Showing posts with label wisatabudaya. Show all posts
Showing posts with label wisatabudaya. Show all posts

Monday, January 4, 2016

T4_ Sabilah Ulfa Harnum_wisata budaya di pulau jawa (kota malang)




MENGINTIP DESTINASI MENARIK DI KOTA WISATA MALANG

Malang adalah satu kota wisata yang tidak boleh dilewatkan oleh setiap petualang sejati. Di kota ini rasanya tidak sulit menemukan objek wisata yang menarik dan unik. Pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan beberapa objek wisata menarik yang ada di kota malang, oh iya, sebelum saya melanjutkan cerita panjang dan menarik ini saya akan memperkenalkan diri, nama saya Sabilah Ulfa Harnum mahasiswi Usaha Jasa Pariwisata UNJ yang saat ini mudah-mudahan menginjak ke semester 4. Okey kita kembali ke pembahasan tentang sejarah dan  objek wisata di kota malang.
Kota Malang adalah sebuah kota yang terletak di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini terletak 90 km sebelah selatan Surabaya dan merupakan kota terbesar di kedua di Jawa Timur setelah Surabaya, serta merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia menurut jumlah penduduk. Selain itu, Malang juga merupakan kota terbesar kedua di wilayah Pulau Jawa bagian selatan setelah Bandung. Kota Malang berada di dataran tinggi yang cukup sejuk, dan seluruh wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Malang. Luas wilayah kota Malang adalah 252,10 km2. Bersama dengan Kota Batu dan Kabupaten Malang, Kota Malang merupakan bagian dari kesatuan wilayah yang dikenal dengan Malang Raya (Wilayah Metropolitan Malang). Wilayah Malang Raya yang berpenduduk sekitar 4 juta jiwa, adalah kawasan metropolitan terbesar kedua di Jawa Timur setelah Gerbangkertosusila. Kawasan Malang Raya dikenal sebagai salah satu daerah tujuan wisata utama di Indonesia.

  • Geografi kota Malang

Kota Malang yang terletak di dataran tinggi yaitu pada ketinggian antara 440 - 667 meter diatas permukaan air laut, merupakan salah satu kota tujuan pariwisata karena keindahan alamnya yang dikelilingi pegunungan. Letak kota Malang berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Malang dan secara astronomis terletak 112,06° - 112,07° Bujur Timur dan 7,06° - 8,02° Lintang Selatan, dengan batas wilayah sebagai berikut :
·         Sebelah Utara : Kecamatan Singosari dan Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang
·         Sebelah Timur : Kecamatan Pakis dan Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang
·         Sebelah Selatan : Kecamatan Tajinan dan Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang
·         Sebelah Barat : Kecamatan Wagir dan Kecamatan Dau, Kabupaten Malang
Kota Malang juga dikelilingi beberapa pegunungan besar, di antaranya adalah pegunungan Bromo-Tengger (berkisar 2.700 m dpl); Gunung Semeru (3.676 m dpl); Gunung Arjuno (3.339 m dpl); Gunung Butak (2.868 m dpl); Gunung Kawi (2.551 m dpl); Gunung Anjasmoro (2.277 m dpl); serta Gunung Panderman (2.045 m dpl). Gunung Semeru merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa. Selain itu, kota Malang juga dilalui salah satu sungai terpanjang di Indonesia serta terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo, yaitu Sungai Brantas yang mata airnya terletak di lereng Gunung Arjuno di sebelah barat laut kota.

  • Demografi


Jumlah penduduk Kota Malang 857.891 jiwa (2014), dengan tingkat pertumbuhan 3,9% per tahun. Dengan luas Kota Malang yang mencapai 110,06 km2, kepadatan penduduk Kota Malang mencapai 7800 jiwa/km2.


