Monday, October 5, 2015

Tugas-1 Suka Duka Menjadi Pemandu Wisata


GUGUP KETIKA MEMANDU WISATAWAN


Burung dara terbang tinggi,
Lalu hinggap di atas meranti,
Dari muda bercita tinggi,
Terus berjuang sampai mati.
               
Pergi ke kedai naik becak,
Becak dinaik bersama tamu,
Rajin-rajin teman membaca,
Membaca baik menambah  ilmu.

Selamat membaca bagi teman-teman sekalian!

Pertama-tama perkenalkan nama saya Nesya Fadhillah Adrianna atau biasa dipanggil dengan Nesya, saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang beruntung menjadi mahasiswi di Universitas Negeri Jakarta dengan jurusan Usaha Jasa Pariwisata pada tahun 2014. Saat ini saya sudah memasuki semester 3, dan Alhamdulillah ilmu saya kini semakin bertambah tentang dunia Pariwisata.

Dunia Pariwisata bukanlah hal yang baru bagi saya, karena dahulunya saya adalah siswi lulusan Sekolah Kejuruan (SMK)  jurusan Perhotelan yang berada di daerah Jakarta Barat. Perhotelan merupakan salah satu bagian dari dunia pariwisata, dalam membuka suatu Usaha Jasa Pariwisata kita pun perlu bekerja sama dengan dunia perhotelan, destinasi wisata, restoran, dll. Oleh sebab itu jurusan perkuliahan yang sekarang saya ambil, sangatlah berhubungan dengan jurusan saya semasa SMK. Meskipun saya masih kurang memahami dalam dunia Usaha Jasa Pariwisata, namun saya akan tetap terus belajar hingga saya dapat mengerti semua tentang dunia Pariwisata. 

Saya sengaja mengambil SMK jurusan Perhotelan karena saya menyukai ilmu dibidang perhotelan dan pariwisata. Dan untungnya di SMK jurusan Perhotelan, saya mendapatkan semua tentang dasar-dasar Ilmu Pehotelan, Ilmu Masak dan Ilmu Perjalanan Wisata. Namun selama saya belajar di dalam dunia Pariwisata, saya baru beberapa kali memandu wisatawan. Karena saya sendiri sedang mencoba untuk mengunjungi berbagai destinasi wisata supaya saya mendapatkan ilmu dan pengalaman agar saya dapat menjelaskan kembali ke wisatawan yang saya pandu. 

Awalnya saat semasa SMK, saya pernah ditugaskan memandu oleh guru saya. Saat itu saya bersama teman-teman sedang melaksanakan Overland Tour Jakarta – Bali - Blitar - Yogyakarta – Bandung. Namun ketika itu saya benar-benar tidak siap materi apapun, lalu guru saya menugaskan untuk menceritakan apa yang saya liat di sebelah kanan-kiri saya. Saat MIC diberikan ke saya, saya pun menjadi gugup dan bingung ingin berbicara apa. Akhirnya saya hanya mengajak bernyanyi teman-teman saya yang berada satu bis dengan saya. Guru saya pun hanya tertawa melihatnya, setelah itu guru saya berkata “nanti kamu harus belajar untuk memandu wisatawan ya”. Mulai saat itu saya semakin penasaran dengan rasanya memandu wisatawan. 

(Gambar 1.1 Sebelum Keberangkatan City Tour)

(Gambar 1.2 Foto bersama UJP 2013 dan UJP 2014)
Akhirnya pengalaman pertama saya memandu wisatawan pun terwujud. Saat itu saya memandu di Museum Konverensi Asia Afrika, Bandung. Saat itu saya sedang melaksanakan City Tour yang merupakan tugas untuk melengkapi nilai Ujian Akhir Semester 1. Disana bukan hanya angkatan saya yang mengikuti kegiatan ini, namun ada juga kakak dari angkatan 2013 serta para dosen yang membimbing dan menilai kami selama perjalanan tersebut. Perjalanan dimulai dari kampus tercinta kami, yaitu Universitas Negeri Jakarta pada tanggal 02 Desember 2014. Mulai dari jam 06.00 pagi kami sudah mulai berkumpul di halaman depan kampus, dan mulai melakukan perjalanan sekitar jam 07.30. Hanya ada 2 bus yang kami gunakan, dari dua kelas diangkatan kami dan satu kelas dari angkatan 2013 pun digabung menjadi satu dalam 2 bus tersebut. Rute yang kami jalani adalah Jakarta – Puncak - Bandung.  Ketika berada di Puncak, kami pun sempat bersinggah di Masjid At Ta’awun yang berada tepat di puncak Gunung Mas, Bogor. Disana kami hanya melakukan foto bersama dan beristirahat sejenak. Namun saat di Bandung perjalanan kami pun terpisah, bus 1 mengunjungi museum Geologi dan bus 2 mengunjungi Museum KAA. 

