Sunday, January 3, 2016

Tugas 3_Indri Elustiyasari_Pariwisata Sejarah dan Budaya Indonesia

Tema: Pariwisata Sejarah dan Budaya Indonesia

“Mengenal Suku Gayo Lebih Dalam”

Hello I’m back! Jangan bosan sama tulisan-tulisan saya yaaa hihi...
Oke dalam pembahasan kali ini saya akan membahas sedikit kehidupan tentang Suku Gayo, yang hidup di Provinsi Aceh bagian tengah.

Indonesia Ethnic Groups Map
Sumber: id.wikipedia.org


Pendahuluan
Suku bangsa di Indonesia berjumlah lebih dari 100 suku bangsa. Wilayah Indonesia yang luas mempengaruhi tingginya keanekaragaman bangsa Indonesia. Keragaman suku bangsa akan menentukan keragaman budaya bangsa Indonesia. Meskipun budaya bangsa kita sangat beraneka ragam, tetapi tetap satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan semboyan bangsa Indonesia “Bhineka Tunggal Ika”, walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu. Bhineka Tunggal Ika mengandung makna meskipun berbeda suku, budaya, agama, dan bahasa daerah, tetapi tetap satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia. Kalimat Bhineka Tunggal Ika diambil dari kitab Sutasoma yang ditulis oleh Empu Tantular seorang pujangga dari Kerajaan Majapahit. Kalimat selengkapnya berbunyi “Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa”.
Ciri suku bangsa Indonesia adalah memiliki kesamaan kebudayaan, bahasa, adat istiadat, dan kesamaan nenek moyang. Ciri-ciri mendasar yang membedakan suku bangsa satu dengan lainnya, antara lain bahasa daerah, adat istiadat, sistem kekerabatan, kesenian daerah, dan tempat asal. Keberagaman bangsa Indonesia, terutama terbentuk oleh jumlah suku bangsa yang mendiami wilayah Indonesia sangat banyak dan tersebar di mana-mana. Setiap suku bangsa mempunyai ciri atau karakter tersendiri, baik dalam aspek sosial maupun budaya. Menurut penelitian Badan Pusat Statistik yang dilaksanakan tahun 2010, di Indonesia terdapat 1.128 suku bangsa. Antar suku bangsa di Indonesia memiliki berbagai perbedaan dan itulah yang membentuk keanekaragaman di Indonesia. Kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia sangat beragam. Kehidupan sosial itu dibentuk oleh kehidupan sosial budaya di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Suatu daerah dengan daerah lainnya memiliki berbagai perbedaan dalam kehidupan sosial budaya. Kehidupan sosial budaya di suatu daerah dipengaruhi berbagai faktor. Faktor lingkungan mempengaruhi kehidupan sosial budaya masyarakat di daerah tersebut.
Masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan akan lebih banyak menggantungkan kehidupannya dari pertanian. Oleh karena itu, akan berkembang kehidupan sosial budaya masyarakat petani. Sementara itu, daerah pantai akan memengaruhi masyarakatnya untuk memiliki mata pencarian sebagai nelayan dan berkembanglah kehidupan sosial masyarakat nelayan. Keragaman bangsa Indonesia tampak pula dalam seni sebagai hasil kebudayaan daerah di Indonesia, misalnya dalam bentuk tarian dan nyanyian. Hampir semua daerah atau suku bangsa mempunyai tarian dan nyanyian yang berbeda. Begitu juga dalam hasil karya, setiap daerah mempunyai hasil karya yang berbeda dan menjadi ciri khas daerahnya masing-masing.

