Monday, October 5, 2015

Tugas-1 Suka Duka Menjadi Seorang Pemandu Wisata

Pengalaman Menyenangkan Menjadi Pemandu Wisata


Jika Anda mendengar kata kunci: Pemandu Wisata, maka Anda akan mendapati hal-hal seperti tanggung jawab, disiplin, ketepatan waktu, keramah-tamahan, kesediaan melayani, kesungguhan, dan banyak hal lain yang tentu saja tentang memandu dengan informasi yang benar dalam menjalaninya sebagai profesi. Lalu bagaimana suka dan duka dalam profesi ini?

Nama saya Ribka Hotma Gabe (18), mahasiswi semester 3 (tiga) angkatan 2014 Program Studi Usaha Jasa Pariwisata, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta (yang dulu disebut IKIP). Pengalaman saya dalam hal pemanduan pertama kali dilakukan di Museum Konferensi Asia-Afrika (KAA) Bandung dalam mata kuliah Pengantar Pemanduan. Sekilas saya ingin menjelaskan Museum Konferensi Asia-Afrika (KAA) Bandung adalah salah satu museum yang berada di kota Bandung, terletak di Jl.Asia Afrika No.65. Museum ini merupakan memorabilia Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Museum ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan Gedung Merdeka. Dibangun oleh karena keinginan dari para pemimpin bangsa-bangsa di Asia dan Afrika untuk mengetahui tentang Gedung Merdeka dan sekitarnya tempat Konferensi Asia Afrika berlangsung. Yaitu Konferensi yang kemudian melahirkan Dasa Sila Bandung yang kemudian menjadi pedoman bangsa-bangsa terjajah di dunia dalam perjuangan memperoleh kemerdekaannya dan yang kemudian menjadi prinsip-prinsip dasar dalam usaha memajukan perdamaian dan kerja sama dunia.
(Gambar 1 Saat Berkumpul di Museum KAA)
Lalu dalam mengguiding materi pemanduan saya dan mahasiswa lainnya ditentukan, baik itu kami mahasiswa baru maupun senior. Mulai dari perjalanan berangkat dari lokasi Kampus A UNJ di Rawamangun, sampai tiba di destinasi tujuan kami Bandung. Rombongan dibagi menjadi dua grup karena destinasi terakhir dibagi  menjadi dua, yaitu menuju Museum Konferensi Asia-Afrika (KAA) dan menuju Museum Geologi. Saya merupakan bagian dari rombongan menuju Museum Konferensi Asia Afrika, dengan materi yang saya bawakan saat itu mengenai “Urutan Perang Dingin”. Satu per satu anak yang mendapat bagian memandu di destinasi mengambil peran memandu, bergilir berpindah menggelilingi museum Konferensi Asia Afrika (KAA). Saya dan teman lainnya juga menyadari bahwa selain kami terdapat pengunjung lain yang merupakan wisatawan asing. Museum KAA juga memfasilitasi pemandu wisata untuk wisatawan dalam bahasa asing seperti Inggris dan Perancis dengan melakukan reservasi terlebih dahulu. Museum KAA memang tidak lepas dari sejarah bangsa Indonesia bersama dengan banyak negara-negara lain selain negara-negara Asia dan Afrika, juga dilihat dari fungsinya Gedung KAA juga memiliki kaitan dengan Eropa. Sehingga tidak heran, jika menemukan wisatawan asing yang memiliki keingintahuan tentang gedung tersebut. Saya menyadari, bahwa guna Pemandu sangat penting dalam hubungan pelayanan dalam hal pariwisata dan sejarah ataupun budaya  di bidang penyampaian informasi.