 Saya berada di bus 2, dan saya mendapatkan urutan memandu di dalam Museum KAA. Saat itu saya memandu persis di dalam Museum Konverensi Asia Afrika, disana saya menjelaskan tentang Gerakan Non Blok yang terjadi di Indonesia. Walaupun wisatawan yang saya pandu merupakan teman seangkatan saya dan beberapa kakak senior angkatan 2013, tetapi tetap saja saya merasa gugup sebelum melaksanakan tugas pemanduan tersebut. Namun na’as, ketika nama saya dipanggil, ternyata objek yang harus saya ceritakan tersebut tidak dipamerkan ketika saya berada disana. Akhirnya saya pun menjadi lupa akan apa yang harus saya ceritakan. Spot darurat yang saya dapat adalah tentang perkembangan bangunan Museum KAA. Padahal para dosen yang membimbing saya sudah memberi tahu agar saya tetap menyampaikan apa materi yang telah saya pelajari. Tetapi saya benar-benar lupa saat itu, saya pun jadi membahas tentang perkembangan Gedung Museum KAA tersebut. Teman-teman dan para dosen yang membimbing saya pun terlihat bingung ketika saya menyampaikan hal tersebut, karna itu keluar dari kontens yang telah diberikan sebelumnya. Untuk menghilangkan rasa grogi saya saat itu, saya menyuruh teman-teman saya masuk ke dalam spot tersebut agar melihat foto-foto perkembangan Gedung KAA. Teman-teman saya terlihat kurang berminat untuk mengikuti apa yang saya suruh saat itu, mungkin karena teman-teman saya juga bingung melihat saya yang menjadi berubah haluan. Para dosen pun hanya tertawa melihat hal yang saya lakukan saat itu. Disitu saya benar-benar merasa malu, setelah hal itu terjadi saya pun langsung meminta maaf kepada para dosen yang menilai saya saat itu.
(Gambar 1.3 Suasana saat memandu di Museum KAA)
Saya adalah orang yang cepat gugup dan cepat lupa, dan itu merupakan kekurangan saya dalam memandu wisatawan. Sejak kejadian di City Tour tersebut saya sempat menjadi menyerah untuk memandu wisatawan. Tetapi sekali lagi, karena saya berkuliah di jurusan Usaha Jasa Pariwisata, jadi saya harus bisa untuk memandu wisatawan. Dan hal tersebut merupakan penyemangat saya untuk terus belajar dari kesalahan saya sebelumnya. 

Ketika semester 2, saya bersama teman angkatan saya pun ditugaskan untuk PKL di suatu Destinasi Wisata/Objek Wisata. Kali ini saya bersama Shintia, Anindita, Irvinna, Garin, Hans, M.Rizky, Jefta dan M.Firza, mengambil tempat PKL di Planetarium Observatorium Jakarta yang berada di Jl. Cikini Raya, Jakarta Pusat. Di Planetarium kami belajar tentang Ilmu Astronomi, kami mengambil destinasi tersebut pertama karena letaknya yang begitu strategis dari rumah kami dan karena kami juga ingin belajar lebih lanjut tentang Ilmu Astronomi tersebut. Awal mula kami PKL disana, kami di pertemukan oleh pemimpin yang ada disana. Beliau bernama Ibu Sri Yuniarti, beliau merupakan seorang pensiunan dari Dinas Pariwisata dan beliau pernah menjadi jabatan tertinggi disana. Saat bertemu dengan Ibu, kami di tes satu persatu tentang Ilmu Pariwisata kami dan terutama Bahasa kami, karena kata Ibu di dunia Pariwisata sangat kuat kaitannya dengan Bahasa. Ada beberapa bahasa yang harus kami kuasai yaitu Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin dan Bahasa Prancis, serta Bahasa lainnya. Namun yang pasti kami harus faseh dalam Berbahasa Inggris. Kami melaksanakan tugas PKL selama 3 bulan di Planetarium, disana kami diajarkan mulai dari menerima kunjungan wisatawan, menjaga loket, memeriksa tiket, memandu di ruang diorama, memandu wisatawan dari ruang antrian ke ruang pertunjukan, hingga kami pun diajarkan untuk memberikan materi tentang Planet-planet yang ada di alam semesta ini.
(Gambar 1.4 Foto Planetarium Crew)
(Gambar 1.5 Kondisi di dalam Ruangan Diorama)
Ketika saya PKL disana saya juga pernah memandu wisatawan, sebelumnya saya akan memberi tahu tentang Planetarium Observatorium Jakarta terlebih dahulu. Planetarium merupakan salah satu objek wisata yang sering dikunjungi oleh para anak-anak sekolah mulai dari TK-SMA dan tidak jarang pula dari Kampus tertentu. Di Planetarium kita dapat mempelajari tentang Astronomi, mulai dari Planet, Matahari, Satelit, Bintang maupun Bulan. Disana terdapat 3 ruangan yang pasti akan dikunjungi wisatawan, awal mula wisatawan akan diajak ke ruang diorama 1 dan diorama 2 oleh pemandu yang ada di Planetarium. Diruangan tersebut wisatawan akan di ceritakan tentang teori Big Bang, dan pengetahuan tentang ilmu Astronomi. Ada satu pameran yang selalu banyak orang cari, yaitu sebuah batu meteorit yang jatuh di Pacitan, Jawa Timur beberapa tahun silam. Batu tersebut seukuran buah kelapa dan berwarna hitam serta berlubang akibat terbakar di Atmosfir. Selanjutnya dari ruang diorama, para wisatawan akan diajak mengantri bersama-sama untuk mengikuti pertunjukan tentang Planet-planet. Mulai dari Benda langit, Planet-planet hingga planet kerdil yang berada di alam semesta ini. Pertunjukan ini diputar berdasarkan jadwalnya, dalam sehari terdapat 4 kali tayang untuk hari Selasa-Kamis dan 3 kali tayang untuk hari Jumat dan 4 kali tayang untuk hari Sabtu-Minggu. Tiket yang ditawarkan pun cukup terjangkau, untuk dewasa 7000 dan anak-anak 3500. Lebih murah lagi untuk rombongan minimal 100 orang.

Untuk hari Selasa-Jumat mulai dari jam 08.00-15.00 Planetarium dibuka hanya untuk tamu rombongan dengan 3 kali pertunjukan, lalu jam 16.30 merupakan pertunjukan terakhir yang dibuka untuk umum. Dan hari Sabtu-Minggu Planetarium sudah mulai padat dikunjungi dari jam 07.00 pagi untuk mengantri di loket, karena pada hari itu Planetarium tingkat kunjungannya sedang High Season. Padahal loket baru dibuka jam 08.00 dan pertunjukan pertama di putar mulai dari jam 10.00. Pada hari Sabtu-Minggu lah banyak wisatawan yang sering komplain terhadap para petugas yang ada di Planetarium. Karena Planetarium hanya memberikan kapasitas 300 orang setiap pertunjukan berlangsung, jadi terkadang ada saja pengunjung yang tidak dapat tiket (kehabisan tiket). Disitu kami para petugas akan terus menangani komplain para pengunjung.  
(Gambar 1.6 Kondisi tempat antrian ketika Planetarium High Season)

Saat di Planetarium saya memandu pengunjung mulai dari tempat antrian hingga ke ruang pertunjukan, saat diruang pertunjukan saya bersama teman lainnya mengatur tempat duduk yang ada. Disaat mengatur tempat duduk tersebutlah terkadang kami harus bekerja sama dengan guru-guru yang mengawasi para siswa-siswi yang sedang Study Tour. Setelah tempat duduk di ruang pertunjukan sudah penuh, saya bersama teman lainnya akan melapor ke bagian narator untuk mulai melaksanakan pertunjukan. Pertunjukan dimulai dari mematikan lampu ruangan pertunjukan, lalu keluarlah sejuta bintang di langit Planetarium. Setelah keluarnya bintang tersebut mulailah narator menjelaskan beberapa benda langit serta planet-planet. Disaat pertunjukan berlangsung,  para pengunjung dilarang untuk menyalakan benda apapun yang dapat menghasilkan cahaya. Karena benda tersebut akan membuat terang area pertunjukan dan membuat bintang-bintang serta benda langit lainnya tidak kelihatan. Oleh sebab itu, itulah tugas kami untuk menugur pengunjung yg membawa barang tersebut. Biasanya ketika saya memberitahu pengunjung hal tersebut, ada saja pengunjung yang tidak mau menaati peraturan yang ada disana. Kami para petugas tidak segan-segan datang untuk langsung menegur si pengunjung tersebut. Setelah selesai pertunjukan, kami pun menunggu di pintu barat arah keluarnya para pengunjung. Setelah pengunjung keluar kami langsung mengecek barang pengunjung yang tertinggal di area pertunjukkan. 
(Gambar 1.7 Kondisi Ruangan Pertunjukan sebelum berlangsung)

Akhir masa kami PKL, kami di tes untuk menjadi narator di ruang pertunjukkan. Ketika saya menjadi narator, pengunjung yg hadir adalah dari golongan anak SD. Ketika itu saya sempat gugup kembali, namun saya harus bisa menjalani tugas tersebut dan belajar kesalahan dari yang lalu. Akhirnya saya pun bisa menyampaikan materi sebagaimana mestinya. Oya dalam menyampaikan materi soal pertunjukkan pun Planetarium memiliki golongan masing-masing, karna setiap tingkat mulai dari TK-SMA dan umum materi pertunjukkannya berbeda, lebih detail ke pengunjung golongan SMP-SMA dan umum. 

Dari pengalaman-pengalaman tersebut saya berharap dan akan terus berjuang untuk terus belajar memandu wisatawan agar semakin baik lagi. Mungkin hanya ini yang dapat saya sampaikan kepada pembaca sekalian, mohon maaf atas segala kekurangan yang ada. Karena sejatinya kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang Maha Esa. Semoga dengan tulisan ini teman-teman atau para pembaca dapat belajar untuk terus mengembangkan lagi sektor Pariwisata di Indonesia. Karena Indonesia merupakan negara yang paling kaya akan sektor Pariwisata. Wonderful Indonesia :)



Nesya Fadhillah A.
4423143911
Usaha Jasa Pariwisata A 2014
nesyafadhillah@ymail.com 

No comments:

Post a Comment