  • Sejarah Kota Malang

Nama "Malang" sampai saat ini masih diteliti asal-usulnya oleh para ahli sejarah. Para ahli sejarah masih terus menggali sumber-sumber untuk memperoleh jawaban yang tepat atas asal-usul nama "Malang". Sampai saat ini telah diperoleh beberapa hipotesa mengenai asal-usul nama Malang tersebut. Malangkucecwara yang tertulis di dalam lambang kota itu, menurut salah satu hipotesa merupakan nama sebuah bangunan suci. Nama bangunan suci itu sendiri diketemukan dalam dua prasasti Raja Balitung dari Jawa Tengah yakni prasasti Mantyasih tahun 907, dan prasasti 908 yakni diketemukan di satu tempat antara Surabaya-Malang. Namun demikian dimana letak sesungguhnya bangunan suci Malangkucecwara itu, para ahli sejarah masih belum memperoleh kesepakatan. Satu pihak menduga letak bangunan suci itu adalah di daerah gunung Buring, satu pegunungan yang membujur di sebelah timur kota Malang dimana terdapat salah satu puncak gunung yang bernama Malang. Pembuktian atas kebenaran dugaan ini masih terus dilakukan karena ternyata, disebelah barat kota Malang juga terdapat sebuah gunung yang bernama Malang. Pihak yang lain menduga bahwa letak sesungguhnya dari bangunan suci itu terdapat di daerah Tumpang, satu tempat di sebelah utara kota Malang. Sampai saat ini di daerah tersebut masih terdapat sebuah desa yang bernama Malangsuka, yang oleh sebagian ahli sejarah, diduga berasal dari kata Malankuca yang diucapkan terbalik. Pendapat di atas juga dikuatkan oleh banyaknya bangunan-bangunan purbakala yang berserakan di daerah tersebut, seperti Candi Jago dan Candi Kidal, yang keduanya merupakan peninggalan zaman Kerajaan Singasari. Dari kedua hipotesa tersebut di atas masih juga belum dapat dipastikan manakah kiranya yang terdahulu dikenal dengan nama Malang yang berasal dari nama bangunan suci Malangkucecwara itu. Apakah daerah di sekitar Malang sekarang, ataukah kedua gunung yang bernama Malang di sekitar daerah itu. Sebuah prasasti tembaga yang ditemukan akhir tahun 1974 di perkebunan Bantaran, Wlingi, sebelah barat daya Malang, dalam satu bagiannya tertulis sebagai berikut : “………… taning sakrid Malang-akalihan wacid lawan macu pasabhanira dyah Limpa Makanagran I ………”. Arti dari kalimat tersebut di atas adalah : “ …….. di sebelah timur tempat berburu sekitar Malang bersama wacid dan mancu, persawahan Dyah Limpa yaitu ………” Dari bunyi prasasti itu ternyata Malang merupakan satu tempat di sebelah timur dari tempat-tempat yang tersebut dalam prasasti itu. Dari prasasti inilah diperoleh satu bukti bahwa pemakaian nama Malang telah ada paling tidak sejak abad 12 Masehi. Hipotesa-hipotesa terdahulu, barangkali berbeda dengan satu pendapat yang menduga bahwa nama Malang berasal dari kata “Membantah” atau “Menghalang-halangi” (dalam bahasa Jawa berarti Malang). Alkisah Sunan Mataram yang ingin meluaskan pengaruhnya ke Jawa Timur telah mencoba untuk menduduki daerah Malang. Penduduk daerah itu melakukan perlawanan perang yang hebat. Karena itu Sunan Mataram menganggap bahwa rakyat daerah itu menghalang-halangi, membantah atau malang atas maksud Sunan Mataram. Sejak itu pula daerah tersebut bernama Malang. Timbulnya Kerajaan Kanjuruhan tersebut, oleh para ahli sejarah dipandang sebagai tonggak awal pertumbuhan pusat pemerintahan yang sampai saat ini, setelah 12 abad berselang, telah berkembang menjadi Kota Malang. Setelah kerajaan Kanjuruhan, di masa emas kerajaan Singasari (1000 tahun setelah Masehi) di daerah Malang masih ditemukan satu kerajaan yang makmur, banyak penduduknya serta tanah-tanah pertanian yang amat subur. Ketika Islam menaklukkan Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1400, Patih Majapahit melarikan diri ke daerah Malang. Ia kemudian mendirikan sebuah kerajaan Hindu yang merdeka, yang oleh putranya diperjuangkan menjadi satu kerajaan yang maju. Pusat kerajaan yang terletak di kota Malang sampai saat ini masih terlihat sisa-sisa bangunan bentengnya yang kokoh bernama Kutobedah di desa Kutobedah. Adalah Sultan Mataram dari Jawa Tengah yang akhirnya datang menaklukkan daerah ini pada tahun 1614 setelah mendapat perlawanan yang tangguh dari penduduk daerah ini.