Dalam giliran saya, tentu duka pertama yang dirasakan saat itu adalah rasa gugup dan stress untuk bicara di depan umum. Atau hal-hal tentang cara membangun suasana yang menyenangkan sebagai bagian dari penyampaian informasi mengenai tempat yang sedang dikunjungi.  Walaupun begitu, pengalaman pertama tersebut telah menjadi contoh dan bayangan mengenai hal-hal yang kurang untuk menjadi seorang pemandu wisata yang benar.  Dari hal itu saya menyadari bahwa selain pendalaman materi mengenai informasi yang akan dibahas, rasa percaya diri juga merupakan kata kunci untuk menjadi pemandu wisata. Dari rasa percaya diri itu, seorang individu dapat berkembang seperti  menemukan ide untuk menjadi pusat perhatian wisatawan melalui games, tebak-tebakan, sulap, atau sekedar obrolan ringan. Tak lepas dari itu, dalam mempunyai rasa percaya diri juga dibangun dari penguasaan materi yang ingin disampaikan. Selain memandu wisatawan ke destinasi wisata, anda juga harus dapat memahami lebih dulu tempat yang akan dikunjungi. Karena itu, menjadi pemandu wisata juga memiliki suka untuk seorang yang menyenangi pengetahuan yang luas. Dan tentu saja Pemandu akan banyak melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang jelas menarik, yang  oleh karena itu tempat tersebut banyak dikunjungi. Maka dari itu pemandu wisata akan banyak pengalaman tentang berpergian ke destinasi wisata, dan hal itu sangat cocok untuk orang yang menyenangi kegiatan perjalanan.

Selain menyadari hal-hal tersebut, saya juga mendapatkan pengalaman kedua dalam hal pemanduan. Bulan April sampai dengan Mei kemarin saya dengan beberapa teman lainnya (Sheila N Astari, Rieka Okti, Aulia Paramita, dan Gianni R Putri melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Taman Mini Indonesia Indah (TMII) adalah satu destinasi wisata di Indonesia. Destinasi ini dibangun sebagai miniatur Indonesia dengan tujuan mengenalkan kekayaan dan keanekaragaman budaya bangsa Indonesia. Di dalamnya, wisatawan dapat melihat langsung macam-macam Rumah Tradisional (Anjungan) tiap daerah juga macam-macam museum, dan taman-taman baik flora maupun fauna khas Indonesia. Tak lepas dari itu, sama seperti Destinasi Wisata atau Industri Pariwisata lainnya, Taman Mini Indonesia (TMII) juga memiliki unit kerja dan usaha yang ikut berperan aktif dalam menjalankan kegiatannya sebagai bagian Pariwisata: Budaya dan Wisata.

Tepat setelah kami diterima untuk berorientasi langsung dengan dunia kerja disana, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada saat itu sedang dalam proses akhir dari persiapan HUT-nya yang akan dilaksanakan selama beberapa hari (bulan April) dengan acara puncak di hari terakhir acara. Saya dan teman lainnya (sesama mahasiswi program studi Usaha Jasa Pariwisata UNJ) ditempatkan dan diminta untuk turut andil di divisi Koordinasi Anjungan Daerah dan Museum (KADM). Dalam HUT TMII kemarin, divisi KADM mengadakan sebuah Pameran dengan tema:  Jelajah Budaya Maritim Indonesia yang bekerja sama dengan Museum se-Indonesia. Dengan turut berpatisipasi juga dengan Pameran Produk Unggulan dan Flora Fauna Indonesia.  Selain dibuka untuk untuk wisatawan umum, dalam acara dan pameran yang diadakan oleh divisi KADM, belasan sekolah di sekitar Taman Mini Indonesia Indah (TMII) juga diundang khusus sebagai tamu.

Saya dan anak-anak PKL lain diminta turut aktif dalam kesibukan tersebut mulai dari persiapan akhir sampai pada acara hari-H. Seperti rapat (bersama pemimpin TMII, tiap kepala sekolah dari sekolah yang diundang sebagai tamu, sampai bagian pintu gerbang masuk), persiapan tempat dan pengisi pameran, distribusi konsumsi, dan menjadi pemandu bagi rombongan tamu yang diundang.

