Tuesday, October 6, 2015

Tugas-1 Suka Duka Menjadi Pemandu wisata

      
Pemandu Wisata, Olahraga dan Hobi?

Perkenalkan nama saya Luthfi Maulana Arrahim, saya adalah mahasiswa Program Studi D3 Usaha Jasa Pariwasata di Universitas Negeri Jakarta, angkatan Tahun 2014.Awalnya saya ikut SBMPTN 2014 untuk kuliah di Universitas Udayana mengambil Industri Perjalanan Wisata disana, namun memang rejeki saya ada disini saat saya ikut PENMABA UNJ. Saya lahir pada tanggal 3 Agustus 1995 di kota Jakarta. Saya adalah anak ke-2 dari 2 bersaudara, saya sangat suka dengan olahraga, terutama Bulutangkis, tetapi seiring perkembangan waktu ternyata ada sebuah olahraga baru yang masuk ke Indonesia pada tahun 2009. Olahraga yang sedang diperjuangkan oleh pelatih, kakak, teman dan adik saya di KOP (Klub Olahraga Prestasi)  agar diakui oleh KONI (komite Olahraga Nasional Indonesia).

gambar 1.1 Team Floorbal 
 Olahraga tim dalam ruangan yang dikembangkan pada tahun 1970-an di Swedia ini hampir sama seperti permainan hockey tetapi memiliki lapangan dan jenis bola yang berbeda serta stick yang berbeda pula. Ya, itulah olahraga “Floorball” mungkin belum banyak yang tahu akan olahraga ini, disinilah tugas saya dan teman atlet floorball untuk mensosialisasikan olahraga yang sudah dipertandingkan di SEA GAMES 2015 lalu di Singapore. IFF atau International Floorball Federation adalah federasi atau lembaga yang menaungi floorball di dunia.
Menggabungkan olahraga serta Pariwisata, inilah yang unik. Saat saya melakukan perjalanan ke Singapore untuk melihat acara SEA GAMES 2015 membuat saya berfikir bahwa olahraga dan pariwisata itu bisa bersatu padu, dimana pasti akan ada banyak turis datang ke negara kita saat akan diadakan sebuah festival olahraga terbesar di Asia Tenggara, Benua Asia atau bahkan dunia. Dan inilah menjadi sebuah kesempatan bagi negara kita untuk mempromosikan tempat menarik dan unik disini.
gambar 1.2 Bali Floorball Open 2015
Dan indonesia pada tahun 2018 akan menjadi tuan rumah acara pesta olahraga terbesar di benua Asia yaitu ASEAN GAMES yang dimana pasti akan datang banyak turis asing untuk menjadi saksi pertandingan olahraga dan melihat bendera negara mereka berkibar di negara orang. Dan pasti turis atau atlet itu sendiri tidak hanya ada di arena pertandingan saja, tapi mereka akan jalan-jalan atau mencari tempat wisata yang unik serta berkesan di negara tersebut. Inilah yang akan menjadi peluang sebagai pemandu wisata/Pramuwisata.
Saat beberapa hari yang lalu saat berlangsungnya Kejuaraan Nasional Floorball antar Provinsi ke-IV tahun 2015, di GSG FIK UNJ. Teman kami dari Team Nasional Malaysia dan dia tinggal di Singapore yang bernama Alina Suhaimi datang ke Indonesia untuk menyupport team kami dan sekaligus temu kangen dengan beberapa timnas Floorball Indonesia. Dan ada kejadian menarik saat Alina mengajak saya untuk makan siang di Mcdonals, saat itu saya bilang “makan saja di Mekdi” lalu Alina bingung karena dia tidak tahu apa itu Mekdi karena yang ia tahu adalah Mcdonalds. Hanya 2 hari Alina ada di Indonesia karena dia harus kembali melatih di beberapa klub floorball yang ada di Singapore serta dia akan mengikuti Liga Floorball yang ada disana. Sungguh beruntung saya bisa bertemu dan berkenalan dengan Alina karena dia adalah salah satu pemain terbaik yang di miliki team nasional Malaysia, banyak sekali ilmu yang dia berikan kepada kami khususnya team yang saya bela yaitu “Sumatera Selatan”.
gambar 1.3 Me with Alina
Dan inilah modal dasar menjadi Pemandu Wisata sebelum saya menceritakan pengalaman saya menjadi pemandu, yaitu:
1.      Kesehatan dan Kebugaran Fisik
Pekerjaan pemandu wisata menuntut jam kerja yang panjang dan stamina yang kuat, karena pemandu akan sering melakukam presentasi, berjalan kaki ke kompleks candi, serta melakukan perjalanan panjang dengan kendaraan. Karena itu, hal yang harus diperhatikan untuk menjaga kesehatan adalah dengan menjaga pola makan, berolah raga, dan mencari hiburan yang sehat untuk menyegarkan pikiran.