Suku Gayo
Sumber: id.wikipedia.org


Pembahasan
Suku Gayo atau "urang gayo" adalah sebuah suku bangsa yang mendiami dataran tinggi Gayo di Provinsi Aceh bagian tengah, Populasinya berjumlah kurang lebih 600.000 jiwa. Orang Gayo secara mayoritas terdapat di kabupaten Aceh Tengah dan Bener Mariah (sekitar 30 - 45%) dan Gayo Loues (sekitar 50 - 70%) dan sebagian wilayah Aceh tenggara dan 3 Kecamatan di Aceh Timur yaitu Serbejadi, Peunaron, dan Simpang Jernih. Suku Gayo beragama Islam dan mereka dikenal taat dalam agamanya dan mereka menggunakan Bahasa Gayo dalam percakapan sehari-hari mereka.
Pada abad ke-11, Kerajaan Linge didirikan oleh orang-orang Gayo pada era pemerintahan Sultan Makhdum Johan Berdaulat Mahmud Syah dar Kesultanan perlak. Informasi ini diketahui dari keterangan Raja Uyem dan anaknya Raja Ranta yaitu Raja Cik Bebesen dan dari Zainuddin yaitu dari raja-raja Kejurun Bukit yang kedua-duanya pernah berkuasa sebagai raja di era kolonial Belanda. Raja Linge I, disebutkan mempunyai 4 orang anak. Yang tertua seorang wanita bernama Empu Beru atau Datu Beru, yang lain Sebayak Lingga (Ali Syah), Meurah Johan (Johan Syah) dan Meurah Lingga (Malamsyah). Sebayak Lingga kemudian merantau ke tanah Karo dan membuka negeri di sana dia dikenal dengan Raja Lingga Sibayak. Meurah Johan mengembara ke Aceh Besar dan mendirikan kerajaannya yang bernama Lam Krak atau Lam Oeii atau yang dikenal dengan Lamuri atau Kesultanan Lamuri. Ini berarti Kesultanan Lamuri di atas didirikan oleh Meurah Johan sedangkan Meurah Lingga tinggal di Linge, Gayo, yang selanjutnya menjadi raja Linge turun termurun. Meurah Silu bermigrasi ke daerah Pasai dan menjadi pegawai Kesultanan Gaya di Pasai. Meurah Mege sendiri dikuburkan di Wih ni Rayang di Lereng Keramil Paluh di daerah Linge, Aceh Tengah. Sampai sekarang masih terpelihara dan dihormati oleh penduduk. Penyebab migrasi tidak diketahui. Akan tetapi menurut riwayat dikisahkan bahwa Raja Linge lebih menyayangi bungsunya Meurah Mege. Sehingga membuat anak-anaknya yang lain lebih memilih untuk mengembara.

Sumber: http://gayonusantara.blogspot.co.id/


Dinasti Lingga
1.   Adi Genali Raja Linge I di gayo
a.  Raja Sebayak Lingga di Tanah Karo. Menjadi Raja Karo
b.  Raja Meurah Johan (pendiri Kesultanan Lamuri)
c.  Meurah Silu anak dari Meurah Sinabung (pendiri Kesultanan Samudera Pasai), dan
2.   Raja Linge II alias Marah Lingga di Gayo
3.   Raja Lingga III-XII di Gayo
4.   Raja Lingga XIII menjadi Amir al-Harb Kesultanan Aceh. Pada tahun 1533 terbentuklah Kerajaan Johor baru di Malaysia yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Mansyur Syah. Raja Lingga XIII diangkat menjadi kabinet di kerajaan baru tersebut. Keturunannya mendirikan Kesultanan Lingga di kepulauan Riau, pulau Lingga, yang kedaulatannya mencakup Riau (Indonesia), Temasek (Singapura) dan sedikit wilayah Malaysia.
Raja-raja di Sebayak Lingga Karo tidak terdokumentasi. Pada era Belanda kembali diangkat raja-rajanya tapi hanya dua era
1.   Raja Sendi Sibayak Lingga (pilihan Belanda)
2.   Raja Kalilong Sibayak Lingga

A.   Bahasa
Bahasa Gayo adalah bahasa yang dipakai sebagai bahasa sehari-hari oleh masyarakat Suku Gayo di Kabupaten Aceh Tengah. Bahasa Gayo ini mempunyai keterkaitan dengan bahasa Suku Batak Karo  di Sumatera Utara. Bahasa Gayo digunakan dan terkonsentrasi diKabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, sebagian wilayah Aceh Tenggara, dan Kecamatan Serba Jadi di Kabupaten Aceh Timur. Ketiga daerah ini merupakan wilayah inti Suku Gayo. Bahasa ini termasuk kelompok bahasa yang disebut "Northwest Sumatra-Barrier Islands" dari rumpun bahasa Austronesia. Pengaruh dari luar yaitu bahasa di luar Bahasa Gayo turut mempengaruhi variasi dialek tersebut. Bahasa Gayo yang ada di Lokop, sedikit berbeda dengan bahasa Gayo yang ada di Gayo Kalul, Gayo Lut, Linge dan Gayo Lues. Hal tersebut disebabkan karena pengaruh bahasa Aceh yang lebih dominan di Aceh Timur. Begitu juga halnya dengan Gayo Kalul, di Aceh Tamiang, sedikit banyak terdapat pengaruh Melayu karena lebih dekat ke Sumatera Utara. Kemudian, Gayo Lues lebih dipengaruhi oleh bahasa Alas dan bahasa Karo karena interaksi yang lebih banyak dengan kedua suku tersebut lebih-lebih komunitas Gayo yang ada di kabupaten Aceh Tenggara. Dialek pada suku Gayo, menurut M.J. Melalatoa, dialek Gayo Lut terdiri dari sub- dialek Gayo Lut dan Deret; sedangkan Bukit dan Cik merupakan sub-subdialek. Demikian pula dengan dialek Gayo Lues terdiri dari sub-dialek Gayo Lues dan Serbejadi. Sub-dialek Serbejadi sendiri meliputi sub-sub dialek Serbejadi dan Lukup (1981:53). Sementara Baihaqi Ak., dkk menyebut jumlah dialek bahasa Gayo sesuai dengan persebaran suku Gayo tadi (Gayo Lut, Deret, Gayo Lues, Lokop/Serbejadi dan Kalul). Namun demikian, dialek Gayo Lues, Gayo Lut, Gayo Lukup/Serbejadi dan Gayo Deret dapat dikatakan sama atau amat berdekatan. Di Gayo Lut sendiri terdapat dua dialek yang disana dinamakan dialek Bukit dan Cik (1981:1). Dalam bahasa Gayo, (memanggil seseorang) dengan panggilan yang berbeda, untuk menunjukan tata krama, sopan santun dan rasa hormat. Pemakaian ko dan kam, yang keduanya berarti kamu (anda) Panggilan ko biasa digunakan dari orang tua dan/atau lebih tua kepada yang lebih muda. Kata kam sendiri lebih sopan dibandingkan dengan ko. Bahasa Gayo Lut dinilai lebih sopan dan halus dibandingkan dengan bahasa Gayo lainnya.