  •   Objek wisata di Kota Malang

1.      Eco Green Park
Objek wisata pertama yang patut dikunjungi adalah Eco Green Park, sesuai dengan namanya eco green park adalah objek wisata yang tepat untuk anak-anak agar mereka mengenal tentang bagaimana caranya untuk menyeimbangkan ekosistem di bumi. Eco green park berisi kebun binatang mini dan informasi tentang bagaimana cara pemeliharaan lingkungan. Memasuki kawasan wisata ini, Anda akan disambut dengan sebuah patung gajah besar yang terbuat dari televisi bekas. Tempat wisata ini memiliki banyak wahana yang tersebar, untuk berkeliling Anda bisa menyewa E-Bike dengan harga 100.000 Rupiah untuk 3 jam.
Oh iya ada salah satu wahana yang menarik lagi nih di eco green park,objek wisata jungle adventure,Jungle Adventure adalah salah satu wahana yang menarik. Anda akan berkeliling hutan buatan dengan menggunakan kereta terbuka. Hanya begitu saja? Tenang. Tak hanya berkeliling, Anda juga diajak menangkap pemburu binatang liar di dalam hutan. Dengan senapan mainan, Anda harus menembak setiap pemburu yang Anda lihat. Kejelian melihat dan kecepatan menembak sangat dibutuhkan di sini karena Anda harus menembak dari kereta yang sedang berjalan.bisa dibayangkan kan bagaimana menyenangkannya? Selain itu ada Rumah terbalik yang tak kalah menarik. Bangunan rumah terbalik dengan atap di bawah dan lantai di atas. Tak hanya terbalik di luarnya saja, namun segala perabotan di dalamnya juga terbalik. Anda seolah berjalan di atapnya seperti spiderman karena segala perabot mulai dari meja, kursi dan lampu dalam posisi terjungkir. Jika Anda cukup pusing berada di Rumah Terbalik ini, segera keluar dan carilah wahana lainnya.
Selain rumah terbalik dan jungle adventure masih banyak lagi wahana yang menarik lainnya seperti Geology Science Center, Walking Bird, Animal Farm, Duck Kingdom, World Parrots, Dome Multimedia, Eco Science Center, Pasar Burung dan Insectarium. Ssstt, di sini juga Anda bisa mendengarkan musik yang dihasilkan oleh air di wahana Music Plaza. Untuk masuk ke tempat wisata di Malang ini, Anda hanya perlu membayar sebesar 40.000 Rupiah pada hari Senin- Kamis dan 60.000 Rupiah untuk hari Jumat – Minggu.
2.      Museum Angkut
Siapa bilang museum itu tempat yang membosankan dan tidak menarik untuk dikunjungi? Di kota malang ada sebuah museum yang sangat modern dan tidak boleh dilewatkan.
museum angkut, salah satu museum yang menjadi destinasi wisata utama di kota malang, Anda bisa mendapat informasi mengenai sejarah dan perkembangan transportasi di dunia dengan cara yang menyenangkan. Di tempat wisata ini, ada banyak koleksi jenis transportasi mulai dari sepeda onthel, delman, mobil listrik sampai mobil balap F1.
Ada 10 zona yang bisa Anda jelajahi di tempat wisata seluas 3,7 hektar ini, antara lain Zona Edukasi, Italia, Inggris, Perancis, Las Vegas, Jerman, Hollywood, Jepang, Gangster & Broadway dan tentu saja Batavia. Setiap zona dibuat semirip mungkin dengan aslinya, mulai dari jalanan sampai landmark khasnya. Hal ini membuat zona-zona ini menjadi tempat favorit untuk berfoto. Puas berkeliling, jangan lupa menikmati kuliner di Pasar Apung yang menyajikan aneka hidangan lezat. Untuk menikmati tempat wisata di Malang yang unik ini, Anda perlu membayar sebesar 50.000 Rupiah unuk hari Senin – Kamis, dan 75.000 Rupiah pada hari Jumat – Minggu.
3.      Pulau Sempu

Pulau sempu menjadi destinasi selanjutnya yang wajib dikunjungi apabila datang ke kota malang, pulau yang disebut surge dunia ini sebenarnya merupakan merupakan sebuah kawasan cagar alam yang dilindungi oleh pemerintah. Kawasan Pulau Sempu ditetapkan sebagai kawasan cagar alam berdasarkan SK GB No.46 STBL 1928. No 69 Tahun 1928, dengan luas wilayah 877 Ha dan lebarnya kurang lebih dari 160 Ha. Karena dilindungi maka untuk memasuki kawasan pulau Sempu ini harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari balai konservasi setempat.
Segara Anakan menjadi daya tarik utama tempat wisata di Malang ini. Air dari telaga berasal dari ombak laut selatan yang masuk melalui lubang tebing di sisi danau ini. Air di danau dingin dan sangat jernih sampai Anda bisa melihat dasar danau dengan mudah. Di sini, Anda bebas berenang, memancing atau bermain di pasir putihnya yang landai.Untuk menuju ke pulau ini memang tidak mudah. Anda terlebih dahulu harus naik perahu motor dari Pantai Sendang Biru. Jangan lupa menyimpan nomor telepon nelayan pemilik perahu untuk dijemput lagi saat Anda akan pulang. Begitu turun dari perahu, perjalanan Anda masih belum selesai. Anda harus trekking cukup panjang melewati hutan konservasi. Kelelahan akan terbayar lunas saat Anda melihat keindahan Segara Anakan yang masih sangat alami. Pulau ini memang tidak berpenghuni, sehingga jika ingin menginap, satu-satunya cara adalah dengan berkemah. Namun sayang sekali karena banyaknya wisatawan yang penasaran dengan indahnya pulau sempu dan segara anakan, banyak wisatawan yang tidak sadar dan peduli akan keindahan pulau tersebut, mereka membuang sampah sembarangan ditempat tersebut tanpa peduli perubahan apa yang akan terjadi terhadap kelangsungan ekosistem disekitarnya. Untuk itu salah satu tujuan saya membahas pulau sempu agar pembaca dan para treveller yang ingin mengunjungi pulau sempu peduli dengan keindahan dan kebersihannya.
4.      Air Terjun Coban Rondo dan Coban Pelangi
 





Dan terakhir Jika bosan dengan wisata buatan, di kota malang juga
ada wisata air terjun yang mempesona yaitu coban rondo dan coban pelangi, coban rondo memang ada gua yang menurut cerita sekitar merupakan tempat bercintanya Raden Baron Kusuma dengan istrinya Dewi Anjarwati, akan tetapi sang Raden meninggal sehingga Dewi menjadi janda, itulah kemudian dinamakan Coban Rondo (Janda). Letak coban ini di Kecamatan Pujon, dekat dengan Kota Batu. Menarik untuk dikunjungi karena selalu ramai oleh wisatawan lokal untuk berkegiatan sekolah atau pun untuk sekadar berkumpul tiket masuk ke objek wisata ini hanya sekitar 5 ribu rupiah.
Sudah jarang melihat pelangi di kota-kota besar? Jika iya, coban pelangilah jawabannya, di coban pelangi jiak beruntung, kita bisa melihat pelangi Anda bisa melihat pelangi di antara aliran air terjun setinggi 30 meter ini. Selagi menunggu munculnya pelangi, Anda bisa bermain air di tepi air terjun, menikmati kuliner di warung atau duduk-duduk di pendopo yang ada. Tempat wisata di malang ini berada di ketinggian 1.299 meter di atas permukaan laut, sehingga udaranya sangat sejuk dan nyaman untuk bersantai.
                                                           