2.      Sikap Mental Positif
Yang dimaksud dengan sikap mental positif antara lain; sifat selalu optimis, ulet, pantang menyerah, terbuka, supel, senang bergaul, dan berupaya memberikan pelayanan yang terbaik. Tidak dapat dipungkiri bahwa sikap mental positif sangat dipengaruhi oleh lingkungan seseorang tumbuh. Baik itu dari keluarga maupun masyarakatnya. Tapi hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa sikap mental positif dapat ditumbuhkan dalam diri setiap orang.
Caranya yang pertama adalah meniatkan hati untuk melakukan pengembangan pribadi. Kemudian Anda dapat menentukan langkah-langkah apa saja yang dapat ditempuh untuk mencapai niat dan tujuan itu. Anda perlu membaca buku-buku psikologi yang mambahas kiat-kiat pengembangan diri. Jangan lupa untuk membuat catatan-catatan untuk mengevaluasi dan membuat perencanaan berikutnya.
Pekerjaan menjadi pemandu wisata membutuhkan kesabaran yang besar. Memimpin rombongan yang beranggotakan orang-orang asing dengan berbagai kebudayaan yang berbeda-beda bukan hal yang mudah. Maka dari itu dibutuhkan mental positif seperti yang disebut di atas supaya Anda tidak tertekan dan cepat stress dengan pekerjaan ini. 
Lagi pula sikap mental tersebut tidak hanya akan berguna jika Anda menekuni pekerjaan ini. Hampir setiap profesi, bahkan dalam kehidupan bermasyarakat, selalu dibutuhkan sikap-sikap yang positif agar Anda dapat menyenangi dan mensyukuri hidup.

3.      Minat Dalam Bahasa Asing
Dalam memandu wisatawan asing, sudah menjadi syarat mutlak bagi seorang pemandu wisata untuk menguasai bahasa internasional. Dalam mempelajari bahasa asing, bagi mereka yang memiliki minat dan bakat terhadap bahasa asing yang dipelajari akan memiliki semangat tinggi sehingga mereka menikmati pembelajaran itu. 
Dalam minat dan semangat yang tinggi itu dapat dipastikan mereka dapat menguasai bahasa tersebut dalam waktu yang relatif singkat. Semakin sering seseorang berinteraksi dengan orang asing, secara otomatis hal itu dapat menambah kemampuannya dalam berbicara menggunakan bahasa tersebut.
Akan menjadi sebuah nilai lebih jika Anda memiliki pengalaman tinggal di negara assing, terutama negara asal wisatawan. Selain itu, seseorang yang ingin menjadi pemandu wisata juga harus mempelajari adat istiadat, cara berpikir, gaya hidup dan kebudayaan mereka. Pengenalan dan penguasaan ini membuat Anda tidak sepenuhnya merasa asing terhadap mereka dan akan sangat membantu Anda untuk bergaul dan nyambung dengan mereka.

4.      Pendidikan dan Pelatihan
Pendidikan yang dibutuhkan untuk menjadi pemandu wisata profesional sebenarnya tidak ada yang baku. Meskipun ada beberapa sekolah baik dari tingkat menengah maupun perguruan tinggi yang memiliki fokus pariwisata, namun tidak semua alumninya akan menjadi pemandu wisata yang handal. Sebenarnya pendidikan dari ilmu apapun bisa dipakai untuk menjalani profesi ini. Kenyatannya, banyak pramuwisata profesional yang berasal berbagai disiplin ilmu. Apapun latar belakang pendidikannya, selalu terbuka kesempatan untuk menjadi seorang pemandu wisata yang handal. 
Di beberapa daerah terkadang diselenggarakan pendidikan dan latihan calon pemandu wisata. Lama pendidikan pun bervariasi dari beberapa bulan sampai satu tahun. Materi pendidikan meliputi teori dan praktik lapangan memandu wisata.
Teori yang diajarkan meliputi pendalaman bahasa Inggris, ticketing, sejarah Indonesia terutama yang bersangkutan dengan tempat-tempat wisata, arkeologi, kesenian Indonesia terutama kesenian lokal daerah pariwisata, manajemen biro wisata, perhotelan, kerajinan, teknik memandu wisatawan, dll.