B.   Marga
Walaupun sebagian besar masyarakat suku Gayo tidak mencantumkan nama marganya, tetapi sebagian kecil masih ada yang menabalkan atau mencantumkan nama marga-marganya, terutama yang bermukim di wilayah Bebesen.Sebenarnya marga itu hanya untuk mengetahui asal/Garis keturunan Individu itu sendiri, makanya di suku gayo marga tidak terlalu di pentingkan Berikut daftar marga-marga pada suku Gayo:
§   Ariga
§   Cibero
§   Linge
§   Melala
§   Munte
§   Tebe
§   Alga

C.   Kehidupan Sosial
Masyarakat Gayo hidup dalam komuniti kecil yang disebut kampong. Setiap kampong dikepalai oleh seorang gecik. Kumpulan beberapa kampung disebut kemukiman, yang dipimpin oleh mukim. Sistem pemerintahan tradisional berupa unsur kepemimpinan yang disebut sarak opat, terdiri dari reje (raja), petue (petua), imem (imam), dan rayat (rakyat). Pada masa sekarang beberapa buah kemukiman merupakan bagian dari kecamatan, dengan unsur-unsur kepemimpinan terdiri atas: gecik, wakil gecik, imem, dan cerdik pandai yang mewakili rakyat. Sebuah kampong biasanya dihuni oleh beberapa kelompok belah (klan). Anggota-anggota suatu belah merasa berasal dari satu nenek moyang, masih saling mengenal, dan mengembangkan hubungan tetap dalam berbagai upacara adat. Garis keturunan ditarik berdasarkan prinsip patrilineal. Sistem perkawinan yang berlaku berdasarkan tradisi adalah eksogami belah, dengan adat menetap sesudah nikah yang patrilokal (juelen) atau matrilokal (angkap). Kelompok kekerabatan terkecil disebut sara ine (keluarga inti). Kesatuan beberapa keluarga inti disebut sara dapur. Pada masa lalu beberapa sara dapur tinggal bersama dalam sebuah rumah panjang, sehingga disebut sara umah. Beberapa buah rumah panjang bergabung ke dalam satubelah (klan). Pada masa sekarang banyak keluarga inti yang mendiami rumah sendiri. Pada masa lalu orang Gayo terutama mengembangkan mata pencaharian bertani di sawah dan beternak, dengan adat istiadat mata pencaharian yang rumit. Selain itu ada penduduk yang berkebun, menangkap ikan, dan meramu hasil hutan. Mereka juga mengembangkan kerajinan membuat keramik, menganyam, dan menenun. Kini mata pencaharian yang dominan adalah berkebun, terutama tanaman Kopi Gayo. Kerajinan membuat keramik dan anyaman pernah terancam punah, namun dengan dijadikannya daerah ini sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Aceh, kerajinan keramik mulai dikembangkan lagi. Kerajinan lain yang juga banyak mendapat perhatian adalah kerajinan membuat sulaman kerawang dengan motif yang khas.