Sabilah Ulfa Harnum
Usaha Jasa Pariwisata (B) 2014
4423143947
sabilah.ulfa@gmail.com













 DAFTAR PUSTAKA


TUGAS 3_ Pariwisata Sejarah dan Budaya Indonesia

Menguak budaya di Desa Wisata Batubulan

Kata pengantar

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, saya  panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan tulisan ini ilmiah tentang wisata budaya di desa wisata Batubulan Gianyar, Bali.
 tulisan ini telah saya susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai sumber sehingga dapat memperlancar pembuatan tulisan ini. Untuk itu saya menyampaikan banyak terima kasih kepada semua sumber yang telah berkontribusi dalam pembuatan tulisan  ini.
   
Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki tulisan ini.
   
Akhir kata saya berharap semoga tulisan ini tentang desa wisata Batubulan Gianyar, Bali untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
   
                                                                                      Jakarta,  01 januari 2016

   
                                                                                    
                                                                                                Penyusun








Ke bali tidak hanya berburu akan pantai yang menjadi surganya wisatawan yang datang tetapi  dibalik keindahan Bali yang tidak pernah asing di telinga kita karena hamparan keindahan alam serta buatan pun yang di minati wisatawan hingga mancanegara, ternyata ada ragam budaya yang tersimpan di Desa Wisata Batubulan, Gianyar, Bali. Mari kita simak dan silahkan berkunjung agar budaya ini bisa dilestarikan agar tidak punah di makan oleh zaman.
Desa Batubulan adalah  gerbang barat kabupaten Gianyar. Untuk mencapai desa Batubulan hanya 15 ~ 30 Menit atau 10 KM dari kota Denpasar dan 40~60 Menit (20 KM) dari Bandara Internasional Ngurah Rai. Desa ini adalah pembuka aktivasi denyut pariwisata Bali tengah dan Bali timur  dengan ruote klasik sejak tempo dulu. selepas penat melewati bising ibu kota , maka desa Batubulan menyuguhkan kesegaran pikiran dengan nuansa peradaban seni budaya. Jajaran seni patung berderet sepanjang jalan protokol menyapa dalam keragaman bentuk pencitraan kehidupan yang bergaerah. Pagi hari masyarakat petani mengisi waktu hanya 3 sampai 4 jam untuk bergegas menuju stage barong yang tersebar di 5 tempat strategis desa. Antara Jam 9 hingga 10:30 Wita. Mereka ekpresikan dengan  menghibur hati wisatawan dari segala penjuru jagat. It is me. Seakan tidak lengkap bila hari-hari tanpa suguhan Tari Barong. Selepas itu krama Batubulan kembali bergulat menjelang jam istirahat siang sebagai pematung, pengrajin, bertani dan penuh napas kreativitas.
Asal-muasal Batubulan, konon, bermula dari cerita Dewa Agung Kalesan, seorang anak angkat Raja Badung yang setelah dewasa diberi kemurahan oleh Raja Badung untuk mendirikan istana di tengah hutan. Bersama para pengikutnya, Dewa Agung Kalesan kemudian berangkat menuju hutan di bagian timur Kerajaan Badung. Sesampainya di perbatasan hutan, Dewa Agung Kalesan melihat sebuah batu yang bercahaya seperti bulan. Tempat ini kemudian dinamakan batubulan, dan di tempat tersebut Dewa Agung Kalesan membangun istananya.
Desa Batubulan berekpresi tanpa henti menjadikanya mediasi kreatif kaum rural-urban ikut menjadi penikmat kue pariwisata berpadu dengan komunitas desa dalam aliran  denyut metropolitan kota Denpasar ibukota Provinsi Bali dalam jejaring ibu kota Gianyar, Bangli, Semarapura dan Amlapura. Aliansi bisnis beragam berkolaborasi dengan 16786 jiwa, 4572 kepala keluarga di area  seluas 6.422 KM persegi.
Kibaran bendera Desa Wisata Seni Budaya Batubulan bukan tanpa dinamika. Pada masa kemunculan gerakan Boedi Utomo di pulau jawa menggoyahkan imperialis yang di pulau Bali tidak begitu terasa oleh rakyatnya. Konservasi penjajahan belanda terhadap Bali menelurkan kreasi seni dan budaya yang menguat walaupun tanpa sadar transaksi jual beli dunia pariwisata dimulai dari sini. Alam bali tidak seperti pulau lainnya yang menyimpan harta karun mentah belimpah. Hanya keragaman budaya dan sedikit berbeda dari bumi nusantara. Batubulan menempatkan diri di hati  kaum imperialis dengan gaerah budaya yang mengubah logika mereka untuk menyelamatkan Bali. Tercatat tari-tarian sakral terekplorasi menjadi tontonan terkomodifikasi  dan pahatan berornamen gaya belanda mempengaruhi peradaban seni ukir  Batubulan. Ekpresi seni budaya terinovasi tanpa henti. Pembangunan pura puseh tahun 1946 menandakan pakem gaya architektur Bali asli menjadi alkulturasi budaya Hindu Budha karena daya imajinasi seniman Batubulan mengadopsi Candi Borobudur. Tanpa sketsa ataupun cetak biru, mereka hanya dengan melihat sekali saja kemegahan Candi Borobudur akhirnya terefleksi di pura Puseh Batubulan. Jaman pembangunan era ordo baru boleh dibilang menjadi jalan terang kejayaan Batubulan. Seni pertunjukan tari barong dan keris bergaung dengan denyut napas lega. Lahan parkir tempat pertunjukan selalu penuh bahkan meluber ke lapangan umum Desa. Pebisnis pariwisata yang sukses saat ini terhantarkan dari situ walau dimulai sebagi pedagang acung.  Segudang prestasi desa Batubulan didominasi oleh  membangun dalam kebersamaan terutama dalam bidang Budaya. Masyarakatnya mempunyai titel tanpa bangku kuliah karena profesionalisme dibangun mandiri mencitrakan keselarasan asli budaya Bali.
