Tuesday, October 6, 2015

Tugas 1- Suka Duka Menjadi Pemandu Wisata

Assalamualaikum wr.wb Bapak Sobirin
Pertama, saya akan memperkenalkan diri saya terlebih dahulu. Nama saya Nurul Hakim Aristia, tapi saya memiliki nama panggilan Tyas sejak kecil. Saya juga tidak tahu mengapa saya bisa dipanggil Tyas. Sampai suatu hari saya bertanya kepada ayah saya “pah kok aku bisa dipanggil Tyas?” ayah saya hanya menjawab “gatau papa ngasal, papa suka aja sama nama itu”. hmmm...
Singkat cerita saja, Saya lahir dan besar di Kota Surabaya Jawa Timur pada tanggal 11 Desember 1995. Berarti usia saya sudah cukup tua ya hampir menginjak 20 tahun, tapi wajah masih 17 tahun kok hehe. Dulu saya sempat tinggal di Surabaya, namun hanya selama 7 tahun. kemudian mama saya mendapat utusan kerja untuk pindah di Ibu kota Jakarta dan saya pun ikut mama sampai sekarang dan kami tinggal di Asrama Brimob Cipinang.
Saya berasal dari SMAN 53 Jakarta. Sekolah saya itu berlokasi di Cipinang Jaya, tepatnya di belakang Lembaga Permasyarakatan Cipinang. Jadi sejak SD,SMP,SMA bahkan hingga kuliah hidup saya tidak jauh-jauh dari daerah Cipinang-Rawamangun. Saat SMA, saya sangat bercita-cita ingin masuk ke UI. Saya sangat belajar keras untuk masuk kesana sampai saya menguti bimbel di GO. Sampai suatu ketika Tuhan berkehendak lain, saya tidak lolos masuk tes ke UI (SIMAK UI) . Disitu saya sangat down sekali sampai-sampai keluarga saya sudah mendaftarkan saya ke salah satu perguruan tinggi swasta. Awalnya saya sudah memutuskan untuk tidak mau mencoba tes ke  PTN lagi karena saya tahu UNJ masih memberikan kesempatan untuk jalur mandiri. Karena saat itu bertepatan pada hari-hari ramadhan, dan saat itu saya mudik ke Surabaya. Di sana om saya menasehati saya untuk tetap terus mencoba. Jangan sampai tidak kuliah karena saya perempuan, masa depan saya panjang. Akhirnya saya memutuskan mendaftarkan diri saya untuk mengikuti test UNJ saat saya sedang di Surabaya. Awalnya saya bingung saat memilih jurusan karena yang saya tau UNJ kebanyakan memiliki jurusan pendidikan, sedangkan saya tidak berminat menjadi guru. Tante saya menyarankan untuk mengambil jurusan tata busana. Dia berkata kalau jurusan tata busana tidak mesti menjadi guru, bisa juga menjadi desainer. Tapi saya berpikir ulang, saya hanya berbakat untuk memakai baju saja, tidak berbakat menjahitnya. Karena saya ingat pada zaman sekolah dulu saya mendapatkan pelajaran tata busana dan saya tidak sanngup dalam urusan jahit menjahit. Tiba-tiba om saya memutuskan untuk saya masuk ke jurusan pariwisata. Om saya bekerja di dinas pariwisata disana, jadi beliau memutuskan begitu. Tetapi ayah saya berkeinginan bahwa saya kuliah di jurusan public relation. Sehingga saya saat itu memilih jurusan public relation dan pariwisata. Ternyata saat pengumuman, alhamdulillah saya diterima di jurusan pariwisata. Dan sejak awal saya sebenarnya lebih prefer ke pariwisata daripada pulic relation.

Saat saya masuk ke jurusan ini,disini banyak diajarkan cara-cara teknik meng-guide. Pada bulan Desember tahun lalu tepatnya saat saya masih berada di semester 1, pihak prodi mengadakan city tour dengan destinasi jakarta-bogor-bandung. Kegiatan ini diadakan kalau tidak salah tanggal 2 Desember 2014. Di kegiatan ini kita di tugaskan untuk latihan nge-guide, ada yang kedapatan tugas meng-guide di bis, ada yang di museum. Museum yang menjadi tujuan city tour pada saat itu adalah museum Geologi dan museum Konferensi Asia Afrika. Saya ternyata meng-guide di museum Konferensi Asia Afrika.  Saya saat itu kedapatan bagian menjelaskan di ruangan konferensi. Ini merupakan moment pertama saya guiding. Karena ini moment pertama saya, jadi saya sangat merasa khawatir takut kalau yang saya sampaikan akan salah dan grogi harus berbicara di depan banyak orang. Saya menjelaskan apa fungsi balkon diatas ruangan konferensi, dan banyak lagi. I think it was fun, dan menjadi pengalaman saya yang tak kan terlupakan karena saya tahu bicara di depan banyak orang itu sangatlah tidak mudah jika belum terbiasa. Saat H-1 sebelum hari H city tour, saya banyak mem-browsing hal-hal tentang materi yang saya akan jelaskan. Namun sulit sekali mendapatkan materi tentang apa kegunaan balkon di ruang konferensi. Saat saya melihat gambar-gambar di google pada saat konferensi berlangsung, saya melihat banyak para petugas pers berdiri di balkon dengan segala peralatannya untuk mengabadikan kegiatan pers tersebut. Disini saya menyimpulkan bahwa balkon ini pernah digunakan para petugas pers atau surat kabar atau stasiun tv untuk meliput. Oh ya, sebelum sampai di Bandung, saya dan kawan-kawan yang lain pun sempat beristirahat sebentar di Masjid Attawun di puncak, Bogor. Disana saya dan teman-teman berfoto bersama dan sekedar melepas penat. Selama perjalanan dari Puncak ke Bandung bis kami tidak menempuh memalui jalan tol, melainkan melalui jalan biasa.
saat sedang city tour

Time by time tiba saatnya saya memasuki semester dua. Dimana di semester ini diadakan pemadatan kelas, jadi kuliah di semester ini hanya dua bulan karena setiap mahasiswa semester 2 diwajibkan untuk praktek kerja lapangan (PKL). Pada saat masa pencarian tempat PKL, pada awalnnya saya melamar di The Jungle, yaitu sebuah wahana bermain air atau berenang yang terdapat di Bogor. Tapi saya tak kunjung mendapatkan kabar dari pihak The jungle bahwa saya diterima atau tidak. Akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar PKL di Museum Kesejarahan Jakarta atau Museum Fatahilah. Di museum itu, sudah terdapat anak UNJ juga yang PKL dari kelas sebelah yaitu Afrizal, Tb, dan Kivlan. Saya pun bersama tiga teman saya masuk untuk mendaftar PKL di sini, dan jumlah anak PKL dari UNJ di museum Fatahilah menjadi 7 orang yaitu saya, Indri, Selvi, Nur, Tb, Afrizal,dan Kivlan. Di Museum ini juga bukan hanya kami ber-tujuh saya yang PKL, tetapi ada pula anak-anak SMK yang PKL juga yaitu berasal dari SMK Sahid, SMK theresia dan SMK 27.


saya dan teman-teman
di depan Museum
saya dan teman-teman
di halaman belakang museum

Pada awal-awal PKL yaitu pada tanggal 15 April, saya masih nampak bingung dan tidak percaya bahwa akan meng guide di museum sebesar itu. Bangunan bes
ar yang terdiri dua lantai cukup membuat saya tersipu. Pada hari pertama saya  PKL, saya langsung di pertemukan oleh pihak pramuwisata museum. Mereka memberikan bimbingan selama kami PKL dimuseum Fatahilah. Mereka mengajarkan saya banyak hal tentang teknik guiding. Saya dua hingga tiga kali mengikuti para pramuwisata membawa rombongan agar saya lebih bisa menguasi materi, dan saya pun di berikan beberapa lembar fotokopian tentang cerita-cerita dari setiap benda yang ada di museum yang harus saya pelajari untuk modal saya meng-guide.
saya saat sedang meng-guide di depan lukisan
karya Bapak S.Sujoyono
saya dan teman-teman UNJ
yang PKL
di Fatahillah dan foto ini diambil
di belakang museum
pada malam hari






























Setelah seminggu kemudian, saya di tuntut untuk bisa membawa rombongan. Dan rombongan pertama saya adalah anak-anak SMA. Anak SMA yang saya bawa itu jurusan IPA, jadi mereka tidak iseng. Dan pada awal perkenalan, saya memberitahu bahwa saya adalah anak PKL jadi jika ada salah-salah mohon dimaklumi. Saya sangat grogi pada saat itu, tubuh saya terasa kaku dan keringat dingin bercucuran. Saat meng-guide di wajibkan menggunakan mic, it means suara saya menjadi besar dan bisa di dengar oleh pengunjung lain. Ini benar-benar memalukan jika ada penyampaian saya yang salah. Saat itu saya ditemani oleh teman-teman saya dan anak-anak SMK lainnya karena saya belum menguasai semua benda pajangan di museum. Jadi saat saya lupa-lupa sedikit, saya langsung melirik mereka (teman-teman) dan mereka pun langsung memberi tahu saya secara bisik-bisik. Saya pun terasa seperti robot setiap berjalan menyusuri ruangan. Sampai salah satu dari rombongan yang saya bawa berkata “kak jangan grogi kak, santai aja”. Oh my God its really embrassing me. Dan saya ingat waktu itu saya menjelaskan kepada mereka kalau penjara laki-laki itu memuat 100 orang. Dan saat saya sudah selesai membawa mereka berkeliling, saya baru berfikir bahwa penjara itu tidak akan muat jika di masuki oleh orang sebanyak itu. Saya sampai cekikikan sendiri saat mengingat akan hal itu karena jika beneran itu terjadi, penjara itu akan penuh sesak seperti ikan pepes atau bahkan overload sampai pintu penjaranya jebol.
Setelah itu keesokan harinya saya membawa rombongan anak-anak SMP dari luar kota yaitu Indramayu. Saya menggiring mereka mengitari museum dan menjelaskan secara detail, mereka pun mendengarkan penjelasan saya secara seksama. Dan hari-hari sesudah itu saya menjadi sering membawa rombongan dan selama dua bulan PKL itu saya sudah hampir 10-an lebih membawa rombongan. Sedikit memang, dikarenakan saat sebulan terakhir saya menjalani masa PKL itu bertepatan dengan bulan ramadhan sehingga jarang sekali ada rombongan yang datang ke museum.
Di museum, ada beberapa benda koleksi yang memiliki cerita anekdot atau cerita lucu. Menurut saya ada tiga benda koleksi yang mempunyai sisi kelucuan tersendiri. Yaitu yang pertama adalah lukisan karna Bapak S.Sujoyono yang terdiri atas tiga bagian kisah. Salah satu kisahnya yaitu pada gambar di bagian tengah yang menggambarkan peperangan antara masyarakat pribumi dan bangsa koloni. Saat terjadi peperangan, bangsa koloni kehabisan amunisi dan mengganti amunisi nya dengan kotoran manusia. Saat di tembaki, para masyarakat pribumi lari kocar-kacir. Mereka berlarian bukan karena takut, melainkan menganggap kotoran tersebut itu najis karena mayoritas mereka memeluk agama muslim. Saat berlarian itu mereka berkata “membet tai”, “bau tai” “batavia bau tai” sehingga menurut masyarakat setempat beranggapan bahwa betawi berasal dari kata batavia bau tai. Benda yang kedua adalah patung Hermes. Patung ini terletak di taman belakang museum. Hermes menurut kepercayaan bangsa Yunani adalah anak dari dewa Zeus. Hermes dilambangkan sebagai dewa pesan, yang memiliki sayap dikepala dan kakinya dan ia berdiri disebuah bola besar yang disimbolkan sebagai dunia. Konon, Hermes ini adalah dewa yang dapat berlari dengan sangat kencang. Yang membuat patung ini unik adalah dia tidak mengenakan baju sama sekali. Konon katanya, bajunya terlepas saat dia sedang berlari kencang. Dan benda koleksi museum yang ketiga adalah meriam si jagur. Meriam si jagur memiliki simbol tangan yang dianggap oleh masyarakat kita sebagai lambang yang jorok. Meriam ini memiliki simbol seperti ini karena pada zaman dahulu digunakan oleh para suami istri yang belum mempunyai keturunan dan konon katanya setelah pasangan tersebut memegang meriam ini maka langsung memiliki momongan.
kami di depan patung Hermes

Ada juga koleksi museum yang memiliki sisi mistis, yaitu pedang keadilan. Pedang ini pada saat masa pemerintahan VOC yang di pimpin oleh Petrus Albertus yang saat itu adalah gubernur VOC yang terakhir untuk memenggal 500 kepala orang Tiongkok pada saat itu yang dianggap mengancam orang-orang kolonial. Ada juga ruangan penjara yang terdapat bola-bola untuk merantai para tahanan pada saat itu yang konon menurut orang-orang ahli supranatural, jika kita memegang atau menyentuh bola itu para arwah penunggu penjara tersebut akan tidak suka. Dan sebenarnya masih banyak lagi sisi mistis dari museum ini.
Dalam setiap segala kegiatan yang kita lakukan pasti selalu ada suka dan duka nya begitupun saat saya melakukan PKL di museum ini. Suka nya saya selama PKL disini adalah saya dapat setiap hari bertemu dengan banyak orang dari berbagai macam negara. Mulai dari Amerika, Eropa, dll sehingga saya dapat melihat berbagai macam jenis orang. Di museum ini juga sering kedatangan para fotografer terkenal bahkan para artis yang hendak hunting foto di kota tua, saya juga dapat menambah banyak kenalan yaitu dengan teman-teman PKL saya yang berjumlah 17 orang-an.  Tapi dari semua itu, yang paling sangat menjadi berkesan adalah saya dapat membagikan ilmu kepada anak-anak sekoklah tentang hebatnya museum ini. Saya dapat berinteraktif dengan mereka dan saya dapat merasakan rasanya menjadi guru saat menjelaskan. Saya disini dapat sambil belajar tentang bagaimana menghadapi type-type anak dan cara menghadapinya selama saya membawa rombongan sekolah. Kebetulan waktu itu saya pernah merasakan bagaimana rasa nya membawa rombogan yang pasive dan yang aktif. Rombongan yang aktif sangat berinteraktif sekali dengan saya. Rombongan yang aktif ini membuat saya menjadi nyaman membawa mereka keliling dengan sesekali diselingi dengan guyonan yang muncul dai mulut saya dan membuat mereka tertawa. Sedaangkan rombongan yang pasive, saya harus benar-benar menjelaskan secara detail kepada mereka karena saat saya mencoba mengadakan tebak-tebakan atau bertanya sedikit kepada mereka untuk berinteraksi, mereka pasti tidak bisa menjawab dan terkadang saat saya sedang melucu mereka tidak ada yang tertawa. Dan yang lebih dari itu semua saya menjadi bisa lebih agak sedikit berani berbicara di depan banyak orang karena sudah beberapa kali membawa rombongan.
Jika ada suka, pasti terselip juga sebuah duka.  Walaupun banyak suka selama saya menjalankan PKL di museum ini, duka pun pasti ada. Duka yang saya alami adalah saya harus selalu bangun pagi-pagi sekali dan harus menempuh perjalanan dengan kereta. Setiap pagi kereta pasti selalu penuh sesak dan kadang saya benar-benar sampai tidak bisa bergerak, sebenarnya bukan terkadang tapi memang selalu. Persaingan untuk memasuki gerbong kereta memang cukup ketat apalagi jika saya memasuki gerbong yang khusus wanita karena saya harus melawan para ibu-ibu yang mempunyai tenaga yang lebih besar dari saya. Seetelah kereta, duka saya PKL disana adalah saat bulan ramadhan saya harus menjalankan ibadah puasa denga cuaca panas di kota tua. Tapi lebih banyak suka yang saya alami disana ditambah para pihak museum yang sangat seru can care pada para anak PKL dan yang sering mengadakan banyak acara.
Mungkin memang baru dua kali saya menjalani kegiatan guiding yaitu di Museum Konferensi Asia-Afrika dan Museum Fatahilah tapi ini benar-benar menjadi sebuah awalan saya untuk lebih memperdalam lagi dunia guiding ini.

Akhir kata, Assalamualaikum wr,wb. Mohon maaf bisa banyak terdapat kekurangan.

No comments:

Post a Comment