Tuesday, October 6, 2015

Tugas 1- Suka Duka Menjadi Pemandu Wisata


Kesan Kesan Di Bidang Pariwisata

Assalamualaikum kawan kawan

Perkenalkan nama saya Muhamad Shafwan Iswara, saya adalah anak pertama dari dua bersaudara yang berasal dari keluarga ternama di ibukota ini yaitu DKI Jakarta. Saya terlahir di kota ini tepat nya pada tanggal 5 Maret 1995, tapi perlu kalian ketahui saya tidak asli berasal dari Jakarta alias bukan orang asli Jakarta. Ayah saya adalah orang campuran dari daerah Jawa Timur dan Belanda dan Ibu saya adalah orang asli dari Nusa Tenggara Barat. Orang tua saya memberikan nama Muhamad Shafwan Iswara diperoleh dari banyak cerita, yang pertama yaitu Muhamad nama ini di ambil dari nama rasul kita yaitu Muhammad SAW, yang kedua Shafwan nama ini adalah murni nama saya sendiri yang di karenakan saya adalah anak pertama (Shaf = barisan & wan(one) = satu atau pertama), dan yang terakhir adalah Iswara, Iswara ini sendiri adalah nama keluarga yang saya sebutkan tadi di atas, dan ini adalah nama turun temurun dalam keluarga saya yang sudah bertahun tahun silam lamanya, jika anda tanyakan dari kapan, saya tidak bisa menjawab nya karena saya sendiri pun tidak mengetahui asal usul nya.

Dari sini mari kita mulai pengalaman pertama saya di dalam bidang pariwisata ini, pada awal nya saya tidak pernah terpikir pada diri saya untuk masuk ke dalam dunia pariwisata ini, tetapi kehendak Tuhan berkata lain, mungkin ini adalah jalan terbaik untuk saya, karena saya percaya kalua rencana Tuhan pasti lebih indah dibandingkan yang kita rencanakan, karena pada awalnya saya ini terjun kedalam dunia seni tetapi sudah 2 tahun saya melakukan test di beberapa PTN di Indonesia dan hasil nya nihil jadi lebih baik saya cukupkan saja perjuangan saya di bidang tersebut dan melanjutkan perjalanan saya sebagai mahasiswa Universitas Negeri Jakarta jurusan Usaha jasa Pariwisata, mungkin saya kira cukup yaa perkenalan diri dari saya nanti kalo kebanyakan saya bisa di marahi oleh dosen yang berkaitan dalam mata kuliah ini hahaha.

Pertama saya ingin memberitahukan pembaca sekalian bahwa saya adalah mahasiswa dan ini cerita tentang pengalaman saya dalam meng-guide seseorang dalam seumur hidup saya, jadi jika ada kesamaan nama, cerita, dan latar belakang mohon maaf karena ini adalah fiktif belaka, dalam seumur hidup saya yaitu 20 tahun berjalan ke 21, saya hanya pernah meng-guide seseorang atau wisatawan yaitu 2 kali (yakaliiii daah anak pariwisata gini amat), tapi jangan berpikir seperti itu namanya juga baru belajar, mungkin nanti bisa jadi lebih baik, doakan saja ya pembaca, pertama saya meng-guide adalah acara studi wisata yang dilakukan di kota Bandung, dan yang kedua yaitu pada saat melaksanakan PKL yaitu di Taman Impian Jaya Ancol.