Batubulan berpredikat Desa Wisata (Seni Budaya), Desa Sadar Hukum, Desa Sadar Wisata , Desa dengan standard administrasi nasional ini menjaga lingkungan dengan kaum urban dengan kontrol kuat berbasis Banjar ( Pemerintahan satu tingkat di bawah Desa). Mengawasi pendatang dengan pendataan memastikan  mereka yang datang mempunyai  skil memadai dan melindungi hak-hak kedua pihak.  Saat krisis moneter dunia melanda, tidak  menggoyahkan ekonomi masyarakatnya walaupun lebih dari 3500 orang  profesionalis bidang pariwisata berasal dari sini. Profesi ganda membackup semua kemungkinan keterpurukan. Buktinya tidak banyak promosi yang dilakukan tetap saja transaksi perekonomian mengalir.
Pembangunan desa Batubulan berlandaskan Tri Hita Karana sudah sejak lama dilakukan dan bukti itu adalah semua bangunan tempat suci dibangun dan diperbaiki kwalitasnya dengan keswadayaan.  Dibidang palemahan terwujud dalam bentuk pembangunan kantor Perbekel yang representatif  dengan anggaran Rp. 1,6 Miyar ( tahun 2006) secara mandiri dengan tenaga architek lokal menampilkan keagungan maha karya berkwalitas prima sesuai harapan masyarakat.  Di sisi pawongan atau hubungan kemanusiaan tetap terjaga harmonis, ter-repleksi dalam perhelatan tahunan desa Batubulan yaitu Porseni ( Pekan Olah Raga dan Seni ) setiap peringatan HUT Kemerdekaan RI, di  tahun 2012 adalah yang ke-34.
Keaneka ragaman kreasi maha karya seniman Batubulan disemua lini seni budaya mencirikan geniusitas kearifan lokal yang  terpadu dalam dimensi keagungan nusantara Indonesia ber-bhineka tunggal ika penuh kemuliaan,ciri bhakti kepada negeri Indonesia secara  universal.
Synergi Desa Seni Budaya dan Desa Wisata dengan keseimbangan kemajuan ekonomi kreatif, Sains mengantarkan desa Batubulan ke gerbang segi tiga emas ; Desa, Kota dan Negara Budaya. Kreatifitas tiada henti di filtrasi dengan spritual sehingga tidak tergerus peradaban menyimpang dari ideologi negara berpadu padan dengan kebijakan pemerintah selaras dengan tujuan Negara “gemah ripah loh jinawe.”
Pura Puseh Batubulan dan Special Event
Desa Batubulan mempunyai obyek wisata Pura Puseh yang mempunyai ciri khas . Bangunan pura Puseh Batubulan adalah Aalkulturasi Seni Hindu- Budha  dimana ornamen seni ukir dan architekturnya  mirip candi Budha dan hiasan patung Budha gaya bali menghiasi tembok- nya  selain patung Dewa Nawa Sanga, dibawah patung terpahat relief cerita tanri yang sarat filosofi kehidupan. Pura ini juga dikelilingi oleh kolam berhiaskan  bunga tunjung dan pohon jepun tua. Sangat eksentrik.
Travel Agent sering memanfaatkan area Pura ini untuk ” Bali Night” yaitu acara dinner group-group tertentu biasanya dari eropa dan masyarakat Batubulan mengambil bagian untuk mengisi dengan berbagai pertunjukan seni.
Budaya baru kartu undangan sekarang adalah praweeding. Pura ini menjadi salah satu pilihan obyel wisata photografi. Untuk menganbil gambar anda harus melapor kepada petugas.
Obyek Wisata Buatan.
Di Desa Batubulan Juga ada Taman Burung dan Taman Refftil yang terletak di utara desa berbatasan dengan Desa Singapadu. di taman burung ini menyimpan berbagai koleksi burung dan ada pertunjukan unggas untuk para pengunjungnya. Taman refftil yang bersebelahan dengan taman burung juga mempunyai aneka reftil yang mungkin belum pernah di lihat sebelumnya dari berbagai belahan Dunia.
Obyek Wisata Desa Wisata Pagutan Kelod
Desa Wisata Pagutan Kelod mempunyai paket yang sedikit berbeda dengan desa wisata seni budaya Batubulan. Desa Wisata Pagutan Kelod adalah salah satu bagian dari Desa Wisata Batubulan.
Disini para pengunjung akan dibawa kepada swasana kehidupan desa yang masih asli. Design rumah tinggal yang masih asli dengan tata letak bangunannya ( Sikut Satak ) yang di lestarikan. Selain belajar tentang tata ruang rumah adat Bali, anda juga dapat belajar megambel ( seni tabuh), ngigel (seni tari), majejaitan ( mengolah janur untuk upacara), nyacal ( membuat jajan upakara), bertani sawah dan aktifitas keseharian warganya.
Desa Batubulan merupakan daerah pariwisata dengan pertunjukkan seni budaya yaitu Tari Barongan, Tari Kecak dan juga Tari Legong.