Sumber: http://gayonusantara.blogspot.co.id/


D.   Seni Budaya
Suatu unsur budaya yang tidak pernah lesu di kalangan masyarakat Gayo adalah kesenian, yang hampir tidak pernah mengalami kemandekan bahkan cenderung berkembang. Bentuk kesenian Gayo yang terkenal, antara lain tari Saman dan seni bertutur yang disebut Didong. Selain untuk hiburan dan rekreasi, bentuk-bentuk kesenian ini mempunyai fungsi ritual, pendidikan, penerangan, sekaligus sebagai sarana untuk mempertahankan keseimbangan dan struktur sosial masyarakat. Di samping itu ada pula bentuk kesenian seperti tari Bines, tari Guel, tari Munalu, Sebuku /Pepongoten (seni meratap dalam bentuk prosa), guru didong, dan melengkan (seni berpidato berdasarkan adat). Dalam seluruh segi kehidupan, orang Gayo memiliki dan membudayakan sejumlah nilai budaya sebagai acuan tingkah laku untuk mencapai ketertiban, disiplin, kesetiakawanan, gotong royong, dan rajin (mutentu). Pengalaman nilai budaya ini dipacu oleh suatu nilai yang disebut bersikemelen, yaitu persaingan yang mewujudkan suatu nilai dasar mengenai harga diri (mukemel). Nilai-nilai ini diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti dalam bidang ekonomi, kesenian, kekerabatan, dan pendidikan. Sumber dari nilai-nilai tersebut adalah agama Islam serta adat setempat yang dianut oleh seluruh masyarakat Gayo.

E.   Seni dan Tarian
§  Didong, adalah sebuah kesenian rakyat Gayo yang memadukan unsur tari, vokal, dan sastra. Didong dimulai sejak zaman Reje Linge XIII. Kesenian ini diperkenalkan pertama kali oleh Abdul Kadir To`et. Kesenian didong lebih digemari oleh masyarakatTakengon dan Bener Meriah.

Tari Saman
Sumber: news.viva.co.id
§  Tari Saman, sebuah tarian suku Gayo (Gayo Lues) yang biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat. Syair dalam tarian Saman mempergunakan bahasa Arab dan bahasa Gayo. Selain itu biasanya tarian ini juga ditampilkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam beberapa literatur menyebutkan tari Saman di Aceh didirikan dan dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang berasal dari Gayo di Aceh Tenggara.Tari Saman ditetapkan UNESCO sebagai Daftar Representatif Budaya Tak benda Warisan Manusia dalam Sidang ke-6 Komite Antar-Pemerintah untuk Pelindungan Warisan BudayaTak benda UNESCO di Bali, 24 November 2011.

Tari Bines
Sumber: sejutapesonadariborneo.blogspot.com
§  Tari Bines, merupakan tarian tradisional yang berasal dari kabupaten Gayo Lues. Tarian ini muncul dan berkembang di Aceh Tengah namun kemudian dibawa ke Aceh Timur. Menurut sejarah tarian ini diperkenalkan oleh seorang ulama bernama Syech Saman dalam rangka berdakwah. Tari ini ditarikan oleh para wanita dengan cara duduk berjajar sambil menyanyikan syair yang berisikan dakwah atau informasi pembangunan. Para penari melakukan gerakan dengan perlahan kemudian berangsur-angsur menjadi cepat dan akhirnya berhenti seketika secara serentak. Tari ini juga merupakan bagian dari Tari Saman saat penampilannya. Hal yang menarik dari tari Bines adalah beberapa saat mereka diberi uang oleh pemuda dari desa undangan dengan menaruhnya diatas kepala perempuan yang menari.

Tari Guel
Sumber: log.viva.co.id
§  Tari Guel, adalah salah satu khasanah Budaya Gayo di NAD. Guel berarti membunyikan. Khususnya di daerah dataran tinggi gayo, tarian ini memiliki kisah panjang dan unik. Para peneliti dan Koreografer tari mengatakan tarian ini bukan hanya sekedar tari. Dia merupakan gabungan dari seni sastra, seni musik dan seni tari itu sendiri. Dalam perkembangannya, tari Guel timbul tenggelam, namun Guel menjadi tari tradisi terutama dalam upacara adat tertentu. Guel sepenuhnya apresiasi terhadap wujud alam, lingkkungan kemudian dirangkai begitu rupa melalui gerak simbolis dan hentakan irama. Tari ini adalah media informatif. Kekompakan dalam padu padan antara seni satra, musik/suara, gerak memungkinkan untuk dikembangkan (kolaborasi) sesuai dengan semangat zaman, dan perubahan pola pikir masyarakat setempat. Guel tentu punya filosofi berdasarkan sejarah kelahirannya.

