Monday, October 5, 2015

Tugas-1 Suka Duka Menjadi Pemandu Wisata



PENGALAMAN SAAT MENJADI SEORANG PEMANDU
            Assalamualaikum! Pak Ronal kepalanya peyang, tak kenal maka tak sayang, begitulah kalau kata orang-orang, untuk itu saya akan memperkenalkan diri saya terlebih dahulu sebelum saya akan mulai menuturkan cerita tentang pengalaman saya dalam menjadi pemandu wisata. Perkenalkan nama saya Garin Girindra D.S. singkat saja karena takut terlalu panjang, saya adalah seorang pemuda yang lahir di Jakarta 19 tahun yang lalu pada tanggal 9 Mei, untuk saat ini saya adalah seorang mahasiswa Pariwisata, saya tinggal di Jl. Harapan Mulya 1, Kemayoran, Jakarta Pusat. Secara fisik, saya memiliki tinggi badan sekitar 160-165cm tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek lah untuk ukuran seorang pria, kulit saya sedikit coklat tapi lebih ke arah putih atau coklat muda bisa dibilang, saya orang yang memiliki pembawaan yang santai dan riang dan tidak terlalu kaku/serius. Nah cukup sampai disitu dulu perkenalan tentang seorang Garin Girindra, kalau mau lebih kenal bisa langsung saja berbincang-bincang hehe.
            “Pemandu Wisata”, apa sih sebenarnya “Pemandu Wisata” itu? Berdasarkan apa yang saya ketahui sedikit, “Pemandu Wisata” adalah seseorang yang bertanggung jawab, seorang informan, seseorang yang memandu, dan tentu saja merupakan salah satu bagian penting di dalam sebuah perjalanan wisata. Kembali lagi tentang saya, saya merupakan mahasiswa Pariwisata yang tentunya tidak terlepas dari predikat “Pemandu Wisata” tersebut, pada awalnya saya secara tidak sengaja masuk ke dalam dunia Pariwisata, mengapa saya mengatakan tidak sengaja? Berawal dari kelulusan SMA tentunya setiap orang kebanyakan ingin melanjutkan studi nya ke jenjang yang lebih tinggi, salah satu nya masuk ke Universitas, saya pun termasuk ke dalam salah satu dari kebanyakan orang tersebut. Pada awalnya saya melakukan tes yang disebut SBMPTN untuk bisa masuk ke Universitas Negeri, dan pada tes tersebut saya memilih jurusan sastra inggris dan administrasi negara, dua buah jurusan yang mungkin tidak berhubungan sama sekali, dan saya juga memilih Universitas Negeri di luar Jakarta kala itu, namun apa daya saya tidak lolos dalam tes tersebut. Waktu pun berlalu dengan cepat seiring kegagalan saya lolos dalam tes tersebut, saya mulai bingung dan mulai terdesak oleh keinginan orang tua yang ingin melihat saya masuk ke Universitas Negeri, saya pun mulai mencari tes mandiri yang diadakan oleh Universitas Negeri, pertama masih Universitas Negeri di luar Jakarta, saya kembali tidak lolos di tes tersebut dan kembali bingung dan terdesak, kemudian saya mengikuti tes yang bisa dibilang tes masuk mandiri yang terakhir yaitu tes mandiri Universitas Negeri Jakarta, ada dua pilihan jurusan yang bisa di ambil, pertama tentunya saya memilih sastra inggris sebagai passion tersendiri bagi saya, dan pilihan kedua merupakan Pariwisata, alasan saya memilih Pariwisata karena dalam pikiran saya adalah Pariwisata mungkin membutuhkan keahlian berbahasa asing khususnya bahasa inggris yang cukup baik, dan saya memiliki keahlian tersebut. Setelah tes selesai saya pun menunggu pengumuman, dan pada akhirnya saya di terima di Universitas Negeri (di) Jakarta di jurusan Pariwisata, tentu saya sangat bersyukur pada saat itu karena dapat di terima di Universitas Negeri meskipun di jurusan yang sama sekali saya tidak pernah dalami, namun saya akan berusaha semaksimal mungkin di dalam jurusan tersebut.