Bagi saya terdapat kesan baru saat pengalaman di acara HUT TMII tersebut, terutama pada bagian memandu kegiatan rombongan murid yang diundang tersebut. Sekolah-sekolah yang khusus  diundang pada acara yang dibuat divisi KADM tersebut adalah rentangan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pelayaran, hingga Sekolah Luar Biasa (SLB). Sangat tidak mudah memandu tamu yang masih dalam latar belakang pelajar (terutama sekolah dasar), tapi antusias dan rasa ingin tahu tersebut membentuk saya sebagai Pemandu untuk berperan lebih aktif, lebih berempati, lebih ramah, dan lebih tegas lagi (dalam cara dan aturan yang sopan) terutama saat rasa ingin tahu mereka tersebut melupakan batas untuk tidak memegang langsung benda-benda pameran. Pada waktu yang sama, bukan hanya melatih kedisiplinan diri, saya juga bekerja ekstra untuk mendisiplinkan tamu (yang masih anak-anak) tersebut.

Saya sebagai Pemandu menjadi memiliki tambahan wawasan melalui peran menyampaikan dan penerimaan informasi dari beragam-ragam museum se-Indonesia, taman flora-fauna, dan mengenai produk unggulan tiap daerah di Indonesia, serta mengenai memandu dan membimbing wisatawan/tamu, membantu melakukan persiapan dan koordinasi dengan pengisi pameran maupun sesama divisi KADM juga tiap perwakilan tamu (sekolah yang diundang) .

Dari hal-hal seperti itu, saya juga menyadari bahwa sebagai Pemandu, cara mengahadapi tamu/ wisatawan tentu berbeda-beda tergantung klasifikasi (usia, latar belakang seperti pendidikan, maupun karakter) mana yang kita temui. Dan kesamaan dari semuanya tentu berada pada point dilayanani, diperhatikan, dan dihargai. Karena itu, bukan hanya dalam penyampaian informasi dan membimbing, tetapi kesungguhan, sikap ramah, dan empati juga diperlukan.

Seusai dari acara-acara yang dibuat oleh masing-masing divisi pada HUT Taman Mini Indonesia Indah (TMII), saya dan teman lainnya dipindah tugaskan untuk melakukan obsevasi di semua Anjungan Rumah Adat yang dimiliki TMII, mulai dari Provinsi Sumatera hingga Papua. Selesai dari observasipun kami ditempatkan di BC (business center) atau pusat informasi. Kantor ini (information center) berperan sebagai tempat dimana wisatawan (baik asing maupun domestik) membutuhkan informasi mengenai Taman Mini Indonesia Indah (TMII), kebutuhan brosur, sampai pada masalah seperti kelihangan benda/ barang pribadi (dompet, kunci kendaraan, ponsel, tas) atau kebutuhan layanan komunikasi seperti jika terpencar dari  anggota keluarga/ rombongan tour, juga sarana untuk mengumpulkan peserta tour yang berpencar di seluruh destinasi TMII. Kantor tersebut juga dapat berperan sebagai Bussiness Center (BC) yaitu media antara tamu atau pihak yang ingin melakukan reservasi kegiatan/acara di TMII dengan pihak Pengelola, baik melalui layanan media telepon maupun langsung. Di kantor ini, saya dan teman lainnya menjalani masa habis berlaku menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) (April sampai dengan Mei 2015).

Saya belajar lagi menjadi pemandu di pengalaman kedua saya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), selain itu ikut belajar berkoordinasi dengan karyawan divisi disana, seperti ; Koordinasi Anjungan Daerah dan Museum (KADM), Bussiness Center (BC)/Information Center, Anjungan Daerah di TMII, dan Kantor Pengelola TMII, juga dengan teman-teman lainnya (baik mahasiswi program studi Usaha Jasa Pariwisata Universitas Negeri Jakarta, maupun mahasiswa/i  universitas lain). Terlepas dari itu semua, melalui kelebihan dan kekurangan pengalaman diri, destinasi,  maupun pihak lain yang saya temui, saya jadi terbangun untuk memiliki tujuan jangka panjang mengenai perbaikan dan memajukan kegiatan Pariwisata Indonesia, bersamaan dengan pelestarian budaya dan pendidikan yang ada di dalam bangsa kita.  Bukan hanya tentang menjadi Pemandu, tetapi tahap per tahap melalui pendidikan program studi Usaha Jasa Pariwisata yang sedang saya tempuh saat ini.



Ribka Hotma Gabe
4423143932
Program Studi Usaha Jasa Pariwisata – Angkatan 2014
Universitas Negeri Jakarta

ribkagabe@rocketmail.com

No comments:

Post a Comment