F.    Makanan Khas
§  Masam Jaeng, masakan yang tidak asing di telinga dan lidah orang gayo maupun pendatang yang telah merasakan betapa dahsyatnya cita rasa masakan ini. Masakan khas gayo ini adalah masakan yang merupakan gabungan beberapa sayuran seperti kentang, labu siam (buah jepang-gayo), kacang koro, jamur, dan lain-lain tergantung selera penikmat masakan ini. Ada sebagian penikmat masakan ini menjadikan ikan yang dimasam jeing seperti ikan jaher (mujahir/nila), ikan bawal, dan bandang. Bumbu yang digunakan inilah yang membuat masakan ini semakin terasa selain cabe merah, bawang merah, kunyit, garam dan terasi ada empan (tanaman hutan yang saat ini tengah dibudidayakan yang jika dimakan akan terasa kebas di lidah), gegarang (tanaman yang menjadi tanaman wajib setiap rumah orang gayo, tumbuhan yang hidup seperti rumput dan jika dicium punya bau tersendiri) dan terong padul (tomat cherry) tanpa lupa diberi percikan air jeruk sayur (bukan jeruk lemon atau nipis karena akan menghilangkan cita rasanya).
§  Gutel, makanan yang terbuat dari gabungan tepung beras, kelapa parut dan garam ini sering menjadi kiasan dalam tutur dan bahasa gayo yang dikarenakan makanan ini bertekstur kaku atau padat (del_gayo) seperti “gutel del lepat tuli”. Dulunya jika membuat gutel tepung beras yang akan dipakai di tumbuk (tutu-gayo) didalam lusung kemudian diayak dengan cara di tenting (pemisahan tepung yang halus dengan kasar menggunakan niyu/tampah).Pembuatan gutel ini tidak begitu sulit, tepung beras yang telah di campur dengan kelapa parut dan garam kemudian dikepal-kepal ( kemul-gayo) yang kemudian dua buah gutel yang sudah di kepal di satukan dengan di ikat menggunakan daun pandan dalam istilah gayo gutel seperti ini disebut gutel ” sara upuh kerung roa” atau sebagian masyarakat ada yang membungkus dengan menggunakan daun pisang, ni semua tergantung selera seperti apa.Gutel sangat enak jika dinikmati di pagi hari atau sore hari dengan dikawani secangkir kopi khas gayo.
§  Lepat, makanan yang satu ini ada yang terbuat dari tepung ketan (pulut), labu tanah (petukel_gayo) dan ada yang berbahan dari singkong (gadung-gayo). Yang sering dibuat oleh masyarakat gayo jika menjelang bulan ramadhan, lebaran idhul fitri dan idhul adha ialah lepat yang berbahan tepung ketan, karena kebiasaan masyarakat gayo jika menjelang bulan ramadhan atau pun lebaran setiap rumah saling bergantian dan tukar menukar lepat yang telah dibuatnya, dan ini merupakan kebiasaan yang telah lama ada.Lepat yang terbuat dari tepung ketan, tepung ketan yang akan di pakai terlebih dahulu diaduk menjadi satu dengan menggunakan air gula aren yang telah dimasak dan kebiasaan orang dulunya tepung ketan itu di aduk menggunakan manesen (air aren yang diambil dan langsung dimasak), sehingga nantinya hasil adukan tepung ketannya akan berwarna coklat. Lepat hampir sama dengan timpan aceh sama-sama dibungkus dengan mengunakan daun pisang yang membedakannya ukuran lepat lebih besar dari timpan aceh, daun pisang yang digunakan tidak harus daun mudanya serta inti atau dalaman lepat berisi kelapa yang diparut yang terlebih dahulu dimasak dengan menggunakan gula aren atau gula pasir biasa.
§  Cecah, makanan/masakan ini dijadikan pelengkap saat makan dengan sayur yang di rebus seperti pujuk jepang, daun ubi, dan lain-lain. Cecah bisa meningkatkan selera makan, di gayo ada cecah yang di makan dengan sayur rebus biasanya cecah trong agur (terong belanda), cecah trong padul (tomat cherry) dibuat tanpa proses dimasak.
§  Gegerip, makanan yang satu ini sudah jarang ada dan dibuat atau dijual oleh masyarakat gayo yang dikarenakan jarangnya peminat makanan ini mungkin dikarenakan tekstur makanan ini yang sangat keras dan alot (liet-gayo).Gegerip terbuat dari nasi yang dijemur dan dikeringkan yang kemudian dicampur dengan gula merah baru dionseng-onseng sebentar.
§  Brahrum, di aceh makanan ini dikenal dengan sebutan bohruhrum atau di pulau jawa makanan ini disebut onde-onde, tapi di gayo makanan ini dikenal dengan sebutan brahrum. Makanan yang terbuat dari tepung ketan ini di bentuk menjadi bulat yang kemudia tengahnya diisi potongan gula aren (gula tampang- gayo) dan kemudian direbus di air mendidih jika sudah terapung berarti makanan ini telah masak yang kemudian di lumuri dengan parutan kelapa.
§  Apam, makanan yang mungkin di seluruh pelosok indonesia mengenalnya dengan sebutan serabi, di gayo serabi dikenal dengan sebuatan apam dan biasanya dimakan dengan menggunakan santan yang telah dimasak dan dicampurka gula biar terasa manis.

