Wednesday, October 7, 2015

Tugas 1 Suka Duka Menjadi Pemandu Wisata

                Pengalaman Memandu di Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah)




               Pemandu wisata adalah seseorang yang mempunyai wawasan dan pengetahuan tentang tempat wisata yang ia pahami secara luas. Ia bertugas untuk memandu para wisatawan – wisatawan local maupun asing untuk mengetahui tentang sejarah dan budaya dari tempat wisata tersebut. Kerap kali kita sering melihat banyak orang yang merendahkan dan meremehkan pekerjaan seperti menjadi pemandu wisata atau yang kita sebut sebagai tour guide. Tour guide ini juga sering dipandang dengan sebelah mata, padahal, pekerjaan ini yang membuat negara kita ini menarik minat banyak wisatawan – wisatawan local dan juga asing. Mereka yang membuat negara tercinta kita ini memberikan banyak masukkan visa dari negara asing dan juga sedikit demi sedikit membuat negara kita ini bebas dari maraknya pencemaran limbah yang membuat alam Indonesia ini rusak. Tour guide ini sendiri mempunyai banyak peranan yang mungkin orang lain tidak bisa lakukan, contohnya seperti menjaga lingkungan kita agar tetap bersih, menjaga tiap – tiap spesies dari flora dan fauna agar tidak punah. Tetapi, bukan hanya tour guide yang wajib melakukan itu, kita semua sebagai warga dari Indonesia harus menjaga lingkungan di setiap wilayah agar lestari dan mengurangi dari punahnya spesies flora dan fauna khas Indonesia. Seperti yang kita ketahui baru – baru ini, seperti kasus yang ada di Riau, kebakaran hutan yang akhir – akhir ini merenggut nyawa orang – orang yang menghirup asap yang tidak sehat ini. Bukan hanya Indonesia yang terkena dampak ini, negara tetangga kita, seperti singapura pun terkena dampaknya. Untuk itu, kita harus menjaga lingkungan kita dari oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab atas keserakahan dan ketamakan mereka.

                Nah, itu gambaran sedikit tentang pemandu wisata dan negara kita, Indonesia. Disini saya ingin menceritakan pengalaman kecil saya yang menurut saya pengalaman yang bahagia dan tak terlupakan. Sebelum saya menceritakan suka dan duka saat menjadi pemandu wisata, perkenalkan, nama saya Afrizal Ditya Putera Pradyka, saya sering dipanggil rizal atau lebih akrabnya sering dipanggil ijal. Saya saat ini mengenyam perguruan tinggi di Universitas Negeri Jakarta atau lebih singkatnya lagi UNJ. Saya pertama – tama mengucapkan segala puji bagi Kehadirat Allah swt. yang selalu membuat kita sehat walafiat, yang membuat kita selalu dipermudah urusannya dan dipanjangkan umurnya. Kepada Bapak Shobirien Nur Rasyid selaku dosen mata kuliah pemandu wisata, saya berterima kasih telah diberi tugas yang menjadi kesempatan saya untuk memberi tahu bahwa senang dan bahagianya kita bila bekerja di bidang Pariwisata, khususnya menjadi tour guide. Sebenarnya, saya tidak minat dalam jurusan Pariwisata, Sastra Inggris adalah pilihan pertama saya, karena saya suka sastra. Tetapi, setelah berjalan dengan lancar, saya sangat beruntung berada dalam bagian pariwisata dan sangat menyukainya. Saya  yang sebelumnya pemalu, bahkan sangat pemalu, akhirnya saya bisa mengatasi rasa malu tersebut sedikit demi sedikit, dan membuat saya selalu percaya diri. Sekarang saya semester 3, sebelumnya saya diberi tugas yang disebut pkl atau praktek kerja lapangan. Bersama sahabat saya, Kivlan (sekarang kuliah di STPN, Jogja) dan saya mencari dan melamar tempat wisata yang bagus dan sekiranya kami akan bisa diterima di tempat tersebut, tetapi hasilnya nihil. Sahabat saya satu lagi yg bernama Tb, ia melamar di TSB (Trans Studio Bandung), tetapi tidak diterima, yang akhirnya kami bertiga memutuskan untuk melamar di Museum Sejarah Jakarta atau orang – orang yang biasa sebut Museum Fatahillah atas saran dari senior kami yang bernama Wisnu. Pada hari pertama kami melamar disana, kami disuruh untuk kembali pada besok hari, karena kami datang bukan pada waktu kerja. Keesokan harinya, kami kembali lagi kesana dan kami diterima dengan mudahnya, bahkan kami disuruh untuk pkl pada hari itu juga. Tetapi, kami menolaknya, karena kami belum terlalu siap untuk pkl disana, lalu kami bertiga tertawa – tertawa kecil sembari melihat satu sama lain dan berkata “akhirnya, keterima juga ya disini, udah gitu orang – orangnya baik – baik  lagi”. Kami bertiga diajak masuk dan diperkenalkan dengan Kak Eka yang menjadi pengarah kita untuk memperkenalkan kepada orang – orang yang bekerja di dalam museum. Ternyata, bukan kami bertiga saja yang pkl disana, ada 3 orang lagi, dan kami pun diperkenalkan oleh Kak Eka dengan menyebut nama dari kami bertiga satu – persatu kepada 3 orang tersebut. Mereka masih sekolah kelas 2 yang bersekolah di SMK Sahid Jakarta. Setelah itu kami pun pulang, dikarenakan besok kami akan memulai hari yang akan mengisi pengalaman hidup baru berharga kami. Pada hari pertama masuk pkl, ada 1 orang yang sedang duduk melamun dengan santainya mengeluarkan asap dari mulutnya yang berasal dari benda yang dipegangnya yang disebut rokok. Dia pun mengeluarkan kata – kata dari mulutnya, kira kira begini; “bang, dari mana? Pkl juga?”. Kami pun berkata iya, setelah ada guide senior yang masuk ke ruangan staf, ia memperkenalkan kami dengan orang yang duduk dengan santai tersebut. namanya Fauzan, tetapi dia sering dipanggil ojan. Ojan juga masih duduk di kelas 2 SMK dan guide senior yang bernama Pak Usman meminta bantuan kepada Ojan untuk membawa kita mengelilingi museum yang bertujuan agar mengetahui objek apa saja yang harus diceritakan kepada wisatawan. Ojan pun menerimanya dengan senang hati dan membawa kita mengelilingi museum. Sembari menceritakan sejarah tentang objek yang ada di dalam museum, kami menanyakan hal yang menyimpang dari sejarah tentang objek tersebut, seperti ada berapa banyak orang yang pkl di museum ini, sejak kapan pkl di museum ini, dan sebagainya. Setelah selesai, kami pun ke tempat pemberian sandal. Saat ini, Museum Fatahillah meminjamkan sandal kepada wisatawan yang ingin mengelilingi museum dengan biaya yang tidak dipungut sama sekali, sandal tersebut gratis untuk dipinjamkan, mari saya luruskan, apa tujuan dipinjamkan sandal tersebut kepada wisatawan? Itu bertujuan untuk mengurangi rapuhnya keramik yang sudah ada sejak 300 tahun yang lalu dan juga karena Museum Fatahillah pernah mengalami kejadian yang buruk, yaitu kebakaran yang menyebabkan rusaknya objek – objek di museum, seperti jendela, pintu, dan yang lain- lain,dan itu bertujuan untuk mengurangi kerusakan akibat kebakaran pada waktu lalu. Kembali pada cerita, kami pun bertemu dengan orang yang pkl di museum ini yang ternyata bukan hanya 3, tetapi lebih. Ojan bersama 2 temannya yang bernama Fakky (puki) dan Dzikri (arab), sementara SMK Sahid ada 6 orang yg  pkl disana, yaitu Fika, Kezia, Alvin, Agus, Siti, Syifa.

                Setelah berjalan beberapa hari, Kivlan dan Tb membawa rombongan SD saat Museum Fatahillah akan tutup. Pada esok hari, untuk pertama kali saya pun membawa rombongan SMP kelas 3, dan itu sangat sulit untuk berbicara, karena banyak yang bertanya dan banyak pula yang memotong suara saya saat saya menjelaskan. Saya kebingungan yang sempat senyum – senyum dan tertawa, bisa mengatasi hal tersebut. Karena baru pertama kali, saya ditemani oleh kezia dan kivlan yang ikut membantu saya. Setelah mengelilingi museum dan memberi penjelasan tentang objek yang ada di dalamnya, para guru berterima kasih kepada saya dan pamit undur diri, saya pun melempar senyum dan berterima kasih kembali kepada para guru – guru  dan murid –murid.






 (gambar 1: saat saya menjelaskan lukisan yang diterjemahkan oleh J. J. Denijs di lantai 2, Museum Sejarah Jakarta)

              
                  Setelah 5 hari, ada lagi yang melamar  pkl di Museum Fatahillah, yaitu SMK 27 yang terdiri dari Nanda, Amel, Oliv, dan Selfi. Indri, Tyas, Nur, dan Selvi pun melamar di museum dengan meminta bantuan saya, dan mereka semua diterima dengan mudah seperti kami bertiga. Indri, Tyas, Nur, dan Selvi adalah teman saya di kampus yang sebelumnya tidak terlalu dekat, bahkan kenal. Setelah berjalan bebeprapa hari, bahkan bulan, kami pun sangat dekat seperti keluarga. Kami pernah pergi berlibur ke tempat wisata yang ada di bogor, yaitu Kebun Raya Bogor, dan kemudian kami semua bersenang – senang sampai tidak memperdulikan awan yang menjatuhi butir – butir air dan membasahi seluruh badan kami. Pada hari selasa, saya membawa rombongan dari SD Charitas, Jakarta Timur. Mereka sangat pintar dan lucu – lucu. Lalu, saya ajak mereka mengelilingi museum untuk mengetahui sedikit tentang sejarah dari Indonesia, khususnya Batavia atau Jakarta. Banyak dari mereka yang menanyai saya tentang objek yang saya ceritakan, semua yang melontarkan pertanyaan kepada  saya adalah perempuan. Saya sangat senang bisa menemani mereka mengelilingi museum untuk menambah pengetahuan mereka. Setelah selesai menemani mereka, saya pamit untuk masuk ke dalam museum lagi untuk berjaga – jaga. Saya tersenyum kepada mereka dan mereka membalas senyum juga seraya berkata; “dadah kakak, sampai ketemu lagi, ya”. Kemudian, saya masuk kembali dan berjaga – jaga untuk memberikan sandal kepada pengunjung. Setelah seminggu tidak membawa rombongan, akhirnya saya membawa anak SD lagi. Kali ini saya membawa anak – anak yang nakal dan tidak bisa diatur. Saya hampir saja bosan untuk mengajak anak – anak itu mengelilingi museum. Kemudian, saya selalu memberikan arahan – arahan untuk bersikap seperti ini dan itu. Lama – kelamaan, mereka mulai patuh dengan saya dan banyak menanya ketimbang mengobrol satu dengan yang lainnya. Itu hal yang lumrah menurut saya, jika anak SD kurang tertarik untuk mendengarkan hal yang berkaitan dengan mengingat dan lebih memilih untuk bermain. Tetapi, untungnya mereka langsung berminat untuk mengetahui tentang apa yang ada di museum dengan banyak menanya. Sehingga, tak terasa sudah berakhir waktu saya untuk memberi sedikit pengetahuan kepada mereka. Saya senang bisa dekat dengan mereka walaupun dengan waktu yang terbilang sangat singkat. Untungnya, saya meminta sedikit kenangan dengan mereka, yaitu berfoto. Setelah selesai berfoto, mereka mengucapkan terima kasih dan saya juga mengucapkan terima kasih, serta; “hati – hati ya, dek”.



(gambar 2: foto dengan anak – anak SD dari Bogor)

             



                 Selang 3 hari, saya membawa rombongan SMA dari Bogor. Kalau sudah seusia SMA, mereka biasanya hanya diam untuk memperhatikan penjelasan orang. Seperti rombongan SMA yang saya bawa, mereka hanya diam dan senyum jika saya ajak bercanda. Lalu, saya ajak mengelilingi museum dengan suasana yang sangat sepi. Tetapi, ada juga yang menanya tentang objek di museum. Itu yang membuat saya semangat untuk mengajak mereka mengelilingi museum. Sayangnya, waktunya sudah habis dan saya izin pamit untuk ke dalam museum. Saya bilang; “terima kasih, ya”, tetapi mereka jawab sembari jalan tanpa menengok kearah saya. Saya hanya bisa sabar dan senyum kepada mereka, walaupun mereka tidak terlalu menanggapi saya. Setelah 2 minggu, Museum Sejarah Jakarta menerima wajib kunjung, yaitu sekolah – sekolah di sekitar Jakarta wajib mengunjungi Museum Sejarah Jakarta. Wajib kunjung ini dibiayai 100% oleh Gubernur dan Pemerintah DKI Jakarta. Saya dan teman – teman saya yang lain diminta untuk membawa para rombongan SMP ini. Saat saya membawa SMP 95 Jakarta Utara, saya selalu diledeki dan dibercandai, karena saya terlalu banyak mengucapkan; “jadi”. Jika saya mengucapkan kata tersebut, mereka tertawa dan mengulangi kata tersebut yang menurut mereka lucu. Tetapi, mereka sangat antusias untuk mengetahui objek dan sejarah yang ada di museum.

                Itu adalah sedikit dari pengalaman saya menjadi tour guide di Museum Sejarah Jakarta. Suka dan duka menjadi tour guide sangat banyak, tetapi lebih banyak suka dibanding duka. Sukanya menjadi tour guide adalah kita bisa memperluas pengetahuan kita tentang wisata – wisata yang ada di Indonesia dan kita bisa menambah teman yang banyak dengan mudah. Kita juga bisa mengajak wisatawan untuk melestarikan dan menjaga alam kita agar terlihat lebih indah dan kita bisa mengunjungi wisata tersebut dengan nyaman. Bila duka menjadi tour guide, bila kita tidak memberikan materi dan informasi dengan jelas dan atraktif, kita bisa menjadi terbawa suasana bosan yang dibawa oleh wisatawan akibat kita memberikan informasi yang kurang menarik bagi mereka. Menurut saya, bila kita semakin nyaman menjadi tour guide, maka kita akan selalu suka, bahkan hampir tidak ada dukanya sama sekali. Karna, menjadi tour guide sangat keren dan bahagia. Kita bisa mengunjungi wisata – wisata yang indah dengan gratis, bahkan kita dibayar atas jasa kita member informasi yang sangat berharga. Tour guide adalah seseorang yang mempunyai banyak peranan, khususnya menjaga keindahan Indonesia. Mari kita jaga alam kita dengan baik agar kita mendapatkan dampak alam yang baik pula terhadap kita.



(gambar 3: foto dengan peserta pkl yang lain, sekaligus keluarga baru saya yang sangat berharga bagi saya)









Afrizal Ditya Putera Pradyka
4423143931
Usaha Jasa Pariwisata (B) UNJ 2014


pradykaafrizal@gmail.com

No comments:

Post a Comment