5.      Modal Finansial
Untuk melakukan pengembangan diri dengan berbagai pendidikan dan pelatihan tentu saja ada anggaran dana yang perlu disiapkan. Jumlah biaya ini tidak bisa dirinci secara pasti karena setiap kota memiliki tarif yang berbeda-beda. Pada intinya pokok-pokok pendidikan yang perlu dibuatkan anggaran meliputi pendidikan formal paling tidak sampai jenjang diploma atau strata satu, kursus bahasa asing, pendidikan dan pelatihan pramuwisata, pengenalan medan, membeli buku, membeli peralatan, dsb. 

6.      Minat Terhadap Sosial-Budaya
Minat terhadap masalah sosial budaya dan kebudayaan, perlu di dalami untuk menambah pengetahuan tentang Indonesia terutama pada beberpa daerah yang sering dijadikan sebagai tujuan wisata seperti Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan Lombok. Apalagi jika seorang pemandu wisata juga memiliki pengetahuan masalah sosial budaya yang berasal dari daerah wisatawan. Hal itu akan sangat membantu Anda untuk membuat topic pembicaraan, sehingga Anda lebih ‘nyambung’ ketika berinteraksi dengan wisatawan.
Sebenarnya tak pernah terbayang dibenak saya untuk menjadi seorang pemandu wisata, yang menurut saya  tugasnya menjelaskan dan harus memahami sebuah objek di suatu tempat. Tetapi ternyata menjadi Pemandu Wisata itu lebih kompleks dari apa yang saya bayangkan. Saat awal belajar di semester pertama kuliah saya mendapat tugas untuk guide dari Cikarang – Bekasi saat jalan pulang dari City Tour bersama keluarga UJP UNJ. Disitu saya sangat bingung apa yang harus saya ucapkan dan materi apa yang akan saya berikan kepada dosen, teman dan senior saya. Dan akhirnya saya memberikan sebuah cerita asal mula nama Bekasi, dan juga fakta-fakta unik yang ada di Bekasi. Grogi ya itu wajar karena itulah pengalaman pertama saya menjadi guide. Tapi saya bisa melewati itu semua walau kondisi badan sudah lelah karena hari juga sudah malam. Tapi dari situlah saya mendapat banyak pelajaran agar bisa berbicara dengan baik dan benar di depan banyak orang. Dan menjadi seorang Pemandu Wisata itu sangat tidak mudah, karena banyak materi yang harus dikuasai dan bisa kita jelaskan kembali agar tamu-tamu atau wisatawan mengerti akan hal itu.
gambar 1.4 City Tour
Sebenarnya ada beberapa teknik dalam memandu wisata, yaitu:
1.             Mengawali Pemanduan
Pilihlah suatu tempat yang strategis, aman, menarik dan mudah dikenali untuk memulai memperkenalkan diri, dan bila dilakukan di bus gretinglah sebelum bus berjalan. Yang harus dilakukan adalah:
a.       Mengucapkan salam/greeting.
b.      Perkenalkan diri dengan unik agar bisa dingat oleh para turis atau tamu wisatawan.
c.    Jelaskan secara singkat dan benar tentang ittenary yang akan dilaksanakan pada hari itu aar tidak terjadi miss comunication.
d.      Beri kesempatan untuk bertanya.

2.             Melaksanakan Pemanduan
a.       Kenalilah budaya mereka.
b.      Deskripsikan tempat yang ingin dijelaskan semenarik mungkin.
c.    Tanggap akan kondisi wisatawan bila jenuh, gantilah topik atau membuat games yang seru agar wisatawan tidak mudah bosan.
d.    Ajaklah wisatawan untuk bersama-sama menyepakati waktu agar tidak terjadi keterlambatan di itinerary.
e.  Humor  adalah pemanis dalam interprestasu dapat meningkatkan komunikasi dan daya tarik. Humor harus berhubungan dengan tema pembicaraan. Jangan menggunakan humor yang menyinggung para tamu, gunakalah humor yang halus dan tidak kasar.

3.             Mengakhiri Pemanduan
a.       Akhiri pemanduan dengan kesan menyenangkan dan membuat wisatawan melupakan lelah mereka.
b.      Cari tempat yang strategis untuk mengakhiri guide.
Mungkin hanya itu saja yang bisa saya sampaikan. Itulah sebuah pengalaman saya dari sekian banyak pengalaman yang bisa saya tulis disini. Semoga apa yang saya tulis disini bisa bermanfaat dan memotivasi teman-teman agar terus bisa memperjuangkan mimpi kalian. Terimakasih.

Luthfi Maulana Arrahim
4423143967
Usaha Jasa Pariwisata B 2014
Luthfimaulana1995@gmail.com
                                         



No comments:

Post a Comment