeluruh. Antara satu elemen dengan elemen
yang lain saling berhubungan dengan erat. Karena itu, jika ada perubahan di
salah satu elemen budaya, maka elemen-elemen budaya yang lain pun akan berubah.
Di Indonesia
terdapat suku-suku yang sengaja mengisolasi diri terhadap teknologi.Salah
satunya adalah suku Badui. Masyarakat Badui begitu taat dengan adat mereka
untuk menolak kehidupan modern. Namun dengan pesatnya perkembangan modernisasi,
bukan tidak mungkin modernisasi tersebut mulai menyentuh masyarakat Badui.
Sekecil
apapun perubahan yang terjadi, baik perubahan lingkungan alam/fisik maupun
perubahan sosial menuntut adanya adaptasi dari masyarakat Badui terhadap
lingkungannya yang baru. Perubahan itu menuntut adanya perubahan kehidupan
sosial-budaya pada masyarakat Badui tersebut.
Modernisasi
memiliki pengaruh terhadap kehidupan masyarakat suku Baduy, baik Baduy-Dalam
maupun Baduy-Luar. Adanya faktor-faktor pendorong perubahan atau modernisasi membuat masyarakat suku Baduy
secara perlahan berubah dan diperbolehkan untuk tidak mengikuti peraturan adat
istiadat yang ada. Perubahan ini terlihat jelas pada masyarakat suku
Baduy-Luar. Mereka secara perlahan mulai keluar dari adat suku Baduy yang tidak
memperbolehkan untuk berinteraksi dengan dunia luar. Penggunaan telepon
seluler, kasur, gelas, piring dan barang-barang lainnya membuktikan bahwa
mereka mulai berubah dan mengalami pergeseran terhadap adat istiadat suku
Baduy. Seperti yang pernah saya alami ketika saya menginap di Baduy Luar selama
2 malam, kami mengamati beberapa hal adat istiadatnya sudah mulai memudar,
misalnya pada saat mereka menyiapkan minum mereka sudah menggunakan termos dan
gelas kaca kemudian memakai sampo serta sabun berbeda dengan masyarakat yang
ada di Baduy Dalam mereka tidak
diperkenankan untuk memakai sabun-sabunan, selain itu baju yang mereka kenakan
di Baduy Luar mulai mengikuti perkembangan jaman sekarang seperti di daerah-daerah
lainnya seperti menggunakan celana dan kaos. Pergaulan
dengan dunia luar membuat masyarakat Baduy bersentuhan dengan teknologi modern
yang selama ratusan tahun dilarang oleh adat. Seperti masyarakat lain, mereka
saat ini menonton televisi, menggunakan jam tangan, dan bahkan memiliki radio. Sehingga mau tidak mau mereka berfikir untuk
bisa mengikuti tren saat ini dan menunjukkan bahwa mereka juga merasa kurang
puas dengan tekhnologi yang mereka punya
selama ini. Mereka ingin memiliki pengetahuan yang lebih dengan menonton tv
atau mendengarkan radio.perubahan yang lainnya adalah bahasa yang mereka
gunakan, Orang Baduy sehari-hari berbahasa Sunda kasar. Bahasa yang dipakai
mereka tidak mengenal tingkatan bahasa atau pemakaian bahasa berdasarkan status
sosial. Rasa hormat pada orang lain tidak diperlihatkan lewat kata-kata khusus,
tetapi lewat tingkah laku mereka. Adat mengharuskan mereka berbahasa Sunda
untuk mempertahankan kemurnian budaya masyarakat. Namun, tak sulit menemukan
orang Baduy yang bisa berbahasa Indonesia, terutama di Baduy Luar. Mereka yang
fasih berbahasa Indonesia biasanya orang-orang yang sering bepergian ke kota.
Bukan hanya yang berpergian ke kota saja tetapi juga terpengaruh oleh wisatawan
yang datang di setiap harinya, apalagi jikawisatawan tersebut menginap dirumah
mereka, secara tidak langsung mereka menyimak dan mulai terbiasa dengan bahasa
para wisatawannya yang mungkin kebanyakan dari kota. Di sisi lain, suku
Baduy-Dalam masih tetap patuh mengikuti peraturan adat yang telah dibuat.
Daftar Pustaka