Yang pertama yaitu di kota Bandung pada kesempatan kali ini saya di tempatkan sebagai tour guide di dalam perjalanan yaitu tepat nya di pondok gede - Rawamangun, karena ini adalah pertama kali nya dalam seumur hidup saya meng-guide seseorang saya merasa gugup yang cukup parah, jadi pada kesempatan kali ini saya banyak terbata-bata dalam menyampaikan materi, padahal banyak seharusnya yang bisa saya bahas dalam perjalanan kali ini, tetapi tidak hanya faktor internal dalam diri saya yang membuat saya sulit untuk merangkai sebuah kata-kata, banyak juga factor eksternal yang berpengaruh dalam pengalaman pertama saya ini, factor eksternal nya antara lain, pada saat perjalanan tersebut saya berada di posisi yang cukup merugikan karena saya meng-guide para wisatawan tersebut berada di dalam jalan TOL dan berada dalam kondisi macet total, mungkin jika anda dalam posisi saya anda akan merasakan hal yang sama yaitu bingung harus membahas apa di dalam jalan TOL yang macet total, dan pada akhirnya terlintas dalam benak saya, setelah saya memperkenalkan diri yaitu saya membahas sejarah da nasal usul pondok gede itu sendiri, yang saya ceritakan pondok gede adalah pada tahun 1775 seorang Belanda bernama Pendeta Johannes Hooyman membangun sebuah gedung dengan selera campur aduk antar gaya Eropa dengan corak Jawa. Dituturkan oleh penulis Belanda bahwa interiornya dibuat dengan selera tinggi, kusen pintu dan jendela diberi ukiran indah serta langit-langit dan dindingnya diperelok dengan figura artifisial. Karena rumah ini besar, sekalipun pemiliknya merendah dengan menyebut Pondok, tetapi masyarakat setempat memanggil langoed tersebut sebagai Pondok Gede. Keberadaan Hooyman tidak banyak diceritakan dalam sejarah Pondok Gede. Seperempat abad kemudian kepemilikan langoed Pondok Gede ini jatuh ke tangan Lendeert Miero. Dan ini orang yang aneh alias kontroversial.

Tuan tanah Lendeert Miero alias Juda Leo Ezekiel adalah orang Yahudi asal Polandia yang ikut mencari nafkah di Betawi. Ia datang ke Betawi dalam keadaan lontang-lantung. Diceritakan, Miero pertama kali datang ke Indonesia tahun 1775 sebagai seorang yang miskin karena hanya menjadi prajurit kecil untuk kerajaan Hindia Belanda.

Saat itu, Miero menyembunyikan identitasnya sebagai bangsa Yahudi. Pasalnya Belanda yang kala itu dinakhodai oleh dua perusahaan eksplotasi terbesarnya, the Dutch East India Company (VOC) dan the Dutch West Indian Company (WIC), melarang adanya bangsa Yahudi untuk bekerja.

Kondisi tersebut disembunyikan oleh Miero selama puluhan tahun hingga pada akhirnya, di tahun 1728, Miero membongkar identitasnya tepat setelah Belanda mengijinkan orang Yahudi berkongsi dalam perekonomian dan pemerintahan mereka. Sejak saat itu, nasib Miero mulai berubah drastis. Ia mulai membangun kerajaan bisnisnya dengan menjadi seorang juragan emas sekaligus rentenir di Batavia. Ia memiliki toko di Molenvliet West (sekarang menjadi Jl.Gajah Mada) Jakarta Pusat dan satu rumah mewah (kini menjadi gedung arsip nasional).

Layaknya seorang rentenir, sikap dan perilaku Miero yang cenderung judes dan kejam tidak disukai warga Batavia. Menurut catatan di buku tersebut, istilah kata 'judes' sendiri sebenarnya disebabkan oleh kebencian warga terhadap Miero. Kata judes disebut berasal dari kata 'Judas' yang memang identik dengan orang Yahudi.

Meski begitu, kerajaan bisnis Miero terus berkembang. Dari hasil berdagang, ia berhasil membeli sebidang tanah luas di Pondok Gede lengkap dengan rumah besar yang dibangun oleh pemilik pertamanya, Johannes Hooyman. Konon nama wilayah Pondok Gede itu sendiri berasal dari rumah tersebut.


Setelah hidup sukses, kerjanya sehari-hari hanya bersenang-senang dan berpesta. Salah satu kesenangan Lendeert adalah mengundang ratusan tamu bukan untuk merayakan hari ulang tahunnya melainkan hari kepedihannya.

