Wednesday, October 7, 2015

Tugas 1 - Suka Duka Menjadi Pemandu Wisata


     Hai kawan kawan, perkenalkan nama saya Tb. Mahandika Ispratama. Bagi teman teman yang tidak tahu “TB” adalah sebuah singkatan yang kepanjangannya adalah Tubagus, yaitu adalah marga dari Banten yang dahulu dipakai oleh para bangsawan. Saya adalah anak ke 4 dari 6 bersaudara. Saya memang agak terlihat sedikit bule saya juga kurang tahu keturunan dari nenek moyang saya, tetapi orang tua saya berkata bahwa saya memiliki keturunan dari Jerman, meskipun begitu saya tidak terlalu fasih dalam berbahasa jerman . Pada saat ini saya berumur 19 tahun, saya sedang mencari ilmu di Universitas Negeri Jakarta dengan jurusan sejarah program studi Usaha Jasa Pariwisata. Walaupun saya  bukan lulusan dari SMK namun saya tertarik dengan jurusan ini, Saya baru memasuki dunia pariwisata disaat saya lulus SMA namun saya sudah mendapatkan banyak pengalaman yang saya dapat dari program studi ini, salah satunya yaitu menjadi seorang pemandu wisata

     Nah pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan tentang suka duka nya menjadi pemandu wisata, pemandu wisata pun mempunyai suka duka, dimulai dari yang paling saya anggap begitu menjenuhkan sampai hal yang paling membuat tersenyum. Sebelumnya bagi yang tidak mengetahui apa itu pemandu wisata, saya akan menjelaskannya terlebih dahulu.

     Pemandu wisata / Tour Guide adalah seseorang yang memandu, membantu, dan menemani anda dalam suatu perjalanan, jika anda pernah melihat seseorang yang sedang berbicara dengan kerumunan orang di sebuah museum maka bisa dipastikan ia adalah seorang pemandu wisata , atau jika anda pernah berwisata menggunakan bis dengan rombongan atau teman teman anda dan ada orang yang menjelaskan tentang hal hal yang anda lihat ketika didalam perjalanan maka bisa dipastikan juga bahwa ia adalah seorang pemandu wisata. Mungkin semua orang pernah dipandu oleh seorang pemandu wisata, namun banyak juga yang masih belum menggunakan jasa seorang pemandu wisata sebagai contoh, dahulu sewaktu saya masih bersekolah di SMA, sekolah saya tidak pernah menggunakan jasa seorang pemandu wisata.
Pengalaman pertama saya menjadi pemandu wisata adalah pada saat saya berkunjung ke museum KAA (Konferensi Asia Afrika) pada saat itu saya menjadi pemandu wisata di perjalanan

(Gambar 1: Foto saya disaat menjadi pemandu wisata)
Itu adalah pengalaman pertama saya menjadi seorang pemandu wisata, walaupun bisa dibilang belum terlalu baik namun saya tetap berpikiran positif untuk tetap bisa menjadi sorang pemandu wisata yang dapat disenangi oleh orang orang.
     Waktu pun berlalu dengan sendirinya, saya pun menjalani program dari prodi saya yaitu melakukan PKL (Praktek Kerja Lapangan), pada saat itu saya melakukan program pkl di Museum Sejarah Jakarta atau yang lebih dikenal sebagai Museum Fatahilah, museum ini terletak di Kota Tua Jakarta, lebih tepatnya di Jakarta Barat, jika anda pergi ke Kota Tua dan sedang berada di alun alun nya anda dapat dengan jelas melihat gedung museum fatahilah yang berada tepat di depan sebuah kantor pos disana, gedung nya terlihat jelas dengan cat warna putih dan arsitektur yang unik. Disana saya mendapatkan banyak sekali pengetahuan dan pengalaman yang membuat saya lebih percaya diri dalam berbicara didepan orang banyak, dan mendapatkan banyak teman baru.

     Disana terdapat senior guide yang sudah bertahun tahun menjadi guide di museum fatahilah, kami mendapatkan banyak pengetahuan dari mereka, para senior guide yang menjadi guru kami di museum sangatlah friendly, mereka tidak segan segan membagi ilmu nya yang mereka dapat untuk kami yang sedang melakukan pkl disana, dengan alasan agar kami mendapatkan bekal yang cukup disaat menjadi guide yang professional nanti .