Legong adalah tarian klasik Bali yang memiliki pembendaharaan gerak yang sangat kompleks yang terikat dengan struktur tabuh pengiring yang konon merupakan pengaruh dari gambuh. Arti kata Legong berasal dari kata "leg" artinya gerakan tari yang luwes (lentur) dan kata "gong" memiliki arti alat musik gamelan. Sehingga kata "Legong" memiliki arti gerak tari yang terikat (terutama aksentuasinya) oleh alat musik gamelan yang mengiringinya. Alat musik gamelan yang digunakan untuk mengiringi tari legong dinamakan Gamelan Semar Pagulingan.

Pada perkembangannya kemudian disebut Legong Kraton. Tarian ini biasanya dibawakan oleh dua orang gadis atau lebih dengan menampilkan Condong (penari tambahan) sebagai pembukaan tarian. Namun biasa juga tari Legong ini dibawakan satu atau dua pasang penari tanpa menampilkan tokoh Condong lebih dahulu. Ciri khas tari Legong ini adalah pemakaian kipas para penarinya kecuali yang berperan sebagai Condong.

Tari Legong dahulu dikembangkan di keraton-keraton Bali pada abad ke-19 paruh kedua. Idenya diawali dari seorang pangeran dari Sukawati yang sedang sakit keras bermimpi melihat dua gadis menari dengan lemah gemulai diiringi oleh gamelan yang indah. Ketika sang pangeran pulih dari sakitnya, mimpinya itu dituangkan dalam repertoar tarian dengan gamelan lengkap.

Sesuai dengan sejarahnya, para penari legong yang baku adalah dua orang gadis yang belum mendapat menstruasi, ditarikan di bawah sinar bulan purnama di halaman keraton. Kedua penari ini, disebut legong dan selalu dilengkapi dengan kipas sebagai alat bantu. Pada beberapa tari legong terdapat seorang penari tambahan, disebut condong, yang tidak dilengkapi dengan kipas.
Struktur tarinya pada umumnya terdiri dari papeson, pangawak, pengecet, dan pakaad.

Beberapa jenis tari legong

Terdapat sekitar 18 tari legong yang dikembangkan di selatan Bali, seperti Gianyar (Saba, Bedulu, Pejeng, Peliatan), Badung (Binoh dan Kuta),Denpasar (Kelandis), dan Tabanan (Tista)

Legong Lasem (Kraton)
Tari Legong jenis ini yang paling populer. Tari ini dikembangkan di Peliatan. Tarian yang baku ditarikan oleh dua orang legong dan seorang condong. Condong tampil pertama kali, lalu menyusul dua legong yang menarikan legong lasem. Repertoar dengan tiga penari dikenal sebagai Legong Kraton. Tari ini mengambil dasar dari cabang cerita Panji (abad ke-12 dan ke-13, masa Kerajaan Kadiri.

Legong Jobog
Tarian ini dibawakan oleh sepasang legong. Dan kisah tarian legong jobog diambil dari kisah Ramayana, tentang persaingan dua bersaudara Sugriwa dan Subali (Kuntir dan Jobog) yang memperebutkan ajimat dari ayahnya.

Legong Legod Bawa
Tari ini mengambil kisah dari persaingan Dewa Brahma dan Dewa Wisnu tatkala mencari rahasia lingga Dewa Syiwa.

Legong Kuntul
Legong ini menceritakan beberapa ekor burung kuntul yang asyik bercengkerama.

Legong Sudarsana
Legong ini mengambil kisah cerita semacam sudarsana (Calonarang).

Beberapa daerah mempunyai legong yang khas. Di Desa Tista (Tabanan) terdapat jenis Legong yang dinamakan Andir (Nandir). Di pura Pajegan Agung (Ketewel) terdapat juga tari legong yang memakai topeng dinamakan Sanghyang Legong atau Topeng Legong.
  1. Alat musik gamelan yang dipakai mengiringi tari Legong dinamakan Gamelan Semar Pagulingan. Lakon atau cerita yang biasa dipakai dalam Legong ini kebayakan bersumber pada:
  2. cerita Malat khususnya kisah Prabu Lasem,
  3. cerita Kuntir dan Jobog (kisah Subali Sugriwa),
  4. Legod Bawa (kisah Brahma Wisnu tatkala mencari ujung dan pangkal Lingganya Siwa),
  5. Kuntul (kisah burung),
  6. Sudarsana (semacam Calonarang),
  7. Palayon,
  8. Chandrakanta dan lain sebagainya.