Pakaian Adat Gayo
Sumber: lintasgayo.co
G.   Pakaian Adat Gayo
Busana Adat Gayo
Pada masa silam orang Gayo pernah mengenal bahasan busana dari kulit kayu nanit, hasil tenunan sendiri dari bahan kapas, dan bahan kain yang didatangkan dari luar daerah Gayo. Periode pemakaian nanit sudah jauh dari ingatan orang sekarang, yang konon dipakai pada masa-masa sulit pada zaman kolonial Belanda atau masa sebelumnya. Kegiatan bertenun pun sudah lama tak tampak dalam kehidupan mereka, kecuali pada masa pendudukan balatentara Jepang di mana kehidupan serba sulit. Busana yang diperkenalkan di sini dibatasi pada busana sub kelompok Gayo Lut yang berdiam di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Uraian tentang busana atau pakaian ini termasuk unsur perhiasan atau assesorisnya yang dikenakan dalam rangka upacara perkawinan, karena di luar upacara itu tidak tampak . adanya ciri busana khas Gayo, lebih-lebih pada zaman masa belakangan ini.
Unsur-unsur pakaian pengantin wanita adalah baju, kain sarung pawak, dan ikat pinggang ketawak. Unsur-unsur perhiasan adalah mahkota sunting, sanggul sempol gampang, cemara, lelayang yang menggantung di bawah sanggul, ilung-ilung, anting-anting subang gener clan subang ilang, yang semuanya itu ada di seputar kepala. Di bagian leher tergantung kalung tangang terbuat dari perak atau uang perak tangang ringit dan tangang birah-mani; clan belgong yang merupakan untaian manik-manik. Kedua lengan sampai ujung jari dihiasi dengan bermacam-macam gelang seperti ikel, gelang iok, gelang puntu, gelang berapit, gelang bulet, gelang beramur, topong, dan beberapa macam cincin sensim belah keramil, sensim genta, sensim patah paku, sensim belilit, sensim keselan, sensim ku I. Bagian pinggang selain ikat pinggang dari kain ketawak, masih ada tali pinggang berupa rantai genit rante; clan di bagian pergelangan kaki ada gelang kaki. Unsur busana lain yang sangat penting adalah upuh ulen-ulen selendang dengan ukuran relatif lebar.
Busana Gayo
Berbagai gaya sulaman pada baju lengan pendek gaya Gayo. Umumnya baju seperti ini dikenakan oleh anak-anak wanita atau pria. Ukiran Pada Pada Baju Adat Gayo dinamakan dengan Kerawang. Kerawang atau sering disebut "Kerawang Gayo" (Penuturan dalam Bahasa Gayo) Adalah Busana Adat Gayo yang Biasanya dipakai saat melangsungkan acara Resepsi Pernikahan, acara tarian adat dan budaya secara turun-temurun. Kerawang Itu Sendiri Merupakan hasil cipta karsa dari manusia yang menjadi nilai estetika dalam prilaku kehidupan yang kemudian menjadi budaya. Sedangkan budaya itu sendiri adalah hasil refleksi manusia dengan alam.
 
Pakaian Pengantin Gayo
Sumber: galleryaceh.blogspot.com
Busana Pengantin Gayo
Busana adat perkawinan Gayo, mengetengahkan kekayaan teknik sulaman benang warna putih, merah, kuning dan hijau. Pakaian pria dikenal dengan sebutan baju Aman mayak, pakaian wanita disebut Ineun mayak. Pengantin pria mengenakan bulang pengkah, yang sekaligus berfungsi tempat menancapkan sunting. Unsur lain adalah baju putih, tangang, untaian gelang pada lengan, cincin, kain sarung, genit rante, celana, ponok yakni semacam keris yang diselipkan di pinggang. Sanggul sempol gampang dengan bentuk tertentu sempol gampang bulet dipakai pada saat akad nikah, dan ada bentuk lain sempol gampang kemang yang dipakai selama 10 hari setelah akad nikah. Sunting yang semacam mahkota itu merupakan susunan perca kertas minyak warna-warni sebagai simbol kebesaran atau keanggunan. Baju pria dan wanita clan celana pria biasanya berwarna hitam. Sedangkan kain sarung adalah semacam songket yang disebut upuh kerung bakasap. Unsur pakaian yang diberi hiasan adalah upuh ulen-ulen, baju wanita baju kerawang, clan ketawak.
Motif-motif hiasan yang selalu muncul pada ketiga unsur pakaian ini adalah: mun berangkat atau mun beriring (awan berarak), pucuk rebung (pucuk rebung), puter tali (pilin berganda), peger (pagar), matan lo (matahari), Wen (bulan). Motif mun berangkat merupakan simbol kesatuan atau kesepakatan; pucuk rebung bermakna ikatan yang teguh; puter tali bermakna kerukunan atau saling tenggang; peger bermakna ketahanan clan ketertiban; matan lo dan ulen adalah kekuatan yang menyinari alam semesta termasuk manusia itu sendiri. Motif-motif di atas dijahitkan dengan benang berwarna putih, merah, kuning, dan hijau pada latar warna hitam pada selendang upuh ulen-ulen. Kecuali motif matahari clan bulan, motif-motif lainnya dituangkan pula pada baju wanita dengan latar hitam. Motif pada stagen ketawak berlatar kain warna merah muda atau merah bata. Belakangan latar kain tempat menuangkan motif tadi menjadi sangat bervariasi, tergantung pada selera penjahitnya, misalnya biru, kuning, merah, coklat clan lain-lain. Unsur pakaian itu bukan lagi untuk suatu upacara adat seperti perkawinan, tetapi dipakai dalam upacara yang bersifat resmi lainnya. Perkembangan ini ada kecenderungan sebagai memperkuat identitas atau kebanggaan etnik. Pakaian semacam itu dipakai para pejabat dalam menerima tamu terhormat yang datang dari luar daerah, misalnya menteri. Tamu terhormat itu pun disambut penari yang menggunakan "baju adat" baju ketawang dengan berselimut upuh ulen-ulen tadi. Biasanya tamu terhormat atau tamu - agung itu diselimutkan pula dengan kain adat upuh ulen-ulen berkualitas terbaik. Pemberian ini sebagai simbol rasa hormat yang tinggi sekaligus sebagai ungkapan penerimaan yang ikhlas dari masyarakat.

Penutup
Suku Gayo merupakan “Suku tertua” di Provinsi Aceh. Suku ini mendiami wilayah dataran tinggi Gayo atau disebut juga Tanoh Gayo. Persebaran masyarakat Suku Gayo Mencakup kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Gayo Lues dan juga mendiami beberapa desa di Kabupaten Aceh Tenggara , Kabupaten Aceh Tamiang, Kecamatan Beutong Kabupaten Nagan Raya serta di Kecamatan Serba Jadi di Kabupaten Aceh Timur. Suku Gayo terdiri dari tiga kelompok yaitu Masyarakat Gayo laut yang mendiami daerah Aceh Tengah dan Bener Meriah, Gayo Lues yang mendiami daerah Gayo Lues dan Aceh Tenggara serta Gayo Blang yang mendiami sebagian kecamatan di Aceh Tamiang. Populasi masyarakat Gayo berjumlah kurang lebih 85.000 jiwa.
Suku Gayo suku tergolong ke dalam ras Proto Melayu yang berasal dari India. Kedatangan bangsa ini diperkirakan datang ke Indonesia sekitar 2000 tahun sebelum masehi. Ciri khas dari bangsa ini adalah berkulit hitam, tubuhnya kecil dan berambut keriting. Dalam perkembangannya ketika terjadi peperangan antara Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Peurlak pada tahun 1271 M serta serangan Kerajaan Majapahit atas Kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1350 M mengakibatkan banya orang mengungsi ke pedalaman yang telah dihuni oleh Suku Gayo. Para pengungsi itupun tidak mau kembali dan menjadi masyarakat Suku Gayo sampai akhirnya membentuk Kerajaan Linge atau Kerajaan Lingga. Semakin lama penduduk Linge semakin bertambah banyak kemudian mereka melakukan migrasi ke pemukiman baru. Sebagian besar dari mereka pindah ke dataran tinggi Gayo yang selanjutnya menjadi penduduk asli Gayo.
Kata Gayo berasal dari kata Pegayon yang berarti tempat mata air jernih dimana terdapat ikan suci (bersih) dan kepiting. Konon, dahulu serombongan pendatang suku Batak Karo ke datang ke Blangkejeren dengan melintasi sebuah desa bernama Porang. Di perjalanan mereka menjumpai sebuah perkampungan yang terdapat sebuah telaga yang dihuni seekor kepiting besar, kemudian mereka melihat binatang tersebut dan berteriak Gayo Gayo. Dari sinilah daerah tersebut dinamai dengan Gayo.
Masyarakat Suku Gayo notabene bermata pencaharian utama sebagai petani dengan hasil utamanya kopi. Selain itu, masyarakat Gayo mengembangkan kerajinan membuat keramik, menganyam, dan menenun serta kerajinan membuat sulaman kerawang Gayo dengan motif yang khas. Masyarakat tradisional Gayo menganut prinsip “keramat mupakat behu berdedele” yang bermakan kemuliaan karena mufakat, berani karena bersama dan “tirus lagu gelngan gelas, bulet lagu umut, rempak lagu re, susun lagu belo” yang bermakna bersatu teguh.
Suku Gayo juga memiliki seni tradisi yang sudah terkenal bahkan samapai ke mancanegara yaitu Tari Saman. Selain itu ada pula bentuk kesenian lain seperti tari Bines, tari Guel, tari Munalu, sebuku/pepongoten, guru didong, dan melengkan (seni berpidato berdasarkan adat). Masayarakat Gayo membudayakan perilaku yang memelihara ketertiban, disiplin, kesetiakawanan, gotong royong, dan rajin (mutentu). Hal ini didasari oleh suatu nilai yang disebut bersikemelen yang berarti persaingan dalam mewujudkan suatu nilai dasar mengenai harga diri (mukemel).

Daftar Pustaka

Indri Elustiyasari
4423145625
Usaha Jasa Pariwisata
Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Jakarta
indrielustiyasari@gmail.com

18 comments:

  1. Waaww trmakasih telah memposting tntang suku kami kak hehe 😁

    ReplyDelete
  2. Postingan dari Indri ini selalu menarik dan aku tunggu-tunggu.. Karena aku sangat suka budaya, buat aku postingan ini banyak membantu aku dlm memperoleh informasi.. Thank you yaaa.. Kalo ada blog baru lagi boleh dikabarin yaa hihi

    ReplyDelete
  3. Keren! Menarik dan lengkap. Sangat menambah informasi bagi saya. Makasih ya kakk

    ReplyDelete
  4. Suku laennya juga doooong, gua orang jawa ga dibahas masa

    ReplyDelete
  5. Gokil artikelnya niiiih, jadi tau kan suku yang tadinya gw ga kenal, terus posting ya kaka jangan malu malu!

    ReplyDelete
  6. artikelnya sangat bermanfaat sekali mbak , yang tadinya saya tidak tau dan sekarang saya tau , perbanyak lagi mbak tentang yang lainnya , thanks

    ReplyDelete
  7. Artikelnya tentang suku Gayonya lengkap banget bagus

    ReplyDelete
  8. Jadi lebih mengenal aceh, dan emang kepengen bgt jalan2 ke aceh makasih postingan ini sudah menambah pengetahuab saya :)

    ReplyDelete
  9. Ohhhh jadi di aceh ada suku ini. Baru tau banget dan makasih sudah memberikan info ini

    ReplyDelete
  10. Suku gayo.. Suku tertua di aceh, tapi aku baru tau tentang suku ini dari postingan kakak, jelek sekali sih pengetahuan sosialku *hiks

    Trimakasih yaa kak indri, berkat membaca postingan ini ilmu ku tentang keberagaman suku di indonesia smakin bertambah.. Skrng aku tau seluk beluk kehidupan suku gayo, mulai dari susunan kepemimpinan,tari-menari, sampai kerajinan yg di hasilkan dari suku gayo

    *keep posting yaa. di tunggu loh postingan"an menarik lainnya ^^

    ReplyDelete
  11. Fix ini artikelnya lengkap banget! Sangat bermanfaat, bikin nambah pengetahuannya

    ReplyDelete
  12. ini nih yg perlu di posting biar nambah pengetahuan.
    oiya mba posting suku-suku yg lain juga, kan ada banyak suku di Indonesia. mantabp!

    ReplyDelete
  13. Terimakasih infonya, jadi tau tentang suku di Aceh khususnya. keep up good work!

    ReplyDelete
  14. Terimakasih infonya, jadi tau tentang suku di Aceh khususnya. keep up good work!

    ReplyDelete
  15. Jadi lebih mengenal aceh, dan emang kepengen bgt jalan2 ke aceh makasih postingan ini sudah menambah pengetahuab saya :)

    ReplyDelete
  16. Oalah jadi masuk ke aceh toh... bermanfaat banget nih sist infonya. Keren lanjutin lagi dong info2 yang lainnya

    ReplyDelete
  17. mantab artikelnya bisa menambah perbendaraan wawasan kita makasih ….by salam sukses selalu ….. by Tailor Elegant no.HP 081390228412 menerima pemesanan baju seragam tari saman,saman gayo guel,saman gayo lues ,rapai khas daerah aceh. Jahitan dan bordiran halus harga murah dan bahan berkwalitas kunjungi https://tailorelegant.blogspot.co.id

    ReplyDelete