            Tiba saatnya masuk kuliah, saya datang dengan penuh semangat dan penuh harapan agar bisa bertahan di Pariwisata ini, semester pertama saya berusaha sepenuh hati dan semaksimal mungkin dan hasilnya lumayan memuaskan. Nah! Di semester pertama inilah saya mulai masuk ke dalam predikat “Pemandu Wisata”, jurusan saya mengadakan acara “City Tour” yang notabene nya adalah pengambilan nilai untuk mata kuliah Pengantar Pemanduan dan juga Komunikasi Publik. Tibalah hari dimana acara City Tour ini dilaksanakan, sebelumnya rute dari City Tour ini sudah di berikan kepada mahasiswa baru dan mahasiswa tingkat 3, saya melihat nama Garin Girindra berada di urutan tengah, dan memang mahasiswa tingkat 3 berada di atas dan harus terlebih dahulu memandu, mungkin untuk menjadi contoh bagi kami para mahasiswa baru, dan para mahasiswa senior ini dipilih secara acak oleh dosen sementara kami  mahasiswa baru sudah di urutkan berdasarkan nama masing-masing. Setelah daftar rute dibagikan saya langsung mencari bahan apa saja yang bisa saya baca dan akan saya berikan kepada para wisatawan (teman-teman saya dan mahasiswa senior juga dosen yang ada di Bus), saya kebetulan mendapatkan rute dari daerah cikalong. Perjalanan City Tour pun dimulai dari kampus Universitas Negeri Jakarta, yang pertama memandu adalah mahasiswa senior saya, saya pun mulai memperhatikan tata cara memandu yang baik seperti apa, perjalanan dilanjutkan masuk ke gerbang tol Rawamangun dan pemandu pun menjelaskan tentang sejarah dari jalan tol tersebut. Perjalanan terus berlanjut, pemandu nya pun secara bergiliran berganti-ganti, bermacam-macam teknik memandu pun terlihat dan saya mempelajarinya satu persatu, ada yang memandu dengan pembukaan yang menggunakan bahasa asing, ada yang menceritakan tentang kebudayaan daerah setempat, ada yang menceritakan tentang bisnis daerah setempat yang bisa dibilang menjanjikan, hingga ada yang menunjukan kemampuan nya bernyanyi. Perjalanan pun dihentikan sementara waktu untuk beristirahat sebentar, Bus pun diparkirkan di pinggir jalan di dekat masjid At-tawuun, Puncak, Bogor, disana kami beristirahat sejenak, kemudian kami semua berfoto bersama, mulai dari mahasiswa baru, mahasiswa senior, dan juga para dosen yang mengikuti acara. Setelah selesai beristirahat kami pun melanjutkan perjalanan City Tour kami, semakin lama giliran saya untuk memandu pun semakin dekat dan saya pun mulai semakin gugup dan mulai berkeringat, perut saya mulai terasa mulas dan mual. Saya semakin mulas dan mual saja ketika giliran sebelum saya sedang memandu, saya panik dan tidak tau apa yang harus saya lakukan, untungnya Bus kembali berhenti untuk mampir ke restoran untuk mengambil makan siang untuk rombongan nanti saat tiba di tujuan, tempat yang akan kami tuju adalah Museum Geologi di Bandung. Giliran saya pun tiba untuk memandu, saat maju ke depan saya mulai memperkenalkan diri, saat berada di depan saya sangat gugup sehingga semua materi yang telah saya pelajari seketika hilang dari pikiran, saya pun tidak tau apa yang harus saya katakan karena rasa gugup yang melanda diri saya, saya pun hanya berbicara seadanya tentang daerah tersebut yang saya ketahui, setelah tidak ada lagi informasi yang bisa saya berikan, saya hanya menjelaskan tentang keadaan sekitar yang dilewati oleh Bus kami, beberapa menit kemudian giliran saya memandu pun selesai dan saya pun menutup pembicaraan saya. Saat-saat itu merupakan saat yang paling mendebarkan karena saat itu adalah saat pertama kali nya saya memandu, saya melihat teman-teman saya pun banyak yang mengalami hal serupa namun ada beberapa yang memang terlihat bagus saat memandu. Akhirnya kami pun sampai di Museum Geologi Bandung, sesampainya disana kami makan siang terlebih dahulu, setelah makan acara pun di lanjutkan dengan pemanduan di dalam Museum Geologi Bandung. Di dalam museum, teman-teman saya kembali mulai memandu dan hasilnya sepertinya lumayan bagus, walaupun masih ada beberapa yang masih gugup dan grogi. Beberapa jam setelah memandu, kami pun di ajak menonton sebuah film tentang Geologi di Dunia, salah satunya adalah tentang bagaiman terbentuknya pegunungan Himalaya di Tibet. Setelah selesai menonton kami pun keluar dari gedung Museum Geologi dan bersiap-siap untuk perjalanan pulang kembali ke Universitas Negeri Jakarta, saat perjalanan pulang para mahasiswa kembali harus memandu hingga sampai ke Universitas Negeri Jakarta, kami pun sampai pada malam hari karena perjalanan yang cukup panjang dan macet. Kira-kira seperti itulah pengalaman pertama memandu saya, memang cukup sulit tapi saya akan terus belajar dan belajar hingga dapat menguasai teknik memandu yang baik.
            Tak terasa berlalu sudah semester pertama, dan kini saya masuk ke semester kedua. Di semester kedua ini saya mengalami pemadatan perkuliahan, sehingga saya hanya berkuliah selama dua bulan, dan sisanya saya diwajibkan untuk menjalani PKL (Praktek Kerja Lapangan) di sebuah destinasi wisata. Saya memilih destinasi wisata pendidikan yaitu Planetarium dan Observatorium Jakarta bersama 8 orang teman saya, lalu kami pun mendatangi Planetarium dan Observatorium Jakarta bersama-sama untuk memberikan surat permohonan untuk praktek kerja lapangan selama kurang lebih sekitar dua bulan. Beberapa hari kemudian kami pun di hubungi oleh Planetarium dan Observatorium Jakarta untuk diberitahu bahwa kami ber-9 di terima untuk melaksanakan praktek kerja lapangan di sana. Di Planetarium dan Observatorium Jakarta saya bertugas untuk memandu para pengunjung untuk melihat-lihat ruang pameran yang berisi berbagai macam diorama dan replika benda-benda langit, di ruang pameran ini lah saya memandu para wisatawan dan menjelaskan tentang keadaan di luar angkasa seperti susunan tata surya, satelit-satelit luar angkasa, di ruang pameran saya juga menjelaskan gambar-gambar tentang proses terbentuknya sebuah bintang, proses tentang teori pembentukan tata surya seperti teori big bang contohnya, kemudian juga menjelaskan gambar-gambar rasi bintang, keadaan bumi pada malam hari termasuk lokasi-lokasi polusi cahaya yang ada di bumi, di ruang pameran ini saya juga memberitahu bahwa terdapat sebuah batuan meteor yang pernah jatuh di Indonesia tepatnya di halaman rumah Bapak Supinah, di daerah Jawa Timur, batu tersebut ukurannya hanya sekitar sebesar buah kelapa, dan bobotnya hanya sekitar 10 kilogram saja, namun saat benda tersebut jatuh beratnya mencapai 600 ton karena kecepatannya yang luar biasa, kecepatan sebuah meteor bisa mencapai 60km/detik jadi kalau kita bayangkan naik meteor dari Planetarium menuju ke Bogor, kita hanya memerlukan waktu 1 detik saja untuk sampai. Setelah menjelaskan semua yang ada di ruang pameran, saya memandu para wisatawan untuk menuju ke ruang pertunjukan yang berada di lantai dua, di ruang pertunjukan akan ada sebuah pertunjukan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar angkasa, pertunjukan tersebut di pandu oleh seorang narator yang ada di bagian belakang ruang pertunjukan atau di belakang para pengunjung. photo 3.JPG
    Foto 1 : Ruang Pertunjukan Planetarium
Setelah satu bulan melaksanakan PKL, saya dan teman-teman saya di beritahu bahwa pada 2 minggu terakhir masa PKL, kami diwajibkan untuk menjadi narator di ruang pertunjukan, saya pun merasa kaget karena seorang narator harus berbicara memberikan informasi tentang peristiwa-peristiwa luar angkasa kepada pengunjung selama kurang lebih  45 menit-1 jam, dan materi yang harus di sampaikan juga saya kurang paham, namun saya pun menyanggupkan dan tetap tenang dalam menjalankan hal tersebut. Satu bulan terakhir saya dan teman-teman melaksanakan PKL pun kami gunakan sebaik-baiknya di minggu pertama dan kedua, kami mendengarkan secara seksama bagaimana seorang narator memberikan informasinya kepada para pengunjung, karena tidak semua pengunjung sama cara penyampaian informasinya, seperti misalnya saat saya memandu atau menyampaikan info ke pengunjung yang masih berada di TK, saya harus berbicara secara lembut dan harus membuat suasana menjadi riang, dan informasi yang diberikan pun tidak terlalu berat, lalu pada saat saya memandu atau menyampaikan info kepada pengunjung yang berada di bangku SD atau SMP, saya harus memberi informasi yang lebih detail sedikit daripada informasi yang diberikan kepada pengunjung yang masih TK, dan pada saat memandu pengunjung yang duduk di bangku SMA, informasi yang saya berikan harus benar-benar detail. Begitulah kira-kira teknik yang digunakan dalam memandu di Planetarium dan Observatorium Jakarta, dan tibalah waktunya  saya menjadi seorang narator di ruang pertunjukan. photo 2.JPG
Foto 2 : Narator Ruang Pertunjukan
Saya memulai pertunjukan dengan lampu ruangan yang dipadamkan dan seketika ruangan menjadi sangat gelap, dan saya mulai masuk ke dalam topik yaitu mengibaratkan ruangan yang gelap tersebut adalah langit di kota Jakarta saat ini, ada beberapa bintang yang muncul namun masih bisa terhitung jumlahnya, lalu saya menjelaskan bahwa langit yang gelap di kota Jakarta ini di sebabkan oleh polusi, entah polusi udara maupun polusi cahaya. Kemudian saya menjelaskan bahwa jika kondisi langit Jakarta tidak di pengaruhi oleh polusi udara dan polusi cahaya maka bintang-bintang akan terlihat lebih banyak lagi, bahkan akan memenuhi langit di Jakarta, lalu mulailah ruangan di penuhi bintang-bintang yang membuat ruangan menjadi agak terang oleh cahaya bintang-bintang tersebut. Setelah itu saya mulai menjelaskan tentang rasi-rasi bintang yang ada di langit, rasi bintang dibagi menjadi 88 wilayah berdasarkan ilmu astrologi, namun ada 13 di antaranya yang kita kenal sebagai rasi bintang zodiak, rasi bintang zodiak merupakan rasi bintang yang berada di wilayah langit yang memotong lingkaran ekliptika. Setelah menjelaskan tentang rasi bintang saya kemudian menjelaskan tentang planet-planet keluarga dari tata surya, saya memulainya dari penjelasan tentang Matahari yang merupakan pusat dari tata surya, lalu saya menjelaskan tentang planet-planet yang mengitari Matahari mulai dari Merkurius sampai dengan Neptunus, kemudian saya tambahkan dengan penjelasan mantan planet yaitu Pluto yang kini predikatnya sebagai planet kerdil atau dwarf planet, kemudian saya menjelaskan bahwa ada 3 jenis planet yaitu Planet, Planet kerdil atau dwarf planet, dan terakhir ada Planet kecil atau biasa disebut dengan Asteroid. Kemudian saya memberitahukan bahwa kita telah sampai di penghujung pertunjukan, lalu menutup pertunjukan dengan kata-kata “Salam Planetarium Jakarta!”. Dan begitulah akhir dari peran saya menjadi narator/pemandu di ruang pertunjukan di Planetarium dan Observatorium Jakarta, dan di pengalaman saya yang kedua sebagai seorang “Pemandu Wisata” ini saya kira saya sudah mulai terbiasa, mungkin memang benar kata-kata “Practice makes Perfect”, jika kita berlatih terus menerus mungkin kita akan menjadi seorang yang ahli dalam suatu hal, termasuk menjadi seorang “Pemandu Wisata”.
            Berbicara tentang predikat “Pemandu Wisata” yang melekat pada saya, saya berpikir bahwa ada suka dan duka ketika kita menjadi seorang pemandu. Ya, sukanya kira-kira adalah kita bisa memberikan informasi yang berguna kepada para wisatawan yang menggunakan jasa kita, kita juga bisa menghibur mereka pada saat memberikan informasi atau pada saat memandu mereka, kita pun juga bisa berkeliling Indonesia negeri yang indah ini secara cuma-cuma pada saat kita menjadi seorang “Pemandu Wisata”. Untuk duka nya, mungkin kita harus lebih tau/lebih berpengalaman daripada para wisatawan, dan juga kita adalah orang yang paling bertanggung jawab jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan selama kegiatan wisata, tapi saya tidak menyikapi masalah tanggung jawab ini sebagai sebuah “duka” dalam menjadi seorang pemandu, tetapi lebih kepada pembelajaran diri kita untuk lebih disiplin lagi dan lebih bertanggung jawab lagi terhadap apa yang kita lakukan atau bahkan yang orang lain lakukan karena kita sebagai seorang pemandu dari para wisatawan, kita lah yang harus mengontrol perilaku para wisatawan agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan.
Ya kira-kira seperti itulah suka dan duka ketika predikat “Pemandu Wisata” melekat dalam diri kita, saya sebagai orang yang pada awalnya “kecemplung” di bidang Pariwisata ini merasa bahwa memang inilah jalan saya karena memang saya sendiri lah yang memilih jalan ini. Demikianlah sedikit-banyak pengalaman yang bisa saya bagikan kepada para pembaca sekalian, semoga ada manfaat nya bagi para pembaca sekalian. Saya mengutip sebuah pepatah yang berbunyi “Ingatlah! Apapun yang kamu hadapi saat ini semua akan berlalu. Semoga menjadi berkah dan rahmat bagi yang lain. Jadilah orang yang: tetap sejuk di tempat panas, tetap manis di tempat yang begitu pahit, tetap merasa kecil walaupun sudah menjadi besar, dan tetap tenang di tengah badai yang paling hebat.” Sekian dari saya, kurang lebih nya saya mohon maaf, Wassalam!


GARIN GIRINDRA DWI SAPUTRA
USAHA JASA PARIWISATA 2014
UNIVERSITAS NEGRI JAKARTA
NIM :4423143943
EMAIL : garin.girindra@gmail.com


No comments:

Post a Comment