Struktur tarinya pada umumnya terdiri dari:
  1. Papeson
  2. Pangawak
  3. Pengecet, dan
  4. Pakaad

Daerah-daerah yang memiliki tari Legong yang khas :

Didesa Tista (Tabanan) terdapat jenis Legong yang lain, dinamakan Andir (Nandir). Di pura Pajegan Agung (Ketewel) terdapat juga tari Legong yang memakai topeng dinamakan Sanghyang Legong atau Topeng Legong.Daerah - daerah yang dianggap sebagai daerah sumber Legong di Bali adalah: Saba, Pejeng, Peliatan (Gianyar), Binoh dan Kuta (Badung), Kelandis (Denpasar), dan Tista (Tabanan).

Desa Batubulan adalah sebuah desa dalam ruang lingkup Kecamatan Sukawati Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar Propinsi Daerah Tingkat I Bali. Desa Batubulan pada awalnya terkenal sebagai suatu desa agraris yang kaya akan kesenian termasuk seni tari dan seni ukir. Struktur masyarakat dan kebudayaan agraris yang dijiwai oleh agama Hindu menjadi dasar dari kehidupan masyarakat Desa Batubulan. Citra Batubulan sebagai suatu desa seni kini makin diperkokoh dengan hadirnya Sekolah Menengah Kesenian di desa itu, yang mencakup Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia (SMKI), Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) dan Sekolah Menengah Industri Kerajinan (SMKI). Keterbukaan Desa Batubulan dalam perkembangan pariwisata yang ditunjang oleh keseniannya dan lokasi desa yang strategis, telah menumbuhkembangkan Desa Batubulan sebagai satu desa wisata yang berkembang pesat. Citra Batubulan sebagai desa wisata telah memiliki akar sejarah sejak masa sebelum kemerdekaan. Citra tersebut kini makin mantap baik pada tingkat Daerah, Nasional bahkan Internasional, dimana Batubulan telah sangat terkenal sebagai salah satu tujuan wisata budaya dengan pertunjukkan Tari Barong dan Kecak yang merupakan ciri khasnya.Lokasi Desa Batubulan sangat strategis, karena merupakan pintu gerbang ujung Barat Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar dan sekaligus sebagai terminal yang menghubungkan Kota Denpasar dengan wilayah Bali Timur. Desa Batubulan terletak pada jalur Denpasar-Gianyar kira-kira 10 km dari Denpasar dan 21 km dari Gianyar. Lokasi ini sangat strategis, mudah dapat dicapai dengan mobil atau sepeda motor. Jalan menuju Desa Batubulan merupakan jalan-jalan strategis dimana merupakan rute pariwisata.Wisata Tari Barong dan Kecak kini memang dianggap sebagai sebuah pilihan wisata budaya yang semakin menghidupkan kehidupan Desa Batubulan. Pertunjukan Tari Barong dan Kecak ini dilaksanakan pada jam berbeda, dimana pertunjukan tari barong dilaksanakan pada pagi hari sedangkan pertunjukan tari kecak dilaksanakan pada sore atau pun malam hari.Pertunjukan Tari Barong menceritakan kisah tentang kebaikan yang selalu menang melawan kejahatan, dimana Barong yang merupakan tokoh sentral adalah tokoh baik yang selalu mencoba dan berusaha melawan tokoh jahat yang diperankan Rangda. Pertunjukan Tari Barong ini juga mempertunjukan adegan-adegan yang memicu ketakutan yaitu adegan debus dimana terdapat beberapa orang yang telah diciprati air suci dan dikuasai oleh  makhluk halus menusukkan kerisnya ke dada. Sedangkan pertunjukan Tari Kecak umumnya menceritakan tentang kisah Ramayana yang menggambarkan tentang kehidupan di dunia.Pertunjukan Tari Barong umumnya dipertujukan satu kali saja di tiap-tiap tempat yang menawarkan pertunjukkan ini. Pertunjukan Tari Barong ini umumnya dipertunjukan dari mulai pukul 09.00 hinga 10.30. Terdapat empat tahap pertunjukan dimana sekali pertunjukan dapat menampung kurang lebih sebanyak 600 orang penonton. Sedangkan pertunjukan Tari Kecak yang dipertunjukan pada sore harinya juga umumnya dipertunjukkan satu kali saja dalam sehari yaitu pada jam 6 sore. Untuk menonton pertunjukkan Tari Barong atau Tari Kecak para wisatawan dikenakan biaya masuk berkisar Rp.50.000 hingga Rp.100.000 tergantung dari tempat dan asal wisatawan (domestik dan mancanegara). Para seniman – seniman Tari Barong dan Tari Kecak juga merupakan seniman lokal yang berasal dan tinggal di sekitar daerah Desa Batubulan dan sekitarnya. Seniman – seniman tersebut umumnya memiliki mata pencaharian utama sabagai petani atau pun berdagang. Beberapa tempat yang menawarkan wisata Barong and Kecak Dance adalah Barong and Kecak Dance Batubulan, Putra Barong, Barong and Kecak Dance Banjar Tegal Tamu.
Tari Barong