     Kami diberitahu untuk mempelajari seluruh museum hanya dalam tiga hari, lalu setelah itu kami mendapat perintah untuk membawa rombongan. Rombongan pertama yang saya bawa adalah siswa siswa SD, tidaklah terlalu berat menurut saya dikarenakan mereka adalah siswa siswa yang tertib, jadi lebih mudah mengurus mereka .  Pada saat saya menjadi guide mereka, mereka pun dengan seksama memperhatikan materi yang saya berikan kepada mereka, dikarenakan rombongan yang saya bawa adalah anak SD maka dari itu saya harus menyampaikan nya dengan cara apapun agar mereka mendapatkan   materi yang saya ingin sampaikan .

     Setelah saya berminggu minggu men-guide orang orang disana, saya pun menjadi lebih baik dalam berbicara dengan banyak orang, dari yang sebelumnya saya gugup didepan ‘panggung’ sekarang menjadi lebih percaya diri dalam berbicara di depan orang banyak. Disana banyak sekali turis asing yang ingin mengetahui tentang sejarah disana, tetapi banyak juga turis yang hanya melihat lihat saja.

(Gambar 2:Foto saya bersama turis asing)
     Dari banyak rombongan wisatawan yang saya guide, kebanyakan adalah mereka yang datang dari luar daerah, namun tidak sedikit juga yang berasal dari daerah sekitar. Watu itu saya pernah menguide sebuah keluarga yang meminta untuk di guide, pada awalnya saya gugup dikarenakan pada saat itu saya baru pertama kali untuk men-guide keluarga, tetapi fakta berbeda dengan apa yang saya pikirkan, keluarga itu sangatlah ramah dan mendengarkan materi yang saya sampaikan dengan baik. Saya juga pernah membawa seorang ibu ibu yang membawa seorang putra nya, pada awalnya saya berfikir bahwa beliau adalah seorang guru, namun pada saat saat akhir saya menyampaikan materi beliau berkata bahwa beliau adalah sejarawan saya sangat terkejut mendengarnya namun beliau berkata saya cukup baik dalam menyampaikan materi maupun memiliki materinya, saya sangat senang mendengar ucapan tersebut dari beliau.

     Banyak juga rombongan rombongan yang tidak bisa diatur atau tidak mendengarkan materi materi yang saya sampaikan, mereka malah asyik berfoto foto dibanding mendengarkan materi, kebanyakan adalah mereka yang sudah berada di SMP. Tetapi tidak semuanya seperti itu, banyak juga yang mengikuti tour dengan baik, guru guru mereka juga berperan sangat baik dalam mengatur rombongan yang mereka titipkan kepada saya. Pada saat saya membawa rombongan saya menyadari bahwa hal yang saya sampaikan haruslah akurat, mengapa demikian, dikarenakan kita tidaklah tahu jika mereka lebih tau dari kita, namun salah satu senior guide saya pernah berbicara seperti ini “Ini adalah rumah kita, dan mereka hanyalah tamu. Jadi kitalah yang paling mengetahui apa isi dari rumah kita sendiri” perkataan beliau membuat saya semakin percaya diri dalam menyampaikan materi kepada siapa pun yang saya guide, ketika saya membawa rombongan saya tetap memikirkan apa yang beliau katakan, dan itu sangatlah membantu dalam membuat percaya diri saya tumbuh kembali.

(Gambar 3: saya sedang memberikan materi kepada rombongan didepan lukisan)

     Di Museum Fatahilah juga dilakukan evaluasi yaitu mengetes penguasaan materi yang kita punya, agar materi yang kita punya semakin baik dan benar. Pada saat evaluasi para senior guide juga membantu kita untuk menghafal materi yang lebih, mereka juga bertanya apa yang membuat kita  kesulitan dalam menghafal materi, berhadapan dengan rombongan dan sebagainya.
     Hal yang paling membuat saya senang disaat menjadi guide di museum fatahilah adalah disaat saya membawa rombongan yang aktif dan banyak berinteraksi, disaat rombongan yang saya bawa itu aktif saya juga senang memberitahu materi - materi, lebih percaya diri dan merasa lebih dekat dengan rombongan yang saya guide.