Rupanya di masa mudanya ia pernah menjalani hidup susah, ia pernah jadi opas jaga atau centeng. Suatu hari ia sedang apes, kedapatan tidur nyenyak waktu jam kerja sehingga mendapat hukuman sebanyak 50 kali sabetan rotan di pantatnya. Cambukan ini dianggap pemicu untuk segera lepas landas dari kemiskinan.


Sekalipun memiliki rumah di Betawi, tetapi ia sering mengunjungi istananya di Pondok Gede. Orang setempat menyebutnya pondok yang gede sehingga kawasan itu terkenal dengan nama Pondok Gede. Lendeert meninggal dalam usia 79 tahun dan dimakamkan di samping rumahnya di Pondok Gede. Tetapi makam itu dibongkar dan dijadikan rumah hunian penduduk. Bahkan nisannyapun dicongkel untuk umpak-umpak rumah. 
Sebenarnya, Pondok Gede hendak dipugar oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Survei arkeologi pernah dilaksanakan pada Januari 1988. Dari survei itu diketahui bahwa luas tanah mencapai 325 hektar, semula merupakan perkebunan sereh. Setelah berpindah tangan ke CV Handel, beralih menjadi perkebunan karet. Pada 1946 berpindah tangan lagi ke NV Pago Rado dan pada 1962 dibeli oleh TNI AU (Inkopau). Menurut laporan survei tersebut, Pondok Gede banyak dikunjungi wisatawan mancanegara terutama dari Australia dan Belanda.

Pada 1987 Inkopau pernah menulis surat kepada Gubernur DKI Jakarta. Isinya tentang rencana pembangunan pusat rekreasi dan perbelanjaan di areal Pondok Gede. Disebutkan, bangunan kuno itu akan dilestarikan bahkan akan merupakan sentra dari taman rekreasi. Nyatanya, uang mengubah segalanya, bangunan kuno bernilai historis itu lenyap pada 1992 dirobohkan untuk dijadikan Mal, yang sekarang kita kenal dengan Mal Pondok Gede. Banyak pihak yang menyayangkan pembongkaran tersebut, tetapi siapa perduli dengan sejarah. Hanya namanya saja yang tetap abadi, sebagai nama jalan penghubung wilayah Jakarta dengan Jawa Barat.

Kurang lebih seperti itulah yang saya jelaskan dalam pemanduan saya yang pertama dalam menghadapi kemacetan di TOL yang tidak berujung, mungkin menurut pembaca materi yang saya sampaikan membosankan untuk di dengarkan tetapi perlu anda ketahui hilangkan pandangan anda yang seperti itu pada saya karena dalam menyampaikan materi tersebut saya tidak lepas dari joke-joke yang simple yang membuat anda tidak berhenti untuk mendengarkan materi yang saya sampaikan tentang pondok gede tadi, saya juga menyiapkan beberapa hadiah yang membuat anda berlomba untuk menjawab pertanyaan yang saya berikan dari materi yang saya bahas karena saya juga seorang remaja yang mengerti bagaimana kondisi disaat materi seperti sejarah di sampaikan pada para pendengar, saya tahu pasti anda akan merasa sangat mengantuk disaat mendengarkan materi materi seperti tersebut, benar ?, dan pada saat saya menutup pemanduan saya tersebut saya mengucapkan kata kata yang membuat para pendengar semua menoleh pada saya, anda tahu apa yang saya ucapkan ?, saya mengudcapkan seperti ini “sekarang bisa anda lihat sekeliling anda, apa yang anda lihat ? semuanya hanyalah mobil yang berhenti menunggu bisa melanjutkan perjalanan, dan anda bisa lihat ke bagian atas jendela anda hari sudah mulai gelap, saya tahu anda pun lelah dan saya pun juga lelah berbicara terus dari tadi di depan, dan pada kesempatan kali ini lebih baik kita tidur semua dari pada anda lelah mendengarkan saya berbicara yang aneh aneh, terima kasih wassalamualaikum wr wb”.

Berikut nya adalah pengalaman kedua saya dalam memandu wisatawan di dalam melanjutakan kehidupan saya sebagai mahasiswa Universitas Negeri Jakarta yaitu bertepatan pada saat saya melakukan PKL tepatnya di Taman Impian Jaya Ancol, pada saat PKL saya di tempatkan sebagai marketing design PT. TIRTA yaitu adalah PT yang terdapat di dalam Taman Impian Jaya Ancol sendiri yang berurusan dengan yaitu air, dan tempat yang di dominasi oleh PT tersebut adalah Ocean Dream Samudra, Atlantis Water Adventure, dan Sea World Ancol yang baru saja di buka kembali bertepatan pada saat saya sedang menjalani aktifitas PKL saya di Taman Impian Jaya Ancol dan hal tersebut membuat saya jadi memiliki banyak pekerjaan yang harus di selesaikan, karena hal hal seperti baliho, banner, dan flyer itu semua adalah tanggung jawab orang orang marketing design PT. TIRTA tersebut, tetapi selepas nya saya dari pekerjaan pekerjaan tersebut saya di tunjuk oleh atasan saya yaitu Bpk. AH (nama disamarkan) untuk memandu wisatawan yang datang berkujung untuk berwisata di salah satu tempat wisata yang kami jalankan yaitu tepat nya di Sea World Ancol, karena tempat ini baru buka kembali setelah ditutup, jadi tempat inilah yang banyak jadi incaran para wisatawan wisatawan yang ingin melihat lagi keindahan dunia bawah laut yang ada di planet bumi ini.

Pada saat saya memandu wisatawan yang datang untuk berkunjung ke Sea World Ancol, saya banyak memandu dari berbagai macam kalangan dari yang anak-anak hingga dewasa tetapi lebih banyak anak-anak yang datang kesini bersama orang tua nya, untuk di kalangan anak anak saya hanya berperan sebagai pemandu yang menjelaskan bahwa ini ikan ini dan ikan itu dengan begitu mereka pun sudah cukup senang dengan cara pemanduan saya yang cukup bersahabat dengan mereka, karena saya tahu untuk kalangan anak anak jika saya menjelaskan lebih detail tentang ikan-ikan yang berada di dalam aquarium yang dituju itu hanya jadi hal hal yang membosankan bagi mereka, lain ceritanya dengan jika saya memandu kalangan remaja hingga dewasa yang rasa ingin tahu nya lebih dari sekedar nama nama ikan yang ada di aquarium tersebut, untuk kalangan ini saya mejelaskan lebih detail untuk apa sih isi aquarium itu, berasal dari mana, ukuran nya berapa, dan bagaimana dia bisa hidup di dalam aquarium tidak di alam bebas seperti air laut ataupun air tawar yang ada di perairan bumi ini, dan yang paling di nanti nanti oleh wisatawan adalah feeding show yang di lakukan di beberapa aquarium tertentu karena pertunjukan ini menarik para wisatawan untuk datang melihat aquarium tersebut apalagi saat pemberian makan di main tank yaitu aquarium utama di Sea World Ancol yang menerapkan sistem hukum alam atau seperti rantai makanan yang ada di habitat asalnya.

Mungkin cukup sekian saya menuliskan pengalaman pengalaman yang saya di bidang pariwisata yang selama ini saya alami semenjak nama saya tercatat sebagai mahasiswa jurusan Usaha Jasa Pariwisata di Universitas Negeri Jakarta, jika ada kesamaan nama, cerita, dan latar belakang maafkan saya karena manusia tidak luput dari apa yang namanya kesalahan kesalahan, terima kasih, wassalamualaikum wr wb.

Muhamad Shafwan Iswara
Fakultas Ilmu Sosial
Usaha Jasa Pariwisata "A" 2014
4423143934
shafwan.iswara@gmail.com

No comments:

Post a Comment