Batubulan menjadi terkenal karena apresiai seni tari dan juga seni pahatnya, terutama seni pahat patung, berdasarkan ciri khas bentuk patungnya, Batubulan mempunyai bentuk tersendiri hal ini terlihat jelas pada ukiran-ukiran ataupun ornamen terpahat pada bangunan suci, rumah, kantor, jembatan, hotel, restoran dan lain-lainnya yang mungkin kita tidak temukan di tempat lain. Hasil kerajinan patungnya banyak juga dibeli oleh daerah lain untuk keperluan hotel dan kantor, taman bahkan di ekspor ke luar negeri. Hasil karya seni ini, sangat membantu penduduk setempat, untuk bisa dipasarkan langsung bagi para pelancong.

foto Seni Pahat

Salah satu warisan nenek moyang di Indonesia, yang masih dilestarikan sampai saat ini adalah Batik. Kerajinan Batik dikenal oleh dunia pertama kali, saat Bapak Presiden Soeharto menggunakannya pada Konferensi PBB. Salah satu Bali batik yang terkenal adalah batik Galuh Batubulan.

Sejarah Batik Galuh Bali

Indonesia sepertinya memang gudangnya kain batik mulai dari Pekalongan,Yogyakarta, Solo, bahkan Bali. Namun kota tersebut memiliki keunikan batik tersendiri yang membedakannya antara satu daerah dengan daerah lain, begitu juga Batik Galuh Batubulan Khas Bali ini. Paket tour Bali dengan segala kemudahan, fasilitas yang lengkap dan harganya yang terjangkau akan membawa anda menyusuri kemolekan pulau Dewata termasuk menuju Batik Galuh Batubulan.
Batik Galuh Batubulan memiliki daya pikat yang cukup menarik dengan sentuhan warna, corak dan kainnya yang unik dan nyaman digunakan. Art Shop ini memiliki bangunan yang cukup unik dengan sentuhan seni level tinggi yang dihiasi bunga yang berwarna warni dalam sebuah taman berarsitektur khas Bali yang berpadu dengan begitu sempurna. Di lokasi pusat kerajinan ini tidak hanya bermanfaat untuk memuaskan hasrat berbelanja namun juga untuk berfoto ria.
Batik Galuh Batubulan Bali didirikan sekitar tahun 1976 oleh Pande Ketut Krishna yang pada mulanya hanya diproduksi oleh Bapak Pande beserta kerabatnya menggunakan alat tenun bukan mesin dengan jumlah sekitar 5 buah. Dengan keinginan dan tekat yang kuat untuk maju membuat Batik Galuh Bali ini berkembang dengan begitu pesat hingga memiliki 32 buah alat tenun bukan mesin.
foto motif Batik Galuh

Art Shop Batik Galuh Batubulan ini senantiasa menjaga dan mengutamakan desain dan mutu dari produk yang di hasilkan. Sehingga tidak heran jika respon positif senantiasa diberikan oleh konsumen yang ditandai dengan ramainya pelanggan yang membanjiri art shop dari Batik Galuh khas Batubulan setiap harinya. Selain itu batik khas bali ini telah menembus pasar baik local bahkan mancanegara semisal Jepang, Amerika, Malaysia dan Eropa.
Terlebih produk ini telah divariasikan dalam bentuk yang unik seperti: kemeja batik pria dan wanita, batik pria, sandal bermotif batik, tas batik, kerajinan patung dan kayu bermotif batik, dan souvenir. Kesemua produk diatas berhiaskan Batik Galuh Batubulan yang indah, unik dan menarik.

Lokasi Batik Galuh Batubulan

Batik Galuh Batubulan berlokasi di kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar Bali tepatnya di Jalan Raya Batubulan. Anda bisa mengunjungi lokasi tersebut memanfaatkan akomodasi andalan pulau Dewata salah satunya adalah jasa sewa mobil di Bali yang nyaman, terjangkau dan berfasilitas lengkap. Atau bisa juga memanfaatkan sewa bus di Bali, jika anda memulai perjalanan dari kota Denpasar maka anda bisa menuju lokasi tersebut dalam waktu sekitar 20 menit dan 40 menit jika anda memulai perjalanan dari Bandara Ngurah Rai.


Kesimpulan :
Desa Wisata Batubulan Gianyar, Bali merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Pulau Bali yang memiliki daya tarik kesenian yang unik. Salah satu di antara sentra kesenian di kabupaten ini terletak di Desa Wisata Batubulan yang mempunyai pusat-pusat kesenian patung dan ukiran yang cukup kondang di kalangan turis domestik maupun mancanegara. Desa wisata ini juga dikenal sebagai tempat penyelenggaraan berbagai seni pertunjukan khas Bali, seperti Tari Legong. Tari Barong atau Tari Kecak. Terdapat souvenir yang sangat terkenal di daerah tersebut Batik Galuh Bali yang mempunyai keunikan gambar yang di hias dengan penuh warna. Ke Desa Wisata Batubulan Gianyar, Bali wajib di kunjungi karena mempunyai nilai budaya yang tinggi dari ragam seni tari dan hasil kerajinan tangan.

Daftar Pustaka :

 Nama : Cut Shella Desma

4423143929/UJP’A