     Di museum fatahilah, selain weekdays kami juga masuk pada weekend, pada weekend disaat itu lah sepi akan rombongan namun museum lebih ramai disbanding hari biasanya, dikarenakan pada weekend hanya banyak pengunjung yang datang. Namun kadang kadang ada keluarga yang ingin meminta guide untuk menjelaskan isi museum untuk mereka. Mereka terkadang juga meminta guide untuk menjelaskan lebih detail dari biasa nya. Bagi saya, saya lebih suka untuk membawa rombongan dari SD sampai SMA disbanding membawa keluarga, dikarenakan saya lebih suka berinteraksi dengan anak anak dibawah usia saya. Tetapi resiko resiko membawa rombongan yang lebih muda usia nya dari saya adalah, seperti yang sudah saya katakan diatas, mereka terkadang tidak memperhatikan materi yang kita sampaikan, namun kebanyakan dari mereka tetaplah mendengarkan apa yang kita jelaskan. Saya lebih senang jika ada yang mendengarkan dari kita memulai tour dari pintu masuk hingga tour selesai di    pintu keluar. Selain itu saya juga suka rombongan dibawah usia saya dikarenakan kita dapat melakukan hal iseng kepada mereka. Contohnya adalah, di museum fatahilah tepatnya di lantai dua disana ada lukisan Petrus Albertus van der Parra. Nah pada disaat saya selesai menjelaskan materi tentang lukisan itu saya berkata kepada anak anak yang saya bawa “Nah kalo kita udah selesai disini, sebaiknya kita melambaikan tangan kepada bapak van der parra agar kita gak diikutin sama dia ke rumah” lalu para anak anak yang saya bawa pun melambaikan tangan nya ke lukisan itu. Selain itu di bagian akhir dari tour kami mengunjungi sebuah penjara pria, jadi penjara itu sangatlah kecil dan berada dibawah tanah lebih tepatnya dibawah gedung museum tersebut, pada saat saya selesai menjelaskan materi tentang penjara bawah tanah, saya menyuruh anak anak rombongan untuk masuk kedalam penjara itu setelah semua masuk , saya berkata kepada anak anak bahwa banyak orang orang yang sedang berdiri di belakang mereka, begitu mereka mendengar hal tersebut mereka pun lari meninggalkan penjara pria tersebut. Dan ketika saya berkata kepada mereka bahwa itu hanya lelucon belaka, mereka pun tertawa terbahak bahak sambil menunjuk ke teman temannya yang ketakutan

     Jika anda belum pernah datang ke museum sejarah Jakarta, cepatlah datang ke sana dikarenakan tempatnya yang unik karena berada di kota tua, selain itu koleksi yang di punya juga menarik untuk dipelajari. Guide disana juga ramah tamah serta mempunyai pengetahuan yang sangat luas, bukan hanya tentang museum fatahilah tetapi juga tentang seluruh kota tua. Jadi jika belum pernah kesana tunggu apa lagi.

     Kembali ke topik awal kita, jika anda sudah membaca, anda pasti sudah mengetahui apa saja suka dan duka menjadi seorang pemandu wisata, jika saya ditanya “lebih banyak mana, suka atau duka?” Saya lebih banyak suka daripada duka, mungkin semua juga tergantung dari sudut pandang anda, dan juga tergantung dari apakah anda menyukai profesi menjadi seorang pemandu wisata atau tidak. Selain diatas, suka nya menjadi pemandu wisata adalah saya dapat bertemu banyak orang orang dengan karakter yang unik dan pengetahuan yang baru juga, setiap orang mempunyai background yang berbeda sehingga kita dapat mengerti orang lain, bagaimana pun kondisi seseorang, mood seseorang, seorang pemandu wisata harus dapat memberikan yang terbaik bagi para wisatawan yang dipandu oleh dirinya. Duka nya menjadi pemandu wisata menurut saya tidak begitu terasa jika kita sudah selesai membawa rombongan tetapi suka nya menjadi pemandu wisata jika kita sudah selesai memandu rombongan, itu akan tetap terasa. Rasa senang dari memandu rombongan membuat saya lebih bersemangat dalam menjalani suatu aktifitas dan membuat saya lebih ingin memandu lebih sering lagi
     Sekian yang bisa saya sampaikan tentang suka duka menjadi seorang pemandu wisata, menjadi pemandu wisata merupakan pengalaman yang tidak terlupakan bagi saya. Menjadi pemandu wisata juga dapat melelahkan, namun lebih banyak menyenangkannya. Jika saya dapat memilih profesi yang saya sukai, salah satunya akan saya tambahkan yaitu menjadi seorang pemandu wisata yang professional. Jika di masa depan kita dapat berjumpa semoga kita berjumpa dengan keadaan yang menyenangkan hati, jika kita bertemu semoga saja kita bertemu dengan senyum diwajah, semoga kita dapat berjumpa dilain waktu, disaat kita sudah mempunyai kebahagiaan didunia ini. Semoga artikel mengenai suka duka menjadi pemandu wisata ini dapat membuat anda lebih berminat untuk menjadi seorang pemandu wisata. Terimakasih

(Gambar 4: Foto Mahasiswa/i yang sedang pkl di Museum Sejarah Jakarta)

Tb. Mahandika Ispratama
4423143958

Usaha Jasa Pariwisata B

1 comment: